Cerpen #146 Negeri di Balik Tembok

Jam beker di sebelah ranjang berbunyi pada pukul enam pagi, membangunkanku yang masih betah di alam mimpi. Jika saja seorang pengangguran, tentunya aku sudah menjualnya di akhir pekan. Setelah selesai mandi dan menyiapkan sarapan, televisi menyala sesuai perintah suara yang kukatakan. Seperti biasa, memberitakan tentang semangat untuk bekerja demi menyogok kebutuhan setiap manusia, dan iklan-iklan komersial yang memuakkan. Omong kosong! Pikirku.

Manusia di luar sana hanya memikirkan dirinya sendiri, memikirkan keluarganya saja. Persetan dengan kehidupan orang. Seperti mereka yang hidup di kota awan. Bagian paling tinggi dan bisa makan buah-buahan segar. Tidak seperti kami yang hanya bisa menikmatinya dari siaran dokumenter yang diputar setiap akhir pekan.

Jam tujuh pagi aku berangkat menuju permukaan dengan sepeda motor melayang, aset dari perusahaan. Sejujurnya, kehidupanku cukup beruntung dapat naik ke permukaan, ini karena aku bekerja di pabrik penyaringan air minum yang berada di perbatasan dekat tembok raksasa. Bagi orang-orang yang tinggal di kota bawah tanah, melihat langit adalah impian.

Namun, ketika melihat dengan mata kepala sendiri, rasa kecewa mematahkan ekspektasiku. Udara kotor menyerang paru-paruku, pepohonan di dunia permukaan hanyalah rongsokan yang dihias secantik mungkin, semuanya sangat berbeda dengan yang kubayangkan. Satu-satunya yang mengobati kekecewaanku adalah tembok tebal besar pemisah duniaku dengan dunia sembar. Ia seperti dalam kisah dogengku saat kecil, tinggi menjulang menutupi mata yang penasaran. Tak ada yang benar-benar tahu siapa yang membangun tembok ini. Menurut legenda, para pencipta membuat tembok ini untuk memisahkan Dunia. Gunanya untuk melindungi alam dari tangan manusia.

“Seperti biasa, kamu datang pagi-pagi sekali,” ucap Jim satpam pabrik.

“Mau di rumah ataupun berlama-lama di sini, rasanya sama saja seperti di Neraka.”

“Dan seperti biasa mulutmu pedas dan menggoda untuk kubersihkan dengan sikat.”

Kami berdua tertawa.

“Hei, Jim. Menurutmu dunia di sisi lain tembok ini seperti apa?”

Ekspresi Jim langsung berubah panik, seolah tak menduga aku dapat menanyakan hal itu.

“Sst, kita sudah pernah membahasnya. Itu topik terlarang.”

“Hahaha, iya, aku tahu. Hanya saja dunia di luar sana membuatku penasaran.”

“Yeah, jika kamu bisa menyeberang ke sana. Kamu akan hidup seperti di surga.”

“Di dunia ini, enggak pernah benar-benar ada surga.”

Lelaki paruh baya itu memutar bola mata. “Terserahlah, sana masuk sebelum orang lain mendengar percakapan kita.”

“Hei, Jim.”

Lelaki itu kembali menoleh. “Apa?”

“Aku pasti akan menyeberang ke sisi lain tembok ini.”

Lelaki itu hanya menggeleng-gelengkan kepala dan menyarankanku untuk fokus bekerja daripada terus berkhayal.

***

Bel istirahat berbunyi, aku mengambil bekal berisi makanan buatanku sendiri untuk memenuhi perut yang kelaparan. Di dunia ini harga sayur-sayuran serta buah-buahan sangatlah mahal. Bahkan untuk memakan daging sudah seperti mimpi. Semua itu hanya bisa didapatkan oleh mereka yang hidup di negeri awan. Bagian teratas dari kota yang tumbuh vertikal ini.

Aku berjalan melewati orang-orang, mereka menatapku aneh tapi terserahlah, aku memang lebih suka menyendiri daripada bergaul dengan mereka. Saat sedang menyantap makanan di bawah pohon, mataku menangkap sesuatu yang aneh. Benda hijau menggeliat, aku mendekatinya berusaha melihat lebih cermat lagi, dan ternyata… seekor kadal?

Aku mengucek mata beberapa kali, berusaha meyakinkan diri bahwa itu hanya halusinasi. Namun, kadal hijau itu benar-benar nyata. Tidak mungkin seekor kadal hidup di lingkungan seperti ini, pikirku. Makhluk mungil ini pasti berasal dari dunia di sebelah tembok, tapi bagaimana bisa? Tembok ini tertanam jauh ke bawah tanah, jika berusaha menaikinya itu sangat mustahil baginya. Kecuali….

Kepalaku menemukan ide gila, aku mengikuti kadal itu. Hewan itu bergerak mendekati sebuah pintu yang sudah lama tertutup rapat, saat aku memutar kenop.

Yes tidak dikunci, seruku dalam hati.

Aku mulai menyusuri tempat itu, setiap percabangan dan belokan. Setiap langkah dari makhluk kecil itu. Sampai akhirnya, aku tiba di sebuah ruangan yang gelap. Namun, telingaku mendengar sesuatu. Ketika melangkah lebih jauh, tanganku meraih kenop pintu, dan ketika di buka … matahari menyapaku.

Sinarnya begitu hangat, berbeda dari dunia di seberang tembok. Suara burung memenuhi gendang telingaku, rasanya lebih menenangkan dari alunan yang selalu kuputar di smartphone. Kupu-kupu yang biasa kulihat hanya dari buku tua, kini beterbangan di sekelilingku. Tanpa kusadari, air mata menetes.

Ini Surga, pikirku.

Langkahku menelusuri pohon dedaunan, telingaku sungguh dimanjakan oleh gemeresik dedaunan, mataku tak henti-henti dibuat kagum oleh hutan beton yang telah tergantikan oleh hutan sungguhan, senyum lebar dibibirku mengembang. Kemudian, hidungku mencium aroma yang sangat menggoda saat kudekati sumbernya. Sebuah pohon apel yang sudah matang berdiri dengan kokoh di depanku. Aku meraih satu, dan merasakan buah surgawi itu menetes dan mengalir ke dalam tenggorokanku. Tak pernah aku merasakan kebahagiaan sebesar dan selepas ini.

“Yeah, ini memang Surga.”

***

Malamnya lautan bintang terhampar begitu jelas, membuat pupil mataku membesar karena rasa takjub. Dulu aku tak pernah bisa melihat bintang karena rumahku berada di bawah tanah bahkan setelah di permukaan pun tak jauh berbeda semuanya tertutup polusi cahaya. Sayangnya saat sedang bercengkerama dengan alam, aku terganggu oleh kepulan dan cahaya merah dari barat. Kebakaran? Aku berlari mendekati sumber api dan ketika sampai, jantungku berdebar kencang. Sekumpulan pribumi dengan menari melingkari api.

Mereka menyanyikan sebuah lagu dengan bahasa yang tak dapat aku mengerti, mungkin lagu api unggun. Sebelum dapat mencerna semuanya, lampu dari atas gedung menyorotiku. Aku panik dan langsung berlari. Para pribumi mengejar dan meneriakiku dengan bahasa yang tak dapat ku pahami. Aku tersandung oleh akar pohon, seketika mereka mengikat dan menutup mataku dengan kain. Aku berjalan gelap, langkahku setengah diseret. Segala spekulasi mulai tumbuh di kepalaku, apakah mereka akan memakanku atau menjadikanku makanan untuk hewan buas?

Setelah melewati beberapa anak tangga, seseorang membuka penutup mataku dan mendorongku masuk ke dalam sebuah ruangan. Semuanya gelap sebelum akhirnya, cahaya muncul dari sebuah komputer di tengah ruangan.

“Selamat datang, Adam.”

“Bagaimana kamu bisa tahu namaku?”

“Bahkan aku mengetahui semua hal tentangmu.”

“K-kamu siapa?”

“Aku Shelly, kecerdasan buatan yang diprogram untuk menyelamatkan bumi ini beberapa ratus tahun yang lalu. aku berusaha untuk memperbaiki semuanya. Namun, selama ada manusia. Kerusakan tidak akan pernah berhenti. Maka untuk itu, aku menciptakan dinding pemisah antara manusia dan alam. Tetapi orang-orang yang memilih tinggal di pedalaman, mereka tetap tinggal dan menjadi manusia yang mencintai alam.”

“Jadi kamu penyebab semua ini, apa kamu tahu penderitaan apa yang kami alami karena hidup di balik tembok raksasa yang kamu buat. Mereka sengsara, sekarat, dan banyak yang tertindas!”

“Untuk itulah, Adam. Aku mengundangmu kemari. Aku tidak akan pernah memusnahkan manusia, tetapi aku akan selalu memberi mereka pilihan untuk tinggal di sini, atau sisi lain dunia ini. Adam, apa pilihanmu?”

Jantungku seakan berhenti. Tinggal di sini, tempat seperti Surga ini, manusia bodoh mana yang akan menolak. Namun, bagaimana dengan mereka yang tinggal di sana? Jika kau jadi aku. Apa pilihanmu?

Selesai

Madiun, 29 Oktober 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *