Cerpen #172 Surat Untuk Bumi

Aku mendapat tugas baru dari Komandan Sinta untuk memimpin kinerja para pimpinan lapangan komando 31 dan 51 perihal “laporan penyelidikan” distrik Deria. Pasalnya konflik bersama penjajah keji ini belum bisa berakhir kalau belum ada strategi baru untuk mengakhiri.

“Lapor Sersan Tiara,  komando 31 telah melakukan pendataan sebanyak 150 lebih pohon telah ditebang, kenaikan gas metana di area peternakan Mr.Franklin, dan juga tercatat sekitar 10-12 orang petani di area sawah Sauderlin telah mengeluh karena mereka gagal panen. Sekian.”

“Laporan dari Komando 51, kami telah melakukan pengamatan tata surya selama seminggu terakhir menggunakan pesawat luar angkasa peninggalan Johanes Kepler. Hasil pengamatan telah menunjukkan adanya perubahan orbit bumi dengan bentuk elips, dampak ini menyebabkan suhu bumi meningkat sebanyak 8 derajat Celcius.”

“Terima kasih, kinerja yang luar biasa.” Kataku kemudian. “Tidak salah lagi, prediksi Komandan Sinta benar adanya. Hukum Kepler yang kita terapkan untuk mengamati gerak orbit bumi sangat berguna untuk melakukan pendataan di lapangan. Laporan diterima. Siapkan diri kalian untuk memimpin pasukan ke perbatasan area 31 dan 51. Tunggu saja komando dariku untuk memulai keberangkatan.”

“Mobilitas kita siap berangkat kapan saja, Sersan!” seru Komando 31.

“Sersan Tiara nanti akan berangkat bersama kami?” tanya Komando 51.

Aku menggelengkan kepala. “Komandan Sinta yang akan mendampingi kalian langsung di lapangan, tolong jaga dan lindungi beliau.”

“Siap, Sersan. Kami pamit dulu.”

Premium Rush telah memasuki era baru untuk menjajah distrik kami. Bukan hanya itu tindakannya yang berlebihan membangun kawasan militer terutama lokasi untuk memproduksi senjata perang akan berpotensi menghancurkan bumi. Pertarungan sengit dari kami yang dijuluki “Pasukan Jerit Malam” telah berlangsung selama 10 tahun, namun belum membuahkan hasil yang maksimal. Keberadaan Komandan Sinta yang baru saja dilantik oleh Jenderal Deva telah didukung oleh tetua pendahulu yang masih hidup. Mereka yakin Sinta bisa memberikan perubahan yang diharapkan untuk kesejahteraan hidup negara bahkan untuk bumi tercinta.

“Coba kamu lihat Mars dan Venus. Mereka saling menyapa sang surya setiap hari karena berdekatan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, bukan? Ya, sekali lagi kutegaskan ini bukan planet seperti Mars dan Venus. Planet ini punya penghuni, oleh karenanya harus kita jaga.” ucap Komandan  Sinta pada suatu sore di ruang kerjanya.

“Keberangkatan Anda akan sangat memberikan motivasi yang baik untuk tim 31 dan 51, karena operasi ini saya pikir sangat cocok dipimpin langsung oleh Anda.” Jawabku singkat sambil menatap matanya yang kokoh tanpa berkedip.

“Ini bukan perintah darimu kan, Sersan?” tanya Komandan Sinta.

“Saya hanya memberikan saran.”

“Era baru telah dimulai, Sersan.” Komandan Sinta sedikit tersenyum lalu berjalan menghampiri dan menepuk pundak kananku. Kemudian ia meninggalkanku seorang diri dalam ruang kerjanya.

Aku melihat buku harian Komandan Sinta yang terbuka. Setiap halaman saling bersaing membolak-balikan kertas karena angin yang berhembus dari luar jendela cukup kencang. Bukan menjadi hak atau kewajibanku untuk membacanya. Sejenak aku ingin meninggalkan ruang Komandan Sinta, secarik kertas terjatuh dari buku harian itu. Aku segera mengambil dan mengembalikannya ke dalam buku itu serta menutupnya tanpa sempat membaca. Tak lupa kututup jendelanya demi keamanan lebih lanjut.

Selama ini aku menutup diri dari mengetahui rahasia orang lain, sekecil apapun itu. Entah itu atasan atau bawahanku. Meski banyak kesempatanku untuk mengetahui, memimpin jalannya operasi demi keselamatan dan kesejahteraan umat manusia itulah tugas utamaku. Markas Jerit Malam memiliki menara setinggi 25 meter untuk jangkauan komunikasi jarak jauh. Hal ini cukup memudahkan komando terhadap pasukan di lapangan dalam jangkauan hingga ke perbatasan negara. Ya, di sinilah aku akan memimpin Pasukan Jerit Malam untuk operasi yang dilaksanakan.

Area 31 berbatasan dengan distrik Vicosta, sebuah daerah yang telah ditempati kaum elit global dari Pemerintah Dunia. Mereka ini yang suka sekali melakukan eksploitasi sumber daya alam dari distrik kamu. Sedangkan Area 51 berbatasan dengan distrik Bromia, daerah yang dikuasai oleh markas militer untuk keperluan perang di masa depan. Mereka sengaja mendirikannya di dekat daerah perbatasan untuk memancing kemarahan para penduduk atas ulah yang telah dilakukan. Semakin mereka marah dan mengumpat, kaum elit global semakin senang dan malah menjadi-jadi. Apa daya para penduduk perbatasan yang hanya bisa melawan dengan mulut sedangkan mereka membalas dengan asap pabrik yang tebal, limbah kotor yang menumpuk, serta menjadikan area perbatasan sebagai tempat latihan senjata-senjata terbaru.

“Tuan Bernard, waktu kunjungan Anda akan segera dimulai.” Ujar sang Ajudan, Sera.

“Ke mana saja rute malam ini, Sera?” tanya Bernard sambil menghembuskan asap rokoknya ke udara.

“Kita akan mulai dari hutan area 51 yang telah disingkirkan dan akan dijadikan kawasan latihan militer, menyusuri jalan setapak untuk melihat aliran pembuangan limbah, dilanjutkan dengan kawasan para pekerja yang sudah kita dapatkan, diakhiri dengan kunjungan pabrik senjata di area 31. Kita akan dijamu makan malam istimewa dengan masakan Italia, tuan.” Jelas Sera.

Bernard mengangguk. “Langsung saja, aku sudah siap.”

“Lewat sini, tuan.”

Sera menunjukkan jalan pintas lewat pintu belakang ruang kerja Bernard dan telah tersedia mobil pribadi beserta supir yang siap menemani perjalanan.

“Perkenalkan, saya supir baru yang sudah lolos seleksi mengemudi di area militer, tuan Bernard. Nama saya Walter.”

“Tunjukkan aksimu, nak. Kita nikmati perjalanan malam kita.” Jawab Bernard dengan ramah.

Perjalanan malam di bawah terangnya bulan berlangsung dengan tenang. Kawasan yang dilalui adalah daerah yang sepi. Karena Bernard selaku Jenderal tidak ingin membangunkan para prajuritnya yang sedang beristirahat di kawasan asrama setelah menjalani latihan yang panjang selama satu hari penuh. Daerah belakang pangkalan militer ini memiliki akses jalan yang aman untuk berpetualang di malam hari, melewati kawasan hutan dan sedikit menantang karena jalur yang dilewati berdekatan dengan curamnya kaki gunung.

Bernard yang terkenal ramah selalu membuka pembahasan untuk menghilangkan rasa canggung anak buahnya. Sepanjang perjalanan ia banyak membicarakan tentang kawasan pertanian yang berpotensi memberi sumber daya yang maksimal, pesawat tempur keluaran terbaru, sampai pembahasan tentang musik-musik tahun 90an dari Eropa.

“Sera, apa pendapatmu tentang Jerit Malam?” tanya Bernard.

“Komandan Sinta telah ditunjuk untuk memimpin pasukan mereka sekarang. Saya membawakan informasi tentang Sinta selengkapnya.” Jawabnya sambil menyerahkan 3 lembar kertas berisikan statistik kemampuan Sinta. “Sinta memiliki kemampuan menembak yang baik, pertarungan satu lawan satu, hingga melarikan diri yang sangat cepat. Namun hal ini menurut saya sangat cocok dijadikan prajurit atau berpangkat Sersan saja dibanding menjadi Komandan. Karena dibalik itu semua, Sinta termasuk wanita yang suka ceroboh dan cenderung memancing perhatian musuh dalam setiap operasinya.”

“Oh? Dia memiliki seorang adik?” tanya Bernard sambil membaca kertas-kertas itu.

“Vinka. Ia masih menjalani diri sebagai siswi pelatihan kepolisian di Inggris. Ambisi besar masih dimenangkan oleh Vinka, sedangkan Sinta menurut saya ini bisa menjadi titik lemah Jerit Malam.”

“Wah bagaimana kamu bisa menjadikan dia sebagai titik lemah? Siapa tahu dia punya rencana lain kan?” Bernard menatap nakal Sera.

“Dia sangat ceroboh, tuan. Percayalah—beberapa kali saya lihat dalam berita mingguan hasil pengintaian tim kita. Dia hanya tertidur pulas sambil sesekali menuliskan sesuatu pada buku kecilnya di meja kerja saat santai. Kami menyimpulkan Sinta ini tidak memikirkan tindakan kita ke depannya akan menyerang mereka.” Jelas Sera.

“Aku jadi bertanya-tanya. Apa ya yang sedang dituliskannya itu? Apakah dari tim pengintai kita ada menyelidiki isinya secara diam-diam?”

Sera terdiam sejenak. “Beberapa dari mereka sempat melakukan pengambilan gambar menggunakan pesawat kecil dengan mendekati jendela tempat kerjanya.”

“Wow, tindakan yang sangat cerdik. Apa yang kalian dapatkan?”

Sera menggaruk kepalanya. “Hanya sebuah gambar bumi dengan perbandingan yang aneh. Bumi di sebelah kiri terlihat terbakar hebat, sedangkan di sebelah kanan dalam keadaan normal.”

“Apakah saat itu Sinta sedang tidak berada di sana?”

Sera mengangguk. “Kami sudah memastikan seisi ruangan sebelum melakukan pengambilan gambar, tuan.”

“Pada halaman itu kertasnya terlihat kumal.”

“Wah tuan Bernard!” seru Sera. “Anda ini peramal ya? Bagaimana Anda tahu? Padahal kami saja belum melaporkan hal itu.”

Jenderal Bernard tersenyum. “Dia memang seorang yang ceroboh, walau pun begitu, dia adalah wanita yang sangat perhatian dengan tempatnya tinggal, hingga rencana besarnya saja dibuat  dalam keadaan panik dan tergesa-gesa. Sudah pasti dia menggambar bumi itu sambil meremas kertasnya. Aku belum tahu pasti rencana besarnya itu, yang jelas kita juga harus berjaga-jaga.”

“Siap tuan.” Jawab Sera dengan tegas.

“Tuan Bernard, kita sudah sampai.” Ujar Walter sang supir.

Hutan yang sebelumnya dilalui dalam keadaan gelap kini perlahan diterangi oleh remang-remang cahaya. Akses jalan untuk pangkalan latihan militer telah dibuka di area 51. Banyak sekali mobil pengangkut kayu yang telah ditebang, bersamaan dengan itu penanggung jawab unit hutan datang dengan berlari untuk menyambut sang Jenderal.

“Kerja bagus, Revis.”

“Suatu kehormatan bisa dikunjungi oleh Anda, Tuan Jenderal. Saya akan menunjukkan akses jalan yang bisa dilalui bersama.” Jawabnya.

“Dengan senang hati, aku akan mengikuti.”

Jenderal Bernard dengan ditemani Ajudan Sera serta Penanggung Jawab Unit Hutan, Revis menikmati kunjungan malam itu dengan antusias. Setelah selesai melihat seisi kawasan hutan yang telah digunduli, mereka menyusuri jalan setapak dan tiba di sebuah jembatan batu yang baru dibangun. Pemandangan dari jembatan itu terlihat indah dalam naungan keremangan lampu yang menghiasinya, di bawahnya terdapat aliran air limbah yang memanjang hingga melewati Distrik Deria.

“Saya sarankan Anda mengenakan masker untuk menghindari aroma tidak sedap di sini, tuan.” Ucap Sera.

“Terima kasih, aku sudah terbiasa mencium bau mayat di medan perang, aroma limbah ini tidak seberapa bagiku.”

“Kawasan pekerja pabrik melewati jalan ini, tuan—” Revis ingin menunjukkan jalan seketika langsung dipotong oleh Bernard.

“Bisa kita langsung ke pabrik senjata dan jamuan makan malam? Masakan Italia itu terngiang-ngiang dalam pikiranku, dan sepertinya perutku sudah sangat siap untuk menyantapnya.” Kata Bernard dengan penuh semangat.

“Tentu saja, tuan. Mari kita lewat sini.”

Pabrik senjata dideskripsikan memiliki luas melebihi dari seribu hektar dari kawasan perbatasan area 31. Bahkan hampir menjarah pemukiman penduduk di sekitarnya. Bagi mereka yang keberatan kehilangan tempat tinggal mendapat kompensasi bekerja di pabrik senjata itu dengan bayaran yang cukup tinggi melebihi gaji bulanan para komandan militer. Pabrik senjata yang jumlahnya ratusan itu selalu mengeluarkan asap yang mengandung banyak karbondioksida dan bersifat sangat berbahaya untuk pernafasan.

Pada akhirnya Jenderal Bernard mengenakkan maskernya saat mengunjungi pabrik karena asap tebal yang lumayan berpotensi untuk mengganggu pernafasan. Setelah puas melihat-lihat kinerja pabrik, akhirnya Jenderal Bernard singgah di restoran Maldini yang letaknya tidak jauh dari pabrik. Restoran ini diberikan lapisan perlindungan khusus untuk menghindari kepulan asap pabrik yang berbahaya. Tempat tersebut hanya bisa dijangkau oleh kaum elit karena harga sekali makannya yang bisa terbilang cukup mahal.

“Selamat datang Jenderal, dua hidangan utama lainnya telah menanti Anda.” Sapa salah seorang anggota militer yang menyambut kedatangannya.

“Hei Dirka, mari kita makan malam bersama. Silahkan duduk. Kamu pasti sudah lapar sekali ya. Ayo Sera, Revis. Kalian harus makan juga. Aku yang traktir malam ini. Aman.” Begitulah ucap Bernard.

“Terima kasih tuan.” Jawab mereka serentak.

“Bagaimana perjalanan Anda, Jenderal? Apakah menyenangkan?” tanya Dirka.

“Luar biasa. Berkat saran darimu, akhirnya kita punya aliran limbah khusus untuk dibuang bebas. Ini akan semakin menarik dan kekuatan militer kita akan semakin dahsyat.” Jawab sang Jenderal.

“Sedahsyat jamuan makan malam ini kan, Jenderal?” Dirka mengepalkan tangan kanannya. “Salam Dahsyat dulu, Jenderal.”

“Mantap. Wah hidangan sudah siap. Terima kasih koki. Masakan Anda bersama tim restoran akan mendapatkan penilaian terbaik malam ini. Silahkan dinikmati, Sera, Revis, Dirka.”

Jenderal Bernard melahap santapan Italia itu dengan riang gembira. Ia membuka banyak pembahasan tentang strategi mengalahkan Komandan Sinta, gencaran senjata ke Distrik Deria dalam waktu dekat, perluasan wilayah kekuasaan lebih jauh, hingga tidak berhenti mengoceh soal kepadatan penduduk yang menyebabkan kerusuhan massal. Revis sangat antusias mengikuti pembahasan itu, ia bahkan menambahkan penduduk dunia akan semakin tunduk kepada Pemerintah Dunia kalau mereka diberikan kerjaan yang bayarannya tinggi, tunjangan hidup mewah, hingga bebas bertindak sesuka hati.

Mereka berempat menenggak minuman keras berkali-kali hingga akhirnya sang jenderal mabuk berat. Baru kali ini Jenderal Bernard mabuk hingga ia tertidur pulas di atas meja makan restoran. Sera meminta Revis dan Dirka untuk pulang terlebih dahulu dan dia akan bertanggung jawab memulangkan Jenderal Bernard ke ruang istirahatnya.

Pagi telah tiba. Wajah Bernard telah dipenuhi sinar matahari yang rupanya masuk melalui jendela langit-langit yang terbuka. Bernard terbangun dalam posisi duduk tidak seperti biasanya yang bangun dalam posisi berbaring. Ia melihat sekelilingnya yang penuh dengan barang-barang bekas. Setelah beberapa saat Bernard sadar bahwa tangannya telah terikat pada sebuah tiang besi yang panjang. Mulutnya tertutup oleh sebuah kain dan ia masih dalam keadaan mengenakan seragam kerjanya.

“Anda sudah bangun, Jenderal?” kataku membuka penutup mulut Bernard. “Syukurlah, Anda masih hidup. Tapi nampaknya kegiatan invasi Anda hari ini akan berakhir.”

“Siapa kamu? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya! Komandan Sinta? Kau kah itu?” Bernard melihat dari kejauhan seorang wanita yang sedang duduk santai sekitar seratus meter di depannya.

“Oh halo Jenderal Bernard. Nampaknya Anda sedang mabuk sekali ya, sampai-sampai mengingat saya saja penuh dengan keraguan. Tanyakan saja Jenderal, Anda pasti ingin mengajukan banyak pertanyaan kan?”

“Dimana aku? Apa tujuan kalian menangkapku? Bagaimana ini bisa terjadi?” Jenderal Bernard mendadak panik dan ketakutan.

“Baik, Jenderal. Akan aku jawab, kita sedang berada di gudang utara Distrik Deria. Tujuan kami adalah menghentikan secara penuh invasi Premium Rush beserta tindakan merugikan dari kaum elit global Pemerintah Dunia. Anda sebenarnya tahu kan tindakan-tindakan itu termasuk merusak kegiatan masyarakat bahkan bumi kita, Jenderal. Kenapa Anda sebagai Jenderal tidak bisa menghentikannya?” kataku.

“Ini adalah takdir yang harus dijalankan. Masa depan akan banyak persaingan baik dari sisi teknologi maupun kecerdasan. Salah satunya dengan mempersiapkan tenaga militer, maka akan menjamin masa depan lebih baik. Itulah tujuan  kami. Sebentar—kamu siapa? Komandan Sinta, aku tidak pernah melihat orang ini sebelumnya dalam anggota militermu!” seru Bernard kebingungan.

“Biar kuperkenalkan, Jenderal. Namanya Sersan Tiara. Dia sengaja tidak aku unggulkan dalam beberapa misi pengintaian. Karena itu bisa menjadi perhatian penuh untukmu dan mempelajari gerak-geriknya. Oleh karenanya aku membiarkan diriku bersama separuh anak buahku terbaca oleh musuh agar kalian semua berfokus hanya kepadaku. Ya, hanya kepada kecerobohanku. Tapi, dengan adanya Tiara yang mengambil alih menjadi ahli strategi dan menjalankan komando dari pusat, semua rencana penyergapan kami akhirnya berhasil dengan sempurna.”

“Sial, kalian bersekongkol dengan Cafetaria itu ya?” tanya Bernard.

“Ya Jenderal!” seru Dirka.

“Dirka? Kau! Pengkhianat! Terkutuk lah kau Dirka!”

“Distrik Deria adalah kampung halaman saya, sepuluh tahun yang lalu hingga sekarang masih saja tercemar. Air sudah tidak bersih lagi, tercampur dengan limbah pabrik yang Anda buang sembarangan, emisi karbondioksida juga meningkat dan membuat banyak kawan-kawan saya menderita penyakit pernafasan, pertanian semakin mengering, emisi metana semakin meningkat di area peternakan. Krisis iklim ini bisa membunuh siapa saja, Jenderal bahkan menghancurkan bumi. Oleh karenanya saya tidak terima itu, saya samarkan latar belakang asal saya tinggal dan akhirnya bisa mengikuti penerimaan anggota militer Premium Rush untuk mempelajari dan menggali informasi sebanyak-banyaknya. Akhirnya saya mendapatkan kesempatan besar untuk menangkap Anda sewaktu mabuk berat.”

“Bagaimana dengan Ajudanku, Sera?”

“Malang sekali nasibnya, Jenderal. Aku menembak kepalanya tepat saat dia menggotong Anda keluar dari Cafetaria. Saya harus membunuhnya karena dia akan menjadi sangat merepotkan nantinya. Ya, hal selanjutnya yang dilakukan adalah cukup membawa Anda ke dalam mobil bersama supir setia kami, Walter sang Komando Area 31. Penyamarannya sangat baik kan, Jenderal.”

“Terkutuk kau Dirka! Berani-beraninya kau melakukan ini!” Bernard berusaha melepaskan ikatan tangannya namun tidak berdaya.

“Percuma saja kalau Anda berhasil melarikan diri, Jenderal. Kawasan hutan sudah diambil alih oleh pasukan kami. Para pegawai pabrik telah ditahan oleh kepolisian pusat. Kami hanya perlu waktu 1-2 hari untuk memblokir aliran limbah dari wilayah Anda. Percaya lah Jenderal, tindakan kami ini demi menyelamatkan umat manusia.” Jelas Komandan Sinta.

“Kapan manusia bisa diselamatkan?” tanya Bernard.

“Untuk saat ini dan nanti.” Jawab Sinta.

“Apakah kalian akan mengeksekusiku di sini?”

“Dengan senang hati.” Dirka bersiap dengan pistol peredamnya.

“Tunggu, Dirka. Tahan dulu emosimu. Sersan, kamu tahu apa yang harus dilakukan kan.” Ujar Komandan Sinta.

Aku siap dengan secarik kertas dan pulpen seperti yang dimaksud Komandan Sinta. Aku mengambil posisi duduk tepat di depan Jenderal Bernard untuk mulai mencatat.

“Jenderal Bernard, eksekusi Anda hanya akan dilakukan di ruang tertutup, karena kami masih menjaga kehormatan Anda sebagai Jenderal, jika ada kata-kata terakhir saya akan bersedia mencatatnya.”

“Bumi yang kutinggali dan kukasihi. Banyak sekali langkah yang kulalui bersama mentari dan embun pagi. Maafkan kelancangan kami karena telah merusakmu. Menebang hutan sembarangan, membuka akses aliran limbah, eksploitasi sumber daya besar-besaran, hingga mencemari dengan asap-asap yang membuat keseimbangan lingkungan dan iklim menjadi terganggu.

Wahai bumi yang kucintai, berat rasanya meninggalkanmu. Bahkan seandainya aku mati dan membusuk di dalam tanah pun masih meninggalkan dosa berat untukmu. Penyesalan ini tidak sebanding dengan apa yang sudah kulakukan. Bumiku yang baik, bimbinglah generasi sekarang dan masa depan untuk selalu menjagamu. Kuat akan segala godaan untuk kepuasan diri demi lestarinya dirimu.

Krisis iklim yang kau alami akan perlahan berhenti di sini, kau akan subur dan sehat sekali bumiku. Jangan pernah ragu karena kau memiliki para manusia penjaga yang bertanggung jawab atas hadirmu di dunia ini. Terima kasih bumiku, telah menerimaku dengan baik.

Surat Untuk Bumi

14 Oktober 2021”

Hari itu Jenderal Bernard telah resmi dieksekusi di ruang tertutup dengan hanya diketahui olehku Komandan Sinta, dan Dirka. Jenazah dibungkus rapi menggunakan kain yang telah disiapkan. Setelah dimasukkan ke dalam peti, jenazah dikebumikan di dekat gudang dan dipasang tiang bertenggerkan seragam milik sang Jenderal. Mereka meninggalkan tempat itu dengan kepala tegap dan menyelesaikan usaha menghentikkan tindakan merugikan dari kaum elit global terhadap bumi.

Bagiku satu tindakan ini sudah menjadi motivasi bagi pasukan Jerit Malam untuk melakukan perlawanan lebih lanjut terhadap Pemerintah Dunia. Surat itu bersama gambar dari Komandan Sinta akan terus diingat dan menjadi kekuatan hebat di masa depan untuk bumi yang lebih baik.

6 thoughts on “Cerpen #172 Surat Untuk Bumi

  1. Wahh ceritanya sangat menarik untuk dibaca, pengemasan alur cerita juga dapat dipahami dengan jelas oleh para pembaca. Cerita ini cocok untuk dibaca sembari bersantai menikmati secangkir kopi sambil memandangi langit yang indah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *