Cerpen #143 Cosmic Captain Gaia

Langit gelap; udara sesak dan bunyi mobil dimana-mana. Sampah berserakan sekitar jalan raya disertai warga kota yang tidak mempedulikan keadaan menyedihkan kota mereka. Dikatakan kota termaju; kota paling inovatif dan inventif. ‘Bersenanglah dan berserulah atas kemenangan kota tercinta kita!’ Seru mereka yang menutupi kekotoran tempat ini.

Tetapi inilah kebenarannya. Kota kotor dan kumuh. Kemiskinan merajalela jalanan; polusi udara bertingkat tinggi dan warga yang angkuh dan tidak peduli.

Inilah kenyataan dari metropolis ‘La Topiaz’.

Pada saat itu, seorang pemuda sedang duduk di sebuah kafe dengan matanya tertuju pada layar telepon genggamnya. Tertera dengan jelas di layarnya adalah sebuah email dari salah satu perusahaan bergengsi di kota.

‘Maaf, atas nama RIAN DYN anda TIDAK diterima.’

Sekali lagi, Rian telah ditolak oleh tempat lamaran kerjaannya. Sudah berapa kali situasi seperti ini terulang? Tiga? Tujuh? Mungkin sepuluh? Dari awal sejak ia lulus universitas, Rian tetap belum bisa mendapatkan pekerjaan yang layak untuk waktu yang lama.

Ia adalah yang dikenal orang-orang dengan panggilan ‘pengangguran’.

Rian mendesah sedih, mematikan telepon genggamnya dan menaruhnya di kantong jaket tudungnya yang berwarna hijau gelap. Ia menyandarkan kepalanya di meja kafe yang ada di depannya. “Bagaimana dengan uang sewa bulan depan…” gumamnya dengan gelisah.

Ia tinggal menyendiri di kota; datang dari keluarga kecil dari desa dan pergi sekolah di kota besar untuk mengejar harapan. Tetapi yang hanya Rian didapatkan di kota menjengkelkan ini hanyalah kemiskinan dan ocehan dari tuan rumahnya untuk cepat-cepat membayar tunjangan sewanya.

Namun, Rian keras kepala. Karena itulah ia belum menerima kekalahan dan balik ke desa kecilnya.

Karena itu juga ia berdiri dari bangkunya dan keluar dari kafe itu, ia pun berjalan memutari jalanan La Topiaz yang sepi. Waktu pada saat itu menunjukan jam dua subuh. Meskipun La Topiaz adalah kota yang tidak pernah tidur, Rian pada saat itu berada di bagian kota yang bisa dikatakan ‘sepi bahkan pada waktu normal’.

Dalam kata lain, bukanlah bagian kota yang terhuni.

Rian berjalan memutari jalanan yang penuh dengan toko-toko dan kantor untuk mencari lowongan pekerjaan. Ia akan mencoba dan mencoba lagi hingga ia dapat pekerjaan di kota ini.

Angin berhembus tepat di muka Rian, membuatnya menutup matanya untuk melindunginya dari serpihan debu. Akan tetapi, bukanlah debu yang mengenai mukanya, melainkan selembar koran.

Plakk.

Rian tertampar tepat di muka dengan koran bekas yang orang buang sembarangan di sisi jalan.

“Sial. Apakah dunia sedang menertawai nasibku?” Ucapnya dengan ekspresi kesal, matanya tertuju ke langit gelap di atasnya; seakan-akan sedang mengutuk yang berada di atas sana.

Baru saja Rian ingin membuang koran itu ke tempat sampah terdekat saat matanya menangkap iklan lowongan pekerjaan yang ada di halaman belakang koran itu.

‘Diperlukan Staf Keuangan, Syarat Masih Hidup, Hubungi 088XXX!’

“Bukan, ini bukan dunia menertawakan… ini dunia memberi harapan!” Rian berseru penuh gembira sembari mengambil telepon genggamnya dan dengan sekejap memasukan nomor telepon yang tertulis. Berdering sekali, berdering dua kali, dan bahkan ketiga kalinya. Saat di dering ke lima, Rian mulai berpikir bahwa pekerjaan ini sudah tidak menerima lowongan lagi tetapi akhirnya terangkat saat di dering ke enam.

“Halo?” 

“Malam, pak! Saya menelepon untuk bertanya tentang lowongan pekerjaan yang ada di La Topiaz Daily edisi, uhm.” Rian memutarkan koran itu untuk mencari tulisan tanggalnya. “Edisi tanggal 17 Juni 20XX. Apakah lowongan ini masih terbu…” suara Rian melambat hingga berhenti secara total.

Terdengar suara pembicara di sisi lain panggilan itu di kuping kiri Rian tetapi ia tidak mendengarkannya. Matanya tertuju pada hal lain; jendela sebuah toko perhiasan. Di balik jendela gelap itu terlihat bayang-bayang melewatinya; seakan ada orang yang sedang berjalan dengan pelan-pelan di dalam toko yang sangat jelas terlihat tutup itu.

“Halo? Pak?” 

Dan saat itulah!

Rian melihat pintu masuk toko perhiasan iu terbuka sedikit demi sedikit. Dua orang berjalan keluar dan mereka memakai baju sangat mencurigakan. Topeng gelap dan tas ransel hitam di waktu subuh seperti ini? Bagaimana itu tidak mencurigakan!

“Maaf, nanti akan kuhubungi lagi,” Rian ucapkan dengan cepat ke telepon genggamnya sebelum mematikan teleponnya. Tanpa berpikir panjang, ia berlari ke arah toko perhiasan itu.

“Maling!” Teriak Rian sekencang ia bisa. Sang pencuri pun kaget dan mulai berlari saat Rian berteriak. “Persetan, berhenti kalian!”

Rian mengejar kedua maling itu sekitar tiga blok jauhnya sebelum akhirnya salah satu dari mereka tersandung dan jatuh di aspal. Jatuhnya sangat dahsyat bahkan Rian pun ikut meringis kesakitan melihat kaki pencuri yang terseret. Dengan cepat, tidak membuang kesempatannya, Rian meraih tangan pencuri yang terjatuh dan merampas tas ransel berisi uang curian dari tangannya.

Pada saat itu teman pencuri tersebut sudah lari dari lokasi dan hanya tinggal ia dan sang maling; berdua di tengah-tengah jalanan yang sepi sedangkan orang lain tertidur pulas.

Mereka bertatapan. Berdua tidak tahu harus bagaimana; tangan Rian mencoba merampas tas ransel tetapi di sisi lain sang maling tetap menggenggam juga.

Impasse.

Secepat kilat, Rian belum sempat bereaksi, sang maling menendang perutnya dari samping. “Ah!” Serunya. Tepat saat ia berseru, tas ranselnya dicoba untuk dirampas dan kali ini, Rian melepaskannya.

Karena dia ada rencana lain.

Saat sang maling mencoba untuk berlari lagi, Rian berlompat dan menerkamnya dari belakang. Mereka berdua terjatuh di jalanan; Rian bertumpuk di atas sang maling.

“Hah, gila. Kau tidak capai berlari terus?” Ucap Rian sembari mengambil nafas yang dalam. Sedangkan sang maling berdiri, tangan hampa, dan mulai berlari menjauh. Rian membiarkannya pergi, untuk apa ia kelelahan mengejarnya jika tas ranselnya sudah ia rampas?

“Ku apakan barang rampokan ini?” Rian mendesah sambil berdiri dan mulai berjalan, tas penuh dengan uang curian tergenggam di tangannya.

Ia capai dan keringatan; jaketnya sekarang basah dan kotor. Mendesah sekali lagi, Rian mengangkat tudung jaketnya untuk mengelap keringatnya, saat itulah ia melihat sebuah kios yang masih belum dirapikan. ‘Bantu dan donasi ke Preserve The Earth!’ palangnya terbaca.

“Huh.”

***

Seluruh tubuhnya sakit.

Rian meringis saat ia mencoba duduk dari tempat tidurnya. Kakinya pegal dan tangannya merah karena persaingan rebutan tas. Dan, yang paling penting, ia hilang kesempatan kerja lagi!

Saat sampai di rumah, ia mencoba menghubungi lowongan pekerjaannya lagi tetapi ia ditolak langsung di tempat. Sial, seharusnya Rian tidak kejar maling itu. Seharusnya ia panggil polisi setempat saja…

Ia mengambil telepon genggamnya dan mulai memutar sosial media; apapun untuk mengisi pagi harinya.

“Ini kan-”

Tertulis jelas sebuah artikel berjudul ‘laki-laki misterius mengejar maling dan mendonasikan uangnya ke yayasan amal!’ Tidak hanya itu, artikel itu juga ditemani dengan dua foto yang terlihat ditangkap dari CCTV.  Salah satu foto tertangkap saat Rian sedang mengejar dua maling dan yang satu lagi tertangkap saat Rian menaruh tas ransel berisi duit toko perhiasan itu di meja kios amal kemarin. Untungnya, di kedua foto itu tidak terlihat muka Rian.

Kaget dan tercengang, Rian duduk tegak. “A-Apaan ini?”

‘Dia terlihat keren sekali!’

‘Pahlawan kota La Topiaz.’

Robin Hood milik kota kami!’

Komentar dari artikel tersebut semua memberi pujian pada Rian. Menjulukinya dengan sebutan Robin Hood kota La Topiaz karena jaket tudungnya yang hijau.

Pahlawan sejati yang mencintai bumi dan krisis iklim… terdengar menawan, tidak?

Tanpa diketahuinya, Rian tersenyum saat membaca komentar-komentar yang melempar pujian ke arahnya.

‘Bagaimana jika kita panggil dia Kapten Gaia?’

Satu komentar yang berpendapat atas nama pahlawannya membuat Rian tertarik.

“Nama yang bagus juga…”

***

Kapten Gaia beraksi lagi! Memberhentikan sekumpulan perampok dan mendonasikan uangnya ke yayasan PRESERVE THE EARTH.

1 Oktober 20XX

Malam ini, tepatnya pada jam dua belas malam, Kapten Gaia disaksikan sedang mengejar empat orang perampok yang merampok salah satu rumah warga!

Kapten Gaia mengejar empat perampok selama lima blok jauhnya! Dia tidak sendiri, dia dibantu oleh pejalan kaki yang lewat. Kapten Gaia menangkap ke-empat perampok tersebut dengan bantuan dari penggemarnya.

Dikatakan oleh narasumber kita, Toni Prastita, salah satu pengejar yang membantu Kapten Gaia, bahwa Kapten Gaia dengan senang mendonasikan uang tersebut ke yayasan amal yang selalu ia donasikan: Preserve The Earth.

Yayasan amal Preserve The Earth adalah yayasan amal yang bertujuan untuk menyelamatkan bumi kita dari krisis iklim. Kapten Gaia telah mengatakan banyak kali bahwa ia menyetujui tujuan Preserve The Earth dan mendorong seluruh warga La Topiaz untuk berhenti menggunakan mobil pribadi dan bahan bakar fosil!

Slogan khasnya ‘untuk bumi dan untuk generasi selanjutnya, mari buang energi kotor dan selamatkan bumi!’ tidak pernah Kapten Gaia lupakan.

***

Malam yang sukses sekali lagi; Kapten Gaia dengan gagah berhasil menangkap perampok dan membuat warga sekitar hidup dengan tentram sekali lagi. Keberaniannya membangkitkan kemauan warga La Topiaz untuk mencintai bumi dan melawan krisis iklim. Hal yang paling ideal, bukan?

“Rian, kapan kau akan bayar uang sewa?!” Teriak tuan rumahnya, Tante Aryana, dari kejauhan. Setelah mendengar teriakan lancang si perempuan paruh baya, ia langsung berlari dengan cepat untuk pergi dari lingkungan sekitar.

Sudah dihitung tiga bulan lamanya sejak ia memulai kegiatan malamnya yaitu menjadi pahlawan yang peduli bumi. Dan juga sudah tiga bulan lamanya sejak ia tidak membayar uang sewanya; Rian pun juga heran mengapa ia belum juga dilempar dari kos-kosan nya oleh Tante Aryana. Menjadi pahlawan setempat bukanlah pekerjaan yang berbayar dan hari-hari gini, Rian tidak memiliki waktu untuk bekerja pekerjaan penuh waktu lagi; karena itulah, ia sekarang melakukan banyak pekerjaan paruh waktu. Semuanya demi uang makan kesehariannya.

Tetapi pekerjaan paruh waktu tidak akan menutupi uang sewanya, bahkan jika ia bekerja tiga putaran pun tidak akan tertutup.

“Apakah ini hidup para pahlawan di komik?” gumamnya sambil berjalan masuk ke restoran cepat saji; pekerjaan paruh waktu pertamanya untuk hari itu. “Pagi, Toni. Tidak sibuk hari ini?” ia tanyakan ke rekan kerjanya, Toni Prastita.

“Rian, kau sudah lihat berita terbaru tentang Kapten Gaia?” bukan sapaan yang menyambutnya, melainkan sebuah pertanyaan penggemar berat. Toni secara dramatis membuka telepon genggamnya dan memperlihatkan sebuah artikel ke arah Rian. “Lihat! Bukankah Kapten Gaia sungguh keren?”

Muka Rian sedikit meringis, bukan karena kesakitan tetapi karena keanehan dari bertemu dengan sebuah penggemar secara dekat seperti ini. “Hm, iya, keren sekali…” sudah dihitung dua bulan lamanya ia bekerja dengan Toni, namun sampai sekarang pun ia belum terbiasa dengan sisi Toni yang suka menggila atas perbuatan alter ego-nya: Kapten Gaia.

“Toni, Rian, jangan bengong! Kita dapat pesanan untuk ulang tahun!” Perintah manajer mereka.

“Siap, bu!”

Dengan gegas, mereka berdua memulai bekerja. Tubuh Rian pegal karena semalaman mengejar perampok tetapi ia bekerja sebisanya; melayani ibu-ibu pemarah dan menahan panasnya penggorengan.

Semua ia lakukan demi mendapatkan uang.

Terasa seperti berlangsung selamanya, akhirnya rush hour pun selesai dan juga waktu bekerjanya Rian. Ia menyapa selamat tinggal ke manajer dan Toni setelah mengganti bajunya dan berjalan keluar dari restoran cepat saji itu. Ia membuka telepon genggamnya dan memutar sosial media sembari duduk di bus untuk menuju tempat kerja paruh waktu selanjutnya; barista.

“Ah, mengapa semuanya penuh dengan ini?” Ucap Rian saat ia melewati post tentang Kapten Gaia untuk kelima kalinya. “Memalukan sekali.” Rian terkekeh membaca komentar yang diberi dari para penggemarnya.

Betapa serunya menjadi sebuah pahlawan.

Dua hari setelah pengejaran perampok berlalu tanpa kejadian menarik untuk Rian dan Kapten Gaia. Perampok terlihat telah dengan sengaja menjauhi daerah yang sering ia patroli. Sedih, karena sekarang Kapten Gaia mau mendonasikan apa ke yayasan amal?

“Rian, kau bisa naik motor, kan?” Tanya manajernya di sebuah kafe yang hari itu ia sedang bekerja. Rian mengangguk. “Tukang pengantar biasa kita cedera tangan. Kau mau tolong gantikan, Rian?” Mohon manajernya. “Tidak terlalu jauh dan pasti gajimu akan ditambah.”

Mendengar janji bahwa gajinya akan ditambah, Rian langsung menyetujui. Dan itulah ceritanya bagaimana Rian sekarang sedang menaiki motor perusahaan ke ujung kota La Topiaz yang tidak pernah ia datangi. Sisi kota dari kota imajinasi La Topiaz yang Rian tidak pernah miliki alasan untuk kunjungi; untuk apa ia datangi jika ia tidak punya urusan ke tempat itu?

Tetapi sekarang, ia punya urusan. Ia akhirnya sampirkan sisi kota ini. Hanya untuk mengirim pesanan roti lapis.

“Jalan Cahya Cinta tiga… sial, aku tersesat?” Gumamnya saat ia melihat sebuah palang jalanan yang terbaca ‘Jln. Melati Bukit’. Rian memilih untuk mencoba untuk berkendara lebih jauh karena pada di tempatnya sekarang, ia tidak mendapatkan sinyal untuk mencari jalan yang benar.

Tetapi.

Semakin Rian berjalan lebih jauh ke ujung kota ini, semakin udaranya terasa sesak. Polusi udara yang memenuhi udara, menyumbat oksigen dan susah untuk bernafas. Polusi yang sangat parah sesampai bisa terlihat warna samar-samar kecokelatannya. Bau tidak sedap dari pabrik; kesejukan dari angin musim penghujan pun menghilang semakin ia masuk kedalam belak-beluk sisi kota ini.

Saat itulah.

Rian berhenti depan palang besar yang terletak di bersebelahan dengan bangunan pabri.  Sebuah palang yang berdiri tegak di sebelah perumahan kumuh dan miskin.

‘NEBULA INDUSTRIES Fossil Fuel’  terbaca di palang tersebut. Tertulis dalam huruf besar dan berdiri gagah. Kata-kata itu menaruh jejak yang besar di pikiran Rian.

Nebula, hm?”

Setiap pahlawan perlu penjahat, tidak?

***

Rian berjalan di jalan, ia sedang menuju tempat kerja paruh waktu selanjutnya. Saat di jalan, ia melewati toko kelontong yang sedang menyalakan televisi jadul. Di televisi itu sedang bermain berita terkini.

“Pahlawan Kapten Gaia mengatakan Nebula Industries adalah alasan utama bumi akan hancur. Ia pun meminta seluruh pengikutnya untuk memboikot Nebula Industries,” wanita penyiar membaca berita terkini dengan keterangan ‘Kapten Gaia menyuruh Nebula untuk berhenti!’ “Informasi terkini baru saja masuk, beberapa pekerja Nebula Industries secara terbuka mendemo di depan kantor utama Nebula.”

Pemandangan berganti dari studio ke jalanan depan kantor utama Nebula. Kerumunan orang-orang sembari memegangi palang bertulis yang menyuruh Nebula untuk memperbaiki etika kerja mereka.

‘Energi fosil hanya menyakiti bumi!’ tertulis di salah satu palang yang dipegang oleh pendemo.

“Anak mudah, mengapa kamu terdiam di situ?” Tanya bapak-bapak pemilik toko kelontong.

Rian menggeleng kepalanya. Tanpa dia sadari, ujung bibirnya naik dan ia merasakan dirinya menjadi semakin riang. Inilah yang diharapkan, tidak? Dengan membuang Nebula maka energi fosil akan berkurang dan orang akan lebih berpikiran terbuka ke energi terbarukan seperti surya ataupun angin. Jika itu terjadi, maka bumi akan terselamatkan.

Itulah yang Rian anggap akan terjadi dan, untuk waktu yang singkat, semua terasa seperti akan berakhir baik.

Tetapi, setelah seminggu lamanya, sudah jelas apa yang terjadi.

Tidak ada balasan dari pihak Nebula. Bahkan tidak ada komentar apapun dari juru bicara mereka; tidak ada informasi apapun dari pihak Nebula atas kejadian ini.

Pengikut Kapten Gaia tetap mendemo untuk tujuh hari lamanya dan banyak karyawan Nebula yang berhenti bekerja. Tetapi, mengapa tidak ada balasan?

Setelah genap delapan hari, akhirnya masa depan yang Kapten Gaia harapkan mulai hancur dan runtuh. Semua dimulai dengan statistik pekerja Nebula Industries yang dikeluarkan pada dua belas Oktober. Pada statistik itu, terbaca bahwa Nebula tidak mengalami penurunan keuntungan secara drastis.

Grafik itu hanya mencelup sedikit sebelum stabil lagi di tempat sebelumnya.

“B-Bagaimana ini bisa terjadi?” Rian bisik terhadap dirinya sendiri saat ia membaca grafik itu berulang-kali.

Toni, yang berdiri di kanannya, melirik ke layar telepon genggam Rian. “Oh, kau juga lihat itu?” Toni tanya sambil mengemas pesanan pelanggan. “Tidakkah kau lihat berapa banyak orang yang mengantri untuk wawancara kerja dengan Nebula pas tempo hari?”

“Hah? Wawancara?”

Toni mengangguk. “Kawan, Nebula Industries itu salah satu perusahaan paling besar di La Topiaz… jika kau diterima di situ maka hidupmu sudah stabil. Pikir saja sebagus apa kreditasmu jika kau dapat memberitahu orang kalau kau bekerja di Nebula.”

Malam itu, Rian beraksi sebagai Kapten Gaia; pahlawan kota yang memakai baju yang ia jahit dengan terampil sendiri ditambah jubah yang memanjang di belakang punggungnya. Sosok yang berpose dengan keren, memantulkan bayangannya di tembok. Sungguh memancarkan kesan pahlawan sejati yang beraksi untuk melindungi keseharian Kota La Topiaz.

Saat sedang patroli dan mencari orang yang dapat dibasmi, Kapten Gaia berpapasan dengan orang yang keluar dari sebuah kantor cabang Nebula.

Orang itu berpakaian kemeja yang rapi tetapi karena sudah seharian penuh dipakai maka sudah terlihat tekukan-tekukan. Ia juga membawa tas tua yang ia bawa dengan digendong yang terlihat berat. Terlihat jelas bahwa orang ini baru saja selesai bekerja.

“Berhenti. Kau yang memakai kemeja biru!”

Kemeja biru terdiam dan berbalik dengan kaget; matanya yang sudah penuh dengan keheranan semakin membulat saat melihat bahwa Kapten Gaia-lah yang memanggilnya. Kapten Gaia berjalan dengan gesit dan berhenti tidak jauh di depan si kemeja biru.

“K-Kapten Gaia?” Tanya kemeja biru dengan kagum. “Wah, saya penggemar besar. Boleh minta tanda tangan- tidak, boleh minta foto bareng?”

Kapten Gaia mengangkat telapak tangannya, memberhentikan si kemeja biru yang hendak mengambil telepon genggamnya. “Sebelum itu, saya ingin bertanya sesuatu.”

“Silahkan, tanya saja!”

“Kau bekerja dengan Nebula, tidak?” Ia tanya sambil menunjuk kantor gelap yang berada di belakang mereka. “Setelah tahu mereka penyebab krisis iklim, kau tetap saja bekerja dengan mereka? Setelah semua itu?”

Raut wajah sang pegawai Nebula tersebut berubah dari kagum atas bertemu dengan pahlawannya menjadi bingung. “…jika aku tidak bekerja, bagaimana anakku dapat makan?” Tangan yang menggenggam tali tasnya mengerat. “Bagaimana keluargaku dapat hidup? Mereka membayar gaji paling layak dari semua perusahaan lain. Tak ada satu bulan pun dimana mereka telat membayarku…”

Kapten Gaia terdiam. Dia sendiri tidak memiliki pekerjaan yang layak, tidak membayar uang sewanya untuk berbulan-bulan dan hanya punya atas di atas kepalanya karena kebaikan hati tuan rumahnya.

Tetapi.

Rian memilih untuk menjadi pahlawan. Dia yang memilih untuk memberi semua uang yang ia ambil dari pencuri ke yayasan amal yang bertujuan untuk memperbaiki perubahan iklim bumi kita.

“Carilah pekerjaan lain, memang apa bedanya jika gajinya lebih rendah?” Kapten Gaia berjalan satu langkah ke depan; mendekat ke pegawai Nebula. “Semuanya untuk bumi, tidak?” Ia tanya, mencengkram kerah kemeja biru orang itu dengan tangan yang bergemetaran. “B-Bukankah itu tujuan yang mulia?”

Sang pegawai membulatkan bola matanya, berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan cengkraman Kapten Gaia. “K-Kau gila,” ucapnya saat Kapten Gaia akhirnya melepaskannya. “Untuk apa aku pedulikan bumi jika bayarannya adalah aku dan keluargaku kelaparan di bawah jembatan?”

Dengan kasar, sang pegawai Nebula mendorong Kapten gaia menjauh dari dirinya dan meninggalkan Kapten Gaia sendirian di tengah jalanan yang gelap. Di tengah kota yang sepi dan tak kenal ampun.

Peganglah prinsip dengan erat, jika tidak maka akan kehilangan kepribadian.

Keesokan harinya, Rian kesiangan dan akhirnya telat untuk bekerja. Ia berdiri untuk lima menit sambil manajernya memarahinya. ‘Mau sampai kapan kau tetap seperti ini, Rian?’ Perkataan yang sudah Rian dengar beribuan kali di hidupnya. Mendengar sindiran halus dan kekecewaan orang atas dirinya.

Semuanya sangat familiar.

Pulang dari pekerjaan pertamanya dan pergi ke pekerjaan keduanya. Semua ia lakukan dengan seksama bahkan saat tubuhnya menjerit kecapean. Jika tidak ia lakukan, maka ia akan makan apa bulan depan?

“Kau sudah baca postingan di sosmed?” Kuping Rian tidak sengaja menangkap percakapan dua siswa sekolah saat sedang membersihkan meja yang ada di sebelah mereka.

“Yang tentang Kapten Gaia? Sudahlah. Gak disangka ya, dia sebenarnya seperti itu.”

Penasaran Rian meningkat saat mendengar bahwa postingan tersebut tentang Kapten Gaia. Semulai waktu istirahatnya, ia langsung membuka sosmed dan mencari postingan yang dibicarakan kedua anak sekolah itu.

Tepat di paling atas tangga trend, ada namanya.

‘Kapten Gaia itu orgil yang tidak mengerti kehidupan orang. Semua ia lakukan hanya demi eksis!’ Postingan tersebut terbaca seperti itu.

“Memang apa salahnya melakukan semua ini untuk menyelamatkan bumi?! Itu tujuan mulia,” gerutu Rian. Hanya dengan sekali menggulir ke bawah kolom komentar dari postingan itu sudah membuat Rian kesal.

Kesannya menetap di benaknya bahkan pada saat ia berjalan pulang di tengah malam. “Untuk apa juga dipikirkan, hanya komentar doang,” Rian ucapkan sambil menggelengkan kepalanya agar semua kekesalannya menghilang.

Malam itu, ia akan tidur dengan nyaman dan mengistirahatkan tubuhnya. Perasaan paling enak di dunia adalah pulang ke rumah yang sejuk dan nyaman, harapan yang indah.

Sayangnya. Hanya sekedar angan-angan bagi Rian untuk malam itu.

“A-Ada apa ini?” Rian berhenti. “Mengapa barang-barangku ada di luar seperti ini…?”

Tergeletak seperti dilempar; seluruh barang-barang Rian, dari baju hingga peralatan mandi, terbengkalai di sisi pintu depan kosannya. Barangnya tidak banyak dan memang lebih dari setengah masih rapi di dalam koper tetapi- apa apaan ini semua?

Dengan amarah, Rian mengetuk pintu kos-kosannya. “Tante Aryana!” Ia panggil berkali-kali tetapi mau berapa banyak kalinya ia mengetuk dan berteriak, sang ibu kosan tetap saja tidak keluar.

“Sial,” kutuk Rian, salah satu tangannya tanpa diketahui menarik-narik rambutnya sedangkan yang satu lagi ia gigitin kukunya. “Sudah jam segini, dimana aku akan tidur?”

Waktu menunjukan jam dua belas malam, terlalu larut untuk menanyakan kenalannya untuk menumpang dan ia juga tidak memiliki uang yang cukup untuk memesan kamar. ‘Apakah aku harus tidur di bangku taman? Ataupun, di bawah jembatan?’ Itulah yang berputar di dalam benak Rian saat ia berjalan menarik kopernya yang berdebu karena telah berdiri di sisi jalanan untuk beberapa lama waktunya.

Sebelum beranjak pergi dari kos-kosannya, ia melempar kunci cadangan yang ia pegang ke kaca rumah. Kacanya tidak pecah tetapi kekesalannya mengurang sedikit.

Rian tidak perlu berjalan lama untuk melihat taman publik La Topiaz. Tempat yang penuh dengan pepohonan dan air mancur; sekarang sudah menjadi tempat tidurnya untuk semalam. Tidak ada atap di atas kepalanya, tidak ada pendingin ruangan maupun makanan atau minum yang dapat ia minum. Jika Rian ingin pergi ke toilet maka ia harus mencari toilet umum yang perlu dibayar dua ribu terlebih dahulu.

Apakah ini hidup sebuah pahlawan? Tertidur di bangku taman yang tidak nyaman sembari berdoa agar tidak hujan?

Sinar matahari pagi yang silau, baterai telepon genggamnya yang habis, bajunya yang terlalu tipis, dan hidungnya yang tersumbat karena pilek. Semua hal yang ada disekitarnya membuat Rian semakin yakin.

“Besok siang.”

***

“Lihat! Itu Kapten Gaia!” Seorang pejalan kaki seru sambil menunjuk sosok Kapten Gaia yang berjalan melewatinya.

Orang-orang yang ada di sekitar langsung berputar kepala untuk melihat yang dimaksud sang pejalan kaki; di tengah perempatan jalan itu berjalanlah Kapten Gaia di siang bolong. Langkah pahlawan tersebut gesit dan lebar, seakan ia menuju suatu tempat yang pasti. Ada banyak orang yang mencoba memberhentikan Kapten Gaia untuk meminta tanda tangan atau berfoto dengannya tetapi Kapten Gaia mendorong mereka semua. Dia tetap berjalan dengan gesit, mata tertuju ke depan dan tangan menggenggam sesuatu dengan erat.

Barang yang ia genggam merupakan sebuah batu.

Secepat kilat, tanpa peringatan, Kapten Gaia melempar batu itu tepat ke pintu kaca gedung perkantoran yang berada tepat di depannya. Gedung tersebut merupakan kantor utama Nebula Industries.

Keping kaca bertebangan atas benturan dari batu yang dilempar; teriakan orang dan pegawai terdengar dengan jelas. Tetapi Kapten Gaia tidak berhenti, melainkan ia mulai berlari agar bisa memasuki kantor utama Nebula melewati lobang kaca yang telah ia buat.

Dengan cerdik, ia menghindari penjaga dan security yang ada di bagian dalam aula penyambut gedung tersebut. Kapten Gaia berlari ke arah resepsionis yang terdiam di tempatnya di balik meja; terdiam karena ketakutan, Kapten Gaia perkirakan.

“Kau, cepat panggil bos-mu,” perintahnya sembari menarik kerah resepsionis itu. Ia melihat resepsionis membulatkan matanya dengan ragu-ragu sebelum tangannya yang bergemetaran bergerak ke arah telepon seluler yang ada di bawah mejanya. “Cepat!” Ia bentak sembari melihat seorang security yang mulai berlari ke arahnya untuk menangkapnya.

“A-Ah!” Resepsionis itu menjatuhkan telepon selulernya. Barang telekomunikasi yang terjatuh itu membuat suara gaduh saat terkena lantai marmer.

Kapten Gaia menatapi resepsionis itu dengan kesal. “Sesusah apa untuk memanggil seseorang-” ia gerutu sebelum terhenti.

Mata Kapten Gaia tertuju pada gelang yang ada di tangan sang resepsionis. Gelang tersebut merupakan gelang tali simpel yang memiliki satu manik warna biru di tengahnya; tetapi, ada sesuatu yang menarik dari gelang tali tersebut. Gelang itu adalah gelang amal yang Kapten Gaia sendiri pernah mengiklankan kepada penduduk La Topiaz. Gelang tali yang terlihat simpel itu dijanjikan akan menanam pohon setiap kali satu gelang terjual dan Kapten Gaia secara terbuka mengiklankannya di depan jurnalis.

Dan sekarang, gelang itulah yang membuat Kapten Gaia berhenti untuk sejenak.

Waktu singkat dimana ia tidak bergerak dan pikirannya tercegat adalah waktu yang cukup untuk security di kantor Nebula untuk menangkapnya dan menjatuhkannya ke lantai. Kepalanya terbentur lantai marmer dengan suara ‘bruk!’. Hal terakhir yang ia lihat sebelum akhirnya pingsan merupakan wajah ketakutan dari semua pegawai Nebula.

‘T-Tidak. Jangan melihat ku seperti itu…’

Saat ia tersadar kembali, Kapten gaia berada di tempat yang tidak familiar. Untuk sementara, ia merasa heran apa yang telah terjadi sebelum akhirnya mengingat semua hal yang ia lakukan saat siang hari itu.

Ia mencoba menarik tangannya tetapi merasakan tangannya terborgol di belakang kursi. Kakinya terikat memakai zip tie dan kepalanya terasa pusing.

Matanya tertuju ke arah jendela luas yang berada tepat di depannya; pemandangan di balik jendela tersebut melihat ke bawah kota La Topiaz.

“Selamat siang, Kapten Gaia,” seseorang berkata dari belakang Kapten Gaia. Suaranya terdengar profesional tetapi bernada seakan ia sedang mengejek Kapten Gaia. “Atau lebih tepatnya, Rian Dyn Sulisto?”

Saat itulah, Rian menyadari dengan ketakutan; ia tidak memakai penutup wajahnya.

“Janganlah terlihat terlalu kaget seperti itu. Aku sudah tahu identitasmu sebelum kau dengan bodohnya menyerbu kantorku.”

Bangku yang Rian duduki diputar secara paksa dan Rian sekarang berhadap dengan seorang laki-laki paruh baya yang memakai setelan jas berwarna biru. Laki-laki paruh baya ini berdiri menyendiri meja kerjanya dengan ekspresi datar.

“K-Kau…”

Sebelum Rian dapat menyelesaikan kata-katanya, laki-laki paruh baya itu memperkenalkan dirinya. “Salam kenal, saya Budi Purnomo Joyohadi.”

“Joyohadi… kau pemiliknya Nebula!” Ucap Rian. Ia tidak percaya dengan perkataannya sendiri tetapi Joyohadi tersenyum dan mengangguk.

“Sudah ditebak, lulusan dari Universitas Cahya Indah pasti pintar,” ucap Joyohadi sambil bertepuk tangan. “Kau orang yang lucu, Rian. Lulusan sekolah ternama tetapi tidak pernah memiliki pekerjaan tetap? Apakah karena tidak bisa menemukan pekerjaan menetap atau karena kau tidak menyukai seluruh pekerjaan yang menerimamu?” Joyohadi menunjuk kostum Kapten Gaia yang Rian pakai sebelum melanjutkan perkataannya: “pada akhirnya kau memilih untuk memakai kostum badut ini dan berlagak seperti pahlawan?”

Rian menggelengkan kepalanya. “Bukan, i-ini semua bukan… aku tidak berlagak.” Joyohadi membuat gerak tubuh yang menyuruh Rian untuk lanjut ngomong. “Ini semua untuk menyelamatkan b-bumi kita-”

“Kau kira dengan membuat beberapa penggemarmu di La Topiaz berhenti menggunakan mobil mereka, kau menyelamatkan bumi?” Perkataan Rian dipotong dengan kasar oleh Joyohadi. “Atau… kau kira hanya dengan Nebula hancur maka bumi akan terselamatkan?”

Sekali lagi, Rian mencoba untuk menggelengkan kepalanya dan menjelaskan dirinya. “K-Kau salah. Bukan itu-”

“Apakah kau mengira perubahan iklim sebagai masalah yang sangat gampang?” Sebelum Rian sempat mengelak tuduhannya, Joyohadi berkata lagi: “Kapten Gaia, apakah kau mau tahu sebuah rahasia?”

Joyohadi mendekat dan membisikan kata-kata yang membuat Rian membulatkan matanya. Kata-kata itu merupakan: “Yayasan amal yang kau cintai itu, Preserve The Earth, Nebula lah yang mengaturnya. Hanya tiga puluh persen yang beneran didonasikan untuk kebaikan bumi.”

Rahasia yang membuat Rian ingin mulai menangis di lantai tepat setelah mendengarnya.

Joyohadi mundur beberapa langkah dan bersandar di meja kerjanya lagi. “Dengan bantuan Kapten Gaia, keuntungan yayasan amal kita naik sepuluh kali lipat.” Seakan ia senang melihat kesedihan yang terlihat dengan jelas di muka Rian, Joyohadi menambahkan: “karena jasamu, aku dapat membeli tiga rumah baru.”

“M-Mengapa?” Tanya Rian. Pada saat itu, air mata mulai berjatuhan dari matanya dan nafasnya mulai tidak stabil tetapi dia harus bertanya. Dia harus tahu.

Mengapa? Ya, mengapa kau menjadi pahlawan, Kapten Gaia?”

“Untuk membantu bumi-” Rian memotong perkataannya sendiri kali ini. Ia terdiam, tidak berani melanjutkan perkataannya. Ia merasa tersakiti; memang bukan karena menyelamatkan bumi. Semua ini ia lakukan bukan karena bumi, melainkan…

“Mabuk popularitas, kan?” Ucap Joyohadi dan Rian tidak punya nyali untuk menggelengkan maupun menganggukan kepalanya. “Kau bukan pahlawan, kau hanya pencuri. Teroris rendahan yang mengira ia bisa mengubah dunia.”

Matanya tertutupi oleh air mata tetapi Rian tetap dengan tegas menggelengkan kepalanya. “Aku bukan pencuri.”

“Hanya karena kau memberi uang yang kau curi ke yayasan amal, maka kau bukan pencuri?” Joyohadi berdiri dan berjalan mendekati Rian. “Jika aku memperkosa anak dari koruptor maka aku bukan pemerkosa tetapi pahlawan?” Tanyanya dengan sinis sambil tersenyum saat melihat Rian semakin bersedih karena perkataannya.

Mulutnya Rian sudah tidak bisa bergerak. Ia hanya bisa menundukkan kepalanya dan mempertanyakan dimana ia salah untuk membuatnya seperti ini. Rian menghirup nafas yang dalam sembari air matanya tidak kelak berhenti.

“Tahan nafas hidupmu, Kapten Gaia. Senang bertemu dengan sesama manusia di siang hari ini.”

***

Kapten Gaia diekspos korupsi dana yayasan amal PRESERVE THE EARTH!

19 Oktober 20XX

Baru saja keluar berita tentang kebenaran di balik pahlawan tercinta La Topiaz, Kapten Gaia. Orang dibalik penutup muka Kapten Gaia adalah Rian Dyn Sulisto, seorang laki-laki di pertengahan umur dua puluhan dan tidak memiliki pekerjaan tetap.

Diekspos oleh pihak anonim bahwa pemilik yayasan amal yang selalu Kapten Gaia iklankan dan donasikan, Preserve The Earth, adalah Tuan Rian Dyn Sulisto sendiri.

Data keuangan dari yayasan maal tersebut juga memperlihatkan bahwa yayasan Preserve The Earth telah korupsi donasi sejak dua tahun! Diperkirakan hanya sekitar tiga puluh persen yang beneran digunakan untuk membantu masalah iklim pada saat ini.

Publik bereaksi dengan amarah dan ejekan kepada pahlawan Kapten Gaia. Melemparkannya sampah saat dia dikeluarkan dari mobil polisi untuk masuk pengadilan.

‘Dasar orang bangsat yang mengira bisa menggunakan masyarakat dengan semaunya,’ ucap salah satu komentar di situs media sosial.

‘Untuk bumi dan untuk generasi selanjutnya, mari buang energi kotor dan selamatkan bumi, apanya? Seharusnya kita tidak mempercayainya dari awal,’ ucap komentar lain yang mengutip slogan khas milik Kapten Gaia.

Diperkirakan Kapten Gaia atau, nama aslinya, Rian Dyn  akan masuk penjara untuk delapan belas tahun lamanya dan akan mendapatkan denda oleh pengadilan La Topiaz.

2 thoughts on “Cerpen #143 Cosmic Captain Gaia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *