Cerpen #167 Raih Bintang Untuk Dunia

“Aku tidak kuat,” lirihnya menggenggam dada, merasa sesak. Napasnya mendadak tak beraturan. Kembali terbatuk kering seperti dua jam yang lalu, tetapi kali ini batuk kerasnya seperti hendak memuntahkan sesuatu.

Gadis itu dinamai Senja, seseorang yang ingin hidup lebih lama sayangnya dipupus paksa oleh keadaan. Senja menekan tombol merah di ujung kursi, lalu muncullah robot berjalan dengan roda ke arah Senja. Tak perlu diperintah olehnya, robot itu memberikan beberapa kapsul untuk meredakan penyakitnya, walau hanya sementara.

Robot kembali mengerjakan tugas rumah. Sementara Senja mulai menyandar ke sofa empuknya. Matanya menutup, nampak kelelahan.

Kemudian mata lelahnya terpokus ke arah jendela rumah yang menampakkan sebuah gunung besar tanpa pohon. Hanya terik matahari yang menemani pemandangan tersebut, sangat gersang. Gadis itu menggenggam ponsel keluaran terbaru, memasuki aplikasi galeri dan mengamati hasil tangkapan foto di internet kemarin malam.

Foto pemandangan bertemankan pohon hijau terpampang jelas di layar ponselnya. Binarnya mata manusia kala itu betulan sehat dari kebahagiaan. Tak ada raut kesedihan. Dunia sebelum kelahirannya, tak terlihat kacau seperti saat ini. Senja merasakan iri kepada dunia lama, air matanya bergulir pasrah.

Senja pernah emosi, sempat menyalahkan manusia terdahulu yang semena-mena merusak dunia. Tumbuhan sudah menjadi asing di matanya. Hewan hampir punah. Bencana alam benar-benar akan muncul setiap hari dengan ganasnya. Berita virus mematikan selalu beredar karena pemanasan global. Udara terasa menipis setiap tahun menuju tahun. Juga beberapa manusia bergilir memasuki gerbang kematiannya di umur muda.

Jujur, Senja lapar sebab terakhir ia makan hanya dengan mengonsumsi kapsul yang dianjurkan pemerintah untuk bertahan hidup, kehausan sebab bala bantuan belum mengirimkannya air, merindukan keluarganya yang meninggal karena serangan virus mematikan saat ini.

Mendadak, Senja memilih mati daripada menderita seorang diri. Menurutnya, uang sebesar bumi tak lagi berguna saat ini. Banyak orang yang memiliki jabatan tinggi tapi rasanya percuma. Sekarang manusia benar-benar tak memandang jabatan, uang, kedudukan. Yang dibutuhkan sekarang hanyalah bertahan hidup dari kelaparan dan kehausan tingkat tinggi.

“Ya Tuhan, aku lelah ….”

Mendengar suara helikopter mendarat di teras rumahnya, Senja bangkit. Berlari kegirangan menuju pintu rumah. Rasa hausnya benar-benar akan tertolong oleh datangnya bala bantuan pemerintah. Saking hausnya, Senja bahkan lupa memakai pakaian tertutup untuk melindungi tubuh dari sinar matahari yang lumayan panas di jam siang.

Membukakan pintu lebar-lebar, Senja malah terlonjak kaget. Dirinya mematung ketakutan. Menatap orang berseragam ilegal lengkap senjata satu per satu. “Ka-kalian untuk apa kemari? Di sini tidak ada makanan.”

            Dooor!!!

Senja terjatuh di depan pintu. Meresapi rasa sakit di bagian perutnya juga merasakan darah segar saling berdesakkan keluar. Senja terbatuk keras, bahkan tak kuasa menekan tombol merah di dinding terdekatnya untuk meminta bala bantuan para robot di rumah ini. Senja merasa tak punya tenaga untuk itu. Napasnya semakin tersendat, dirinya sudah mulai sekarat.

Senja sempat melihat pergerakan para anggota berseragam hitam itu memasuki rumahnya, mengacak-acak seisinya hingga menciptakan bunyi keras tak mengenakkan, mendengar ucapan kasar dari mereka karena di rumahnya benar-benar tak memiliki setok makanan, kapsul penghilang rasa lapar pun bersisakan satu biji.

Senja menutup matanya lemah dan tersenyum kecut. Manusia bahkan sudah gila. Tanpa makanan mereka berubah buas, tak waras, bertindak keras. Tak ada yang mematuhi norma. Toleransi, bahu membahu, kerja sama atau apalah maksud dari kesatuan nun damai itu sudah terputus sejak orang-orang memberi gelar “Kerusakan” untuk bumi. Bumi yang selalu dipuja-puja, didongengkan sangat indah di buku sejarah, dan disebut kehidupan ternyaman oleh jaman dahulu kini sudah menjadi bahan olok-olok oleh manusia jaman sekarang. Senja juga termasuk orangnya.

Sebagian tubuh Senja terasa hampa. Rasa sakit yang dideritanya tadi sudah lenyap. Tenggorokan kering juga perut keroncongan tak lagi Senja keluhkan. Kini giliran Tuhan yang berkehendak mengambil nyawanya seperti keluarganya yang mati satu per satu.

Namun, insiden mitos mengejutkan semua orang yang mengalaminya. Senja tak begitu paham di saat semua orang yang memasuki kematian, tatapi ini justru berbalik. Dirinya bahkan masih merasakan sepoi angin ke kulitnya. Mata Senja kemudian terbuka, mempertemukan kepada langit biru yang masih asri. Di sampingnya terdapat kota bersih yang masih ditanami pepohonan besar. Tersadar Senja tengah berbaring di pinggir jalan sampai-sampai dilihat oleh orang pejalan kaki dan pengendara tranformasi.

“Kamu kenapa? Saya lihat tadi kamu baru saja tertawa kencang, lepas itu terbaring di sini. Kepalamu pusing?” Pertanyaan heran dari seorang wanita yang sedang berjalan itu menyadarkan Senja untuk berdiri, Senja tak tahu harus menjawab bagaimana karena saking lamanya tidak bersosialisasi.

Senja lalu pergi tanpa menjawab. Menunduk malu. Setelah jauh dari wanita tadi, Senja bernapas lega. Melakukan pernapasan itu membuat Senja tersentak, dirinya kembali menaris napas, mengeluarkannya, menarik kembali, lalu dibuangkan lagi. Dari sinilah Senja menyadari sesuatu, udara di sini lumayan segar, tak sesesak di rumahnya.

Senja merasa heran. Perkotaan ini yang diketahuinya merupakan jenis kota tahun 2021, tahun yang paling manusia era-2121 benci karena kelalaian terhadap alam terjadi di tahun ini.

Senja menemukan sosok binatang yang tengah mengeong kelaparan. Kucing? Senja menduga, setahunya binatang tersebut sudah lama punah. Kehidupan sekarang yang dirasanya tahun 2021 ternyata masih hidup.

Senja mendekatinya, merasa prihatin karena kucing tersebut kelaparan. Buru-buru dirinya mendekati toko di depannya, toko yang sudah jelas menampakkan makanan enak. Senja tahu itu, dirinya membeli salah satu yang cocok dimakan seekor kucing, beruntung di saku celananya terdapat sepeser uang yang cukup untuk membeli sedikit makanan.

Banyak sekali keanehan. Uang ribuan masih berlaku di tahun ini, dan aneka makanan masih bisa dikategorikan sangat murah. Padahal bila diprediksi, makanan tersebut pasti mahal bila dijual di tahun 2121 sebab keterbatasan bahan alami akibat krisis iklim. Juga di sini, air masih bisa digenggam Senja dalam bentuk botol besar, bukan wadah mungil.

Senja tak melakukan percakapan, hanya membawa makanan, memberikan uang kepada penjual toko, lepas itu pergi menghiraukan panggilan dari penjual toko tadi yang tidak dimengertinya; “Kembaliannya, Kaaak!”

Senja memberikan makanan yang langsung dilahap seekor kucing itu. Sementara dirinya menandaskan air segar dalam botol. Tak percaya Senja bisa merasakan yang tak sebersit pun terlintas di pikirannya. Mati lalu hidup kembali? Itu yang Senja tangkap dari peristiwa mitos ini.

Senja mengamati ramainya manusia. Mobil mobil yang di buku sejarah sangat kuno masih dipakai di tahun ini. Pohon-pohon hijau dan gunung besar di ujung sana membuatnya berpikir, mengapa di seratus tahun mendatang bisa-bisanya mendadak kacau balau, mendadak dunia rusak, beda dengan tahun ini. Apakah ulah orang yang tak berkemanusiaan mengacaukan keindahan dunia? Tentu, memang siapa lagi pengacau dunia?

Ketika matanya tertuju pada tumbuhan mungil yang tertanam di pinggir jalan, Senja mendadak mempunyai ide. Senyuman manisnya mengembang hangat.

Bila di tahun ini masih bisa dicegah kerusakan, masih bisa mengatasi atau mengobati penyebab retaknya dunia, mengapa tidak dilakukan olehnya? Dirinya dilempar ke tahun 2021 mungkin untuk memerankan tugas tersebut: Melindungi dunia untuk generasi masa depan.

Di tengah atmosfer sedang berpikir, seseorang menghancurkannya dengan menarik telinga Senja hingga mengaduh. “Senja! Kamu ini dari mana saja!? Buat khawatir aku, tahu!” Suara perempuan seumur Senja berteriak emosi.

Senja menoleh ke arah samping yang menarik telinganya. Dia tentu jengkel, tetapi tidak tahu bagaimana cara meresponnya, jangan lupakan dirinya sudah bertahun-tahun tidak bersosialisasi. Namun, dari banyaknya suku kata yang hilang, Senja mengingat kata ini untuk merespon, “Jangan lancang jadi manusia ….”

Gadis di samping Senja melotot. “Kamu lagi tulalit, ya? Aku ini Yola, teman kamu!” seru Yola seraya menarik lengan Senja untuk mengikutinya, “Acara kunjungan sudah mau dimulai. Kita harus antre lebih awal, ayo!”

Senja termenung, bertanya-tanya. Acara kunjungan? Yang diduga Senja tak lain ialah acara mengunjungi pemakaman, karena hanya itulah yang pernah Senja kunjungi selama hidup. Senja tak pernah berkunjung ke manapun, cukup belajar di sekolah ternama dengan pengajaran yang diberikan robot, oleh karena itu ia merasa heran atau kebingungan ketika mendengar Acara Kunjungan.

Senja dan Yola terus berjalan sampai bertemu sebuah taman. Jalan berserak rumput hijau itu membuat Senja berdecak kagum. Senja menarik napas … segar. Mata Senja menjelajah, banyak sekali pohon yang menjulang tinggi. Panas matahari di jam siang ini rupanya hangat, tidak sepanas yang dirasakan Senja di kehidupan 2121. Benar-benar membuatnya tak ingin kembali ke masanya.

“Ke toilet dulu, yuk. Muka kita kurang polesan make-up,” ajak Yola terus menggamit pergelangan tangan Senja untuk mengekori.

Hal awal dipertanyakan: Mengapa Senja bisa memasuki masa sebelumnya lahir, masa penyebab tahun 2121 kacau? Lalu mengapa Yola memanggil namanya Senja, nama aslinya, ketika Senja berkaca di cermin toilet pun ternyata rupa tubuh aslinya sama persis.

Sudahlah, Senja tidak lagi memikirkannya. Karena menurutnya, apa yang sudah terjadi, maka jalani.

“Kamu dari tadi bercermin tapi tidak merias wajah sedikit pun? Buang-buang waktu, bila begini Acara Kunjungan sudah banyak yang antre, kita jadi lama menunggu,” cerocos Yola terburu-buru menarik Senja keluar toilet.

Senja menepis lengan Yola mendadak kesal. Ia membenci orang itu, tega-teganya menganggap dirinya ‘buang-buang waktu’? Senja tak lagi menggubris gadis bernama Yola itu, ia memilih jalan lebih dulu menuju sebuah bangunan transparan yang tak asing di matanya, sudah pasti tak asing, sejarah-sejarah masa lalu selalu Senja pelajari sampai ke ujung dalamnya. Hanya saja, sejarah bahasa daerah tidak lagi dirinya minati sebab bahasanya sangat kuno untuk dipahami, semua manusia seumurnya di tahun 2121 mungkin memiliki selera dan kesukaan yang sama dengannya.

Senja berhenti, menatap jelas bangunan transparan itu. Senja tak henti mengamati tanaman-tanaman yang berjajar rapi di dalam bangunan tersebut, tanaman yang diketahui sangat langka dicari di tahun kelahirannya. Juga orang-orang yang mengantre di depan pintu bangunan, sementara di dalam bangunan tersebut hanya dimasuki dua puluh orang sebab bangunan besar itu tak mungkin cukup untuk dimasuki orang lebih banyak lagi.

“Ini … rumah kaca?” Senja bertanya seorang diri dengan wajah tertekuk, kesal. Hatinya membatin, bagaimana mungkin bangunan yang ia anggap monster itu ada di tahun sekarang, bukankah ini termasuk penyebab pemanasan global terjadi, yang menyebabkan manusia tahun kelahirannya tak bisa mencicipi atau melihat secara langsung apa itu fauna juga flora.

“Manusia jaman modern memang serakah, tidak tahu apa di jaman serba teknologi—canggih, manusia tidak bisa bernapas dengan nyaman? Udara kami bermasalah …,” geram Senja seraya berjalan menuju mulut pintu. Menerobos masuk menghiraukan seruan orang-orang yang mengantre.

“Hai, kamu! Hargai orang yang mengantre lama!” Petugas menasihati dengan nada tinggi.

Senja memberanikan diri untuk menatap tajam petugas itu. “Rupanya ini kelakuan manusia tahun 2021? Tidak tahu caranya membagi dunia untuk generasi masa depan?” katanya walau sedikit kaku, Senja benar-benar kurang berinteraksi selama ini.

“Apa maksud kamu?” Petugas tadi bertanya heran. “Bila kamu kurang senang pada tumbuhan, tidak usah mengunjungi daripada merusak acara.”

Senja sesekali mendengar sorakan banyak orang yang ditujukan untuknya, membuat hatinya menciut. Tak menyangka kelakuannya untuk menjaga dunia disebut sebagai perusak. Senja kemudian menatap satu per satu tanaman yang tumbuh dengan imutnya, lalu matanya tanpa disuruh berlinangan air mata.

Semua sorakan perlahan lenyap di saat perempuan yang dikata perusak itu menangis bisu. Suasana ramai semarak tadi pun mendadak sunyi. Tatapan memuji kepada tanaman kali ini semuanya tertuju kepada Senja, bagaikan idola yang datang terlambat.

“Kenapa?” Seorang wanita bertopi putih mendekat ke arah Senja.

Senja menoleh ke arah wanita itu. Seperti ingin mendapat kasihani, Senja memohon. “Aku ingin manusia tidak serakah. Kami di tahun 2121 kelaparan, kehausan, kehidupan kami kacau dengan bencana. Tolonglah kami dengan mencegah kerusakan, tolonglah kami ….”

Wanita bertopi itu memeluk Senja, memberi ketenangan. “Jangan menangis. Ikut saya, dan ceritakan semuanya yang membuatmu sedih.”

Senja dibawa ke suatu rumah di dekat bangunan transparan. Rumah yang menurutnya merupakan rumah peninggalan jaman tahun yang saat ini Senja tinggali, rupanya tidak terlalu buruk untuk dijadikan tempat bertahan hidup. Udara lancar dan hawa segar karena matahari memancar teduh di luar.

Wanita tadi melepas topinya dan mulai duduk di hadapan Senja yang sudah duduk tanpa disuruh. “Nama saya Yunia, kamu?”

“Aku Senja.”

“Tempat tinggal?”

“Kamu tidak akan tahu dan tidak akan paham,” ketus Senja tajam. “Aku hanya ingin memberitahumu, dunia masa depan sedang kacau, itu karena kalian!”

Yulia tak tahu kata “kalian” ditujukan kepada siapa. Dan Yulia mulai menduga gadis di depannya sudah tak waras. “Orangtuamu di mana?”

“Ayah mati karena memiliki penyakit jantung. Sementara Ibu terserang virus.”

“Ibumu terkena covid-19?”

Senja melupakan sesuatu, di tahun 2021 virus yang dikenal Corona dalam sejarah memang benar adanya. Bahkan katanya, dunia tengah menjalani pencegahan penularan di tahun ini. Pantas saja di rumah kaca tadi, banyak orang yang memakai masker dan berjaga jarak dalam mengantre, bahkan Yulia dan Yola juga. Pantas saja di toilet Yola menganjurkannya memakai masker, tetapi tidak Senja gubris.

“Mengapa melamun?” Yulia menyadarkan Senja.

“Kumohon, jaga dunia ini. Jangan sampai generasi masa depan tidak mendapatkan hak yang didapatkan di masa ini. Tidak adil namanya,” tutur Senja sembari menoleh ke arah jendela yang menampakkan rumah kaca berbaris tanaman itu. “Kumohon Yulia, mengertilah ucapanku ini.”

“Saya paham, saya paham.” Yulia manggut-manggut. “Kemarahanmu di bangunan rumah kaca tadi sungguh membuat orang-orang menyebutmu gila. Tapi setelah kamu mengatakan penyebab kamu marah sekarang, saya menganggap kamu orang yang mulia, peduli terhadap masa depan dan memiliki tanggung jawab yang tinggi.” Yulia tersenyum.

Senja balas tersenyum, tapi senyuman sinis. “Aku memiliki sifat seperti ini karena aku pernah merasakan apa itu menderita sepanjang hari.”

Yulia terdiam mendengarnya.

“Kamu seharusnya tahu salah satu terjadinya pemanasan global itu karena banyaknya rumah kaca.” Senja berdiri dari kursi, tatapannya menghunus tajam. “Asal kamu tahu, Yulia, di tahun 2121, dunia sedang tidak baik. Bencana alam di mana-mana, musim hujan banjir, musim panas manusia kehausan karena air terbatas.”

Yulia hanya terdiam, menelan kata-kata dari anak berumur masih di masa tingkat sekolah ketimbang dirinya yang sudah berumur 20 ke atas. Tak menyangka gadis itu mengguruinya.

Senja pergi sebelum meneguk tandas air teh di meja, minuman yang sudah jarang dikonsumsi di tahun kelahirannya.

***

Peristiwa mengamuknya Senja menyebabkan sekelebat pengunjung pergi. Kali ini Senja bisa leluasa masuk ke rumah kaca itu sendiri, untungnya tidak ada penjaga juga pintu rumah kaca itu masih terbuka. Dengan tatapan sedih, Senja berkeliling menatap tumbuhan-tumbuhan yang elok. Menenggelamkan diri juga menyenangkan hatinya yang sedang syok berat atas kelakuan manusia jaman ini.

“Ini tidak boleh dibiarkan,” geram Senja kemudian pergi keluar bangunan tersebut. Berjalan seorang diri dan menaiki angkutan seadanya.

Padahal niatnya menaiki angkutan umum hanya untuk menelepon. Ternyata tidak ada ponsel di dalam mobil kuno ini, batin Senja sebal. Pasalnya ia membutuhkan ponsel untuk menelepon seorang gadis, Yola.

Senja kemudian turun dari angkutan itu, memberikan uang ketika diperintah harus membayar oleh penyetir angkutan itu. Senja kembali berjalan dan tak sengaja menemukan beberapa orang tengah membuang sesuatu ke dalam sungai. Senja tahu, itu adalah limbah perindustrian yang sangat berbahaya bagi ekosistem laut. Tak percaya mereka membuang bahan kimia itu ke lautan di tempat sepi ini. Senja mengepalkan tangannya kesal.

Senja tidak jadi mendekat ketika beberapa pria bertubuh kekar dengan seragam ber-titel polisi itu mendahuluinya. Mereka nampak marah, dan terdengar nasihat-nasihat kepada mereka yang membuang limbah sembarangan. Amarah Senja meluluh.

Ternyata manusia jaman sekarang tidak terlalu buruk, batin Senja sembari tersenyum, lepas itu pergi dari sana.

***

“Kamu dari mana saja, sih!? Ngilang terus, nanti kalau ada yang nyulik kamu, bagaimana!?”

Entah ini adalah keberuntungan atau kesialan bagi Senja karena dipertemukan kembali dengan Yola, seorang gadis cerewet. Sifat yang sangat langka di tahun kelahirannya.

“Berisik!”

Yola gemas-gemas sendiri karena dari tadi temannya seakan tidak menggubris omelannya. “Ish! Ya sudah, hayu pulang!”

“Ke tahun 2121? Tidak! Aku tidak mau!” Senja menggeleng keras, entah mengapa dirinya malah betah tinggal di tahun ini. “Udara di sana sangat buruk, beda dengan di jaman ini yang masih normal.”

Yola merotasikan matanya. “Kamu mimpi apa semalam? Kamu sekarang aneh tahu gak?”

“Berisik!”

Yola menarik lengan Senja sembari tersenyum paksa. “Ngomong-ngomong tentang udara, kamu sepertinya sedang mau jalan-jalan. Ikut aku, yuk!”

Senja pasrah mengangguk. Mungkin dugaannya benar, dirinya akan dianggap aneh oleh semua penduduk tahun 2021 bila terus mengoceh hal yang tidak jelas.

Memasuki mobil hitam yang menurut Senja mobil norak. Orang yang memakai mobil itu di tahun kelahirannya, sudah pasti dicerca habis-habisan. Tapi sepertinya Yola bangga menyetir mobil ini. Pendugaan Senja yang kebawanya terus melamun itu disadarkan dengan mobil mereka berhenti di sebuah parkiran.

Senja maupun Yola turun. Kali ini tanpa mencekal lengan, Senja mengekori Yola di belakang. Terus bertanya-tanya dalam hati mengapa mereka turun di sini.

Setelah lamanya berjalan dan cukup melelahkan kaki Senja, mereka berdua sudah sampai. Senja pikir mereka akan ke mana, nyatanya ke sebuah wilayah serba hijau. “Ini hutan yang selalu dibincangkan manusia, ya?” pikir Senja pelan, sepelan mungkin, tak ingin Yola menimpalinya dan berakhir mengoceh tak jelas.

Namun, ketidakinginan Senja justru terjadi. “Nah, ini hutan masih asri, hutan dilindungi negara. Hutan ini juga dijadikan wisata begitulah. Entar satu belokan lagi, kita bakal ketemu penjaga hutan ini. Oh, iya, kamu harus pakai masker, untung saja aku bawa cadangan jadi bisa dipakai olehmu. Selama ini …,” cerita Yola terus berlanjut tiada henti yang membuat Senja sebal sendiri, tapi dirinya mencoba menahan diri.

Memakai masker kemudian memasuki hutan setelah menggenggam tiket. Senja menghirup udara di sekitarnya, rupanya lebih segar dibanding perkotaan tadi. Hawanya pun lebih sejuk menyentuh ke kulitnya.

“Aku tak menyangka tahun ini masih ada hutan selebat ini. Lalu mengapa di seratus tahun ke depan dunia mendadak kacau balau?” Senja bersuara, pandangannya tak lepas kepada alam serba hijau ini. “Apa manusia se-egois itu sampai-sampai dunia indah ini dirusak hanya untuk kepentingan pribadi? Tidak berpikir panjangkah mereka bahwa banyak manusia yang berusaha keras mencari titik air untuk bertahan hidup? Tidak tahukah mereka bila di tahun 2121 kami hidup menderita?”

“Senja …? Kamu hari ini aneh banget? Kamu kok tahu kehidupan masa depan itu penuh penderitaan?” tanya Yola serius.

“Kamu tidak akan tahu apapun,” sahut Senja pelan.

“Hei,” Yola merangkul pundak Senja, “ada apa? Aku akan membantumu, kita ini sahabat, aku wajib tahu keinginanmu. Coba sebutkan apa yang tengah kamu pikirkan sampai-sampai menyenggol masa depan?”

Senja melirik Yola sekilas. “Dunia masa depan rusak. Aku harus menolong mereka. Bila di tahun ini banyak tanda-tanda manusia merusak alam, maka aku harus mencegahnya.”

Yola mengangkat alisnya, matanya mengerjap polos. “Kamu tumben-tumbenan nyangkut masalah alam? Biasanya kamu membenci hal itu.”

“Boleh pinjam ponsel norakmu?” Senja bertanya, mengalihkan pembicaraan.

Serta merta, rangkulan itu terlepas, Yola tiba-tiba ngambek. “Apa!? Ponsel norak!? Kamu ini memang kudet banget! Kalau nggak tahu, merek ponsel aku itu iPhone 12 Pro Max yang harganya 27 juta tahu!”

Tadi selama perjalanan, Senja sempat mengamati ponsel milik Yola, dan yang dikatainya norak itu memang fakta. “Murah sekali,” ketus Senja membalas ocehan Yola.

Yola berteriak kesal. Mengelus dada berusaha sabar.

“Aku pinjam ponsel norakmu, apa kamu tidak dengar ucapanku tadi?” Senja mengulangi kata-katanya.

“Buat apa!?” Yola bersungut kesal.

“Membuat puisi untuk manusia ….”

“Hah? Apa, apa? Puisi?” Telinga Yola berdengung mendengarnya. Benar-benar menduga temannya sedang tidak baik-baik, dirinya yang mengenal Senja anak yang tidak tahu seincipun tentang puisi, mengapa mendadak berkeinginan untuk membuat puisi. “Apa jangan-jangan, kamu ingin membuat puisi cinta, ya? Siapa niih pacar kamu?” Bercampur menggoda dan menduga Yola berkata lagi.

“Untuk manusia yang ada di dunia ini.” Senja memperjelas kata-katanya dengan nada tinggi. Harga diri seakan lenyap ketika dirinya diduga memiliki pacar.

Yola ber-oh ria sambil mengedipkan mata menggoda Senja. Ketika direspon tatapan tajam oleh Senja, Yola memilih menghadiahkan gadis itu ponsel iPhone miliknya. “Hati-hati ya pegangnya, jangan sampai rusak atau kotor. Mahal soalnya.”

Senja berdeham malas sebagai jawaban. Lalu mulai menyalakan ponsel norak milik Yola. Sekali lagi, matanya beredar ke pohon-pohon tinggi, lalu ke arah langit biru, tatapannya mendalam tenang.

“Ya Tuhan, kuingin keadilan tetap ada. Kubenci kehancuran. Indah cipta-Mu sudah patut dijaga. Maka dari itu, musnahkan sifat manusia yang menyebabkan keelokan dunia tinggal sejarah ….”

Yola terdiam mendengar perkataan temannya.

“Dunia yang terasa menyiksa takkan lagi bila sifat itu tiada. Kuingin, anak bangsa berharap yang sama. Kuingin, tidak ada lagi namanya penderitaan yang disebabkan oleh manusia telah lalu yang lalai, yang egois, yang hanya memikirkan diri sendiri.”

Lalu Senja duduk di rumput hijau yang kering. Mulai menenggelamkan diri untuk mengetik puisi. Saking seriusnya, Yola bahkan dianggap tidak ada di samping.

“Kamu … bukan Senja yang kukenal. Sebetulnya kamu siapa?” tanya Yola memecah sunyi yang sedari tadi berusaha keduanya pertahankan, namun karena sikap Yola yang selalu berbicara tak memungkinkan diam membisu seperti ini.

“Aku Senja tahun 2121.”

“Apa?” Yola tak mengerti.

Senja tetap mengetik kata per kata di ponsel. “Aku tinggal di tahun 2121, tahun serba canggih, tahun yang diidamkan manusia terdahulu. Tapi justru berbanding terbalik dengan kebahagiaan ….”

Yola mengerutkan kening semakin bingung.

“Di tahun tersebut, tidak ada makanan enak yang ada di sini. Air di musim panas selalu terbatas. Tapi giliran musim hujan datang, banjir dan longsor menghadang. Semuanya serba salah.” Senja terus bercerita dengan lancar, walau tugas mengetiknya belum selesai.

“Dan itu disebabkan keegoisan manusia terdahulu.” Senja berhenti mengetik, memberikan ponsel norak itu kepada Yola.

Yola membawa ponselnya, tatapannya sudah jelas tengah kebingungan setengah mati. Kali ini dirinya membaca apa yang diketik temannya itu. “Waw! Bagus banget puisinya, kali ini aku percaya kamu bukan Senja yang kukenal, lantas ke mana Senja temanku?”

“Aku pun tidak tahu. Semoga saja dia tidak menggantikanku di sana yang mati tertembak peluru,” ujar Senja penuh harap.

“Apa maksudmu!!?” Yola tersentak ketika mendengar ucapan temannya yang berubah sikap itu. Kalimat “mati tertembak peluru” terngiang di benaknya.

Senja menoleh ke arah gadis itu. “Boleh sebarkan karya puisiku ke khalayak? Aku ingin mereka membacanya dan berpikiran untuk menjaga dunia ini.”

“Aku punya akun Instagram dan YouTube yang memiliki pengikut yang banyak. Aku bisa menyebarkan karya puisimu ini, tapi ada satu syarat,” jawab Yola dengan mata yang mendadak berkaca-kaca. “Senja temanku, kembalikanlah Senja temanku … aku menyayanginya seperti saudara kandungku sendiri. Tolong kembalikan Senja temanku.”

Senja terdiam, tak bisa merespon yang dapat melegakan gadis itu. Disahut “oh” rasanya tidak pas. Akhirnya yang ia lakukan hanya menatap Yola dalam, seakan memberitahu bahwa dirinya tidak tahu menahu mengapa tragedi mitos ini teralami. Saluran jiwa dan raga yang sama, tetapi beda kelahiran sudah menandakan kejadian ini tak mungkin terjadi. Nalarnya bahkan tak bisa lagi menuntaskan kasus permasalahan ini, yang artinya Senja tahun 2121 selamanya akan tinggal di tahun 2021.

Di saat mereka saling bertatapan, secara tiba-tiba Senja terbatuk-batuk keras. Yola sampai terkaget dan gelisah sendiri.

“Sen-Senja! Aku, aku cari—”

Senja yang terbatuk-batuk menggeleng pelan. “Gak perlu!”

Yola menggigit bibirnya khawatir. Merasa tak becus sebab tidak bisa melakukan apapun.

“Senjaa!” Yola berteriak histeris ketika Senja mengeluarkan darah segar dari mulutnya walaupun tak lagi terbatuk seperti tadi.

Tubuh Senja melemah. Ambruk di tanah. Matanya kemudian tertuju pada Yola yang berusaha menduduki dirinya. Gadis itu menangis keras di hutan indah ini. Entah mengapa, secara mendadak, seluruh tubuhnya tak lagi merasakan apa pun. Udara diberhentikan, tubuhnya mendingin, dan raganya seakan tertusuk kematian. Sebelum kegelapan menerjang, Senja sempat mengatakan sesuatu kepada Yola, kepada manusia di tahun ini. “Tolonglah generasi masa depan, terima kasih ….”

***

“Kakak! Banguuun!”

Senja membuka matanya. Pandangan tampak kabur. Hidungnya menarik napas teratur. Segar. Dugaannya, ia masih berdiam di tahun lalu, tahun 2021. Tapi ketika pandangan sudah mulai jelas, ia tak menemukan sosok Yola yang cerewet setiap waktu. Melainkan kedua adiknya.

“Ka-kalian!?” Senja terbangun dari berbaringnya. Melotot kaget, benar-benar kaget. Gadis itu bertanya dalam hati, apakah kematian seseorang bisa hidup kembali? Karena yang Senja tahu, kedua adiknya maupun orangtuanya telah tiada. “Kalian masih hidup!?”

“Memang Kakak ingin kami mati?” Seperti biasa, kedua adiknya berbicara dengan metode yang sama dan berbarengan, mungkin faktor kembar.

Tak ada yang menjelaskan mengapa hal ini bisa terjadi. Tapi tak urung Senja tersenyum haru, air mata mengalir dengan sendirinya. Di saat kedua adik kembarnya mengangkat alis bingung, Senja memeluk mereka dengan erat, seolah tak ingin kehilangan yang kedua kalinya. “Kakak rindu kalian ….”

Tiba-tiba suara langkah kaki mendekat ke ruangan. “Selamat pagi Senja. Ayah dan ibu sudah menunggu di luar. Semuanya sudah selesai, tinggal menunggu Senja yang masih tertidur pulas.” Suara Robot membuat Senja melepas pelukan hangat itu.

“Apa? Ayah ibu juga!?” Hati Senja hampir mencelos keluar ketika Robot mengatakan itu. “Mereka masih hidup!??”

Robot tersebut mengerjapkan matanya, mengubah mimiknya menjadi kebingungan. “Iya. Mereka masih hidup. Mereka ingin Senja cepat-cepat bersiap diri karena sekeluarga akan mengunjungi museum besar.”

Dari awal memang aneh, batin Senja sembari melepas pakaian tidurnya ketika orang-orang sudah keluar kamarnya. Benar, Senja sudah berada di tahun kelahirannya, tahun 2121. Dilihat dari ruangannya yang tak asing di mata, hanya saja beberapa yang hilang—dipertemukan kembali ke kehidupannya. Ayah, ibu, kedua adik kembarnya hidup kembali, itu yang sangat berarti bagi Senja kali ini.

Seusai berias diri. Senja menuju ruangan luar. Benar saja, kedua orangtuanya sedang duduk santai bersama kedua adiknya. “Ayah! Ibu!” Senja menutup mulutnya yang membuka tak percaya. “Ka-kalian benar-benar …?”

Ketika mendengar suara anaknya, Ibu bangkit dari duduknya. Menatap Senja lelah. “Kamu ini … sudah berapa kali Ibu bilang jangan tidur terlalu larut. Benar-benar anak bandel. Untung saja hari libur, bila sekolah kamu akan terlambat pergi ke sekolah.”

Ayah menimpali sembari menggamit kedua lengan anak kembarnya. “Ya sudah, hayu Bu, Senja. Lumayan jauh lho ke museum, butuh sepuluh menit untuk sampai ke sana.”

Senja mengekori orangtuanya dengan pandangan melamun. Menatap ayah lalu ibunya yang sehat. Senja pun baru sepenuhnya sadar bila udara di dekat rumahnya segar. Cahaya matahari menerpa hangat menjadi tanda waktu pagi yang tidak biasanya. Kemudian tanpa sengaja, pandangannya berlabuh ke arah gunung.

“Tidak mungkin,” ucap Senja lirih. Benar-benar gunung yang dilihat di tahun 2021. Gunung yang sangat dirinya idamkan, kini terlihat dari kejauhan. Hijau, gagah dan segar dipandang. “Bu, ini tahun berapa?” Tahu-tahu mulut Senja menceplos sebuah pertanyaan konyol.

“Ini, nih! Begadang terus, ingatanmu jadi bermasalah.” Ibu menjawab sebal sembari menaiki transformasi canggih yang baru-baru ini diproduksi. “Sekarang itu tahun 2121!”

Senja manggut-manggut menanggapi jawaban ibunya. Senja sekali lagi memandangi gunung juga bangunan-bangunan yang ada di sekitarnya. Walau ini seperti mimpi, setiap bangunan yang berjajar tinggi itu diselipkan beberapa tangkai tumbuhan dan pohon besar di sampingnya dan ada juga disimpan di atap bangunan. Senja jadi tahu, dari mana penyebab udara menjadi sangat segar sekarang.

Senja kemudian masuk ke dalam transformasi. Pandangannya terarah ke depan yang menampakkan jalanan kota bersih tanpa serakan sampah akibat banjir. Tak ada bekas debu berterbangan akibat puting beliung mengembus seenaknya. Tanda-tanda bencana lenyap di mata Senja kali ini. Ketidakmungkinan terus terjadi sampai-sampai dirinya kelimpungan mencari jawaban sendiri, yang ia lakukan kali ini ialah tertidur sebab matanya memberat ngantuk.

Benar ucapan ayah, kota menuju kota, akhirnya mereka sampai juga setelah sepuluh menit duduk diam. Mereka keluar dengan membangunkan Senja terlebih dahulu. Ketika matanya membuka, Senja sudah dipertemukan dengan bangunan besar dengan tulisan “Museum Nasional”.

Memasuki museum dan mulai mengelilingi barang-barang yang dirasa kuno. Mata mereka digunakan tanpa bicara, hanya decak kagum yang keluar, selebihnya hanya memandang. Lalu, dua pasang robot menghampiri mereka dengan emot senyum ramah.

“Selamat datang di museum kami, Museum Nasional! Master Diano menganjurkan kalian untuk menikmati tanpa menyentuh. Di ruang nomor satu, kalian akan dipertemukan barang jaman …,” penjelasan Robot tersebut masih berlanjut sambil berjalan yang diikuti oleh keluarga Senja. Kedua Robot tersebut memberitahu dengan lancar tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di saat pandangan mereka tertuju pada suatu benda antik. Terus begitu, sampai mereka memasuki sebuah ruangan kisaran tahun 2020. Ternyata bukan hanya keluarga Senja yang tertarik mengunjungi ruangan ini, ada juga orang-orang yang didampingi robot-robot ramah.

Senja berjalan lebih awal, penasaran mengapa setelah dirinya memasuki lorong tahun 2021 dan kembali lagi ke jamannya, banyak perubahan yang terjadi. Dunia benar-benar terasa aman ketika keluar saat ini. Senja janggal. Pasti ada sesuatu yang membuat orang terdahulu berpikir panjang tentang alam.

Mata Senja berkeliling. Mobil dan ponsel yang dianggap Senja norak di tahun 2021 itu terpampang jelas di depannya. Senja tersenyum, ternyata barang yang dimiliki Yola sudah tinggal sejarah di tahun ini.

Mata Senja kemudian tertuju pada sebuah bingkai emas. Tubuhnya membeku seketika. “Itu, kan, puisiku?” ujar Senja membaca hasil karya puisi yang diketik di tahun 2021. Di bingkai tersebut jelas disebut siapa yang membuat karya itu:

            Mitos/Fakta, Seorang Gadis masa depan yang dipercaya turun ke tahun 2021 meninggalkan puisi untuk manusia: Senja. 

Sekarang Senja tahu salah satu penyebabnya. Mengapa bisa dengan mudahnya dunia berubah. Selain dengan kehendak dan permohonan Senja kala itu kepada Tuhan yang Maha Kuasa, dengan manusia terdahulu disadarkan lewat kata-katanya, lewat hal yang hanya dibaca tetapi bisa menyentuh kepada perubahan. Dan Senja menganggap puisi dengan majas biasa ini sedikit menyadarkan para manusia akan alam dunia.

Air mata di pelupuk Senja mengalir, dia terisak pelan. Sudah berapa kali lengan itu mengusapnya, air mata itu tetap tak surut juga. Tapi Senja tak menyesali itu, tangisan ini sebagai bentuk hadiah baginya karena telah memberikan jasa kecilnya di masa lalu yang sedikit mengubah pola pikir manusia sampai saat ini.

Raih bintang untuk dunia benar-benar terkabulkan. Semoga dunia tetap berjalan dengan semestinya.

***

Untukmu, iya kamu yang membaca puisi karyaku ini.

Raih Bintang untuk Dunia

Tahu menahu tantang manusia

Keringat mengalir akali dunia

Hingga akhir menyalahkan pertanda

Sampah sesak mengalir di hari tua

Andai kalian tahu

Duniaku bukan lagi duniamu

Napas kami berkedut semu

Tawanya bahkan lemah lesu

Kuingin, hidup kami bukan bekas

Bukan punah, sejarah, cerita basah

Tangis menggelegar kelaparan

Di sini kami hanya sebatas mimpi, nyatanya hampa

Tolong kibarkan diri

Bangkit, kuatkan tekadmu

Untuk kami, si canggih tertimpa derita

Untuk kami, si kaya bersimpuh malang.

Janji bersorak, raih bintang untuk dunia

Karya: Senja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *