Cerpen #153 Perjumpaan Anjing Dengan Celeng di Hutan Klampis

Liurnya membuncah, menetes tak berkesudahan. Orang-orang berusaha menghindar agar jangan sampai kena cipratannya. Cairan najis bergoyang-goyang sampai akhirnya putus berhamburan, menyenggol apapun yang dilewati, menjijikkan.

“Kenapa berhenti?!”

“Dia mau menyerangku. Liurnya berputar”

“Goblok! Gunakan pentunganmu!

“Sama anjing saja takut, huh!”

“Cegat! Dia lari ke utara!”.

Hiruk pikuk membelah kesunyian kampung. Ujung pentungan dipukul-pukulkan pada benda apapun. “Hadang lewat belakang rumah pak Kosin! Cepat!”. Puluhan kaki menghentak keras menimbulkan bunyi kekejaman. “Jangan sampai masuk hutan. Kita akan kesulitan”.

Binatang yang diincar mengeluarkan dengus padat, bahasa ketakutan terpancar. Manuvernya kepayahan. Ia belum menyerah. Karena kalau sampai terjadi, itu artinya mati. Dibelakangnya, gelembung amarah belum reda.Teriakan-teriakan timbul tenggelam mengejar sasaran. Sorak-sorak intimidasi berkibar berarak menembusi partikel udara. loncatan-loncatannya berakumulasi menghasilkan jarak tempuh yang panjang. Matanya mengunci rerimbun gelap disana. Yang dituju semakin dekat. Lompatan paripurna sukses dilakukan. Jejeran pepohonan berhasil ia gapai.

“Bangsat! Dia berhasil masuk hutan”

Semakin kedalam kerapatan memadat. Harapan lolos tergigit. Dedaunan jalin menjalin membentuk kanopi. Sedikit gelap meujud akibat untaian cahaya terlalu lemah. Berusaha menjauh sampai suara beringas sayup-sayup ditelan kepekatan. Dirasa aman, langkah dipelankan. Berjalan menelusup diantara tonggak pepohonan. Ia memutuskan berhenti tanpa perlu menoleh kebelakang, karena ia yakin para pemburunya menyudahi pengejaran. Lidahnya menjulur panjang, haus. Kelelahan mengikis kekuatan. Ia perlu beberapa tangkup air. Kaki ia selonjorkan dibawah gundukan semak besar. Tiarap, demi mengumpulkan kembali tenaga. Butuh waktu sebelum melanjutkan pergerakan. Decit burung meletup serampangan mendakik diatas kepala. Membumbung diantara ranting-ranting sampai pucuk. Moncong ia letakkan beralas seserak daun. Terkulai. Tiba-tiba insting binatangnya menyala. Tubuhnya diangkat. Rahangnya mengeras telinga tegak membentang. Ada bunyi memantul-mantul. Suara gesekan memberi peringatan akan kedatangan sebuah rombongan. Apakah para bajingan manusia kampung?

“Ngik…ngik…ngik…ngik”

Enam ekor celeng besar muncul diikuti anak-anaknya. Ia amati dari persembunyiannya. Kewaspadaan belum surut. Jika rombongan celeng muncul bisa dipastikan didekat situ ada sumber air.

Seekor celeng paling besar bergerak bersungut-sungut memberi tanda pada kelompoknya agar jangan jauh-jauh darinya. Isyarat itu cukup memberi tahu pada mereka kalau ada sesuatu yang mengamati aktivitas kelompoknya.

“Sepertinya keberadaanku telah diketahui. Lebih baik aku keluar”.

Juluran moncongnya membuat para celeng kaget. Ia sadar, reputasinya selama ini telah membuat para celeng marah. Geraman bergelombang keluar dari moncong celeng dewasa. Mereka bersiap melindungi kelompoknya.

“Aku bukan musuh kalian”

Ia maju pelahan. Sayang, para celeng kian mengikik. Mereka membentuk pagar betis, siap mempertahankan diri.

“Percayalah…”

“Jongos manusia, siapa yang mau percaya?”

“Tak semua, kawan”, kata anjing.

“Jangan lengah!”, Teriak pemimpin celeng, “Sejarah mencatat, anjing kalau sudah terkontaminasi manusia mampu merubah posisi”

“Dengarkan dulu omonganku”, bujuk anjing, “Lihat kondisiku”. Anjing melangkah maju tanpa jeri mendekat kerumunan celeng. “Tubuhku terluka akibat kekejaman manusia”

Badan anjing mengambarkan kebiadaban masif. Lecet, kulit sobek, luka memanjang hingga bakalan menjadi codet permanen. Bercak darah menempel tajam pada bulu.

Para celeng mengitari anjing. Tiba-tiba satu diantara mereka menyeruduknya. Uh! Lenguhan pasrah membumbung. Tubuh terpental, menimbulkan bunyi sepadan.

“Dia kehabisan tenaga”

Dengan kepayahan anjing berusaha menegakkan posisi. “Dimanakah sumber air terdekat. Aku kehausan”, tanya anjing.

Para celeng berembuk. Ribut mencengkeram, ada saling tentang diantara mereka. Tapi akhirnya…

“Ikut kami”, ajak satu diantara mereka. Segera gelombang itu bergerak meninggalkan tempat. Mengular menginjak apa saja. Peri kebinatangan tersampir, menjadikan para celeng menggadaikan keselamatan, menanam bahaya yang mungkin saja datang. Menembusi sesemak, merangsak juntaian akar, meninggalkan jejak kasat.

Sebuah kubangan berisi air menghentikan laju. Semesta tak alpa memberi persembahan bagi para hamba sahaya. Vegetasi hutan selalu memberi kehidupan para pelintas. Tanpa perlu disuruh, juluran lidah anjing menggores bentang air. Berdecap-decap menjilat. Kuyu matanya sedikit terangkat. Energi mulai timbul seiring cairan bening masuk ketubuh.

“Bagaimana bisa manusia memperlakukan dirimu begitu kejam?”. Anak-anak celeng asik bermain air hingga kekeruhan terbentuk.

“Mereka mempunyai banyak pendapat tentang keberadaan ras kami”, ujar anjing. “Sekian banyak manusia, sekian ragam mereka ambil keuntungan”. Jilatan-jilatan menciptakan riak-riak kecil. Anjing sungguh menikmati suguhannya.

“Tak jauh beda dengan takdir kami”, potong para celeng, “Dimata manusia, kami malah tidak ada baiknya. Dianggap hama, pencuri tanaman, perusak tanah, bahkan sosok kami disangkakan sebagai ritual pesugihan”

Para celeng berkubang. Anak-anaknya bermain lumpur, memainkan congornya memporakporandakan kubangan. Kenakalan mereka membuat lumpur bercipratan kesegala arah.

“Sudah lama dihutan ini?”

“Baru tiga purnacandra”

“Tapi kalian sepertinya sudah ribuan purnama menghuni kawasan ini”, ucap anjing

“Kami eksodus dari kawasan sebelah sana”. Pandangan celeng diarahkan ke barat daya. “Hidup kami dirusak oleh manusia”.

“Maksudnya?”

Para celeng saling mengosok-gosokkan congor pada kulit sesamanya. Kasar, menimbulkan berisik. Kecipak bertimbulan menyisip belantara. Rasa penasaran anjing pada celeng mengapungkan senarai kisah sebab mula mereka meninggalkan kawasan terdahulu.

Perbukitan bagian dari hutan barat daya menjadi surga bagi semua satwa, termasuk kawanan celeng. Rimbun, menghijau, kaya akan makanan, udara selalu lembab sangat disenangi celeng. Kawasan itu dibelah oleh beberapa anak sungai  berair bening yang hulunya terletak dibalik punggung dua bukit besar. Cerita tentang eksotika serta kedamaian yang tersembunyi sekian lama mengundang para penjelajah untuk mencicipinya. Batang sungai yang tidak terlalu dalam serta deras sisi lain daya tarik kawasan tersebut. Bencana mulai mengintai manakala satu penjelajah menemukan sekelat emas. Tidak perlu menggali, kelat-kelat emas berserak bercampur dengan batu dan pasir dipinggiran sungai. Kegagalan mengendalikan mulut serta napsu menjadi awal kerusakan kawasan itu. Rombongan manusia datang bak garnisun perang, silih berganti dengan membawa ragam peralatan.

“Kami hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat banyak”, ucap celeng, “Pernah kami mencoba mengintimidasi dengan menampakkan diri, tapi mereka…”

“Awas! Ada rombongan celeng! Waspada! Kongkang bedil kalian!”. Tak beberapa lama suara bedil menggelegar. “Ha…ha…ha…betapa beruntungnya, tempat ini juga menyediakan pasokan makanan buat kita”.

“Beberapa dari kami tergeletak mengerang. Kulit kasar kami ternyata tidak sanggup menahan benda kecil yang terlontar dari alat mereka. Kami tinggalkan sanak yang tergeletak”.

Dengan taring tajam yang dimiliki, para celeng mengaduk tumpukan dedaunan  menembus lapisan tanah hingga kedalaman tertentu. Seonggok umbi berhasil diangkat.

“Makanlah”. Tawaran yang menggelikan disaat kepayahan. Anjing hanya bisa menatap. Seleranya redup.

“Kami tahu, tapi dalam kondisi begini hanya ini yang bisa dijadikan ganjalan. cobalah umbi ini. Belum ada daging yang bisa  kau makan”

Perubahan begitu cepat mewarnai hutan barat daya. Bila awalnya hanya sungai yang dijarah, manusia-manusia serakah mulai menggunduli hutan. Pohon-pohon ditebang serampangan menyisakan tunggul-tunggul.

“Dari jauh kami sesekali masih menatap aktivitas mereka. Betapa cepatnya perubahan itu terjadi. Manusia sudah hilang akal”

Umbi itu digigit sedikit demi sedikit. Seleranya memberontak perutnya bergolak. Yah, daripada kelaparan, anjing mengunyah bongkahan umbi dengan gerahamnya. Ufh…

Hutan barat daya menjelma bukit-bukit gundul dengan lubang-lubang menembus kulit bumi. Sinar matahari dengan lugas memanggang tanpa halang rintang. Kegersangan terpeta jelas.

“Sejak bertumbangnya pepohonan, kubangan lumpur selalu menjadi hasrat kami untuk lebih sering berendam. Panas begitu menusuk, sungguh menyiksa. Kami tidak tahan. Apakah kamu juga merasakan?”

Bongkahan-bongkahan tanah diangkat dari kedalaman beberapa meter. Kepongahan manusia tidak terukur. Sepak terjang kian merajalela. Suar berantai ditangkap telinga berbuah propaganda hingga mampu mendatangkan lebih banyak gelombang demi gelombang manusia muda yang seharusnya tidak menjadi kelompok penambang. Mereka generasi yang sewajibnya melindungi hutan, tapi malah bersorak manakala setiap butiran-butiran emas tergenggam. Betapa naif, padahal bahaya mengintip setipis kulit ari.

***

Hujan mengguyur dengan ketebalan memuncak. Daun-daun berayunan ditimpa cairan langit. Pucuk-pucuk pohon sumringah atas berkah semesta. Beberapa hari berkumpul dengan kawanan celeng, anjing kian tahu kebiasaan genus ini.

“Berteduhlah”, pinta celeng, “Kau tidak akan kuat digempur guyuran hujan. Beda dengan kami”

Anjing meringkuk, merapatkan tubuhnya pada lindungan kanopi tebal, tersusun dari ribuan daun lebar disulam juntaian akar purba. Sorot mata mengamati pesta kecil para celeng. Limpahan air dari langit merupakan anugerah paling hakiki. Diatas, guntur sahut menyahut meledakkan bunyi. Langit dirajai warna putih bersemburat kelabu. Tanda hujan akan berlangsung lama.

“Hujan adalah hukuman bagi para penambang”, ungkap celeng melanjutkan ceritanya.

“Apa yang terjadi?”. Anjing sangat antusias mengenai hutan barat daya.

“Bagi kami, hutan merupakan rumah besar. Mengambil secukupnya menikmati seadanya adalah falsafah para celeng”. Hujan tambah deras, anak-anak celeng  bersuka ria. Saling seruduk, bergulingan diatas tanah yang berubah mirip adonan jenang.

Hutan barat daya menjadi bising oleh bunyi-bunyian. Para penambang bekerja kesetanan menguras tenaga mempertontonkan kebodohan. Kawanan celeng masih berharap manusia-manusia perusak minggat dari rangkaian jejeran perbukitan itu. Harapan tinggallah harapan, para penambang kian jumawa.

Mereka membawa banyak tabung logam yang dirangkai sedemikian rupa hingga berputar-putar mirip gasing. Leleran tanah bercampur air menggerojok mengalir dibuang ke batang sungai.

“Kami kehilangan sanak saudara. Para celeng banyak yang mati akibat minum air  sungai. Entah apa, kami bingung. Gesture para penambang menyiratkan peringatan tanda bahaya…. “.

“Jangan mengambil air dijalur pengolahan. Lihat! Celeng-celeng mati membusuk setelah minum air sungai ini”. Teriakan pedas menerobos bedeng-bedeng penghuni tambang. “Merkuri dan sianida yang kita gunakan  mencabik organ tubuh mereka. Ambil air lebih keatas. Disana belum tercemar”

Waktu berjalan dengan rutinitas matahari terbit dan tenggelam, para satwa makin tersiksa oleh kelakuan penambang. Pelahan, hutan menuju  kehancuran. Padahal hutan merupakan gudang makanan bagi siapapun, juga penjaga iklim. Para satwa bertahan disisi lain yang belum digerogoti. Tapi kerakusan manusia kadung meronta. Gerusan-gerusan tambah kedalam merusak tanaman-tanaman yang menjadi rantai kehidupan.

“Kenapa celeng-celeng itu masih keluyuran disini? Apa sudah bosan hidup?”

“Tetap bekerja. Biarkan binatang jahanam itu berkeliaran. Yang penting jangan lengah! Jika membahayakan bunuh saja”

Akibat air sungai tercemar, satwa kebingungan. Mereka menuju hulu yang belum terkontaminasi.

“Sialan! Semua binatang beramai-ramai  menyatroni sumber air kita”. Para penambang resah. Mereka kuatir kalau berpapasan akan terjadi penyerangan. Kelelahan akibat kerja memaksa mereka menghemat tenaga. Makanya sebisa mungkin menghindari agar jangan sampai bersirobok. Bukankah mereka punya senjata? Dimana kecongkakan yang selama ini dipertontonkan?

“Kondisi begitu sudah berapa lama?”, Tanya anjing.

“Yah, kurang lebih lima puluh purnacandra”, jawab celeng.

“Lumayan lama”, desis anjing. “Semakin parah?”

“Begitulah”. Hujan belum  menampakkan tanda-tanda usai. Malah sepertinya akan berlangsung lama. Guntur dan kilat membelah langit, menciptakan pekak hingga menggetarkan gendang telinga.

“Bagaimana kondisimu?”. Celeng bertanya sambil menggoyang-goyangkan kepala.

“Berkat Semesta”. Anjing menjilati tubuh. Percikan air bertempelan menumpuk gelung. Lukanya mengering, bulu-bulunya menutupi.

“Hingga akhirnya, Semesta menjawab keresahan kami”, lanjut celeng.

Hujan mengguyur berhari-hari dikawasan hutan barat daya-yang sekarang berubah jadi areal pertambangan. Daya tekan air hujan mengoyak areal tambang.  Genangan-genangan kecil secara sporadis terbentuk, otomatis menghentikan kegiatan mereka. Orang-orang jadi blingsatan.

“Kalau begini terus, kita bisa tekor”

“Sudah dari kemarin, kenapa juga tidak berhenti”. Mereka hanya bisa nongkrong, kongkow ngalur ngidul tanpa ujung.

“Nekat kenapa?”, Saran seseorang diantara mereka.

“Apa otakmu gagal menyimpan peristiwa terdahulu? Rekan kita terkubur mati didalam lubang? Suasana persis kaya’ begini”. Diam menggelayut, semua diringkus pusaran pikir masing-masing. “Lebih baik tunggu sampai hujan reda. Kerja model kita ibarat judi. Kadang untung kadang rugi. Tetap gunakan pikiran waras”.

Dhuar! Krek..krek…gleger..”

“Suara apa itu?”. Mereka terkesiap. Hanya beberapa detik usai suara tersebut timbul, getaran sangat kuat meruyak. Badan limbung bak dipukul-pukul hingga terjerembab. Barang-barang  berjatuhan, bedeng-bedeng terseret, dilumat tanah.

“Gempa!…gempa!…..”

Gelontoran  cairan langit mengoyak bukit-bukit gundul. Memotong-motong selapis demi selapis secara simultan. Efeknya muncul berupa suara yang mirip rentetan peluru kendali,  ditembakkan tak berkesudahan. Semua yang terhampar digulung, apapun itu.

Teriakan minta tolong mengapung sekejap. Diterjang longsoran tanah bercampur air memberi efek menakutkan. Bongkahan-bongkahan batu bermunculan, mengelinding melindas. Tubuh-tubuh terseok terhantam. Ketakutan melambatkan kesadaran memadamkan reaksi. Dalam sekejap semua tersapu rata. Keheningan kembali terperangkap. Semua telah menjadi padang Kurusetra. Para penambang dipukul binasa ditelan karma.

“Sebelum bencana itu datang, kami telah menyingkir. Beberapa hari sebelumnya, daya dengar kami menangkap sesuatu yang aneh dari dalam bumi. Ternyata itu jawabnya”, ungkap celeng. “Butuh waktu lama untuk memulihkan hutan barat daya seperti semula. Untuk itulah kami disini”

Hujan mulai reda. Decit burung kembali berirama mengimbangi suara serangga. Kolaborasi makhluk semesta mempersembahkan orkestra hutan raya. Harmoni menyala merapat.

“Sebaiknya kamu disini saja”, saran celeng, “Apa enaknya hidup dilingkungan manusia. Mereka adalah makhluk paling jahat dibumi. Perusak alur kehidupan dialampada. Egoisme dijadikan pedang demi peradaban. Tingkah polah mereka memberi kontribusi degradasi hutan kami. Belum pernah kami melihat kebaikan manusia secuilpun”

Anjing tidak menjawab. Kaki depan menggaruk-garuk moncongnya. Beberapa hari bersama gerombolan celeng memaksa dirinya beradaptasi soal makan dan gaya hidup. Keruyuk perut adalah alarm bahwa ada ruang kosong dalam lambungnya yang harus diisi. Umbi, umbi dan umbi menjejali lambung tanpa henti. Ufh.

“Sssstt, ada pergerakan”. Diam serentak terkumpul pada satu titik gravitasi.

Lamat-lamat celoteh manusia terdengar. Dibalik jajaran pepohonan yang tegak mendongak, persinggungan tubuh mereka dengan isi hutan kian kentara. Kerosak karena injakan mendekati kumpulan para celeng.

“Coba arah sana”, suara seseorang memecah jelas.

“Biasanya dibalik rerimbun”, ucap yang lain.

“Sudah berapa lama anakmu sakit?”

“Cukup lama, semenjak pertambangan itu dibuka. Untung saja sekarang musnah”

“Lah, sekitar tiga tahunan?”

“Gejalanya mirip anak Kang Dwipa, gatal-gatal disekujur kulit. Rasanya panas”

“Beruntunglah kita, hutan Klampis menyediakan apa yang orang kampung harapkan. Makanya harus kita jaga agar jangan sampai dirusak orang luar”

Orang-orang kian dekat dengan titik kumpul celeng dan anjing.

Tiba-tiba seekor celeng keluar dengan kecepatan tinggi. Menyeruduk orang-orang.

“Celeng!!”. Mereka terkesiap, gagap. Tak sempat menghindar. Hantaman telak mengenai kaki. Tersungkur. Serbuan datang bertubi-tubi keluar dari semak belukar. Suara gaduh meninggi. Kepanikan menyergap. Mereka berlarian menyelamatkan diri, zig zag sebelum akhirnya meraih dahan sebagai daya lenting agar tubuh mereka bisa hinggap dipohon.

Tak semuanya bernasib baik. Satu orang gagal mengantisipasi keadaan sehingga menjadi bulan-bulanan para celeng. Taring mengoyak tubuhnya. Darah muncrat membasahi badan mengucuri hamparan humus. Yang diatas pohon menggigil menyaksikan kesadisan para celeng. Tekanan menghimpit ruang kesadaran melihat kondisi temannya yang bernasib malang. Kegelapan menyergap cepat, pingsan. Sayang, posisi tubuhnya menjuntai hingga jatuh kebawah dengan posisi kepala duluan.

“Kreek!” Suara leher patah memukul udara. Para celeng berpesta pora. Binatang omnivora itu mendapat tambahan berkah dari langit. Taring membelah-belah santapan baru.

“Anjing! Keluarlah!”, Teriak para celeng, “Daging manusia sungguh enak. Bukankah mereka yang menganiaya kamu!? Saatnya balas dendam”

Dari tempat persembunyiannya, anjing terkesima oleh tarian gila para celeng. Serpihan daging dan tulang berserakan.

“Makanlah!”. Sepotong paha menerobos dan jatuh tepat dihadapan anjing. Gigitan pertama langsung mengiyakan kalau daging manusia memang enak. Ini pengalaman pertamanya menyantap daging manusia.

“Kemarilah, pesta bersama kami”, ajak para celeng.

Anjing keluar menggigit potongan paha. Para celeng bersorak sorai menyambutnya. Anak-anak celeng berebut otak manusia yang keluar dari tengkorak yang baru dikeremus induk mereka .

Yang diatas pohon menangis sesenggukan. Mencoba menutup mata sambil berdoa agar para celeng segera menuntaskan pestanya dan minggat.

“Apa salah kami, ya Tuhan?”. Menggigil tubuhnya, kepala berdenyut-denyut. Tangan menggapit dahan erat-erat. Keringat membasahi baju, celana kuyub oleh semburan air seni yang menetes tak terkendali. “Ternyata celeng binatang paling kejam”, desisnya. Ia memalingkan muka, enggan melihat tragedi dibawah sana.

Anjing berputar-putar kegirangan mengimbangi tarian gila kawan barunya. Gonggongannya menggetarkan kawasan hutan Klampis hingga jauh. “Aauuuuuu…” Ia begitu gembira. Energinya menyala.

Hati orang-orang kampung seperti disayat sembilu. Gonggongan tidak berhenti hingga menarik orang-orang keluar rumah.

“Itu anjing yang kita buru beberapa hari yang lalu?”

“Sepertinya iya”

“Dia belum mati”

“Padahal golokku berhasil melukainya”

“Aku melihat kang Dirga bersama Sholeh dan Mulyana masuk kesana”

“Ngapain?”

“Katanya cari rerimpang buat obat anak si Sholeh”

“Kita susul bagaimana?”

“Ayuk!”. Serentak tawaran tersebut disambut

Mempersenjatai diri, bergegas orang-orang kampung menuju hutan Klampis. Langkah diperlebar supaya jarak kian dekat.

Pesta pora masih berlanjut. Binatang-binatang itu memainkan santapannya.

“Tinggalkan tempat! Sisakan buat mereka”, teriak satu celeng dewasa.

Mereka paham, denyut penciuman serta pendengaran memberi sinyal akan datangnya bahaya. Segera saja kawanan itu mengakhiri pesta. Mulut menggigit potongan daging yang masih bisa dibawa. Anjing mengikuti serta melakukan lompatan paling akhir. Mereka meninggalkan pesan paling sadis buat manusia.[]

Catatan kaki:

Purnacandra adalah bulan purnama. Purnacandra terbentuk setiap bulan. Jadi, dalam satu tahun ada 12 purnacandra.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *