Cerpen #138; “Monolog Semesta Renta”

Pancaran lembayung senja menyala, memberi warna pada bekas air hujan yang deras sore tadi. Bunga yang biasanya disiram, enggan untuk kudekati sebab sudah mandi sebelum waktunya. Gemerisik dedaunan terdengar lirih, menandakan sudah waktunya istirahat sebab letih digelitik angin kencang meliuk-liuk. Bapak sudah menghabiskan teh manis dan beberapa potong goreng pisang yang disuguhkan ibu. Aku memilih masuk ke dalam rumah untuk mengambil wudhu shalat magrhib yang selalu diimami bapak.

Cengkrama malam ini membahas seputar bagaimana kehidupan kota jaman dulu sangat berbeda dengan sekarang. Bapak bilang biasanya hujan sangat mudah diprediksi, sekarang selalu tak menentu. Begitu juga debu sudah melebihi nilai ambang batas, yang mana ditetapkan sebelumnya dalam peraturan menteri tenaga kerja nomor 13 tahun 2011 tentang nilai ambang batas fisik dan faktor kimia di lingkungan kerja, nilai ambang batas debu di lingkungan kerja adalah 2 mg/m³. Menurut data penelitian di kota ini debu sudah mencapai 2,7 mg/m³, dampaknya secara tidak langsung bisa dirasakan. Ketika kita keluar rumah tanpa pakaian yang tertutup sangat mudah kulit menjadi kusam, rambut berminyak, apalagi wajah  bisa acak-acakan. Beruntungnya bapak dan ibu sudah pensiun, jadi tidak perlu keluar rumah sesering dulu. Malam semakin larut aku pamit duluan tidur, bapak dan ibu masih melanjutkan percakapan seputar perubahan iklim dan kondisi generasi masa depan yang cukup menakutkan.

Minggu pagi telah tiba seperti biasa, bapak selalu mewajibkan kami untuk berolahraga 30 menit di halaman rumah. Dulu waktu aku kecil kami selalu berlari-lari kecil mengelilingi alun-alun kota, setelah itu makan bubur ayam mang paijo dan lanjut beraktivitas sebagaimana biasanya. Sungguh kehidupan yang menyenangkan sekali tanpa desas desus badai iklim seperti sekarang. Bagaimana tidak, air yang kami gunakan sehari-hari bukan lagi air yang bersih seperti dulu. Aku dan Ibu selalu terkena penyakit kulit aneh yang hanya reda jika diberi krim resep dokter. Kembali ke topik cerita , minggu pagi kali ini kami hanya senam di depan rumah. Bapak sibuk dengan gadgetnya membaca berita terbaru. Ibu melanjutkaan merawat tanaman hidroponik yang ajaib sekali mau tumbuh di lingkungan yang serba tercemar ini.

Salah satu topik pembicaraan bapak dan ibu yang lumayan bergentayangan di pikiranku adalah wacana kepindahan kami ke kampung bapak di Sumatera. Aku degdegan karena berbagai macam pikiran, apakah nanti aku akan mudah dalam menempuh pendidikanku yaitu SMA kelas 2, jika pindah rencananya saat naik kelas tiga. Arti nya dalam waktu dekat ini, saat ini aku sudah semester 2. Di kota ini yang membuatku nyaman adalah akses toko buku, mall, tempat menenagkan jiwa saat membaca selain rumah, yaitu coffee shop yang sangat banyak lumayan dekat. Eksplorasi bakat juga gampang, pokoknya aku sudah merasa lekat dengan kehidupan kota. Selain itu apakah nanti kondisi tubuhku menyanggupi terpaan iklim desa yang konon kata bapak suhu rata-rata disana 25-27 º C. Tentunya lumayan mengejutkan karena disini biasanya 32ºC. Tidak hanya itu teman-teman juga memiliki pengaruh yang kuat untuk meniti masa depan. Berbagai macam pertanyaan tanpa jawaban berkecamuk di pikiran mengantar mata untuk tidur siang.

“Ayuuu, ayok nak makan siang, sayur asem kesukaan kamu sudah jadi nih, ikan gurame bakarnya juga”, teriak ibu dari ruang makan.

“Siap boss, ini ayu mau kesana”, sahutku sambil bnerjalan menuju meja makan. Padahal hampir tertidur.

Bapak sudah siaga disana memakai celana pendek dan kaos oblong, bekas wudhu masih membasahi anak rambut beliau.

Sungguh nikmat, suguhan ibu memang mengalahkan masakan rumah makan padang yang biasa kami kunjungi jika bosan makan di rumah.

“Pak, hari ini ayu ada tugas, disuruh guru mewawancarai narasumber terkait masalah perbedaan iklim 5 tahun ke belakang dengan iklim saat ini. Ayu bingung pak sebelumnya sudah baca-baca juga di buku mengenai isu tersebut”, keluhku pada bapak.

“ Ayuuu, ayuu belum juga dibaca semua sudah bingung. Terus kamu sudah tau mau mewawancarai siapa?”, tanya bapak.

“ Nahhh, itu dia pak, ayu ingat Pak Nofri teman bapak yang kerja di lingkungan hidup kota kita yang pernah kesini pak, apa bapak ada kontak beliau pak?”, tanyaku.

“ Oh Nofri ada bapak, tapi nanti bapak tanya dulu ya nak, apakah pak nofri ada waktu, mengingat beliau kan pegawai jadi hari liburnya ya paling hari minggu”, ujar bapak.

“ Oke pakk, tugas ayu pun dikumpul minggu depan, ini kan masih hari rabu pak” ucapku sembari merapikan meja makan.

“Yu, bantu ibu nak, mendaur ulang sampah jadi pupuk kompos ya. Sekalian nanti memanen sayur belakanng rumah”, ajak ibu.

“ Siap boss, ayu sangat senang kalau ibu udah ngajak ke kebun nih”, candaku sembari menutup toples kerupuk melinjo kegemaran bapak.

Kebun yang kumaksud adalah halaman belakang rumah yang telah disulap ibu menjadi kebun berbagai macam palawija, ada beberapa batang kacang panjang, pepaya california, cabe rawit, sawi hijau, jahe merah yang jadi salah satu bahan herbal penguat imun saat pandemi Covid19, terong ungu, cabe besar hijau, sisanya hidroponik kangkung yang bila dipanen bisa dijual karena kebanyakan jika dimakan sendiri. Sangat menyenangkan ketika tanaman yang kita lihat dulunya hanya berbentuk biji-bijian atau tanaman kecil sudah bisa dipanen bahkan mendatangkan uang.

“ Bu, kompos yang ibu buat dari sisa sampah dapur minggu lalu memangnya sudah habis bu?” tanyaku sembari memegang kacang panjang yang sepertinya beberapa hari lagi sudah bisa dipetik.

“ Sudah sayang, kemarin Bu Retno istrinya pak RT datang kesini melihat-lihat tanaman ibu. Usut punya usut beliau takut makan sayur yang dijual di pasar, katanya pestisidanya melebihi ambang batas yang ditentukan. Zat kimia berbahaya kan kalau sudah menumpuk di tubuh, apalagi beliau sudah divonis juga ada diabetes sama hipertensi. Takutnya nanti datang lagi penyakit lain jika diet tidak dijaga, nah komposnya beliau minta sekalian nanti belajar juga”, ucap ibu sambil mengaduk bahan-bahan pembuatan pupuk, dimana nanti akan ditimbun di dalam galian lubang berbentuk segi empat yang sudah disediakan bapak.

“ Itulah kan bu, ayu juga semakin takut belanja makanan di luar sana, untung ibu selalu menyiapkan bekal untuk ayu. Lagian ayu sangat sensitif bu, selain penyakit kulit yang kadang kambuh ini, lidah ayu juga gampang sekali menilai mana makanan yang kebanyakan penyedap, mana makanan yang cocok di tubuh ayu. Selain itu orang-orang apa tidak tau ya bu, soal bahan makanan seperti sayuran, buah-buahan, ikan, ayam saat ini sangat beracun jika tidak diolah dengan benar tentunya racun tersebut tidak bisa direduksi tubuh bu?” tanyaku.

“ Sebenarnya mereka sadar kok yu, cuma ya balik lagi. Kondisi di kota tidak semua orang punya lahan seperti kita, dan satu lagi orang ogah juga untuk terlalu waspada sama makanannya toh penyakit tidak menular yang datang saat ini kan tidak serta merta datang. Jadi mereka tidak begitu peduli, begitulah yang ada di pikiran mereka, khususnya teman arisan ibuk sih. Begitu pengakuan mereka selain sibuk satu lagi, gak ada waktu”, jawab ibu sambil menutup lubang pemeraman bahan pupuk tadi.

“ Parah juga ya bu, kalau begitu derajat kesehatan masyarakat indonesia bisa menurun kalau masyarakatnya sendiri tidak sadar. Makanan tidak sehat, lingkungan juga tidak sehat. Masa depan generasi bisa saja terancam karena banyak yang sakit”, ujarku sambil memetik cabe rawit untuk lalapan makan gorengan yang sering disuguhkan ibu sebagai cemilan.

“ Entahlah nak, melihat kondisi sekarang, yang bisa kita lakukan adalah semakin peduli dengan kesehatan keluarga. Terutama ibuk, ibuk adalah ibu rumah tangga, juru kunci dari kesehatan keluarga. Dan tentunya bagaimana masa depan kamu juga menjadi prioritas ibu. Sambil berkreasi mengatasi perubahan iklim yang tak menentu ini di kota yang telah 16 tahun kita tinggali ini”, pungkas ibu.

Menurut cerita ibu, beliau dan bapak sama sama berasal dari sumatera. Mereka merantau dan menjadi pegawai di pulau jawa ini. Hingga bertemu lalu menikah dan lahirlah aku Ayudia Maulana. Nama bapak yaitu Adi Maulana, dan Ibu bernama Anita Basri.Aku anak satu satunya, karena ibu menikah dengan bapak katanya sudah berumur 30-an jadi beliau agak lama mendapatkanku. Ibu juga trauma untuk melahirkan lagi, jadi aku sah menjadi anak tunggal di keluarga ini. Melihat silsilah keluarga ibu dan bapak, beliau masing-masing juga punya kerabat yang sedikit. Bapak punya 2 yaitu satu kakak perempuan satu adik perempuan, ibu punya satu adik perempuan. Hanya itu kerabat bapak dan ibu. Kakek dan nenek dari keduanya sudah meninggal sejak aku kecil umur 5 tahun. Begitulah sekilas tentang keluargaku.

—–

Hari yang kutunggu tiba, bapak jadi mengantarku ke kantor Pak Nofri teman beliau, guna waancara tugas. Menurut cerita bapak, Pak Nofri ini memang sangat menyukai hal-hal yang menyangkut isu lingkungan. Sesampainya disana beliau menyambut kami dengan ramah. Beliau menanyakan aku sekarang kelas berapa, mau menyambung kuliah dimana. Kemudian kujawab sesuai kondisi saat ini, aku juga belum tau kalau untuk melanjutkan kuliah masih ragu jurusan apa, dan kemungkinan kan kami akan pindah, bisa saja aku kuliah di universitas negeri yang ada di kampung bapak.

Sungguh sangat menarik perbincanganku dengan Pak Nofri mengenai iklim. Yang beliau kemukakan saat itu adalah pemanasan global, secara awamnya fenomena meningkatnya temperatur bumi secara konsisten salah satu faktornya adalah tingginya kandungan gas rumah kaca. Kondisi bumi semakin hari semakin panas, seperti sekarang panas matahari pun benar-benar membakar kulit kalau kita coba keluar rumah saat siang hari tanpa perlindungan pakaian lengan panjang, atau baju agak tipis semisalnya. Kulit bisa langsung belang. Nah rentetan kejadian ini tentu bukan hanya itu, negeri ini kekurangan air bersih maupun yang hanya untuk mandi, cuci, kakus. Kemudian produktivitas pertanian menjadi turun, hasil panen yang dulunya sangat bagus bahkan bisa diekspor keluar negeri dari segala jenis tanaman, sekarang negara luar menolak itu, sebab jika diperiksa ada tanaman yang mengandung zat kimia berlebihan, atau istilahnya melebihi nilai ambang batas yang sudah disahkan. Kejadian ini sangat menonjol terutama di Asia Tenggara. Selain itu fenomena gelombang panas, yang pernah pak Nofri pelajari, fenomena ini terjadi yaitu cuaca panas tidak normal berlangsung lebih dari dua hari, diperkirakan kenaikan temperatur bumi sebesar 2º C. Nah gelombang ini bahaya juga untuk kesehatan, terutama kelompok umur rentan seperti balita, ibu hamil, dan lansia.  Salah satu peristiwa gelombang panas yang paling terkenal adalah yang terjadi di Eropa pada tahun 2005 yang memakan korban sebanyak 70 ribu jiwa, kemudian India tahun 2013 memakan korban 2300 jiwa, tahun 2018 juga terjadi di Pakistan dan Australia. Dengan masing-masing temperatur 44ºC dan 46,6ºC.

Usut punya usut, yang paling penting dari kejadian ini adalah faktor penyebabnya. Mengingat berpuluh tahun silam kejadian hari ini sudah diprediksi. Jargon tanam seribu pohon bertebaran dimana-mana. Tapi apa yang terjadi? Prediksi menjadi realita. Bagaimana tidak, generasi Z dulunya terutama Indonesia sibuk dengan huru hara dunia. Tanpa tau dengan sengaja atau tidak kita telah merusak bumi. Mengambil hasil bumi tanpa menghiraukan dampak jangka panjang. Membuang sampah sembarangan sudah menjadi alasan klasik, sampah menumpuk di lautan, padahal negara kita 2/3 nya adalah wilayah perairan. Kehidupan masyarakat bahkan sumber pendapatan negara juga berasal dari laut. Penggunaan sampah plastik yang kemudian tidak bisa diuraikan, dikendalikan pun akhirnya hanya menumpuk di wilayah pengumpulan sampah tiap-tiap kota maupun daerah. Wilayah hijau berubah menjadi pemukiman padat penduduk, seiring dengan meningkatnya angka pertumbuhan penduduk. Yang paling berbahaya bukan hanya lingkungan, tapi penduduknya. Bobroknya moral generasi muda, pernikahan usia muda bertebaran sana sini. Tingginya angka pengangguran, sepertinya pendidikan formal sudah tidak lagi mampu membentuk karakter generasi muda. Dibalik itu meski harus kita akui juga masih ada juga manusia yang peduli dengan bumi ini. Namun yang merusak bumi lebih banyak dari yang menjaganya. Yang bisa kita lakukan adalah menggencarkan kegiatan peduli bumi dan generasi muda. Kejadian ini memakan rentang waktu, itulah alasan kenapa hingga hari yang berat ini pun manusia belum sadar, atau mungkin sadar namun malas untuk peduli. Sebab dampaknya berangsur bukan sekaligus.

Begitu luas penjelasan Pak Nofri padaku, banyak istilah baru yang belum pernah kudengar sebelumnya. Kami pun sekeluarga juga masih bisa dikatakan melakukan upaya menjaga bumi yang masih standar. Rentanya bumi sudah tidak tertolong, bahkan sudah tidak mau lagi berkompromi. Seperti sudah terlambat untuk peduli.

——

Setelah hari aku bertemu Pak Nofri, aku seperti diteror dan disadarkan sekaligus akan kompleksnya permasalahan negeri ini. Kita mengaku berbangsa yang satu, namun tidak bersatu peduli pada negeri ini. Sebenarnya pemerintah sudah berupaya dengan segala kemampuan untuk merawat negeri ini dari segala aspek. Namun tentunya akan terasa berat, jika segenap bangsa tidak menghiarukan hal itu. Bagaimana jika ramalan pulau jawa akan tenggelam benar-benar terjadi? Kemana penduduk akan dipindahkan jika kita lebih dini tau ciri-ciri bencana itu tiba, namun jika kita kecolongan tentu penduduk tidak terselamatkan. Meski Ibukota negara sudah dipindahkan. Jawa tetaplah menjadi kenangan berharga yang melatarbelakangi negeri ini merdeka. Nusantara akan hampa tanpa jawa. Apakah hanya akan jadi sejarah? Semua salah kita, jangan salahkan individu.

———

Kepindahan keluarga kami sudah bukan rencana lagi, aku sudah naik ke kelas tiga. Dan akan dilanjutkan di kampung bapak. Ibu juga dengan senang hati sebab beliau ingin ganti suasana sekalian merawat bapak di hari tua di tempat yang bapak inginkan. Selain itu investasi bapak semua dialihkan ke kampung. Menurut bapak kampung beliau cocok untuk kesehatan mental juga jasmani keluarga kecil kami. Di balik sebenarnya hal besar yang kami hindari adalah rusaknya semesta khususnya di Kota yang kami tinggali selama berpuluh tahun.

Rumah yang kami tinggali ini rencananya akan dijual, namun aku sangat menyayangkan begitu banyak kenangan di rumah ini, suka dan duka sudah kami lewati. Sepertinya bapak benar-benar tidak ingin lagi kembali ke kota ini. Apa boleh buat, demi kepentingan dan kebahagiaan bersama aku hanya mengikuti rencana bapak dan ibu.

Singkat cerita semua kepindahanku telah rampung. Aku akan sekolah di SMA 1 Negeri yang ada di kampung Bapak. Kemudian barang kami diangkut menggunakan truk menuju kampung bapak. Waktu di perjalanan akan habis sebanyak 2 hari 1 malam. Menyeberangi selat sunda menikmati perjalanan yang melelahkan. Dimana biasanya kami pulang kampung naik pesawat. Semenjak tol laut ada semua jadi serba instan. Kampung bapak berada jauh dari pusat kota yaitu kurang lebih 135 Km ditempuh melalui jalur darat. Kanan kiri jalan ada sawah, pemandangan bukit barisan, ada kebun teh juga, danau. Sungguh indah sekali, masih lumayan asri dibanding kehidupan kota. Tak lupa sesekali kami melewati jembatan yang membelah sungai, konon kata bapak sungainya dulu bisa airnya dikonsumsi, sekarang airnya kotor. Hingga kemungkinan ikan sungai yang dulunya banyak sepertinya sudah tidak ada lagi.

Sesampainya di kampung bapak, kami disambut hujan badai. Ekstrem sekali, padahal menurut ramalan gadget ku cuaca stabil, selang beberapa menit saja langsung tak menentu. Keluarga bapak sudah menunggu kami di halaman rumah. Rumah masih seperti dulu, halaman luas yang diisi oleh buah-buahan desa, rambutan, mangga apel, pepaya, ada sepetak taman sayuran, tanaman obat. Serta kolam ikan hias kecil yang sepertinya hanya beberapa ekor ikan saja menari disana. Om dan Tanteku serta sepupuku semua sudah sedia dengan makanan kesukaan bapak dari dulu. Kami sampai disana siang, setelah shalat zuhur kami makan bersama. Petir sesekali menyambar, dentuman di bukit belakang rumah terdengar menggelegar, omku bilang itu suara bongkahan longsor batu perbukitan yang mana sudah botak dijarah oknum tidak bertanggung jawab.

Kami melepas lelah sebab kaki sudah bengkak karena berjam-jam di dalam mobil, apalagi bapak tidak tidur-tidur karena memang terbiasa begitu, selama di perjalanan bapak memang tidak pernah bisa tidur. Aku dan ibu nyaman saja, meski kaki, pinggang dan kepaala agak sempoyongan.

Barang kami diturunkan dan dirapikan ke dalam rumah. Bapak sudah membayar  biaya sewa lengkap dengan upah angkut barang sekalian merapikannya. Tidak terlalu ribet karena beberapa barang ada yang sudah dilelang bapak di kota. Rumah yang kami tempati ini adalah peninggalan kakek dan nenek, om dan tanteku sudah punya rumah masing-masing. Rumah ini sudah diserahkan begitu saja pada bapak.

Perbincangan kami siang ini terkait berubahnya iklim di kampung ini. Menurut bapak cuaca disini biasanya bisa ditebak, namun omku menyangkalnya, beliau bilang cuaca yang panas tiba-tiba saja bisa dihiasi hujan lebat. Sehingga petani desa ini susah dalam menyiasati perkebunannya, dampaknya ya hasil panen sudah tidak lagi memuaskan sebagimana biasanya, harga karet merosot, padi juga jatuh sekali. Tak terlepas petani palawija, semua tanaman muda kadang rusak oleh hujan berkepanjangan. Ikan di sungai juga sudah habis, mencari ikan tilan dan baung seperti mencari bijih emas di sungai itu. Air sungai sangat keruh, selain hulu sungai sudah rusak, kegiatan industri rumahan yaitu pabrik tahu limbahnya di buang ke sungai. Omku bilang tidak mengerti juga apakah pejabat daerah tahu soal ini. Pencemarannya luar biasa, baunya sangat menyengat. Bapak terlihat mengerutkan dari sesekali, karena mungkin tidak menyangka desa yang begitu asri seperti surga tersembunyi bisa berubah seperti kota pada umumnya.

Perkembangan lainnya, generasi muda di desa ini juga marak menggunakan obat-obatan terlarang, narkoba, balapan liar. Candu game online yang menggunakan uang sebagai taruhannya. Bapak semakin heran dan tidak percaya kok bisa sebobrok itu. Padahal desa ini penuh dengan anak pintar dan agamis dulunya. Hanya beberapa tahun saja citra itu rusak. Entah mungkin saja tahapan perubahan ini tidak terikuti karena kami di kota memang jarang pulang.

Semakin banyak anak muda yang kuliah di desa ini, justru tidak ada perkembangan yang terlihat. Pengangguran bertambah sesuai dengan data yang ada di pemerintahan. Meski disamarkan sedikit oleh pembangunan tempat-tempat wisata di beberapa titik. Tempat wisata pun belum mampu memberikan dampak positif, mengingat letak desa ini lumayan jauh dari keramaian sehingga pengunjung agak sepi.

Areal perbukitan yang dulunya rimbun, terlihat botak di beberapa titik. Omku bilang penambangan liar dulunya menyisakan hutan yang luka. Susah untuk ditanami kembali, sebab cara tebang pindah ladang saat itu pun petani membakar lahan. Jadi susah untuk tumbuh kembali. Penambangan liar di pinggir hutan, seperti tambang emas, bijih besi, membuat satwa liar terganggu, bahkan om bilang beberapa minggu yang lalu ada sekawanan harimau sumatera masuk ke pemukiman warga. Itu sudah menjadi petanda yang tidak baik. Sebab dulunya kata tetua adat, harimau turun hanya disebabkan adanya bencana yang akan datang juga karena adanya ketidakadilan pemimpin desa ini. Namun sekarang tentunya berbagai alasan mencampuri sehingga harimau turun ke desa ini. Mendengar penjelasan tersebut aku agak bergidik, tak terbayang misalnya nanti aku bertemu harimau di jalan sendirian, nyawa taruhannya.

——

Sebulan kepindahan berjalan dengan nyaman. Aku dapat teman baru, pengetahuan baru di desa ini. Penyakit kulitku mulai sehat entah karena perubahan cuaca, serta kandungan makanan disini pasti lebih sehat dari makanan yang ada di kota. Namun memang yang agak susahnya disini akses ke toko buku yang lengkap memakan waktu 2 jam perjalanan dari rumah. Untungnya ada mobil, jadi aku tidak kepanasan keluar jauh-jauh. Keadaan suhu bumi disini malah 29ºC lumayan panas hampir sama dengan kota, Cuma bedanya disini banyak pepohonan jadi tersaamarkan.

Semenjak aku pindah ke desa ini, cuaca yang kutemui memang sangat ekstrem. Tiba-tiba hujan saat hari sedang terik. Tak terprediksi lagi oleh apapun. Jadi kalau aku ke sekolah kadang membawa jaket agar tidak kehujanan saat bapak menjemput pakai sepeda motor.

Sore ini cuaca sudah mulai mendung, kilat menyambar tingginya pohon kelapa. Terdengar di mesjid ada pengumuman agar masyarakat waspada terhadap banjir, sebab menurut pemantauan debit sungai sudah mulai meningkat. Aku deg-degan karena sebelumnya di Kotaku belum pernah kutemui banjir bandang, yang pernah kulihat hanya luapan got komplek dan itu reda dalam beberapa jam.

Benar saja, debit sungai naik, air meluap ke pemukiman. Naik hingga selutut orang dewasa. Bapak sibuk menaikkan barang ke lantai 2 rumah. Untung berkas penting semua di lemari kamar lantai atas, jadi tidak begitu panik. Aku takut ada ular dari sungai masuk ke dalam rumah. Was-was sekali, aku seperti bermimpi, baru pindah ke desa sudah diberi kejutan oleh semesta, apakah ini petanda buruk. Aku merenung dengan pikiran berkecamuk. Ada rasa penyesalan kenapa aku tak memberontak saja saat bapak mengajak kami pindah ke desa ini.

Hujan mulai reda, perkiraan banjir akan surut besok pagi, malam ini sangat mencekam. Warga sibuk mengungsi karena banyak juga yang tinggal di bantaran sungai besar desa ini. Kami berusaha tenangh, dalam keadaaan listrik dimatikan oleh pemerintah daerah takut terjadi konslet yang bisa menyebabkan kebakaran maupun sengatan listrik. Kami makan malam dengan lauk seadanya. Bapak agak terpaku, kemudian meyakinkan ibu bahwa semua akan baik-baik saja. Menurut bapak banjir terakhir kali terjadi 10 tahun yang lalu, dan itu tidak sebesar ini. Karena logikanya daerah aliran sungai sudah diperluas oleh proyek yang membangun tempat wisata di pinggir sungai waktu itu. Artinya kan tidak mungkin banjir bisa sebesar ini.

Bapak mengira bisa terhindar dari krisis iklim di Kota ternyata sama saja, di seluruh wilayah nusantara dampaknya terasa. Bagaimana tidak, di minggu yang sama, Sulawesi, Kalimantan dan Jawa terjadi juga banjir, padahal menurut teori musim ini bukanlah musim hujan. Harusnya tidak terjadi kejadian ini. Semkin lama dampak dari kerusakan semesta semakin terasa. Bumi marah akan perlakuan manusia, bumi sudah menyediakan segalanya, manusia hanya diminta menjaga bukan membalas padi dengan padi, cukup dengan peduli namun tidak semua yang menghiraukan hal itu. Menurut informasi, banjir ini disebabkan oleh gundulnya bukit di hulu sungai. Sehingga debit air hujan yang belakngan ini tidak tertampung. Terjadilah banjir bandang yang beritanya sampai ke TV nasional, dan sah dijadikan bencana nasional. Yang rusak parah adalah fasilitas sekolah di desa ini, kemudian lahan pertanian berhektar-hektar yang katanya akan panen bulan depan. Selain itu ternak petani juga banyak yang hanyut. Kerugian mencapai milyaran rupiah, begitu ditaksir oleh pemerintah daerah setempat.

Apa boleh buat, kami sekeluarga dan masyarakat desa harus mau menerima kenyataan yang terjadi menimpa desa ini. Kemudian melihat kondisi ke depannya menurutku sangat krisis moral anak bangsa. Teman sekolahku pun banyak yang tidak peduli akan lingkungan dan moral. Mereka sibuk mengejar dunia, kecanggihan teknologi, padahal negara ini tidak harus mengikuti arus. Kita sudah kaya, punya segalanya, bukankah bangsa yang maju bukan itu tolok ukurnya. Bangsa yang maju adalah bangsa yang mampu menmyaring hal baik dari setiap perkembangan jaman. Mencapai cita-cita  negara dengan segala upaya bukan  berarti harus merusak sumber daya negara ini. Bagaimana nanti generasi akan bersaing membela negara dari jajahan bangsa lain. Jika bumi sudah tidak lagi mendukung. Air bersih saja sudah mulai susah untuk dicari, jangankan kota, desa saja sudah mulai tercemar. Semua akan sadar ketika sisa kebaikan alam mulai habis. Udara mulai sesak saat kita  menghirupnya, air mulai berserbuk saat kita minum, padi tak mau lagi merunduk sebab bulirnya kopong, ternak tak lagi gemuk, ikan di sungai enggan bernyawa.

Untuk apa negeri ini mengejar angka, yang paling utama harusnya kualitas. Karena angka dikalkulasi belum tentu sama dengan fakta di lapangan. Punahnya generasi adalah dampak dari dosa terdahulu penduduk bumi ini. Renta dan tak mau lagi berdialog. Tanah air hanya bermonolog dengan amarah yang berapi-api pada manusia tak peka. Hingga manusia menyerah dan kalah.

Banjir telah reda, kami melanjutkan hidup yang penuh dengan misteri. Bagaimanapun hidup adalah rentetan peristiwa yang harus dijalani dengan ikhlas. Apapun yang terjadi di depan adalah takdir dan campur tangan kesalahan manusia juga. Tak perlu disesali dan dihakimi. Cukup sadari dan peduli, agar dampak negatif dari masalah bisa diminimalisir. Sebab kemanapun kita pergi disanalah kita harus berbakti. Tak perlu lari, ajal, rezki, serta jodoh adalah kuasa ilahi.

Solok Selatan, 1 November 2021

35 thoughts on “Cerpen #138; “Monolog Semesta Renta”

  1. Ini siapa yang buat cerpen, mau sungkem dulu siapa penulisnya 🙏🏻🙏🏻❤️❤️❤️🥰🥰🥰

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *