Cerpen #150 Dua Satu Dua Satu

Semua telah berubah, semua telah berganti

Tak hanya kehidupan tapi juga bumi sendiri.

Lebih hening, semua lebih bersih dan bening.

Entah ini karunia, entah ini petaka, yang jelas

Kehidupan tak lagi seperti dulu, semua beda.

Robotic Quantum Brain-net sekarang jadi nyata.

 

Langit masih ada, laut masih ada, bumi masih ada, angin masih ada, hujan masih ada, daun masih ada dan hijau kuningnya juga tetap bergantian. Pendek kata semua masih ada. Yang berbeda adalah jumlahnya. Yang berbeda adalah kualitasnya. Yang berbeda adalah hening dan senyapnya. Tak banyak hiruk-pikuk, tak banyak dentang gemerincing, tak banyak suara. Jauh lebih hening, jauh lebih senyap, meskipun juga jauh lebih bersih. Polusi sudah lama tidak ada. Efek rumah kaca telah lama tak lagi dibicarakan. Pemanasan global hanya tersisa di ruang-ruang pustaka maya. Karbon tak lagi ingin dijadikan seimbang antara yang dibuat manusia dan kemampuan alam  menyerapnya.  Itu jargon usang yang tak lagi dibicarakan karena memang sudah tidak relevan lagi.

Yang tersisa adalah manusia tanpa batas negara. Yang masih ada adalah manusia dengan satu kewarganegaraan. Warga Planet Biru. Planet Biru yang pernah dinamakan sebagai Pale Blue Dot, sebuah istilah yang ditulis oleh Carl Sagan dalam bukunya yang berjudul sama. Istilah ini tidak akan pernah muncul jika permintaannya pada pemilik Voyager 1, sebuah wahana antariksa yang akan segera meninggalkan tata surya untuk selamanya, tidak dikabulkan. Sebuah permintaan yang tampaknya sederhana tetapi implikasinya benar-benar dahsyat luar-biasa.

Planet Biru berhasil difoto oleh kamera Voyager 1  yang harus memutar dirinya pada jarak enam milyar kilometer dari bumi dan hasilnya ya itu tadi, Pale Blue Dot, yang hanya seperti sebuah piksel dalam mahaluasnya alam semesta. Foto yang kemudian diberi nama Titik Biru Pucat ini, benar-benar sebuah ‘titik’, sebuah ‘noktah’, tidak lebih tidak kurang, yang kala itu dihuni oleh milyaran orang. Rasanya memang terlalu berlebihan, meskipun kemudian ia berhasil menjadikan dirinya sebagai tempat yang dihuni secara proporsional.

Tidak bermilyar-milyar tetapi cukup berjuta saja dengan warga yang permanen, warga kelas satu yang benar-benar permanen dalam segala halnya.

Awalnya dimulai ketika NZE gagal total. Alih-alih nol malah emisi semakin menjadi, suhu global naik tiga derajat, hampir semua persediaan es beku bumi mencair, air samudra naik tiga empat meter, dan dua milyar orang terlunta-lunta kehilangan tempat tinggal. Mereka memaksa masuk dan bergabung ke kota-kota di tempat yang lebih tinggi, akibatnya bencana. Perang saudara dan revolusi pecah di mana-mana, dan penyebab utamanya adalah perut lapar dan makanan. Rasa lapar mengusir semua rasa takut, sopan-santun, etika, dan adab dan bahkan ajaran agama. Semua sirna. Yang tersisa hanyalah merebut makanan yang harus direbut atau mati binasa.

Kala yang ini belum reda, Pandemi jilid VI melanda. Kembali dua milyar orang mengambang di laut dan samudera, rumah sementara mereka, sebelum akhirnya sirna tak bersisa menjadi makanan pagi, siang, dan malam mahluk di sana.

Kemudian kala Pandemi jilid VII muncul, sedangkan yang enam belum reda, kembali dua milyar manusia sirna. Lebih hebat lagi, dua meteor seukuran bus tingkat ibu kota, ikut menerobos masuk dan tepat menghantam dua samudra. Akibatnya tsunami raksasa kembali menghapus dua milyar manusia.

Kala Pandemi jilid VIII ikut berdansa dan menari mencari mangsa, kembali mereka yang tidak berdaya harus menyerah begitu saja, meskipun ilmu pengetahuan dan teknologi telah bergerak begitu maju dan jauhnya, tetapi karena dikuasai oleh mereka yang cerdas, kaya dan berkuasa, akibatnya ya bencana dan petaka bagi mereka yang tidak punya akses ke sana. Sekarang yang tersisa hanya beberapa puluh juta tetapi mereka semua sudah sampai pada tataran yang tidak bisa binasa.

Kutukan abadi bagi manusia untuk sementara tampaknya berhasil dipatahkan. Hal yang sangat didamba oleh para kaisar dan raja, sekarang menjadi milik mereka. Ilmu tidak bisa tua jelas sudah dicapai dan nyaris sempurna. Yang muda, cerdas, kaya, dan berkuasa bisa melakukan apa saja termasuk mengurung maut.

Robotic Quantum Brain-net berhasil menjadi kunci tidak hanya untuk membentengi diri dari mereka yang lemah dan bodoh tetapi juga untuk mengunci dewa maut dan kematian, menghalangi kutukan abadi untuk manusia yang selama ribuan tahun tidak tertandingi itu. Sekarang tua bukan lagi penyebab kematian karena menjadi tua dan renta bukan lagi isu.  Mereka memang masih bisa mati tetapi bukan karena tua, bukan karena menjadi tua dan tidak berdaya.

Semua pekerjaan yang tidak menyenangkan dan berbahaya tidak lagi perlu dilakukan oleh manusia. Robot telah menggantikan segala-galanya bahkan dengan fleksibilitas kemampuan yang jatuh di atas kemampuan manusia. Ingin makan ayam goreng bumbu rujak pedas ala Kedaton Surakarta? Tak perlu gojek, tak perlu restoran, tak perlu ayam, tak perlu cabai, tak perlu koki, pokoknya tidak perlu apa-apa. Cukup memberi perintah pada otak, otak meneruskan perintah pada net, net mensinkronisasi dengan kuantum robotik, dan printer sembilan dimensi plus, dalam hitungan detik menyiapkan semua komponen kimiawi ayam goreng bumbu rujak pedas ala Kedaton Surakarta, dilanjutkan dalam hitungan detik juga semua komponen kimiawi itu yang diambil secara langsung dari alam tanpa perlu meribetkan diri dengan tetek-bengek persiapan, diramu dan ayam goreng bumbu rujak pedas ala Kedaton Surakarta tersaji lengkap persis seperti yang dikehendaki oleh otak.

Inipun sebenarnya hanya satu opsi saja. Opsi yang lain, tanpa melakukan apa-apa, benar-benar tidak melakukan apa-apa, termasuk printer sembilan dimensi plus yang ada juga diam tidak bersuara dan tidak melakukan apa-apa, ayam goreng bumbu rujak pedas ala Kedaton Surakarta tersaji, di makan, terasa kenyang dan puas, lalu menguap dan tidur pulas. Robotic Quantum Brain-net tersenyum gembira.

Singkat kata tak banyak manusia tersisa, tak banyak masalah muncul, dan tak banyak yang perlu dirisaukan. Kutukan abadi sirna, bahkan untuk sementara Tuhan sendiri tampaknya tidak berdaya. Bagaimana bisa memanggil manusia ke alam sana kalau mereka tak pernah sakit dan tak pernah tua? Juga tidak perlu melakukan pekerjaan yang beresiko dan berbahaya bagi nyawa?

Hanya saja kemudian Tuhan tersenyum sendiri nun jauh di sana karena ternyata dalam kitab kehidupan yang ditulisNya sejak awal semesta, telah dicatat bahwa pada dua belas dua belas dua satu dua satu tiga komet berukuran raksasa akan menerobos atmosfir untuk mengakhiri segalanya. Tugas bumi telah purna. Bumi sirna, pecah berkeping, lalu melanglang menjadi debu kosmis seperti yang sejauh ini memang ada. Meskipun tentu saja masih ada bumi yang lain, masih banyak yang lain.

Catatan Tuhan ini adalah catatan yang tidak pernah salah, tidak akan pernah salah, dan memang belum pernah salah. Catatan Tuhan selalu benar adanya karena memang sesuai dengan KehendakNya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *