Cerpen #137; “A Climate”

“ Berita sekarang klise, ya, dari judulnya aja ketebak soal apa,” Hamdan meletakkan IPad miliknya yang sudah dalam kondisi mati. Karena benda setipis kertas itu kehabisan dayanya.

“ Kenapa lo, Dan?” tanya laki-laki yang sedang menyantap kentang gorengnya itu.

“ Sedari kemarin, saran berita di semua media sosial gue itu soal alam, lingkungan, atau kalau nggak bencana. Awalnya gue abaikan, karena notifikasinya terlalu banyak untuk gue cek satu-satu, tapi tadi pas mau hapus kepencet, jadilah gue baca.”

Tak lama setelah itu, minuman milik mereka pun datang. Hamdan dengan ice choco blanded-nya, sedangkan Arsen dengan double shot-nya. Sejak pukul tiga sore tadi, mereka sudah menghabiskan waktu di Kafe Cempaka. Ya, untuk sekadar menghabiskan waktu saja. Mereka tak berespektasi jika pengunjung kafe akan seramai ini. Padahal, hari ini adalah Selasa. Hari kerja, bukan?

“ Apa gue angkat tesis tentang ini aja, ya, Sen? Kali aja di-ACC.” Hamdan menunjukkan buku catatan biru miliknya.

Jika diizinkan, maka Arsen akan tertawa saat ini juga. Sungguh keajaiban memiliki sahabat semacam Hamdan ini. Lelaki itu pernah mengajukan tujuh judul tesis, dan ketujuhnya ditolak saat itu juga. Arsen tahu, alasan dibalik penolakan itu. Namun, setiap kali memberi tahu Hamdan, cowok berkacamata itu malah menggeram kesal.

“ Itu baru logis, Bro! Tujuh judul lo sebelumnya itu kayak judul cerita pendek, bukan tesis.” Kata Arsen, setengah terkekeh.

Sial! Semua buah pikirnya, semua usahanya, semua penelitihannya selama ini disamakan dengan cerita pendek. Hamdan tak segan-segan melemparkan kaleng soda kosong tersebut. Meskipun sekadar kaleng kosong, namun perdaratan yang kurang tepat membuat kaleng bernilai seperti batu!

“ Kalau gue sampai gegar otak, nggak akan gue bantu tuh tesis!” Hamdan hanya menunjukkan cengiran kuda dengan kedua jari terangkat, tanda perdamaian.

Bahaya, ide-ide Arsen adalah yang terbaik menurutnya. Jikalau cowok itu tak membantunya, maka habislah skripsinya.

****

Arsen menarik kembali resleting jaketnya hingga atas. Lima belas menit yang lalu, udara masih terasa panas, sang bagaskara masih tersenyum lebar di sepertiga peraduannya, dan lahan-lahan masih terlihat sangat gersang. Namun, waktu seperti dilahap moster. Dalam hitung detik saja, cuaca sudah berganti dingin dengan semilir angin yang berlari-larian.

Padahal, masih pukul setengah empat sore.

Cowok itu memainkan ponsel sembari duduk di sebuah halte. Dibalik sikap selengekan serta santainya, ternyata Arsen juga menyimpan ketakutan yang sama akan skripsinya. Sembilan judul pernah ia ajukan. Delapan ditolak, sedangkan satu judul lagi sudah di-ACC.

Saat sedang menunggu angkutan umum, tak sengaja Arsen melihat seorang pria dengan topi dan jaket berwarna cokelat. Tubuhnya nampak ringkuh dan sedikit membungkuk. Tidak, bukan ciri fisiknya yang menarik perhatian, namun sesuatu berwarna putih menggembung yang dipanggulnya-lah yang menarik atensi.

Arsen yang dibumbui rasa penasaran pun perlahan mendekat. Dan ternyata, praduganya benar!

Bahkan ia tak hanya melihat satu, melaikan dua orang tengah membawa karung dengan model, berat, dan warna yang sama. Mereka dengan santainya menumpahkan isinya kebawah, yang tidak diketahui ada apa dibawah sana.

“ Sial!” Arsen dilanda dilema, satu sisi ia ingin mendekat dan melihat. Namun, antitesisnya, kedua orang itu enggan minggir dari tempat mereka berdiri, sehingga Arsen tak bisa lebih mendekat.

Sebuah angkutan berwarna biru muda melenggok dihadapannya, lantas ia menyetopnya. Karena, sudah tak ada gunanya lagi untuk menuruti hasrat penasan. Langit yang semakin menggelap, angin yang terus berembus, dan suara hewan yang sedang mengobrol, solah ketiganya meminta Arsen untuk segera pulang. Mengistirahatkan dirinya.

****

“ Lama benar, lo? Habis nyangkut dimana?”

Baru saja menapakkan kaki di anak tangga terakhir, Arsen sudah dikejutkan dengan suara kedua teman lelakinya yang jika dilihat-lihat, berlagak seperti seorang raja. Makanan, cemilan, minuman, tumpah ruah memenuhi meja. Bantal-bantal sofa, sudah tak ada diatas, melainkan di karpet bulu.

“ Woy, yang benar makannya. Tumpah-tumpah, tuh!”

Arsen menggelengkan kepalanya. Jika pengin bertanya, mengapa rumah Arsen bisa se-santai ini? Jawabannya, ia tinggal sendirian sejak tiga tahun yang lalu. Ayah ibunya sudah bercerai dikarenakan sesuatu hal yang membuatnya tak ingin mengingat-ingat lagi. Sang adik juga telah tiada, di usia empat bulan kehamilan ibunya.

Hal itu membuatnya benar-benar sendiri, hingga sekarang. Mungkin hanya ada seorang bibi dan seorang tukang kebun saja yang kadang-kadang menemaninya di rumah. Dituntut menjadi mandiri? Jelas! Hasil itu nampak pada diri Arsen hingga saat ini.

“ Bibi Siti?”

Dalam sekali panggilan, seorang wanita dengan pakaian sederhana – baju lengan panjang krem dan celana panjang cokelat- pun datang. Ikatan rambutnya tak serapi tadi, sepertinya pada saat Arsen memanggil, Bi Siti tengah melepas kuncir rambutnya.

“ Iya, Mas Arsen. Ada yang bisa bibi bantu?”

“ Itu, Bi…Saya minta tolong bibi buatkan minum sama bawakan cemilan, ya.”

“ Baik, Mas Arsen. Bibi siapkan terlebih dahulu.”

“ Makasih, ya, Bi,” Bi Siti mengagguk singkat, lantas kembali ke dapur untuk membuatkan apa yang diminta oleh tuan mudanya.

Dari mengobrol ringan, tanpa Arsen sadari, PlayStation itu sudah menyala. Hamdan dan Iqbal sudah merosot dari sofa. PES adalah salah satu gim yang acap kali mereka mainkan, dari zaman SMA hingga sekarang.

Arsen menatap jam hitam yang berdiri gagah di ruang tamu. Pukul setengah delapan lewat lima menit. Mengapa udara mendadak menjadi panas? Padahal, yang Arsen ketahui, jam-jam diatas waktu magrib adalah waktu dimana angin berlari sangat kencang!

Namun, hal itu tak berpengaruh malam ini.

“ Jamuran tuh skripsi, Woy! PS-an terus!”

“ Entar, Sen. Gue mau menang,” Iqbal sangat serius memerhatikan televisi, jemarinya dengan lihai menari-nari diatas stik PS. Bagi Iqbal dan Hamdan, PES adalah nomor satu. Kapan lagi ia menemukan waktu dan menikmati gim di tengah rutinitas yang padat ini.

Arsen meletakkan asal kertas-kertas yang dipeganganya. Ia mengapit sebatang rokok diatara  bibirnya, menyulutnya, dan mengembuskan asapnya di udara. Sepertinya, niat belum menyelimuti tubuh teman-temannya. Lantas, kenapa Arsen yang musti ambil pusing?

Orientasi pikirannya kembali tertarik pada peristiwa beberapa jam yang lalu, saat di jembatan. Bila mengigat itu, rasanya Arsen sangat ingin meruntuki dirinya sendiri. Mengapa ia tak menghampiri orang-orang tersebut, mengapa ia justru membuat praduga-praduga tak jelas dari jauh. Kalau sudah begini, ia sendiri yang akan tersiksa oleh rasa penasaran itu.

“ Yes! Tiga, dua. Gue tunggu ice latte-nya besok,”  Iqbal menyedot minuman yang sudah disiapkan oleh Bibi Siti sebelumnya.

“ Gak bisa gitu. Kan, lo bilang kalau dua ronde, ini baru satu ronde,” Ujar Hamdan tak mau kalah.

“ Sekali kalah, tetap kalah, Dan. Konsekuensi awal kayak gitu.”

“ Tap-“

PRAK!

Arsen yang sedari tadi gerah dan berkeringat pun merasa semakin gerah mendengar perdebatan tak bermutu dihadapannya. Laki-laki itu mengarahkan punggung tangan dengan dahinya, lalu disekanya pelan keringat itu.

Iqbal yang menyadari gelagat Arsen-pun hanya melemparkan pandangan bertanya-tanya. Dahinya mendadak membentuk lipatan-lipatan kerutan, “ Hei, AC lo ketinggian? Turunin kalau gerah.”

Karena suara barinton Iqbal, Hamdan yang semula bermain ponsel, pun, akhirnya ikut menoleh.

“ Gue juga sedari tadi gerah. Padahal, pas dirumah sudah mandi. Empat kali bahkan,” Kata Hamdan.

Iqbal berdiri. Cowok itu terlebih dahulu menarik kaus hitamnya yang sempat terlipat dan juga menyugar rambutnya.

“ Gue minta air es lagi, ya, Sen?”

Saat berjalan ke belakang, Arsen dan Hamdan dapat melihat dengan jelas, betapa basahnya baju bagian belakang Iqbal hingga sedikit membetuk postur tegap lelaki itu. Baik Iqbal pun sebenarnya tak bisa memungkiri, bahwa malam ini adalah malam paling panas yang pernah ada. Tak lama setelah itu, Iqbal kembali dengan membawa dua gelas air es.

“ Kalau gerah, mandi, Bal. Tuh, pakai kaus gue.”

“ Izin, ya, Sen. Gerah mampus gue,” Iqbal sudah kepalang gerah. Bahkan ia merasa, AC milik Arsen sudah tak ada harga dirinya lagi.

Arsen mengagguk. Ia menginstruksikan terlebih dahulu; dimana handuk, serta baju ganti yang akan Iqbal kenakan.

Cowok itu langsung berlari kecil menuju kamar mandi, menyisakan Arsen, Hamdan, dan PS yang sudah mati. Hamdan kembali fokus dengan skripsinya setelah Arsen mengintstruksikan beberapa revisi sebelumnya.

“ Berarti, kita ke tempatnya langsung, Sen?”

“ Iya,” Arsen terdiam sejenak dengan pandangan yang mengarah lurus ke depan, “ Gimana kalau besok? Lo berdua nggak ada acara, kan?”

Tentu saja, untuk masalah skripsi dan gelar sarjana, maka Hamdan akan selalu siap sedia. Ia ingin segera lulus, bergelar, dan membahagiakan orangtuanya dengan IPK yang baik, pastinya.

“ Ada apa?” Iqbal datang dengan kaus hitam polos serta celana pendek bermotif kotak-kotak milik Arsen.

“ Sudah nggak gerah?”

“ Masih. Tapi, lumayanlah, daripada tadi,” Lalu, Iqbal kembali menanyakan perihal apa yang Arsen dan Hamdan bicarakan. Karena, dilihat dari mimiknya, sepertinya topik pembicaraan cukup serius.

“ Lagi ngomongin apa?”

“ Lagi ngomongin masa depan. Soal skripsi.” Jawab Hamdan.

Mendengar itu, Iqbal langsung duduk di sofa tunggal dengan keadaan handuk yang masih terkalung di lehernya. Melihat Arsen, ia seperti melihat kejelasan akan masa depannya. Nampaknya, pria itu telah memiliki ide untuk skripsinya. Karena jujur, jika ditanya ia sudah tak punya ide lagi, soal konsep atau gambaran awal.

“ Gimana, gimana?”

“ Besok pagi, Arsen ajakin kita buat selesaikan skripsi. Dia punya tempat dan ide yang sangat cemerlang.”

“ Dimana?”

“ Di Jakarta Selatan, kata Arsen ada hutan dan sungai disana. Ya, walaupun nggak serimbun hutan pada umumnya.”

“ Apa yang akan dianalisis?”

Ngomong-ngomong, Hamdan, Iqbal, dan Arsen adalah mahasiswa dari satu universitas negeri di Jakarta. Mereka bertiga, sama-sama mengampuh jurusan Teknik Lingkungan.

“  Gue tadi melihat ada orang buang sesuatu disana. Setahu gue, sungai disana itu jernih. Jadi, kita lihat, apa saja yang berdampak.”

“ Dih, cuman buang sampah, Sen?” Hamdan sedikit mencibir.

“ Udara panas dan dingin di waktu yang salah, dan keaneahan lainnya itu dampak dari krisis iklim, Dan. Sebenarnya nggak cuman krisis iklim aja, sampah yang dibuang secara tidak terpisah dan main lempar aja itu juga bisa bikin polutan.”

Iqbal menggelengkan kepalanya, takjub dengan Hamdan. Apa yang cowok itu pelajari saat kelas, mengapa polutan saja tidak tahu.

“ Gue tunggu kalian disini sampai pukul tujuh pagi. Lewat dari itu, gue tinggal tidur lagi.”

“ SIAP, BOS!” Serempak Iqbal dan Hamdan.

****

Keesokan Harinya.

Arsen sudah siap dengan kaus berwarna hitam serta celana jins hitam. Piring dihadapannya sudah kosong sedari lima belas menit yang lalu. Ya, Arsen tengah menunggu saat ini. Namun, yang ditunggu benar-benar tak tahu diri.

“ Kopi atau teh, Mas Arsen?”

“ Teh hangat saja, Bi.” Belakangan ini, insensitasnya meminum kopi tak bisa dihitung menggunakan jari. Setiap waktu, selalu ada segelas kopi yang menemaninya. Untuk itu, ia perlahan mencoba untuk mengurangi jumlah gelas kopi dalam satu harinya.

Bi Siti mengangguk. Terlebih dahulu, beliau mengambil mangkuk kosong dan buah apel hijau yang telah habis daging buahnya. Kebiasaan Arsen di pagi hari tidaklah makan berat seperti bubur atau nasi. Melainkan, hanya satu buah apel hijau, semangkuk oat meal, dan teh hangat, atau kadang-kadang kopi hitam.

Cowok itu kembali memeriksa ponsel untuk ketiga kalinya. Namun, hasilnya nihil. Baik kontak milik Iqbal maupun Hamdan, sama-sama belum berada di posisi atas. Jujur, ada perasaan sedikit kesal menyembul dalam benaknya.

“ Terimakasih, ya, Bi.”

“ Sama-sama, Mas,” Bi Siti mengapit nampan itu dalam lengannya. Mengambil kain yang terselempang di pundak sebelah kirinya. Lalu, mulai membersihkan meja tengah, lemari, dan buffet televisi.

Tak lama setelah itu, bel rumahnya berdenting.

Bi Siti bergegas menuju pintu utama dan membukanya. Dan, nampaklah dua orang pemuda; satu mengenakan topi berwarna hijau army, dan satu lagi mengenakan kacamata bening. Keduanya sama-sama melemparkan senyuman yang begitu menawan.

“ Assalamualaikum, Bi. Arsennya ada?” tanya Iqbal, sopan.

“ Waalaikumsalam, Den Iqbal, Den Hamdan. Iya, Mas Arsennya didalam,” Bi Siti melapangkan pintu utama,  memberikan jalan untuk kedua teman tuan mudanya ini, “ Mari, silakan masuk.”

Kedua pemuda tersebut mengikuti langkah Bi Siti untuk masuk kedalam rumah. Sampai di ruang tengah, dimana Arsen tadi menikmati sarapannya. Ternyata nihil, ruangan itu kosong. Kursi makan yang tadi dipakai oleh Arsen telah dimajukan lagi, seperti sedia kala.

“ Masih tidur, Bi?” tanya Hamdan.

“ Tidak, Den Hamdan. Tadi aden sedang duduk disini, kok,” kata Bi Siti. Beliau ikut bingung sendiri, kemana Tuan Mudanya.

“ Lagi ngapain, Bi?” kata Iqbal.

Bi Siti yang bingung pun, akhirnya menatap Iqbal. Lelaki itu menunjuk kearah halaman belakang, dimana, rumah utama dan halaman belakang hanya dibatasi oleh sebuah pintu kaca.

Disana, nampak seorang lelaki duduk diatas ayunan, tengah serius menatap ponsel. Ayunan itu gerak-gerakkan dengan ritme yang amat pelan. Rupanya, Arsen belum menyadari, jika teman-temannya sudah menampakan batang hidung masing-masing.

****

“ Tempatnya disini, Sen? Panas banget?”

“ Lo berdua telat. Ya panaslah!” tajam Arsen.

Kini, mereka bertiga sudah berada disuatu tempat. Tempat ini adalah yang semalam dilihat oleh Arsen, dimana ada dua orang asing tengah membuang sesuatu. Ya, Arsen sengaja memilih tempat ini, disamping untuk mencari tahu jawaban, akan rasa penasaran yang sudah menggebu sedari kemarin.

Suara bising kendaraan, debu-debu yang berterbangan, bau dari sungai, dan sinar matahari yang terasa begitu membakar. Pantas saja, Iqbal dan Hamdan mengeluh!

Mereka berhenti sejenak untuk mengatur napas. Sengaja, mereka tak memakai mobil pribadi, melainkan jasa mobil daring. Dikarenakan tak bisa menjangkau titik yang diharapkan, alhasil Arsen memasang titik baru. Yang ternyata, sangat jauh dari tujuan mereka.

“ Dimana pohon-pohon dan sungai yang lo bicarakan kemarin?”

Arsen tersenyum tipis, “ Disana,” tunjuknya kearah bawah.

Jelas, disana Hamdan dan Iqbal dapat melihat beberapa rumah yang sedikit berjarak dengan aliran sungai serta pohon-pohon yang ada disana. Kening Iqbal berkerut bingung untuk sepersekian detik. Ada rumah disana?

Setelah dilanda sedikit kebingungan dan pertanyaan, akhirnya, mereka memutuskan untuk turun. Sebelum sinar matahari semakin melahap mereka. Ternyata, ada sebuah tangga yang terbuat dari batu yang sedikit berlumut. Mungkin itu adalah satu-satunya akses yang dapat diampuh. Mereka turun secara perlahan-lahan, karena tangga tersebut sebagian besar sudah termakan oleh lumut.

Mungkin sebagian sudah lapuk.

“ Pohonnya cuman didepannya. Pas kedalam, gersang juga,” Lirih Hamdan, mungkin hanya ia yang dapat mendengar ucapannya sendiri.

Dan, sampailah mereka kepada aliran yang dibicarakan oleh Arsen.

Arsen menghela napas. Pradugannya sepertinya benar. Ujung sungai itu penuh dengan berbagai macam sampah yang menyumbat, penuh pasir, dan aliran airnya pun kotor.

“ Kadang, hal-hal kecil beginilah yang justru nggak pernah terpikir sama manusia, yang ternyata dampaknya besar.”

Iqbal berjongkok, menumpu tanganya diatas lutut. Ia ingin lebih melihat lagi, apa saja yang ada didalam air tersebut.

“ Sampah plastik?”

Arsen mengangguk, “ Termasuk, Bal.”

Sedang asik mengobrol dan mengamati lingkungan sekitar, tiba-tiba saja seorang pria datang. Tampilannya cukup sederhana.

“ Assalamualaikum.”

Kontan saja mereka terkejut, saat suara berat tiba-tiba saja menyembu diantara perbincangan. Saat menoleh, terlihat seorang pria dengan celana kain berwarna hitam serta kaus polos berwarna abu-abu.

Senyuman kecil nampak terpatri diantara gerutan wajahnya.

“ Waalaikumsalam.”

Sedangkan si pria, tak kalah terkejutnya. Beliau menatap ketiga pemuda dihadapannya dengan bingung. Kedua matanya menatap dari arah bawah hingga atas seperti sensor yang sengaja diprogram.

“ Ada apa, mas-mas datang ke desa kami?”

Arsen dan Hamdan sama-sama mendorong pelan tubuh Iqbal. Mengisyaratkan cowok itu untuk menjawab segala pertanyaan yang ‘mungkin’ nantinya akan diajukan atas kehadiran mereka disini.

Iqbal berdesis.

“ Permisi, Bapak. Sebelumnya, mohon maaf jika kedatangan kami sedikit menganggu. Niat utama kami kemari adalah melakukan pengamatan untuk bahan skripsi,” Iqbal sedikit melirik kearah aliran kecil tersebut serta lingkungan sekitar mereka yang memang sedikit, ‘gersang’.

Mungkin inilah yang menjadi salah satu faktor utama, mengapa panas pada siang dan malam seperti tak ada bedannya. Aliran itu tersumbat oleh banyak sampah, dan pohonnya semakin dalam semakin gundul. Keduanya sangat berelasi, bukan?

“ Oh, ya. Silakan, Mas,” Pak Prakoso namanya. Pak Pra terus menceritakan bagaimana keadaan desanya yang berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya. Anggapan bahwa desa mereka berada dibawah, membuat beberapa orang tak peduli dan masih membuang sampah-sampah disekitaran sana.

Bahkan beberapa tak tahu dan acuh bahwa ada desa disana.

“ Kalau sudah terlalu menumpuk, ya kita bersihkan. Pasti ada capeknya, Mas. Apalagi tempatnya seluas ini, tapi, ya, bagaimana lagi?”

Iqbal, Hamdan, dan Arsen mengangguk. Ia jadi mengetahui, bagaimana rantai sebab-akibatnya. Semakin ke dalam, mereka dapat menemukan beberapa bangunan rumah dan pertokoan kecil yang tampak sangat sederhana.

“ Maaf, Pak. Kira-kira, tanggapan orang-orang sekitar soal hal ini, bagaimana?”

“ Terus terang, kesal, Mas. Tapi, kembali lagi, kita nggak tahu siapa saja yang buang sampah disini. Untuk bahan membuat laporan pengaduhan, pun, agak susah.”

Mereka berhenti di sebuah lahan yang terdapat bangku kayu kecil disana. Sementara Arsen mengobrol dengan Pak Prakoso, Iqbal dan Hamdan sibuk membuat catatan kecil dan dokumentasi yang tentunya, atas perizinan dari Pak Prakoso.

Tak terasa, matahari semakin gagah berdiri di singgah sananya. Sungguhan beberapa teh dinginpun sudah siap menanti.

“ Mas-Masnya ini, kuliah?”

“ Iya, Pak,” Jawab Hamdan mewakili.

Iqbal sudah menyingsing lengan kemeja serta celana panjangnya, mengenak sarung tangan yang sengaja ia bawa. Ia mulai mengambili sampah plastik yang sudah menyatu dengan tanah, menaruhnya didalam kamtung kresek berwarna merah besar.

Melihat itu, Arsen dan Hamdan pun turut membantu. Sementara, Pak Prakoso memanggil warga-warga desa yang lain untuk melakukan hal serupa dengan Iqbal. Dalam hitungan menit, gerumbulan warga nampak datang berbondong-bondong.

Mereka membersihkan gorong-gorong, menyapu dedaunan kering, dan memindahkan tanaman di pot rumah mereka, sekadar untuk penghijauan saja. Untuk bagian sampah plastik, Iqbal menginstruksikan untuk dikumpulkan saja.

Karena sepengetahuannya, jika dibakar akan menyebabkan polutan yang nantinya akan menganggu sistem pernapasan. Dan, jika ditimbun, nantinya akan merusak tanah serta kandungan-kandungan didalamnya.

“ Kalau ini dibagaimanakan, Mas Iqbal?” Iqbal menyeka keringatnya, lantas menoleh. Mendapati seorang ibu-ibu membawa pot dengan tanaman yang nampak sudah layu, bahkan hendak mati.

“ Karena bunganya sudah layu, jadi kita ganti saja, Ibu. Dibersihkan terlebih dahulu potnya, diisi tanah, lantas diganti dengan bunga, tanaman atau bibit baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *