Cerpen #179 Ini yang Kau Inginkan

“Ini yang kau inginkan ?” aku berbisik pada diriku sendiri. Wajahku yang tampak layu terpatri pada cermin yang berbentuk segitiga di sudut kamarku itu. Pertanyaan itu selalu aku tanyakan pada diriku, walaupun hal itu selalu membuatku sesak setiap kali berputar di kepalaku.

Sudah 50 tahun tepatnya usiaku sekarang, tentu bukan lagi usia yang muda. Rambutku yang dulunya menghitam, sekarang telah memutih. Badan yang dulunya dapat berdiri tegak, kini sudah mulai membungkuk. Bahkan terkadang aku merasa sulit untuk berjalan sendiri, tapi aku tetap enggan berucap kalimat,” minta tolong,” pada orang-orang. Aku tak mau menyusahkan orang lain. Fisik boleh berubah tapi sifatku tak pernah berubah. Aku masih saja keras kepala. Mungkin itu yang menyebabkan aku ditinggalkan oleh anak-anakku, dan juga istriku.

Istriku adalah sosok paling setia yang pernah ada di dunia ini. Dia tetap saja mendampingiku walau apapun yang terjadi. Tapi Tuhan telah memanggilnya lebih dulu, mungkin dia kasian pada istriku, yang terlalu baik pada orang bejat seperti diriku. Tuhan juga telah memisahkan diriku dari anak-anakku pula.

“Keluarganya meninggal karena karma darinya?” begitu orang-orang bergunjing tentang diriku. Mereka menyebut akulah penyebab semua nasib buruk itu. Aku tak peduli dengan semua gunjingan itu.

Istriku meninggal karena kecelakaan mobil. Bisa disebut kecelakaan tunggal, mobilnya masuk ke dalam sungai. Tapi saat itu aku tidak ada dalam mobil bersamanya sehingga aku bisa lolos dari kematian. Anak-anakku berada di mobil yang sama dan mereka pun menemui takdir yang sama.

“Bukankah kau yang mengintruksikan untuk menebang pohon di sepanjang sungai itu. Andai saja pohon-pohon itu tetap berdiri tegak di sepanjang sungai tentu mobil keluargamu tidak akan dengan mudah masuk ke dalam sungai, karena banyak pohoh besar yang akan menahannya?” salah seorang warga menatapku dan memuntahkan kata-kata yang sanggup merontokkan seluruh jiwaku.

“Kau babat semua pepohonan dan hutan demi untuk kekayaan dan pujian dari atasanmu.”

“Apa kau merasa puas sekarang. Dirimu pulalah yang menghancurkan keluargamu. Kini semua orang meninggalkanmu. Apa ini yang kau inginkan?”

Aku diam tak menjawab. Bibirku seolah membeku, tak sanggup mengeluarkan kata-kata. Dadaku bergetar, sesak sekali rasanya di dalam sana. Semua orang menghujaniku dengan umpatan-umpatan kasar, aku sudah tak bisa lagi mendengar dengan jelas lagi karena tiba-tiba pandanganku kabur. Aku kemudian lunglai di lantai.

***

Sudah 20 tahun sejak kepergiaan istri dan anak-anakku, sedangkan aku masih saja bergulat dengan masa lalu. Semua peristiwa masa lalu masih tersimpan jelas pada ingatanku. Bagaimana aku yang memimpin proyek perusahaan dengan membabat hutan-hutan dan menggantinya dengan gedung-gedung  tinggi. Kami semua saat itu tertawa bersama, melihat hasil dari mahakarya yang luar biasa itu. Gedung-gedung dirancang dengan sempurna, yang diperkirakan akan meraup untung besar.

Saat itu aku tak memperdulikan orang-orang yang protes dengan pembabatan hutan yang kami lakukan, aku pun tak peduli dengan hewan-hewan yang kehilangan tempat bernaungnya. Aku menjadi manusia yang paling egois di dunia ini.

***

Kolam-kolam raksasa kini telah terbentang luas menghampar. Jeritan maupun isak tangis bersahut-sahutan sehingga mampu mengguncang hati orang-orang yang mendengarnya termasuk diriku sendiri. Keegoisanku kali ini luntur seketika.

“Pohon-pohon sudah punah dibabat, sehingga tak sanggup lagi menyerap air. Inilah dampak dari kerusakan lingkungan” Begitulah para juru bicara berucap di depan layar, dan para juru kamera pun tak lupa mengabadikan momen bersejarah itu.

Tanggapan orang-orang cukup beragam, ada yang menyalahkan hujan, ada yang menyalahkan kenapa tidak menjaga hutan, ada menyalahkan pembuangan sampah yang sembarangan, juga ada pula yang menyalahkan semua orang. Semua menyalahkan pihak lain dan akhirnya saling menyalahkan, dan saling baku hantam. Sampai-sampai mereka lupa dengan dirinya sendiri. Dirinya yang juga mendapat cuan dari pembangunan itu, dirinya yang ikut juga berpartisipasi dalam penebangan pohon, dirinya yang ikut pula minum kopi bersama dan membuang sampah bekas makanan di manapun dia berada.

“Kolam-kolam raksasa ini hadir karena kesalahanku di masa lampau,” bisikku pada diriku sendiri. Setidaknya aku lebih jujur dari orang-orang di luar sana.

“Ini yang kau inginkan Adrian?” Aku menatap bayangku di cermin, yang masih saja angkuh itu. Bayang itu hanya tersenyum licik, seolah tak ingin ikut bertanggung jawab atas peristiwa luar biasa ini.

“Kau tenang saja, aku akan mengakhiri semuanya,” aku kemudian mengambil papan yang berukuran sedang dan dengan cepat ku arahkan pada cermin itu membuatnya berhamburan ke lantai. pecah berderai tak berdaya. Setelah tersenyum cukup puas, aku pun perlahan melangkah menuju kolam raksasa, dengan perlahan kaki ini mulai melangkah, dan terus melangkah tanpa rasa ragu dan akhirnya tidak merasakan apa-apa lagi.

Sanggau,  4 november 2021

7 thoughts on “Cerpen #179 Ini yang Kau Inginkan

  1. Jaga kelestarian alam demi bumi yang lebih baik kedepannya. Ceritanya relate banget dengan yang terjadi di kalimantan barat, yang banjir super lama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *