Cerpen #175 Sepeda Ayah

“Orang sekarang ini banyak edan; dipercaya ngurus hutan, jadi orang hutan, ngurus laut jadi bajak laut,borong jalan: makan aspal, gak ada lagi yang jujur”. Aku tekun menjadi pendengar yang setia, celoteh ayah yang sedang asyik membersihkan sepeda ontelnya.

“ Nanti kalau kamu sudah jadi pejabat jadilah pejabat yang amanah. Jadi pengusaha, jadilah pengusaha yang benar, gak asal ambil untung besar, tapi menghalalkan semua cara”

“Jadi orang pinter gak  jujur susah, orang bodoh gak  jujur lebih susah”

Aku tertegun mendengar celoteh ayah, yang selalu menggajarkan kami pada prinsip- prinsip hidup yang benar.

“ Mengapa ayah suka bersepeda, bukankah dulu ayah dulu pernah mau dikasih motor oleh Pak Sabar pimpinan ayah?

Ayahku tersenyum, “ Mungkin dengan cara seperti ini ( bersepeda), ayah bisa ikut berpatisipasi mengurangi polusi udara dan mendamaikan dunia, kata ayahku menyentuh bahuku.

Kini, sudah 20 tahun ayahku tiada, namun kekuatiran ayahku mulai dapat kurasahkan. Lahan tempat anak-anak  bermain sudah mulai menyempit. Zona hijau semakin sulit ditemui. Impor motor- mobil semakin menjadi-jadi. Tidak sebanding dengan kapasitas jalan yang semakin lama semakin menyempit.

Pembakaran hutan dan lahan hampir setiap tahun terjadi, ekspolarasi terhadap alam sudah sangat tidak dilakukan secara bijak dan kearifan, namun terkesan membabi buta.

Aku tertegun, pada sepeda milik ayah. Sepeda itu yang dulu menemani aktivitas ayah semasa hidup.”Kendaraan ayah ini tidak bikin sesak napas, tidak membuat udara kotor’, kata ayah suatu senja saat sedang membersihkan sepeda diperkarangan rumah kami.

Ayahku sangat bangga mempunyai sepeda itu. Teman setia ayah, yang selalu menemani aktivitas ayahku semasa hidup. Mengajar mengaji di surau, pergi memancing di sungai serta membeli kebutuhan  ke kalangan yang ada dua kali dalam seminggu. Sepeda ayah kendaraan yang ramah lingkungan.

Indonesia, 3050

Penghuni Pavelium  Anggrek kelas 3 penuh sesak. Padat. Rintihan dari setiap sudut sal mewarnai setiap harinya. Pasien rata-rata dipasangi  selang infus dan dibantu tabung oksigen. Perawat- perawat yang berpakaian putih tampak sibuk dan terlihat kewalahan melayani keluarga pasien yang memerlukan pertolongan.

Rata- rata keluhan pasien  Pavelium Anggrek adalah keluhan  sesak penapasan. Udara kotor pada lingkungan tempat tinggal menjadi sebab utama. Asap hitam dari pabrik-pabrik pencakar langit,  kendaraan roda dua dan empat yang sudah mencapai millayan jumlahnya, pola hidup dari masyarakat perkotaan yang acuh tak acuh dan cendrung tak menghiraukan keselamatan lingkungan. Sehat menjadi harga yang mahal harganya, harta yang ditumpuk-tumpuk menguap ke angkasa bersama pundi-pundi yang disetor ke bagian admistrasi rumah sakit.

Minimnya dan keterbatasan  pasokan tabung  oksigen, membuat Rumah Sakit Harapan Baru belum dapat menerima pasien baru dengan gangguan pernapasan sampai batas waktu yang tidak dapat ditentukan batas waktunya.

Indonesia, 23.15 WIB

Pikiran Sukmawati kalut ketika ibunya ditolak rumah sakit, dengan alasan kapasitas rumah sakit sudah penuh. Padahal kondisi saturasi oksigen sang ibu sudah dibawah 90 dan kadar gulanya cukup tinggi.

“ Aduh, Mas Cipto, bagaimana ini ? Ibu, Mas, ibu..

Ya, Mas juga tidak bisa berbuat apa-apa, mau rujuk ke Rumah Sakit Pancasila kondisinya sama, tidak ada persediahan tabung oksigen”

“ Mas tahu dari mana? Usaha dulu !”

“Tadi pagi Mas sudah usaha pesan driver online, tapi katanya percuma, “ Nanti Mas, buang- buang ongkos saja, penuh juga Mas… “  

‘ usaha lagiii.. Mas..Cipto!”

Pukul, 2 WIB  pagi dini hari, Rumah Sakit Cempaka Putih

“ Maaf, Pak, daya tampung kami sudah penuh, tapi kalau bapak mau, untuk sementara bapak bisa tinggal di dalam tenda darurat, sembari menunggu giliran untuk mendapatkan kamar perawatan di dalam rumah sakit, Pak !”

“ Tidak, apa-apa Sus, yang penting ibu kami segera mendapat perawatan.”

Kamar ayah, waktui malam

Sudah lama aku tidak bermanja-manja di kamar ayah. Istri dan anakku sedang berlibur ke rumah orang tuanya di Lampung. Rumah ayah yang sekarang ditunggu adik bungsuku, tidak begitu jauh dari rumahku. Aku sengaja datang ke rumah ayah sehabis Isya’, karena menurutku kalau aku kemalaman dapat tidur dan menginap di rumah ayah.

Tak banyak perubahan pada kamar ayah. Semua perabot masih tersusun rapi ditempatnya. Ayah pernah berpesan untuk tidak menjual rumah ini. Alasannya, sebagai tempat persinggahan untuk saudara- saudaraku yang tinggal diluar kota, kalau sewaktu-waktu datang dan singga dikota ini.

Tiba- tiba pandanganku tertuju pada lemari kayu terbuat dari Jati. Kubuka, tiba-tiba ada yang jatuh. Kuambil,kudapati sebuah buku harian yang masih tampak terawat, kubuka dan kuamati, seketika mataku tertuju pada tulisan ayahku yang cukup panjang.

Malam dalam perenungan…

Untung dulu aku menolak pemberian motor dari Pak sabar, kalau tidak, aku takut suara knalpot dan asap yang dihasilkan dari kendaraan roda dua itu dapat mengganggu hak hirup udara segar dari saudara-saudaraku, warga kampung ini.

Bagiku biarlah aku naik sepeda. Alat tranportasiku ini tidak mengeluarkan suara. Tidak menghasilkan asap, yang bikin sesak napas bagi orang menghirupnya. Sepedaku tidak berdisribusi pada dosa, orang- orang yang terzolimi oleh karena suara roda dua ataupun suara yang ditimbulkannya. Sepedaku tidak mempunyai suara, yang ketika aku pulang kemalaman selepas mengajar mengaji tidak mengusik orang-orang sudah terlelap tidur, setelah seharian mencari nafkah.

Sepedaku tak menimbulkan polusi udara, tak menimbulkan elergi suara pada orang-orang yang mungkin saja menderita sakit pada alat pendengaran, sepedaku ramah lingkungan.

Sepedaku tidak  menyebabkan pergunaan energi yang berlebihan dan eksplotasi alam yang besar yang menyebabkan kerusakan pada bumi.Percemaran udara dan kelangsungan mahkluk hidup yang terancam kehidupannya di masa yang akan datang.

Aku tertegun, membaca tulisan ayah. Kini aku tahu mengapa ayah menolak pemberian dari Pak Sabar berupa motor. Ayahku tak  ingin menzolimi orang-orang disekitarnya, namun juga ingin berbuat bijak pada alam semesta. Masya Alllah.

( Palembang, 4 November 2021, dalam renungan imajinasiku)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *