Cerpen #136; “Matahari yang Terus Bersinar”

Sinar matahari di siang hari ini menggigit seluruh kulitku. Peluh bercucuran dari kulit kepalaku lalu mengucur ke wajah berkulit sawo matang ini. Tanganku bergerak mengusap peluh sambil menghela napas lelah.

“Panas sekali!”

Aku sudah sangat tidak tahan dengan panas matahari yang menyengat ini. Seharusnya bulan ke-10 ini adalah musim penghujan, tetapi satu bulan sudah berlalu, tidak ada setetes pun hujan yang turun. Setiap hari hanyalah ada matahari yang terus bersinar terik.

Bahkan aku yang memiliki nama berartikan matahari ini sudah muak dengan musim kemarau berkepanjangan yang belum kelihatan akhirnya.

Dari jauh terlihat mobil truk kecil yang biasanya dipakai untuk membawa hasil panen ke kota—akan mengantarkanku kembali ke desa kampung halamanku. Aku kembali mengangkat tas besar yang tadi kuletakkan di samping kananku dan memasuki mobil tersebut. Desaku terletak jauh dari pusat kota. Butuh beberapa jam untuk tiba di sana.

Dua tahun berlalu sejak aku memutuskan pergi ke ibu kota untuk mencari pekerjaan. Sebab bapak dan ibu selalu mengatakan bahwa aku harus memiliki pekerjaan lebih dari seorang petani. Walau dengan menjadi petani pun aku tidak keberatan.

Dari kota kami ke ibu kota membutuhkan waktu sekitar lima jam dengan mobil. Aku hanya menggunakan mobil hasil sewa saat itu untuk pergi ke ibu kota. Tidak mampu untuk membayar biaya penerbangan.

Ibu kota ternyata sangat berbeda dari ekspetasiku. Polusi udara yang mencekik, suara bising kendaraan yang menusuk telinga, dan orang-orang beraktivitas tiada henti memenuhi kota. Kota itu terlalu sibuk untuk seseorang penyuka ketenangan seperti diriku.

Pikirku ibu kota adalah kota yang menyenangkan seperti yang ditunjukkan di dunia maya. Namun selama hidup di sana demi bekerja, jiwa ini jarang merasakan ketenangan. Sebaliknya, kebisingan dan buruknya kondisi lingkungan yang menemani keseharian.

Rasa syukur memenuhi hatiku ketika mendapat waktu libur selama seminggu. Aku bisa kembali ke desa dan bertemu dengan kedua orangtuaku.

Mataku melirik jam yang melingkari tanganku. Perjalanan menuju desa masih jauh. Cukup untuk mengistirahatkan mata yang lelah ini, batinku. Aku mencari posisi duduk yang nyaman dan mengenakan tudung jaket. Mata lelah ini akhirnya terpejam.

*****

Netraku terbuka ketika merasa mobil truk kecil ini diam. Tanganku mengucek mata dan melihat pemandangan di sekitar. Kulihat persawahan luas dan kering, bukan persawahan hijau seperti memoriku dua tahun lalu. Desa ini terlihat agak berbeda, pikirku. Sawah-sawah yang kering, udara yang terasa lebih panas, dan dari kejauhan netraku melihat ibu yang melambaikan tangan seraya berjalan pelan menghampiri mobil truk kecil yang terparkir.

Aku akhirnya beranjak berdiri dan mengangkat tas, setelah beberapa menit terdiam menatap pemandangan sekitar. Sekadar melihat perubahan dari kampung halamanku ini. Kakiku berlari kecil menghampiri ibu dan memeluknya.

“Kamu baik-baik saja, Nak?” ucap ibu sambil mengusap rambutku.

“Baik bu. Ibu apa kabar? Di mana ayah?” jawabku seraya mata ini melihat ke sekitar.

Belum sempat ibu menjawab, dari kejauhan aku melihat sosok pria dengan wajah tegas dan mata tajam itu.

“Ibu baik, Nak. Begitu pun dengan ayah,” kata ibu sambil tersenyum lembut walau sorot matanya terlihat murung.

“Syukurlah.” Balasku.

Aku memeluk ayah dan tangan ayah menepuk punggungku. Kami bertiga berjalan menuju rumah kami yang tidak terlalu jauh dari persawahan. Rumah sederhana namun nyaman yang kurindukan.

Sebentar lagi matahari akan terbenam. Setelah membersihkan diri, aku menyantap makan malam bersama ayah dan ibu seraya bercerita tentang kehidupan kerjaku di ibu kota. Sehabis itu, aku pergi sebentar untuk menyapa beberapa tetangga dan teman sepermainanku ketika masih menjadi pelajar.

Besok, ayah memintaku untuk membantunya bekerja di sawah. Diri ini tentu menerimanya dengan senang hati. Sedari kecil aku menikmati membantu pekerjaan ibu dan ayah sebagai seorang petani. Hal itu terus melekat dalam diriku sampai sekarang.

Aku merebahkan diri diranjang, meregangkan tubuh yang pegal, bersiap menuju alam mimpi.

*****

Lagi dan lagi, udara pagi ini terasa panas. Tidak lagi kurasakan udara segar pagi hari di desa. Tubuhku sudah dipenuhi keringat. Aku memutuskan untuk menuju ke sawah, karena dari satu jam yang lalu ayah sudah mulai bekerja, sedangkan ibu sibuk membersihkan rumah.

Netraku sudah melihat persawahan dari kejauhan. Aku mempercepat jalanku ketika melihat ayah di sana. Ketika sudah tiba di daerah persawahan, pemandangan pertama yang dilihat kedua mataku adalah persawahan yang sangat kering. Sangat kering. Lahan pertanian ayahku gagal panen. Bahkan lahan tersebut terlihat seperti pecah-pecah saking keringnya.

“Nasib. Sawah kita gagal panen lagi. Sawah milik tetangga pun juga gagal panen,” ucap ayah mendekatiku.

“Kekeringan di desa kita sangat parah. Hujan jarang turun. Air bersih pun sulit didapatkan,” lanjut ayah.

“Ayah tau mengapa desa kita mengalami kekeringan dan jarang hujan?” tanyaku.

“Ayah tidak tahu. Mungkin memang alam bekerja seperti itu. Atau mungkin itu memang nasib desa kita,” jawab ayah sambil mengambil peralatan bertani dan memutuskan untuk kembali ke rumah.

Aku terdiam. Sepertinya warga desa termasuk ayahku tidak paham tentang krisis iklim, bahkan mungkin tidak tahu. Gagal panen ini sudah pasti akibat dari krisis iklim. Cuaca ekstrem, kekeringan, terbatasnya air bersih. Hal tersebut yang menyebabkan persawahan di desa ini sering gagal panen. Dan ayah hanya menganggapnya sebagai nasib. Seakan-akan itu semua hanya kondisi alam biasa.

Batinku berkata ini tidak bisa dibiarkan. Ini bukan masalah sepele. Krisis iklim adalah masalah serius. Bayangkan jika lahan pertanian yang gagal panen dibiarkan begitu saja, bagaimana cara warga desa memenuhi kebutuhan makan dan ekonomi? Ini tidak bisa terus-menerus dianggap hanya sebagai nasib.

Aku harus membicarakan ini pada ayah dan ibu, serta kepada warga desa lainnya. Sudah kubulatkan tekad ini dengan yakin. Masalah ini harus diselesaikan. Segera.

*****

“Ayah, ibu, ada yang perlu aku bicarakan,” ucapku saat kembali ke rumah.

“Ada apa, Baskara?” tanya ayah yang mengambil duduk di seberangku.

“Pertanian di desa kita sering mengalami gagal panen. Masalah ini adalah masalah serius. Kita tidak bisa biarkan ini berlangsung begitu saja dan hanya menganggapnya sebagai angin lalu atau nasib. Gagal panen ini sudah pasti dipengaruhi oleh perubahan iklim,” jelasku dengan serius.

“Perubahan iklim? Apa itu?” tanya ayah dan ibu bingung.

Aku menghela napas. Sudah kuduga. Mereka tidak teredukasi tentang perubahan iklim. Pasti warga desa yang lain juga sama tidak pahamnya dengan ayah dan ibu, batinku.

“Ayah dan ibu benar-benar tidak pernah mendengar tentang perubahan iklim sekalipun?” tanyaku memastikan.

Mereka hanya menggelengkan kepala. Mereka benar-benar tidak tahu. Hati ini terasa sedih dan miris sekali. Bagaimana warga di desa yang tidak tahu sedikitpun tentang perubahan iklim. Bahkan ketika pengaruh perubahan iklim itu sendiri sudah berdampak ke desa mereka pun hanya dianggap nasib.

“Perubahan iklim adalah perubahan yang signifikan pada iklim bumi. Hal ini disebabkan oleh peningkatan gas rumah kaca pada atmosfer yang berakibat menaiknya suhu bumi. Apa dampaknya? Dampaknya bisa berupa banjir, kekeringan, cuaca ekstrem, dan lain-lain. Apakah perubahan iklim itu masalah serius? Tentu saja! Karena dampaknya di bumi sudah semakin parah dan pengaruhnya ke manusia serta makhluk hidup lainnya pun sangat berbahaya. Krisis iklim adalah sebutan lainnya,”

“Sejujurnya aku sangat terkejut mendengar ayah dan ibu yang tidak tahu apapun mengenai krisis iklim, padahal dampaknya sudah di depan mata. Dan aku yakin warga desa yang lain juga tidak tahu, karena ketika terjadi gagal panen pun, tidak ada yang melakukan usaha untuk mengatasinya atau mencari penyebabnya,”

“Kami tidak tahu harus berbuat apa. Kami tidak tahu penyebabnya, kami tidak tahu mengapa itu bisa terjadi, kami tidak tahu cara mengatasinya. Warga desa pun tidak mahir dan tidak banyak mengetahui tentang teknologi. Tidak banyak yang tahu mengenai dunia luar. Yang muncul di pikiran kami hanyalah mungkin itu memang nasib buruk desa kita sekarang ini. Mungkin memang kami yang kurang beruntung,” ucap ibu dengan sorot matanya yang terlihat murung lagi.

“Karena gagal panen akibat kekeringan ini pun, warga desa banyak yang kekurangan bahan makanan dan tidak bisa menjual hasil panen. Dan juga banyak anak-anak muda yang ingin pergi ke kota, dengan alasan untuk mencari pekerjaan dan memiliki hidup yang lebih baik. Menjadi petani seperti sudah tidak ada harapan,” ucap ayah dengan raut muka frustasi.

“Kepala desa tidak tahu bagaimana mengatasi permasalahan ini,” tambah ibu.

Ya, desa kami memang tergolong belum maju. Kami hanya memiliki mobil truk kecil dan sepeda motor milik beberapa warga. Hanya beberapa warga yang mempunyai ponsel, selebihnya menggunakan televisi untuk sekadar melihat perkembangan dunia. Namun warga desa kami jarang menggunakan televisi tersebut, lebih suka berkumpul dengan keluarga dan tetangga. Tak heran bila warga desa memiliki pengetahuan yang sedikit mengenai perubahan iklim. Aku juga tidak menyalahkan mereka yang tidak tahu akan masalah ini.

Hatiku semakin terasa sedih melihat keadaan ayah dan ibu yang terlihat sama frustasinya denganku. Permasalahan ini begitu serius dan harus segera dicari jalan keluarnya.

Jika kami hanya meratapi nasib dan pasrah tanpa usaha, bagaimanakah kami harus bertahan hidup? Semuanya tidak akan selesai begitu saja. Kami harus berbuat sesuatu sesegera mungkin. Nasib desa dan generasi masa depan ada ditangan kami.

Aku berdiri dan pamit kepada ayah dan ibu untuk menemui kepala desa, membicarakan masalah ini. Mereka memutuskan untuk ikut. Kami bertiga menuju rumah kepala desa. Hanya membutuhkan waktu beberapa menit, kami sampai di tempat tujuan, dan tanpa menunggu lama aku langsung mengetuk pintu.

Sosok pria berumur muncul di depan pintu dan tersenyum. Rambutnya berwarna putih dengan sedikit hitam, tubuhnya kurus dan lebih tinggi sedikit dari ayah, dengan tatapan matanya yang tajam. Namun dengan tubuh kurusnya itu, terlihat bahwa beliau adalah pria yang masih kuat walau sudah berumur. Pak Apin—itulah namanya.

Ayah dan ibu berjabat tangan dengannya, aku mengikuti.

“Silahkan masuk! Apa ada yang ingin dibicarakan? Saya minta buatkan minum sebentar kepada ibu, ya,” ucapnya lalu menuju ke dapur.

“Tidak usah repot-repot, pak,” ujar ayah.

“Ah, tidak apa-apa,” ucap Pak Apin lalu mengambil duduk di hadapan kami.

“Ada apa?” tanya beliau.

“Ada hal penting yang harus kami bicarakan, pak. Sejak kemarin saya tiba di sini, lalu pagi ini saya ke sawah untuk membantu ayah, saya melihat persawahan yang sangat kering, bahkan pertanian tersebut gagal panen. Bukan hanya sawah milik ayah, tapi persawahan milik warga lain pun sama keringnya. Dan saya perhatikan, gagal panen ini hanya ayah dan ibu anggap sebagai nasib buruk dan bukan masalah besar. Mungkin warga desa lain juga menganggap hal yang sama. Padahal ini masalah serius. Kekeringan dan gagal panen merupakan dampak nyata dari krisis iklim,” jelasku langsung pada inti permasalahannya.

“Krisis iklim? Saya pernah mendengar istilah tersebut, saya juga tau peristiwa apa itu, tapi saya tidak tahu dan menyangka bahwa dampaknya terjadi di desa kita,”

“Ya, krisis iklim. Dampaknya sudah di depan mata, tapi warga desa kita belum teredukasi tentang hal ini. Bahkan ada warga yang belum tahu sedikitpun tentang krisis iklim, seperti ayah dan ibu. Dan karena ketidaktahuan ini, para warga bersikap tidak peduli, hanya menganggapnya angin lalu saja,”

“Memang dari setahun yang lalu gagal panen sering melanda pertanian di desa kita karena kekeringan dan cuaca ekstrem. Desa kita juga dilanda kekurangan air bersih, kekurangan bahan makanan karena gagal panen tersebut, dan masalah ekonomi karena tidak dapat menjual hasil panen. Saya sadar akan masalah itu, tapi saya tidak tahu banyak mengenai solusinya. Saya seperti hilang arah tidak tahu jalan keluarnya,” kata Pak Apin.

Aku merasa sedikit lega mendengar kepala desa yang tahu akan perubahan iklim walau hanya sedikit. Setidaknya dengan begitu keadaan ini dapat lebih mudah diatasi.

“Kita bisa mengatasinya dengan memulai mengedukasi masyarakat. Kita dapat mengadakan pertemuan di balai desa lalu kita bisa jelaskan permasalahan ini dan apa yang perlu kita lakukan untuk mengatasinya,” usul Pak Apin.

“Baik, kita mulai dari mengedukasi masyarakat, lalu kita bisa mengajak masyarakat untuk mengatasi masalah ini bersama!” ucapku dengan penuh antusias.

Setidaknya kami sudah mulai bertindak dengan langkah kecil ini. Sebab kami yakin, permasalahan ini harus diselesaikan bersama-sama dan harus melibatkan warga lainnya. Aku, ayah, dan ibu pamit dengan antusias dan penuh harapan.

*****

Keesokan harinya, ditemani matahari tepat di atas kepala, aku memutuskan berkeliling desa, karena kemarin aku tidak sempat melakukannya. Sore nanti, akan ada pertemuan warga di balai desa seperti yang diusulkan Pak Apin kemarin. Aku akan mengedukasi warga desa dengan menjelaskan tentang krisis iklim, dampaknya di desa, dan apa yang dapat dilakukan untuk mengatasinya.

Dari kejauhan mata coklat ini melihat Bu Dian—ibu dari Danu—temanku saat sekolah dasar. Kami tidak terlalu dekat, tapi aku berteman baik dengannya. Aku jarang mendengar kabar tentangnya, maka aku melangkah mendekati Bu Dian, sekadar bertanya tentang kabar beliau dan putranya itu.

“Selamat siang, Bu Dian,” ucapku saat mendekatinya dan menjabat tangannya.

“Selamat siang juga, Baskara. Apa kabar, Nak?” tanya beliau dengan senyum lembut.

“Baik bu. Bagaimana dengan Bu Dian dan Danu?” balasku.

“Baik. Danu… ibu tidak tahu bagaimana kabarnya,” jawab Bu Dian dengan senyumnya yang memudar.

“Ada apa dengan Danu, Bu?”

“Setelah desa kita mengalami kekeringan dan gagal panen, Danu memutuskan pergi ke ibu kota. Mungkin kamu tidak pernah bertemu dengannya di sana. Tapi sejak ia pergi dengan alasan mencari nasib hidup yang lebih baik, Danu jarang memberi kabar kepada ibu. Bahkan ia pernah lupa memberi kabar sampai ibu sangat khawatir. Sejak itu Danu tidak pernah sekalipun berkunjung ke desa dengan alasan sangat sibuk dengan pekerjaannya di sana. Ibu sangat khawatir, Baskara. Ibu sangat rindu dengan Danu,” ujar Bu Dian mulai menangis.

Aku terdiam. Satu hal yang kusadari, bahwa dampak perubahan di desa kami bukan hanya berdampak pada kegiatan ekonomi, namun juga kehidupan keluarga. Terjadi keretakan dalam hubungan Bu Dian dengan Danu. Aku tidak pernah bertemu Danu di ibu kota, bahkan aku baru saja mengetahuinya yang juga pergi ke ibu kota.

Aku mencoba menenangi Bu Dian yang terlihat sangat rindu dengan putra satu-satunya itu. Hatiku merasa sedih mendengar suara tangisan beliau yang begitu pilu. Tangisan Bu Dian mulai reda, aku membantunya kembali ke rumah, sehabis itu aku pamit pulang.

Sepertinya permasalahan ini memakan waktu lebih lama dari perkiraanku untuk diatasi.

*****

Dua hari berlalu, permasalahan di desa kami belum mulai diatasi. Pak Apin tiba-tiba jatuh sakit, warga desa terutama anak-anak semakin kekurangan makanan, serta hujan yang belum turun sedikitpun.

Aku sudah menemukan solusinya. Akan dibangun sumur desa untuk kebutuhan air bersih. Beberapa warga desa akan pergi ke kota untuk meminta bantuan kepada pemerintah. Namun hal ini sulit dilakukan dengan segala keterbatasan desa kami. Desa yang jauh dari kota, mobil truk kecil sebagai satu-satunya kendaraan yang kami punya karena bila menggunakan motor dari desa ke kota terlalu jauh dan memakan waktu lebih lama.

Sebagian warga desa pun tidak berminat untuk diajak bekerja sama. Padahal desa mereka juga mengalami gagal panen, namun mereka terlihat tidak peduli sedikitpun. Sebagian warga desa yang mendukung pun terus bertanya-tanya perihal masalah ini.

“Kapan kita akan memulai membangun sumur desa? Kebutuhan air bersih semakin berkurang,” kata salah seorang warga yang disetujui oleh warga lain.

“Kami sudah diedukasi, lalu kapan masalah ini dapat diatasi! Apakah dengan diedukasi saja, masalah ini sudah pasti terselesaikan? Anak-anak saya butuh makanan!” protes seorang ibu yang sedang mengendong anaknya.

Banyak warga yang mendesak agar masalah ini segera diselesaikan. Sayangnya mereka hanya ingin berdiam dan menunggu. Mereka pikir dengan mendapatkan edukasi itu sudah ikut campur tangan. Padahal mengedukasi itu langkah pertama agar semua warga bisa diajak bekerja sama dalam menyelesaikan masalah ini. Kenyataannya, para warga menyerahkan semuanya kepada kepala desa dan hanya ingin menerima hasil.

Aku, ayah, ibu, dan kepala desa yang ikut berkumpul walau sedang sakit kewalahan. Situasi semakin kacau. Protes warga semakin riuh, tidak membantu apapun. Orang-orang yang bertugas mengurus desa pun ikut kewalahan. Keadaan semakin kacau.

“Berhenti!” teriak Pak Apin yang seharusnya beristirahat memilih turun tangan mengatasi protes warga.

“Masalah ini tidak bisa diselesaikan tanpa bantuan semua warga desa. Para warga diedukasi itu untuk membantu pemahaman kalian mengenai krisis iklim. Jangan kira dengan diedukasi saja sudah cukup, lalu menyerahkan segalanya ke tangan kami!”

“Kami butuh campur tangan kalian! Kami butuh bantuan kalian! Kami butuh kerja sama kalian!”

“Kita harus menyelesaikan permasalahan ini bersama-sama! Bukan hanya satu-dua pihak, tapi semuanya terlibat! Demi desa kita! Demi generasi masa depan. Demi kita semua!”

Pak Apin buka suara. Semua warga yang berkumpul terdiam. Kepala desa kami yang sedang sakit melibatkan diri. Ia tidak bisa hanya diam saja dan membiarkan protes warga terus berlanjut.

“Protes tidak akan membantu masalah ini selesai. Dengan kerja sama semua pihak, saya percaya masalah ini bisa diselesaikan. Ini tanggung jawab kita semua!”

Pak Apin berkata dengan tegas. Sangat tegas hingga keadaan yang ricuh menjadi hening. Seluruh warga seakan-akan disadarkan oleh perkataan Pak Apin. Beberapa mengiyakan bahwa protes menambah masalah, bukan menyelesaikan masalah.

Pak Apin kembali angkat bicara. Beliau menjelaskan apa yang perlu seluruh warga lakukan. Rencana membangun sumur dan warga yang akan pergi ke kota. Banyak rintangan di depan sana. Namun itu tidak melenyapkan semangat Pak Apin. Ia yakin desa kami bisa mengatasi masalah ini bersama-sama.

Semua terlibat. Bukan satu dua pihak. Bukan satu dua orang.

Warga yang awalnya tidak ingin membantu, warga yang melakukan protes, warga yang merasaksan kesedihan dan kesulitan, menjadi ikut termotivasi melihat semangat kepala desa kami.

Mereka menawarkan diri membantu. Apa saja asalkan ikut berpartisipasi. Tentu saja diterima dengan tangan terbuka karena bantuan seluruh warga sangat diperlukan.

Perasaan terharu kurasakan. Perjuangan ini masih panjang. Perjuangan untuk menyelamatkan desa kami. Perasaan terharu digantikan dengan perasaan sedih dalam hatiku. Aku teringat, dua hari lagi aku harus kembali ke ibu kota. Tersisa dua hari lagi aku bisa membantu para warga. Rasanya tidak ingin kembali, namun pekerjaan menungguku. Mau tak mau, aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja.

Aku akan melakukan yang terbaik. Aku akan membantu apapun yang kubisa.

*****

Pagi ini, seluruh warga berkumpul di balai desa. Hari ini akan dimulai pembangunan sumur desa. Juga ada beberapa warga yang akan pergi ke kota dengan kendaraan seadanya. Para warga mulai melakukan kegiatan hari ini sesuai dengan tugasnya masing-masing.

Anak-anak yang berlarian, para ibu yang menyiapkan makanan dan minuman, dan para ayah yang sibuk dengan pekerjaannya. Aku ikut membantu para warga yang bekerja di desa. Memberi bantuan sebisaku, sebelum siang nanti aku akan mulai mengemas barangku untuk kembali ke ibu kota.

Aku ingin menikmati waktuku di desa yang tersisa dua hari lagi. Pekerjaanku pasti akan semakin sibuk dan jarang sekali aku mendapatkan libur atau cuti. Setelah pekerjaan ini selesai, aku ingin menghabiskan waktu dengan keluargaku. Sekadar bercakap-cakap dan berkumpul bersama setelah beberapa hari yang lalu aku tidak sempat melakukannya.

Banyak yang ingin kubicarakan dengan ayah dan ibu. Tentang kehidupan di ibu kota, dampak perubahan iklim di sana, perbedaan yang kurasakan saat hidup di desa dengan di ibu kota, dan banyak hal lainnya.

Aku ingin melepas rindu dengan mereka sebelum kesibukan datang.

*****

Hari yang tidak kuinginkan tiba. Hari kembalinya aku ke ibu kota. Hari kembalinya aku kepada kebisingan ibu kota. Hari kembalinya aku kepada sibuknya pekerjaan yang telah menunggu.

Bisa dibilang, aku tidak nyaman berada di ibu kota. Namun pikirku aku bisa mengatasi ketidaknyamanan itu dengan hal yang kusukai. Aku juga bisa mengatasi krisis iklim dengan cara sederhana yang mampu kulakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Sedari awal aku yang memilih berada di ibu kota, maka sekarang aku harus menjalaninya. Suka tidak suka. Harus dijalani.

Aku berpamitan kepada ayah dan ibu, Pak Apin, serta para warga. Huft, tidak rela rasanya, kata batinku. Salah satu warga akan mengantarkanku ke kota dengan motornya. Sekali lagi, netra ini menatap pemandangan desa. Hati ini memohon agar semuanya dapat berjalan dengan baik.

“Sampai jumpa!”

Aku melambaikan tangan kepada mereka. Semoga desa kami bisa pulih dan bangkit kembali dari dampak krisis iklim ini. Semoga hujan bisa segera turun dan membasahi kekeringan desa ini. Semoga udara segar bisa terasa lagi. Semoga kehidupan desa dan generasi mendatang bisa lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *