Cerpen #156 Upaya Sia-Sia Mengembalikan Kota dan Teluk

DARI puncak bukit ini, saya dapat jelas melihat kota di bawah sana: Sebuah kota pada umumnya, dengan jalan-jalan pendek, gedung-gedung kotak, pohon-pohon aneh kebiruan yang meranggas (padahal sekarang bukan musim gugur), dan sebuah kompleks beton raksasa dengan cerobong serupa megaphone yang raksasa pula. Kota itu bersejajaran langsung dengan sebuah teluk–yang anehnya–memancarkan cahaya kehijauan dan sempat mengundang misteri bagi orang-orang asing, hingga mereka pergi sendiri karena bosan menggali misteri yang semakin digali, semakin amblas saja. Singkat kata, pasir misteri itu semakin dalam dan menyesatkan. Tidak ada ledakan populasi biota, tidak ada tanda pencemaran yang terdeteksi, dan tidak ada dukun yang mengaku telah mengirimkan teluh ataupun mengutuk teluk tersebut.

Anak saya yang pertama, Kasman, terlihat biasa saja menyambut pemandangan ajaib dari puncak bukit. Laut yang berpendar kehijauan menerangi siang bolong, takkan dijumpai di tempat lain, bukan? Saya kira kalaupun ada perairan lainnya dengan cahaya semacam ini, tentu takkan dapat menyilaukan mata, apalagi di tengah hari begini.

Sedang Kasman antusias, Kusman, anak kedua saya memeluk ibunya erat-erat. Saya sendiri tak dapat mengatakan ibu anak-anak saya itu sebagai seorang istri, sebab memang kami bersepakat untuk tidak berikatan, andaikata sesuatu yang buruk terjadi. Pikiran kami dahulu, kalau–amit-amit–terjadi sesuatu pada saya ataupun wanita itu, maka takkan ada suatu kesulitan berarti baginya ataupun saya, karena kami masih berstatus melajang, bukan duda atau janda. Keputusan ini didasarkan atas bencana-bencana mengerikan yang menimpa tetangga kami yang telah resmi berkeluarga di kampung, yang tentu tak perlu diceritakan di sini.

Sayang, kesepakatan manusia terlanggar alam. Wanita yang mendampingi saya itu melahirkan seorang anak, dan seorang lagi beberapa tahun berikutnya. Maka kami pergi dari kampung, menghindari bencana lain cum malu, untuk menjadi keluarga nomaden hingga kini.

“Ibu, mengapa lumut berkilauan di sana berombak? Apakah mereka juga melahap orang-orang seperti di laut?” Kumal dan kelelahan ialah kesan dari wajah Kusman yang telah sepuluh hari berjalan kaki, sedang ia terakhir mandi kemarin lusa. Toilet umum terlalu menjijikkan untuk digunakan dan losmen terlalu mahal untuk disewa setiap malam.

“Tidak nak, mereka takkan melahap kita. Ibu Peri memberkati lumut-lumut itu sehingga mereka bebas bergerak ke sana-kemari, punya siklus geraknya sendiri,” ah andai aku dapat menikahi wanita itu.

Kasman masih tercenung sejak tadi aku mengamatinya, sedangkan Kusman dan ibunya tengah asyik bercakap-cakap. Langit telah menguning senja, laut tetap menghijau, dan semakin banyak pohon-pohon kebiruan yang meranggas seiring kami berjalan mendekati kota itu.

***

DENGAN setelan jas acak-acakan yang saya gunakan sejak berangkat sepuluh hari yang lalu, saya melapor pada manajemen bahwa saya telah siap bekerja, menerima gaji setiap akhir bulan, dan menghabiskan sisa hidup yang monoton dalam kota ini. Persis sebagaimana saya didikte sebuah surat kontrak beberapa hari lalu untuk menerimanya.

Mengingat-ingatnya kembali, cara saya mengetahui pekerjaan ini sendiri pun aneh. Sebuah surat kontrak tergeletak begitu saja di bagian dalam kusen jendela apartemen kami saat itu, padahal seluruh bagian apartemen telah dikunci. Ketika saya meneliti alamat pekerjaan yang tercantum dalam surat kontrak, tidak ditemukan dalam peta, bahkan kurir senior kantor pos yang saya tanyai pun tidak mengetahuinya. Untunglah, dalam surat itu terselip panduan perjalanan ke kota ini.

“Apa pekerjaanku?” Tanya saya pada seorang pekerja yang memandu saya menuju ruang pimpinan. Memang dalam surat kontrak tidak disebutkan jabatan dan tugas saya, hanya beberapa tetek-bengek persetujuan antara pekerja dan perusahaan pada umumnya.

“Tanya sendiri sama Bos,” ia masih menyelidik jas saya.

Hanya suara kaki kami yang membelah kesunyian, selain samar suara mesin dari segenap penjuru lorong yang kami lewati. Saya berinisiatif mencari tahu: “Sepi sekali.”

“Begitulah.”

“Tidak adakah manusia lain?”

“Tak ada, kecuali tiga orang termasuk kau.”

“Seluas ini hanya tiga orang?”

“Yap.”

“Mengapa begitu?”

“Mana kutahu.”

“Mengapa kau tak tahu?”

“Ada hal-hal yang tak perlu kita ketahui, layaknya mulutmu yang akan berubah kehijauan dan menciut, lalu mengelupas dari wajah itu bila kau masih saja bertanya.”

Saya terdiam. Saya mahfum bahwa banyak perihal yang masyarakat sembunyikan, maka ialah hak bagi seorang individu untuk menyimpan satu-dua rahasia. Tepat kala itulah kami tiba di depan sebuah ruangan beton lainnya, dengan sebuah pintu di sisi kiri dan jendela di kanannya. Pekerja tadi telah pergi begitu saja, seketika menghilang dari pandangan.

“Masuk,” suara itu mempersilakan tatkala tangan saya masih mengambang di udara, hendak mengetuk pintu.

Tanpa dipersilakan pula, saya langsung duduk ketika masuk. Sofa krem bermotif kotak-kotak yang saya duduki cukup empuk, namun berbau apek akibat lama tidak diduduki.

Hening. Pria yang duduk di seberang saya itu separuh baya, berwajah ketus dengan kerutan di dahi yang nyaris menyatukan alisnya, seolah-olah akan menyedot batok kepalanya. Meja kayu yang memisahkan kami berdua banyak berlubang oleh rayap, sedang benda-benda hiasan di atasnya cukup aneh: Empat bidak catur berwarna hitam; raja, ratu, dan kedua kudanya. Semuanya terbelah kasar secara vertikal, meski lebih terlihat sebagai bekas terbakar.

Saya membuka “Jadi, emm, selamat pagi Pak. Saya bekerja sebagai apa di sini?”

“Kau lihat ini?” ia mencondongkan tubuhnya ke hiasan-hiasan aneh di atas meja.

“Ya Pak.”

“Kau tak ingin menjadi mereka, kan?”

“Tentu tidak, Pak.”

“Maka lakukanlah perintahku dengan benar: Tugasmu membuang barang-barang di gudang pojok timur ke laut lewat dermaga di dekatnya, setiap hari pukul enam sore tepat,” ia menyulut rokoknya dengan tenang, seolah gedung raksasa di atas takkan meledak selama api dinyalakan olehnya, bukan oleh seorang lain yang ceroboh.

“Oh jangan lupa, ajak anakmu yang kecil ikut serta. Kau bawa surat kontrak yang sampai ke rumahmu sepuluh hari lalu?” Kami membereskan urusan administrasi yang tersisa dan penyerahan sepersekian gaji di muka, secepat mungkin agar saya dapat pamit undur diri.

Aneh sekali, padahal saya tidak mengatakan apa-apa padanya tentang keluarga saya sendiri. Kalaupun tindakan ini ilegal, sebagai penjelasan segala keanehan yang meliputinya, seharusnya tak perlu banyak orang tahu sekalipun itu keluarga sendiri, bukan? Apa yang akan terjadi pada Kusman, atau sebaliknya, jika kami benar-benar mengikuti perintah itu?

Ah sudahlah, punya uang untuk membeli makanan bagi keluarga sehari ini saja cukup.

***

AKU sedang memerhatikan langit yang menguning dari celah ranting sebuah pohon biru yang nyaris botak di depan rumah baru kami. Rumah yang bagus sekali, jauh lebih baik dari losmen tengah kota yang seringkali menguarkan aroma yang tak perlu diingat, ataupun teras toko yang dipenuhi sisa oli bekas dan sesak oleh asap bum-bum raksasa. Suatu ketika pada masa depan, aku ingin memiliki sebuah rumah di daerah yang tenang dan menyenangkan dengan sebuah pintu di sisi kiri dan jendela di kanannya, persis sebagaimana rumah ini.

Ayah masih duduk di teras, tengah memakai sepatunya. Ia nampak memperbincangkan sesuatu dengan ibu, begitu sumringah dan sesekali tertawa. Kakakku, si Kasman itu masih saja tercenung tak jelas. Ketika tadi kuajak beradu bunga ilalalng (yang juga berwarna biru) di depan rumah, ia melengos pergi ke kamarnya dan mengunci pintu begitu saja. Orang aneh.

“Ayo berangkat,” dengan setelan kemeja sederhana yang rapi dan masih harum, ia menggandeng tanganku. Kami berjalan bersama, Ibu melambai-lambaikan tangannya dari teras. Sedang Kakak masih saja tidak kelihatan.

Kota ini amatlah sepi, hampir tak nampak kehidupan sama sekali. Rumah-rumah tak berpenghuni, toko seperti ditinggalkan pelanggannya, bahkan taman kota kosong melompong. Seluruh lampu serta peralatan lain masih berfungsi dan terawat dengan baik, seakan baru terpasang kemarin. Bagaimanapun anehnya, yang lebih menarik perhatianku ialah sebuah sungai di antara gedung-gedung itu. Aku meminta Ayah berhenti sejenak.

“Ayah, tengoklah sungai itu! Airnya mirip tumpahan oli yang amat bening, sedang ikan di dalamnya seolah terbuat dari asap. Lihat! di sana, ke sana, ow kemanakah ia menghilang?”

“Ah itu muncul di sana.” Ayah menunjuk sisi sungai yang agak jauh.

“Benar!” Begitulah ikan itu silih muncul dan menghilang. Ya, sirip, ekor, dan seluruh tubuh ikan itu benar-benar terbuat dari asap, seperti asap bum-bum raksasa. Pantas saja ia mudah bersembunyi. Kami memerhatikannya beberapa saat sebelum kembali berjalan.

Kami tiba di suatu gudang dekat laut, sebelum Ayah masuk ke dalamnya ia berpesan, “Tetap di situ dan tunggu sebentar, Ayah segera kembali.”

Aku terlalu bersemangat untuk menurutinya, ketika berlari beberapa langkah tahu-tahu aku sudah berada di tempat yang berbeda. Namun melihat sesuatu di sana, mendadak kepalaku pusing dan aku terjatuh di sana. Samar terdengar suatu suara anak laki-laki yang serupa denganku: “Tolonglah kami, Ibu Peri…”

***

SESEORANG membangunkanku dengan panik, lamat-lamat terlihat wajahnya yang pucat pasi. Ah, rupanya itu Ayah. “Kenapa yah?” Saya memegangi kepala yang masih ngilu akibat tadi membentur tanah.

Ayah tak perlu menjawab, sebab pemandangan itu sendiri sudah amat memadai untuk menjelaskan. Ibu dan Kasman digantung terbalik pada sebuah tiang, kedua kaki mereka diikat pada suatu simpul tali, yang mana ujung lainnya disambungkan pada puncak tiang. Aku terduduk lemas, menyembunyikan wajahku pada perut Ayah yang berjongkok. Dalam kepalaku terus bergema suara Kasman memohon belas kasihan, “Tolong kami, ayah, tolong kami Ibu Peri…”. Terbayang Ibu tergantung lemas di sana, tak mengelurkan suara apa pun.

Dua orang berpakaian compang-camping berada dekat Ibu dan Kasman. Mereka berwajah kotor, dengan senyum menyiratkan keberingasan yang terpancar jelas. Salah seorang di antaranya, dengan otot-otot wajah menegang dan menggunakan kostum kerja sambil membawa sebilah parang. Seorang yang lain menggunakan setelan jas lengakap, tindak-tanduknya nampak seperti seorang bos. Ia menyulut rokok dengan santai.

“Kau tahu Pak, terima kasih telah mempermudah pekerjaan kami,” si bos berkata.

Ia masih melanjutkan, “Dengan dua orang saja (dua jarinya terangkat), maka tuntaslah kesulitan-kesulitan sialan yang kita hadapi selama ini. Orang-orang akan datang kembali; membabat hutan; meratakan bukit; membuang kotoran, oli, radioaktif, apapun sesukanya ke sungai, laut… TAK SIA-SIA MENGENCINGI BUMI! INILAH MAHAKARYA KITA!”

Parang telah teracung, bersiap berayun menebas tali takdir Ibu dan Kasman agar mulus, halus menghujam ke dalam laut kehijauan yang siap melumatkan segalanya. Ayah terduduk menangis, aku berteriak sekencang-kencangnya.

***

IBU PERI dan seorang bocah laki-laki di sampingnya menatapku dalam, seolah jurang keempat mata mereka itu begitu dalam, hingga berdasar pada sebuah mata air. Mata air yang sesungguhnya; mata air yang bening, tanpa warna-warna oli atau kehijauan. Semak dan pohon yang mengelilingi mata air dan tumbuh satu-dua di lereng jurang itu sebenar-benarnya hijau, bukan biru. Saya hanya terkesiap membeku, tak mampu berkata-kata apalagi bergerak.

Ibu Peri dan bocah laki-laki itu membungkukkan tubuhnya, perlahan menghilang, meninggalkan jurang mata air yang digantikan pemandangan lainnya.

Sebuah ombak raksasa pecah di dermaga menelan Ibu, Kasman, kedua orang yang hendak membunuhnya, dan sisa-sisa mereka tanpa menyisakan sehelai pun rambut.

Langit memerah, laut tetap kehijauan, dan pohon-pohon berwarna biru meranggas. Tidak ada yang terjadi. Tiada yang berubah.

***

SAYA dan satu-satunya anak saya kini tengah berada dalam ruangan pimpinan kompleks beton. Saya duduk di kursi pimpinan, menulis sebuah surat di atas meja kayu penuh lubang akibat rayap. Keempat bidak catur berwarna hitam yang setengah terbakar itu menghilang entah ke mana.

Kusman memerhatikan saya menulis dengan tatapan kosong. Pikirannya melayang entah ke mana, lebih baik agar tidak mengganggunya. Tetiba ia lirih berkata: “Untuk apa, Ibu dan Kakak…” kalimatnya terpenggal.

“Hanya mereka yang tahu, nak,” andai wanita itu masih ada, maka ia akan mengarang sebuah cerita untuk menjelaskan alasan mengapa Ibu dan kakaknya mati, sedang kota dan teluk ini tetap seperti itu, tidak kurang tidak lebih.

“Dan tidak ada yang berubah?”

“Selama kita sendirian di sini, ya.”

Kusman kembali tercenung, persis sebagaimana kakaknya dahulu.

Saya mengakhiri surat yang saya tulis ini dengan kalimat: “…harap bersedia membawa serta seluruh keluarga anda, tanpa terkecuali. Terima kasih atas kesediaan Anda.”***

Denpasar, 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *