Cerpen #176 Jejak Tak Terlihat

BAB 1

Tak terduga

 

Hai, namaku Wulandari panggilanku Ari, aku seorang siswa SMK Pelangi. Setiap pagi aku selalu bangun awal, masak dan menyiapkan perlengkapan sekolah. Aku memiliki seorang adik perempuan bernama Ana. Dia adalah adikku satu-satunya. Karena ibu kadang sibuk, aku menyiapkan sendiri perlengkapan ku dan adik. Sebelum berangkat aku dan adik tak lupa untuk berpamitan dengan ayah dan ibu.

Aku dan adik berbeda arah jalan, namun kami satu tujuan yaitu sekolah untuk menimba ilmu.

~~~

 

Ku awali pagi ini dengan gembira, sorak sorak burung membuat hari ini bergelora. Ku lihat hijaunya pepohonan dan warna warni bunga di depan rumah.

Tak lupa tuk bersiap diri untuk berangkat sekolah. Aku dan adik berjalan menuju sekolah, ku lewati jalan terobosan seperti biasa namun, jalan yang biasa ku lewati sedang ada perbaikan. Lalu, aku pun harus berjalan jauh ke jalan raya.

Di jalan banyak ku temui sampah-sampah berserakan dimana-mana. Hatiku terenyuh melihatnya. Inikah keadaan lingkungan? Alam berubah, ini juga akibat ulah manusia sendiri. Hawa panas dan berdebu ku rasakan di jalan, trotoar pun dipenuhi pedagang kaki lima. Wah ini sangat membuat hatiku sedih, aku merasa bumi ini sedang berjuang beradaptasi dengan keadaan  saat ini.

Selokan dipenuhi sampah, jalan sempit dan kumuh. Gedung-gedung kota yang menambah sempitnya alam untuk bernafas.

Rasanya udah ngga karuan lihat semua itu, apakah kalian merasakannya juga?

Itu semua tergantung diri masing-masing, kepedulian kita terhadap alam dan sekitarnya itu penting. Karena kalo bukan dari kita siapa lagi.

 

Sesampainya di sekolah..

” Ari, kok kamu berangkatnya siang ?” tanya Dila.

” Iya tumben. ” tanya Novi

” Iya nih, tadi aku lewat jalan raya. Soalnya jalan terobosan ku lagi diperbaiki.” jawabku.

” Kok, kamu keliatan sedih ?” tanya Hani.

” Huhh…aku sedih karena tadi liat buaanyak sampah di jalan raya kota.” jawabku.

” Itu mah udah biasa. Namanya juga perkotaan.” kata Hani.

” Tapi kan walaupun wilayah kota, apakah mereka ngga peduli sama sampah. Yang ngerasain efeknya kan kita sendiri.” kataku.

” Ada truk sampah, pembersih jalanan juga tapi orangnya aja pada buangnya seenaknya.” kata Hani.

” Oh iya, Ira belum berangkat ?” tanyaku.

” Iya nih, aku juga ngga tau.” jawab Hani.

Bel masuk berbunyi

Kami masuk kelas dan bersiap untuk memulai pelajaran.

” Selamat pagi semuanya.” kata Bu Marwa.

” Selamat pagi Bu.” jawab semua murid.

” Begini anak-anak ibu mau memberi sebuah berita dari salah satu teman kalian.” kata Bu Marwa.

” Ada apa Bu ? Apa ini ada kaitannya sama Ira ?” tanya Hani.

” Jadi teman kalian Ira tidak masuk sekolah karena rumahnya kebanjiran. Dia sekarang sedang mengungsi. Jadi Ira mungkin akan izin beberapa hari dan akan masuk sekolah jika kondisinya sudah membaik.” jawab Bu Marwa.

” Innalilahi wa innailaihi rojiun..” kata Dila.

” Ssstt..siapa yang meninggal ?” tanya Hani.

” Bukannya gitu, ini kan musibah.” jawab Dila.

 

” Jadi mari kita doakan yang terbaik untuk Ira dan keluarganya di  sana.” kata Bu Marwa.

” Baik Bu.” jawab semua murid

” Oh iya anak-anak hari ini ibu akan membahas tentang bencana alam beseta penanggulangannya. Jadi, bencana adalah sebuah peristiwa tak terduga yang mana itu semua kita tidak mau mengalaminya. Karena bencana datang tak terduga, maka kita harus bersiap. Ibu mau tanya apa saja contoh bencana alam ?” kata Bu Marwa.

” Gunung meletus, tsunami, sama banjir Bu.” jawab Novi.

” Iya, betul, ada lagi ?” tanya Bu Marwa.

” Tanah longsor Bu.” jawabku.

” Betul, jadi itu tadi contoh bencana alam. Nah untuk menanggulanginya, misal tanah longsor, sebelum tanah itu longsor sebaiknya kita lakukan ini kegiatan penanggulangan. Misal dengan  tanam pohon di daerah yang gundul, membuat terasering, dsb. Nah, untuk banjr, yang saat ini kits ketahui sebenarnya sebelum banjir datang kita harus lakukan kegiatan juga loh. Yaitu dengan tidak membuang sampah sembarangan. Lalu kita juga bisa buat sampah tadi jadi pupuk. Itu tadi penjelasan sedikit dari Bu guru, kalian bisa baca baca lagi di buku paket kalian.”

 

~~~

 

Sepulang sekolah ku lewati kembali jalan raya tadi, ku lihat masih banyak sekali sampah. Pohon-pohon kering tak terawat, udara pun menjadi kotor dan berdebu.

Suara bising kendaraan membuat telinga ini berdengung.

Inikah dunia?

Menurut ku berubahlah, berubahlah menjadi lebih baik.

Pedulilah dengan lingkungan sekitar, jika kita sadar akan keadaan alam ini, lingkungan pun akan memberi kita hadiah.

 

Sesampainya di rumah..

” Assalamualaikum, Ari.” kata Dila.

” Waalaikumsalam, iya Dil. Ada apa ?” jawabku.

” Aku, Novi, dan Hani mau ke tempat pengungsian Ira. Kamu ikut ngga ?”

” Ikutlah. Mmm..bawa apa ya ?” tanyaku.

” Gimana kita kumpulin baju bekas kita, tapi yang masih bagus. Terus kita bawa sembako juga. Iuranlah.” kata Dila

” Boleh juga.” jawabku.

” Yuk, kemon..” kata Novi.

Beberapa menit kemudian, Hani datang ke rumah.

” Hai, teman-teman aku bawa sembako nih.” kata Hani.

” Alhamdulilah, kalo begitu yuk kita samperin Ira. Lagi pula kayanya bajunya udah cukup untuk pengungsi di sana ” kataku.

Tempat pengungsian Ira lumayan jauh, jadi kami memutuskan untuk mengendarai sepeda motor. Aku dengan Hani, Dila dengan Novi. Tak lupa sebelum kami berangkat kami berdoa dan pastinya menggunakan helm.

~~~

 

Sesampainya di tempat pengungsian.

Aku melihat banyak sekali tenda, barang-barang berserakan, namun mereka masih beruntung karena masih ada tempat untuk berlindung. Namun, ada yang membuat ku sedih, yaitu ketika melihat para lansia yang terkena dampak banjir ini. Banyak dari mereka yang terserang diare. Ini karena kurangnya air bersih.

Tenaga medis sepertinya kesulitan menangani pasien, tak heran jika suasana disana membuat hati ini terenyuh. Ku temui sahabat ku, ku panggil dia dan ku peluk.

” Ira, gimana keadaan kamu ?” kataku sambil memeluk Ira

” Aku baik kok.” jawab Ira.

” Oh iya ini kami bawa sesuatu buat kamu dan semuanya, semoga bermanfaat ya.” kata Novi

” Wah.. terima kasih banyak ya teman-teman.” kata Ira sambil berlinang air mata.

” Sama-sama Ira, kita kan sahabatan.” kataku.

” Iya, sahabat sejati.” kata Hani.

Sambil duduk, aku dan teman-teman mengobrol dengan Ira dan ibunya, jadi banjir ini akibat sungai mampet karena sampah, jadi tanggul sungai jebol dan air masuk pemukiman warga.

Nah ini bisa jadi pelajaran bagi kita, ulah kita juga nantinya kita yang kena dampaknya sendiri. Maka, kita harus peduli dengan lingkungan sekitar, agar lingkungan bersih, kita pun juga nyaman.

Sebagai generasi penerus bangsa, kita harus peduli lingkungan, peduli dengan alam.

Jadilah pemuda yang kreatif, bertanggung jawab dan berjiwa nasionalis.

~~~

 

BAB 2

Tak terlihat

 

Alam ini begitu banyak melewati guncangan masalah besar, apakah dari kita peduli? Begitu banyak bencana yang bisa terjadi, kita tidak tahu nasib kita selanjutnya. Bumi ini sudah lelah, lelah menghadapi sikap manusia. Sikap yang berubah-ubah dan mementingkan diri sendiri. Huhh capek ya, kita akan begitu lelah karena kita banyak mengurusi urusan duniawi kita. Kita  juga tak tau bagaimana bumi ini kedepannya. Kita serahkan semua pada Tuhan Pencipta alam semesta.

~~~

Minggu pagi ini, aku dan teman-teman berencana untuk jogging. Kami berangkat bersama menuju sebuah taman di kota. Pemandangan di sana indah, asri dan nyaman, cocok untuk bersantai. Setelah berjogging kami memutuskan untuk makan.

Kami mampir makan di cafe Inyong. Sambil menunggu pesanan, kami sempat menonton televisi. Kami melihat berita, dan berita tersebut berkaitan dengan keadaan bumi sekarang. Aku tidak menyangka bumi ini sedang bersedih. Karena bumi harus menghadapi berbagai tantangan alam dan juga ulah manusia.

” Ari, kamu liat deh, bumi sekarang udah berubah.” kata Dila

” Iya, kasian. Gimana ini nasib kita nanti?” jawabku.

” Tuh, di mana-mana akan ada banyak bencana.” kata Novi.

” Aku jadi takut.” kata Ira.

” Bencana kan datang tak terduga, pastinya kita tetap harus bersiap.” kataku.

” Kita masih muda, kita masih bisa perbaiki. Kita harus yakin itu.” kata Hani.

” Semangaaaat…!!!!” kata kami bersama.

~~~

Aku juga sudah tak tau bagaimana lagi menghadapi dunia ini, alam ini sungguh sedang gelisah, banyak orang tidak peduli dengan alam. Bencana menerpa kita yang kena. Masa depan yang suram bisa terjadi jika kita tidak sigap menangani.

Ku lihat banyak bencana yang datang menimpa. Ada banjir, gempa bumi, tanah longsor, dan masih banyak lagi. Itu semua bisa terjadi. Lalu bagaimana masa depan anak cucu kita?

Sekarang gedung-gedung pencakar langit banyak terbangun, namun dunia kerja sempit. Banyak bangunan pemukiman yang berdempet-dempet, lingkungan kumuh tak terawat, polusi menerjang, bisingnya kendaraan.

Misalnya banjir yang datang hampir sepanjang tahun, kita tidak intropeksi diri. Mengapa begitu banyak bencana yang menimpa, penyebabnya kadang kita juga tak tau. Padahal itu datang dari diri kita, yang kadang kurang peduli dengan lingkungan. Buang sampah sembarangan, banyaknya pembangunan gedung dan pemukiman, dll.

Itu semua menyebabkan tanah jadi sempit, jadi tanah itu langka.

Kalo menurutku sih suatu musibah itu datang tak terduga, namun ada baiknya kalo kita bersiap dari sekarang. Di balik usaha pasti ada hasil.

~~~

Sore ini, aku berencana untuk pergi ke sebuah pantai. Pantai ini cukup menarik karena menurut ayah dan ibu disana pemandangan indah, banyak pohon kelapa.

Setelah bersiap, aku dan keluarga bergegas untuk berangkat ke pantai.

Sesampainya di sana..

Ku lihat pantai ini indah namun, gersang. Karena ayah dan ibu bilang di sini dulu banyak sekali pohon kelapa. Ayah dan ibu juga agak terkejut melihatnya, di sana hanya sedikit pohon kelapa yang tumbuh.

Bagaimana jika terjadi gelombang besar, pasti airnya akan masuk ke pemukiman.

Ini nih, yang dapat membuat bencana.

Aku sangat khawatir melihat itu semua.

” Ayah, ibu katanya banyak pohon kelapa?” tanyaku.

” Kayanya pohonnya sudah ditebang, mungkin ganggu.” jawab Ayah.

” Di sini juga ngga banyak pohon, padahal kalo ada banjir rob bisa masuk ke pemukiman nelayan.” kata ibuku.

” Harusnya kan ada pohon, ya buat teduh atau bersantai.” kataku.

” Zaman cepat berubah, dari tahun ke tahun pasti ada bedanya. Dulu kan masih alami ya wajar kalo sekarang ngga kaya dulu.” kata Ayah.

 

Sambil duduk di pasir, ku pandangi deburan ombak pesisir yang menyatu nyaut pasir.  Aku pun berfikir apakah bumi ini akan semakin tipis terkikis bila dihantam terus terusan oleh ombak bencana?

Semua kejadian yang tahu hanyalah Tuhan. Dia yang menciptakan alam semesta ini. Ku pasrahkan semuanya kepada-Nya.

Banyak keindahan alam ini yang mungkin orang belum merasakannya.

Menyenangkan sekali jika kita ada keterkaitan dengan alam. Menurut ku alam bumi ini sangatlah indah, patut kita bersyukur atas nikmat dan anugerah yang diberikan oleh Tuhan. Yang mana kita harus jaga dan rawat sebaik-baiknya. Jadi, teman-teman disana jangan lupakan alam ya. Cintai alam, sayangi alam, coba deh kalian lihat lingkungan sekitar kalian, pasti ada hal menarik yang bisa kalian temui. Atau cobalah untuk berpetualang ke hutan atau pegunungan atau tempat yang masih alami. Pasti ada rasa tersendiri, itu semua juga tergantung masing-masing orang.

~~~

Pesanku, untuk generasi muda jadilah seorang generasi yang berattitude, bertanggung jawab, dan pastinya berakhlak mulia. Untuk semuanya  mari kita bersama menjaga alam bumi ini sebab kalau bukan kita semua siapa lagi. Itu sudah menjadi tanggung jawab kita bersama. Karena alam ini sudah banyak memberikan kita sebuah hadiah yang begitu indah.

Jagalah alam, cintai alam dan sayangi alam kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *