Cerpen #163 Burung Gereja Terakhir

MIMPI hanya hidup di kepala anak kecil. Aku meyakininya sekarang. Mimpi indah tentang rumah di atas bukit dekat air terjun yang alirannya memutari rumah itu. Pohon dan rumput menari-nari, meranggas tiap kali pangeran pagi dan putri petang kembali. Kupu-kupu, kepik, atau serangga musim panas yang memekik selalu membawa kesan menenangkan. Aroma api unggun dan sepotong ubi, menyatu dalam tarian angin yang mencubit dinginnya malam. Ini keindahan, katanya, keindahan yang tetap terasa nikmat meski terjadi berulangkali.

Aku ingat betul impian itu. Impian masa kecil, impian yang sering diceritakan Bapak. Katanya, bumi akan tetap indah meski manusia semakin banyak. Bumi akan tetap menawan meski tubuhnya terus diperkosa tambang. Bumi akan tetap sopan meski manusia kerap kasar. Seburuk apapun keadaan yang kau temukan nanti, Bumi akan tetap jadi primadona terbaik untuk kita.

Bapak, andai bisa kukatakan padamu apa yang terjadi hari ini, mungkin kau akan mengasihani Bumi. Sebaik apapun perangai yang kau sebut tentangnya, yang kulihat hari ini tak ada alasan dan pembenaran terbaik selain duka cita, berkabung, dan merenung. Sama seperti orang-orang itu, Pak. Mereka semua bertopeng. Mereka semua berjubah. Tak ada tangan atau kaki telanjang yang berani menyentuh tanah. Tak ada hirup udara segar di pagi buta. Bahkan tak ada salam untuk mereka yang mengingat Esa. Bumi telah menjadi neraka. Neraka yang kita ciptakan dengan teknologi, dengan pikiran-pikiran modern dari milenial dan gen z. Tapi aku lebih suka menyebutnya impian oligarki, sebab mereka sama-sama menghasilkan simpul yang mudah ditebak; kasak-kusuk bagi hasil. Aku ingin menangis jika memikirkan itu.

Dulu, sebelum semua ini terjadi, ada perempuan kecil bernama Greta yang coba mengingatkan kita dengan teguran-teguran kecil. Ia pandai bicara bahasa Bumi, sedang yang lain tiba-tiba menjadi asing yang entah bagaimana tak mengerti bahasa tanahnya sendiri. Ada banjir, mereka mengartikannya takdir. Ada ozon yang menipis, mereka mengartikannya mistis. Bahkan ada yang bicara data tentang polusi udara, mereka artikan mengada-ada, semua bisa diotak-atik katanya. Sama seperti pemanasan global dan krisis iklim, semua mengada-ada! Pikiran dari orang-orang miskin yang tak paham cara dunia bekerja.

Grasberg itu ekonomi, bukan mengeruk Bumi. Pembukaan lahan itu untuk negeri, bukan memangkas Bumi. Cerobong-cerobong asap raksasa hanya sirkulasi udara, sama seperti manusia, pabrik juga butuh buang angin!”

Begitulah mereka, begitulah bahasa purba mereka. Sesulit apapun perkara, bagi mereka terasa seperti kelakar. Kelakar berkarpet merah tentu saja.

Bapak, hari ini aku berdiri di sebuah aula besar yang dulu kau sebut istana. Temboknya tak lagi utuh, atapnya seperti akan runtuh. Aku tak ingat kapan terakhir kali aula ini menerima tamu yang terkesan dengan keanggunannya, atau jabat tangan sigap yang ditangkap mata-mata kamera memenuhi isi berita. Persis di tengah aula ini, potret kejadian itu pernah terjadi di suatu masa yang lalu. Dulu sekali, kurasa tak banyak yang ingat.

Jika kau di sini, kau akan melihat aura kusam dan muram yang lekat di tiap sudut pecahan wajah pemimpin yang pernah berkuasa. Meski aula ini hampir hancur, anehnya potongan wajah mereka tetap bertahan membentuk wujudnya. Seakan menegaskan, inilah wajah-wajah yang bertanggungjawab untuk keadaan kita sekarang. Aula kehancuran, aula yang mencatat pahlawan prasejarah. Ya, prasejarah, mereka musnah pada akhirnya. Tak ada akhir yang lain. Tak peduli mereka disebut pahlawan atau bergelar Doktor Honoris Causa, mereka pada akhirnya selalu terlambat, dan hampir membawa semua orang turut dalam kepunahan. Hampir semua.

Bapak, aku juga memakai topeng dan jubah. Kau pasti tak bisa mengenaliku jika berpapasan. Suara dengus yang memuakkan ini sudah jadi nyanyian kecil untuk hari baru. Sebab kau tahu, tak ada lagi lagu. Tak ada lagi suara emas Swift atau desis Billie Eilish. Semua tahu apa yang terjadi pada mereka. Geladak emas para aktris dan oligarki runtuh ketika mereka sedang di puncak kenikmatan. Muatan-muatan moral yang dicucuk pagelaran besar membuat keadaan makin parah. Merekalah pialang jangka panjang untuk bisnis yang menghancurkan kita semua. Bisnis dan bisnis, hidup adalah bisnis jangka panjang. Dan tanah kita selalu jadi sumber penghasilan utama.

Mereka tak lagi memproduksi hiburan apapun. Bahkan rekaman video atau audio langka. Bukan hanya gas elpiji -yang menusuk dengan kata “untuk masyarakat miskin” saja yang langka, harapan dan cita-cita juga. Tak ada lagi yang berani berharap. Tak ada lagi yang menaruh cita-cita atau mengangkat tangan untuk bercerita sejauh apa cita-cita mereka. Ini kehancuran, bagaimanapun kuatnya kita bertahan sampai sekarang. Entah untuk berapa lama dan anak cucu yang mana.

Orang-orang tak lagi tinggal dalam apartemen mewah atau perkampungan kumuh. Tak ada yang berani berlama-lama di luar tanpa perlindungan. Tapi tentu saja, meski mereka yang tinggal di apartemen mewah dan di perkampungan kumuh adalah rakyat yang sama, tentu kau tahu siapa yang lebih dulu habis dan mati. Tak perlu kira-kira terlalu tinggi untuk itu, sebab kematian selalu dekat pada mereka yang kekurangan. Lebih-lebih di negara seperti ini, yang gagu melihat keadaannya sendiri, lalu berkaca di negara lain dengan ukuran yang jelas berbeda untuk negara yang tak sama. Kadang kebodohan seperti itu lebih mematikan, lihat saja dalam keadaan apa kita sekarang. Bio-gas atau bahkan bio-tech tak menjamin kemakmuran yang merata. Maslahatnya terlalu kecil untuk keadaan yang sudah terlampau buruk. Seperti kata rekanku, kita selalu mendapat solusi jauh ketika masalah itu sedikit lagi menghancurkan kita. Maka tak heran jika kita lebih banyak kalah dan hancur lebih dulu dibanding solusi itu. Namun kau tentu tahu, kitalah sebodoh-bodoh manusia, tak mau disalahkan atas keputusan yang salah. Siapapun orangnya.

INI ekspedisi ke-23. Rutenya melanjutkan rute terakhir ekspedisi ke-22 lima tahun lalu. Meski begitu, ekspedisi kali ini tergolong berat, sebab kami, yang beranggotakan 15 orang harus melewati bekas pembangkit listrik tenaga nuklir yang dulu menghabiskan satu kota karena satu kesalahan manusia. Jika aku boleh berpendapat, tragedi itu terasa lebih mematikan dari Hiroshima dan Nagasaki, karena dampak yang ditimbulkannya memakan waktu lebih dari 30 tahun.

Negara ini dulu tak punya pembangkit listrik tenaga nuklir karena banyak masyarakat menentang rencana tersebut. Tapi apapun di negeri ini selalu berawal dari desas-desus, lalu rencana, lalu uji coba dengan alasan ‘ya kalau tidak pas bisa kita tarik balik.’ Tapi pada akhirnya menjadi kebijakan permanen, tak peduli sekuat apapun demonstrasi membawa hukum jalanan ke rumah pengadilan. Dan ya, mereka bermain-main dengan ancaman, sekarang mereka habis menjadi korban. Ekosistem ini takkan pernah sama bahkan untuk 50 tahun mendatang. Lalu tentu saja, tak seorang pun mau bertanggungjawab untuk semua itu, seperti yang sudah-sudah.

“Yang terburuk dari menjadi manusia adalah kau bisa memilih untuk menjadi benar dan punya kesempatan untuk menolak tuntutan salah. Bahkan meski kau memang bersalah.”

Satu-satunya pesan yang menusuk batinku ketika nenek, yang sempat diceritakan bapak, meninggal karena kanker paru-paru setelah setahun hidup di tengah gempuran kabut asap kebakaran hutan Sumatra.

Sejak itu aku turut dalam kelompok yang menyebut dirinya Greenpeace, dan ikut dalam aksi-aksi solidaritas sebagai relawan ketika terjadi bencana. Sampai akhirnya di tempat dan tugasku sekarang.

Sebenarnya ini percakapan tanpa ujung. Perihal lingkungan atau bagaimana melawan korporasi besar yang mencemari banyak tempat. Ialah Hazel, orang yang mengajakku masuk dalam lingkungan ini. Perempuan itu mengingatkanku pada Greta karena keteguhan dan ambisinya yang meluap-luap ketika bicara tentang tindak perlawanan. Mungkin ia terinspirasi dari Greta, ikon pejuang lingkungan yang patungnya berdiri di tengah kota, sebelum hancur karena serangan udara dari perang negara adikuasa. Ia yang membawa kami dalam perdebatan hebat dengan korporasi tambang uranium di daerah tenggara. Sebab katanya, uranium itu berbahaya. Manusia menjadi bengis karena mereka memiliki senjata, juga curiga yang berdasar ideologi dan agama. Dasar-dasar itu mudah membuat konflik. Dan siapapun tahu ujung dari konflik tak hanya memusnahkan manusia, tapi juga merusak lingkungan.

Sayangnya tak ada yang mendengar dengan baik. Sudah jadi rahasia umum jika orang-orang macam kita bicara selalu diindikasikan sebagai manusia munafik.

“Lingkungan itu ada untuk dimanfaatkan. Semua yang kami lakukan lebih banyak manfaatnya. Orang-orang tahu itu. Kau pikir listrik, kendaraan, dan gawaimu itu muncul dari pohon? Otak zaman batumu itu benar untuk sesama batu! Jangan bawa ke forum serikat.”

Kurasa kata-kata itu melukai Hazel cukup dalam. Ia jarang terlihat sejak perdebatannya dengan lelaki bernama James atau siapapun orang memanggilnya, pejabat korporasi yang membentak Hazel dalam musyawarah nasional hari itu. Mungkin memang benar, setiap hal punya kerapuhannya sendiri, bahkan bagi kami, orang-orang yang peduli pada lingkungan. Ini dilematis memang, ketika hendak peduli pada lingkungan, tapi kita sendiri justru tergantung pada eksploitasi samar-samar yang perlahan menjadi kebutuhan sehari-hari. Jadi untuk apa aksi kita selama ini?

Kurasa Hazel berpikir demikian, selain tekanan dari ancaman pembunuhan yang ia terima, sampai aku dan beberapa rekan menemukannya tewas di sebuah kamar hotel, berselimut di atas ranjang dengan sebotol obat serangga yang kosong. Ia mati bahkan tanpa mengucap perpisahan. Polisi yakin ia bunuh diri.

Kami menguburnya hari itu, tepat di bawah pohon angsana di sudut kota dekat rumah orang tuanya. Ia sering bercerita betapa ia tak mau seorangpun menangis jika ia mati. Aku berusaha menghormati keinginannya. Tapi itu susah untuk rekan-rekan yang lain.

Sejak hari itu, aku ingin mengingat apapun yang telah kulewati selama ini, termasuk dalam ekspedisi setelah kiamat kecil terjadi. Aku penasaran apa yang terjadi pada korporasi yang mendebat kami sangat keras hari itu. Kuharap mereka selamat dan bisa bertindak lebih hebat dari tindakan menghancurkannya dulu.

“Hazel, yang kau takutkan benar-benar terjadi.”

Bahkan dalam ekspedisi kesekian, kami belum bisa memberi banyak hal baik untuk mereka yang selamat. Kami kekurangan makanan, kekurangan sumber daya, juga kekurangan napas. Semua serba kekurangan hari ini. Tapi sedikitnya aku bangga menjadi bagian ekspedisi, sebab kami tergolong orang-orang beruntung yang bisa melihat keadaan tanah air secara langsung, selain dibebankan untuk menemukan lebih banyak sumber daya dan tempat-tempat untuk koloni. Mungkin ini baik bagi sebagian orang saja, karena di satu sisi ini juga berarti misi bunuh diri. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Melewati rute yang telah ditandai dalam peta, mencari apa saja yang bisa dimanfaatkan untuk keberlangsungan hidup. Meski usiaku sudah cukup tua, kepala lima, tapi aku tak mau menyerah dengan keterbatasan tenaga. Bersama 15 orang lainnya aku menyusuri jalan-jalan sepi dipenuhi reruntuhan gedung dan mobil-mobil hancur. Terus mencari tempat terbaik untuk hidup dengan kecemasan terlukis di wajah kami, jika kalian bisa melihat menembus topeng dan jubah, maka wajah kecut itu nampak jelas.

Kami seperti burung Gereja, berpindah-pindah meski menyandang nama tempat singgah paling mulia. Benar saja, julukan ekspedisi kami adalah Burung Gereja. Seolah-olah mewakili namanya, membawa nama tempat singgah namun berpindah-pindah.

Beginilah takdirku. Aku tak mau melihat anak-anakku sedih di surga sana karena melihat tanah kelahirannya tetap buruk sebagaimana terakhir kali mereka melihatnya. Andai Elon Musk itu bisa lebih cepat mengambil keputusan, mungkin aku dan anak-anakku masih bisa bertahan. Tapi aku juga kesal, sebab ia lebih tertarik melihat kehidupan di Mars dibanding menyelamatkan Bumi dari kehancuran. Kadang orang-orang sepertinya memang dikutuk ambisius sekaligus bulus. Aku membencinya untuk itu. Tak perlu kuingatkan lagi padamu, Pak, apa yang terjadi pada lelaki itu. Biar saja ia hidup dengan mimpi-mimpinya sendiri. Bergelung dengan cita-cita yang kau tahu di mana ujungnya.

“Surealis, seperti katamu.”

AKU melihat masa depan di ujung trali besi jendela kaca. Dipisahkan sebatas medium padat setebal 50cm menembus co2 beracun. Tak ada angin sepoi yang meraba wajah di pagi hari, lenyap karena ledakan uranium dilempar bocah-bocah adikuasa yang menyebut dirinya pasukan perdamaian. Tak ada beda dari mereka. Satu kelompok tetap mengaku sebagai baik dalam bertindak, termasuk memulai perang. Asia, Amerika, Eropa, bahkan Afrika, hanya potongan domino yang menunggu waktu untuk jatuh. Ditekan rasa kemanusiaan fiktif dan membawa mereka dalam kepedulian formatif. Untuk itu mereka mengeruk lebih banyak gunung, mencari uranium, mencari sumber daya terbarukan untuk memenuhi kebutuhan mendesak; kantong-kantong mereka.

Pada akhirnya Bumiku kian hancur. Perang, kebutuhan pangan, kebutuhan sandang dan teknologi menjadi izin normatif tak tertulis untuk mengeruk bumi lebih dalam. Di mana-mana muncul Grasberg baru. Di tiap tempat muncul pembukaan lahan baru. Di tiap rumah makin banyak memakan energi untuk hal tak perlu. Itu kenyataan yang membawa kita pada kemusnahan seperti sekarang.

Gaya hidup dengan konsumtif berlebih, menjadikan kita mahluk paling rakus di muka bumi. Era digital ketika apapun bisa diakses dari satu tempat membuat kita malas bergerak. Jangankan untuk membuktikan kebenaran, untuk tahu berapa pohon yang tersisa di sudut rumah dan taman kota saja rasanya tak perlu. Tapi justru itulah yang sebenarnya kita butuhkan. Menjaga berapa banyak pohon yang kita punya. Meski saat itu, terlebih hari ini, menurut para ahli, jumlah pohon-pohon kita takkan bisa menghalau efek rumah kaca dan pemanasan global. Setidaknya kita masih peduli untuk kehidupan yang asri. Sayangnya semua terlambat.

Bapak, aku hanya ingin melihat bumiku seperti dulu. Melihatnya menjatuhkan hujan yang membuat rindu berdebar, membawa lebih banyak kenangan anak-anak kecil berlarian di trotoar. Aku ingin melihat musim panas membuat banyak orang bermain di pantai. Berselancar dan membangun istana pasir, rasanya seperti kemasyhuran. Aku ingin melihat kita semua menghirup udara segar, tanpa kekhawatiran terjangkit virus menular. Iklimku masa depanku, hancur digilas kebutuhan narsistik para pakar.

Mungkin beginilah akan kuingat Bumiku, Pak, sebagai yang terakhir di ujung jalan, sebagai burung Gereja terakhir.

SETELAH sampai di ujung ekspedisi ini aku hanya berharap menemukan satu keinginan untuk berdo’a. Sebab tak ada lagi yang berdo’a sejak lama, Pak. Orang-orang meninggalkan iman mereka di ujung trali besi jendela kaca. Hanya aku, Pak. Hanya aku yang masih berdo’a. Berdo’a untukmu, berdo’a untuk negeri dan Bumiku. Tapi setelah ribuan kilometer kutempuh dan melewati lebih banyak kegelisahan batin karena alamku, aku mulai mengerti mengapa rekan-rekanku tak lagi berdo’a. Seperti katanya, tak ada yang menangkap do’a di neraka.

Lututku lemas, matahari senja sedang berkedut dengan kilatan api meletup-letup saat kulihat ujung ekspedisi kami. Sebentar lagi akan gelap. Aku mulai menangkap maksud rekanku. Terlebih karena kami tak menemukan satu tempat pun yang layak untuk dihuni. Hanya beberapa benda yang bisa dijadikan sumber daya untuk beberapa hari, paling tidak untuk menyalakan lampu lebih lama, juga membuat mobil berjalan lebih jauh.

Aku sepertinya akan berakhir di sini, meninggalkan asa-asaku di ujung sepatu. Bumi dalam pijakan terakhir, terasa lebih dingin dari biasanya. Ada 3 orang yang mati karena lelah, 5 orang lainnya sesak tercekat. Mungkin kematian satu-satunya hal paling dekat saat ini. Tapi aku merasa harus melepaskan sesuatu sebelum itu.

“Maafkan aku, Pak. Rupanya aku mengulang kesia-siaan yang sama.”

Ketika bintang mulai berpijar, ketika Venus bersinar, aku merasakan detak jantung berdebar. Perlahan kian terasa jelas, membuat tubuhku bergidik lemas. Aku jatuh, aku lepuh. Sayup-sayup kudengar ada yang berbisik agar aku melepaskan topeng dan jubah. Bukan rekanku, tak satupun dari mereka bicara. Hanya aku yang dengar, bersimpuh di gunung pasir yang menelungkup puing bangunan.

“Aku ingin berdo’a,” ucapku pada rekan terdekat sedikit berteriak, “untuk terakhir kali.”

“Sia-sia kawan. Tak ada yang mendengarmu di atas sana.” Balasnya.

“Paling tidak ini penghabisan. Tiang sutet itu akan mendengarnya. Atau monas di belakang sana.”

“Terserah kau saja kawan.”

Seketika semua hening, bisu, tak satupun suara terdengar. Jingga berganti muram. Hitam naik perlahan.

Dan mulai malam ini, batinku, kulepas do’a-do’aku.

“Amin.”

30-10-21

Wareng

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *