Cerpen #171 Investor Itu Makan Bubur Kami

Pakaian investor itu sangat rapi. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kakinya ia balutkan pakaian berwarna hitam. Di kepalanya terdapat rambut yang tersisir rapi, mengkilat. Di badannya ia kenakan jas hitam pekat, dan celana hitam gelap serta sepasang sepatu yang hitam legam.

Dia hadir di tengah-tengah kami hanya ingin memakan bubur kami yang telah siap saji. Kami sama sekali tidak memberinya meski sesendok pun. Dia tetap memaksa kami, namun kami tetap menjadi pelit. Dan akhirnya dia sendiri mencurinya dengan cara memakan bubur itu dari pinggir seperti kami memakannya. Mungkin saja  dia takut ketahuan kami.

Tapi sekarang, investor itu dapat kami temukan bahwasanya dialah pemakan bubur kami dengan sembunyi-sembunyi. Kami pun menahan tangannya, sementara sendok yang digenggamnya tiada henti menyayat tangan-tangan di antara kami—sehingga  luka semakin memar dan meneteskan darah ke permukaan bubur.

“Bubur Merah! Bubur Merah! Aku Sukaaaa!” Teriaknya ketika melihat bubur kami menjadi merah.

Awalnya dia menggunakan satu tangan, setelah melihat bubur kami semakin merah tentunya aroma sedap pasti telah menusuk rongga hidung si investor, malah semakin bergairah ingin menyantap hanya satu kali duduk dengan kedua tangannya. Namun, untung saja dari kami masih ada separuh tangan yang masih menghadang sehingga investor hanya makan seujung sendok saja.

“Lepaskan tangan saya. Saya cuma ingin mencicipi bubur kalian.” Investor marah sambil mengibaskan tangan kami.

Sengaja separuh di antara kami tidak melepaskannya.

“Ayolah lepaskan tangan saya. Saya hanya ingin mencicipi bubur kalian,” paksa si investor dengan lelehan simbah keringat di keningnya. Separuh kami hanya terdiam dan sambil mengawasi segala gerak-gerik si investor. “Atau, saya akan panggil bantuan untuk membujuk kalian,” lanjutnya disertai tatapan serius memandangi orang yang mulai tadi memegang tangannya. Sementara sebagian orang itu tetap mengawasinya, takut-takut dia langsung memakan secara cepat dan membuat kami terlambat.

“Mengapa Anda sangat ambisi sekali untuk makan bubur kami?” sergap tanya kami.

“Bukan makan tapi mencicipi.”

“Mulai tadi?”

“Masih belum jelas rasanya di lidah.”

“Pasti tidak enak, kan?” tanya kami sembari meragukan.

“Bagaimana saya bisa menilai sementara rasa masih belum sampai.”

“Anda bohong! Mungkin saja lidahmu rusak.”

“Oh, tentu tidak. Masa iya, lelaki setampan saya sudah seperti itu. Tidak mungkinlah.” Si investor membanggakan diri. Dari wajahnya sangat tampak sekali mengharap pemberian bubur. “Lagi pula saya sebelum ke sini sudah memperbaikinya. Bukan hanya sekedar memperbaiki, tapi saya juga memperpanjang lidah saya. Kata rekan-rekan kerja saya, bubur kalian sangat enak sehingga saya pasrah lakukan operasi lidah meskipun mahal biayanya.” Suaranya bagaikan alasan seorang pengemis di trotoar jalan yang meminta uang receh.

“Kalau Anda diberikan satu kali kesempatan pastinya kau akan ketagihan.”

“Nah, itu. Saya harus sebisa mungkin melahapnya sampai habis.” Senyum manis menyembul di setiap ruas wajahnya.

“Tapi sayang, kesempatan itu tidak ‘kan kami berikan.”

“Atau, harus perlu saya bayar?” kata tawaran si investor muncul kesekian kalianya.

“Kami sangat tidak butuh. Lebih baik kami menjaga bubur ini daripada menerima uang Anda,” ketus kami.

Memang benar, kami sangat terlanjur mencintai bubur ini, justru dari sangat cintanya, kami tidak pernah memberikan kepada orang yang amat terlanjur lapar atau pura-pura lapar. Alasan kami karena bubur ini bukan bubur biasa; dari beras biasa atau bahkan santan biasa. Namun, katanya, bubur ini tercipta atas jerih-payah sesepuh kami, dan cara masaknya pun, mereka harus menjaganya dalam ruangan sempit disertai kepulan asap tebal membubung tebal.

Tangan si investor masih mencengkram sendok. Di lengannya sangat tampak sekali bentangan urat birunya, dan dari mulutnya tiada henti berucap ‘Lepaskan saya’ hingga beberapa kali.

Alangkah lebih baik biar kami ceritakan saja mengenai bubur ini kepada si investor agar secepatnya dia tahu seluk-beluk terciptanya bubur. Namun, salah seorang dari kami menolak itu.

“Sudah biarkan saja dia makan bagian bubur kami. Lagi pula semisal kita ceritakan, orang seperti dia sangat sulit ditundukkan,” ucap sebagian di antara kami.

“Oh, jangan! Kalau kita beri kesempatan kepada dia, ujung-ujungnya bukan hanya milik kalian yang dimakan melainkan yang lain akan dilahap juga. Biarkan kami ceritakan saja,” larang sebagian kami sambil menunjuk investor.

Di saat percekcokan semakin memanas, investor itu hanya diam sambil tertawa memandangi kami sesaudara bertengkar. Langsung pada akhirnya kami terpecah menjadi dua golongan. Golongan pertama dalam pimpinan Dul Jarot. Golongan ini yang memperbolehkan buburnya dimakan oleh investor tanpa ada halangan sedikit pun dari mereka. Sementara golongan kedua dalam pimpinan Mat Labi, yang masih bersikukuh menjaga buburnya.

“Ya, sudah, bubur yang termasuk bagian kami telah kami izinkan Anda memakannya tapi jangan lupa untuk mengganti. Lagi pula kelihatannya Anda sangat lapar.” Dul Jarot berkata kepada investor setelah percekcokan mulai reda.

Tiba-tiba di mata Mat Labi dan golongannya mendapati mulut Dul Jarot seakan menyemburkan kobaran api hinga membakar percikan bara yang menempuk. Mereka sangat terkaget dan bertanya-tanya: Mengapa begitu mudahnya Dul Jarot memberikan? Apakah dia telah lupa wasiat sesepuh? Ah, terserah!

Karena mendapatkan izin dari pemiliknya, Mat Labi yang menahan sekuat tenaga dan akhirnya ia pun melepasakan secara perlahan lengan investor yang bersimbah keringat. Sementara bagian bubur golongan Mat Labi, meraka tetap menjaga dengan ketat layaknya tuan membatasi gerak-gerik budaknya.

Akhirnya si investor pun makan bagian bubur yang telah diizinkan.

Sebenarnya hati ini sangat marah, gusar.  Ditambah lagi dengan ucapan anyir investor ketika telah menyantap, “Wah, ini benar-benar ueeeeenak!”

“Andai kami tahu kalau semisal ada perebutan bubur seperti ini pasti kami telah siap menaburkan racun sebelum investor ini makan,” batin Mat Labi ketika melihat investor itu membersihkan remah-remah yang telah jatuh. Menjijikkan!

“Bolehkah saya menambah lagi?” tanya si investor setelah bersendawa sebanyak tiga kali. Tatapannya mengarah ke bubur yang masih utuh dan ujung sendoknya hampir saja menyentuh permukaan.

“Eh, tunggu dulu. Sebelum Anda makan alangkah lebih baik kami ceritakan sejarah bubur ini. Bagaimana?”

“Ya, saya suka. Tapi saya mengharap kalian harus secepat mungkin menceritakannya karena perut saya masih ada lowongan untuk diisi lagi.”

“Oh, iya.”

Dulu, sebelum tercipta bubur seperti ini, sesepuh kamilah datang kemari, membabad hutan belantara dan mengusir semua roh-roh jahat pengintai masing-masing jiwa. Tiada cara lain kecuali membersihkan semak-belukar yang acap kali sangat disenangi lalu ditempati oleh tahta segala hewan berbisa. Namun, mereka menaruh sesajen untuk tidak membuat marah penjaga yang ada sebelum sesepuh kami datang. Bukan hanya sekali kemudian berhenti, tapi sampai penjaga sudah tidak minta lagi.

Terkadang si penjaga meminta hal yang macam-macam. Bisa dibayangkan, mulai dari suatu sederhana hingga yang bisa melayangkan nyawa. Tak jarang dia sering meminta tumbal kepala manusia tampa harus dibatasi usia. Katanya, pada saat itu, Bujuk Sudiyah sebagai perempuan pemberani bersedia dijadikan tumbal. Dia sangat rela mengakhiri hidupnya demi kenyamanan keturunannya ke depan. Lalu mayat Bujuk Sudiyah digantung di bawah pohon beringin, dan akhirnya lahan itu resmi milik Bujuk Sudiyah.

Kurang lebih satu atau dua bulan, penjaga di pesisir meminta hal serupa dengan peristiwa yang pernah terjadi kepada Bujuk Sudiyah. Semisal pada saat itu mereka tidak memberikannya, penjaga pesisir mengancam akan mendatangkan mala-petaka karena kebetulan penjaga pesisir lagi rindu melihat tetesan darah manusia. Tanpa harus pikir panjang, Bujuk Sudawilah bersedia menjadikan dirinya sebagai tumbal. Dia sangat berharap penjaga itu tidak meminta lagi kepada keturunannya kelak ketika Bujuk Sudawi telah tiada tertelan alam baka,

Perihal bubur ini Anda harus tahu juga. Mengapa mulai Anda datang hingga saat ini kami tetap melarang untuk memakannya? Begini ceritanya. Semenjak sesepuh kami sudah damai-damai saja di tempat yang baru mereka babad maka mereka segera membuat adonan bubur ini. Entah dari mana mereka tahu cara membuat atau serupa kebutulan saja. Sedangkan komposisinya kami belum juga tahu, intinya, konon, sesepuh kami tidak membuatnya dari beras biasa maupun santan biasa—dan cara memasaknya, sesepuh kami harus menunggu di ruangan sempit yang disertai kepulan asap tebal hingga aroma matang menyeruak. Lalu sesepuh kami mengumpulkannya menjadi satu, itulah tanda bahwasanya kami harus utuh dan saling membantu. Diberi warna putih karena mereka menyuruh kami harus berniat suci dalam segala hal tak terkecuali untuk tetap setia menjaga bubur ini hingga sampai kepada keturunan kami, putra keturunan kami, cucu keturunan kami, cicit keturunan kami, dan sampai keturunan di hari penutup nanti.

“Berarti bubur kalian ini sudah sangat basi?” sergap investor

“Sudah pasti. Apakah Anda masih mau?” Kami meragukannya lagi

“Sungguh saya sudah terbiasa makan makanan basi, meskipun berulat,” ucapnya sambil mendorong kami

“Ah, dasar rakus! Kami tetap akan menjaga bubur wasiat ini. Pergi! Semoga kami terlindung dari godaan investor yang terkutuk,” balas kami dengan dorongan.

Akhirnya si investor terjatuh juga.

Sumenep, 2021

 

Catatan

* Bujuk: Adalah panggilan sesepuh di Madura

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *