Cerpen #173 Terrarium

Seorang wanita muda dengan rambut sebahu berumur sekitar 25 tahun duduk di kursi santainya. Raut wajahnya sedikit bertekuk serius bercampur heran, sepasang matanya terfokus ke layar gawainya. Dari layar tersebut, banyak berkas-berkas digital dan artikel dengan topik vegetarian, vegan, pemanasan global, dan daging sintesis terbuka di menu peramban dan aplikasi buku digital. Ekspresi dan kerutan wajahnya makin terlihat ketika artikel dan esai yang dia temukan membuat dirinya semakin bertanya-tanya dengan orang masa kini. Dari sejumlah artikel populer dan ilmiah yang membahas mengenai gaya hidup vegan, ada bagian tertentu yang membuatnya terganggu.

Pertama, binatang ternak memanglah menghasilkan kotoran beserta gas di dalamnya. Akan tetapi, bukan berarti mereka bisa “disalahkan” sebagai penyumbang terbesar salah satu gas komponen dari rumah kaca. Jika mau “menyalahkan”, salahkan saja penyuntikan hormon dan pemberian pakan buatan yang diberikan pada binatang ternak. Kedua, sesungguhnya orang-orang itu sedang berbuat apa? Menjaga lingkungan atau “mengubah” pola hidup seluruh orang?

Jikalau industri peternakan yang disebut-sebut melakukan cara tidak sehat untuk produksi binatang ternaknya, mengapa tidak meminta tolong orang-orang bidang teknologi pangan dan peternakan untuk mengembangkan cara beternak yang sehat? Toh, nenek moyangnya dahulu tidak pernah menyuntik hormon atau apapun yang membuat binatang ternak tumbuh lebih besar dan siap santap.

Sebenarnya vegan itu apa? Sebuah gaya hidup, kan? Tujuan aslinya apa? Kenapa sampai menyerempet ke bentuk perlawanan terhadap kapitalisme?

Sungguh, wanita itu tak habis pikir. Logikanya terasa seperti dilempar sana-sini. Bahkan, jika boleh jujur, dia sebenarnya tidak mempermasalahkan gaya hidup ini, karena ada beberapa keyakinan yang mempunyai pantangan memakan makhluk hidup. Hanya saja, dia berpikir bahwa gaya hidup itu sifatnya privasi dan sensitif. Tidak seharusnya gaya hidup dibuat sepolitis ini.

Kemudian, bagi wanita berambut sebahu itu, penyebab pemanasan global tidak hanya lewat gas kotoran hewan ternak saja. Masih banyak sebab yang mendominasi dan mendukung pemanasan global. Selain itu, semua makhluk hidup sudah diberi jenis makanannya sendiri sesuai dengan ragam dan fungsinya di alam, termasuk manusia.

Akan tetapi, konsentrasi wanita itu buyar setelah seorang pria berambut panjang sepunggung memanggil si wanita.

“Hei, Maya. Kamu tidak tidur? Besok kita ke Surabaya, lho. Biar aku tebak, kamu masih menelusuri isu orang-orang luar itu, ’kan?” Pria tersebut bersandar kusen pintu, menatap wanita yang raut wajahnya masih penuh dengan ketidakpahaman.

“Iya, ada yang membuatku bertanya-tanya. Tapi, kurasa lebih baik kita diskusikan di waktu perjalanan ke Surabaya besok saja, Arjuna,” timpal wanita yang dipanggil ‘Maya’ oleh pria tadi.

Sepasang suami istri itu memutuskan tidur lebih awal tanpa obrolan dan ritual bersih-bersih energi pada diri mereka yang biasa mereka lakukan. Maya tenggelam dalam serpihan mimpinya.

“Maya … Bangun,” panggil Arjuna lirih membangunkan istrinya.

Samar-samar suara kereta terdengar di pendengaran Maya. Pandangannya yang kabur setelah membuka mata, perlahan menjadi fokus. Wanita itu melihat ke arah jendela, pemandangan rumah-rumah dengan panel surya di atapnya menghiasi perjalanan mereka ke suatu tempat. Bersamaan dengan itu, pemandangan pepohonan yang tumbuh dalam tabung kaca juga menghiasi di antara rumah-rumah penduduk.

Maya dan Arjuna saling memandang dan meyakinkan satu sama lain bahwa mereka sedang berada di dalam dunia mimpi. Akan tetapi, mereka tidak tahu arah tujuan dari kereta yang ditumpanginya. Bagi sepasang suami-istri itu, mimpi yang mereka alami condong mengisahkan suatu kejadian di masa depan yang tidak bisa mereka ceritakan kepada orang lain.

Tiba-tiba perhatian suami-istri itu teralihkan dengan pengumuman dalam kereta yang menyerukan bahwa kereta yang membawa mereka akan tiba di stasiun tujuan. Seusai mendengar pengumuman tersebut, Maya buru-buru mengecek gawainya. Sesuai dugaannya, mereka berdua berada di Indonesia yang berusia 176 tahun. Generasinya sudah mati, orang-orang yang hidup saat ini pastilah cicit dari anak-cucu mereka.

Ketika Maya dan Arjuna tiba di stasiun tujuan mereka. Mereka dikagetkan dengan suara sirine yang mirip dengan suara peringatan untuk meninggalkan lokasi ketika gunung sedang erupsi. Setelah suara sirine berbunyi, ada pengumuman yang mengikuti. Pengumuman tersebut berisikan peringatan hujan asam yang akan turun dalam waktu 15 menit. Semua orang yang berada di area stasiun buru-buru mengeluarkan masker gas.

“Ah, aku lupa membawa masker gas,” kata Maya membongkar isi tasnya. Dia hanya membawa masker biasa, bukan masker gas yang biasa dipakai oleh para laboran.

Arjuna hanya bisa menepuk jidat dan mengedarkan pandangan ke sekitar, berharap ada toko swalayan yang menjual masker gas untuk beberapa kali pemakaian. Pria itu merasakan hawa di sekitarnya berat, penuh dengan orang-orang yang gelisah karena aktivitas mereka terganggu. Lalu, sepasang matanya menangkap sesosok nenek-nenek berpakaian kebaya menghampiri istrinya.

Si Nenek tersenyum tipis dan memberi pasangan itu sepasang masker gas berjeniskan setengah muka. Dia berujar, “Lain kali, jangan lupa bawa masker, nduk, le. Di sini tidak sama seperti jaman kalian.” Si Nenek terkekeh, lalu berjalan dengan tongkat kayunya menuju dan melewati kerumunan orang.

“Lho? Gimana dengan Mbah?” Maya panik dan berusaha mengejar Si Nenek yang telah memberi masker kepada dirinya dan Arjuna. Tapi, sayangnya, Si Nenek sudah menghilang di antara kerumunan orang. Arjuna menepuk pelan bahu Maya, memintanya untuk segera memakai masker pemberian Si Nenek.

“Kasihan Si Mbah. Beliau pasti lebih membutuhkan daripada kita, Juna.” Sepasang mata milik Maya menyiratkan kekhawatiran terhadap wanita tua yang telah memberinya masker. Arjuna hanya bisa merangkul bahu istrinya tanpa membalas ujarannya.

Karena Arjuna tahu Si Nenek bukanlah entitas yang hanya muncul sekilas di mimpi, lalu dilupakan begitu saja setelah mereka bangun. Pria itu merasakan hawa sejuk dari Si Nenek tadi. Dia merasa familiar dengan hawa tersebut, tetapi dia tidak tahu siapa Nenek tersebut.

Tak lama kemudian, hujan turun. Semua orang yang berada di dekat dengan pintu masuk atau daerah terbuka menjauh. Sepasang mata Maya terbelalak ngeri, menyaksikan pepohonan yang tak terlindungi oleh lapisan tabung kaca seperti yang dia lihat sewaktu perjalanan tadi; meranggas dengan dedaunan yang berubah warna menjadi kecokelatan akibat tetesan air asam.

“Ukh…” Arjuna berjongkok di samping Maya dengan memegang telinga kirinya. Dia merasakan telinga kirinya berdenging keras.

“Ada apa?!” Maya merangkul bahu suaminya. Bersamaan dengan itu, wanita itu melihat dari kejauhan, di antara guyuran hujan itu ada beberapa burung yang jatuh dari langit.

“Sakit. Telingaku sakit. Kasihan burung-burung itu. Mereka tumbang karena terkena air asam.” Pria berambut panjang itu mencoba mengambil napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan pelan agar suara denging di telinganya berkurang. Di dalam hatinya, dia sedikit merutuki kemampuan spiritualnya yang peka terhadap jenis binatang tertentu.

Belum usai dengan kegilaan yang muncul di era yang mereka singgahi, pasangan tersebut harus menyaksikan beberapa penumpang kereta yang hendak melanjutkan perjalanan dengan transportasi online berdebat dengan para sopir. Mereka menuntut agar para sopir mau mengantarkan para penumpang kereta ke tempat tujuan. Sedangkan, para sopir menolak dengan alasan mobil beserta mesinnya bisa rusak karena hujan asam.

“Tolong, Pak. Antarkan kami ke daerah Wonokromo. Kami bersiap bayar berapapun.” Seorang perwakilan dari rombongan meminta dengan memelas ke para sopir.

Seorang bapak-bapak berwajah sangar muncul dari sisi samping kelompok samping. “Memangnya Bapak mau bertanggung jawab jika kami terkena ISPA?! Ingat, Pak. Ini bukan tahun 2000 yang udara dan air hujannya masih bersih. Mobil kami bisa rusak juga gara-gara air asam,” ketus Si Bapak Sopir dengan sedikit membuka masker gasnya.

Si Bapak Penumpang tetap ngotot meminta rombongannya diantar ke tempat tujuan. Akibatnya, terjadi cekcok antar kedua belah pihak hingga nyaris baku hantam. Arjuna dan Maya hanya bisa diam di tempat, tidak berani melerai karena mereka tidak hidup di jaman ini. Mereka masih tidak tahu segila apa jaman yang mereka pijaki saat ini.

“Aku haus, Juna. Kira-kira ada yang berjualan minuman dan jajanan nggak ya?” Maya celingukan, mencari kafetaria yang menjual minuman sekaligus jajanan. Niatnya, dia dan suaminya menelusuri jaman yang muncul di mimpinya ini.

“Coba kita tanya ke petugas kebersihan yang di sana,” tukas Arjuna menunjuk seorang laki-laki muda yang sedang mengepel. Dia menggandeng salah satu tangan Maya dan berjalan mendekati petugas tersebut.

“Permisi, Mas. Saya mau tanya. Kira-kira, tempat kafetaria ada di mana, ya?” tanya Arjuna ke petugas itu.

Seketika air muka petugas itu berubah, meskipun wajahnya sebagian tertutup masker gas. Akan tetapi, sorot matanya terlihat dia kaget sekaligus takut-takut hendak menjawab. Kemudian, dia toleh kanan-kiri, memastikan tidak banyak orang berlalu lalang di sekitar mereka.

“Ada apa, Mas?” Arjuna menyernyit dahi, heran dengan gelagat Si Petugas Kebersihan.

Sementara itu, Maya terus memperhatikan suaminya yang menanyai petugas tersebut.

“Maaf sebelumnya, Mas, Mbak. Untuk kafetaria di sini terbagi menjadi dua macam, kafetaria khusus vegan dan vegetarian. Di sini tidak ada kafetaria yang menyajikan menu hewani, segala menu yang terdiri dari olahan daging atau produk peternakan dibatasi jumlah penjualannya.” Si Petugas Kebersihan akhirnya bersuara setelah ragu-ragu beberapa waktu yang lalu.

Sepasang mata Maya mengerjap, kaget dengan peraturan yang dituturkan oleh Si Petugas Kebersihan. Lalu, dia mengerlingkan mata ke arah Arjuna yang memansang muka ‘yang-benar-saja’. Maya juga ikut menyahut.

“Boleh kami tahu lokasi kafetaria yang vegetarian, Mas? Karena kami vegetarian dan masih memerlukan asupan hewani,” ujar Maya setengah berdusta. Sementara itu, di sampingnya, Arjuna hanya menutup mulutnya setelah mendengar peraturan yang (menurutnya) terlalu klise.

Kemudian, Si Petugas Kebersihan menunjukkan lokasi kafetaria yang khusus bagi vegetarian. Sesudah memperoleh penjelasan, pasangan itu mengucapkan terima kasih kepada Si Petugas Kebersihan dan segera beranjak dari tempat tersebut. Sewaktunya mereka sampai di bagian kafetaria khusus vegetarian, Maya terperangah dengan menunya yang mayoritas terbuat ayam, telur, dan ikan.

Benar-benar menghindari daging merah rupanya, pikir Maya ketika memesan menu roti sandwich untuk dirinya dan Arjuna.

Di tempat duduk, Arjuna melihat tiga orang mahasiswa yang sedang berdiskusi. Penampilannya aneh, seluruh matanya ditutup dengan kain tipis. Bahkan, dia tidak bisa merasakan hawa kehidupan dari ketiga orang itu. Dari kejauhan, dia mendengar mereka membicarakan penerapan politik vegan yang terjadi saat ini.

“Arjuna? Ada apa?” Maya meletakkan pesanan mereka di meja dan mengikuti arah pandangan suaminya.

“Lihat anak-anak mahasiswa di sana. Mereka aneh, aku tidak bisa merasakan hawa kehidupan mereka. Aku tahu ini mimpi kita berdua, tapi kalau mereka berbahaya buat kita, seharusnya ada mencekal hawa keberadaan kita.” Arjuna menyedot minuman susu almond-nya pelan-pelan dan tetap mendengarkan pembicaraan dari Trio Mahasiswa itu.

Maya pun mulai ikut menyimak pembicaraan mereka.

“Ini orang-orang jaman 2010-an dulu, apa nggak kepikiran ya? Kalau suatu saat gaya hidup mereka dipelintir oleh oknum tertentu.” Si Gadis Berambut Panjang meminum jus mangganya.

“Kurasa tidak, Nella. Mereka tidak memikirkan itu. Sebenarnya, aku tidak masalah dengan gaya hidup orang lain. Tapi, kalau sudah begini, jadinya makin kelihatan bobroknya.” Si Lelaki Berambut Ikal menyahut sambil memakan batagornya.

“Niat awal sebagai solusi melawan kapitalisme dan gaya hidup sehat, tapi kenyataannya malah dipelintir menjadi sebuah bentuk pandangan politik. Dengan penerapan pandangan ini, semakin kelihatan jarak kelas antara yang kaya dan yang miskin. Kasihan.” Lelaki berambut gondrong sebahu membuka komputer tabletnya dan muncul tampilan hologram tentang pro dan kontra dari penerapan gaya hidup vegan pada zaman mereka.

Dari kejauhan, Maya dan Arjuna mengangguk-angguk pelan, memahami setiap perkataan dari Trio Mahasiswa itu.

“Sebentar, guys. Kalian pernah kepikiran nggak kalau cultured meat alias daging sintesis itu sama dengan makan spirulina dengan gaya?” sahut Si Gadis Berambut Panjang yang disebut namanya sebagai Nella oleh teman-temannya tadi.

“Kepikiran, kok. Lagipula kalau kangen makan daging, ya makan saja. Tidak usah menciptakan alternatif daging buatan dengan dalih agar tidak menyakiti hewan. Toh, di ajaran kepercayaan tertentu sudah diajarkan cara menyembelih hewan yang baik dan benar.” Si Lelaki Berambut Sebahu menggeser tampilan hologramnya yang semula menampilkan pro dan kontra dari gaya hidup vegan, menjadi tampilan mengenai daging sintesis.

“Sebenarnya, niatnya orang-orang terdahulu yang hidup setelah era pasca-kemerdekaan itu baik, ingin menjaga lingkungan. Tapi, caranya salah. Begitu juga dengan orang-orang luar yang mencetuskan paham ini, niat bagus dan baik. Tapi, sekali lagi, caranya salah.” Lelaki Berambut Ikal menghabiskan jus apel miliknya.

“Kalau seandainya dari awal mereka memfokuskan diri dengan menjaga lingkungan dengan anjuran yang sudah ada seperti 3R (Reuse, Reduce, Recycle) dan membenahi sistem peternakan dan pertanian dengan pengembangan cara tradisional seperti nenek moyang terdahulu. Pasti dampaknya tidak akan sebesar ini. Tidak semuanya dapat diselesaikan dengan teknologi canggih,” tukas Si Gadis Berambut Panjang menghembuskan napas panjang.

Si Lelaki Berambut Sebahu tersenyum miring, “Iya. Lalu, sebenarnya kita sekarang ini hidup di bumi atau terrarium? Tanaman dan bangunan tertentu dilindungi dengan kaca, kita yang hidup di sini merasa seperti miniatur hidup yang ada di dalamnya. Padahal, kita juga ingin hujan-hujanan dengan bebas, tidak takut sesak napas karena kandungan asam di dalam airnya.”

“Sebenarnya, generasi terdahulu itu benar-benar tulus menjaga lingkungan atau hanya menonjolkan ego mereka semata?”

Pertanyaan dari Si Lelaki Berambut Ikal tersebut membuat Maya mematung. Dia menyadari bahwa mimpi yang ditelusurinya bersama Arjuna adalah bentuk dari pertanyaan-pertanyaan di dalam dirinya. Kepala Maya terasa berat dan seperti dipukul benda keras.

Hal terakhir yang dilihat oleh wanita itu adalah suaminya yang menatapnya khawatir.

Lalu, pandangan Maya menggelap.

“Maya, bangun, sayang.” Arjuna membangunkan Maya yang nyaris memucat kulitnya.

Untungnya, Arjuna bangun pertama kali daripada Maya. Pria berambut panjang itu menyadari istrinya belum sadar dan tangan Maya mulai mendingin. Dengan cekatan, dia memegang tangan istrinya dan merapalkan doa berserta mantra di telinga kanan wanita yang kini kondisinya kritis.

Perlahan, kesadaran Maya kembali dan dia membuka matanya. Dia melihat Arjuna berlutut di sampingnya sembari memegang tangannya.

“Ah, aku nyaris mati lagi untuk kesekian kalinya,” celetuk Maya dengan pelan-pelan bangun dari posisinya dan duduk.

“Maya, mimpi tadi…”

“Aku tahu dan aku juga mempertanyakan itu, Juna.”

Sepasang suami-istri itu mulai mempertanyakan kondisi mereka dan manusia yang hidup di masa ini.

Benarkah manusia sudah menemukan solusi terbaik untuk menjaga bumi beserta isinya?

Jika sudah, apakah solusi yang dicetuskan sudah dilihat dari beragam sudut pandang?

Sebenarnya, dari segala solusi yang ada, adakah yang tujuannya benar-benar tulus untuk menjaga bumi?

Sungguh pertanyaan-pertanyaan yang terlintas di kepala Maya tidak bisa terjawab hingga nanti. Entah kapan pertanyaan itu akan terjawab.

Penjelasan beberapa istilah dalam cerpen:

  1. Vegan dan vegetarian adalah sebuah gaya hidup atau pola makan diet yang mengutamakan tumbuhan sebagai sumber makanan. Perbedaan vegan dan vegetarian adalah: Vegan benar-benar menjadikan tumbuhan sebagai sumber gizi dan menghindari segala bentuk olahan hewani. Sedangkan, vegetarian menjadikan tumbuhan sebagai sumber gizi utama dengan toleransi terhadap olahan hewani tertentu yang dijalani oleh penganutnya.
  2. Cultured meat atau daging sintesis adalah bentuk inovasi makanan yang dikembangkan pada tahun 2010 dengan tujuan “mengganti” daging asli agar tidak menyakiti hewan. Daging ini diciptakan dari serum yang diambil dari hewan ternak dengan media pengembangan berupa alga biru-hijau.
  3. Terrarium merupakan seni dekoratif yang melibatkan tumbuhan hidup dengan penempatan di ruang tertutup berupa kaca.

One thought on “Cerpen #173 Terrarium

  1. Jujur, aku gamau kalau di masa depan bakal beneran kejadian kayak gitu, hujan asam, pembatasan produk daging, sampai harus sedia masker gas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *