Cerpen #166 Jodi dan Rimba

Jodi (25) mahasiswa Ekonomi semester akhir kampus ternama. Dia termasuk mahasiswa berprestasi, bahkan sejak dulu menjadi kebanggaan Ibunya karena kecerdasan nilai-nilai akademiknya. Dia memang hanya memiliki Ibu, sedangkan ayahnya sudah meninggal sepuluh tahun lalu, PolHut yang menjadi korban kebakaran hutan oleh orang tak bertanggung jawab.

Karakter Jodi itu berbanding terbalik dengan Rimba (23) adiknya yang mengambil jurusan Sastra, tidak sekampus, dan lebih sibuk mengurusi kegiatan Mapalanya daripada mengejar ketertinggalan Sks.

Sebagai Kakak yang merasa bertanggung jawab, Jodi sudah berulang kali menasehati Rimba, memberikan kiat-kiat bagaimana supaya bisa berhasil dalam pelajaran mata perkuliahan, apalagi Sastra menurut Jodi adalah jurusan paling mudah disetiap kampus negeri ini. Tapi Rimba tetap santai menanggapinya, meskipun dia tetap menaruh hormat atas segala perhatian Jodi. Ibu mereka juga terlalu demokratis, tidak menekan dan memberi kebebasan terhadap apapun pilihan Rimba, namun sikap Ibunya itu yang justru membuat Jodi kesal.

Pernah di bulan agutus setahun lalu, Rimba 3 hari tak masuk kuliah dan tak pulang ke rumah, dia bersama kawan-kawan mapalanya mendaki gunung untuk melakukan upacara bendera di puncak tertinggi, kali ini membuat Jodi benar-benar marah dan berdebat dengan Ibunya, sebagai lelaki tertua di rumah ini dia merasa berhak untuk memberi ketegasan terhadap sikap rimba yang seakan tak perduli dengan masa depanya. Lantas kenapa Ibunya masih membiarkan itu terjadi?!. Kemarahan Jodi justru dibalas dengan air mata Ibunya, “bukanya tidak perduli dan menyetujui segala kemauan Rimba, tapi adikmu itu memang mirip sekali dengan ayahmu, sejak ibu mengenal ayahmu sampai dia meninggal, alam adalah rumah keduanya, dan itu tidak bisa dilarang”. Mendengar jawaban ibunya itu justru membuat Jodi bertambah marah, “Jika sudah pulang nanti mereka berdua harus berbicara empat mata, kalo memang dia masih sayang Ibu, harusnya dia mikir kalo semua biaya kuliahnya selama ini tidak boleh sia-sia begitu saja”.

Naas tak dapat ditolak, Rimba mengalami luka-luka dan patah kaki karena terperosok di turunan gunung. Kejadian itu membuat Ibu dan Jodi kelimpungan dan cemas teramat sangat. Rimba merasa sangat bersalah, diapun tidak mau dibawa ke rumah sakit dan minta diobati dukun patah saja. Jodi pun berusaha melupakan kekesalanya dalam kondisi rimba sekarang ini, tapi ada perjanjian yang tetap ingin tekankan kepada rimba bahwa ini adalah kali terakhir Rimba aktif sebagai anggota Mapala, selesaikan kuliah, tapi jika masih juga menganggap remeh perkataan Jodi maka jangan anggap dia sebagai kakak. Walaupun bagai simalakama, agak berat untuk mengiyakan, tentu saja Rimba lebih memilih Jodi.

Setelah kejadian itu, kaki Rimba berangsur pulih,, dan dia bisa ke kampus meski menggunakan tongkat. Rimba benar-benar jadi mahasiswa sastra seutuhnya sekarang meskipun tetap berteman dengan kawan-kawan Mapalanya, dia berusaha mengejar semua ketertinggalan mata kuliah. Disamping itu, Jodi sudah berhasil menyelesaikan skripsi, lalu sidang berjalan lancar dan lulus dengan nilai terbaik.

Mungkin karena rejeki atas kecerdasan dan nilai-nilai ijazahnya, beberapa bulan setelah kelulusanya, Jodi lulus tahap administrasi penerimaaan Calon PNS, tapi yang membuat Jodi heran dia sama sekali tidak merasa pernah mendaftar. Apalagi ini adalah seleksi penerimaan PNS di kementrian lingkungan hidup. Lantas setelah dicari tahu ternyata adalah ulah Rimba yang diam-diam mendaftarkanya. Jodi pun bingung, tapi apa salahnya juga dia mencoba, toh menjadi abdi negara adalah sesuatu yang juga membanggakan dan menjamin masa depanya, meskipun dia tidak begitu perduli dengan lingkungan hidup seperti rimba.

Belum diceritakan bahwa dari kecil Rimba sudah terbiasa dan taat mendengar petuah ayahnya untuk mencintai lingkungan. Hanya Rimba yang sering diajak ayahnya ke hutan, menanam bibit pohon, dan berbagai kegiatan pelestarian alam lainya. Jodi bahkan rasanya sama sekali tidak pernah melihat Rimba sembarangan membuang sampah, begitu hemat dalam pemakaian listrik dan air. Di rumah hingga saat ini, tetap Rimba yang slalu konsisten atas kebiasaanya itu. Sedangkan Jodi adalah kebalikanya, kerap diomeli waktu ayahnya masih hidup karena tidak seperduli Rimba terhadap alam dan lingkungan. Jadi dari sini bisa terlihat apa kekurangan dan kelebihan dua kakak beradik ini. Yang mengajari Jodi mengendarai motor adalah Rimba, tapi Rimba sangat jarang mengendarainya dan lebih memilih naik sepeda untuk keperluan yang tidak mendesak.

Jodi lulus murni sebagai PNS di kementrian lingkungan hidup, dan walau bagaimanapun dia cukup senang karena tidak perlu lama untuk memiliki profesi yang jelas. Ada satu orang yang paling berperan dan harus mendapat terima kasihnya, tidak lain adalah Rimba. Karena itu dia berjanji akan mengabulkan apapun permintaan Rimba selagi baik dan bisa dilakukan. Tapi begitu tercekatnya Jodi waktu Rimba bilang dia tidak bisa lagi menjadi anggota Mapala dengan kondisi kakinya yang tidak senormal dulu, tapi dia masih bisa berbuat untuk lingkungan dengan mengumpulkan sampah-sampah untuk didaur ulang, dia pun sudah merencanakan ini sejak lama termasuk dengan anggota pencari sampah dan mesin pendaur ulang yang dibeli secara kolektif bersama kawan-kawanya, tapi dia minta izin untuk menggunakan lahan kosong peninggalan ayahnya yang cukup luas untuk dijadikan lokasi mendaur ulang, dan sekaligus melakukan penghijauan dipinggir-pinggir lokasi lahan tersebut.

Tentu saja Jodi sangat marah, tidak menyangka masih saja adiknya memikirkan berbagai aktifitas yang sama sekali tidak ada nilai ekonominya. Jodi menolak keras, Ibunya pun tidak bisa berkata apa-apa, tapi Rimba baru kali ini membangkang dan yakin dia tetap bisa hidup meski tidak kuliah dan melakukan apa yang menurutnya baik. Rimba pergi dari rumah setelah berpamitan dan mohon maaf pada Ibunya.

………………………………….

Enam bulan sudah Rimba pergi dan tak ada kabar, Jodi mulai sibuk dengan rutinitas kantornya. Sedangkan Ibunya selalu menangis menahan kerinduan kepada Rimba, tapi Jodi tak tahu itu.

Sedangkan Rimba sudah berhasil membentuk organisasi sosial yang mempekerjakan beberapa pemungut sampah untuk didaur ulang, seorang kawan bersedia meminjamkan lahanya secara cuma-cuma karena salut dan sudah mengetahui lama sepak terjang Rimba yang begitu mencintai alam. Bahkan Rimba sering turun langsung mengumpulkan sampah-sampah, hasil sampah yang sudah didaur ulang seperti plastik bisa disalurkan lagi ke distributor yang upahnya cukup untuk membayar gaji pemulung dan menghidupi keseharianya secara sederhana, jadi untuk makan Rimba tak khawatir meski jauh di hati kecilnya juga rindu kepada Ibu dan kakaknya.

Kenapa Rimba mau melakukan semua itu? Dia menuliskan itu semua dalam tulisan karya ilmiahnya, setelah beberapa hari yang lalu mendapat info dari websites kementrian lingkungan hidup bahwa mengadakan lomba penulisan ilmiah tentang “Krisis Iklim”, hadiahnya cukup besar jika Rimba menang dan sudah dinazarkan untuk membeli bibit pohon dan membayar upah para pekerjanya.

Hari itu hujan besar, tapi Rimba masih saja sibuk dengan rutinitasnya bersama para pekerja mendaur ulang sampah. Dan tiba-tiba dia merasa kesakitan, luka di kakinya kembali menganga karena tertusuk paku, dia langsung dipapah hendak dibawa ke dokter, tapi dia menolak karena menganggap luka kecil. Padahal semenjak itu kesehatannya agak menurun dan mulai demam.

Singkat cerita luka di kakinya Rimba ternyata menyebabkan tetanus, dan terlambat diobati hingga racunya sudah menjalar. Ibu dan Jodi sampai di rumah sakit saat Rimba sudah sekarat  dua hari kemudian dia meninggal. Maka terciptalah duka mendalam, terlalu banyak orang merasa kehilangan atas kepergian Rimba, khususnya Jodi dan Ibunya, serta para pekerja dan organisasi lingkungan hidup yang dipimpinya.

Tapi semua sudah terjadi

………………………

Dalam kondisi yang masih sangat berduka, Jodi tetap melakukan profesionalitasnya, berangkat ke kantor. Dan tugasnya hari ini adalah menyortir tulisan-tulisan Karya Ilmiah yang sudah dinilai juri. Lantas betapa terkejutnya dia ketika tahu yang jadi pemenang adalah Karya Tulis Rimba. Dengan mata berkaca-kaca dia membaca tulisan itu tanpa melewati satu halamanpun.

…………………………….

Pandangan menyapu seluruh dinding-dinding kusam yang ada di ruangan ini. Sejauh mata memandang bukan hanya kusam, tapi juga berbagai perabotan kotor seperti tak terawat, termasuk layar smarttv berdebu yang menayangkan siaran tak jelas, berisik berbintik-bintik seperti gangguan sinyal atau tak berantena. Terlihat juga sebuah sepeda motor yang cukup aneh, bentuknya seperti motor matic yang kita tahu, tapi keanehan terlihat pada sebagian bodi depan yang menyerupai moncong pesawat dan ada kipas angin aneh di bagian belakang ; tertutup oleh body motor menyerupai jaring. Seperti tidak pernah dikendarai lagi, dekil dan kempes ban. Hingga kemudian baru diketahui bahwa ini seperti ruang tamu dalam sebuah rumah yang berantakan.

Lantas dikira tak ada nyawa dalam rumah ini, hingga kemudian baru terlihat pemandangan di ruangan lain yang lokasinya cuma beberapa meter dari ruang tamu. Jodi duduk bersama ayah dan Ibunya. Dia dan ayahnya bertelanjang dada, kecuali Ibu yang mengenakan baju yukensi, berkeringat, mengipas-ngipas tubuh dan gelisah sekali menahan gerah. Tak ada suara sama sekali diantara mereka. Hingga terlihat Jodi yang semakin tidak tahan dan sigap menuangkan air dari ceret, air yang sangat keruh tapi tetap diteguknya cepat. “Puihhhh” Seperti mau muntah dan rasanya sama sekali tak hilangkan dahaga. Bersamaan dengan itu sayup-sayup terdengar suara dari TV ; meski agak tak jelas layaknya gangguan signal, memberitakan bahwa tahun 2121 ini krisis iklim dunia makin bertambah parah, akankah betul kiamat?? Tiba-tiba Jodi langsung tercekat, lantas bangkit menuju pintu rumah yang dibuka dan ditutupnya dengan kasar. Jodi terus berlari keluar rumah.

Jodi berlari dengan wajah kalut, terus dan terus berlari. Bersamaan dengan itu kita lihat matahari bersinar dengan terik, situasi sepanjang jalan, gedung dan rumah kering kerontang. Ada lahan yang dulunya mungkin bekas sawah, kebun atau sungai, tinggal tanah kering parah dan pecah-pecah. Tidak ada tumbuhan disini selain batang-batang pohon tua yang sudah mati. Beberapa orang berjalan, terduduk bertelanjang dada, bahkan nyaris tak mengenakan apapun, kegerahan parah. Mobil-mobil dan motor- motor aneh seperti yang kita jumpai di rumah Jodi tadi, terparkir  begitu saja layaknya barang rongsok karat. Ada juga manusia yang  berusaha menghidupkan kran air tapi yang keluar hanya setetes-tetes, pom bensin terbengkalai tapi kok di papan namanya tertulis Pom Bensol, dan masih banyak lagi bangunan-bangunan tak berpenghuni hingga makin mengesankan ini nyaris menjadi kota mati, jika seandainya saja tak ada manusia.

Jordi kelelahan berlari, napasnya tersengal, dia tertunduk lalu terduduk di tengah-tengah jalan yang memperlihatkan segala kondisi centang perenang ini, lalu menangis tanpa air mata, mengusap kasar rambut hingga wajahnya. Tapi tiba-tiba ada suara entah darimana yang mengagetkanya hingga mencari arah datangnya suara.

“Lihat!!! Ini semua karena ulah kalian. Rakus dan bodoh. Semuanya kalian keruk. Mesin dan robot kalian buat hingga kendaraan terbang seperti mimpi kalian ratusan tahun lalu. Tapi sekarang apa?? Kalian malah ciptakan kiamat untuk tempat tinggal kalian sendiri. Bodoh!!! ” Barulah terlihat Rimba di hadapanya.

Tiba-tiba Jodi terbangun. Ternyata dia sedang bermimpi, keringat dingin di sekujur tubuhnya, masih ada rasa takut, lalu terlihat ada buku yang sampulnya tertulis “Krisis Iklim” di samping Jodi .

…………………………………….

Sejak saat itu, Jodi memiliki banyak kebiasaan baru dan cukup terlihat aneh oleh Ibu dan kawan-kawanya. Jodi menanam benih pohon di lahan kosong yang ada di rumahnya, dia juga selalu kesal jika melihat orang sembarangan membuang sampah bahkan hampir berkelahi dengan petugas sampah yang membuangnya ke sungai, dia tidak lagi boros menggunakan listrik dan air ; saklar dan kran harus mati setelah digunakan, akun medsosnya juga lebih sering mengshare tentang hal-hal berkaitan dengan pelestarian lingkungan dan krisis iklim, dan lebih sering menggunakan sepeda Rimba untuk bepergian yang masih dapat terjangkau. Apakah ada Rimba dalam tubuhnya kini ??

Apa yang ditinggalkan Rimba kini dilanjutkanya, berusaha mencintai lingkungan sebisa mungkin dan dimulai dari diri sendiri. Beberapa tahun kemudian dia menikah dan memberikan seorang cucu untuk Ibunya. Rumah tak lagi sepi. Nama anaknya adalah Rimba….akan mencintai lingkungan dan alam dari hati seluas nama itu.

Selesai.

One thought on “Cerpen #166 Jodi dan Rimba

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *