Cerpen #147 Pesan Dari Masa Depan

Hari ini cuaca sungguh panas padahal kipas angin sudah menyala, sirkulasi udara sudah baik tapi tetap saja keringat terus menerus terkucur. Sania melanjutkan pekerjaan rumahnya. Menyetrika. Ia harus melakukannya karena beberapa baju diantaranya digunakan bekerja jadi mau tidak mau harus disertika. Sania menyalakan televisi agar tidak bosan.

Kabar perselingkuhan antara sang penyanyi dangdut, Yayang Mayang dengan seorang Artis Sinetron Johan Saputra terkuak, pasalnya mereka sudah lama menjalin hubungan kurang lebih 1 tahun tanpa diketahui oleh publik. Kabar terbaru dari Yayang. Yayang menggugat cerai Oki karena merasa sudah tidak cocok dan perceraian Yayang Mayang dengan mantan suaminya yang merupakan seorang pengusaha makanan cepat saji, sudah dalam proses persidangan.  Benar atau tidak kita simak beritanya dengan tuntas, tajam dan mendalam tapi setelah jeda pariwara berikut ini. 

Ctek! 

Sania mengganti chanel karena bosan dengan perceraian artis, pencitraan dan sebagainya. Kemudian memutar angka di kipas angin ke paling kencang. Sungguh! keringat terus menerus jatuh. Dunia berasa dikukus. Panas sekali.

Saya Wulan Agustin menginformasikan peristiwa yang terjadi di Negeri ini selama satu jam kedepan, diantara informasi tersebut adalah Iklim Negeri ini sudah mengalami krisis, sadar atau tidak, kita sudah atau sedang merasakan dampaknya. Diantaranya dampak yang tanpa kita sadari adalah air laut semakin meninggi, cuaca tidak menentu dan banyak kebakaran hutan. Oleh karena itu, pemerintah daerah mengupayakan agar tidak terjadi terus menerus dan menjadikan bumi ini rusak. Pemerintah juga sudah mempersiapkan anggaran untuk mengatasi perubahan iklim di Negeri ini. Kabar selanjutnya Aksi unjuk rasa atas kenaikan…. 

Pet!

Mati Lampu.

Menyebalkan. Dunia semakin gerah. Sania mengomel sambil ke luar rumah untuk mencari angin. Sejuk. Angin semilir menerpa ujung rambut Sania. Gadis ini menikmatinya dan merasakan keringat perlahan kering.

Mata Sania memicing ke arah Timur, mengamati mendung yang berjalan pelan menyelimuti bumi. Tak lama suara gemuruh terdengar, kemudian gerimis. Sania buru-buru mengangkat jemurannya.

“Abis angkat jemuran, panas lagi. Jemur lagi, hujan lagi. Gitu aja terus, sampai Iron Man jadi ketua RW di sini.” Celoteh Bu Bambang sambil mengangkat jemurannya

Bu Bambang adalah tetangga Sania sekaligus istri dari ketua RT, punya anak dua masih sekolah dasar dan keluarga mereka dekat dengan keluarga Sania seperti saudara dekat. Sangat dekat. Sania tersenyum dan kembali masuk dalam rumah.

“Tuh.. kan bener lidah belum kering juga, mendungnya udah geser aja.”

Benar kata Bu Bambang, cuaca udah mulai menyengat lagi. Tapi Sania memilih memasukkan jemurannya. Memang akhir-akhir ini cuaca tidak bisa diprediksi. Kadang hujan kadang panas. Biasanya tiap akhir dan awal tahun bisa diprediksi cuacanya. Bahkan, Sania pernah basah kuyup dari rumah tetapi sesampainya di kantor malah cuaca sedang cerah sekali.

Sambil menunggu listrik menyala ia membuka ponsel dan mengakses email masuk. Siapa tahu ada kabar honor menulis. Lumayan untuk menambah uang jajan. Sania menutup mulutnya, merasa aneh, ada email asing dengan username mirip namanya.

From: Sania Oktavia

Dear Sania, 

Percaya atau tidak ini adalah kamu. Kamu yang menulis pesan ini semua dengan sadar dan tidak mengantuk. Bagaimana kabarnya Sania? Pembuka salam yang klasik ya.. Tapi itu penting! menanyakan kabar agar tahu kalau kamu dalam kondisi baik-baik saja atau tidak. Ini memang aneh menulis pesan untuk diri sendiri. Hahaha.. Sekali lagi, ini bukan dunia dongeng. 

Saya akan menyampaikan pesan dari generasi masa depan. Saya kaget dapat pesan dari seratus tahun ke depan dihitung dari zamanmu, pesan ini dari generasi penerusmu, keturunanmu isi pesannya adalah tentang kondisi bumi yang memprihatinkan, kondisi keadaan suhu yang semakin hangat dari saya, itu artinya lebih hangat lagi dari yang kamu rasakan sekarang bahkan panas. Selain itu, air laut di pinggir pantai seluruh negeri ini sudah menyempit. Artinya air laut meninggi dan pulau-pulau kecil menghilang. Ini akibat dari mencairnya gunung-gunung es di ujung utara dan selatan bumi. Dan masih banyak lagi dampaknya, Sania seperti terumbu karang rusak, ekonomi juga kacau. Dia berpesan untuk mencegah itu semua agar tidak terjadi, agar dia merasakan bumi yang sejuk dan hijau seperti yang dirasakan generasi sebelumnya. Pulau-pulau kecil tidak tenggelam dan kehidupan di pulau itu tidak terancam juga memperindah pemandangan. Ikan-ikan berenang dengan senang dan tenang karena terumbu karangnya tidak rusak. Sania, jaga dan rawat bumi ini yaa, ajak kawan-kawan juga. Dia menyampaikan pesan ini karena terlalu canggih untuk mengirimkan ke zamanmu. Sedangkan saya masih bisa menerima walaupun di zaman dia itu sudah kuno sekali. Lucu ya.. Ada pesan dari masa depan. 

Sania, sesuatu yang kamu lakukan hari ini akan berdampak pada hari esok, lusa dan hari berikutnya bahkan beberapa tahun ke depan. Sekecil apapun pasti akan berdampak, walaupun tidak terasa dan merasakannya. Jika ditarik mundur dan apa yang kamu lakukan pada waktu itu pasti setuju dengan perkataan itu. 

Ada hal yang kubenci dan bangga pada diriku sendiri. Ya pada dirimu, karena dirimu adalah diriku. Melakukan pemborosan listrik yang mengakibatkan sumber daya terkikis pada akhirnya membuat iklim menjadi krisis. Mengakibatkan cuaca tidak menentu, kebakaran hutan dan di bagian selatan daerah ini air lautnya meninggi. Apakah kamu mengukurnya? Tidak. Kamu sendiri yang mendengar keluh kesahnya penduduk pinggir pantai, pinggir pesisir laut pada waktu acara bakti sosial. 

Ketika perjalanan pulang kamu mendongak ke langit berharap langit biru sebiru laut malah berwarna abu-abu. Bukan mendung tapi kabut yang menari-nari buah dari asap kendaraan bermotor bercampur asap pabrik. Menyesakkan. Itu semua yang kamu rasakan adalah dampak dari krisis iklim. 

Tapi aku bangga ketika kamu berinsiatif menanam tanaman di depan rumah, ikut dalam kelompok pencegahan abrasi. Disitu kamu menanam mangrove. Hebatnya lagi kamu berkampanye mengenai bahaya rumah kaca, bagaimana cara mengurangi sampah plastik serta solusinya. Dan pencegahan-pencegahan dari sesuatu yang bersifat merusak iklim dan bumi. Hebat sekali. Banyak orang yang mengikuti langkahmu. Usia kamu waktu itu masih muda dan mendapat penghargaan atas kerja kerasmu itu dari pemerintah daerah setempat. Cukup sampai disini yang saya tau, Sania. 100 tahun ke depan? Sania generasi masa depan yang tau. Ia akan memberi tau kondisi di zaman itu dan perjalanan menuju masa itu. Disampaikan melalui saya kemudian diteruskan ke kamu. Seperti pesan ini. 

Sania, ini adalah kepingan cerita yang akan kamu hadapi nantinya. Bisa berubah tergantung apa yang kamu lakukan sekarang. Jika, pesan ini aneh berarti kamu juga aneh. Pesan yang kamu tulis sendiri ditemani kopi susu panas dan kue pukis. Haha bercanda. 

Setelah ini kamu akan tersadar dan akan dibangunkan Bu Bambang sebagai istri dari ketua RT karena pingsan saat mengambil bendungan . Kamu tidak mau lepas ponsel ini dan memilih membawa secara bersamaan, keseimbangan kacau akhirnya kamu terpeleset genangan air. Cepat membaik, Sania. 

Jangan lupa untuk berbuat kebaikan tidak hanya sama manusia saja tetapi hewan dan tumbuhan bahkan bumi perlu diperlakukan dengan baik. Karena itu semua akan kembali ke manusianya sendiri. Sekali lagi ini bukan aneh.. Haha

Salam dari dirimu sendiri 

Sania

Sania heran dan mencoba memastikan apakah itu nyata atau hanya mimpi. Ia mulai memeriksa ponselnya mungkin ada eror atau orang iseng. Ternyata benar, tidak ditemukan kejanggalan atau keanehan dari pesan itu. Sania memijat kepalanya yang pusing karena aneh ada pesan dari diri sendiri yang ditulis di masa depan. Sayup-sayup terdengar suara yang tidak asing tapi entah dari mana suara itu berasal.

“Mbak.. Mbak Sania. Mbaak.” Ucap lembut Bu Bambang

Gadis itu terbangun. Di luar hujan deras hingga air selokan naik ke jalan bahkan hampir masuk ke rumahnya.

“Mbak tadi pingsan, abis apa toh, Mbak?” Bu Bambang melihat satu sak karung beras diisi pasir sebagai bendungan, “angkat bendungan? Nggak usah diangkat mbak minta tolong suami saya saja, sudah pulang tuh.”

“Kasihan anak gadis bawa berat-berat.” lanjut Bu Bambang kemudian menyiapkan teh hangat untuk Sania agar lebih hangat dan merasa lebih baik.

Ia teringat dengan pesan itu, sambil menunggu Bu Bambang email tersebut dibuka.

From: Sania Oktavia

Dear Sania, 

Saya akan menyampaikan pesan dari generasi masa depan. Saya kaget dapat pesan dari seratus tahun ke depan dihitung dari…. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *