Cerpen #169 Bumiku di Ujung Tanduk

Liburan sekolah membawa kebahagiaan tersendiri bagi seseorang. Hal itu pun dirasakan oleh gadis kecil berambut hitam lurus dengan panjang rambut sebahu. Bola mata yang bulat serta lesung pipi yang tersaji saat ia tersenyum menambah cantik parasnya.

Adalah Karina, anak semata wayang dari pasangan suami istri Pak Dirga dan Bu Dewi. Karina adalah tipe anak yang periang serta memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap sesuatu yang belum ia pahami. Tak heran jika Karina menjadi bintang kelas sampai saat ini.

Pada liburan semester tahun ini, ayah dan ibunya mengajak Karina berlibur ke tempat kakeknya yang berada di sebuah desa yang tidak berada dalam satu kota dengan tempat tinggal orang tua Karina. Perjalanan ke rumah kakek Karina membutuhkan waktu sekitar empat jam.

Hari ini mereka sepakat ke rumah sang kakek. Perjalanan pun di mulai, Setelah satu jam perjalanan, tampaknya Karina sudah tidak nyaman dengan dirinya sendiri.

“Pa, udaranya panas sekali?”

“Iya, kamu benar, Karin,”

“Pa, tolong nyalakan AC mobilnya, dong!”

“Oke, sayang.”

Ayah Karina segera menyalakan AC mobil agar udara dalam mobil tidak terlalu panas dan pengap. Kini, Karina merasa lebih nyaman dalam kendaraan.

“Lihat, Ma! Asap mengepul di sebelah sana, di sebelah sana asap juga membumbung tinggi.” ucap Karina sambil menunjuk arah kanan kiri dari kaca mobil itu.

“Itu pabrik, ya, Ma?” ucap Karina seakan tak percaya dengan apa yang di lihat.

“Iya, kamu betul, Rin! Apa ada yang salah dengan pabrik –pabrik itu?”

“Ya, salah, Ma,”

“Kok, kamu bilang begitu? Mama tidak mengerti,”

“Gini, lo, Ma. Aku masih ingat pelajaran kelas empat, kalau asap-asap tersebut mengandung gas karbon dioksida, gas karbon monoksida serta gas metana yang tentu saja berbahaya bagi kesehatan pernapasan kita karena gas-gas itu menyebabkan polusi udara”. jelas Karina pada mamanya.

Bu Dewi hanya senyum-senyum mendengar penjelasan anaknya yang panjang lebar. Berpikir dia seolah seorang pengamat lingkungan atau badan antariksawan atau anak seusianya yang peduli dengan lingkungan dan nasib bumi ini.

“Satu lagi, Ma!” ucap Karina dengan seru seakan segera menyampaikan sesuatu sebelum hilang dari ingatannya.

“Apa lagi, Karin?”

“Asap-asap pabrik itu bisa menyebabkan pemanasan global atau bahasa asingnya  global warming, Ma.”

“Hah, apa itu global warming? Makanan, ya, Rin?”

“Aduh, Mama ini, kok malah ngomongin makanan, sih,”

“Kalau begitu, apa itu global warming?”

“Gini, Ma. Global warming itu suatu keadaan di mana terjadi ketidakseimbangan ekosistem di bumi yang ditandai dengan meningkatnya suhu udara di daratan, di laut, dan di atmosfer, Ma.”

“Terus, apa hubungannya asap pabrik itu dengan pemanasan global, Rin?”

“Gas- gas dari pabrik yang seharusnya bisa terlepas ke atmosfer kembali lagi ke bumi. Gas-gas itu terperangkap sehingga menimbulkan efek rumah kaca sehingga suhu di permukaan bumi meningkat, Ma.”

Ayah Karina tampak bengong mendengar serangkaian pidato dari anak semata wayangnya itu. Raut mukanya tampak berseri terlihat dari kaca spion mobil itu. “Anakku memang super.” gumamnya dalam hati.

“Berita terkini ; selamat siang pendengar yang budiman, diberitakan dari Detik.com, bahwa kebakaran lahan yang terjadi di daerah Riau semakin meluas. Selama sepekan, Api telah melahap ribuan hektar lahan. Kini Kota Riau diselimuti dengan asap tebal. Warga Riau tidak dapat melakukan aktivitas seperti biasanya. Jarak pandang yang terbatas serta kepulan asap sangat mengganggu pernapasan. Berbagai usaha telah dilakukan untuk memadamkan api. Namun, lahan yang kering mudah tersambar api. Alhasil, usaha tersebut seakan sia-sia. Lantas, siapakah yang harus disalahkan dalam kebakaran lahan ini? Saya Gita Patria FM melaporkan.” suara penyiar radio membacakan berita. Rupanya Bu Dewi sengaja menghidupkan radio dalam mobil itu agar perjalanan tidak membosankan dan terasa cepat.

“Tuh, ‘kan, Ma. Dari berita tadi, ujung-ujungnya terjadi polusi udara lagi kemudian efek rumah kaca yang berdampak pada pemanasan global.” Karina tampak ekspresif dengan kata-katanya itu.

“Ya, begitulah. Tapi, entahlah bagaimana mengatasinya.” jawab Bu Dewi.

Mobil melaju dengan kecepatan yang stabil melewati kota yang penuh dengan cerobong asap itu. Sementara Karina masih saja bergelut dengan pikirannya sendiri. memikirkan polusi udara dan nasib bumi yang ia tempati.

“Oh, ya, Karin!” tiba-tiba Pak Dirga berbicara.

“Iya, Yah.”

“Ayah punya satu pertanyaan buat kamu,”

“Tanya tentang apa, Yah?”

“Ayah mendengar percakapan kamu dengan ibumu tentang global warming. Nah, pertanyaan ayah adalah apa pengaruhnya kenaikan suhu dipermukaan  bumi bagi kelangsungan mahkluk hidup di bumi ini?”

Karina terdiam sejenak menyiapkan jawaban yang akan dia berikan atas pertanyaan ayahnya. Dia memusatkan pikirannya kembali ke ruang kelas empat saat diajar oleh Bu Rina, wali kelasnya.

“Lho, kok, diam? Sulit, ya, pertanyaan ayah?” ledek ayah pada Karina.

“Oh, itu pertanyaan yang mudah, Yah?

“Kalau mudah, cepat jawab, dong! Hehehe…,” (ayah terkekeh).

“Pengaruhnya, manusia, hewan, dan tumbuhan sebagai mahkluk hidup tidak lagi dapat melangsungkan kehidupannya. Kenaikan suhu di permukaan bumi menyebabkan perubahan cuaca yang ekstrem. Suhu yang panas dapat membakar hutan, membuat tanah kering sehingga hewan dan manusia kekurangan pangan.”

Ayah Karina masih terheran-heran dengan jawaban yang diberikan putrinya itu. “Pengetahuannya mendalam,” gumam Pak Dirga mengagumi kemampuan yang dimiliki oleh putrinya. Pak Dirga teringat tempo dulu saat Karina diikutkan tes intelejensi. Dari hasil tes menyebutkan bahwa Karina memiliki kemampuan akademik di atas rata-rata. Jadi, pantas ia mampu menjawab pertanyaaan dengan cepat.

“Selain itu, Rin?” tanya ayah menguji pengetahuan putrinya.

“Ehm,… jika suhu dipermukaan bumi naik, maka bongkahan es di daerah kutub akan mencair, Yah.”

“Ehm, bagus dong, Rin, kalau es di daerah kutub mencair,”

“Kok, bagus, sih, Yah?”

“’Kan, air di bumi menjadi banyak. Jadi, kita tidak lagi kekurangan air.”

“Justru itu, Yah. Ketika es di kutub mencair, air bertambah dengan volume yang sulit diperkirakan sehingga permukaan air laut bertambah, air tersebut dapat menenggelamkan pulau-pulau kecil bahkan sampai daratan yang kita tempati. Ngeri, ‘kan, Yah?”

Pak Dirga dan Bu Dewi saling berpandangan mendengar apa yang dibicarakan Karina. Dalam hati mereka membenarkan apa yang Karina paparkan. Namun, Pak Dirga dan Bu Dewi sengaja mengorek sejauh mana pengetahuan Karina dengan tetap bersandiwara seakan mereka tidak tahu tentang isu pemanasan global.

Dua jam sudah perjalanan mereka lalui. Mobil mereka berhenti diantara ribuan mobil yang lain. Rupanya mereka sampai di lampu merah di pusat kota.

“Aduh, macet,” ucap ayah.

“Panas sekali, ya, Yah,” imbuh Karina.

“Iya, padahal AC mobil sudah ayah nyalakan.”

Ibu Dewi melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Tampak jarum panjang menunjukkan tepat di angka sepuluh. “Masih pagi, tapi panasnya seperti jam dua belas.” Bu Dewi mencoba membandingkan panas saat itu dalam terkaan pikirannya.

Mobil yang mereka naiki berhenti setiap tiga sampai empat meter. Bukan karena mogok atau rusak. Namun, kendaraan pribadi dari arah yang berlawan bergantian berjalan seiring dengan lampu lalu lintas yang menyala hijau.

“Yah, aku lihat banyak mobil yang melintas isinya cuma satu orang dan banyak juga kendaraan bermotor dengan suara bisingnya membuat padat saja jalanan ini,”

“Maksud Karina, apa?”

“Ehm,… kendaraan yang padat dapat menimbulkan polusi udara, Yah. Dari asap yang dikeluarkan kendaraan itu. Seperti asap pabrik tadi, gas-gas tersebut dapat merusak lapisan ozon sebagai pelindung bumi. Pantas saja cuaca jadi panas begini.”

“Apa yang bisa kita lakukan?” tanya Bu Dewi pada Karina.

“Ya, setidaknya kita bisa menggunakan kendaraan umum saat bepergian, Yah. Dengan begitu polusi udara dapat dikurangi. Dan tak hanya itu, kebutuhan akan BBM pun bisa kita hemat, Ma.”

Kata-kata bijak lagi-lagi keluar dari Karina. “Pantas dia jadi duta lingkungan yang sedang kampanye”. gumam Pak Dirga memberikan label pada Karina.

Setelah hampir setengah jam bergulat di tengah kebisingan kota dengan klakson mobil dan suara knalpot yang membengkakkan telinga, akhirnya mereka memutuskan berhenti di sebuah taman di pinggiran kota.

Mereka segera turun dari mobil. Membawa makanan dan minuman secukupnya kemudian duduk di sebuah kursi yang di depannya terdapat meja kayu untuk menaruh makanan. Mereka bersantai sejenak.

“Sejuk sekali, ya, Ma,”

“Iya, semilir anginnya bikin seger,” jawab Bu Dewi sambil menghirup udara di taman itu yang bertiup sepoi.

“Udaranya beda sekali jika dibandingkan saat melewati pabrik-pabrik tadi, juga saat macet di lampu merah.” susul Pak Dirga.

“Aku tahu, Yah, penyebabnya apa,”

“Emang kamu jago IPA?”

“Itu semua karena di taman ini banyak tumbuhan hijau, Yah.”

“Apa keuntungannnya?”

“Semakin banyak tumbuhan hijau maka oksigen yang tersedia semakin banyak. Dengan begitu, karbon dioksida di udara semakin sedikit.”

“Iya, kamu memang benar, Karin.” kali ini ucapan pembenaran itu keluar langsung dari Pak Dirga kepada Karina. Terlihat wajah Pak Dirga dipenuhi rasa bangga.

Pembicaraan itu terhenti sesaat.

“Hai! Jangan buang sampah sembarangan!” teriak Karin dengan lantang karena memergoki seorang anak laki-laki seusianya membuang bungkus plastik bekas minuman tercecer di tanah.

Karina bergegas menghampiri anak laki-laki itu. Bermaksud untuk menasihatinya.

“Kamu tidak bisa baca tulisan itu? “Buanglah sampah pada tempat yang disediakan.” Karina mengeja tulisan itu dengan pelan.

Anak laki-laki itu segera memungut sampah plastik yang telah ia buang kemudian menaruhnya pada tong sampah.

“Kasihan petugas kebersihan harus bekerja lebih keras membersihkan taman ini. Lagian sampah plastik baru bisa terurai setelah seratus tahun lamanya, tahu!”

Anak laki-laki itu tercengang. Menimbang apa yang dikatakan oleh Karina. Dia berpikir keras menyimpulkan bahwa tindakannya ini salah. Dia tidak pernah berpikir sejauh itu tentang sampah.

Karina terlihat begitu peduli dengan lingkungan. Nampak dari aksi nyata yang ia perlihatkan tadi. Pak Dirga dan Bu Dewi semakin semringah melihat perkembangan putrinya.

Setelah beristirahat, mereka melanjutkan perjalanan. Berharap mereka segera sampai di rumah sang kakek.

Mobil melaju dengan kecepatan normal. Setelah dua jam berlalu, mata Karina terbelalak melihat kanan kiri jalan di pegunungan penuh dengan kayu gelondongan dan gergaji mesin yang memotong tanaman dengan tangkasnya. Hal itu membuat hati Karina bergejolak. Rasa prihatin pun muncul dalam perasaannya.

“Ma,”

“Iya, Rin,”

“Mama tidak lihat,  banyak orang menebang pohon? Banyak, lo, Ma,”

“Iya, mama lihat.”

“Tindakan itu ‘kan tidak benar, Ma. Apa mungkin petugas hutan tidak mengetahui hal ini, ya, Ma?” Karina mencoba menerka penyebabnya.

“Ya, tahu, Rin. Tapi mereka tak mungkin marah.”

“Petugasnya disuap, ya, Ma?” prasangka Karina.

“Bukan,”

“Lantas karena apa, Ma?” ucap Karina ingin segera mengetahui penyebabnya.

“Yang ditebang tadi adalah kayu perkebunan, kayu yang memang sudah disiapkan untuk keperluan industri, Rin.”

“Oh, begitu, ya, Ma.

“Mengapa kamu tadi panik begitu?”

“Iya, Ma. Aku tadi khawatir karena setahu Karina penebangan hutan secara tidak terkendali selain dapat menyebabkan banjir saat hujan datang juga menyebabkan tanah longsor. Lebih parah dari itu, persediaan oksigen dalam atmosfer akan berkurang dengan drastis yang otomatis kadar karbondioksida dalam atmosfer meningkat. Ini juga dapat memicu pemanasan global, Ma. Hatiku sedih, Ma.”

“Apa yang membuatmu sedih, Rin?”

“Jika pemanasan global terus terjadi tanpa ada usaha kita untuk mencegahnya, bagaimana nasib bumiku seratus tahun mendatang, Ma?” pikiran Karina melayang jauh membayangkan sesuatu yang dahsyat terjadi pada buminya. Bumi dilanda kekeringan, hewan dan manusia perlahan mati, satu per satu pulau-pulau kecil hilang. Dan pada akhirnya tak ada kehidupan di bumi karena semua tenggelam oleh es yang mencair.

Kengerian itu seperti tampak jelas dalam kelopak mata Karina. Kegiatan industri sebagai dampak dari kecanggihan teknologi telah menghasilkan jutaan pabrik-pabrik yang menyumbang polusi udara paling banyak. Kendaraan bermotor yang kian hari semakin membludak, pembakaran hutan, dan perusakan lingkungan yang kesemuanya itu dapat memicu terjadinya pemanasan global. Tindakan demikian akan menjadi karma bagi manusia sendiri di kemudian hari.

“Rin?”

“Iya, Ma.”

“Kamu melamun?”

“Apa yang bisa Karin lakukan untuk bumi ini, ya, Ma?”

“Ehm,… mama punya saran, mungkin bisa kamu terapkan,”

“Apa, Ma?”

“Kamu bisa membuat komunitas pecinta lingkungan, kamu bisa mengajak teman-teman kamu untuk lebih peduli dengan lingkungan. Dengan komunitas tersebut kamu bisa mengedukasi masyarakat dan melakukan aksi nyata untuk menyelamatkan bumi ini dari pemanasan global. Bagaimana, Rin?”

“Wah, itu ide yang bagus, Ma. Terima kasih, ya, Ma.”

“Sama-sama, Rin.”

Karina merasa mendapat angin segar dari ide yang diberikan oleh mamanya. Setidaknya ia telah menemukan langkah awal menyelamatkan bumi ini dari kehancuran. Ia berharap nasib bumi tidak diujung tanduk seperti yang ia bayangkan.

“Aku bersama komunitasku akan melakukan gerakan menanam sejuta pohon, mengkampanyekan penghematan penggunaan energi, mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, serta mengkampanyekan untuk menggunakan produk yang ramah lingkungan, Ma.” ucap Karina dengan antusias.

“Ya, Rin. Mama mendukungmu.”

“Terima kasih, Ma.”

Setelah menempuh perjalanan yang cukup melehkan, akhirnya mereka sampai di rumah kakek. Sang kakek menyambut cucunya itu dengan pelukan hangat. Begitu juga dengan Karina, dia sangat senang bertemu kakeknya lantaran empat tahun sudah sejak pandemi berlalu baru berkunjung lagi ke rumah sang kakek.

Catatan :

Global Warming (bahasa Inggris) = pemanasan global

AC (singkatan) = air circulation

Seger (bahasa Jawa) = segar

IPA (singkatan) = ilmu pengetahuan alam

13 thoughts on “Cerpen #169 Bumiku di Ujung Tanduk

  1. Cerita yang menarik tentang pentingnya menjaga bumi , dikemas dalam bahasa yang mudah dipahami pembaca . Suskes selalu untuk penulis.

  2. Cerpen yang menarik karena kejadian di dalam cerpen tidak jauh dari kehidupan sehari-hari.. semangat untuk terus berkarya

  3. Memang bumi adalah Ibu.
    Ceritanya menyentuh sekali.
    Semoga sukses selalu, Author.
    Semoga semakin banyak yg tersentuh untuk lebih mencintai Sang Ibu Bumi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *