Cerpen #158 Waktu Bumi

Bumi, 10 Oktober 2071.

Rasa sakit menjalar di sekitar leher dan belakang kepala seorang siswa SMA, ia berusaha membuka kedua mata meskipun sangat berat. Kepalanya berdenyut dan seluruh tubuhnya lemas. Sementara di dada sebelah kirinya tertulis nama Ravez Aezar lengkap dengan bercak darah yang tidak terlalu banyak. Seragam masih melekat di tubuh meskipun sobek di berbagai tempat.

Ravez berhasil membuka kedua matanya dan yang pertama kali ia lihat adalah langit malam. Bintang-bintang terlihat tertutup oleh asap yang cukup tebal berpaduan dengan sinar bulan. Laki-laki itu mencoba untuk bergerak. Namun, tangan kanannya tertimpa oleh batu besar hingga menimbulkan luka kebiruan. Ia berusaha mendorong batu tersebut dengan tangan kirinya yang terluka ringan.

“Tolong …” Ravez berusaha berteriak, suaranya terdengar parau dan sendu. Tidak ada jawaban sama sekali. “Siapa pun tolong …” Ravez kembali bersuara dengan lebih kencang, tetapi hal itu malah membuat kepalanya kembali berdenyut. Ia meringis menahan sakit yang luar biasa dari kepala hingga ujung kaki. Napasnya menderu, tubuhnya bergerak mengikuti helaan napas yang tidak bisa dikontrol.

Tiba-tiba akar-akar pohon timbul dari tanah yang ia tiduri, Ravez melotot terkejut ketika akar-akar itu merambat ke batu besar yang menimpa tangan kanannya. “A-apa ini?” Ravez ketakutan, akar-akar itu semakin meliuk dan mengitari batu besar tersebut. Kemudian, akar-akar tersebut menarik dengan kuat batu yang menimpa Ravez hingga membebaskan tangan kanannya.

Ravez masih memperhatikan akar-akar tersebut hingga masuk kembali ke dalam tanah dan lenyap dari pandangannya. Ia masih tidak percaya dengan keanehan tadi, Ravez menggunakan kesempatan itu untuk duduk dengan perlahan. Bagian tubuh yang paling sakit adalah tangan kanannya yang kini semakin membiru sedikit kehijauan. Memarnya sudah sangat parah.

Laki-laki itu berusaha untuk berdiri sendirian tanpa berpegangan dan berhasil, ia menggerakkan kakinya untuk melangkah walaupun sangat sakit. Suasana malam yang hanya dihiasi cahaya bulan membuatnya kesulitan mencari jalan. Ravez sesekali berhenti untuk membiarkan kakinya beristirahat, kemudian ia melanjutkan langkahnya hingga ia tiba di sebuah jalanan yang sangat lengang. Lampu bersinar temaram di pinggir jalanan dan itu cukup untuk memulihkan penglihatannya.

“Halo?” Ravez bersuara, jalanan yang sedang ia susuri adalah jalanan sebuah perumahan. Ravez berharap ada warga di perumahan itu yang mau membantunya mencari jalan pulang serta menjelaskan kejadian sebelum ia pingsan. Ravez berdiri di sebuah rumah yang tidak asing di matanya, itu adalah rumah Boy, sahabatnya di sekolah. “Boy, halo?” Ravez mengetuk pintu rumah tersebut berkali-kali dan tidak ada jawaban apapun dari dalam.

“Ravez …” panggil seseorang, Ravez celingukan, ia segera mencari sumber suara. “Siapa? Tolong saya, tolong!” Ravez memeriksa di sekitar rumah Boy. “Di sini, Ravez …” suara itu semakin melemah, Ravez menoleh ke belakang, suara itu berasal dari bawah tumpukan kayu berwarna putih.

“Boy?” Ravez mengangkat beberapa tumpukan kayu dan membuangnya ke sembarang tempat. Benar saja, Boy yang memanggilnya dengan keadaan sekarat. Ravez jatuh terduduk di samping sahabatnya itu. “Ravez, tolong semua orang yang ada di sini …” ucap Boy perlahan, darah kembali keluar dari mulut membuat Ravez ngeri melihat kondisinya.

“Bagaimana caranya, Boy? Ke mana orang-orang? Kenapa kota kita hancur begini?” Ravez membutuhkan banyak penjelasan atas kejadian tersebut. “Tolong kami semua, Ravez …” ucap Boy lagi, suaranya semakin lemah dan membuat Ravez semakin tidak karuan. Bagaimana caranya ia bisa menolong orang-orang di seluruh kota yang sangat luas tersebut?

Di tengah kekalutan tersebut, sebuah cahaya putih muncul tepat di depan tubuh Ravez. Laki-laki itu semakin panik dan ketakutan, ia mundur dan terus mundur hingga menabrak mobil yang telah menjadi rongsokan. Cahaya putih itu mendekat dan sebelum Ravez berteriak kencang meminta pertolongan, cahaya tersebut telah menelan Ravez hingga menghilang.

***

Bumi, 10 Oktober 2021.

“Di mana kita?” Ravez kini berdiri dengan tegak di atas sebuah kapal laut yang tengah berlabuh. Di bawah sana, banyak penumpang yang berdesakan untuk turun. Kendaraan pun ikut keluar dari kapal tersebut. Laki-laki berpostur tinggi dengan baju serba abu-abu di sebelahnya hanya diam sambil memperhatikan aktivitas di bawah sana. Ravez kebingungan, ia tidak tahu sedang berada di tempat apa dan bersama siapa sekarang.

“Lukaku? Ke mana lukaku?” Ravez mengangkat kedua tangan ketika menyadari bahwa tubuhnya terasa segar dan tidak sakit. Luka-lukanya menghilang seratus persen, tidak ada sedikit pun luka yang tercetak. “Kamu masih berada di bumi,” jawaban dari laki-laki berbaju abu-abu itu semakin menambah penasaran di hati Ravez. “Siapa kamu? Bumi bagian mana ini? Ke mana robot-robot itu? Mengapa manusia bekerja tanpa dibantu robot?” Ravez memberondong pertanyaan.

Laki-laki di sebelahnya tersenyum miring kemudian mendorong Ravez hingga terjun ke bagian geladak kapal. Tentu saja Ravez terkejut dan berteriak kencang sekali sambil menutup mata. “Hey! Cepat keluar dari kapal. Sebentar lagi kapal ini akan pergi!” bentak seorang pemuda sebaya dengannya sambil mengangkut barang. Ravez menggaruk belakang kepalanya dan memilih untuk cepat-cepat keluar dari kapal tersebut.

“Permisi, ini tempat apa, ya?” tanya Ravez kepada seorang pedagang dengan gaya berdagang yang sangat aneh bagi Ravez. Pedagang tersebut tidak menggunakan hologram untuk menjajakan dagangannya. Ini sangat aneh. Pedagang tersebut mengangkat wajah dan menatap Ravez. “Ini di pelabuhan, Dik,” jawab pedagang tersebut. Ravez hanya mengangguk sebagai jawaban, ia akhirnya melangkah keluar dari pelabuhan.

Ravez melangkah menyusuri kota yang sangat panas itu, keringat bercucuran keluar dari pelipisnya. Ia kemudian menoleh ke arah sebuah banner yang menunjukkan iklan penjualan rumah dengan tenggat pembayaran … 26 Oktober 2021. “HAH?!” Ravez berteriak histeris, ia mendatangi banner tersebut. Banner itu juga sangat aneh dan ketinggalan zaman, tidak memakai hologram serta tidak ada opsi pembelian yang bisa disentuh. Ravez membaca ulang tenggat pembayaran rumah tersebut, tahunnya masih sama, tahun 2021.

Ravez merasa ada yang tidak beres dengan semua ini, ia kemudian mencari banner lain sambil menyeberang jalan. Ketemu, ia menemukan sebuah banner lagi, iklan tentang pameran seni yang akan berlangsung pada 27 Oktober 2021. Tubuh Ravez mendadak oleng, ia sama sekali tidak menyangka ini terjadi pada hidupnya. Ravez menampar kedua pipinya sendiri di pinggir jalan, ia tidak peduli tatapan orang-orang di sekitarnya yang memandangnya aneh. Laki-laki itu mengira ini semua adalah mimpi. Namun, ketika ia membuka mata, ia tetap berada di depan banner pameran seni tersebut.

Ravez menghela napas panjang dan duduk di trotoar jalanan yang berdebu, matahari masih bersinar dengan sangat terik di atas sana. “Hey, apa ini?” Ravez terkejut ketika seorang wanita muda membuang bekas botol plastik di dekatnya. Laki-laki itu berdiri sambil menatap kesal orang asing itu. “Membuang sampah,” jawab wanita tersebut dengan wajah heran. Ravez kemudian mengambil bekas botol plastik tadi dan menyodorkan kembali kepada wanita di hadapannya. “Jalanan bukan tempat pembuangan sampah. Dan juga ini sampah plastik, masih bisa diolah untuk dijadikan sesuatu yang bermanfaat daripada mencemari laut,” ucap Ravez dengan sedikit marah.

Wanita di hadapannya memiringkan kepala kemudian mendekat. “Bukan urusan saya,” jawabnya singkat dan tegas, kemudian wanita itu berlalu dengan angkuh melewati Ravez. Ravez melotot terkejut, ia tidak habis pikir kondisi bumi lima puluh tahun lalu akan separah ini. Apakah mereka tidak menyadari bahwa semua yang mereka perbuat akan ada dampaknya? Apakah mereka tidak menyadari bahwa krisis iklim tengah terjadi di bumi mereka? Apakah mereka tidak berpikir bahwa generasi selanjutnya akan hidup dengan sulit karena perbuatan itu?

Ravez menghela napas panjang dan mendekat ke sebuah taman kota yang tampak gersang. Ia melihat ke sekeliling taman dengan tatapan miris, kemudian mengambil sekuntum bunga yang terlepas dari tanah dengan akarnya entah karena apa. Ravez memasukkan segenggam tanah ke dalam botol plastik dan menanam kembali bunga tersebut di dalam botol. Cuaca panas terasa membakar kulit hingga ke tulang, ditambah taman yang gersang dan sikap cuek manusia terhadap iklim membuat Ravez muak berada di situ.

“Hey!” Ravez berteriak terkejut ketika seorang anak laki-laki seumuran dengannya membuang bungkus permen di dekatnya. Anak laki-laki tersebut ikut terkejut dan menengok ke bawah, ia baru menyadari ada orang di sana. Ravez bangkit dari duduknya dengan tangan kotor.

“Maaf, aku nggak sengaja,” ucap anak laki-laki di hadapannya. “Bukan itu masalahnya, itu bungkus permen jangan dibuang sembarangan, kamu bisa masukkan ke tempat sampah organik,” balas Ravez, anak laki-laki itu mengangkat sebelah alis dan mengangkat bahu cuek. Ia memilih pergi dari sana.

Ravez mengusap dadanya dengan hati yang panas. Bumi ini bukan tempat untuk bertingkah semena-mena baginya. Di tempatnya hidup dan tumbuh, yaitu lima puluh tahun ke depan, ia merasakan bahwa bumi seperti terkuras. Lahan-lahan hijau sulit untuk ditemui, bahkan untuk menanam di pekarangan rumah pun rasanya susah karena tidak ada lahan yang cukup.

Kini, Ravez mengetahui penyebab dari itu semua, ia melihat manusia-manusia menganggap limbah plastik, asap kendaraan, dan penebangan liar adalah hal yang biasa. Ravez melihat ke sekitarnya, benar sekali, kendaraan berlalu-lalang mengeluarkan asap yang berbau, kondisi taman yang gersang, serta sampah plastik berserakan. Ditambah dengan gedung-gedung berkaca yang menambah suasana panas dan gerah itu. Bumi benar-benar darurat sekarang.

“Kamu siapa?” seorang wanita berumur sekitar empat puluh tahun mendekati Ravez. Ravez yang tengah melamun sontak saja menoleh dengan sedikit terkejut. Ia kemudian menetralkan mimik wajah ketika merasa wanita tersebut bukan manusia yang serakah seperti sebelum-sebelumnya. Wanita itu tersenyum hangat kepada Ravez.

“Nama saya Ravez, Bu,” jawab Ravez dengan sedikit tersenyum, ia menggeser posisi duduk untuk memberikan ruang kepada wanita tersebut. “Kamu dari mana, Nak?” tanyanya lagi tanpa melihat ke arah anak laki-laki di sebelahnya itu. Ravez menggaruk belakang kepala dengan gugup, ia kebingungan. Bagaimana jadinya jika ia mengatakan bahwa dirinya datang dari lima puluh tahun ke depan? Saya dari masa depan, Bu. Begitu? Rasanya ia akan segera ditangkap oleh pihak rumah sakit jiwa setempat saat itu juga.

“Saya … Dari perumahan di sana, Bu,” jawab Ravez sambil menunjuk deretan rumah di seberang taman yang baru terlihat oleh kedua matanya. Wanita itu menghela napas dan bersandar di kursi. “Tahun 2071 nanti tempat ini akan hancur dengan bencana, bencana banjir dan longsor yang terbesar sepanjang sejarah umat manusia,” ucap wanita tersebut, hal itu sangat menarik perhatian Ravez.

“Deretan rumah itu akan rata dengan tanah, manusia akan merasakan akibat dari perbuatan mereka,” lanjut wanita misterius itu tanpa menatap sekali pun ke arah Ravez. Ravez merasakan kepalanya mendadak sakit, ia terpejam dan meringis. Kedua tangannya memegang kepala yang semakin berdenyut tanpa bisa dikondisikan. Ia tiba-tiba melihat siluet-siluet kejadian yang menimpanya hingga terluka parah saat itu. Ia melihat keluarganya berlarian tak tentu arah keluar dari rumah, berpencar, dan ia berlari ke sebuah tanah kosong yang gersang. Di tempat itu ia dihantam oleh amukan air dan semuanya gelap.

“AH!” Ravez langsung membuka matanya dan mengatur napas, ia memegang dada yang berdebar tidak karuan. “Kamu ingat?” tanya wanita di sampingnya. Ravez mengangguk patah-patah sebagai jawaban membuat wanita tersebut tersenyum simpul. “Saya tahu kamu Ravez Aezar, cucu dari cucu terakhir saya.”

Ravez terbelalak, ia tidak mampu berkata-kata saking kagetnya. Hidupnya semakin aneh sekarang, entah ini mimpi atau dia sebetulnya sudah mati karena bencana itu? Ravez pun tidak tahu. “A-apa?” laki-laki itu memasang wajah bodoh. Wanita di sampingnya terkekeh dan memberikan sesuatu kepadanya.

“Benih ini bisa kamu gunakan untuk mencegah bencana itu. Selamatkan mereka dengan benih ini, Ravez Aezar,” ucapnya sesaat sebelum pergi meninggalkan Ravez dengan langkah yang cepat. Ravez membuka bungkus yang diberikan oleh wanita itu, ia melihat benih-benih kecil yang jumlahnya luar biasa banyak. “Benih tanaman?” bisiknya sambil mengerutkan kening.

Ravez melangkah keluar area taman, ia menatap sekitar. Matanya fokus mencari sesuatu untuk dapat membantunya menyebar benih-benih tumbuhan ini. Ia melihat toko alat tulis dan masuk ke dalamnya. “Boleh saya bayar dengan emas?” tanya Ravez kepada petugas kasir. Petugas kasir menurunkan kacamatanya sejenak, menatap Ravez dari ujung kepala hingga kaki. “Mana emasnya?” tanya petugas tersebut, Ravez mengeluarkan emas-emas yang ia punya dari kantong celana. Di lima puluh tahun ke depan, ia tidak pernah menemukan alat pembayaran berupa uang, semua berganti menjadi emas.

Petugas kasir menerima emas-emas tersebut dengan senang hati, Ravez mencari barang-barang yang ia butuhkan untuk mendukung usahanya.

“Di tahun 2071 nanti kehidupan bumi akan hancur. Bumi akan menangis karena perbuatan manusia. Apakah kalian sekejam itu membiarkan anak-cucu kalian hidup dalam ketakutan? Bumi ini bukan tempat untuk berbuat sewenang-wenang, bumi juga memiliki batasan dalam memberikan kehidupan kepada umat manusia. 

Penebangan liar, pembakaran lahan, pembuangan sampah sembarangan, peningkatan jumlah sampah plastik, dan pemanasan global akan menghancurkan generasi selanjutnya. Generasi yang seharusnya memiliki hak untuk menghirup udara segar, melihat tumbuh-tumbuhan, serta merasakan hangatnya bumi. 

Krisis iklim itu hanya bisa ditangani oleh umat manusia dengan dimulai dari hari ini. Penghijauan lingkungan, pengurangan penggunaan kendaraan bermotor, pengurangan limbah plastik, serta pengurangan gedung-gedung berkaca akan sangat membantu bumi. Jangan biarkan krisis iklim ini terus berlanjut sehingga generasi selanjutnya yang harus menanggung akibatnya. 

Berhenti menjadi manusia egois yang hanya memikirkan perut kenyang serta dompet tebal dengan merusak bumi. Berhenti menjadi manusia egois yang hanya memikirkan hal-hal praktis dengan merusak bumi. Bumi akan terus berputar, waktu akan terus berlalu, setiap perbuatan pasti akan ada akibatnya. Bantulah bumi dengan memberikan perbuatan yang positif agar kalian juga menerima kebaikan dari bumi. 

Selamatkan generasi selanjutnya yang akan hadir, sayangi bumi ini, dan kurangi kegiatan yang akan menyebabkan bencana di kemudian hari. Bantu bumi, bantu kami, generasi selanjutnya yang akan menikmati hidup di bumi. 

Ambil dan taman benih ini jika Anda termasuk orang yang menginginkan kebaikan dari bumi.”

Ravez memasang papan yang sudah ia tulis itu di berbagai titik pusat kota. Ia menyiapkan banyak papan dan kotak kardus kecil untuk menampung benih-benih tanaman tersebut. Laki-laki itu sesekali mengelap keringat yang terus berjatuhan, terik sekali matahari di atas sana.

Ketika semua papan sudah terpasang, ia bergegas kembali ke pelabuhan untuk menemui orang yang membawanya ke situ. Namun, belum sampai di area pelabuhan ia sangat terkejut dengan suasana di sekitarnya. Ia sudah kembali ke lima puluh tahun ke depan dalam satu kedipan mata. Aneh, ini semua sangat aneh.

***

Bumi, 10 Oktober 2071.

Ravez kini berada di tempatnya bangun dari pingsan dengan suasana yang berbeda, pepohonan rindang menghiasi tempat tersebut, angin segar bertiup memanjakan kulit, serta langit yang bersih tanpa polusi. Ravez tersenyum lebar, senyum tersebut kemudian berubah menjadi tawa puas, hingga akhirnya ia berlari dari sana menuju perumahannya. Semuanya normal, tidak ada jejak bencana atau kehancuran.

Ya, misinya berhasil, orang-orang di lima puluh tahun yang lalu akhirnya sadar dengan perbuatan mereka. Lihatlah, betapa indah bumi yang ia tinggali, manfaat dari bumi telah dirasakan. Bumi pulih dari krisis iklim, tangan manusialah yang mengubahnya. Perubahan sekecil apapun akan dapat mengubah bumi menjadi lebih baik. Ravez tertawa bahagia dan berlari di sepanjang trotoar menuju rumahnya.

-Selesai –

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *