Cerpen #157 Burung Ketigo

Ia sedang mengudara. Mengawasi bumi dari atap alam bernama langit. Kepak sayapnya tak segagah elang, namun kicaunya begitu bermanfaat. Kicaunya yang terdiri dari tiga suku kata itu, memberikan pertanda bahwa musim ketiga (baca:ketigo)/kemarau telah datang. Tugas itu turun temurun dibebankan kepadanya antargenerasi.

Kali ini burung bernama Ketigo itu, sedang memantau mata langit yang bersinar begitu terang. Posisinya bergeser dari Selatan menuju Utara. Tanda bahwa tugasnya akan benar-benar dimulai.

Setelah mengobservasi, ia kembali ke sarang. Di sarangnya yang sederhana dia disambut istri dan anak yang masih dianggapnya mungil. Sudah cukup besar, dan bahkan sudah mampu terbang. Pikirnya, mungkin sudah tiba waktu ia mengajarkan dan menjelaskan tugas turun-temurun itu kepada sang anak.

“Bagaimana, Yah? Kapan mulai bertugas lagi?” Istrinya memulai percakapan sambil memecah biji-bijian menjadi ukuran lebih kecil dengan paruhnya.

“Sepertinya, besok musim kering akan tiba. Biji-bijiannya apa masih cukup Bu?”

“Masih, Yah. Cukup untuk tujuh hari ke depan.”

“Bu, anak kita sudah cukup dewasa. Ia sudah dapat terbang cukup jauh. Apa tidak sebaiknya aku mengajaknya ketika bertugas dua atau tiga hari? Bagaimana menurut Ibu?” Kali ini matanya melirik ke anaknya. Tatapan mereka bertemu.

“Aku siap, Yah! Aku siap!” Kata anaknya yang sudah tak sabar menerima tugas mulia itu.

“Wah, semangat sekali anak Ayah ini. Benar ya, besok ayo kita berpetualang!” Perkataan sang Ayah disambut senyuman tulus sang anak.

“Sebentar, kicaumu apa sudah cukup keras, Nak?” Sayapnya mengelus dahi anak mungilnya itu.

“Apa perlu kucoba sekarang, Yah?”

Eits, jangan Nak! Kalau terdengar manusia malah heran nanti.” Senyum mereka bertemu. Dua senyuman itu bertambah kuat tatkala sang ibu turut tersenyum melihat dua makhluk yang paling ia cintai, saling menyayangi.

Keesokan harinya sang anak bangun lebih awal dibanding yang lain. Ia menunggu sayat  sinar mata langit membelah dan menyinari langit yang sudah berjam-jam dipeluk kegelapan. Kondisi itu, biasanya disusul suara kokok ayam jantan yang saling bersahutan.

“Sudah siap?” Suara itu mengagetkannya.

“Siap dong, Yah!” Lagi, ia tersenyum dengan pandangan terangkat. Maklum, ayahnya lebih tinggi sekitar satu senti darinya.

Mereka terbang bersama. Sambil terbang sang ayah menjelaskan.

“Nak, mungkin kita tak segagah elang. Tak sehebat Rajawali. Namun tugas kita begitu mulia. Mengingatkan manusia akan datangnya musim kemarau. Kita terlahir dengan kicau nama musim kemarau mereka. Mungkin itulah alasan kuat mengapa kita mengemban tugas ini.”

“Iya, Ayah, Aku sangat bangga menjadi burung Ketigo. Suatu saat akan kuumumkan ke seluruh pelosok negeri bahwa kemarau sudah datang.”

“Kemarau membuat manusia kedinginan. Karena mata langit menjauhi lokasi tempat kita hidup. Mereka harus menyiapkan pakaian hangat. Juga tentang musim tanam. Mereka harus menanam tanaman tahan kering di sawah mereka, agar tak repot-repot mencari air untuk pengairan”. Sang anak kini mengerti betapa penting tugas yang akan diembannya nanti bagi manusia.

“Lihatlah, dimana posisi mata langit sekarang?” Pertanyaan itu tak terlalu sulit untuk dijawab. Bukan pertama kalinya ia ikut magang seperti sekarang.

“Ayah sudah memberi tahuku. Tanda kemarau datang adalah bergesernya mata langit dari arah Selatan menuju ke Utara. Esok setelahnya, aku harus membuat pengumuman itu, karena kemarau akan tiba.

“Bagus nak, selanjutnya Kau sudah siap bertugas sendiri. Mungkin musim depan.” Sekali lagi, sang anak merasa bangga. Baik akan jawaban yang tepat, maupun tugas mulia yang akan diembannya musim depan. Ia akan terbang sendiri tanpa dampingan sang ayah.

***

“Pa, Mama sudah janjian ketemu pukul lima sore di kedai langganan sama grup arisan, ayo dong buruan!” Asih, mulai bosan menunggu suaminya mengutak-atik mobil yang mesinnya ngambek. Padahal ganti oli dan servicenya, tak sekalipun terlambat. Rutin.

“Iya, ini sebentar lagi. Ma, apa nggak sebaiknya kita naik motor saja? Toh, kedainya kan cuma berjarak lima kilometer dari sini. Apalagi juga sedang tak hujan. Kalau naik mobil, nih mesinnya aja masih belum mau menyala. Belum lagi nanti kalau kena macet. Ah, membayangkannya saja aku sudah merasa bosan.”

“Coba deh, apa kata teman-teman Mama nanti kalau mereka tahu kita motoran? Huh, malu lah Pa!”

“Hmmm…, Okelah, tapi kalau telat karena macet…”

“Brbrrrrrrrr” Suara mesin nampak menyala hampir bersamaan dengan jawaban Awan terhadap pernyataan istrinya. Keduanya segera masuk mobil. Hawa panas segera terasa sampai di kulit mereka.

“Haduuuh, panas banget, ACnya dong pa, leleh nih make up Mama.”

“Nanti kalau sudah jalan kan nggak bakal terasa panas lagi ma. Kacanya tengah macet nih!”

“Huuuuh! Perhitungan banget!” Asih yang tak sabar pun segera menekan tombol AC yang memang terjangkau oleh tangan di posisi terdingin. Awan hanya menggelengkan kepala.

“Hai jeeeenk!” Suara itu pecah begitu mereka bertemu di lokasi yang dijanjikan. Kedai itu terletak di pinggir jalan. Cukup besar dan ramai. Maklum, Wifinya ngebut, dan buka dua puluh empat jam. Menunya pun nggak tanggung-tanggung. Dari jagung bakar hingga spaghetti tersedia di sana.

Awan masuk setelah istrinya. Hawa dingin terasa sebelum ia masuk ruang kedai itu. Nampaknya ruangan ber-AC. Namun pintunya dibiarkan terbuka. Awan mencoba menutupnya, cukup sulit menggerakkan daun pintu kaca itu.

Dari kejauhan, nampak seorang pegawai kedai berlari kecil menghampirinya.

“Maaf, pintunya rusak Pak. Biarkan terbuka saja. Soalnya, agak susah nutupnya.”

“Ohhh. Iya-iya.” Sebatas itu jawaban singkat Awan.

***

Ia terbang dengan gagahnya. Anak dan istrinya memandang dari kejauhan. Ya, ialah sang anak kini sudah beranjak dewasa. Tiap hari ia mengumumkan bahwa kemarau telah datang dengan kicaunya.

Ketiiiiigo! Ketiiiiiiiiigo!” Kicaunya itu terdengar hingga radius dua ratus meter. Saat lelah ia menyempatkan singgah di dahan pohon biji-bijian. Di sebelahnya juga sedang bertengger kawanan burung pipit. Salah satu dari mereka menyapanya.

“Hai, kawan. Maaf bukan bermaksud menyalahkan. Bukankah ini masih musim penghujan. Mengapa kau sudah mengumumkan bahwa kemarau telah datang?”

“Sudah dua bulan aku mengumumkannya. Bukan itu pedoman tugasku dimulai. Lihatlah, mata langit yang bersinar itu. Itulah pedomanku. Sudah turun-temurun antargenerasi pedoman itu kami gunakan.” Burung Ketigo menjelaskan sesederhana mungkin. Ia maklum, burung pipit akan sulit memahaminya, karena ia tak memiliki tugas mulia sepertinya.

“Ah, aku tak paham tentang itu, yang aku tahu tiga bulan terakhir masih hujan. Itu saja.” Pernyataan itu sekaligus sebuah kalimat perpisahan. Sesaat setelahnya, kawanan burung itu pun meninggalkannya.

“Kawan, jalankan saja tugasmu dengan baik. Kau yang lebih memahaminya. Jangan terlalu dipikirkan apa yang kukatakan tadi.” Teriakan itu masih tertangkap telinga burung Ketigo, membuatnya semakin yakin apa yang ia lakukan sudah benar.

Ia kembali kembali berkicau sekeras-kerasnya agar terdengar oleh seluruh makhluk termasuk manusia di sekitarnya.

Ketiiiiiiiiiiigo! Ketiiiiiiiiiiiiigo!” Kali ini, kicau itu tertangkap oleh telinga Awan. Kebetulan saja, pohon tempat burung Ketigo hinggap berada di dekat jendela rumahnya.

“Ah, apa aku tak salah dengar, Ma? Bukankah itu kicau burung Ketigo?”

Istrinya tak terlalu memperhatikan, karena asyik memainkan smartphonenya.

“Bukankah setiap hari masih hujan? Kenapa burung itu sudah berkicau?” Awan kembali bertanya. Kali ini tak jelas, bertanya kepada istrinya, kepada diri sendiri atau ditujukan kepada alam.

“Sudahlah Pa! Maklum sajalah. Hewan itu kan tak berakal. Gitu aja kok repot!” Smartphone ia matikan. Kali ini guling yang dipeluknya, sambil membelakangi sang suami. Kemudian melanjutkan waktu bersantai menuju tidur siang di hari libur.

Kemarau datang terlambat. Namun Burung Ketigo tetap bertugas tepat waktu. Tugasnya kini tak hanya memberitahukan kedatangan musim kemarau beserta pengaruhnya. Lebih dari itu, burung Ketigo memberitahukan berita penting, bahwa Bumi dalam kondisi bahaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *