Cerpen #178 Satu Malam Satu Tahun

Aku menduduki kursi kerjaku, kursi kebanggaanku dimana dari situlah aku mencari rezeki. Namaku Kenn Hardana, seorang Menteri Pembangunan Nasional yang berumur 30 tahun. Tinggiku 177 cm, berkulit sawo matang, rambut sedikit keriting, badan sedikit berisi, dan kadang orang-orang menyebutku galak tapi manis. Jas hitam dan dasi merah adalah kebanggaanku.

Aku mengamati sebuah kotak yang isinya makan siangku. Aku membukanya dan seketika raut wajahku berubah.

“Bosen ini terus, gak bisa masak lainnya apa?” keluhku. Tanganku meraih kotak itu lalu membuangnya ke tempat sampah kemudian kembali duduk di kursi kerjaku.

Aku membuka sebuah berkas yang berada di atas meja kerjaku, sebuah desain pembangunan yang akan aku ciptakan di tahun 2021 ini. Aku mengamati desain yang telah aku pilih terlihat elegan dan mewah.

“Drrrr….drrrr…”sebuah telepon berdering, dengan segera ku angkat.

“Halo?” tanyaku kepada si penelepon.

“Permisi pak, jadi bagaimana rencana pengecekan lokasinya?” tanya si penelepon yang merupakan anak buahku.

“Oh iya besok pukul 10 pagi kita langsung ke lokasi. Untuk tujuan pertama kita akan mengecek kondisi hutan Kalimantan dan setelah itu kita langsung menuju ke Sumetera,” jawabku

“Jadi hutan kalimantan seluas itu akan diratakan semua ya pak?” tanyanya lagi

“Iya, besok kita bicarakan lagi rencanakan perataan hutan dengan dibakar,” jawabku lalu menutup telepon dan mulai berfikir kembali.

***

Malam itu hujan mengguyur dengan derasnya. Aku pulang ke rumah dengan motor biru hitam kesayanganku. Hujan deras dan petirpun tak ku hiraukan. Aku sampai rumah dengan basah kuyup dan bergegas mandi.

“Hari yang melelahkan,” gumanku lalu menjatuhkan diriku ke kasur.

Suara derasnya hujan dan petir masih terdengar begitu kerasnya. Ku pejamkan mataku untuk menghilangkan lelah dan mengembalikan staminaku, mencoba tuk tertidur. Hingga hujan telah redapun, kantuk belum menghampiriku.

“Aarrgghh…kenapa susah untuk tidur sih!” omelku pada diriku sendiri dan kembali mencoba tertidur, tetapi gagal.

Sinar fajar mulai masuk lewat sela-sela jendela. Semalaman aku tak bisa tidur, hanya menatap jarum jam berjalan detik demi detik.

Aku berjalan menuju jendela untuk membuka gorden sesekali menguap. Mataku terbelalak melihat semuanya telah dilumuri oleh salju.

“Bagaimana bisa? Apa semalaman tadi hujan salju?” ujarku bertanya-tanya hingga menggelengkan kepala tak percaya.

“Handphoneku, dimana?” gumanku segera mencari handphoneku untuk mengabari anak buahku. Aku segera meraih handphoneku dan mencari sebuah kontak, meneleponnya tanpa ada jawaban.

“Dimana sih mereka!” seruku kesal karena satupun anak buahku tidak ada yang mengangkatnya.

Aku pun segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri, tetapi anehnya tidak ada air disana dan hanya menggunakan uap air. “Apa yang terjadi sama semua ini?”

Aku memberanikan diri untuk keluar rumah menggunakan jaket tebal dan aku terkejut setengah mati saat keadaan luar benar-benar berubah 180° dengan dunia nyata.

Semua rumah bertingkat 3, jalanan yang halus mulus, mobil terbang, sepeda melayang, motor secepat kilat, helikopter pribadi, hingga semua kendaraan berhenti otomatis saat lampu merah menyala. Bahkan hanya ku tinggal mandi saja salju sudah mulai menghilang.

Tukang sapu, tukang sampah, pekerja pabrik, satpam, polisi, dan banyak lagi yang profesi umum kini diambil alih oleh robot.

“Apa yang terjadi? Ini semua mirip seperti apa yang ingin aku bangun,” gumanku antara senang dan bingung.

“Hei minggir! Jangan di tengah jalan!” bentak seorang anak kecil sekitar umur 15 tahun kepadaku dan membuatku terkejut.

“Hei nak kamu gak punya etika apa!” bentakku balik kepadanya.

“Etika? Apa itu? Yang kami tau kami bisa hidup senang sepuasnya,” ujarnya lalu pergi. Aku hanya bisa mengelus dada berusaha sabar.

“Kamu penghuni baru ya di kota ini?” tanya seseorang yang membuatku menoleh. Seorang kakek tua berambut putih, berjenggot panjang, dan berpakaian serba hitam mendatangiku dengan tatapan bersahabat.

“Sebenarnya saya tidak tahu ini dimana. Tadi malam semua normal, lalu kenapa sekarang jadi seperti ini? Ini semua tidak masuk akal,” jelasku dengan tatapan heran. “Lalu kakek siapa?”

“Sekarang ini tahun 2121, semuanya serba canggih, tidak seperti jaman kakek dulu,” jelas kakek itu yang membuat mataku terbelalak.

“Tahun 2121? Bagimana bisa? Tadi malam masih tahun 2021,” tak semudah itu aku bisa percaya dengan kakek-kakek tua karena itu tidak masuk akal. Tapi jika dilihat dari sekitar semakin tidak masuk akal jika terjadi di jamanku.

Kakek itu hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaanku. “Mari kakek tunjukkan sesuatu,” ajaknya lalu berjalan lulus mengikuti jalan.

Sampai di depan sebuah gang kamipun berhenti. Aku semakin bertanya-tanya ini dimana, siapa kakek itu, mau diajak kemana, dan apa yang terjadi?

“Kamu lihat betapa canggih dan mewahnya kota tadi?” tanya kakek itu, aku pun menjawab dengan anggukan. “Sekarang lihatlah ini,” ucap sang kakek lalu mengajakku masuk ke dalam gang yang isinya membuatku terkejut tak percaya.

Bagaimana bisa kota yang megah, mewah, teknologi serba canggih, bersih, semua keinginan bisa didapatkan, justru ada suatu tempat yang berbanding 180°.

Tidak ada rumah, mereka hanya beralasan tidur menggunakan plastik, karung, kardus, dan semacamnya. Badan mereka kurus, kulit mereka pucat, mata mereka merah.

“Apa yang terjadi?” tanyaku heran.

“Itu yang dinamakan kesenjangan sosial, dimana orang atas bisa mendapat sepuas hatinya, dan orang bawah hanya bisa menunggu sisa dan rela diinjak-injak oleh yang diatas,” jelas kakek itu dengan tatapan serius.

“Itu juga dikarenakan orang-orang yang hanya memperdulikan dirinya sendiri tanpa peduli dengan orang lain. Harta, tahta, dan ambisi telah membutakan hati mereka,” lanjutnya. Hatiku terasa teriris saat melihat mereka semua melakukan kegiatan hariannya.

“Ibu aku lapar,” ucap seorang anak perempuan lucu sekitar usia 5 tahun sambil menangis.

“Sabar ya nak, nanti kita makan enak. Tapi sabar dulu ya,” jelas ibunya menenangkan tangisan anak kecil itu.

Seketika aku teringat hampir setiap hari aku membuang-buang makananku karena tidak enak, sedangkan di tempat lain banyak orang yang menunggu sisa-sisa dari orang lain untuk menyambung hidup mereka. Aku yang tidak tegapun segera berjalan menghampiri mereka berdua.

“Adek laper ya?” tanyaku ke anak kecil itu yang dijawab anggukan. Aku merogoh saku jaketku mengambil sepotong roti dari kantor yang belum sempat aku makan tadi malam. “Ini ada sedikit makanan buat kamu,” ucapku memberikan roti itu ke anak kecil sambil tersenyum.

“Hore, makasih ya om,” seru anak itu kegirangan sambil melompat-lompat. Reflek aku mengelus-elus rambutnya yang panjang.

“Ini ada juga jaket buat ibu sama adiknya, mungkin saja kalian kedinginan saat malam,” jelasku sambil melepas jaketku lalu memberikannya kepadanya. Ibu itu dengan bahagia berterimakasih hingga menangis terharu.

Kami melanjutkan perjalanan yang dipimpin oleh kakek tua. Hujan salju kini hilang sepenuhnya dan digantikan udara panas yang mulai terasa. Badanku mulai berkeringat setelah sebelumnya kedinginan karena salju.

“Aneh, sejak kapan di sini turun hujan salju dan hanya beberapa jam berubah menjadi panas?” gumanku terheran. Aku masih berjalan di belakang kakek itu sambil menyapu pandangan sekitarku, banyak sekali hal yang belum pernah aku temui sebelumnya.

“Itu karena kebocoran gas ozon, mungkin kamu sudah mempelajarinya di sekolah jika kamu memperhatikannya. Apa saja yang kamu ketahui nak?”

“Pertama penggunaan CFC seperti parfum semprot. Kedua penggunaan AC dan hair dryer secara besar-besaran. Ketiga asap dari pabrik, asap kendaraan, dan hal-hal yang memperbanyak Karbondioksida dan karbon monoksida. Keempat penstisida dan zat rumah tangga berbahaya. Dan yang kelima…” penjelasanku terhenti.

Sebuah ingatan kembali muncul di pikiranku dimana jas hitam dan dasi merah kebanggaan milikku ternyata telah menjadi penyebab awal mula kehancuran bumi. Aku terdiam cukup lama.

“Apa yang kelima?” tanya kakek itu penasaran.

Aku memandang wajah kakek itu dengan ragu dan menelan ludahku sebelum akhirnya aku berani membuka mulut. “Dan yang kelima penggundulan hutan, pemburuan ilegal, dan pembakaran hutan,” jawabku dengan nada sedikit serak.

Kakek itu hanya menjawab dengan anggukan lalu melanjutkan perjalanan dengan hening. Sekitar 1 km kami berjalan tiba-tiba kakek itu menghentikan langkahnya. Aku menatap kakek itu dengan bingung.

Sebuah lahan yang sangat luas sejauh mata memandang. Lahan tanah yang gersang tanpa adanya bangunan dan satu tumbuhanpun. Keringatku mulai menetes, entah mengapa udara menjadi sangat panas.

Aku duduk di atas tanah untuk beristirahat sambil mengecek jam tanganku, pukul 10.00. Aku menyandarkan punggungku pada batu besar untuk melepas lelahku. Aku memperhatikan kakek tua itu yang masih berdiri tegap menghadap ke lahan gersang.

“Laper, haus juga. Gak ada makanan atau minuman apa?” gumanku sambil memperhatikan beberapa orang lewat yang melakukan kegiatannya. Aku segera berdiri lalu menghampiri salah satunya.

“Permisi, boleh saya meminta makanan dan air minum?” tanyaku pada seorang berpakaian rapi. Dia memandang dari ujung kepala sampai ujung kakiku dengan pandangan sinis.

“Kalau mau ya beli bukannya minta!” seru orang itu kepadaku lalu pergi tanpa rasa bersalah. Aku kembali mendekati kakek itu dengan lemas.

“Kamu tau nak sebelum lahan ini ada? Lahan ini dulunya adalah hutan yang sangat lebat, dihuni oleh banyak hewan-hewan. Banyak orang yang mengatakan bahkan hutan itu adalah surga para satwa,” jelas kakek itu kepadaku. Aku mendengarkannya dengan seksama.

“Tiba-tiba ada orang dari kelas atas datang dan membakar habis hutan itu. Semua pohon lenyap, begitu pula dengan para penghuni disana, sampai akhirnya terjadi kepunahan masal,” lanjutnya dengan nada serius.

Hatiku benar-benar tertusuk. Seperti apa yang akan aku lakukan besok, semua dampaknya kini aku lihat dan rasakan sendiri. Hal yang aku ciptakan justru awal kehancuran dunia.

***

Kini kita telah sampai di tambang minyak bumi dengan di sebelahnya ada sebuah museum fosil satwa. Tanpa dijelaskannya pun aku sudah tau jika efek pembakaran yang mengakibatkan kepunahan hewan. Fosil-fosilnya dijadikan museum dan lainnya diolah menjadi minyak bumi, sungguh serakah.

Teringat kembali rencana pembangunan yang akan aku bangun ternyata bisa berdampak sangat parah di masa depan. Air mataku mulai menetes, rasa bersalahku tidak akan bisa mengembalikan semuanya seperti semula.

“Namamu siapa nak?” tanya kakek itu yang membuyarkan lamunanku.

“Kenn Hardana,” jawabku singkat.

“Nama yang bagus,” puji kakek itu yang membuatku penasaran karena selama ini aku tidak tau arti namaku sama sekali.

“Artinya apa?” tanyaku berterus terang.

“Kenn artinya air yang jernih, sedangkan Hardana artinya kekayaan. Jika digabungkan artinya air yang jernih itu merupakan kekayaan alam yang utama,” jelas kakek itu membuatku tertampar.

Aku, kepribadianku, pikiranku, yang aku lakukan, ternyata berbanding terbalik dengan namaku. Namaku menginginkan kekayaan alam, dan aku justru penyebab kehancuran alam, bodoh.

Sebuah layar transparan muncul di depan kami dengan ukuran tinggi 1 meter dan panjang 1,5 meter. Layar itu menampilkan sebuah bibit tanaman kecil di tengah lahan gersang yang kami lewati tadi.

Di pojok atas ada orang yang berkata, “Telah ada bibit tanaman berbahaya penyebab kehancuran bumi ini. Siapa saja yang bisa menghancurkan tanaman itu pertama, maka akan diberi imbalan 1 villa mewah bonus segala transportasinya, dan kehidupannya ditanggung pemerintah. Hancurkan atau dia yang akan menghancurkan dunia ini!”

Bergegas aku meminta ijin kepada kakek itu lalu segera berlari mencari tanaman itu untuk menyelamatkannya. Jauh, lapar, dehidrasi, bahkan mataku mulai berkunang-kunang. Tapi bagaimana lagi jika itu bisa menebus kesalahanku dan menyelamatkan kembali bumi ini.

Lari, terus berlari walau berkali-kali terjatuh. Tujuanku telah terlihat, tapi dari beberapa arah berlawanan banyak orang berlomba-lomba untuk menghancurkan tanaman itu.

“Sedikit lagi!” gumanku. Aku menambah kecepatanku walau rasanya ingin sekalu berhenti. Lelah, haus, lemas tak ku hiraukan. Pandanganku mulai kabur, tetapi aku masih memaksakan diri.

Tinggal beberapa meter aku bisa meraih dan melindunginya. Tapi tiba-tiba mataku terbelalak.

“Bruk…” sebuah suara salah satu orang menginjak tanaman itu bersamaan dengan jatuhnya tubuhku ke tanah.

Orang itu dengan bangganya tertawa karena telah memenangkan sayembara. Air mataku mengalir dengan deras. Aku mengepalkan tangan lalu menghantamkannya ke tanah gersang.

“GRRAAAAA…” teriakku mencoba menerima kegagalanku, kegagalan yang akan menghancurkan dunia cepat atau lambat. Pandanganku semakin kabur, tubuhku melemas, air mataku terhenti, hatiku dan jantungku terasa seperti mati, dan akhirnya semuanya menjadi gelap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *