Cerpen #135; ” Eksistensi yang Tak Berarti”

Awan debu memenuhi pemandangan dari jendela tua itu. Kacanya bergetar kencang, angin kuat menghantam terus jendela tersebut. Cahaya matahari yang terik menyinari kayu tua gubuk ini, membuat ruangan di dalamnya panas setengah mati. Aku mengenakan kain tebal yang kubawa pada kepalaku, mengantisipasi kaca itu pecah, menyebabkan debu berhembus memasuki ruangan.

Aku tak bisa di sini lebih lama, pikirku. Kondisi wilayah ini semakin hari semakin memburuk. Bertahan hidup menjadi sangat susah. Menemukan air membutuhkan waktu yang sangat lama untuk hasil yang sangat sedikit. Makanan menjadi langka. Cuaca menjadi lebih tak terprediksi dan ekstrem. Udara terasa beracun untuk dihirup, walaupun sekarang sudah berkurang karena tidak ada lagi industri yang berjalan.  Bumi telah menjadi dataran yang tidak bisa ditinggali. Hanya penyintas sepertiku yang berusaha tetap hidup di sini.

Sudah lebih dari 100 tahun manusia dengan ambisinya mencoba mengendalikan iklim. Kondisi bumi yang sudah di ambang kehancuran membuat mereka nekat mencoba sesuatu yang tak pernah diujikan sebelumnya. Mereka mencoba untuk membuat teknologi yang bisa merubah iklim dan membuat Bumi dapat bertahan lebih lama. Tapi percobaan itu gagal total. Alat yang digunakan tidak kuat bertahan di atmosfer. Benda itu hancur berkeping keping, membuat semua bahan kimia yang ada di dalamnya menyebar di udara. Kandungannya menyebabkan siklus iklim kacau, membuat cuaca tidak menentu dan ekstrem. Angin kencang dan hujan deras mengisi hari hari setelah tragedi itu. Seketika semua aktivitas manusia terhambat, hanya kendaraan khusus yang bisa keluar dari perlindungan gedung gedung kokoh.  Wilayah tempat tinggal yang berada di dataran rendah tenggelam, membuat ratusan ribu orang mengungsi. Kota padat dengan orang orang yang tidak bisa ditampung. Yang tidak mendapatkan perlindungan ditinggal pada belas kasih alam yang meluapkan amarahnya. Sebulan setelah kejadian itu, iklim berubah lagi, matahari terik menggantikan awan abu yang memenuhi langit. Sejak saat itu, iklim terus berubah tidak pasti, membuat segala perbuatan manusia terhenti dan datangnya kehancuran peradaban.

Begitulah awal semua ini. Yah, itulah manusia. Merusak. Menghancurkan. Dan ketika ingin memperbaiki, yang datang hanyalah lebih banyak kerusakan.

Aku bergegas membawa barang barangku, bersiap pindah dari rumah kosong ini karena badai debu telah reda. Waktunya untuk berpindah ke area yang lebih stabil. Sepertinya kawasan utara memiliki situasi yang lebih mendukung, walaupun saat malam suhunya bisa mencapai -21 C.  Terik matahari langsung terasa membakar kulit yang tidak tertutup oleh kain ketika aku melangkah keluar dari pintu tua bangunan itu. Gelombang panas membuat mukaku kering, tenggorokanku yang belum mencicipi air terasa pecah ketika aku bernapas. Aku harus bertahan. Aku sudah berjanji. Pikiran itu memotivasiku untuk terus melangkah menuju sektor utara. Aku hanya bisa berharap tidak akan ada badai di perjalanan.

Matahari berada di ujung horizon ketika aku melihat bangunan yg masih terlihat bagus, kilau besinya berkilat di lahan tandus ini. Aku telah sampai di tempat peristirahatan. Sebuah safehouse. Akhirnya aku bisa berhenti di perjalananku. Satu malam dengan keadaan yang nyaman, atau apa yang bisa disebut nyaman pada masa ini. Engsel berderak ketika aku membuka pintu. Aku mencari saklar lampu dalam kegelapan ruang itu. Saat akhirnya aku menemukannya dan cahaya bersinar pada seluruh ruangan, kulihat persediaan konsumsi yang ada dalam tempat penyimpanan telah terkuras habis. Kecewa dengan penemuan ku, aku bergegas ke kamar istirahat, di mana tubuhku langsung ambruk seperti pohon yang ditebang.

Cahaya matahari pagi menembus kaca, menyinari ruang istirahat. Aku terbangun, merasa sangat lapar dan haus, energiku habis setelah berhari hari tidak menemukan makanan maupun minuman. Tapi aku harus terus berjalan menuju tujuan, walaupun tak tentu apa yang aku tuju. Mungkin saja perjalananku tidak berarti. Mungkin yang aku tuju hanyalah lahan tandus yang sama dengan tempat semula. Kuabaikan pikiranku itu, karena kunci bertahan di masa ini adalah harapan. Dan hanya secercah harapan yang aku punya, menghadapi ketidakpastian hidup ini.

Panas matahari menyengat kulitku ketika aku keluar dari pintu walaupun hari masih pagi. Gagangnya terasa membakar tanganku ketika kututup kembali. Rasanya sangat sakit ketika aku bernapas. Tapi kupaksakan tubuhku untuk terus melangkah, setiap pijakan kaki serasa meremukkan tubuhku.

Setelah berlalu apa yang kurasa sebagai seabad, aku melihat aliran sungai di depan. Tubuhku langsung bersemangat menuju air. Akhirnya. Kubayangkan betapa enaknya bisa membasahi kerongkonganku. Ketika aku hendak mengisi wadah air, aku menyadari bahwa yang kulihat bukanlah aliran sungai, melainkan bekas aliran limbah industri 100 tahun lalu yang masih membekas, tidak terurai walaupun sudah sekian lamanya ditinggalkan. Aku berkutuk dalam hati. Angan angan untuk bisa mencicipi air masih terngiang di kepala. Tubuhku jatuh ke tanah, kecewa atas penemuanku.

Aku memaksakan kakiku menopang lagi tubuhku yang sudah lemah setelah berhari hari tidak mengonsumsi apapun. Tekad kuat menyanggaku untuk terus melanjutkan perjalanan. Aku tak akan berhenti di sini. Menyerah bukanlah opsi. Aku merasa marah terhadap kondisi dunia ini. Kenapa bisa jadi begini? Kata orang, dulu Bumi adalah tempat yang hijau dan sejuk di mana orang bisa menikmati setiap hari kehidupan mereka. Mengapa sekarang berubah menjadi hamparan tandus dengan kondisi yang tidak mendukung kehidupan? Orang bilang, itu hasil dari keserakahan manusia untuk menjadikan diri mereka lebih kaya. Tapi entahlah, aku tidak hidup pada masa itu, hanya mendengar cerita turun temurun dari orang orang yang aku temui.

Matahari sudah di ujung cakrawala tetapi aku masih belum sampai ke tujuan ataupun menemukan safehouse lagi. Terpaksa harus membuat tempat peristirahatan sendiri. Aku berlindung pada kerangka pohon yang berada di dekatku. Aku mematahkan beberapa batang dan membuat pelindung di sekelilingku. Kuhamparkan kain yang biasanya kupakai untuk menutupi tubuh di tengah pelindung tersebut dan berbaring diatasnya. Aku berusaha untuk beristirahat. Ketika akhirnya mataku memberat, aku memohon kepada Tuhan agar memberiku belas kasihan.

Aku terbangun oleh rasa perih yang ada pada tanganku. Seperti butiran kecil yang menghantamku dengan cepat. Aku langsung menyadari apa yang terjadi. Badai debu. Kain tebal yang kupakai untuk tidur langsung kupakai untuk menutup kulitku. Tubuhku mengambil posisi seperti bola untuk mencegah debu mengenai mukaku.  Aku berusaha untuk tidak membuka mata, karena jika aku membukanya, debu yang masuk bisa membuatku buta. Aku hanya bisa berdoa agar badainya cepat selesai dan aku bisa melanjutkan perjalanan agar aku bisa bebas dari cuaca seperti ini. Tapi di sinilah aku, mencoba untuk bertahan dari serangan serpihan debu yang melayang dengan cepat, menutupi tubuhku seperti kawanan lebah yang terus menerus menyengatku. Rupanya permohonanku tadi malam tidak direstui.

Setelah berlalu apa yang aku rasa seperti se abad, sengatan debu berhenti. Aku berdiri, menepakkan debu yang ada pada sekujur tubuhku. Kulitku yang sempat terkena debu terasa sangat perih. Aku meludahi debu yang masuk ke dalam mulutku. Tidak ada waktu bagiku untuk memastikan bahwa aku baik baik saja. Aku harus segera mencapai sektor utara. Tidak boleh ada lagi hambatan. Saatnya tahap terakhir Langkah kakiku mulai terdengar pada saat matahari berada tepat di tengah langit, tak ada awan yang menghalanginya menyinari tubuh lemahku ini.

Ketika cahaya sore sudah berada di ambang kegelapan, aku melihatnya. Pos sektor utara. Tubuhku serasa tersuntik adrenalin. Dalam keadaan setengah mati, kakiku terasa hampang ketika aku melangkah menuju pos tersebut. Sedikit lagi. Hanya sedikit lagi. Tapi entah mengapa ketika aku mencoba berjalan menuju bangunan itu, jarak seperti tidak berubah.  Aku seperti terjebak pada lorong tak berujung. Kepalaku terasa sangat ringan. Pandanganku kabur, mataku menghitam. Aku merasakan tubuhku jatuh mengenai tanah. Rasa sakit menusuk leherku. Tulangku serasa remuk. Apakah ini akhir dari perjalananku? Ketika aku berada tepat di depan tujuanku? Aku merasakan kemurkaan yang mendalam pada dunia, pada manusia, pada diriku. Murka pada diriku karena telah jatuh di ambang keberhasilan. Tapi sudahlah, mungkin memang itu takdirku. Setidaknya aku berhasil mencapai sejauh ini.

Karena, walaupun sudah di ujung kematian, aku masih memegang secercah harapan di dalamku, harapan untuk bisa hidup di dunia yang lebih baik.

3 thoughts on “Cerpen #135; ” Eksistensi yang Tak Berarti”

  1. Bagus banget, diksi yang dipilih dalam membuat cerita ini puitis layaknya suatu puisi. Teruskan bakat anda kawan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *