Cerpen #142; “Buku Harian Semesta”

Breaking News!  Jumlah air, iklim, dan cuaca ekstrem terus naik mengakibatkan bencana serta wabah yang lebih parah, karena adanya perubahan iklim yang semakin krisis. Banyak bencana alam yang diakibatkan dari krisis iklim ini. Salah satunya Gelombang panas yang telah terjadi beberapa tahun belakangan ini memicu terjadinya kekeringan serta kebakaran yang melahap hutan hingga merembet ke kawasan perumahan di metropolitan yang terjadi pada 9 September 2043 pukul 1 dini hari. Setidaknya 20 ribu orang meninggal dunia dalam bencana alam tersebut dengan kerugian ekonomi mencapai 51 triliun rupiah. Begitulah bunyi berita yang kudengar lewat televisi yang terletak pada tenda pengungsian yang telah menampung diriku serta beberapa warga yang masih selamat sejak semalam.

Perlahan embun membasahi dahan di pagi hari, sepercik cahaya mulai tampak, dan inilah awal jalan keluar dari semua keputusasaan. Tidak mudah memang, namun inilah kenyataan. Aku harus bangkit walau telah kehilangan tempat tinggal bahkan keluarga. Kebakaran yang terjadi beberapa saat yang lalu benar-benar sebuah bencana. Aku merasakan betapa murkanya alam yang selama ini menjadi tempat kami bersandar. Aku sadar, ini semua juga ulah manusia yang tak membalas kenyamanan dari alam. Lautan api yang melahap kediaman kami tampak jelas di pelupuk mata. Aku hanya bisa berlari sekencang mungkin dari tempat itu. Perpisahan dengan seorang yang amat kusayangi, juga tak terelakkan.

  “Tari! Ada relawan yang telah menemukan ibumu di bawah reruntuhan!” ucap salah seorang dari kejauhan sana.

Tanpa pikir panjang, aku langsung menghampirinya dan segera mengikuti ke mana dia membawa diriku bersamanya. Reruntuhan puing yang telah menghitam menjadi arang berwarna hitam legam, segores luka yang membalut tubuhku serta jeritan minta tolong yang jelas terdengar di indra telingaku mewarnai perjalanan kami menuju tempat yang dia maksud. Beberapa saat kami melangkah, tibalah kami di tenda yang tak asing lagi bagiku. Tenda yang sejak tadi kuhindari, berbekal keyakinan bahwa ibu tak akan berdiam di sana. Namun, aku salah besar. Jelaga mengitari tatap nanarku. Ia menghalangi setiap harapan yang mungkin saja menghampar begitu luas untuk kupilih. Batinku meronta menyadari takdir yang telah digariskan untukku. Aku tak ingin mengelaknya, namun aku hanya merasa tidak adil dengan semua yang kualami. Isak yang tertahan sejak malam tadi, kini meledak. Pertahananku benar-benar runtuh. Ia membersamai kegelapan yang berteman duka. Tangisanku semakin menjadi. Isak tangisku semakin membuat napasku tersengal dan sulit sekali menghela napas walau hanya satu kali. Terbujur kaku di hadapanku, tertutup rapat kain putih dan tak berkata. Puluhan orang berdesakan memenuhi ruangan tenda untuk turut mencari keberadaan keluarga mereka. Aku semakin terpuruk dan lemah bersandar di dekatnya, namun dia tetap terdiam dan tampak pucat pasi. Wajahnya terlihat bersih dan senyumnya masih jelas terlihat. Seorang wanita yang luar biasa yang pernah Tuhan ciptakan, Tuhan sandingkan, dan Tuhan tempatkan aku di dalam rahim sucinya. Sosok yang paling hebat yang pernah aku punya, ibu.

Tak lama kemudian datang seseorang yang juga merupakan teman ibu. Dia sering sekali datang ke rumah bersama ibu sewaktu mereka menjalankan suatu program lingkungan. Tentu saja kami sudah saling mengenal bahkan sangat akrab. Tante Ema namanya. Secepatnya dia datang ke pengungsian setelah mendengar kabar bencana kebakaran yang melanda kami. Sedih, tentu saja itu yang dia rasakan. Apa lagi saat bertemu ibu yang sudah tak dapat lagi bercanda ria bersama kami.

“Lestari, kamu yang sabar ya. Aku sangat mengenal ibumu. Beliau adalah seorang manusia yang sangat peduli akan lingkungan sekitar. Bertahun-tahun kami berjuang bersama berusaha melakukan perubahan pada alam yang telah rusak. Namun, ternyata ibumu sangat mencintai alam hingga ingin segera menyatu dengannya,” tutur Tante Ema yang merupakan teman seperjuangan ibu sebagai aktivis lingkungan.

“Iya Tante Ema. Terima kasih telah datang jauh-jauh kemari,” jawabku sembari menahan air mata yang hampir luruh.

“Sekarang, apa langkahmu selanjutnya?” tanya Tante Ema lagi.

“Entahlah, Tante. Tari masih belum dapat memikirkan semua itu lebih jauh. Semua masih tampak abu-abu di kepalaku.

“Ya. Tante Ema paham apa yang sedang kau rasakan saat ini. Kehilangan sosok ibu bukanlah suatu hal yang mudah,” ucap Tante Ema menguatkan.

“Iya Tante,” sahutku pelan.

“Ya sudah, Tante Ema pamit pulang dulu ya. Jika ada apa-apa, jangan sungkan untuk menghubungi Tante.”

“Baik, Tante Ema.”

Penat belum usai. Dalam tenda kecil berisi beberapa orang berteman riuh-senyap kenangan yang berputar layaknya film. Ibu, mengapa engkau meninggalkan diriku secepat ini. Bagaimana bisa aku hidup tanpa belaian kasih sayangmu? Bagaimana aku menjalani hari-hari beratku tanpa keberadaanmu, Ibu? Aku telah berusaha menyembunyikan kedukaan yang menggantung di langit dadaku, berusaha menyamarkan kenangan-kenangan itu agar tak menyisakan sesak yang bergumul hingga ke pangkal kerongkongan. Namun semakin aku menyembunyikannya, semakin serik kurasakan. Ia bertumpuk-tumpuk dengan setiap kerisauan dan kesedihan hingga menyekat jalan napas keluar. Baru saja aku merebahkan tubuhku di atas alas tenda, tampak dua orang berpakaian oranye dengan benda pipih di tangannya, menghampiri diriku di tengah gelapnya malam. Bergegaslah aku membangkitkan tubuhku lagi. Kedua orang itu menghampiriku, seraya menyerahkan benda pipih yang menghitam namun masih tampak utuh di bagian dalam.

“Selamat malam. Maaf mengganggu waktu istirahat Anda. Kami menemukan buku ini di sekitar penemuan jenazah ibu Anda. Mungkin, Anda berkenan melihat apakah benar atau tidak, benda ini milik ibu Anda,” ucap salah seorang di antaranya sembari menyodorkan buku yang cukup tebal.

“Selamat malam. Baik, saya terima, namun jika buku ini memang bukan milik saya ataupun ibu, akan saya kembalikan esok pagi ke pos penjagaan barang,” sahutku seraya mengulum senyum pada kedua orang yang tampaknya adalah bagian dari petugas.

Hari semakin larut. Terpal yang menjadi tempat kami berlindung melambai-lambai oleh angin yang menggelontor ke dalam. Kurasakan titik-titik tempiasnya mulai menerpa wajahku. Kulihat semua orang yang berada dalam tenda yang sama denganku tampak terlelap sejak lama mengerami mimpi-mimpinya. Kubuka lembar pertama buku yang petugas itu temukan di antara puing-puing bangunan yang telah menghitam menjadi arang. Buku harian? Sepertinya memang benar buku ini adalah milik ibu. Kepalaku menyimpulkan asumsi dengan berbekal foto ibu, ayah dan diriku kala itu tertempel rapi di lembar pertama buku harian merah yang kini telah lusuh dan sedikit gosong layaknya kertas yang terbakar. Cukup aneh memang, bagaimana bisa buku harian itu tetap utuh di antara puing-puing yang lenyap tertelan si jago merah. Walau masih ada beberapa bagian buku yang sedikit terbakar, isi buku itu masih tampak baik. Hampir mustahil rasanya. Mengingat, buku yang tak sekeras batu bata untuk menahan diri dari panasnya api kebakaran.

***

Kubuka lembar kedua dengan hati berdebar.

Pijar Mentari

9 September 2022

Pijar mentari merekah dengan indahnya, terlukis pada paras bayi mungil yang akan aku beri nama Lestari. Sinarnya yang telah diriku impikan telah datang. Lestari, dia datang di tanggal dan bulan yang cantik. Kelahirannya adalah kado terindah yang pernah aku dapatkan. Semoga putri mungil ini akan dapat melanjutkan cita-citaku. Memperbaiki kembali alam yang telah rusak di tangan generasi lampau yang tak bertanggung jawab, melestarikan lingkungan sesuai namanya, Lestari.

Tak salah lagi, itu pasti diriku. Betapa Ibu berbahagia menyambut kelahiranku. Bahkan pencatatan kelahiranku pun, tak luput dari goresan tangan ibu. Namun, aku sadar betul kebahagiaannya tidak sesempurna kelihatannya. Tiba-tiba mataku begitu perih dan panas. Sesuatu mendesak untuk keluar oleh rasa haru yang menggeliat. Terima kasih, Bu, sebab begitu berbahagia menyambut kehadiranku di dunia. Aku pasti penyebab segala kepayahan ibu dalam beraktivitas, juga segala kesakitan ibu dalam setiap lelap. Walaupun begitu, ibu tetap berbahagia karena ada aku yang menetapi rahimmu. Rupanya, ibu menaruh harapan yang besar akan diriku. Namun bagaimana aku mewujudkannya jika dirimu telah meninggalkanku.

***

Hatiku terus menerka apa yang ada di balik lembar kedua. Rasa penasaran itu berhasil menuntunku sampai di lembar selanjutnya.

Bentang Alam

10 Juli 2027

Hujan. Musim kemarau nyatanya tak konsisten seperti dahulu. Lihat saja akibat perubahan iklim yang membabi buta, kini bulan Juli yang harusnya musim kemarau masih saja sering disambangi hujan. Putri kecilku yang ingin sekali melihat indahnya alam pun, harus duduk diam di kamarnya. Malang sekali nasibnya, sekedar ingin melihat langsung binatang kesukaannya pun, sudah tak bisa. Manusia-manusia tak bertanggung jawab telah menghilangkan eksistensi mereka. 

Aku semakin tenggelam pada rangkai aksara Ibu. Buku harian merah itu kian memesona, meski lembar demi lembarnya lusuh oleh lipatan-lipatan dan sentuhan jemari ibu, meski beberapa lembarnya tersobek dari jahitan bukunya dan tak sedikit yang hilang sebagian lembar akibat kebakaran itu. Aku memutuskan untuk melanjutkan menelusuri buku harian itu  lebih lama dan melumat habis isi hati ibu sekaligus keadaan kala itu yang dicurahkannya ke dalam buku. Aku sadar betul, perasaan ibu yang mengekspresikan keprihatinannya di masa itu. Saat generasi baru sudah tak dapat menikmati pemandangan seindah dulu. Generasi baru yang sudah tak dapat berjumpa langsung dengan satwa kesukaannya yang hanya dapat dilihat lewat buku ataupun media elektronik yang semakin canggih.

***

Tangan kananku mengalun pelan membalik lembar selanjutnya.

Sketsa Kehidupan

9 September 2031

Duhai, sudah 9 tahun usiamu. Tak terasa waktu bergulir begitu cepatnya. Mungkinkah, sekarang waktunya aku membekalimu agar jalanmu memperbaiki alam yang akan menjadi kewajibanmu nanti untuk menjaganya dimulai esok hari? Ataukah keputusanku ini sedikit terlalu dini untukmu, putriku? Namun, Ibu hanya ingin kau meneruskan cita-citaku untuk melihat alam indah yang dahulu pernah singgah pada masanya.

Aku bahkan merasakan kesedihan macam apa yang tengah merundung ibu. Kegelisahan yang tampak nyata tertuang lewat rangkaian frasa saat ibu merindukan alam yang asri pada masanya. Memang, saat ini tak ada pemandangan yang seindah dahulu. Tak ada kualitas air sebersih dahulu dan tak ada udara yang sesegar dahulu. Kali ini aku benar-benar merasakan kerinduan yang sama dengan ibu. Perlahan kubuka lembar berikutnya dengan isak yang tersekat di kerongkongan, tetap saja kujejaki huruf demi hurufnya. Kendati sesak, tetap kujejali ia hingga rasa sesak itu mulai sesak menyesaki dadaku layaknya polusi yang merambah di udara.

                                                   ***

Jemariku terus meraih lembar-lembar selanjutnya, mataku terus mengitari tulisan-tulisan yang mampu membuatku semakin larut dalam lamunan.

Tuntutan

16 April 2039

Aku menghampiri setiap tapak yang pernah diriku lalui. Penolakan serta makian terlontar nyata dari mulut para tetangga. Aku tak habis pikir, mengapa mereka tak memiliki pemikiran yang sama dengan diriku. Apakah mereka tak sesak dengan keadaan alam yang semakin krisis ini? Apakah sedikit saja perubahan tak dapat mereka lakukan demi alam yang telah memberi banyak hal pada mereka? Semua pohon mereka tebas, peringatan dariku hanya mereka anggap sampah. Sesulit itukah menyadarkan manusia zaman sekarang.

Mataku mengerjap-ngerjap, berusaha menyingkirkan selaput yang tersisa akibat air mata yang membanjiri pelupuknya sedari tadi. Sudah sejak lama aku menekuri setiap goresan pena ibu. Mataku belum ingin mengalihkan pandangan dari buku harian yang usianya jelas lebih tua dari usiaku. Tak dapat kubayangkan perjuangan ibu yang merupakan aktivis lingkungan dalam membuat sejengkal perubahan pada warga sekitar. Aku mengingat dengan begitu jelas, ibu bukanlah wanita yang bisa diremehkan begitu saja untuk kemampuannya dalam mengajak seseorang melakukan perubahan. Perubahan nyata yang berhasil ibu berikan untuk warga sekitar nyatanya tak semudah yang aku bayangkan.

Aku mulai takut, akankah diriku dapat mempertahankan apa yang selama ini Ibu perjuangkan. Apalagi dengan keadaan alam sekarang ini yang mulai menumpahkan amarahnya yang telah sekian lama dipendamnya. Bumi yang mulai menua, mungkin tak sekuat benteng pertahanan saat dahulu belum banyak tingkah manusia yang merugikan. Pelaku yang membuang sampah sembarangan ada di mana-mana, asap kendaraan dan rokok yang membuat atmosfer semakin menipis, serta penggundulan pohon secara keseluruhan yang tak dapat lagi menahan air bah yang dapat menyebabkan banjir.

Sungguh beruntung sekali manusia yang hidup pada masa dahulu. Di mana flora dan fauna yang masih lengkap terjaga habitatnya. Keadaan alam yang masih asri memesona. Tak dapat kulukiskan kehidupan masa ini yang jauh dari kata indah. Polusi di mana-mana. Untuk sekedar menghirup udara segar atau meminum air bersih pun, sulit. Biaya hidup semakin tinggi. Namun, pekerjaan telah banyak diambil alih oleh para robot canggih yang lebih menarik. Benar-benar suatu kemunduran nyata yang terjadi sekarang ini. Namun, banyak yang masih tidak menyadari hal ini.

Ibu, sungguh besar hatimu. Pantaskah aku untuk menirumu? Kulipatkan kakiku hingga menyentuh dada, tanganku melingkari lutut dengan penuh. Kepalaku bahkan tak memiliki kuasa untuk menolak menyentuhkan dahi di antara dua lututku. Aku enggan membayangkan perasaan Ibu saat itu. Keengganan juga merambati keinginan untuk melanjutkan bacaanku. Namun, tetap kubuka lembar selanjutnya dengan penuh kerisauan yang menggelayut.

***

Keengganan yang sempat melintasi relung hatiku, tak serta-merta menghentikan diriku untuk terus larut dalam buku harian bersampul merah itu.

Semesta Berkisah

8 September 2043

Esok hari genap 21 tahun usiamu. Mungkin, jiwamu sudah ingin merasakan udara segar yang bebas. Sejak dini aku selalu mengajak dirimu menuju perubahan masa yang terkurung kabut kegelapan hingga membutakan mata mereka dalam mengambil tindakan. Aku takut tak dapat menjawabmu–mengapa tidak memberikan kesempatan bagimu untuk turut berjuang bersamaku mengakhiri masa gelap yang terlintas dalam benak dan terlukis dalam cita, serta meniti bersama benang merah kehidupan. Aku tak tahu, kapan akan terjadi dan kapan semua akan disudahi. Cepat atau lambat, tindakan manusia harus mendapatkan balasannya. Biar semesta yang berkisah.

Pilu. Begitu kerasnya ibu mengajak manusia berubah. Namun, sikap manusia sudah terlewat batas. Dan kini, aku menjadi saksi, amarah yang dimuntahkan oleh alam dalam semalam. Menguak luka mendalam yang selama ini dirasakan. Bagaimana mungkin, ibu masih tetap bersemangat mengajak mereka yang mustahil dapat berubah. Keniscayaan yang dihadapinya setiap detik telah menistakan setiap usaha yang digigihkannya seorang diri. Aku mulai menafikan keteguhan yang kusaksikan selama ini. Bahkan, alam pun tahu bagaimana ia harus membalas.

Satu hal yang kusayangkan. Mengapa ibu turut menjadi korban keganasan alam. Padahal, sejak awal ibu telah memperingatkan. Dengan kepergiannya, aku sadar bahwa separuh jiwaku telah sirna. Pijar mentari mulai redup, kegelisahan hati pun kian bertambah. Namun justru sia-sia perjuangannya selama ini jika aku berhenti saat ini. Akan ada jiwa-jiwa lain yang tak bersalah di kemudian hari menjadi korban seperti ibu. Aku tak ingin hal itu terjadi. Cukup diriku yang kehilangan sesosok ibu sekaligus penyelamat lingkungan yang gugur dalam tugasnya. Kini, biar kulanjutkan misi ibu, berusaha sekuat tenaga membawa perubahan manusia dalam memperlakukan alam. Menunjukkan jati diriku yang termaktub dalam nama indah yang ibu pilihkan untukku, Lestari.

***

Masa berkabung harus segera kuakhiri. Aku tak mau terus larut dalam ratap kesedihan yang tentunya tak dapat membantuku mengubah keadaan alam. Hari ini adalah awal bagiku untuk memulai langkah kecil dalam mengurangi krisis iklim di masa sekarang ini. Mungkin aku tak dapat melakukan perubahan secara global, tapi aku harap langkah yang akan aku jalankan dapat menyadarkan manusia-manusia dari tindakan yang dapat merusak alam. Aku tak ingin kejadian yang sama terulang kembali. Sudah cukup bencana yang menyebabkan banyak anak terpisah dari orang tuanya. Perubahan iklim ini harus segera diatasi agar dampak tersebut tidak menjadi semakin parah dan bisa mengacaukan aktivitas dari manusia.

“Selamat pagi, Mbak Lestari…” sapa Bu Sandra yang sedang membereskan barang-barangnya di tengah kerusuhan orang-orang yang juga sedang bersiap untuk pindah ke rumah baru mereka.

“Selamat pagi, Bu. Mau pindah hari ini ya, Bu?” sahutku sembari menoleh ke arahnya.

“Iya, Mbak Lestari. Mbak, sebenarnya saya mau menyampaikan sesuatu, tapi sedikit tidak enak hati. Bu Rani ada?” tuturnya mencari ibu.

“Maaf, sepertinya Bu Sandra belum mendengar kabar mengenai ibu yang menjadi salah satu korban dalam bencana kebakaran dua hari lalu,” jawabku pelan.

“Hah? Benarkah?” ujarnya terperanjat kaget.

“Benar, Bu.”

“Padahal saya belum sempat meminta maaf padanya. Sungguh menyesal karena diriku tak pernah menghiraukan peringatan dari Bu Rani. Bukannya bersama-sama dengan beliau berjuang mengakhiri krisis iklim ini, malah melayangkan kata-kata buruk yang menyakitkan hati,” ungkap Bu Sandra seraya menitikkan air mata penyesalan.

“Iya, tidak apa-apa, Bu. Maafkan segala kesalahan ibu saya ya, dan insyaallah ibu saya juga sudah memaafkan Bu Sandra.”

“Iya, Mbak. Oh ya, jika ada hal yang dapat saya lakukan untuk membantu Mbak Lestari dalam melanjutkan misi Bu Rani, jangan sungkan menghubungi saya, ya.”

“Tentu saja, terima kasih, Bu.”

Senyum yang telukis di wajahku pagi ini semakin menambah keyakinanku untuk melanjutkan langkahku. Melihat hamparan lahan gosong bekas kebakaran dua hari lalu membuatku terpikir untuk mengumpulkan dukungan para warga untuk turut berpartisipasi dalam melakukan penanaman hutan dalam skala besar. Mungkin aku tak sanggup membayar biaya bibit pohon untuk ditanam di hutan. Akhirnya, aku berpikir untuk melakukan penanaman bermacam-macam tumbuhan di sepanjang jalan kota dan di halaman rumah warga. Selain berperan dalam mengatasi perubahan iklim meskipun hanya sedikit, halaman yang rindang akan menciptakan suasana sejuk dan teduh bagi lingkungan tempat tinggal kita.

Segera aku menghubungi Tante Ema dan beberapa kolega ibu yang aku kenal. Aku meminta dukungan mereka semua untuk membantuku melanjutkan misi ibu. Sesuai hari yang telah ditentukan, kami semua berjumpa. Membahas tuntas serta menyiapkan peralatan yang dibutuhkan. Tentunya dalam forum itu terdapat pro dan kontra dalam menentukkan lahan, serta persetujuan dari tuan rumah. Namun, berkat kerja sama dan semangat menuju perubahan, akhirnya agenda penanaman pohon di metropolitan tempat kami tinggal selesai direncanakan.

Satu demi satu pohon berhasil kami tancapkan di bumi, dengan harapan agar metropolitan kembali hijau dan dapat mengurangi krisis iklim di dunia yang kita tinggali. kami pasti akan terus menyuarakan perubahan agar bumi tak semakin krisis. Mungkin, akan ada banyak program lingkungan yang akan kami jalankan ke depannya. Menatap hamparan hutan yang mulai hijau kembali dan pepohonan di sepanjang jalan yang ibu impikan membuatku larut dalam rasa haru yang menggeliat. Ibu, putrimu ini sudah berhasil mewujudkan separuh mimpimu. Andai saja engkau masih berdiri di sampingku, menggenggam erat jemariku, pasti akan bertambah-tambah kebahagiaanku. Kini kuputuskan untuk meneruskan buku harian merah ibu,  merangkum serpihan kisah perjalanan dalam mengubah alam agar dapat menjadi inspirasi yang abadi lewat goresan pena yang tertuang dalam buku harian semesta. *)

30 thoughts on “Cerpen #142; “Buku Harian Semesta”

  1. Barang siapa menyayangi alam maka dia akan disayangi alam…
    Alam semesta diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk manusia dan harus dipelihara oleh khalifah fil ardhi yaitu manusia itu sendiri supaya keberlangsungan hidup lebih terjaga semoga Allah meridhoi

  2. Untuk membuat minuman atau makanan yang nikmat diperlukan ketersediaan bahan dan ramuan yang tepat. Untuk menyusun sebuah cerpen yang baik diperlukan referensi yang tepat mengenai teknik penulisan sesuai dengan ketentuan yang ada.
    Membaca cerpenmu terlihatlah bahwa referensi itu telah menyertaimu. 👍🙏

  3. Cerpen yg sungguh alur penulisannya cukup runtut, penuh makna dan pembelajaran bagi kita para pembaca agar semakin peduli dgn lingkungan

  4. Sangat inspiratif. Cerpen jni tidak hanya memiliki pesan moral yang sangat dalam, tapi juga rangkaian kata yang sangat puitis. Salut untuk karya ini. Membaca paragraf demi paragraf cerpen ini aku dimana dengan diksi yang mempesona.

  5. Sangat inspiratif. Cerpen ini tidak hanya memiliki pesan moral yang sangat dalam, tapi juga rangkaian kata yang sangat puitis. Salut untuk karya ini. Membaca paragraf demi paragraf cerpen ini aku dimanja dengan diksi yang mempesona.

  6. Membacanya membuatku meneteskan air mata oleh rasa haru dan sedih yang tiba-tiba saja timbul saat menekuri tulisan ini.

    Saya harap, kita semua bisa menyelamatkan bumi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *