Cerpen #145 Jiwa Alam

Ini adalah sebuah cerita tentang pemudi yang mungkin akan menggugah hidup kalian. Namanya adalah Rahayu. Dia terlahir dari keluarga yang bisa dibilang serba kekurangan. Namun, semangatnya untuk menuntut ilmu tidak luntur karenanya. Dia tinggal di daerah pinggiran kota.

Kini, dia duduk di kelas XI MIPA. Dia tidak pernah mengeluh atas kondisinya saat ini. Untuk membantunya tetap bersekolah, dia bekerja di tempat laundry di dekat sekolahnya. Di sela-sela aktivitasnya, dia tetap bisa belajar. Tidak mengherankan bila dia selalu mendapat nilai yang tinggi di sekolahnya dulu.

Hari ini memasuki senin pertama semester dua di sekolah SMA Sriwijaya. Seperti biasa, upacara bendera selalu dilaksanakan setiap paginya. Para siswa berbaris dengan rapi di lapangan. Sekarang adalah waktu Amanat Pembina Upacara. Namun, Pembina menyampaikan amanat yang berbeda dari biasanya.

“Anak-anakku, zaman sekarang berbeda dengan dulu. Alam semakin sekarat. Kita lihat sekarang dimana-mana kebakaran hutan terjadi. Semuanya dikarenakan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, yang keserakahannya telah menyengsarakan kita semua. Asap dimana-mana, penyakit rentan menjangkit, dan tentunya suhu udara juga meningkat.”

“Belum lagi ditambah dengan kekeringan yang melanda. Apakah kita akan diam saja karenanya? Apakah kita akan menunggu kehancuran diri kita sendiri? Saya sebagai seorang yang masih waras tentu tidak akan membiarkan kehancuran itu terjadi. Alam ini harus kita jaga bersama-sama.”

“Pohon adalah bentuk nafas dari bumi, layaknya paru-paru pada tubuh manusia. Jika hal tersebut rusak, maka sama saja kita merusak paru-paru kita sendiri. Jika kalian bisa menanam pohon di manapun kalian berada, maka lakukanlah. Walaupun dampaknya tidak akan terasa secara langsung, tapi setidaknya kalian telah memberikan jasa yang besar untuk alam ini.”

Pidato tersebut telah menggugah hati Rahayu. Sejak saat itu, dia bertekad untuk membantu alam ini. Dia sudah lama menabung sejak SD. Tadinya, tabungan itu hanya dia gunakan untuk keadaan darurat saja. Sekarang, dia tahu harus menggunakan tabungan itu untuk apa.

Saat jam pelajaran Biologi pun, materi yang diajarkan pun masih berkaitan dengan alam. Krisis iklim yang terjadi di masa sekarang rupanya sudah dimulai sejak tahun 1800-an, ketika revolusi industri dimulai di Eropa. Sejak saat itu, atmosfer mengalami perubahan besar, yang diikuti oleh cuaca tidak normal di seluruh belahan dunia. Jika hal ini terus dibiarkan, maka dikhawatirkan bumi tidak akan bisa ditinggali makhluk hidup apapun lagi.

Salah satu hal yang bisa dilakukan untuk mencegahnya terjadi adalah dengan memelihara lingkungan dari yang sederhana, seperti membuang sampah pada tempatnya, menanam pohon, dan membersihkan perairan seperti sungai dari sampah. Walaupun perubahan akan terjadi secara lambat laun, namun hal itu jauh lebih baik dibandingkan tidak ada perubahan sama sekali.

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepatnya. Jam pulang sekolah pun tiba. Seperti biasa, Rahayu akan pulang ke rumah terlebih dulu sebelum kembali berangkat ke tempat laundry. Jarak yang harus dia tempuh cukup jauh, sekitar 20 menit berjalan kaki. Matahari tampak temaram karena sudah memasuki waktu senja.

Dalam perjalanan, dia melewati sebuah toko bunga yang hendak tutup. Di sana, dia sempat melirik salah satu bunga yang cukup unik. Bunga itu berwarna merah muda yang indah. Dia sempat mengira bunga itu adalah sakura, tapi ternyata bukan. Tulisan di bawah pot bunga itu adalah “Tabebuya rosea”.

“Sepertinya ini cocok.”

Dia sudah tahu pohon apa yang akan dibeli nanti. Dia juga ingat bahwa uang tabungannya cukup untuk membeli pohon itu. Kembali dia meneruskan perjalanannya ke tempat laundry. Rencananya dia akan membeli pohon itu besok.

Pada akhirnya, dia sampai di tempat tujuannya, sebuah Laundry yang tidak terlalu besar ukurannya. Di sini, dia bertugas untuk merapikan baju dengan menyetrika dan melipatnya. Toko ini buka mulai dari jam empat sore hingga sebelas malam. Namun, mereka juga membuka pelayanan antar jemput cucian melalui pemesanan online.

Setumpukan pakaian yang tampak menggunung telah menantinya. Rahayu segera bekerja dengan cepat dan cekatan. Sebenarnya, ada satu orang lagi yang bekerja bersamanya. Sayangnya, dia masih sakit hari ini, sehingga semua pekerjaannya diserahkan kepada Rahayu.

Rahayu selalu ikhlas dalam melakukan pekerjaan apapun, selama dia sanggup dan itu halal. Pada akhirnya, semua itu dia lakukan agar menjadi anak yang mandiri dan mampu membantu perekonomian orang tuanya. Mungkin, dia tidak akan pulang cepat hari ini.

XXX

Keesokan harinya……….

Kringgggggggg!

Jam weker di kamar tidur Rahayu berbunyi nyaring. Jam itu menunjukkan pukul 6 pagi tepat. Namun dia tidak kunjung bangun juga. Dia kelelahan karena begadang tadi malam. Dia baru sampai ke rumah dini hari tadi dan langsung tertidur.

Setelah beberapa menit berlalu, barulah Rahayu yang masih terbaring di ranjangnya menggerakkan tangannya untuk mematikan jam itu. Hari ini adalah hari minggu, jadi sebenarnya tidak masalah jika dia tidur melebihi waktu yang biasanya. Namun, kali ini dia tidak akan melakukan hal itu. Setelah mandi dan sarapan sebentar, Rahayu kembali kekamarnya. Dia mengambil celengan miliknya dari dalam lemari. Dia lalu memecahkan celengan itu.

Praangggggg!

Celengan itu berisi lebih banyak uang recehan daripada uang lembaran. Dia segera mengumpulkannya dan menghitungnya dengan teliti. Total uangnya adalah 76.400 rupiah. Harga bibit Tabebuya sendiri berkisar antara 30 ribu hingga 50 ribu rupiah.

Tanpa berlama-lama lagi, dia melangkahkan kakinya menuju toko bunga. Dia berjalan menyusuri trotoar jalan. Pada akhirnya, sampailah dia di toko bunga tersebut. Rahayu terlebih dulu melihat bibit Tabebuya yang sudah tertanam di pot. Jika dilihat dari dekat, pohon itu memiliki bunga yang tumbuh secara langsung dari rantingnya. Bahkan tampaknya, bunga-bunga itu jauh lebih banyak dari daunnya.

Rahayu lebih memilih untuk menanam bibit kecilnya saja, agar dia bisa memeliharanya dari awal pertumbuhannya. Bentuk bibitnya adalah batang yang telah distek dan ditanam di dalam karung kecil. Perawatan pohon ini cukup mudah, hanya membutuhkan tanah yang gembur. Jika ingin berbunga lebat, bisa dipupuk 3 bulan sekali. Ketika dia membawa bibit itu ke penjaga toko, si penjaga bertanya kepadanya.

“Dek, kenapa kamu memilih bunga ini?”

“Karena pohon ini akan memberikan kesegaran, sekaligus pula keindahan bagi siapapun yang berteduh di bawahnya. Seperti kata kepala sekolahku, bahwa pohon adalah alat nafas bagi bumi, layaknya paru-paru pada manusia.”

Si penjaga toko terdiam. Apa yang Rahayu katakan itu memang benar. Betapa banyak orang yang dibutakan oleh harta, lalu dia mengorbankan hutan dan pohon untuk dijadikan lahan untuk menghasilkan uang seperti perumahan dan kelapa sawit. Mereka tidak berpikir bahwa hal tersebut akan mempercepat kerusakan pada tanah. Di dunia ini, ternyata masih banyak orang baik yang rela berkorban demi melestarikan alamnya. Semoga di masa depan nanti, orang-orang baik seperti ini lebih banyak lagi.

“Kak? Saya mau beli, kak.”

Penjaga toko itu tersentak dari lamunannya. Dia kemudian mulai menghitung berapa harga bibit pohon itu.

“Harga bibitnya 70.000 rupiah, dek. Kamu mengambil yang termahal dan tercantik.”

Untungnya, semua uang tadi telah dia bawa dalam sebuah kantong plastik. Bersama si penjaga toko bunga, dia menghitung uang tadi dengan sabar dan teliti.

“68.000………….. 69.000…………. 70.000.”

Uang pun selesai dihitung. Si penjaga toko lalu menerimanya dengan senang hati, walaupun ini adalah pertama kalinya dia mendapatkan uang recehan seperti itu.

“Apakah kau mau pupuknya juga?”

“Maaf, kak. Uang saya hanya itu. Mungkin nanti saja.”

“Tidak apa, dek. Ambil aja pupuknya sekalian.”

Dia lalu mengambil dua kantong pupuk kecil dari bawah raknya dan menyerahkannya kepada Rahayu. Dia mengucapkan banyak terima kasih kepada si penjaga toko. Dengan membawa kedua benda itu di tangannya, dia melangkah keluar dari toko bunga tersebut. Hari yang baru akan segera dimulai.

XXX

Setahun kemudian…………

Sebuah pohon setinggi tiga meter tertanam tepat di tengah sekolah. Dia mengeluarkan bunga merah muda yang begitu indah. Ini adalah bulan dimana bunga Tabebuya bermekaran. Banyak siswa yang sedang duduk berteduh di bawahnya. Tempat ini menjadi tempat favorit bagi siswa saat waktu istirahat. Pohon yang sama juga ditanam di beberapa tempat di seluruh penjuru sekolah. Seolah-olah, tempat ini ditumbuhi oleh pohon Sakura di Jepang.

Semua ini berkat seorang siswi yang luar biasa. Dia yang memiliki impian sederhana, bernaung di bawahnya bersama dengan teman-temannya saat lulus nanti. Dia yang percaya bahwa pohon adalah bentuk nafas dari bumi. Dia yang kini sedang bersandar di batang pohon itu bersama-sama teman sekelasnya.

“Usahamu tidak sia-sia, ya, Rahayu. Setelah kau merawat pohon ini sendirian selama tiga bulan, para guru tertarik dan ikut merawat pohonmu. Bahkan mereka juga ikut membeli dan menanam pohon yang sama. Tidakkah kau berpikir ini luar biasa?” sahut salah satu sahabat Rahayu yang sedang bersandar di pohon itu.

“Tidak juga, Alya. Aku hanya mengikuti apa yang telah kepala sekolah katakan dulu, bahwa pohon adalah bentuk nafas dari bumi. Adalah tugas kita untuk menjaga alam ini bersama-sama, kan?” ucap Rahayu yang berada di sampingnya.

“Ya, kau benar.” jawab Alya singkat.

Keduanya lalu memandang taman sekolah mereka yang tampak jauh lebih asri dan indah. Sungguh ini adalah hari yang sangat menyenangkan bagi mereka semua. Rahayu kini berharap, agar generasi di masa depan kelak juga akan melakukan hal yang sama dengannya hari ini.

Bumi telah menaruh harapan besar pada generasi di masa sekarang dan yang akan nanti untuk menjaga dan merawat alam ini. Agar keseimbangan yang telah berlangsung di dalamnya selama ribuan tahun berlalu tetap utuh dan mampu dinikmati oleh seluruh makhluk di masa kini dan masa yang akan datang.

XXX

Banjarmasin, 1 November 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *