Cerpen #152 Koloni Kersen

Mereka bilang gelombang panas tidak ada di Indonesia. Secara teori mungkin mereka benar, tapi bagaimana jika alam memutuskan sebaliknya? Alam tidak dapat diprediksi, bukan?

Kadang hujan bisa mendadak turun di tengah kemarau, berturut-turut selama dua hari lalu keesokan harinya kembali panas dan kering seperti seharusnya.

Seperti pagi ini, pagi datang diiringi dengan mendung gelap. Geluduk terdengar beberapa kali. Suaranya terdengar begitu dekat, begitu meyakinkan sampai-sampai aku menduga hujan akan turun detik itu juga. Apalagi ketika angin bertiup lebih kencang dari biasanya. Mungkinkah ini awal dari musim hujan? Namun kemudian matahari mengintip dari balik awan, lalu mulai bersinar seterang-terangnya. Angin meniup awan jauh-jauh. Alam bisa menipu dan melakukan apa pun yang ia suka.

Panas kembali menyengat namun suara geluduk terus terdengar. Aku tidak tahu apa aku masih bisa mempercayai pendengaranku. Beberapa orang yang sempat bertemu denganku di jalan bilang aku kalau terlihat sangat tua untuk ukuran seekor kucing. Mungkin memang kupingku salah mendengar.

Entah sudah berapa kali aku melalui kemarau panjang. Aku tahu kekeringan semakin memburuk setiap tahunnya.

Aku melihat pendingin-pendingin ruangan terpasang di hampir semua rumah, tidak hanya satu, tapi bisa sampai tiga atau empat outdoor pendingin yang terpasang di tembok luar, berlomba-lomba mengembuskan udara panas.

Suhu mulai meninggi di pertengahan hingga penghujung musim kemarau, melibas manusia-manusia dan binatang-binatang yang lemah dan linglung karena kekurangan air. Di beberapa tempat suhunya bahkan bisa mencapai 38-39 derajat.

Siang terlalu terang, angin terlalu kering. Selokan-selokan kehabisan air. Kolam-kolam menyusut sampai ikan-ikan di dalamnya menyelusup, bersembunyi di balik dedaunan yang tertimbun di dasar, berharap akan ada keajaiban agar mereka dapat berenang dengan bebas lagi.

Aku mendongak, membaui udara. Aroma kematian ada di mana-mana. Baru saja aku meninggalkan pasar, berjalan menyusuri tepi jalan. Seekor anak kucing kurus tergeletak di antara rerumputan kering. Kelopak matanya lengket dan mata sebelahnya seperti membengkak. Napasnya satu-satu. Aku mendekatinya namun segera mundur. Tidak ada harapan untuknya. Mungkin ia akan mati dalam waktu kurang dari satu jam.

Di balik rerumputan dan ilalang yang barusan kulewati, anak-anak kucing dan kucing-kucing tua mati mengenaskan. Tulang-tulang menonjol dari balik kulit yang kisut. Bahkan lalat seolah enggan hinggap pada tubuh-tubuh yang kering.

Hidup di jalanan memang keras.

Aku sudah lama tidak kawin. Menemukan anak-anak kucing yang terbuang selalu mengendurkan birahiku. Aku kenal semua betina di kawasan ini, mereka selalu menatapku dengan sorot yang sama: jangan kawini aku. Aku menatap balik dan berbalik arah. Tenang saja, aku juga tidak berminat menambah penderitaan kalian. Kita sama-sama tahu bagaimana sulitnya mencari makan di luar sini. Aku tidak akan menambah beban kalian dengan bayi-bayi kucing berbuntut tikus yang akan kau tinggalkan begitu saja di semak-semak begitu kau lahirkan. Aku tahu kalian tidak punya pilihan. Air susu kering dan bayi-bayi itu cepat atau lambat akan mati karena hanya mengenyot kantong kosong.

Beberapa kucing yang biasa kulihat berkeliaran di wilayah ini tak terlihat lagi, entah sengaja berkelana karena kebelet kawin atau karena sudah mati kehausan.

Kemarau selalu menjadi mimpi buruk untuk kami yang berjuang di jalanan. Air sangat sulit didapat. Aku tidak pernah melihat kucing-kucing liar terengah-engah dengan lidah menjulur karena kurang minum sebelumnya. Panasnya memang luar biasa.

“Pus, puus…”

Telingaku tegak, mengenali suara Ima. Dari kejauhan gadis kecil itu terihat sedang mengguncang-guncangkan botol makanan kering sambil tersenyum ke arahku. Ia selalu menunggu kedatanganku di depan pagar rumahnya sepulang sekolah, sebelum ia masuk ke dalam rumah. Ia tidak boleh memelihara binatang karena punya alergi, tapi orang tuanya memperbolehkannya memberiku makan.

“Ayo, sini,” panggil Ima sambil menuangkan isi botol ke trotoar.

Kepalaku muncul dari balik rerumputan, menatapnya dengan enggan ketika melihatnya tidak membawa apa-apa selain makanan. Makanan kering selalu membuat tenggorokanku terasa kering.

Aku berhenti di pinggir jalan, menatap aspal yang membara terpanggang matahari. Tapi wajah gadis kecil itu begitu polos sehingga aku tidak tega mengabaikannya.

Aku memberanikan diri untuk menyeberang. Telapak kakiku seolah terbakar ketika bersentuhan dengan aspal. Aku berjingkat karena terkejut namun terus berlari ke arah Ima.

Untuk menghargai niat baiknya, aku cepat-cepat menghabiskan makanan itu lalu segera pergi setelah Ima selesai menggaruk-garuk leherku. Ia melambai-lambaikan tangan dan aku kembali berlari kecil menyeberangi jalan. Hawa panas ini membuatku gelisah.

Aku menyusup melewati semak dan naungan pohon. Aku harus pulang ke rumah Ibu dan ketiga anak perempuannya.

Celah pagar kulewati dengan mudah. Tubuhku memang lebih kurus sekarang. Sebuah ember penuh air di bawah keran di halaman depan membuat mataku berbinar. Permukaan airnya tampak berkilau. Setiap pagi Ibu membuang air di dalam ember itu ke pot-pot tanamannya lalu mengisinya dengan air baru. Siapa saja boleh mampir untuk minum, termasuk aku.

Tidak semua orang punya pikiran sama seperti Ibu. Di rumah-rumah lain, ember-ember atau wadah plastik biasanya dibalik agar tidak jadi sarang nyamuk. Aku paham. Hawa panas dan nyamuk selalu menjadi momok di musim seperti ini. Ketika malam datang, nyamuk merubung di atas kepalaku.

Aku minum sebanyak-banyaknya lalu mendekati teras untuk berteduh di bawah kursi rotan.

Ibu sedang berselonjor di lantai sambil memegang ponsel, punggungnya disandarkan ke pintu teras. Ia melambaikan tangan, menyuruhku mendekat. Aku menurut, masuk merunduk-runduk lalu melekatkan diri ke lantai marmer yang dingin.

Ia mengelus kepalaku sambil lalu.

“Baru kali ini aku melihat kucing-kucing jalanan terengah-engah dengan lidah menjulur,” kata Ibu sambil menatap mataku. “Mereka bersembunyi di bawah semak dan di bawah naungan pohon. Surabaya memang panas luar biasa dan sepertinya panasnya memburuk setiap tahunnya.”

Aku setuju.

“Mau menangis rasanya,” keluhnya. “Badan lengket karena keringat berlebih. Jantung bekerja keras untuk mendinginkan tubuh. Kepala pun berdenyut-denyut, padahal masih jam delapan ketika aku pulang dari pasar tadi.”

Aku menarik masuk ekorku yang terkena sinar matahari. Lantai teras terlalu panas.

“BMKG bilang, Indonesia tidak ikut kena dampak gelombang panas,” Ibu belum berhenti. Ponselnya diletakkan di pangkuan. “Menurut mereka peningkatan suhu tidak bisa disebut sebagai gelombang panas kecuali berlangsung setidaknya lima hari berturut-turut atau lebih disertai dengan kelembapan udara yang tinggi. Suhu panas yang terjadi di Indonesia adalah siklus yang terjadi setiap tahun akibat dari gerak semu matahari dan biasa terjadi di wilayah tropis. Itu sebabnya yang kita alami setiap kemarau bukanlah gelombang panas.”

Aku mulai mengantuk.

“Apa kau tahu, di Oregon, salah satu negara bagian Amerika, ratusan anak burung terpaksa meninggalkan sarangnya karena serangan gelombang panas.”

Aku mengangkat kepala lalu kembali merunduk.

“Perubahan iklim memicu gelombang panas yang tidak sesuai dengan musimnya dan dampaknya bisa sangat mematikan. Ratusan orang di Kanada meninggal karena suhu mencapai 49 Celcius. Saluran listrik meleleh dan jalanan retak. Kaca-kaca jendela mobil ikut retak meski tidak diparkir di bawah terik matahari,” kata Ibu, kembali membacakan berita dari ponselnya.

“Rumah hadap Barat seperti rumah kita ini yang paling parah,” katanya sambil mengipasi wajahnya dengan koran. “Udara panas terkurung di dalam rumah sejak siang hingga sore. Kamar-kamar terpanggang seperti oven. Bahkan pendingin ruangan pun tidak berguna karena keringat tetap mengalir meski suhunya sudah disetel paling rendah. Listrik mahal karena pendingin ruangan bekerja terlalu keras. Kipas angin pun tidak banyak membantu. Air keran di halaman depan sepanas air termos. Tanaman-tanaman mengering dengan cepat.”

Aku mendengarkan dengan mata setengah terpejam. Ibu benar, setiap kemarau datang panasnya tidak kira-kira. Hidup di jalanan membuatku lebih waspada pada perubahan iklim dan aku tidak punya pilihan selain harus beradaptasi.

Ibu meletakkan ponselnya lalu ikut tiduran di lantai. Marmer memang lebih dingin daripada keramik. Ibu menghela napas panjang.

Semilir angin terasa hangat. Titik-titik keringat terlihat di dahi Ibu.

Cuaca panas tidak pernah nyaman. Ibu selalu terlihat lesu dan ia jadi lebih sering marah-marah, menggerutu, dan merutuki semua hal di dunia ini.

Aku bukan kucingnya. Aku liar seperti kucing-kucing lain di luar sana. Tapi rumah Ibu selalu terbuka untukku. Dan aku tahu diri untuk tidak masuk sembarangan atau berak di halamannya. Selalu ada air segar dan kadang-kadang makanan, itu sudah cukup untukku.

Halaman depan tampak begitu terang. Matahari menyorot teras. Terik dan menyilaukan. Ibu sudah mencoba menanam lebih banyak tanaman dan pohon di halaman depan agar mendapat teduhan namun tanaman yang rimbun selalu mengundang nyamuk.

Bau asap samar terhidu. Selalu ada saja yang membakar sampah di siang hari.

Surabaya, 25 Januari 2020

Imlek kali ini tanpa hujan. Aku dapat melihat Ibu dari balik kaca jendela. Ia sedang mengipasi ketiga anaknya bergantian. Listrik mati sejak magrib. Nyamuk ada di mana-mana. Anak-anaknya gelisah dalam tidur. Ia sendiri mandi keringat dan seolah akan meledak karena kepanasan.

Bau asap terhidu lagi. Aku mengendus udara. Siapa yang membakar sampah malam-malam?

Ibu bangkit dari kasur dan bergegas keluar kamar.

Aku mengintip dari atas genting. Salah seorang tetangga rupanya sedang membakar sampah.

Ibu menghampirinya seperti banteng yang siap menyeruduk.

“Membakar sampah ada aturannya, Pak,” suaranya terdengar geram, “dan membakar sampah malam-malam jelas melanggar peraturan karena mengganggu orang lain.”

“Tidak ada cara lain, Bu,” ia mencoba berkilah. “Sampah menumpuk karena hanya diangkut seminggu sekali.”

“Apa tidak ada cara lain selain dibakar?”

Keduanya saling berpandangan.

Pagi-pagi sekali bau asap kembali tercium. Awalnya samar kemudian bertambah jelas ketika rumah mendadak dipenuhi asap pembakaran.

Aku bisa melihat raut Ibu yang murka. Ia selalu menanti-nanti pagi, ketika udara segar dapat dihirup dalam-dalam sambil menikmati gorengan dan menyesap kopi hangat.

Asap ini sudah merusak paginya yang agung. Aku tidak pernah melihatnya begitu marah. Ibu berlari-lari keluar rumah. Aku mengikutinya dan berhenti di depan pagar.

Api ternyata berasal dari timbunan daun kering di bawah pohon kersen, di kaveling tanah kosong di seberang rumah Ibu. Apinya lumayan besar dan asapnya membumbung tinggi, menyebar ke mana-mana.

Ia memaki-maki orang yang membakar sampah dan dedaunan kering itu. Pohon kersen itu memang bukan miliknya karena pohon itu tumbuh sendiri tanpa perlu ditanam dengan sengaja. Membakar sering kali menjadi solusi termudah untuk membersihkan sampah atau tumpukan kayu dan daun kering. Kayu kersen lunak dan mudah kering, pohonnya bisa ikut hangus jika batang utamanya dirambati api.

Ibu bolak balik dengan embernya. Sebagian airnya tumpah dari ember yang bergoyang-goyang. Jalur air tercetak di jalanan.

Api akhirnya padam namun di balik tumpukan sampah daun yang nyaris menjadi abu itu, kepulan asap tipis masih mengepul.

Ketika seseorang membakar sampah daun kering, siapa yang tahu apa yang ada di balik tumpukan itu, atau di antara rerumputan. Kadang bayi-bayi kucing yang sedang bergelung berdesak-desakan tertidur sambil menunggu induknya pulang. Ketika api membesar dan merambat ke mana-mana, binatang-binatang kecil yang tidak sempat melarikan diri akan terpanggang. Aroma daging terbakar menguar di udara. Dan kepulan asap akan membumbung, bergulung-gulung, meninggalkan aroma pahit di pakaian dan rambut. Bara apinya akan bertahan lebih lama meski apinya padam.

Ibu membungkuk memegangi lutut, terengah-engah. Ia kepanasan dan sangat lelah.

Suatu siang aku kembali ke rumah Ibu setelah beberapa hari meninggalkan rumah untuk menjelajah. Aku menyempatkan diri untuk minum dari ember. Sebuah pohon kersen mungil tampak tumbuh di sela rerumputan di halaman depan. Sepertinya Ibu sengaja membiarkannya tumbuh besar. Suatu hari nanti pohon kersen itu akan menggantikan pohon belimbing yang batangnya sudah lama lapuk karena digerogoti semut. Pohon kersen Ibu akan memanggil burung-burung liar untuk datang dan makan atau untuk sekadar berteduh sebelum kemudian melanjutkan perjalanan, seperti Danau Hyoko di Jepang, tempat angsa-angsa liar datang dan berkumpul pada puncak musim migrasi.

Suara gerisik terdengar dari arah batang pohon kersen di seberang rumah. Seekor londok atau bunglon berlari naik melalui batang dan menghilang di antara ranting dan dedaunan.

Dulu londok tidak ada di sini, hingga suatu hari mereka tiba-tiba bermunculan, tidak ketahuan dari mana asalnya. Kini populasi mereka bertambah sangat cepat, seolah mengalahkan populasi kadal kebun yang biasa kulihat.

Tapi suhu panas memang cocok untuk habitat londok. Dan londok-londok entah bagaimana berhasil menemukan tempat di mana telur-telur mereka akan dengan mudah menetas. Mereka menggali dan mengubur telur-telur di dalam tanah agar aman dari serangan predator. Setelah menetas anak-anak londok akan bersembunyi di semak dan pepohonan, memakan serangga-serangga kecil agar tumbuh besar.

Perubahan iklim memicu perubahan habitat. Binatang-binatang berpindah tempat, meninggalkan tempat tinggal yang lama lalu beradaptasi dengan habitat baru. Awalnya hanya bermigrasi kemudian menetap. Seperti londok yang kini sering terlihat di area perumahan, di luar habitat aslinya yaitu semak-semak di pinggiran hutan atau kebun.

Di tempat sepanas ini londok-londok akan berkembang biak dengan cepat dan semoga saja akan menjadi predator untuk nyamuk dan serangga.

Alam memang tidak bisa diduga. Ia bisa melakukan apa saja yang ia mau. Manusia tidak punya kuasa. Mereka mengira mereka punya, padahal tidak. Alam dapat memusnahkan manusia dengan gelombang panas―atau suhu panas, kapan saja. Kekeringan akan datang. Hujan bisa saja tak lagi turun. Mungkin suatu hari populasi londok akan mengalahkan populasi manusia dan mereka akan menguasai bumi seperti era dinosaurus dulu.

Namun alam begitu pemaaf hingga detik ini. Ia belum kehilangan kesabarannya pada manusia.

Alam akan mengatur agar pohon-pohon kersen tumbuh dengan cepat. Pohonnya memang tangguh dan dapat tumbuh di mana-mana. Kau tidak akan menyadarinya. Sebentar saja ia akan membesar dan menyediakan kanopi untuk tukang becak tidur siang.

Pohon apa pun jenisnya akan meneduhkan, namun pohon kersen dikenal sebagai pohon yang hijau abadi, terus menerus berbunga dan berbuah sepanjang tahun. Pohon-pohon liar dengan buah-buahan semacam kersen menyediakan sumber makanan untuk berbagai jenis binatang. Burung-burung, serangga, ular, laba-laba, bahkan musang bulan yang kadang-kadang muncul mencari pasangan.

Dalam waktu singkat, pohon-pohon kersen akan membentuk koloni dan menjamur di mana-mana, tumbuh dengan cepat agar binatang-binatang yang bergantung padanya dapat hidup lebih panjang selama kemarau. Burung trucukan akan mampir dan berkicau dengan berisik, menjatuhkan biji untuk kemudian tumbuh lagi. Di malam hari codot berdatangan, bergelantungan dan makan buah kersen dengan rakus.

Aku berteduh di bawah pohon kersen yang berhasil diselamatkan Ibu dari kobaran api. Tanah kaveling ini saja sudah menjadi oasis bagi binatang-binatang liar. Bangunannya sudah mangkrak, beberapa kali aku sempat melihat keluarga musang bulan bersarang di antara puing bangunan. Dua pohon kersen tumbuh besar di bagian belakang dan satu pohon lagi, tempatku berteduh, tumbuh di dekat pagar. Dahan dan ranting-rantingnya menjulur melewati pagar.

Ibu berdiri tidak jauh dariku. Ia sedang mengenalkan pohon kersen pada ketiga anaknya. Kakinya berjinjit, tangannya menggapai ranting pohon yang ditumbuhi buah dan menariknya turun agar anaknya bisa memetik buahnya. Yang lain berebut ingin ikut mencoba memetik. Mereka mendongak sambil menunjuk ke sela-sela dedaunan. Mata mereka mencari-cari warna merah dari buah yang ranum. Gelak tawa mereka begitu menyenangkan didengar. Ibu memberi contoh bagaimana caranya menyesap isi buah yang berair dan membuang sisa kulitnya ke tanah agar suatu hari nanti biji-bijinya bisa tumbuh.

Aku memejamkan mata. Angin masih terasa kering. Meski selalu kewalahan selama musim kemarau namun tetes air hujan pertama di awal musim hujan selalu membuatku merasa perlu untuk meneruskan hidup. Satu lagi hari panas harus dilalui dan semakin panas setiap harinya. Rasanya aku bisa mencium bau hujan di kejauhan.

One thought on “Cerpen #152 Koloni Kersen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *