Cerpen #149 Merawat Rahim Pertiwi

“Merampas bumi kami untuk kepentingan kapitalis, sama saja anda memperkosa kami semua! Meninggalkan luka dalam, sehingga kami menjalani hidup dengan kesakitan! Cukup! Kembalikan bumi kami! Kembalikan hidup kami!” Sorakan warga semakin keras setelah Asri, perempuan berusia 20 tahun, meneriakkan suaranya di depan pabrik tekstil yang selalu membuang limbah di lingkungan warga desa selama bertahun-tahun.

***

Gedung-gedung tinggi memenuhi langit kota yang selalu berwarna abu-abu. Senja kali ini Asri memperhatikan kota dari jendela besar gedung bertingkat. Baju batik dan rok hitam yang rapi melekat pada tubuh Asri. Bros dengan ukiran burung garuda, menempel di dada sebelah kiri. Tatapannya terlihat sendu, ia mengambil secarik kertas lalu mulai menulis surat di meja kerjanya.

Hai Ibu, apa kabar?

Hari ini suara Asri dibantah lagi, membuat Asri ingin berlari memeluk Ibu

Ruangan yang luas membuat Asri merasa sangat kecil untuk menghadapi permasalahan besar. Air matanya mulai menetes jatuh pada kertas suratnya.

Ibu benar, perjuangan di sini tidak mudah,

Bahkan banyak anggota yang menolak usulan Asri

Ibu benar, memperjuangkan keadian sangat sulit di negeri ini

Seketika Asri berhenti menulis, ia kembali memandang jendela besar yang memperlihatkan gelapnya malam, membuatnya teringat tentang kisah masa lalu sebelum ia mampu duduk di kursi pemerintahan.

Suatu malam yang gelap dan sepi, udara terasa menyesakkan karena polusi yang dihasilkan dari pabrik tekstil. Seorang laki-laki memukul jendela mobil dari dalam, memberontak tak ingin dibawa oleh oknum yang mengaku sebagai polisi. Mobil mulai berjalan menjauh, Asri berusaha mengejarnya, namun tersandung lalu jatuh, “Kak Ardhi!” teriak Asri.

Betapa tidak adilnya negeri ini bagi Asri. Ia harus menanggung dampak buruk dari kaum kapitalis yang setiap hari semakin menggerogoti kesuburan tanah, kejernihan air, dan merampas udara bersih. Bahkan orang-orang yang memperjuangkan keadilan justru ditangkap dengan alasan membuat kericuhan, termasuk kakaknya, satu-satunya lelaki yang ia miliki. Satu hal yang semakin membuat Asri marah adalah ketika Ibunya harus mengalami gangguan pernapasan sehingga tidak sanggup lagi untuk bertani. Betapa terpuruknya petani yang tinggal di sekitar pabrik, banyak diantara mereka yang terpaksa menjual tanah karena tidak bisa diolah lagi. Perlahan, mata pencaharian warga sebagai petani, hilang.

Janji-janji manis kaum kapitalis dan pemerintah daerah untuk memperbaiki kerusakah lingkungan akibat ulah mereka, menjadi makanan sehari-hari yang membuat warga semakin mual dengan harapan palsu. Seharusnya warga bisa sejahtera, hidup berdampingan dengan alam, sehingga alam dan manusia bisa saling menghidupi. Namun ironi, mereka justru kelaparan di negeri sendiri yang kekayaan alamnya melimpah. Belum lagi bau limbah busuk yang harus dihirup warga setiap hari. Secara tidak langsung, keberadaan pabrik itu mengusir warga untuk meninggalkan rumah mereka. Asri yang hanya tinggal bersama Ibunya setelah Kak Ardhi mendapat vonis 4 tahun penjara, harus berjuang sendiri merawat Ibunya.

Hingga suatu hari keadaan Ibunya semakin parah, napasnya semakin berat, dan  Asri harus membawanya ke rumah saudara yang jauh dari lingkungan pabrik itu. Ia semakin marah, kemudian ikut warga untuk unjuk rasa, menyuarakan haknya, dan meminta pertanggungjawaban atas semua kerusakan alam yang dilakukan kaum kapitalis itu. Asri mengungkapkan bahwa alam dan dirinya diperkosa oleh tangan-tangan jahat kapitalis yang ingin mengambil keuntungan besar, tanpa melihat bahwa mereka melukai kehidupan banyak makhluk hidup. Semangat Asri tak pernah padam, kebenaran harus disuarakan, dan hak untuk hidup di lingkungan yang layak harus terus diteriakkan, meskipun tenggorokan sangat perih dan suaranya tidak didengar oleh telinga kaum kapitalis.

Dua tahun Asri menyuarakan hak nya, namun keadilan pun tak kunjung ia dapatkan. Langit nampak gelap, sepulang dari orasi di depan pabrik yang masih saja beroperasi, Asri membasuh kaki yang kaku akibat berdiri seharian di bawah terik matahari. Tiba-tiba ada dua orang laki-laki yang mendobrak pintu rumah Asri lalu masuk dan melemparkan tas berisi uang, “Ada apa ini?” tanya Asri dengan wajah ketakutan. Dua laki-laki itu saling melihat lalu tersenyum sinis, “Kamu ambil uang ini, lalu pergi sejauh-jauhnya dan jangan datang ke sini lagi!” Asri pun kesal, “Ini rumahku, kalian punya hak apa berani mengusirku?” mendengar jawaban Asri, salah satu laki-laki mengeluarkan pistol dari kantongnya. Membuat Asri berlari keluar lewat pintu belakang menuju perkebunan. Aksi kejar-kejaran terjadi, suara tembakan pistol membuat Asri kaget lalu tersandung. Ia tetap berusaha merangkak untuk bersembunyi di balik pohon besar. Hujan pun turun, membuat dua laki-laki itu pergi. Asri menangis di bawah pohon sambil memeluk kakinya yang perih.

Ibu, sekarang Asri sudah tidak berjuang lagi di bawah terik matahari dan sesaknya udara,

Tapi kenapa di ruangan penuh AC dan kursi yang nyaman ini justru terasa lebih panas dan menyesakkan?

Banyak kecurangan dan kepentingan-kepentingan personal yang menjijikkan

Pena yang dipegang Asri lepas dari genggamannya, ia menangis sesenggukan teringat momen terakhir bertemu dengan orang yang sangat ia sayangi, Ibu.

“Nak, ibu tidak bisa memberimu restu,” kata Ibu Asri yang duduk dihadapan Asri. “Bu, Asri harus melakukan ini demi kebaikan semuanya!” rayu Asri pada ibunya. Ibu Asri menatap Asri dengan iba dan sedih, “Tak perlu menjadi bagian dari mereka, Nak. Sangat beresiko, kamu bisa terluka.” Asri mencium tangan ibunya dan mencoba meyakinkan, “Bu, untuk bisa membuat peraturan yang adil, Asri harus punya kekuatan di dalam pemerintahan. Asri akan lebih terluka ketika melihat anak cucu kita nanti mendapat ketidakadilan seperti yang kita dapatkan selama ini. Kalau bukan Asri, siapa lagi? Bumi di negeri ini, harus diselamatkan, Bu.”

Ibu, Asri tidak akan menyerah begitu saja

Suara untuk keadilan, akan selalu Asri teriakkan, hingga akhir hayat

Semoga Ibu mendapat tempat yang nyaman sekarang

Do’a kan Asri supaya perngorbanan kita semua tidak sia-sia

Atas nama bangsa, Asri

Kertas surat yang sudah terisi penuh, dimasukkan pada amplop kecil. Asri menaruhnya pada kotak yang berisi tumpukan  amplop serupa. Terlihat identitasnya di meja kerja, Dewan Perwakilan Rakyat – Asri Lestari

Bangsa kita, butuh sosok seperti Asri yang teguh memperjuangkan keadilan di kursi pemerintahan, demi menyelamatkan bumi pertiwi dari krisis iklim dan melenyapkan energi kotor yang bisa menghancurkan keseimbangan semua makhluk hidup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *