Cerpen #140; “Anderna, Anderlit, dan Teori Reinkarnasi Bumi”

Tahun 2133.

Aku dikejutkan dengan kedatangan pria yang terus menggedor pintu sambil berulang kali menyebut namaku. “Himalaya … apa kau ada di dalam sana? Buka pintunya, Himalaya!” teriak pria itu. Suaranya terdengar tidak asing bagiku, membuat dadaku seketika bergemuruh. Aku yang saat ini berdiri di atas kursi dengan leher terikat tali lantas tertegun. Sejenak aktivitas gantung diriku spontan terhenti, padahal hanya tinggal menendang kursi ini jatuh, aku akan tercekik sampai mati sedikit lagi.

Mungkin, memang belum waktunya aku pergi ….

Atau lebih tepatnya, caraku mati bukan dengan gantung diri, tapi dengan hal lain ….

Kontan, kuhela napasku panjang, bergegas melepaskan tali yang mengelilingi leher jenjangku, melompat turun dari kursi, dan berjalan ke arah pintu dengan langkah tergesa-gesa. “Aku di sini,” sahutku sambil membuka lebar pintu itu.

Tatapanku dan pria itu kemudian bertemu. Mata cokelatnya berhasil mengunci rapat mataku. Kepedihan, sesak, rasa sakit, dan pupusnya harapan yang sempat menggambarkan betapa menyedihkannya aku saat kehilangannya seketika sirna. Demi Tuhan, pria yang selama ini kunantikan kini sedang berada di hadapanku. Lama kami terdiam. Wajahnya yang selalu kurindukan tertutup di balik masker respirator yang ia kenakan. Andai dunia baik-baik saja, aku tak segan melepas maskernya, menatap penuh puas wajahnya yang begitu mendamba.

Aku sungguh tidak menyangka, ternyata aku masih diberi kesempatan untuk bertemu dengannya setelah tiga tahun dipisahkan. Bulir air mata kian mengalir di kedua pipiku lantaran terharu. Lihatlah, dia rupanya baik-baik saja dan masih tampak gagah tanpa kekurangan satu apa pun. “Kau kembali, Drian.” Aku bergegas menghambur ke kepelukannya, menangis sejadi-jadinya. Dia benar-benar masih hidup setelah insiden ledakan di kawasan Anderlit III. “B-b-ba-ba-bagaimana … bisa?” tanyaku terbata.

“Setahun yang lalu aku memang sempat ditahan pasukan Girgiona seperti yang diberitakan oleh media, tapi untungnya aku bisa mengelabui mereka,” jawab Drian sambil mengelus puncak kepalaku. “Sebelum ledakan itu terjadi, aku berhasil melarikan diri, Himalaya.”

Aku memeluk Drian semakin erat, seolah takut jika kehadirannya hanyalah khayalan dan aku kembali berakhir kesepian. Aku memejamkan mata, mengingat setiap kejadian dan rasa sakit yang pernah aku rasakan. Dunia ini semakin mengerikan semenjak munculnya pasukan Girgiona, yaitu golongan pemberontak di bawah pimpinan Prof. Biliu Yamanasa. Pasukan Girgiona mulanya terbentuk karena Prof. Biliu diusir secara tidak hormat dari kawasan Anderlit. Pengusiran itu terjadi disebabkan kaum Anderlit menganggapnya tak mampu memberikan solusi terbaik untuk memulihkan kondisi bumi, hingga akhirnya karena tidak terima, Prof. Biliu memilih balas dendam dengan cara melakukan serangan dan mengajak kaum Anderna—kaumku—untuk bekerja sama menghancurkan seluruh kawasan Anderlit, dimulai dari kawasan Anderlit I, II, dan III.

Apabila ditarik benang merahnya, sebenarnya kekacauan yang terjadi bermula dari keadaan bumi yang semakin sakit karena ulah manusia, lalu terbentuklah dua kubu di negeri ini. Kubu pertama dikenal sebagai kaum Anderlit, berisi para orang kaya beserta orang-orang penting dalam pemerintahan yang hidup terjamin di kawasan Anderlit, sedangkan satunya adalah kaumku, Anderna, yaitu rakyat sipil buangan yang dianggap tak berguna, jadi dibiarkan sengsara dan mati kelaparan di tengah bumi sekarat. Kaum Anderlit hidup berkecukupan di dalam kawasan Anderlit, sangat jauh berbeda dengan kondisi yang dirasakan oleh kaum Anderna.

Dalam kawasan Anderlit, kaum Anderlit membentuk kehidupan yang mereka ciptakan sendiri karena dapat memanfaatkan teknologi. Di sana peternakan dan pertanian terus berkembang. Mereka selayaknya menjalani hidup normal. Di dalam sana bahkan terdapat gedung sekolah, restoran, bioskop  … ah, fasilitas itu sungguh membuat kaum Anderna menelan ludah. Rasa dengki dan iri hati itulah yang mungkin menyebabkan beberapa kaum Anderna akhirnya mau bekerja sama dengan Prof. Biliu, bergabung dengan pasukan Girgiona, demi sebuah keadilan. Mereka berprinsip, “Jika kaum Anderna selama ini hidup di atas penderitaan, maka kaum Anderlit juga harus merasakannya.”

Tidak mudah bagi pasukan Girgiona untuk bisa membobol kawasan Anderlit. Kawasan itu dilindungi oleh dinding yang kuat dan kokoh. Bahkan, untuk menjaga kawasan Anderlit dari hal-hal buruk yang mungkin saja terjadi, seseorang harus memiliki akses untuk dapat masuk ke dalam sana, bertujuan agar tidak sembarang orang bisa berkeliaran dan menjadi penyusup dengan bebas. Kaum Anderlit ditanamkan chip di dalam tubuh mereka sebagai penanda jika mereka adalah bagian dari anggota, sehingga apabila ada orang asing yang masuk tanpa persetujuan, sudah pasti akan ketahuan.

Aku mengetahui bahwa kawasan Anderlit bisa secanggih itu karena aku sendiri memang pernah melihatnya. Aku sempat dipaksa bekerja menjadi seorang pelayan restoran di kawasan Anderlit II dan dipasangkan chip untuk bisa masuk ke sana, tapi aku berakhir dipecat karena pekerjaanku katanya tidak maksimal. “Enyahlah kau! Membusuklah bersama kaummu, Sialan!” hardik salah satu dari kaum Anderlit yang bertugas melemparku keluar dari kawasan Anderlit pada saat itu.

Aku lantas mendengus keras mengingatnya. Bagaimana mungkin aku mau bekerja setulus hati di sana? Kaum Anderna seperti kami tidak pernah diperlakukan dengan baik. Untuk membayar hasil kerja kaum Anderna, kami hanya diberi sedikit upah makan, itu pun dari hasil makanan sisa mereka. Kaum Anderlit belum saja merasakan seperti apa penderitaan kami di tengah krisis melanda. Suhu di bumi beberapa tahun terakhir semakin panas, membuat kulit rasanya terbakar. Hujan bahkan begitu enggan membasahi bumi akhir-akhir ini. Tidak ada lagi tumbuhan hijau yang menyejukkan, melainkan tanah tandus yang menyesakkan. Kebanyakan hewan mati terpanggang lantaran adanya kebakaran hutan besar-besaran. Polusi dari kebakaran hutan dan lahan yang tak berkesudahan menyebabkan kami mau tak mau selalu memakai masker respirator demi melindungi pernapasan. Ditambah tahun 2133 sekarang ini, pasokan air bersih mulai jarang didapati, terlebih banyak penyakit baru yang datang, membuat para kaum Anderna perlahan-lahan lenyap karena tak mampu bertahan. Seleksi alam yang begitu pahit untuk dilewati, bukan?

Drian sebenarnya sama sepertiku. Ia mulanya dari kaum Anderna, tetapi karena kepintarannya, Drian diletakkan di kawasan Anderlit III dan diajak bergabung bersama organisasi Marselit, yaitu sebuah organisasi yang didirikan langsung oleh kaum Anderlit. Organisasi Marselit dibentuk sebagai upaya menyelamatkan para kaum Anderlit. Hal ini dilakukan karena lapisan es di Kutub Utara dan Selatan akibat adanya pemanasan global terus-menerus mencair, menyebabkan naiknya seluruh permukaan air laut, sehingga diperkirakan beberapa tahun lagi dapat merendamkan kawasan Anderlit, baik Anderlit I, II, maupun III, membuat organisasi Marselit berusaha memberangkatkan para kaum Anderlit ke planet mars untuk menetap di sana sebagai tempat tinggal.

Mengetahui hal itu, rencana yang telah Prof. Biliu susun dengan matang, memberanikannya mengarahkan pasukan Girgiona untuk menggagalkan keberangkatan kaum Anderlit ke planet mars. Singkatnya, dengan upaya yang gigih, pasukan Girgiona akhirnya berhasil masuk ke dalam kawasan Anderlit. Mereka memberontak secara membabi buta dan mampu menghancurkan kawasan Anderlit I, II, dan III hingga sampai rata oleh tanah. Pasukan Girgiona mampu meledakkan kawasan tersebut dengan bom hasil racikan oleh Prof. Biliu Yamanasa itu sendiri. Untunglah Drian bisa selamat ketika pasukan Girgiona menyerang kawasan Anderlit secara brutal pada waktu itu.

Sehabis melenyapkan kawasan Anderlit seperti yang telah direncanakan, aksi Prof. Biliu tidak berhenti begitu saja. Ia kemudian mencetuskan teori miliknya dan disetujui oleh pasukan Girgiona. Teori itu akhirnya ia namakan dengan teori “Reinkarnasi Bumi”.

“Mari bergegas pergi, Himalaya. Pasukan Girgiona akan segera datang,” bujuk Drian, membuat lamunanku seketika buyar. Kulihat Drian menatapku dengan sorot mata berkaca-kaca, begitu berharap agar aku bisa ikut pergi bersamanya. Aku lantas menolak tawarannya dengan cepat dan tanpa pikir panjang. “Aku … aku tidak bisa, Drian. Ini tanah kelahiranku. Biarkan saja aku berakhir mati di sini.”

“Cobalah untuk mengerti, Himalaya,” balas Drian, terus membujukku. “Pasukan Girgiona akan meledakkan tempat ini. Aku tak akan membiarkanmu mati dengan tragis.”

“Kita semua ujungnya juga bakal mati, Drian!” terangku putus asa. “Kau tidak lihat dunia sudah hancur begini? Tidak ada lagi harapan untuk saat ini! Teori ‘Reinkarnasi Bumi’ dari Prof. Biliu mungkin saja benar. Kita ini adalah hama bumi dan sepatutnya hama memang lebih baik dihabisi!!!”

“Kau percaya dengan teori murahan itu, Himalaya? Daripada aku … kekasihmu?”

Seketika, aku bisa merasakan bahwa atmosfer semakin jauh lebih panas. “Memang apa salahnya jika aku percaya dengan apa yang aku yakini ….” Aku membuang muka.

Ya, aku sungguh memercayai teori “Reinkarnasi Bumi” dari Prof. Biliu Yamanasa. Manusia adalah perusak bumi, menjelma sebagai hama bumi. Bisanya hanya merugikan bumi karena keserakahan yang tak pernah berhenti. Bumi terlalu baik jika terus menampung banyak parasit. Bumi yang kini semakin sakit haruslah diobati. Parasit-parasit ini harus segera ditangani agar bumi lekas pulih. Perlahan demi perlahan, bumi akan berangsur pulih jika tidak ada lagi parasit yang menggerogoti. Selayaknya luka pada manusia, dia akan segera pulih meski ada bekas yang mengiringi, begitu juga dengan bumi, bahkan jauh lebih baik. Bumi akan memulihkan dirinya sendiri, kembali dipenuhi rerumputan hijau dengan macam hewan yang mengelilingi. Bumi akan seperti terlahir kembali.

“Bom bunuh diri yang dibawa oleh pasukan Girgiona lebih baik segera datang, biar semuanya cepat diakhiri. Biarkan saja semua mati, biarkan semua pergi agar bumi tak lagi tersiksa dengan hama-hama sialan seperti kita ini. Lagi pula, aku seharusnya sudah mati gantung diri jika saja kau tidak ke sini.”

Drian terlihat mengacak rambutnya, benar-benar frustasi setelah mendengar ucapan yang keluar begitu saja dari mulutku. “Kenapa sikapmu jadi seperti ini, Himalaya? Apa kau sungguh menyebut dirimu hama?” desak Drian.

Aku terdiam, berakhir menundukkan kepala.

“Dengarkan aku, Himalaya,” ucap Drian sambil mengguncang bahuku. “Kita bukan hama seperti teori abal-abal itu katakan. Hama yang dimaksud hanyalah oknum sialan yang merugikan bumi kita. Justru aku dan kau yang akan berjuang untuk memperbaiki kerusakan bumi, paham? Bumi butuh orang-orang seperti kita.”

Aku membalas dengan bibir bergetar, “T-t-ta-tap-tap-i-tapi … bukankah … ini sudah terlambat?”

“Kau sungguh keliru kalau begitu, Himalaya,” terang Drian. Pria itu lalu mengeluarkan sebuah benda di saku celananya. “Apa kau pikir setelah aku berhasil kabur dari pasukan Girgiona setahun yang lalu aku lantas trauma? Justru aku terus maju dan waktuku kuhabiskan untuk menyelesaikan ini.”

“Jam tangan?” tanyaku tak habis pikir saat Drian memperlihatkan benda itu.

Drian tersenyum bangga. “Ini lebih dari sekedar jam tangan. Ini mesin waktu, Himalaya.”

Aku menelan ludah.

“Ayo, kita kembali ke masa lalu dan memperbaiki kerusakan yang telah terjadi.”

Aku menatap mata Drian seakan tak percaya, tapi tatapannya sama sekali tidak menyiratkan kebohongan. Matanya seolah mengatakan bahwa semuanya memang belum berakhir, masih ada harapan baru yang begitu cerah seperti halnya pelangi di sore hari.

Kini aku tahu langkah apa yang semestinya harus kuambil untuk saat ini.

Aku menarik napasku dalam-dalam.

Namaku Himalaya, seorang perempuan berusia 23 tahun yang sempat ingin mengakhiri hidupnya dengan gantung diri, tapi semesta rupanya berkehendak lain. Aku justru dipertemukan kembali dengan Drian, kekasihku, yang mampu mengubah pandanganku mengenai bumi, mengajakku bangkit. Aku rasanya begitu termotivasi. Barangkali perjuanganku di tahun lampau akan berlangsung lama, tapi aku yakin akan bisa melewatinya bersama orang-orang yang juga peduli akan keselamatan dunia.

“Ayo,” ujarku pada akhirnya.

Selesai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *