Cerpen #151 Tanah Air

Kesadaran Misnan pelan-pelan datang kembali. Suara kecipak air yang telah akrab menyusupi indera pendengarannya. Angin mendesah pelan menggaris dinding-dinding rumahnya yang sudah gumpil di sana-sini. Seekor kuntul terbang melintas sambil memekik. Di kejauhan sekelompok kancilan bakau ribut mencericit. Matanya mengerjap. Seberkas sinar matahari menerobos genting atap rumah yang bolong dan jatuh tepat di wajahnya. Hari yang baru dan cerah. Hanya saja semangat dan tubuhnya tak bisa membersamainya. Tiga hari ini badannya demam dan pegal-pegal, membuatnya tak pergi melaut. Melaut? Hah! Bukankah aku ini tinggal di laut? Jadi bisa dibilang aku melaut terus setiap saat kan, batinnya sambil terkekeh pelan.

Ia sibakkan sarung lalu meraih botol plastik bekas air kemasan di samping dipan. Ditenggaknya beberapa teguk air. Turun dari dipan, sandalnya terasa basah, demikian pula lantai semen yang baru ia tinggikan enam bulan lalu. Rupanya pasang naik semalam sudah melampauinya. Di bagian rumah yang tak ia tinggikan, karena ia tak mampu meninggikan seluruh lantai rumahnya, tampak jejak lumpur. Sedangkan teras dan halaman rumahnya selalu tergenang, menyatukan kapling tanahnya dengan laut sekitarnya. Perahu yang terikat pada tiang bergoyang-goyang dialunkan ombak, bagaikan seekor anak anjing yang melonjak-lonjak mengajak bermain majikannya.

Misnan tak memedulikannya. Ia menuju ke dapur. Perutnya keroncongan. Ia mengambil beras dua genggam dari jatah sembako kelurahan lalu menanaknya. Demi menghemat waktu, ia rebus dua butir telur bersama-sama dengan tanakan beras. Sembari menunggu, dirabanya leher. Sudah mendingan, pikirnya. Pageblug boleh saja merajalela, tapi aku tak boleh sakit. Tapi apa iya aku terkena pageblug itu? Saat ini hanya Misnan yang masih tinggal di dusun Sumberdaya, yang sekarang acap diplesetkan jadi Sumbertoya*, ini. Penduduk lainnya sudah mengungsi ke dusun Rejosari yang berjarak satu setengah kilometer ke selatan. Jadi kalau sekarang dibilang harus menjaga jarak, Misnan sudah dengan sendirinya berjarak dengan orang-orang lain. Ia juga jarang berinteraksi dengan orang lain, kecuali saat menjual ikan atau kerang tangkapannya di pasar Rejosari. Kalaupun mampir di warung untuk mengopi, tanpa adanya pageblug pun, tak pernah ia berlama-lama. Sindiran, ucapan nyinyir, ataupun nasihat sok bijak mengenai sikapnya pasti akan muncul jika ia duduk lebih dari limabelas menit. Ia sudah malas meladeni orang-orang macam itu. Maka Misnan ragu, apakah sakitnya dua hari ini karena pageblug itu atau hanya sekadar kelelahan.

Tiba-tiba Misnan teringat Marsih, istrinya. Ia tekenang pijatan dan kerokan Marsih yang sangat manjur saat tubuhnya kurang sehat. Termangu ia memandang pintu belakang rumah. Di situlah enam tahun lalu, ia menemukan Marsih terbujur kaku sepulangnya mengantar Nunik ke sekolah. Malam sebelumnya turun hujan lebat. Walau saat itu laut belum menggenangi dusunnya, tapi kondisi rumahnya sudah lapuk dan bocor di mana-mana. Lantai dapur itu berlumut dan licin. Marsih terpeleset dan kepalanya membentur kusen pintu belakang. Misnan menemukan istrinya sudah dalam kondisi tak lagi bernyawa.  Ia melolong dan kelimpungan mencari bantuan ke tetangga-tetangganya. Namun tak ada lagi yang bisa dilakukan selain memandikan dan menyembahyangi. Nunik segera dijemput dari sekolah dan ia meraung sejadi-jadinya melihat ibu, yang saat ditinggalkan pagi itu masih segar bugar, telah terbaring dan tak bangun lagi.

Siang itu jenasah Marsih dimakamkan di pemakaman yang terletak di barat dusun.

Dan hidup bapak-beranak ini pasca kematian orang tercinta mereka bukannya makin erat, tetapi justru makin runyam. Nunik sebenarnya sudah lama mengusulkan kepada kedua orang tuanya agar mereka pindah ke selatan, ke tempat yang lebih tinggi. Rob sudah mulai menyerbu masuk ke dusunnya sejak ia duduk di bangku SD. Saat itu sawah-sawah, yang masih diingatnya semasa kecil, termasuk sawah bapaknya, sudah mulai menghilang dan berubah menjadi tambak. Beberapa keluarga temannya juga sudah ada yang pindah, terutama mereka yang tinggal lebih dekat pantai. Sempat ada unjuk rasa menuntut kelurahan agar mengungsikan dan memberikan tanah serta rumah pengganti bagi penduduk yang terdampak. Namun pemerintah menolak dengan alasan mereka tak punya tanah kas.

Unjuk rasa yang tak terkoordinasi itu pun akhirnya berhenti dengan sendirinya, karena setiap orang didesak oleh kebutuhan sehari-hari. Satu demi satu mereka menyerah dan pindah dengan uang sendiri seadanya atau berhutang. Beberapa menjual tanah yang telah menjadi tambak, karena tak sanggup lagi mengurusnya. Semua, kecuali Misnan. Ia tetap bertahan di rumahnya, sekalipun makin hari makin bertambah parah rob yang terjadi. Nunik pun kehilangan teman. Ia lama kelamaan jemu tinggal hanya dengan orang tuanya. Tak ada lagi teman main, pun ia jadi sulit menyalurkan hobinya menyanyi. Sebelumnya ia sering menyambangi Puput, sahabatnya yang mempunyai perangkat karaoke dan mereka puas melantunkan lagu-lagu dangdut yang sedang populer. Dunianya menjadi sepi. Desakan-desakannya agar pindah tak digubris ayahnya.

“Ini tanah warisan dari leluhurmu, Nok*. Tanah pusaka. Pesan simbahmu tanah ini tidak boleh dijual ataupun ditinggalkan. Kudu diopeni.*,” demikian Misnan selalu menyampaikan argumentasinya. Sedangkan Marsih adalah perempuan yang patuh pada suami. Yang bisa ia lakukan hanyalah mencoba menyabar-nyabarkan anak semata wayangnya itu. Sang ibu berjanji bahwa Nunik boleh merantau selepas lulus SMA nanti.

Sayang ibunya mangkat ketika Nunik belum menyelesaikan pendidikannya, sehingga mau tak mau ia harus tinggal hanya dengan ayahnya. Dan perbedaan pendapat di antara mereka tak ada lagi yang menjembatani. Suasana rumah hampir-hampir selalu dingin, jika tidak diisi dengan pertengkaran antara bapak dan anak. Di malam hari, Nunik sering duduk-duduk di teras memandangi kelap-kelip lampu di timur. Itu adalah kota kabupaten. Nunik dan teman-teman terkadang pergi ke sana selepas jam sekolah, sekadar untuk nongkrong menikmati keramaian. Dan jika ia mengalihkan pandangan ke barat, di sana jauh lebih gemerlap. Tak hanya di dataran rendah dekat pantai, tapi bahkan sampai ke perbukitan di selatannya. Itulah ibukota provinsi. Semasa ibunya masih hidup, Nunik pernah suatu kali diajak orang tuanya untuk melihat pasar malam menjelang Lebaran. Ia begitu terkesan dengan suasana semarak, beragam jajanan enak, lampu-lampu yang terang benderang, kendaraan yang lalu lalang. Enggan rasanya ia pulang malam itu. Nunik begitu menyukai keramaian dan gemerlapnya kota. Tapi kenyataannya ia tinggal di desa yang gelap dan sepi.

Akhirnya kondisi ini mempengaruhi konsentrasi belajarnya. Nilai-nilai mata pelajaran Nunik banyak yang jeblok. Di pertengahan kelas tiga ia menyerah. Ia mendatangi bapaknya suatu hari.

“Pak, kemarin aku dihubungi Kang Jamin.”

“Jamin yang punya orkes dangdut itu? Mau apa?”

“Salah satu penyanyinya cuti lama karena hamil.”

“Terus?”

“Aku ditawari untuk jadi penyanyi pengganti sementara.”

“Lha, sekolahmu piye*?”

“Aku mau berhenti saja, Pak. Sudah bosen.”

“Sudah kelas 3 lho, Nik. Eman-eman to*. Sebentar lagi.”

Nunik hanya menunduk diam. Sikap yang justru menunjukkan bahwa ia sudah membulatkan tekad. Misnan menghela nafas. Ia tak kuasa mendorong-dorong anaknya, karena ia pun dulu jebolan SMA. Malah ia keluar sewaktu masih kelas satu.

“Lha, tapi kerjamu itu kan cuma sementara. Nanti kalau penyanyi yang cuti itu kerja lagi, kamu mau apa?” tanya Misnan.

“Kata Kang Jamin, dia mau meluaskan jangkauan orkesnya sampai ke perbatasan Jawa Barat dan Jawa Timur. Kalau berhasil, berarti aku bisa jadi penyanyi tetap.”

“Kalau berhasil…,” ujar Misnan sambil menerawang. Ia kenal Jamin, yang walaupun pernah melakukan kenakalan-kenakalan anak muda, tapi seorang pekerja keras. OM Surya Nada itu buktinya. Dari grup musik kelas kampung, kini sudah mulai terkenal di kota kabupaten dan desa-desa sekitarnya.

“Ya wis* kalau itu maumu..,” Misnan akhirnya memberi putusan.

Nunik tak membuang waktu. Ia segera menyiapkan barang bawaannya yang tak seberapa. Keduanya tak berucap sepanjang malam. Bahkan keesokan paginya ketika Misnan mengantar Nunik ke rumah Jamin, ia hanya berkata seperlunya.

“Jaga dirimu baik-baik, nduk. …..,” pesan Misnan

“Pangestune*, Bapak,” kata Nunik sambil mencium tangan bapaknya. Matanya memerah. Sekalipun sering beradu pendapat, namun Nunik masih mengingat bahwa lelaki di depannya itu adalah bapaknya. Misnan mengelus kepala putrinya sekilas, lalu ia berbalik meninggalkan rumah Jamin.

***

Bau sangit menyengat indera penciuman Misnan, membawanya kembali ke masa kini. Dimatikannya kompor. Nasi yang ditanaknya mulai gosong. Dan telur pun sudah retak cangkangnya karena terlampau matang. Misnan tak ambil pusing. Ia tuang nasi itu ke piring, telur ia kupas sembari direndam dalam dengan air dingin. Lalu setelah menaburi dengan garam dan kecap, ia pun mulai menikmati sarapannya. Di gerumbulan api-api tampak sekelompok bangau juga sedang menikmati ikan dan udang hasil buruan mereka.

Jenis pohon mangrove itu merupakan hasil tanamannya sepuluh tahun lalu. Saat itu dusunnya mulai tenggelam. Rob merendam petak-petak sawah satu per satu. Datanglah orang-orang pandai dari Dinas Lingkungan yang memberi tahu bahwa gempuran air laut itu bisa dihambat dengan mangrove dan mereka mengajak penduduk dusun untuk menanami pantai. Banyak yang mencibir. Dianggapnya usul itu hanyalah akal-akalan pemerintah untuk tidak perlu repot memindahkan mereka. Tapi Misnan termasuk yang percaya. Semasa kecil ia pernah mendengar kakeknya bercerita bahwa dusun mereka dulu rimbun bagaikan hutan, sebelum akhirnya dibabati guna membuat sawah dan pemukiman. Maka ia dan beberapa penduduk dusun pun mulai menanami di sekitar tanahnya dengan mangrove. Tapi upayanya dan sedikit orang yang percaya pada manfaat mangrove tak sebanding dengan kuasa alam yang telah rusak. Air laut terus menerjang dan sedikit demi sedikit terus merendam dusun mereka, sehingga teman-teman Misnan pun menyerah.

Tapi Misnan pantang undur. Ia terus saja menanam mangrove, yang bibitnya diperoleh dari Balai Benih. Lalu ia juga mulai belajar pembibitan sendiri. Lama kelamaan ia dianggap menjadi seorang ahli mangrove. Ia sering menjadi rujukan pihak-pihak yang peduli pada penyelamatan lingkungan. Tiga-empat tahun belakangan ini ia juga sering diajak sebuah lembaga swadaya masyarakat untuk memandu kelompok-kelompok orang yang menjadi relawan penanaman mangrove, di samping mereka juga membeli sebagian bibit darinya. Dan dari orang-orang ini Misnan bertukar pengetahuan. Ia jadi tahu bahwa keadaan yang dihadapi dusunnya juga dialami banyak desa di sepanjang pesisir pulau Jawa ini. Upaya yang dilakukannya menjadi mata rantai penting dalam menyelamatkan kawasan pantai. Dari tamu-tamunya Misnan juga belajar dua kejadian alam yaitu pemanasan global dan perubahan iklim. Ia tak sepenuhnya paham tentang istilah-istilah itu, tapi Misnan memang merasakan sendiri bahwa musim-musim kini tak lagi bisa diprediksi dengan akurat seperti di masa kecilnya. Hawa pun dirasakan semakin gerah. Saat melaut sesekali dilihatnya tongkang-tongkang besar mengangkut tumpukan batuan hitam macam arang. Tongkang-tongkang itu menuju suatu tempat di ibukota provinsi yang tampak dari kejauhan bercerobong tinggi-tinggi. Menurut penuturan dari tamu-tamunya, di tempat itulah batuan hitam yang disebut batu bara itu diubah menjadi listrik. Tak paham Misnan bagaimana bisa dengan membakar arang jadi listrik. Tapi yang jelas tampak bahwa cerobong-cerobong itu tak henti mengepulkan asap ke udara. Asap itulah yang membuat hawa makin panas.

Di samping menjadi rujukan penanaman mangrove, sikap Misnan yang bertahan di rumah dan tanahnya yang sudah terendam air ini jelas menarik perhatian. Sudah berkali-kali pers datang menyambangi dan mewawancarainya, mengambil foto dirinya dan rumah yang telah ia tempati turun temurun ini. Wajah Misnan, rumah dan perahunya terpampang di berbagai media, cetak maupun elektronik. Tak hanya kaum pers, orang-orang dari perguruan tinggi, lembaga sosial maupun dinas lingkungan juga datang bertamu. Mereka kagum pada sikap keteguhan hati Misnan dan mengajaknya bekerja sama dalam penelitian tentang lingkungan, khususnya mangrove. Namun selain itu ada pula yang datang dari fakultas psikologi dengan maksud menelisik latar belakang motivasi sikap bertahan Misnan. Bagi mereka adalah unik bahwa masih ada orang yang tak mau pindah sekalipun rumah dan tanahnya sudah terendam air. Misnan mencak-mencak begitu tahu maksud tamunya yang terakhir ini.

“Saya tidak gila, Pak..! Saya sekadar mengikuti amanat orangtua dan leluhur saya, bahwa tanah dan rumah ini harus dijaga dan dirawat. Bahwa di tempat ini saya dilahirkan dan orang-orang tua saya dimakamkan. Saya, istilahnya, terikat dengan tanah ini, Pak. Panjenengan* semua kan orang Jawa to? Mestinya paham falsafah ini.”

Tamu-tamu itu hanya manggut-manggut sambil nyengir mendengar ceramah Misnan.

Bukan hanya yang mempertanyakan kewarasannya, ada juga orang yang nyinyir menuduh Misnan sengaja bersikap bertahan, untuk mendapatkan keuntungan dari kunjungan-kunjungan itu serta seringnya diliput media. Biasanya yang bersuara macam ini adalah orang-orang desa yang suka bergunjing.

“Astagfirullah..! Samber geledek kalau aku dapat duit dari kondisiku atau menjual tragedi ini, Dri..!” katanya pada Badri, ketika temannya itu suatu kali menyampaikan omongan tetangga-tetangga di desa. “Mbok yao pada mikir.. Kalau aku dapat duit, kan ya mesti aku perbaiki rumahku jadi bagus to, nyantai ndak usah kerja atau ganti motor tempel buat perahu..? Aku memang jualan bibit mangrove, tapi itu kan tidak seberapa. Selain itu memang diperlukan dan atas saran Dinas Lingkungan. Mulut kok asal njeplak*.!”

Itulah sebabnya Misnan tak pernah kerasan di darat saat ia harus menjual hasil tangkapannya.

Adanya pandemi menyurutkan kegiatan-kegiatan penanaman mangrove. Namun begitu Misnan tetap saja menanam semampunya. Ia tetap berkeyakinan tanaman ini mampu menahan laju gelombang laut. Setidaknya tak membuat kondisi makin parah. Ia senang melihat burung-burung kuntul, bangau, cangak, kancilan sekarang ramai bersarang di pepohonan itu. Hanya saja kini bibit-bibit mangrovenya tak ada yang membeli. Maka demi menyambung hidup, Misnan harus lebih sering mencari ikan, udang atau kerang setiap hari. Kegiatan yang terpaksa berhenti selama tiga hari karena badannya lemas dan demam.

***

Terdengar suara motor tempel mendekat ke rumahnya. Dari kejauhan ia mengenali perahu warna biru dengan haluan kuning milik Trisno. Selain Badri, Trisno adalah orang yang memahami sikap Misnan dan sering bekerja sama dengannya untuk mengantar para relawan yang akan melakukan penanaman mangrove. Sosok Trisno yang bertubuh gempal tampak mengemudikan perahu di bagian samping agak belakang. Ia membawa dua orang penumpang – satu perempuan dan satu lelaki. Siapa mereka? batin Misnan. Keduanya berpenampilan rapi, mengenakan topi, kacamata gelap dan masker. Tak tampak macam wartawan yang biasanya lusuh, ataupun orang-orang kampus, yang walau rapi, tapi biasanya sederhana.

Misnan segera mencuci tangannya yang belepotan nasi dan kuning telur. Lalu ia menunggu di pintu depan. Perahu Trisno melambat, lalu merapat ke teras rumah dan berhenti di samping perahu Misnan. Trisno melempar tali tampar yang segera ditangkap Misnan dan mengikatkannya di tiang rumah. Penumpang perempuan yang berambut panjang dan dikuncir ekor kuda itu melompat dengan lincah ke lantai teras.

“Bapak..!” panggilnya. Terdengar suara yang tak asing.

“Heh… Nunik to ini?” jawab Misnan keheranan melihat penampilan anaknya yang dulu lugu, kini meriah dengan riasan wajah, perhiasan dan pakaian kota yang terlihat mewah. Nunik segera mengambil tangan Misnan dan menciumnya. Sementara itu si penumpang lelaki tampak agak canggung melangkah turun dari perahu yang bergoyang-goyang, sambil membawa dua tas kresek yang sarat beban.

“Kenalkan, Pak, ini mas Wisnu. Mas, ini bapakku, Pak Misnan,” kata Nunik.

“Selamat siang, Pak,” kata Wisnu sambil membungkuk dan bersalam sembah yang menjadi populer dilakukan di jaman pageblug ini. Tangan kanan Misnan yang sudah terulur canggung terhenti di udara, lalu cepat-cepat ditangkupkan dengan tangan kiri.

“Ayo, ayo, masuk,” ajak Misnan pada keduanya. “Ayo, Tris..kamu juga. Kok malah cuma duduk di perahu.”

“Aku di sini dulu aja, Kang. Mau bongkar mesin. Kayaknya ada masalah di busi atau saluran bahan bakar,” ujar Trisno sambil mengepulkan asap rokok.

Misnan masuk diikuti Nunik dan Wisnu. Cuping hidung Wisnu bergerak-gerak sambil mendenguskan nafas pelan begitu memasuki ruangan. Aroma lembab dari benda-benda yang terendam air bercampur bau anyir khas rawa sedikit mengganggu penciumannya. Misnan meliriknya.

“Maaf ya, Nak, kondisi rumah Bapak kayak gini. Maklum semalam pasang naik agak tinggi, jadi lumpur masuk sampai ke dalam.”

“Oh..eh.. iya, Pak, tidak apa-apa..” kata Wisnu kikuk karena respon tubuhnya tertangkap mata tuan rumah.

“Pak, bagaimana keadaan Bapak? Kata Lik Trisno sudah tiga hari ini Bapak tidak kelihatan di pasar. Bapak sakit? Hati-hati lho, Pak, jaman pandemi..” kata Nunik.

“Hahaha… aku cuma pengen ngasoh aja. Kamu lihat sendiri, apa aku sakit sekarang?”

“Ya sudah, kalau tidak apa-apa, Pak. Syukur alhamdulillah. Ini ada sedikit oleh-oleh buat Bapak” ujar Nunik sambil menyorongkan dua tas kresek besar yang tampak berat itu.

“Walah.. repot-repot. Lho, Nik, kok banyak banget..?” tanya Misnan ketika mengintip isi tas-tas itu. Berbagai macam sembilan bahan pokok, biskuit, buah-buahan, vitamin, alat-alat mandi, bahkan sampai kain sarung, peci, baju kaus dan celana dalam. Misnan mengambil satu kaleng kotak bergambar sapi.

“Aku juga kamu suruh makan ini?”

“Itu namanya kornet, Pak, daging sapi. Buat variasi, biar tidak bosan lauknya ikan apa telur terus,” jelas Nunik. “Eh, Mas, beras dan mi-nya masih di perahu.”

Wisnu segera bangkit keluar dan masuk lagi membawa kardus mi instan dan beras dalam kemasan plastik. Misnan terpana memandang bawaan anaknya itu.

“Kamu sudah kaya rupanya, Nik?”

“Ah tidak, Pak. Ini sebagian mas Wisnu yang beliin.”

“Walah, matur nuwun, Nak Wisnu. Sampai repot-repot.”

“Iya, Pak, tidak apa-apa. Sami-sami*…” jawab Wisnu

Misnan membatin, apa sebenarnya tujuan kedatangan Nunik ini. Sejak diantarnya ke rumah Jamin empat tahun lalu, tak pernah sekalipun anaknya itu datang mengunjunginya. Paling ia hanya mengirim pesan pendek melalui telepon genggam. Itupun jarang-jarang. Sesekali ia menerima uang yang dititipkan Nunik pada Trisno atau Badri. Dari mereka pula sesekali Misnan mendengar kabar kalau karir Nunik makin moncer. Namun di darat pun Misnan enggan untuk menyambangi kos Nunik yang terletak agak jauh dari pantai. Adanya suara-suara nyinyir menghalanginya untuk sekadar mampir menengok anaknya. Ia khawatir dikira akan meminta bantuan. Maka suatu keluarbiasaan Nunik akhirnya mau kembali ke rumah tempat kelahirannya ini.

“Aku tadi nyekar ke ibuk sebelum ke sini, Pak,” kata Nunik setelah urusan oleh-oleh selesai. “Makam beliau, dan juga makam mbah kakung, mbah putri serta mbah buyut, sudah terendam air, Pak.”

“Memang,” jawab Misnan sambil menerawang.”Air makin parah di bagian sana. Belum tertanami mangrove dengan maksimal. Sejak pageblug tidak ada lagi relawan yang membantu penanaman.”

“Pak, aku sekarang sudah jadi penyanyi tetap di tempat Kang Jamin. Orkes Melayu Surya Nada sekarang sudah terkenal lho sampai Pekalongan dan Rembang.”

“Ya, syukur, nok. Aku ikut senang.”

Nunik melirik Wisnu.

“Pak, aku sekarang sudah ngontrak rumah sendiri. Bapak mau ya, tinggal sama aku? Di sini kan kondisinya makin parah. Tidak sehat buat tinggal. Insya Allah, tahun depan bakal benar-benar rumah sendiri.” Nunik melirik Wisnu lagi. Kali ini sambil tersenyum. Ada semburat merah di pipinya. Yang dilirik hanya tersenyum dan balik melirik. Misnan manggut-manggut melihat adegan itu.

“Terima kasih buat ajakanmu, nduk. Kondisi di sini memang lebih parah dibanding waktu kamu tinggalkan dulu. Tapi sekali lagi aku sampaikan – ini tanah leluhur yang harus dirawat sampai kapan pun. Aku terikat secara batin dengan tanah ini bagaikan seorang bayi terhadap ibunya. Jadi biarkan saja Bapakmu tinggal di sini saja.”

“Nuwun sewu* sebelumnya, Pak, kalau saya lancang. Tapi yang dikatakan Nunik benar. Tempat ini sebenarnya sudah tidak sehat untuk tempat tinggal,” Wisnu yang sejak tadi diam mulai angkat bicara.

“Rumah ini juga sudah lapuk,” sambung Nunik sebelum bapaknya memberi tanggapan. “Takutnya kalau tiba-tiba ada bagian yang roboh, Pak. Bapak kan tinggal sendirian, kalau kenapa-kenapa nanti tidak ada yang tahu.”

“Aku sudah biasa tinggal sendirian, Nik. Keramaian tidak menarik hatiku. Soal kondisi rumah, ya kalau sampai ada jatuh menimpaku ya itu nasib. Aku rela kok mati di sini. Ibumu, simbah-simbahmu juga meninggal di rumah ini.”

“Pak, mbok jangan nyebut-nyebut soal mati,” kata Nunik. Dadanya berdesir teringat mendiang ibunya.

“Lha, tadi dirimu yang nyebut soal ‘kenapa-kenapa’…,” nada bicara Misnan mulai menaik.

“Maaf, Pak,” Wisnu mencoba menengahi, “sebenarnya kalau Bapak tidak bersedia tinggal bersama Nunik di daerah yang ramai, ada pilihan lain.”

“Pilihan apa?”

“Kebetulan perusahaan tempat saya kerja sedang ada program sosial. Salah satunya adalah menyediakan kredit lunak permukiman. Dan perusahaan juga mempunyai sebidang lahan di timur kota kabupaten, masih di pesisir tapi tanahnya keras dan tinggi. Di sana hanya ada beberapa rumah, jadi lumayan sepi, karena sekitarnya dijadikan tambak dan kebun kelapa. Kalau Bapak bersedia, saya bisa atur ke manajemen, agar Bapak jadi salah satu penerima bantuan.”

“Soal cicilan, Bapak mboten* usah mikir. Nanti aku yang nanggung. Lagian cicilannya ringan kok. Ya kan, Mas?” sambung Nunik. Wisnu mengangguk.

“Ada subsidi juga dari perusahaan.”

“Perusahaan apa itu, Nak Wisnu? Kok gemati* banget,” tanya Misnan.

“PT. Nusa Indo Energi, Pak.”

“Oh, yang pabrik listrik itu ya..,” ujar Misnan.

“Benar, Bapak,” jawab Wisnu sambil nyengir. Istilah ‘pabrik’ terasa agak menyederhanakan, bahkan sedikit merendahkan, fasilitas yang memakai teknologi canggih itu. Tapi ia menelan saja ucapan itu, karena ingin agar misinya tercapai.

Selama perbincangan itu, Wisnu berusaha berbicara dengan nada yang ramah dan menunjukkan wajah simpatik. Namun hatinya berkecamuk. Bermula dari sebuah pemberitaan di media yang mengangkat masalah lingkungan. Ada satu artikel yang menyoroti penggunaan batubara sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Bahan bakar fosil telah terbukti sebagai penyumbang besar emisi karbon yang menyebabkan pemanasan global dan krisis iklim. Masalahnya perusahaan Wisnu dijadikan contoh pembahasan tentang energi kotor dan dampaknya pada kenaikan permukaan air laut. Dan yang lebih menohok adalah adanya foto Misnan sedang melaut, sementara di latar belakang tampak sebuah kapal tongkang sarat batubara sedang menuju ke PT. Nusa Indo Energi yang cerobong-cerobongnya mengepulkan asap. Maka, selama berkeras tak mau pindah, apalagi dengan aktifitasnya sebagai penanam mangrove, Misnan akan terus terekspos di media. Jadi keberadaannya di rumah ini dianggap menjadi publikasi buruk bagi perusahaan itu.

Sungguh kebetulan Wisnu berpacaran dengan anak Misnan. Ia kenal Nunik pada pergelaran musik dalam suatu acara bakti sosial yang diadakan perusahaannya. Pihak manajemen segera menugaskan Wisnu, bersama Nunik, untuk membujuk Misnan agar mau pindah. Selain menjauhkan Misnan ke tempat yang tak terjangkau radar media dan aktifis, upaya itu juga sekaligus akan menunjukkan tanggung jawab sosial perusahaan. Wisnu dan Nunik setuju. Mereka serius ingin membangun rumah tangga dan berencana menikah tahun depan. Wisnu tak bisa membayangkan apabila orang tuanya, terutama ibunya yang biasa ke salon dan pergi ke mal, harus ke rumah Misnan yang becek, lembab dan bau begini untuk melamar Nunik.

Namun di samping rencana yang simpatik dan berkaitan dengan masa depan pribadi Wisnu, manajemen juga menyiapkan satu rencana cadangan, apabila rencana utama itu gagal. Jika Misnan berkeras menolak pindah dan tetap melanjutkan kegiatannya, maka nantinya akan dirancang satu ‘kecelakaan’. Tentu tidak sulit untuk membuat seolah-olah Misnan terpeleset lalu kepalanya jatuh terbentur lantai, misalnya. Atau terjatuh ke laut dan tenggelam akibat terlambat ditolong. Bukankah ia tinggal sendirian? Keberadaan saksi bisa sangat diminimalkan. Namun rencana cadangan ini tentu tak disampaikan Wisnu pada Nunik. Maka ia berusaha keras untuk meyakinkan bakal calon mertuanya itu untuk pindah dengan suka rela.

Misnan menghela nafas. Setelah orang-orang desa, sekarang giliran anaknya yang merecoki ketetapan hatinya. Bahkan perusahaan yang tak ia kenal pun mau ikut-ikut mendorongnya agar pindah.

“Nok, cah ayu, terima kasih untuk perhatianmu, juga sampeyan*, nak Wisnu, yang mau repot-repot mikiri Bapak. Tapi sudah berulang kali kubilang, niatanku ini bukan mencari perhatian atau tindakan tidak waras. Aku cuma mau menegakkan pesan orangtua-orangtuaku. Itu saja. Sekarang aku sudah tua. Hidupku mungkin tak terlalu lama lagi. Jadi biarkan aku tinggal di sini saja sampai tiba waktuku nanti. Untuk dirimu, Nik, aku paham dengan kebutuhan dan keinginanmu, jadi tidak usah terbeban. Kamu bebas mau terbang ke mana. Tapi biarlah Bapakmu ini tetap berdiri di tanah-air ini sampai lebur.”

Nunik hanya tediam dan menunduk. Sama seperti dulu ketika ia memutuskan pergi dari rumah, ia pun tahu bapaknya takkan bisa diubah pendiriannya. Mereka sebenarnya sama-sama keras kepala. Jika Nunik bisa menerima keputusan Misnan, walau dengan berat hati, Wisnu sebaliknya. Hatinya gundah. Ia tak ingin rencana cadangan perusahaannya dilaksanakan, namun ia juga tak bisa mendesak Misnan lebih jauh tanpa menimbulkan kecurigaan. Wajahnya muram.

Tak ada lagi yang dibicarakan, Nunik dan Wisnu pun pamit. Saat berjalan ke perahu, Wisnu sekali lagi mencoba membujuk Misnan. Jika seandainya suatu saat nanti Misnan berubah pikiran agar menghubunginya. Misnan hanya tertawa ringan sambil menepuk bahu Wisnu.

“Ya, terima kasih, Nak Wisnu. Omong-omong, aku paling suka lho dengan tokoh Wisnu dalam pewayangan. Wisnu adalah dewa yang memelihara dan menjaga kehidupan yang ada di dunia ini. Maka Wisnu itu identik dengan kehidupan. Semoga Nak Wisnu juga bisa berkarya bagi kehidupan ya.”

“Inggih*, Pak, matur nuwun doanya,” jawab Wisnu sambil menangkupkan tangan bersalam dan pamit.

Di atas perahu dalam perjalanan pulang ke darat, Wisnu tak berbicara sepatah kata pun, wajah suram, sesuram senja tersaput mendung. Ia bisa bayangkan besok dirinya menghadap ke manajemen untuk memberi laporan bahwa misi membujuk Misnan gagal. Ia bisa bayangkan manajemen lalu menyuruhnya mengontak seseorang. Seseorang dari dunia hitam yang sudah biasa melakukan pekerjaan kotor dengan imbalan uang. Mendadak Wisnu merasa masa depannya bersama Nunik tertutup kabut asap.

 

Catatan:

  • toya : air
  • nok : singkatan dari “denok”, panggilan untuk anak perempuan
  • kudu diopeni : harus dirawat
  • piye : bagaimana
  • eman-eman to : sayang kan
  • ya wis : ya sudah
  • pangestune : (mohon) restu
  • panjenengan : anda
  • sami-sami :sama-sama
  • nuwun sewu : mohon maaf
  • gemati : murah hati
  • mboten : tidak
  • sampeyan : anda
  • inggih : iya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *