Cerpen #180 Bumiku Masa Depanku

Sungguh menyedihkan, bagai menyayat hati dan pikiran ini merasakan peliknya yang sedang terjadi pada bumiku ini. para manusia yang kurangnya kesadaran akan pentingnya kebersihan, membuang sampah bukan pada tempatnya. Tanpa berpikir akibatnya mereka membuang seenak jidatnya.

Aliran sungai yang dulunya terlihat bersih dan minim sampah kini seakan tumpah ruah dengan sampah-sampah rumah tangga, serta bau busuk yang menyengat bertebaran sepanjang perjalanan. Tidak habis pikir dengan apa yang mereka sering lakukan, sebuah kebiasaan buruk yang seakan sudah melekat dikandung badan.

Bukankah sudah ada dari mata pelajaran SD dulu tentang pentingnya membuang sampah pada tempatnya? Namun, sayang hal itu sepertinya sudah tidak ada lagi pada mata pelajaran sekarang. Terabaikan bagai angin lalu yang berseliweran sepintas. Bagai nasihat yang masuk telinga kanan lalu keluar ke sebelah kiri.

Aku yang merantau ke Kota Pahlawan tidak habis pikir dengan pemikiran orang-orang di sini. Sebegitu mudahnya mereka melempar sampah ke sungai, bahkan tidak jarang ada pengendara yang sama melakukannya. Membuka jendela kaca dan membuang sampah di jalan dengan tetap melaju di jalan raya, tanpa berpikir dampak buruk yang dapat terjadi jika ada yang terpleset karena ulahnya.

Kota Pahlawan dikenal sebagai kota yang bersih dan jantung kehidupan, tapi kenyataannya masih terdapat sampah berserakan di mana-mana. Tidak jarang tukang kebersihan merasa amat lelah dengan banyaknya sampah yang menggangu pandangan mata.

Bukan hanya di Kota Pahlawan saja rupanya, terjadi juga di Sungai Batanghari—sungai terpanjang di Sumatera—yang dulunya bersih, sekarang berwarna coklat karena warga yang masih sering membuang sampah di sana.

Saat membuat tulisan ini pun aku bertanya kepada seorang teman melalui chatting.

[Menurutmu bumi 100 tahun lagi akan menjadi apa dengan keadaan seperti sekarang ini?]

Kansa pun membalas, [Percuma! Nggak akan berubah. Harapan akan datang dari mereka-mereka yang peduli terhadap kondisi di paling bawah, dan kesadaran akan kebersihan.]

Aku sedikit terhentak membaca kalimatnya itu, aku pun membalas, [Bukankah masih ada sekian orang-orang yang peduli dan pecinta kelestarian terhadap alam?]

Kansa menjawab, [Tidak bagi mereka yang menduduki panggung paling atas dan teraman, aman untuk dirinya dan keluarganya sendiri tanpa memikirkan kondisi di lingkungan bawah. Kepedulian dimiliki pada mereka yang merasakan, lain dengan yang hanya melihat bahkan pelaku di dalamnya.] lalu dia mengetik lagi [Kamu ingat saat lockdown pertama kali? Di mana nggak ada aktifitas manusia apapun yang terjadi. Apa hasilnya? Udara menjadi bersih, sampah jarang terlihat bahkan angin dapat berhembus mesra tanpa ada kantong kresek yang terbang menabrak muka ini.]

Aku termenung membaca balasannya, berkutat dalam bayang-bayang pemikiran, mencoba mencerna apa benar manusia pelaku utama perusak bumi ini? Belum sempat kubalas Kansa sudah mengetik kembali.

[Bumi dapat membersihkan ekosistemnya sendiri tanpa adanya manusia yang turut serta di dalamnya.]

Hm … manusia ada dan dapat bertahan hidup karena bumi, bumi ada dan tiada bukan karena manusia, justru karena peran bumilah manusia ada di dunia ini. Dan tentu semua atas izin Tuhan.

Jikalau tidak ada perubahan dalam pola piker tentang pentingnya kebersihan dan kelestarian alam pada manusia, maka bukankah dapat dipastikan bahwa bumi akan hancur? Di luar kata:kiamat. Kebiasaan buruk yang bak mendarah daging sejak dulu yang harus benar-benar diubah walau dengan paksaan.

Ah, terasa sesak melihat semua ini, sebuah kehidupan yang tidak ada perubahan baik dari dulu. Banyaknya tempat sampah tidak menjamin orang-orangnya akan memahami tentang kebersihan, sepertinya butuh di edukasi secara terus-menerus dalam jangka waktu lama.

Teringat pada sebuah Negara di Jerman, menetapkan denda bagi pelanggar sampah di jalanan. Wah, jika sampai diterapkan di negeri ini akan ada perubahan tidak ya pada bumi? Bukankah akan untung banyak Negara karena pasti menemukan banyak pelanggar sampah di jalanan.

Bukan karena manusia, bumi ada. melainkan manusia dapat hidup karena udara segar dari bumi. Bukankah manusia sudah untung banyak dari kebermanfaatan alam? Lalu, kenapa sebegitu acuh terhadap kelestarian alam? Keserakahan, keegoisan, bahkan seperti bodo amat dengan hal-hal kecil seperti itu. Semoga, di masa mendatang bumi kian menawan dengan corak warnanya yang beragam, bersatu padu menjadi kesatuan yang elok dipandang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *