Cerpen #177 Pembuang Sampah

“Buanglah sampah pada tempatnya,” kata bapaknya ketika ia masih balita. Berpuluh-puluh tahun kemudian kalimat itu selalu berbisik-bisik di telinganya. Kadang seperti angin yang sudah terasa dari jauhnya, dari benua atau lautan atau pulau lain yang sempat disinggahinya, karena hakekat hidup bagi angin adalah mengembara. Kadang begitu lembut menyisir pipi, mengeringkan keringat saat ia beristirahat setelah bekerja seharian, atau menyusup ke seluruh tubuh saat dihirup dalam-dalam. Kadang seperti gerimis membasahi tanah kering atau menghijaukan daun yang seharian dikotori debu dan asap knalpot, atau meresapkan dingin ke pori-pori kepala saat ia sengaja membiarkan diri ditimpa gerimis.

Waktu remaja, kelas VIII SMP, saat pulang sekolah berjalan kaki, dia terpana dengan pemandangan di depannya. Teman-temannya yang berlarian dan mengajaknya cepat pulang, tidak dihiraukannya. Seorang kakek sedang menanam pohon di pinggir lapangan yang gersang. Keringatnya membasahi wajah dan lehernya. Dia merasa itu adalah pemandangan yang indah. Ada sesuatu yang membuat hatinya begitu bahagia, terharu, tersentuh.

“Kakek, buat siapa menanam pohon?” tanyanya.

Kakek itu tersenyum.

“Maaf ya, Kek. Kakek kan sudah tua. Rasanya Kakek tidak akan bisa menikmati pohon itu kelak,” katanya lagi.

“Siapa bilang Kakek tidak bisa menikmatinya?” kata Kakek itu masih sambil tersenyum. Kakek itu merasa terhibur karena ada remaja yang tertarik dengan pekerjaannya. “Pohon ini bila kelak berbuah, rindang, memproduksi oksigen yang menyegarkan, menyimpan air yang banyak; tentunya buat siapa saja. Bukan hanya buat manusia, bukan hanya buat makhluk lainnya, tapi juga bumi yang sudah tua ini akan senang. Dan Kakek, dari sekarang pun sudah menikmatinya. Hati ini bahagia dengan menanam pohon. Hati bahagia yang mahal harganya. Sangat mahal harganya dalam kehidupan manusia.”

Karena pengalaman itu, setelah dewasa ketika orang-orang sibuk melamar pekerjaan ke perusahaan-perusahaan besar, ia sudah yakin dengan pilihannya, sebagai pembuang sampah. Setiap hari ia mengumpulkan sampah-sampah yang berceceran di jalan-jalan di halaman perkantoran di lapangan di pasar dan di manapun. Ia mengumpulkan sampah-sampah itu di dalam gerobak, mengangkutnya ke pembuangan akhir, memilah-milah antara sampah yang bisa diurai dan yang tidak.

Sampah basah diolahnya dengan bantuan magot, larva lalat buah. Komposnya dijadikan media tanam sayuran dan bunga-bunga hias. Magotnya menjadi pakan ternak lelenya. Sampah kering dipisah antara yang bisa didaur ulang dan yang tidak. Dia bahagia melihat sampah-sampah itu habis semuanya menjadi sesuatu  yang bermanfaat.

“Kenapa mau jadi pembuang sampah?” kata temannya suatu hari.

Ia tersenyum.

“Kenapa tidak jadi yang lain saja. Jadi wartawan, pegawai negeri, pedagang, trader, pengelola e-comerce, bankir, atau apalah. Kenapa jadi pembuang sampah. Apa kau betah jadi pembuang sampah?”

Ia masih tersenyum. Dihirupnya udara dalam-dalam. Dirasakannya kelegaan masuk ke dalam pori-pori tubuhnya, ke elemen-elemen terkecil dari sel-selnya. Dan seperti hari-hari yang lalu, saat temannya mampir ke rumah sederhananya (temannya menyebut: gubuk), ia akan berujar: “Saya menikmati dan bahagia jadi pembuang sampah. Bumi ini semakin kotor, emisi karbon semakin tinggi, iklim semakin krisis. Saya bahagia ikut andil membersihkannya. Walau hanya sejengkal yang dibersihkan, satu pohon yang ditanam.”

**

Pukul 4 pagi ia bangun. Menyiapkan sarapan dan bekal untuk makan siang. Selesai sholat subuh ia pergi dengan menggusur gerobak sampahnya. Ia sebenarnya punya wilayah kerja tersendiri, seperti yang diperintahkan pemerintah kota. Tapi ia bisa pergi ke mana saja. Membersihkan sampah-sampah yang berserakan di jalanan di pasar di sungai di perkantoran di lapangan dan di tempat lainnya yang ia lalui. Kadang ia menangkap sampah yang dilemparkan orang dari dalam mobil dari jendela kantor dari dapur rumah dan dari manapun yang melemparkan sampah.

Orang-orang tidak pernah memperdulikannya. Seolah sudah suatu kewajaran; ketika mereka membuang sampah maka harus ada yang memungut atau menangkap, dan mengangkutnya ke pembuangan akhir. Ia sendiri tidak pernah mengeluh dengan perilaku orang yang sembarangan membuang sampah. Dia akan memungut atau menangkap sampah yang dilemparkan, tanpa berkata sepatahpun. Kalaupun ada yang memperhatikan, ia hanya mengangguk dan tersenyum.

Kadang ada ibu-ibu yang memberinya bungkusan. Ia akan mengucapkan terima kasih dan tersenyum. Biasanya, kalau tidak baju bekas, bungkusan itu adalah makanan. Ia akan memakai baju pemberian itu esok harinya, tanda terima kasih kepada pemberi. Kalaupun makanan yang sudah basi dan tidak layak lagi dimakan, ia akan membuangnya bersama sampah yang lain. Ia tidak merasa terganggu dengan itu.

Yang uring-uringan malah temannya yang datang hampir seminggu sekali ke rumah sederhana pembuang sampah itu.

“Mengapa sih begitu betah jadi pembuang sampah? Apa kamu tidak terhina saat orang-orang membuang sampah begitu saja, saat diberi baju bekas atau makanan sisa. Kemajuan sudah melesat sampai ke langit, tapi kamu masih betah jadi pembuang sampah. Bolehlah kalau kamu buta hurup, tanpa keterampilan apapun, dan tanpa modal sepeserpun. Tapi kamu teman sekolahku, berijazah, bisa bersaing.”

“Tapi saya dibayar untuk jadi pembuang sampah.”

“Dibayar? Apa yang kau dapatkan dari membuang sampah? Gubuk seperti ini, makanan kurang gizi yang mesti ditanak sendiri, dan tanpa fasilitas apapun.”

“Bukan bayaran seperti itu.”

“Lalu?”

“Saya menikmati dan bahagia jadi pembuang sampah.”

Teman si pembuang sampah itu pergi begitu saja. Dia jengkel. Ditancapnya gas mobil dalam-dalam. Karena itu entah kunjungan yang ke berapa kalinya. Entah ajakan untuk jadi apa lagi setelah profesi wartawan, pedagang, pegawai negeri, marketing, public relation, mengelola situs, selalu ditolak. Dia merasa memperhatikan temannya. Ingin mengangkat derajat temannya. Tapi yang diperhatikan tidak merespon yang semestinya. Tetap teguh menjadi pembuang sampah. Omong kosong seperti apa lagi seperti itu?

**

Pembuang sampah itu sebenarnya maklum dengan kejengkelan temannya. Tapi pekerjaan harus dipilih. Dipilih yang memberi kenikmatan kepada diri sendiri. Waktu boleh melaju, peradaban boleh berubah, tapi kenikmatan selalu sama. Selalu muncul dari diri setiap individu. Individu yang jujur, yang pencinta, yang sabar, dan yang ikhlas.

Ia ingat bagaiman bapaknya mengajarkan menikmati hidup seperti itu. Setiap sore mereka berjalan-jalan, mengelilingi jalan-jalan di kota, masuk ke gang-gang dan perkampungan. Mereka membawa plastik besar, memunguti sampah yang berserakan dan membuangnya ketika mereka pulang. Biji-bijian yang ditemukan disemai, dan setelah tumbuh ditanam di tempat-tempat gersang.

“Akan selalu banyak sampah menumpuk dan bau busuk, tapi kita harus selalu mengelolanya. Akan semakin buruk udara ini karena emisi karbon, tapi kita harus selalu memproduksi oksigen. Meski hanya satu jengkal yang bisa kita bersihkan, meski hanya satu pohon yang kita tanam, tapi memberi kebaikan bagi kehidupan adalah kenikmatan,” kata bapaknya.

Waktu itu ia baru 5 tahun. Bapaknya biasa pergi pagi dan pulang menjelang sore. Setelah mandi dan makan sekedarnya, bapaknya akan mengajak ia berjalan-jalan. Ia tidak tahu apa pekerjaan bapaknya. Suatu malam ada mobil berhenti di depan rumah. Lima orang berseragam tentara menggedor pintu, membawa bapaknya dengan paksa. Dua minggu kemudian ada lagi mobil berhenti di depan rumah. Bapaknya terhuyung-huyung mencapai pintu. Ia terpana mendapatkan bapaknya sudah berubah. Wajahnya lebam, darah mengering di sekujur tubuhnya, luka menganga di mana-mana dan sebagian masih mengucurkan darah. Tapi bapaknya tersenyum.

“Bapak kenapa?”

“Disiksa.”

“Oleh siapa?”

“Oleh para pembuang sampah sembarangan.”

“Kenapa?”

Bapaknya tersenyum.

Ia tidak bertanya lagi. Tapi hari-hari berikutnya, setelah bapaknya sembuh dan mengajaknya jalan-jalan dan memunguti sampah yang berserakan, ia mulai merasakan bagaimana menakjubkannya menjadi pembuang sampah. Bapaknya selalu tersenyum setiap memungut sampah yang begitu busuk. Kadang ia juga melihat air meleleh membasahi pipi bapaknya. Dan ia merasakan sore begitu lain dari biasanya. Angin berhembus menyelusup ke seluruh elemen tubuhnya, menggetarkan daun-daun syarafnya yang mulai memucuk. Cahaya matahari yang mulai menjingga menerobos celah pori-porinya, menerangi seluruh bagian tubuhnya, dan menjadikannya seperti bulan yang memantulkan cahaya begitu sempurna.

Suatu malam bapaknya ada yang menjemput lagi dan tak pernah pulang lagi. Tapi ia tidak lagi mempertanyakannya. Ia membantu ibunya berjualan nasi, bersekolah, dan sorenya melanjutkan kebiasaan berjalan-jalan sambil memunguti sampah tanpa berkata sepatah pun. Dan setelah ia dewasa, setelah ibunya meninggal, ia mendaftarkan diri bekerja di dinas kebersihan.

Temannya pernah datang sekali lagi. Dia mengajak si pembuang sampah bekerja di kantornya. Tapi ia tetap menolaknya.

“Atau kalau kau menginginkan sesuatu, bicaralah. Aku akan memberikannya,” kata temannya itu. Sebagai aktivis partai yang karirnya melesat, dia memang bisa memberikan banyak fasilitas. Banyak orang yang datang kepadanya, mengajukan proposal, meminta dipercaya mengerjakan proyek-proyek tertentu, atau sekedar meminta sumbangan. Dan dia begitu prihatin ketika mendapatkan seorang sahabat terbaiknya, bekerja sebagai pembuang sampah. Begitulah awal dia selalu datang ke gubuk si pembuang sampah itu.

“Saya hanya menginginkan satu hal saja dari kamu, tolong jangan datang lagi ke sini,” kata pembuang sampah itu.

“Kenapa?”

“Sesungguhnya kamu membawa kebimbangan meski saya sudah begitu yakin dengan kenikmatan ini. Kita masih bisa berteman, justru kalau tidak saling mengusik.”

“Kamu tidak ingin sekedar bahan bangunan untuk membuat gubuk ini lebih permanen, atau telepon genggam keluaran terbaru untuk hiburan, atau sedikit tabungan untuk menjamin hidupmu di masa depan, atau…”

Ia tersenyum.

“Atau kamu tidak punya keinginan lagi? Lihat di rumahku, mobil ada empat belas, pembantu siap melayani apa maunya kita, makanan bergizi tinggi, mau liburan ke manapun tinggal pergi. Aku sudah menjadi eksekutif sekarang. Kalau aku bisa lebih dekat dengan presiden, tidak mustahil periode berikutnya aku jadi menteri. Akan semakin banyak lagi uang, punya villa di mana-mana, perusahaan mulai dari mengelola hutan sampai lautan, liburan ke mancanegara, rekening yang tidak terkirakan, dan wanita-wanita…”

“Saya sudah merasa cukup dengan ini. Bagaimana saya harus menerima pemberian orang yang masih kekurangan seperti kamu?”

Teman si pembuang sampah itu pergi begitu saja. Dia tidak mengerti, masih ada kelucuan hidup di zaman yang serba bersaing ketat ini. Dia mencoba menghilangkan ingatan kepada si pembuang sampah sahabatnya itu. Tapi sesekali, ketika berangkat ke kantor, dia masih melihat temannya itu berjalan dengan tenang sambil menggusur gerobak, memunguti sampah yang ditemuinya.

Seringkali dia ingin menginjak rem, memanggil temannya itu sekedar untuk berbincang. Tapi yang terinjak biasanya gas. Dia semakin sering merasakan dikejar-kejar oleh sesuatu yang tidak jelas. Sesuatu yang mendorongnya untuk melakukan apapun. Dia merasa, karena frustrasi itulah dia datang ke tempat temannya yang menjadi pembuang sampah. Frustrasi karena tidak punya andil dalam membersihkan bumi yang semakin tua, kotor, dan penuh emisi karbon. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *