Cerpen #144 Tak Seperti Dahulu

“Kenapa panas sekali ya, Bu? Padahal hari ini kan hujan deras,” ucap Tania kepada ibunya yang juga sibuk berkipas di ruang tamu.

Tangan kanan ibunya terus menggerakkan kipas ke kiri dan kanan, mencari udara sejuk di pagi itu. Suara siaran televisi hari itu disibukkan dengan berita banjir di berbagai wilayah. Ternyata, hujan sudah turun sejak semalam di beberapa wilayah dan menyebabkan banjir di mana-mana.

“Tuh, kamu lihat, Tania! Bersyukur kita tidak kebanjiran seperti mereka,” ucap ibunya sambil memonyongkan mulut dan menoleh ke arah TV.

Berita banjir selalu menjadi langganan saat musim hujan. Beberapa tempat pasti terkena banjir. Katanya sih pemerintah sudah menanganinya dengan baik. Nyatanya, selalu saja banjir. Banjir tidak pernah teratasi dengan baik.

“Apa kita bisa terkena banjir juga, Bu?” tanya remaja berusia 10 tahun itu kepada ibunya yang masih terus berkipas. Kipas angin yang ada di samping TV sengaja tidak dinyalakan karena tidak bisa membuat udara menjadi sejuk.

“Bisa jadi. Sangat bisa,” jawab ibu Tania singkat.

“Loh, kok bisa, Bu?” tanya Tania penasaran.

“Bisa dong. Kamu tahu enggak, dulu di sini, di rumah kita ini udaranya sangat sejuk.

Mbahmu dulu cerita kalau udara di siang hari pun masih terasa sejuk.”

Ibu Tania mulai menceritakan kisah yang pernah diceritakan oleh ibunya dulu. Suasana yang sangat berbeda pada tempat yang sama, tetapi waktu saja yang berubah. Semua sudah jauh berubah.

“Kok bisa berubah, Bu? Apa penyebabnya?” Tania semakin penasaran.

“Semua karena ulah manusia. Kita, manusia yang menyebabkan udara panas serta

banjir di bumi ini,” sambung ibu Tania kembali.

“Kok Tania tambah enggak mengerti, Bu,” ucap Tania dengan kening mengkerut dan wajah yang menyiratkan kebingungan. Remaja itu belum bisa memahami perkataan ibunya. Ibu mengajak Tania duduk di kursi teras dan melihat beberapa tanaman di sana. Tanaman itu tampak kering. Sepertinya udara panas cepat sekali membuat tanah di dalam pot plastik menjadi kering. Padahal ibu Tania sudah menyiramnya setelah salat subuh tadi.

“Lihatlah itu, Tania! Dulu, di sini ada pohon mangga, kelapa, pisang, sawo, dan tanaman cabai serta sayuran. Semua lahan kosong di sini ditanami oleh mbahmu. Jadi, untuk sayuran, mbahmu jarang beli. Setelah bertambahnya penduduk, perlahan mbahmu hanya bisa menyisakan pohon mangga ini.” Ibu Tania menceritakan tentang keadaan rumah mereka.

Sudah sejak lama Tania dan keluarganya tinggal di rumah ini. Rumah ini adalah rumah warisan dari keluarga ibu. Hanya bangunannya saja yang direnovasi ulang, dibuat lebih kokoh memakai batu bata. Namun, beberapa pohon buah yang dulu sering menjadi rebutan sudah tidak ada di sana. Yang bersisa pohon mangga di depan rumah.

“Setiap tahun pasti ada pembangunan. Manusia ingin membangun rumah mereka dengan mewah dan tidak mau bercocok tanam. Akhirnya, lihatlah perumahan ini gersang. Hanya beberapa rumah saja yang terlihat hijau.”

Tania mendengarkan cerita ibunya dengan perasaan bingung bercampur sedih. Matanya memandang ke sekeliling rumah dan jalanan di depan rumahnya. Betul, beberapa rumah memang terlihat hijau dengan tanaman di dalam pot.

“Manusia terlalu serakah hingga berlomba-lomba membangun tanpa memikirkan keadaan lingkungan. Mereka tidak memperhatikan bagaimana menjaga bumi. Sampah berserakan di mana-mana, asap kendaraan mengepul membuat udara kotor.”

Tania diam dan terus menyimak perkataan ibunya. Pelajaran yang disampaikan gurunya di sekolah, bu Leni belum sejauh ini. Ibunya memberikan pengetahuan baru untuknya.

“Lalu apa hubungannya dengan udara panas, Ibu?” tanya Tania kembali. Jiwa keingintahuannya tidak bisa menahan untuk bertanya.

“Semakin banyak pencemaran udara, maka makin besar pula kerusakan yang terjadi pada atmosfer bumi. Kamu sudah belajar belum tentang lapisan atmosfer bumi? Lapisan itu melindungi bumi kita dari terpaan langsung sinar matahari. Nah, udara panas yang berasal dari polusi asap akan menyebabkan suhu permukaan bumi naik. Pemanasan terjadi di seluruh belahan bumi sehingga kita merasa seperti di dalam rumah kaca. Itulah yang disebut efek rumah kaca,” jelas ibu Tania.

“Oh, Tania pernah mendengar efek rumah kaca, Bu. Namun, baru sekarang Tania mengerti. Setelah Ibu menjelaskan tadi. Wah, Ibu keren! Ibu tahu efek rumah kaca segala,” puji Tania kepada ibunya sehingga menghasilkan seutas senyuman di kedua sudut bibir wanita itu.

“Eh, begini ini Ibu terus belajar loh. Ibu belajar dari internet tentang menjaga bumi. Ibu tidak mau nanti anak cucu Ibu merasakan kesulitan dalam mendapatkan udara sejuk. Kamu sudah merasakan tidak nyaman hidup dengan udara panas kan? Makanya, Ibu selalu berusaha menghijaukan rumah kita dengan tanaman dan berusaha menggunakan listrik seperlunya, serta memilah sampah sesuai kandungannya. Semuanya untuk kehidupan anak cucu Ibu nanti.”

“Kalau begitu, Tania mau ke tempat penguin aja, Bu. Kan es di kutub utara masih banyak. Pasti udaranya sejuk,” celetuk Tania tiba-tiba.

Seketika terdengar gelak tawa ibunya. Sambil menutup mulut, wanita itu mencoba menghentikan tawanya. Tania melihat wajah ibu dengan bingung.

“Loh, kok Ibu ketawa sih?” gerutu Tania.

“Menurut kabarnya, es di kutub utara pun sudah mencair sedikit demi sedikit, Tania. Kasihan nasib penguin di sana. Habitat mereka pun terancam hancur. Yang artinya, kehancuran bagi bumi ini,” suara ibu terdengar menakutkan di telinga Tania.

“Ih, kok serem sih, Bu.” Tania bergidik. Bulu kuduknya berdiri. Dia mendekap tangan di dada. Ada rasa takut yang tiba-tiba hadir pada pikirannya.

“Bila bumi ini hancur, maka manusia pasti akan musnah. Bumi ini sudah terlalu menderita, Tania.” Wajah wanita itu terlihat sedih.

Setelah berkumpul dengan komunitas peduli lingkungan, ibu Tania memang banyak berubah. Semua kegiatan sekecil apa pun selalu dipikirkan dampaknya bagi lingkungan. Perlahan, Tania pun sering diajak ikut serta dalam kegiatan ibu dan teman-temannya di perumahan.

Tania mengangguk, membenarkan perkataan ibunya. Bumi ini memang sudah tua, tetapi jangan dibuat sakit karena yang akan merasakannya adalah generasi yang akan datang. Berbenah sejak sekarang, dari yang terkecil 0adalah upaya yang tepat untuk dilakukan.

“Baik, Bu. Bila Ibu yang sudah tua saja mampu berbuat untuk bumi, Tania pun pasti bisa. Tania akan mengajak teman-teman untuk sama-sama menjaga bumi, terutama membuang sampah dan membawa bekal sendiri dari rumah,” tekad remaja itu tersenyum bersemangat.

“Nah, gitu dong! Kalau bukan kita, siapa lagi?” ucap Tania dan ibunya bersamaan.

One thought on “Cerpen #144 Tak Seperti Dahulu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *