Cerpen #161 IGDRASIL 2

Kita terlalu lama berunding dan berperang. Isaac Cordal sudah mengabadikannya dalam karyanya yang berjudul Ikuti Pemimpin, tetapi internet lebih mengenal karya itu dengan nama Para Politikus Membincang Perubahan Iklim. Karyanya berupa patung-patung orang yang terbenam dalam genangan air sampai kepala sementara mereka masih tetap khusyu berunding. Demikianlah yang terjadi di masa depan. Akibat terlalu lama berunding, terlalu sering berperang, kita tenggelam. Gunung es di Kutub Utara sudah mencair. Eropa Barat berubah menjadi rawa-rawa raksasa yang hening dan dingin seperti kuburan dan Sahara sudah seperti permukaan Mars yang kering tanpa kehidupan, taka da lagi hewan-hewan yang bermigrasi, kaum pengelana yang mengenal tiap butiran pasir Sahara sudah lama punah. Di sana hanya ada para jin yang sekali-sekala membangkitkan badai pasir kuarsa yang panas. Kombinasi panas dan pusaran angin membuat pasir memadat dan menjadi setajam beling dan melukai semua yang terkena.

Para juragan perdagangan bebas dan media sosial yang berlomba-lomba keluar angkasa tak ada yang kembali. Para pemimpin negara gatal yang menekan tombol peluncuran nuklir. Beberapa peluru kendali berhulu ledak nuklir sempat meluncur dari penyimpanan mereka dari tengah ladang gandum ataupun dari bawah permukaan laut. Beruntung ada yang masih waras yang bisa menggagalkan perintah peluncuran peluru kendali berkepala nuklir, tetapi beberapa sistem perang dengan kecerdasan mandiri menjadi linglung. Sebagian dari mereka menjadi malafungsi. Apapun yang dianggap ancaman segera dimusnahkan. Apapun yang bergerak ditembak, apapun yang bertetanda panasnya mirip dengan semburan panas dari peluru kendali, mereka serbu.

Maka setelah gunung es mencair dan menenggelamkan separuh benua, musim dingin nuklir karena sinar matahari terhalang awan gelap dengan aktivitas peluruhan nuklir yang tinggi dimulai. Pendeteksi radiasi berdetak cepat, tapi tak ada lagi yang perlu mereka peringatkan. Nyaris tak ada. Sebagian besar dari kami sudah mati. Kami diambang kepunahan. Dulu kami memburu burung Dodo, memburu bison, memburu kaum penduduk asli di dunia baru. Setelah itu kami seolah berjaya dan berkuasa, kemudian bertikai, berperang, berunding, berperang kembali dan kenyataannya, sekarang kami nyaris punah. Ada mungkin satu dua seperti aku yang sempat berlindung. Tiap hari kusiarkan berita dan kucoba tangkap sinyal tapi hasilnya belum memuaskan.

Di tempat penyimpanan biji-bijian di Svalbard aku berlindung. Entah sampai berapa lama. Air rembesan dari pegunungan es yang mencair mulai masuk. Tempat penyimpanan biji-bijian dari seluruh tetumbuhan yang ada di dunia masih aman. Mereka ditempatkan dalam ruangan yang dingin dan minim oksigen, pun kalau kebanjiran, mereka tetap aman dalam wadah aluminum kedap air, tapi siapa yang akan menjaga mereka dan menanam mereka. Dimana? Dan kapan mereka bisa ditumbuhkan di tanah? Sinar matahari tak mencapai bumi dan tiap jengkal tanah di bumi sudah tercemar.

Kini aku sedang mengambil unit pemroses pusat dan data dari Delia, robot yang kukirim melintas benua dalam sebuah wahana terbang. Dengan pakaian dan helm pelindung dengan asupan oksigen dan sistem pengatur suhu dan kelembaban otomatis. Seperti yang dikenakan astronot. Untuk udara sedingin ini, satu tarikan nafas tanpa baju pelindung berarti kematian karena paru-paruku akan segera membeku.

Delia bisa kembali ke tempat kami, tapi keseluruhan tubuhnya rusak, aku hanya bisa mengambil unit pemroses pusat dan data dari Delia, dan sebuah kapsul terlindung. Delia hanyalah robot pintar, tetapi jika engkau tinggal sepuluh tahun dengan sebuah robot pintar, maka kau akan menyangka ia pun makhluk hidup sama sepertimu dan ia akan menjadi objek afeksimu. Yang kehancurannya rangka luarnya kita samakan dengan kematian dan baterainya kita samakan dengan nyawa dan kita berkabung ketika teman kita mati dan nyawanya habis. Sinar dari lampu merah kecil di bagian luar tubuh Delia meredup dan kemudian mati tanda baterai habis.

Sesegera mungkin aku kembali dengan kendaraan khusus dataran es dan masuk ke dalam instalasi penyimpan benih setelah aku mendapatkan yang kuperlukan. Sebentar lagi badai dingin akan menyapu. Svalbard adalah padang es, sudah dingin, karena itu pula dipilih untuk tempat penyimpanan benih supaya awet seperti kita menyimpan biji di kulkas. Dan ketika badai dingin melanda, suhunya cukup untuk membuat logam menjadi getas, bahan bakar membeku dan taka da lagi yang bisa dilakukan kecuali berlindung sampai amukan badai lewat.

Untuk menghemat tenaga, aku mematikan lampu di seluruh ruangan dan menyisakan penerangan secukupnya di kabinku dan sisanya untuk pengatur suhu udara supaya aku tidak menggigil. Beruntung para biji tanaman yang ada di ruang penyimpanan perlu suhu yang dingin juga.

Di dalam instalasi penyimpan benih, kusimpan unit pemroses pusat dan data dari Delia di dalam kotak yang terbuat dari logam timbal. Kerapatan logam timbal cukup untuk meredam keradioaktifan sisa-sisa Delia. Untuk sementara waktu. Tentu tak urung akupun terpapar keradioaktifan. Tanda keradioaktifan di kartu sensor yang kutempelkan di baju di bagian dadaku sudah pada tingkat yang harus waspada. Aku harus cepat.

Aku kedatangan tamu. Di dalam kapsul berpelindung ini adalah bayi dari pohon yang kuharapkan bisa menolong planet ini. Kami menyebutnya dengan nama Pohon Kehidupan. Aku menyebutnya dengan nama Igdrasil-2. Karena ini adalah usaha kali kedua kami untuk mendapatkan pohon ini. Igdrasil, pohon dunia yang cecabangnya menyangga rumah Odin dan Thor dan akarnya menyambangi sumur dan mata air kehidupan. Semoga ia pun kini bisa menyangga kembali kehidupan di bumi.

Selayaknya bayi, demikian juga pohon itu. Tampak mungil dalam kapsul berpelindung. Belum cukup umur. Tapi aku akan memeliharanya sampai ia cukup umur. Dengan bantuan unit pemroses pusat milik Delia dan komputer di sini aku membuat berbagai rencana dan perkiraan dengan tujuan utama adalah kelangsungan hidup pohon Igdrasil ini.

Pohon ini harus kutumbuhkan sampai berusia tiga tahun. Untuk kemudian kukawinkan dengan satu pohon Igdrasil yang ada di sini. jika ini adalah pejantan, maka pohon Igdrasil yang ada di Svalbard ini adalah pohon betina.

Adalah Anjali yang menumbuhkan pohon Igdrasil jantan ini di fasilitas penyimpan benih di India. Delia, dengan wahana terbangnya yang mengambil Igdrasil dari tempat Anjali. Menembus awan radioaktif dan cuaca yang berubah-ubah ekstrim. Delia dan wahana terbuat dari baja dan rangka karbon yang diperkuat titanium, tetapi bahkan mereka harus mengeluarkan semua tenaga untuk menembus atmosfir bumi yang sudah begitu jenuh dengan zarah radioaktif. Belum lagi sistem navigasi yang kadang buta total di tengah badai salju dan pasir yang bergelimang di tiap sudut bumi. Wahana berisi Delia mendarat beberapa kilometer dari fasilitas tempat Anjali berada di India. Anjali segera mengisikan kapsul berisi Igdrasil jantan ke dalam wahana Delia, dan tanpa melakukan cek mesin, wahana berisi Delia dan kapsul segera kembali mengudara mengambil kesempatan udara yang sedang bersih.

Tak lama setelah Delia mengudara, Rahwana Dasamuka, yaitu salah satu sistem perang kendali mandiri milik Federasi India-Pakistan yang malafungsi, menyangka aktivitas panas di fasilitas Anjali adalah musuh, dan meluncurkan satu bom panas. Setelah itu tak terdengar kembali suara Anjali. Anjali-ku. Tapi tak cukup waktu untuk bersedih. Bahkan kurasa semua usahaku untuk mengawinkan Igdrasil hanyalah usahaku untuk bertemu Anjali di seberang sana. Semoga Anjali menungguku di jembatan pelangi sebelum kami melangkah bersama kembali. Tak terasa air mataku meleleh. Aku terbangun. Rupanya aku terlelap perlahan ketika memasukkan data-data ke komputer utama. Dan aku menangis dalam tidurku. Aku bangkit dan menyeduh kopi, mengingat-ingat kembali perjalanan Delia supaya aku bisa merekam semua kejadian dengan tepat.

Dalam perjalanannya menuju Svalbard, wahana terbang yang membawa Delia yang selamat dari incaran mata pemindai panas Rahwana Dasamuka berhasil mencapai Eropa dan segera mengisikan bahan bakar di udara di stasiun pengisian bahan bakar udara tanpa awak satu-satunya yang masih ada di langit Eropa. Delia selamat dari incaran Rahwana karena wahana udaranya yang tidak terlalu banyak menyemburkan panas.

Tetapi memasuki Eropa utara, wahana udara Delia dihantam badai salju. Beberapa jam hilang kontak denganku sampai akhirnya Delia berhasil menghubungiku, ia mendarat darurat, tepatnya jatuh beberapa kilometer dari tempatku. Ia mengirimkan koordinat jatuh dan dengan kendaraan salju aku segera menuju ke sana. Mengambil apa yang harus kuambil dan bisa kuambil dan secepatnya kembali ke pusat penyimpanan benih.

Dan kini aku menunggu badai salju lewat, setelah itu aku akan menyiapkan rencana untuk menumbuhkan Igdrasil jantan sampai cukup umur sehingga ia bisa menyemai benih di Igrasil betina. Di antara banyak biji yang tersimpan di Svalbard, hanya ada satu biji yang merupakan Igdrasil jantan. Pohon Igdrasih jantan itu mati terkulai beberapa saat setelah ditempatkan di ruangan bersama pohon Igrasil betina. Sekarang Igrasil betina tumbuh dengan baik tetapi perkawinan Igdrasil jantan dan betina ini belum saja membuahkan hasil.

Kami memerlukan Igdrasil ini. Setelah keduanya bisa bersatu mereka bisa tumbuh pesat, cecabangnya segera menggapai udara dan aku bisa membuka kubah tempat mereka tumbuh. Selayaknya para dewa, bagi pohon Igdrasil yang sudah kawin, suhu yang membekukan ini bukanlah masalah, dan yang lebih penting, pohon ini bertumbuh dengan memakan zarah-zarah radioaktif. Konon sampai mereka bersinar di malam hari. Konon, Aurora Borealis adalah pancaran ruh para leluhur pohon Igdrasil yang masih menunjukkan jati dirinya. Demikian kabarnya. Pohon ini akan tumbuh, membanyak, akarnya akan saling bertaut sampai zarah peluruhan radioaktif terakhir dikonsumsinya, setelah itu seolah seperti burung Phoenix, maka pohon Igdrasil akan meluruh mati dengan sendirinya, akarnya yang membawa zarah radioaktif itu akan melesak sampai ke pusat bumi. Dan benihnya akan tertanam di dasar sana selama seribu tahun untuk kemudian muncul kembali di muka bumi di waktu yang ditentukan. Hanya sampai di situ catatan arkeologis kami, tapi tak ada yang punya catatan mengenai bagaimana supaya Igdrasil jantan dan betina ini bisa kawin dan berhasil.

Kita membincang cinta, membincang harapan, kadang kita lupa bahwa kita harus membincang pengorbanan. Tiga tahun sudah aku memelihara pohon Igdrasil jantan ini sampai ia cukup umur. Kini saatnya ia berkenalan dengan Igdrasil betina.

Aku mendorong meja berisi pohon ini. Pohon Igdrasil jantan sudah kira-kira setinggi satu meter. Berdaun rimbun dan memiliki batang dan cecabang yang tampak padat berisi, kokoh seperti jalinan otot yang berlatih terus menerus. Kudorong sampai ke ruangan tempat pohon Igdrasil betina. Pohon itu tiga kali lebih besar dan lebih tinggi daripada pohon Igdrasil jantan.

Delia-2. Yaitu robot yang unit pemroses pusat dan datanya adalah milik Delia yang tiga tahun lalu mati dalam tugas, berjalan mendampingiku. Seolah anak dari Delia yang pertama, ia akan kutugasi melanjutkan misi ini, yaitu memelihara kedua pohon Igdrasil ini dan mengawasi pusat benih Svalbard  ini. Sampai nanti pohon ini bisa memusnahkan zarah radioaktif, yang dengan sendirinya akan membuat sinar matahari bisa masuk kembali ke atmosfir bumi. Tahap berikutnya tentu anak Delia akan menanam biji-biji yang ada di tempat penyimpanan. Jika aku beruntung, maka kawan-kawan yang masih hidup di bunker, atau di fasilitas pelindung lainnya, akan mengetahui bahwa kita masih punya harapan untuk hidup. Kita masih punya waktu untuk belajar. Kita sudah mengalami berkali-kali kiamat, dan kita bahkan membangkitkan kiamat itu sendiri dengan perbuatan kita, membangkitkan Dajjal berupa nafsu kita untuk menguasai sesama tapi kita masih diberi waktu untuk hidup di bumi ini. Kalau semua rencanaku berjalan dengan baik.

Aku sendiri penuh harap malam ini aku akan kembali bertemu dengan Anjali. Anjali-ku. Di ujung jembatan pelangi, untuk kemudian kami akan bergandeng tangan menuju alam di seberang dunia yang fana ini. Meniti pelangi. Spektrum sinar yang terpecah itu akan membawa kami menuju tempat yang lebih indah dari sini. Semoga.

Aku melirik ke Delia kecil. Ia mirip Delia yang pertama kalau kubilang. Sudah kukatakan, aku hidup terisolasi, memasuki tahun ketigabelas, sepuluh tahun hidup dengan Delia, dan tiga tahun hidup dengan turunan Delia, maka aku berhalusinasi keduanya adalah makhluk hidup. Ibu dan anak. Ketika induknya mati, Delia kecil lahir dan meneruskan misi kami. Kusebut ini adalah misi Igdrasil-2. Tangan-tangan mekanik Delia kecil yang lentur akan menyemai benih-benih di tempat penyimpanan. Dan Delia kecil, yang terdiri dari mesin dan baja itu akan hidup sangat lama. Baterainya bisa bertahan dua puluh tahun dan kurasa kalau aku berhasil mengawinkan kedua Igdrasil, waktu dua puluh tahun adalah waktu yang sangat panjang dan tentu kalau aku berhasil, sinar matahari akan bisa masuk kembali ke bumi. Delia kecil bisa mengembangkan panel mataharinya untuk mengisi baterainya. Oksigen akan melimpah. Seolah aku menekan tombol ‘atur ulang’ pada sebuah gawai, demikian juga aku mengatur ulang kehidupan di bumi ini. Kita masih diberi waktu untuk belajar. Aku mengucapkan selamat tinggal kepada Delia kecil yang menunggu di luar ruangan tempat aku dan kedua Igdrasil berada. Seperti hewan peliharaan yang setia. Delia kecil akan menungguku di depan pintu dan akan tersambung dengan kamera yang mengawasi apa yang terjadi di ruangan tempat aku dan Igdrasil berada.

Ada satu rencana cadangan kalau perkiraanku ini gagal. Delia kecil akan mencoba menanam semua benih yang ada di kubah dan berharap keajaiban terjadi.

Duduk bersila di antara kedua pohon itu, setelah menghela nafas, aku mengambil pisau dari saku bajuku. Kulukai jari manisku, kiri dan kanan. Aku iris bagian batang pohon Igdrasil jantan dan betina. Mungkin aku berhalusinasi tapi aku seperti mendengar keduanya menjerit. Kemudian kutempelkan satu jari manisku yang mengucurkan darah di tempat luka di batang pohon Igdrasil jantan dan jari manisku yang lain di batang pohon Igdrasil betina. Perlahan darah membasahi permukaan batang pohon yang terluka, dan kemudian seperti yang kehausan, kedua pohon itu menyesap darahku, perlahan tapi pasti. Mataku mulai berkunang-kunang.

Adalah satu data yang dirahasiakan oleh Anjali dengan kode-kode yang hanya kuketahui yang ada di Delia yang pertama yang menjelaskan semua ini. Data itu berisi rekaman dari Anjali, ia menjelaskan bahwa seperti juga dalam mitologi, Odin menggantung dirinya sendiri di pohon Igdrasil untuk mendapatkan kesaktian, maka pohon ini pun memerlukan pengorbanan bagi yang meminta kepada mereka. Adalah mereka yang tahu cinta dan tahu rasanya ditinggalkan yang pengorbanannya diterima oleh kedua pohon ini. Anjali menjelaskannya dengan setengah hati dalam rekaman itu. Rasa ragu-ragu yang tak perlu. Dengan senang hati kujalani pengorbanan ini karena aku ingin bertemu dengan Anjali di alam sana.

Di antara peningnya kepalaku karena mulai kehilangan banyak darah, aku melihat kedua pohon itu bersinar, merah seperti darah, bersinar hijau seperti sinar yang dipancarkan oleh logam tembaga jika dibakar, bersinar kuning keemasan seperti matahari yang terakhir kulihat adalah tiga belas tahun yang lalu. Sulur dan rantingnya mulai seperti meronta meminta penutup kubah untuk dibuka, akarnya mulai mendongkrak lantai tempat mereka berada, menembus bumi. Kumelihat ke atas, di antara awan gelap hitam zarah radioaktif, ada pendar biru tanda dedaunan dan cecabang pohon Igdrasil mulai mencerna zarah radioaktif.

Bandung, 3 Nopember, 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *