Cerpen #165 2121

“Berita pagi ini, tepat pada 20 Februari tahun 2121, satu – satunya lahan hijau di bumi telah dialihfungsikan menjadi tempat permukiman masyarakat. Alih fungsi lahan ini terjadi akibat jumlah masyarakat yang membengkak begitu tinggi, selain itu, alih fungsi lahan ini juga terjadi akibat mayoritas masyarakat berpikir jika keberadaan lahan hijau seluas 10 hektar tersebut tak memberikan dampak positif apapun bagi kehidupan manusia”

Pip!

Televisi layar transparan tersebut langsung lenyap seketika saat wanita yang berada di hadapan layar transparan tersebut memutuskan untuk menghentikan kegiatan menontonnya. Jika diingat – ingat, hampir setiap hari pemberitaan negaranya menceritakan tentang lahan yang dialihfungsikan menjadi permukiman masyarakat, lokasi pabrik atau lokasi rekreasi modern. Jujur, wanita itu bosan, namun ia tak bisa mengatakan apapun.

Hah!

Wanita itu menghela nafasnya dengan kasar. Tubuh semampainya bergerak ‘tuk bangkit dari sofa kesayangannya menuju ke jendela kaca yang menghiasi apartemennya. Sesampainya di depan jendela kaca itu, sang wanita mengulurkan kedua tangan lentiknya untuk membuka gorden putih yang sedari tadi menutupi jendela kaca itu.

Kedua netra hitam milik wanita itu menatap pemandangan kota megapolis yang telah ditinggalinya sejak ia dilahirkan di dunia. Asap hitam yang terlihat mengepul menyambut wanita itu di pagi yang seharusnya terasa begitu sejuk, setidaknya, seperti itu yang digambarkan oleh neneknya dulu.

Salah satu tangan wanita itu terulur untuk menekan sebuah tombol yang tak jauh dari bingkai jendela kaca itu, seketika, sebuah jaringan penyaring udara yang terlihat begitu tipis melingkupi jendela kaca tersebut. Wanita itu menunggu beberapa detik, sebelum tangan – tangan lentiknya terulur untuk membuka jendela kaca tersebut. Wanita itu menarik nafasnya dalam – dalam, menghirup udara pagi kota kelahirannya yang telah difilterisasi terlebih dahulu.

Tak ada rasa segar seperti yang dikatakan oleh neneknya, tak ada rasa bahagia yang melingkupi dirinya seperti yang dikatakan oleh neneknya. Ah… Rasanya, wanita itu sangat penasaran dengan kehidupan neneknya dahulu.

Drrt… Drrt… Drrt…

Getaran ponsel yang dirasakan oleh wanita itu di dalam saku celananya berhasil menyentak dirinya dari lamunannya. Tangan wanita itu terulur untuk meraih benda pipih berteknologi canggih tersebut.

Jari – jemari lentik milik wanita itu bergerak untuk menekan sebuah notifikasi pesan yang menghiasi layar ponselnya. Senyum kecil terpatri di wajah cantiknya ketika ia mendapati bahwa pesan tersebut berasal dari sahabat karibnya.

Pagi, Giselle! Hari ini kita jadi hangout bareng kan?

Jadi dong!

Setelah membalas pesan singkat tersebut, dengan rasa semangat yang bergelora di relung dadanya, wanita itu, Giselle, mengulurkan tangannya untuk menutup kembali jendela kaca apartemennya, wanita itu juga tak lupa untuk menonaktifkan jaringan penyaring udara yang sedari tadi melindungi apartemennya dari udara kotor.

Dengan sedikit tergesa, Giselle melangkahkan kedua kaki jenjangnya menuju kamar mandi apartemennya.

Shower dengan air bersuhu dingin,” perintah Giselle pada sebuah monitor yang menghiasi dinding kamar mandinya.

Permintaan diterima.

Kalimat itu muncul pada monitor kecil tersebut sesaat setelah Giselle mengucapkan perintahnya, kalimat itu pula yang mendorong Giselle untuk memposisikan dirinya tepat di bawah pancuran shower yang berada di tengah – tengah kamar mandinya.

Tak perlu waktu lama, air bersuhu dingin mengguyur tubuh Giselle. Mandi dengan air dingin selalu menjadi hal favorit Giselle, mengingat kota tempat tinggalnya selalu terasa panas, mandi dengan air dingin tentu saja akan menjadi kegemaran siapapun yang tinggal di kota itu.

Selepas menyelesaikan kegiatan mandinya, Giselle bergerak untuk mengenakan pakaian kasual favoritnya, kaus putih serta sebuah jeans berwarna hitam, tak lupa, Giselle mengenakan masker dengan kemampuan untuk memfilter udara kotor.

Saat Giselle merasa bahwa ia telah siap, wanita itu langsung melangkahkan kedua kakinya dengan gerakan sedikit terburu menuju pintu apartemennya. Namun gerakan wanita itu terhenti seketika saat kedua netra hitam legamnya menangkap bunga kaktus kecil di atas lemari pendinginnya yang belum diberinya air.

Giselle menepuk dahinya sendiri, sebelum ia melangkahkan kedua kaki jenjangnya menuju dapur kecil yang berada di apartemen itu. Tangan Giselle terulur untuk mengisi sebuah gelas kecil dengan air yang berasal dari kran wastafel.

Dengan sedikit berlari kecil, Giselle mendekati bunga kaktus kecil kesayangannya, wanita itu menuangkan seluruh air yang berasal dari gelas di genggamanya pada kaktus kecil yang dibelinya susah payah satu tahun yang lalu.

“Maafkan aku kecil, aku hampir saja melupakanmu,” ucap Giselle dengan rasa bersalah yang melingkupi hatinya.

Di kotanya, hanya kaktus lah tanaman rumah yang dapat bertahan hidup untuk waktu yang lama. Hal ini tentu saja karena kaktus memang tercipta untuk dapat bertahan di situasi yang ekstrem, seperti situasi di kota Giselle saat ini. Karena kemampuan tersebut, kaktus menjadi tanaman yang diincar oleh banyak orang, terutama mereka yang merindukan tanaman – tanaman hijau, hal itu juga lah yang membuat kaktus masuk ke dalam kategori tanaman kaum elite, karena tanaman itu memiliki harga yang begitu mahal dan tanam itu sangat langka untuk dimiliki secara bebas.

Setelah Giselle menyelesaikan kegiatannya itu, ia melangkahkan kedua kakinya dengan gerakan sedikit terburu menuju pintu apartemennya. Tangan lentik wanita itu terulur untuk menekan tombol pembuka kunci otomatis pintu apartemennya. Saat Giselle sudah berada di luar apartemennya, pintu itu langsung tertutup dan mengunci secara otomatis.

Giselle melangkahkan kedua kakinya sedikit tergesa menuju ke luar lingkup gedung apartemennya. Kali ini, Giselle berinisiatif untuk pergi ke tempat pertemuannya dengan sahabat karibnya tanpa menggunakan bantuan transportasi, hal ini tentu saja dilakukan oleh Giselle dalam rangka menghemat biaya hidupnya.

Hari ke hari, biaya transportasi umum di kota Giselle meningkat begitu tajam. Giselle tau pasti, penyebab kenaikan biaya transportasi tersebut dikarenakan harga bahan bakar minyak yang melejit begitu tinggi, hal ini merupakan buntut dari sulitnya akses masyarakat pada bahan bakar minyak karena keberadaannya yang sudah mulai langka.

Tahun demi tahun, lautan di bumi terkikis habis dikarenakan proyek reklamasi yang digalakkan oleh pemerintah tanpa adanya diiringi usaha untuk menjaga ekosistem laut, selain itu, pembuangan limbah pabrik yang langsung menuju laut bebas juga berhasil merusak ekosistem lautan, hal ini lah yang menjadi penyebab para penambang sangat sulit untuk menemukan minyak dan gas yang seharusnya tersimpan begitu melimpah di laut.

Disamping menjaga lautan agar minyak dan gas alam tetap terjaga, pihak pemerintah dan swasta lebih memilih untuk mengambil langkah teknologi dalam memaknai hal ini. Mereka, pemerintah dan swasta, berlomba – lomba untuk menciptakan kendaraan bermotor yang memanfaatkan teknologi canggih.

Giselle kembali menambah kecepatan langkah kakinya menuju café yang telah menjadi tempat favorit dirinya dan sahabat karibnya itu bertemu.

Hari ini merupakan hari minggu, seharusnya masyarakat di kota ini beristirahat dan menghabiskan quality time bersama keluarganya atau dirinya sendiri, namun sepertinya hal itu tak berlaku di kota ini.

Giselle menatap jalanan hitam yang dipenuhi dengan berbagai kendaraan yang terlihat sedang terjebak macet. Mereka semua saling berlomba – lomba untuk mengadu kekencangan suara klakson mereka, hal itu tentu saja telah berhasil merusak suasana minggu pagi yang seharusnya terasa tentram.

Hah.

Giselle menghela nafasnya, wanita itu mencoba untuk tak peduli dengan keadaan disekitarnya, seperti yang biasa dilakukannya. Wanita itu terus mempercepat langkahnya hingga kedua netra hitamnya mendapati sekelompok komunitas yang sedang berdemo tepat di depan kantor pemerintah yang bertanggung jawab atas kondisi lingkungan.

Para pendemo itu mengangkat tinggi – tinggi tablet mereka yang menuliskan segala keluh kesah mereka terhadap pemerintah yang senantiasa bungkam akan keadaan yang sedang terjadi, tak hanya itu, mereka juga membawa sebuah papan besar dan mengaktifkan tampilan proyektor pada papan tersebut agar para aparat pemerintah yang bersembunyi di balik gedung mewah itu dapat membaca dengan jelas tuntutan dari para pendemo.

Giselle menggelengkan kepalanya ketika ia mendapati tindakan para pendemo itu yang terlihat begitu sia – sia. Semuanya sudah terjadi dan seperti yang sudah – sudah, tak akan ada yang berubah.

“Giselle!”

Tubuh Giselle tersentak ketika ia mendengar suara sahabat karibnya meneriaki namanya dengan begitu lantang. Senyum seketika langsung menghiasi wajah cantik milik Giselle saat ia melihat sahabat karibnya tengah berlari kecil ke arahnya.

“Kenapa kau harus turun ke jalanan? Kenapa tidak menungguku di dalam café saja?” tanya Giselle dengan sebuah kerutan tipis di dahinya.

“Lebih enak kalau berdua seperti ini,” jawab sahabat karib Giselle tersebut dengan tangannya yang sudah terulur untuk melilit tangan Giselle.

Giselle tertawa kecil ketika ia mendengar jawaban sahabat karibnya itu, kedua wanita itu kemudian melangkahkan kaki mereka menuju café yang sudah berada di depan mata mereka. Sesampainya di dalam café, sahabat karib Giselle menuntun wanita itu untuk duduk di area paling pojok, area favorit mereka.

“Shaexa, kau membeli masker baru?” tebak Giselle saat wanita itu telah mendaratkan bokongnya di atas kursi café yang terasa begitu empuk itu.

Shaexa, sahabat karib Giselle, lantas menganggukkan kepalanya untuk menjawab tebakan Giselle tersebut. Sahabat karib Giselle itu melepaskan maskernya dan menunjukkan masker barunya pada Giselle.

“Giselle, aku yakin kalau kau selalu menonton acara berita, apa kau telah mendengar kalau tingkat polusi di kota ini sudah meningkat hingga 195 ug/m3,” jelas Shaexa yang berhasil membuat kedua netra hitam Giselle membola dengan begitu sempurna. Setau Giselle, bulan lalu, tingkat polusi di kota mereka hanya menyentuh angka 180 ug/m3.

“Dilihat dari ekspresimu, sepertinya kau belum tau. Jadi… karena itu, aku membeli masker baru dengan tingkat filterisasi yang lebih canggih. Kau pasti tau kan, saat ini, sudah banyak sekali masyarakat yang terkena penyakit saluran pernapasan,” jelas Shaexa yang dibalas dengan sebuah anggukan oleh Giselle.

“Rasanya, aku akan ikut program percobaan tinggal di Mars jika keadaan iklim semakin memburuk,” canda Giselle yang dibalas dengan tawa renyah dari mulut Shaexa

“Setidaknya, kau harus memiliki 50 buah Lamborghini agar kau dapat membeli tiket program itu,” canda Shaexa yang dijawab dengan sebuah kekehan dari Giselle.

Setelah percakapan singkat tersebut, seorang pramusaji menghantarkan sebuah tablet daftar menu kepada Giselle dan Shaexa. Masing – masing wanita itu terlihat menimbang – nimbang makanan apa yang hendak mereka pesan, hingga sebuah kerutan menghiasi dahi Shaexa.

“Kenapa olahan daging tak tersedia disini? Apa ada kesalahan input daftar makanan?” tanya Shaexa binggung sembari menatap pramusaji yang masih setia menunggu Giselle dan Shaexa. Pertanyaan Shaexa tersebut berhasil menyadarkan Giselle bahwa tak satupun terdapat makanan olahan daging pada list daftar menu yang ada di tablet itu.

“Sebelumnya, maafkan kami atas ketidaknyamanan ini, nona. Sejak satu minggu yang lalu, makanan olahan daging memang sudah tak tersedia lagi di café ini, nona, hal ini karena daging yang semakin sulit diperole,” jelas sang pelayan yang berhasil membuat Shaexa mengangguk paham.

Sejurus kemudian, baik Giselle dan Shaexa telah memutuskan makanan apa yang akan mereka santap di café ini. Selepas kepergian pramusaji tersebut, Shaexa menatap lekat Giselle.

“Ada apa?” tanya Giselle sembari menukikkan salah satu alis tebalnya saat ia melihat tatapan lekat Shaexa.

“Sepertinya aku akan ikut bersamamu dalam program percobaan tinggal di Mars,” ucap Shaexa dengen begitu gamblang. Entah kenapa, ucapan itu terdengar begitu menggelitik mulut Giselle, sehingga wanita itu tertawa kecil.

“Apa karena kau tak bisa memakan daging lagi disini?” tebak Giselle dengan senyum geli yang masih merekah di wajah cantiknya.Tebakan Giselle itu dibalas dengan sebuah anggukan antusias dari Shaexa.

“Seharusnya, kau telah memperkirakan hal ini, Shaexa. Saat ini, manusia saja telah sulit untuk mendapatkan tempat tinggal, terlebih lagi para hewan yang tidak tau apapun. Selain tempat tinggal mereka digusur, para hewan itu juga harus merasakan sakitnya menghirup udara kotor,” ucap Giselle sendu.

Sebagai seorang sahabat, Shaexa dapat merasakan kesenduan Giselle itu. Tangan Shaexa terulur untuk menggenggam lembut tangan Giselle. Dari cerita yang sering dilontarkan Giselle mengenai kehidupan neneknya yang begitu asri, Shaexa paham jika sahabat karibnya itu memiliki keinginan untuk mencecap kehidupan asri itu.

“Apa kita harus terus bersama masalah – masalah gila ini sampai kita mati nanti?” tanya Giselle pada Shaexa dengan suaranya yang terdengar tak seantusias sebelumnya.

“Masih ada kesempatan Giselle. Kita masih bisa merubah keadaan, kau tak boleh berputus asa seperti ini,” ucap Shaexa penuh perhatian.

“Tak ada lagi kesempatan Shaexa, kita tak akan pernah menghirup udara segar lagi, tak pernah menatap pepohonan hijau lagi, tak pernah bercengkrama dengan hewan lagi, semuanya sudah se—

“Jangan berkata seperti itu Giselle! Kau harus memiliki keyakinan yang teguh. Kita masih dapat mengubahnya! Aku yakin, bersama – sama, kita dapat mengubahnya,” ucap Shaexa penuh keteguhan.

Mulut Giselle seketika langsung tertutup rapat, kedua netra hitamnya menemukan binar – binar keteguhan di kedua netra coklat gelap milik Shaexa. Binar – binar itu seakan – akan sedang memberikan Giselle sebuah harapan bahwa ia dapat merubah keadaan kotanya.

Secara perlahan – lahan, seutas senyum menghiasi wajah Giselle. Wanita itu membalas genggaman tangan Shaexa.

“Ya. Kita masih ada kesempatan. Aku yakin, kita masih dapat mengubahnya”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *