Cerpen #159 Hutan dan Bisnis

Dibalik kaca gedung pencakar langit yang berdiri kokoh di ibu kota, langit yang sudah mencapai jingganya seakan berpadu dengan milyaran tetes air yang jatuh menimpa. Perempuan dengan rambut bob dan memiliki tinggi 160 cm itu tengah berdiri di samping jendela besar dengan pemandangan hujan di sore hari ini. Baruna Qirani, perempuan yang mencapai usia 24 tahun sedang berkecamuk dengan pikirannya sendiri. Memikirkan bagaimana alam bisa bekerja sebaik itu, walaupun manusia selalu mengacaukan rencana mereka.

Memiliki gelar sarjana hukum di universitas ternama tak menjamin dirinya bisa bekerja di bidang hukum. Seperti saat ini ia malah harus bekerja di sebuah perusahaan properti dengan banyak nya pembangunan yang berlangsung. Sangat berbeda jauh ketika dirinya tamat SMA 7 tahun lalu, ia memimpikan bisa berkuliah di jurusan ilmu lingkungan, namun orang tua yang membiayai nya malah menyuruhnya untuk berkuliah di fakultas hukum.

“Ayolah nak turutin permintaan ayah mu itu, walaupun ibu sama ayah selalu nurutin permintaan hasil bangkangnya kamu, tapi untuk kali ini saja ya? Anggap aja ini permintaan terakhir ibu sama ayah.” Mendengar kalimat itu terjun dari mulut ibunya membuat perempuan yang sering disapa rani itu menciut dan pada akhirnya menurut.

Rani sangat mencintai alam yang selalu menemani selama hidupnya. Bagaimana semua aspek yang di alam bekerja sesuai dengan apa yang menjadi tugas mereka semua. Namun, nasib baik tak selalu menimpanya ia malah harus berkuliah di bidang hukum dan sialnya lagi harus bekerja sebagai General Affair Staff di perusahaan properti tersebut. Tugasnya adalah mengurus perizinan dan legalitas perusahaan kepada pihak eksternal. Sangat berbanding terbalik bukan dengan kemampuannya, mungkin hanya sedikit hubungannya dengan landasan hukum yang sudah pernah Rani pelajari tentang itu dibangku perkuliahan.

Kini ia sedang dihadapkan dengan proyek baru perusahaannya, rencananya akan membuat sebuah komplek apartemen dengan daerah perkantoran, beserta hotel dan mall di pulau kalimantan, entah kalimantan sebelah mananya Rani dan seluruh karyawan belum diberi tau lokasi detailnya. Rani yang mendengar itu sangat bergembira dan cemas. Bergembira karena adanya bonus yang akan diterimanya ketika gajian, dan cemasnya karena harus sering lembur karena mengurusi perizinan proyek pembangunan tersebut yang pastinya akan membuat kepala pusing tujuh keliling.

Tak disangka Rani sudah berdiri disamping jendela ruang meetingnya hampir setengah jam, setelah meeting tadi tentang rencana perusahaan nya tentang proyek tersebut hanya rani yang masih termenung di ruangan tersebut.

“Ran, kamu ngapain disini? Bos lagi minta rekap perizinan proyek di Surabaya” teriak Eva, teman sedivisi bersama Rani.

“Eh iya Va, sorry aku malah melamun disini. Nanti aku kirim langsung ke email bos saja.” Balas Rani sambil berjalan bersama Eva keluar ruang meeting dan kembali ke meja kerjanya.

Kegiatan Rani selalu sama setiap harinya bahkan kadang ia mencoba hal baru agar kehidupannya tidak bergelut tentang kantor, rumah, dan percintaan yang selalu tak berjalan mulus sesuai keinginannya. Mengingat Rani yang sangat suka tentang lingkungan membuat ia sering menjadi relawan untuk sekedar menanam bibit pohon dihutan gundul atau membersihkan sungai dari sampah plastik, ia sangat suka melakukan hal tersebut, karena dengan itu Rani bisa bertemu dengan orang baru dan juga bisa membuat lingkungan berjalan lagi sebagaimana mestinya tanpa ada kerusakan akibat ulah manusia. Biasanya Rani akan menjadi relawan tersebut ketika akhir pekan atau tidak ada pekerjaan yang menunggu di rumahnya atau dikantor.

Banyak yang bilang kenapa Rani harus repot-repot melakukan banyak kegiatan tentang lingkungan, padahal ia bisa menikmati hari liburnya dengan bersantai dirumah. Namun Rani selalu berpikir kalau yang ia lakukan seakan-akan untuk kehidupan dirinya sendiri dan anak cucunya nanti, Rani optimis bahwa anak cucunya harus bisa merasakan lingkungan serta udara yang sehat di masa depan nanti.

Lupakan tentang itu Rani hari ini masih bergelut dengan komputer beserta surat-surat yang menumpuk di mejanya. Perempuan dengan kaki yang sedikit jenjang itu harus menyelesaikan seluruh laporan hasil perizinan proyek yang akan dibangun atau yang akan resmi dibuka. Manajer yang langsung mengawasi setiap laporan yang Rani kerjakan seakan tak memberi ampun jika laporan tersebut tidak selesai tepat waktu.

Jum’at yang cerah dimana ibukota berkegiatan seperti biasanya, klakson-klakson kendaraan seakan harmoni yang tak enak didengar itu membuat Rani pusing pagi ini. Bagaimana tidak hari ini yang seharusnya ia bisa merasakan detik-detik akhir pekannya namun harus disibukkan dengan perintah baru manajernya, yaitu mengikuti agenda rapat manajernya itu dengan pengembang yang di Kalimantan. Proyek yang katanya akan resmi dibuka pembangunannya pada bulan Januari itu harus segera diselesaikan perizinannya akhir bulan ini, sekarang saja sudah tanggal 15 bulan September yang artinya ia hanya memiliki waktu 15 hari untuk perizinan tersebut.

Sesampainya dikantor Rani sudah memasang muka kusutnya, mengingat yang harus ia lakukan hari ini. Pagi yang seharusnya diisi dengan semangat namun Rani sudah dibuat kesal perihal satu perkara.                                                    “kamu kenapa Ran, pagi-pagi udah cemberut gitu mukanya?” tanya galang, office boy yang bekerja di lantai 8 gedung milik Shaun The Build Group nama perusahaan tempat Rani bekerja.

“Pak Jano minta buat temenin dia meeting hari ini, sama nyuruh aku buat laporan perizinan proyek di Kalimantan. Gimana ga kesel, dikasih taunya baru tadi malem di grup chat lagi, bukan langsung WA aku.” Jawab Rani sambil lesu berjalan ke meja kantornya.

“Sabar ya Ran, Bos manajer memang gitu. Semangat Qirani…” Galang hanya menampilkan senyuman terbaiknya.

“Jangan panggil aku gitu, Rani aja. Bye the way terima kasih Galang semangatnya, selamat bekerja” Senyum Rani dengan menampilkan kedua lesung pipinya, dan hanya dibalas anggukan oleh Galang yang lanjut mengelap kaca pembatas antara ruang staff dan ruang Pak Jano selaku Manager divisi tempat Rani bekerja.

Sembari menyesap segelas es americano, Rani kini duduk menunggu tim pengembang yang akan melaksanakan proyek pembangunan di pulau yang terkenal sebagai pulau terbesar didunia itu yaitu pulau

Kalimantan. Sementara Pak Jano yang menjadi alasan kenapa Rani duduk di Caffe yang dominan dengan perpaduan warna putih dan coklat kayu, sedang menandatangi laporan yang telah dibuat divisi nya untuk masuk menjadi arsip perusahaan sebagai dokumen izin atas proyek yang telah dilakukan sebelumnya.

Kurang lebih lima belas menit menunggu akhirnya tim pengembang datang, dengan seorang perempuan dan tiga orang laki-laki dibelakangnya. Kebetulan yang mereka duduki adalah area private jadi tidak begitu ramai dengan suara pengunjung lain.

“Selamat pagi Bu Yuna, senang bertemu dengan anda. Bagaimana kabar ibu? Dan salam kenal saya Jano Atjaya selaku manajer dari divisi general affair dan perwakilan, Shaun The Build Group dalam proyek ini, senang bertemu dengan kalian” Sapa Pak Jano sembari menyalami seorang wanita sekitar berusia tiga puluhan akhir itu, yang ditangkap Rani sebagai perwakilan tim pengembang untuk proyek di Kalimantan itu.

“Kabar baik Pak Jano, senang bertemu dengan anda juga. Dan ini?” Wanita yang disapa Pak Jano Bu Yuna tadi memandang Rani, yang langsung dibalas senyuman dan hendak menyalami wanita tersebut beserta laki-laki yang berdiri disamping Bu Yuna itu.

“Saya sendiri Baruna Qirani selaku staff dari divisi yang sama seperti Pak Jano tempati, senang bertemu dengan anda Bu Yuna dan kalian semua” balas Rani ramah tak lupa dengan lesung pipinya yang selalu menjadi daya tariknya.

“Saya kira kamu sekertaris Pak Jano. Dan mereka bertiga adalah perwakilan dari perusahaan kontraktor beserta perusahaan kerja sama untuk pembangunan di Kalimantan nanti.” Tunjuk Bu Yuna kepada ketiga lelaki yang hanya tersenyum sambil menenteng tas berisi berbagai dokumen.

“Saya belum sehebat itu untuk memiliki seorang sekertaris, bu Yuna” Kekeh Pak Jano kemudian mempersilahkan Bu Yuna beserta ketiga lelaki perwakilan dari perusahaan kerja sama itu.

“Pak Jano bisa saja, baik kalau begitu langsung kita bahas saja tentang proyek tersebut dan sistematis perizinan pembangunannya juga” Mereka pun melanjutkan pembahasannya hingga menjelang makan siang itu.

Wanda tak habis pikir mengapa temannya bisa marah-marah seperti itu, dan lihat akibatnya bantal sofa yang tadi masih terbalut kain dominan abu-abu itu sudah hampir robek akibat cakaran Rani temannya itu.

“Kamu kenapa sih Ran? Daritadi aku tanya malah nyerocos aja, tu lihat sarung bantal sofa ku sampai mau robek. Pergi aja deh dari apartemen aku” ucap Wanda teman semasa kuliah Rani yang kini bekerja sebagai jaksa di kejaksaan agung, itu semua berkat paman Wanda yang juga sebagai jaksa di kejaksaan agung.

“Hehehe jangan gitu lah Wan, kamu kan temen ku yang baik banget” ucap Rani sambil memunculkan gigi rapihnya, namun malah dihadiahi pukulan dari tas Wanda.

“kenapa sih kamu marah-marah gitu?aku tanya malah jawabnya hutan Kalimantan-Kalimantan itu” tanya Wanda sambil mendengus.

“itu Wan, jadikan perusahaan ku mau bikin proyek pembangunan gitu di Kalimantan. Tapi kata pengembang nya bakalan buka lahan di hutan daerah Kalimantan Timur”

“ya terus kenapa? Bagus dong disana juga harus ada pembangunan buat warga disitu. Aku denger juga bukannya disana bakal jadi ibukota yang baru juga kan?” merasa heran karena apa yang dibicarakan Rani adalah hal yang normal.

“bukan gitu wanda, masalahnya perusahaan tempatku kerja ini bakalan ambil bagian hutan lindung juga buat resort, dan mereka dengan gampang bakalan urusin dana untuk melancarkan perizinanya ke PEMDA disana”

Tujuh jam yang lalu di meja persegi panjang berisikan enam orang yang sedang membicarakan perencanaan penting itu.

“karena kita hanya mendapat izin hanya setengah kawasan hutan  yang bisa dibuka lahannya untuk pembangunan apartemen dan daerah mall, dan salah satu agenda kita akan membangun daerah resort di dekat kawasan daerah hutan lindung sebagai objek wisata berlibur” ucap salah satu laki-laki dengan rambut sedikit ikal dengan kemeja navy.

“tapi karena itu hutan lindung dan daerah konservasi kita tidak bisa dapat izin dari pemerintah daerah setempat” lanjutnya.

“baik saya akan bilang ke petinggi perusahaan untuk perizinannya dan saya juga punya koneksi untuk menembus pemerintahan disana” balas pak Jano

Rani yang mendengar itu terasa jantungnya berhenti memompa sedetik kemudian, apa Pak Jano tadi bilang? Koneksi? Tidakkah dia tahu bahwa yang sedang dibicarakannya adalah  pilihan tentang hidup dan matinya ekosistem disana yang sangat berpengaruh bagi kelanjutan hidup manusia. Rani tak kuat lagi menahan emosinya mendengar orang-orang yang mengedepankan bisnis dibanding hutan yang bisa menghidupi anak cucunya nanti dimasa depan.

“apa sebaiknya kita ambil daerah yang memang di legalkan saja untuk pembangunan, dibanding harus bayar uang tutup mulut seperti itu ya pak Jano? Resikonya sangat besar terlebih kalo pejabat tersebut ketawan pemerintah pusat apalagi KPK”

“kamu tenang aja Ran, sejauh ini perusahaan dapat menutup itu semua dengan rapat ko” Pak Jano meyakinkan Rani yang sudah dihiasi merah padam di wajahnya yang manis.

“ya betul sekali apa kata Pak Jano saya akan berusaha buat bernegoisasi kepada pihak di Kalimantan Timur untuk kelanjutan perizinan proyek ini, dan untuk anggaran silahkan Pak Jano sendiri yang urus bersama perusahaa, saya akan bekerja sebaik mungkin untuk proyek besar satu ini.” Wanita yang disapa Bu Yuna itu seakan berusaha untuk menutup obrolan dipertemuan siang hari itu. 

“baik Bu Yuna saya harap bisa mendapat kabar baik tentang itu dan untuk anggaran akan saya selesaikan ke salah satu divisi perusahaan secepat mungkin. Terima Kasih atas pertemuan siang hari ini” Pak Jano pun meng akhiri pertemuan tersebut dan berjabat tangan dengan wanita dan ketiga laki-laki tersebut, Rani yang tadi hanya bisa diam karena keterkejutannya, akhirnya sadar dan menyalami mereka semua sambil tersenyum.

Mendengar cerita tersebut dari Rani, Wanda sebenarnya sudah tidak kaget dengan perusahaan besar dan memiliki koneksi untuk proyek-proyek yang harus memiliki proses perizinan sangat susah untuk dipercepat oleh instansi terkait. Bahkan ada beberapa kasus yang Wanda tangani memiliki nilai fantastis demi berjalannya pembangunan atau produksi dari perusahaan swasta.

“sebenernya yang kaya gitu sudah biasa di negeri ini Ran, bahkan banyak. Kalau kamu mau melaporkan kasus ini tanpa ada pihak yang kuat untuk dukung kamu, itu bahaya buat keselamatan kamu sendiri” Wanda merasa khawatir dengan temannya ynag memiliki sifat pembangkang itu.

“kamu tau sifat aku kan Wan, bayangin hutan yang dilindungi itu ada hewan yang mungkin keadaan nya sebentar lagi punah. Kalimantan juga penyumbang oksigen yang besar di dunia dari hutannya, awalnya aku ga peduli karena lahan untuk pembangunanya adalah hutan yang legal untuk dibuat pembangunan”

“tapi pas tau ada hutan lindung yang harus jadi korbannya aku kecewa banget sama mereka yang jahat, dan mereka ga akan selesai sampai disitu Wan. Pasti mereka bakal banyak usaha-usaha yang akan mencemari daerah itu. Aku ga kebayang seburuk apa keadaan Indonesia kalau petinggi-petingginya seperti itu” tambah Rani dan tak terasa air matanya sudah mengalir.

“kok nangis Ran, kamu ga  bisa langsung melawan mereka gitu aja kan? Aku takut sama kenekatan kamu” baru membayangkan temannya itu menghadapi permasalahannya saja sudah membuat Wanda merinding.

“aku akan melawan mereka, kamu mau bantu kan?” apa yang dipikir Wanda selama Rani bercerita terbukti benar dan sekarang dia hanya termenung menatap wajah tak berdosa Rani.

Satu minggu sudah setelah pertemuan mengenai izin yang akan dilakukan perusahaan tempat Rani bekerja. Kini gadis yang sering adu argumen dengan dosen pengajarnya di kampus itu sedang melakukan berbagai rencana agar kegiatan suap-menyuap antara pihak The Shaun Build Grup dan Pemerintah daerah di Kalimantan Timur bisa terungkap. Rani mencoba untuk mengumpulkan dokumen terkait dan bukti-bukti yang ia dapatkan dari hasil menjadi asisten dadakan Pak Jano. Rani terpaksa harus menjadi staff yang bermuka dua didepan manajernya itu, dan ternyata itu memancing keingin tahuan para staff lain yang curiga kepada Rani, namun dengan berbagai tingkah licik yang Rani miliki ia hanya berkata semata-mata demi gaji nya diakhir bulan nanti.

Hari-hari Rani masih seperti biasa, datang ke kantor membuat laporan untuk manjaernya itu dan sesekali menguping pembicaraan Pak Jano dengan petinggi perusahaan untuk suap yang sedang dijalankan.  Rani juga sudah mengantongi beberapa bukti yang diperlukan untuk keperluan kasus yang ia sedang jalani, apa manajernya itu lupa kalau Rani lulusan hukum? Rani pun tak tau pasti.

“Rani apa kamu tidak ingin ikut ayah sama ibu berkunjung kerumah Om Ilyas, Wanda sama papanya juga datang” suara lembut yang dulu sering Rani dengar berubah menjadi kasar seperti saat ini. Ibunya ini sering sekali berubah kepribadian dan cara berbicaranya, Rani juga tak tau pasti alasannya.

“Rani tidak bisa ikut bu untuk sekarang, lagian kalo saya ikut kesana pembicaraannya tak jauh-jauh seputar hukum saja. Lagian ayah sudah pensiun menjadi pengacara, mengapa hobi sekali berkunjung ke Om Ilyas si jaksa itu?”

“kamu ini bicara ketus sekali, kalau tidak mau ikut ya sudah. Lagian dulu kamu ditawari Om Ilyas untuk bekerja dikejaksaan bersama Wanda malah tidak mau”dengusan yang hanya dapat dilakukan Rani saat ini.

“tidak usah dibahas lagi Bu, kalau Wanda yang ditawari pekerjaan itu wajar karena dia keponakannya, lalu saya?” Rani ingin sekali menutup sambungan telepon kalau ia tidak memiliki sopan santun yang selalu guru dan orang tua nya ajarkan.

“ayahmu dan Om Ilyas sudah lama akrab Ran, jadi wajar kalau beliau menawarkan itu ke kamu, tapi kamu malah kerja jadi karyawan di perusahaan itu”

“sudah ya Bu, Rani harus lanjut kerja kalau tidak mau dipotong gaji. Jangan lupa sampaikan salam Rani ke Om Ilyas dan Rani minta tolong buat bahas permasalahan yang sudah Rani bicarakan pada Wanda”

“kalau saja kamu bekerja di kejaksaan pasti tid-“ tutt.. sambungan telepon itu pun langsung Rani akhiri, tidak peduli akan ada ceramah dadakan yang akan diadakan ibunya tentang “Azab Memotong Pembicaraan Orang Tua  Ketika Bertelepon”

Alasan kenapa Rani bisa terjerumus dengan ilmu-ilmu hukum yang susah dicerna adalah kedua orang tuanya, dan berharap Rani bisa bekerja di instansi hukum. Namun mengingat itu bukan mencerminkan dirinya, Rani akhirnya memutuskan untuk mendaftarkan ke perusahaan ini. Shaun The Build Group perusahaan yang Rani percayakan untuk mendapatkan gaji yang besar, namun ia harus menyelesaikan masalah besar yang akan membuat bumi sakit kedepannya akibat orang-orang rakus ini.

“kalo kita bakar aja sekitar 10 hektar hutan lindung itu gimana pak? nanti pihak daerah setempat akan bilang penyebabnya karena suhu udara yang tinggi sama ketidaksengajaan petugas jaga” ucap pria kemeja kotak-kota silver dipadukan celan jeans hitam.

“berarti kita harus sewa orang buat jadi kambing hitam?” tanya pria berbadan atletis dan rambut sedikit panjang menutupi dahi.

“iya pak, nanti untuk selanjutnya kita bisa ambil kesempatan buat jadi pihak perbaikan kondisi sambl membangun resot disitu”pria sekitar tiga puluhan tahun itu masih menerangkan rencanya.

“berapa yang harus saya bilang ke perusahaan tentang pembiayaannya dan saya tidak punya banyak waktu untuk itu”

“saya akan kirim langsung ke email bapak, untuk rincian biaya dan tanggal eksekusinya. Baik pak itu saja dari saya, maaf karena saya harus mengurusi urusan yang lain” 

Percakapan yang sukses hampir membuat Rani lemas dan tidak mampu menopang tubuhnya, ia tak habis pikir dengan manajer sialan nya itu. Bagaimana mereka menyelesaikan masalah besar semudah itu, dan beresiko sekali. Rani tak lupa untuk merekam percakapan di ruangan manajernya itu, awalnya Rani ingin menyerahkan laporan yang sudah ia kerjakan untuk ditanda tangani manajernya Pak Jano. Namun, melihat pintu ruangan Pak Jano tidak tertutup rapat dan melihat ada tamu yang sedang berbicara kepada sang manajernya,

mengurungkan diri Rani untuk masuk ruangan tersebut dan memilih merekam semua pembicraan tersebut karena obrolan mereka yang mencurigakan.

“Kasus terduga suap yang dilakukan perusahaan The Shaun Group Build dan Gubernur Kalimantan Timur senilai 7 milyar rupiah terkuak ke permukaan. Kasus ini terkuak oleh Operasi Tangkap Tangan KPK yang dilakukan pada hari Rabu tanggal 19 Januari 2022, satuan tugas KPK mengungkapkan bahwa Gubernur Kalimantan Timur menerima suap senilai 7 milyar rupiah sebagai perizinan untuk pembukaan lahan di kawasan hutan lindung di Kutai Timur provinsi Kalimantan Timur. Barang bukti yang diamankan KPK dari Haryanto Gubernur Kalimantan Timur saat ini berupa uang tunai dan beberapa surat berharga”

Rani menyesap kopinya di pagi hari yang dingin ini, hujan terus mengguyuri ibukota sejak malam tiba. Televisi menampilkan pembawa berita yang terus membacakan berita terkini dan menjadi buah bibir masyarakat negeri ini di media sosial manapun. Rani tersenyum manis melihat apa yang sedang ia lihat saat ini, mengingat perjuangannya dua bulan untuk mengumpulkan segala macam bentuk bukti kasus yang dilakukan perusahaannya dan instansi pemerintahan terkait. Ini juga berkat Wanda sahabat nya, Om Ilyas beserta ayahnya yang terus mendukung dan mencari cara agar kasus ini masuk kedalam daftar OTT KPK atau (Operasi Tangkap Tangan) KPK. Dan ternyata usaha mereka tak sia-sia mulai dari pengajuan bukti yang ada dan meyakinkan pihak KPK tentang keaslian bukti beserta kerahasiaan pelapor demi keamanan, sudah Rani hadapi sebelumnya.

Kini ada satu lagi yang Rani tunggu dari kegeramannya karena sudah mengganggu alam yang sudah ia cintai selama hidupnya, bagaimana bisa membakar hutan yang dapat menghasilkan oksigen yang dapat menghidupi makhluk hidup agar selalu bernafas. Sementara gas asap hasil bakaran hutan tersebut dapat menambah polusi di udara dan gas-gas efek rumah kaca itu dapat memperburuk keadaan ozon di atsmosfer sehingga suhu di bumi terus saja meningkat tiap saatnya.

“Halo Rani ku sayang, apa kabar?” tanpa salam bahkan permisi Wanda sudah masuk di kediaman orang tua Rani.

“Kamu asal masuk saja wan, kita baru saja bertemu tadi malam. Kamu terlalu berlebihan” balas Rani sarkas yang hanya dibalas tawa kencang Wanda yang sama riuhnya seperti hujan diluar sana.

“aku tadi sudah mengetuk pintu, namun karena suara hujan kamu tidak mendengarnya” Bela Wanda sambil duduk disofa sebelah Rani

“beritanya sudah diterima salah satu tim liputan dimedia berita televisi, jangan cemas seperti itu aku jadi ga lihat sosok Rani yang sesungguhnya.”

“aku hanya.. sedang memikirkan hal lain, kamu sok tahu” Rani yang pura-pura sibuk dengan handphonenya berusaha untuk tidak memedulikan ucapan Wanda.

“iya, aku percaya ahahaha” balas Wanda

“Pukul delapan pagi hari ini, Kombes Ahmad Yasri memaparkan tentang adanya dugaan kasus tentang kesengajaaan pembakaran hutan lindung di Kutai Timur provinsi Kalimantan Timur. Dugaan ini berawal dari adanya kasus suap yang dilakukan perusahaan The Shaun Build Group kepada Gubernur Kalimantan Timur, dan ada pihak yang memberikan bukti kuat tentang dugaan kasus pembakaran hutan tersebut dilakukan oleh perusahaan The Shaun Build Group bersama instansi pemerintah setempat. Kombes Ahmad Yasri menyatakan bahwa saat ini POLRI dan pihak terkait sedang berusaha untuk menemukan kebenaran dugaan aktivitas pembakaran hutan lindung tersebut dan membakar habis sekitar tujuh hektar lahan tersebut.” Pembawa berita tersebut berbicara dengan lancar tentang informasi yang sudah ditunggu-tunggu Rani tersebut.

“Sudah disiarkan bukan beritanya? Aku juga bilang apa, tenang saja mereka ga mungkin lupa tentang berita tersebut. Terlebih lagi pihak kepolisian yang langsung jumpa pers.” Ucap Rani dengan bangga.

“Iya kamu benar Wan, aku ga nyangka bisa bawa kasus ini kepihak berwajib. Kalau bukan karena Ayah, kamu dan Om Ilyas, aku ga mungkin bisa bawa kasus besar ini ke pihak berwajib dan memberi tindakan yang setimpal” balas Rani.

“Ini juga berkat kamu Ran, kamu yang sudah bekerja keras buat mengumpulkan semua bukti-buktinya. Dan untungnya kita punya Om Ilyas yang hebat banget. Selamat Rani atas kerja keras kamu dan menunjukkan kalau kamu benar-benar cinta banget sama bumi ini” Wanda dibuat kagum denga sosok Rani yang dapat menyadarkannya untuk selalu mencintai alam ditengah krisis yang diakibatkan perilaku manusia sendiri.

“jangan berlebihan gitu Wan, aku hanya ingin alam bisa bernafas dengan baik kedepannya untuk lima puluh tahun kedepan bahkan seratus tahun kedepan. Tapi sayangnya aku gagal untuk menyelamatkan pohon-pohon disana” sambil menatao jendela yang hanya menampilkan langit abu-abu Rani berusaha untuk menahan air matanya agar tidak jatuh.

Wanda tidak bisa berbicara lagi setelah mendengar kalimat itu dari mulut sahabatnya. Ia hanya bisa memeluk erat Rani dan mengelus punggungnya bahwa apa yang sudah dilakukan Rani sudah sangat hebat dan Rani tak perlu menyesalkan perbuatan yang bukan kesalahannya itu. Kini satu hal yang Wanda sadari bahwa hutan dan bisnis tak selamanya bisa dikaitkan satu sama lain, mengingat bahwa manusia perlu menyadari sifat serakahnya yang seakan membuat alam jengah tentang keserakahan itu.

Alam dan lingkungan yang setia melakukan apapun yang manusia perlakukan kepada mereka, walaupun sudah tak tahan dan harus sakit dibuatnya. Namun, melihat situasi sekarang yang seakan menjawab atas perlakuan manusia tersebut alam pun mulai menyerah. Lapisan udara yang seakan terus meningkat suhunya dan es yang mulai mencair dibuatnya, lalu berbagai macam krisis iklim yang sudah mulai dirasakan. Ini adalah satu langkah maju yang dilakukan Rani, langkah besar untuk menyadarkan sepenting itu kedudukan alam untuk terus dijaga dari keserakahan manusia. Perjuangan berarti yang dapat dilakukan siapapun demi kesehatan bumi, mungkin esok atau nanti akan ada langkah besar dan perjuangan hebat yang dapat dilakukan siapapun demi kesehatan bumi beserta atsmosfernya. Mengingat akan banyak rintangan yang akan manusia hadapi jika itu semua terlanjur kacau kedepannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *