Cerpen #134; “Pohon Mardi”

Tahun-tahun bergulir lebih cepat; kita menua tanpa pernah menyadarinya; dan segala hal yang kita perjuangkan rupanya bolak-balik tertumbuk pada jalan buntu bernama sia-sia. Kemarahan Mardi di pagi hari membuat rumahnya mendadak ciut dan berubah sesak. Ia kembali memperingatkan anaknya untuk kemudian hari, kalau lupa lagi menyiram pohon yang berada di tempat yang hanya mereka berdua yang tahu, ia akan meratakan jarinya hingga menjadi sama panjangnya. Hidup tidak lagi untuk dijalani sebegitu adanya, tapi sudah menjelma menjadi pertaruhan yang satu-satunya risiko kekalahan adalah cacat, bahkan kematian.

Lubang ozon di langit, sejak tahun 2021, terus membesar dan tak dapat terelakkan. Perjuangan Mardi, dan seluruh komunitas di dunia yang mempunyai visi yang sama, yaitu memberantas praktik eko-terorisme di muka bumi, pada akhirnya tunduk pada kondisi yang sudah jauh terlambat untuk ditangani.

Kini bumi sudah tak punya pelapis ozon dan atsmosfer yang cukup memadai untuk membuat manusia bertahan hidup tanpa bantuan apapun. Pohon-pohon hanya milik orang kaya yang sengaja menanamnya di atas gedung. Kala mereka ingin bertamasya dengan sumber oksigen bersih yang melimpah, cukup dengan menggelar tikar di bawah pohon-pohon tersebut.

Mardi dan sebagian besar populasi di muka bumi ini, tak akan mampu membeli bibit pohon, apalagi membeli medium penanamannya. Kini orang kaya dan miskin dibedakan bukan dari seberapa megah rumahnya, seberapa banyak mobilnya, ataupun seberapa besar uang yang ia keluarkan hanya untuk pergi berbelanja, tapi dibedakan oleh satu hal ini: apakah ia mempunyai pohon atau tidak.

Tahun-tahun seperti ini justru gedung dan lahan tambang yang tumbuh liar di tengah kawasan hutan. Tak ada lagi pohon di sepanjang jalan, tak ada lagi area persawahan yang membentang seluas pandangan, tak ada lagi hidup yang bisa dijalani dengan penuh kebersyukuran meski hanya punya pohon mangga dan satu petak sawah. Tahun-tahun saat ini, harapan hidup menjadi gejolak emosional yang paling dihindari. Kalau boleh memilih, bayi-bayi itu mungkin tak ingin dilahirkan apabila tahu bagaimana tempat di mana ia akan hidup, sudah seperti tempat sampah.

“Maafkan Bapak, pagi tadi Bapak terlalu keras memperingatkanmu. Tapi satu hal yang perlu kamu tahu, pohon itu satu-satunya harapan yang kita punya. Bapak masih terus berjuang,” Tandas Mardi sambil memeluk anaknya, Aynaya. “Bapak harap kamu mengerti posisi kita ini,” Lanjutnya. Aynaya masih sesenggukan, dadanya berat menahan ledakan agar tak menangis.

“Sekarang bapak minta tolong belikan oksigen dalam kemasan, ya, Aynaya. Di apotek dekat pasar itu. Beli tiga. Satu buat Bapak, dua buat Aynaya,” Kalimat itu meluncur landai dan lembut, cukup membuat Aynaya mendongakkan kepalanya dan membuat lengkung di bibirnya. Oksigen dalam kemasan, lagi-lagi pada tahun-tahun seperti ini, serupa jajanan paling menakjubkan yang didambakan.

Aktivitas sepenuh hari yang mendesak kita memakai masker lapis dua, kemudian pulang ke rumah dan melihat oksigen dalam kemasan masih tersegel di atas meja makan, merupakan kebahagiaan yang sangatlah pantas diungkapkan. Aynaya, sering kegirangan apabila mendapati kejadian tersebut.

Kau bayangkan sendiri saja: keluar rumah tanpas masker artinya adalah memasrahkan paru-paru kita ditanami bibit kanker. Polusi asap pabrik, pembakaran mesin bermotor, dan pembangkit listrik yang tak ramah lingkungan, beterbangan hingga menjadikan penglihatan berubah kecoklatan. Fenomena itu kemudian dijelaskan dengan analogi bahwa sinar matahari terpantul oleh partikel-partikel yang terus berkelindan dengan jumlah maha banyak, sehingga citra persepsi di penglihatan manusia menjadi cenderung berwarna sesuai warna partikel itu sendiri.

Dengan kata lain, kegiatan bernapas di muka bumi sudah tidak lagi bisa dilakukan secara sembarangan, membutuhkan filter untuk menyarikan oksigen dan memisahkannya dengan debu, asap, serta partikel lain yang entah. Risikonya, kita tak dapat bernapas dengan leluasa dan penuh kelegaan. Sebab itulah, oksigen dalam kemasan, menjadi rekreasi bernapas yang menyenangkan.

Sayangnya, oksigen dalam kemasan, apabila digunakan secara rutin sebelum tidur dengan estimasi 5-10 hirup, akan habis maksimal 4 hari. Satu kaleng kemasan oksigen tersebut rata-rata seharga 50 ribu. Jadi, untuk bernapas dengan kegembiraan selama satu minggu, setidaknya kita perlu merogoh kocek mencapai 100 ribu. Lihat? Apa yang aku katakan adalah asumsi paling dekat dengan istilah “jajanan yang menakjubkan dan paling didambakan.”

Sebagian kalangan yang tak memiliki dana alokasi untuk membeli oksigen dalam kemasan, hampir bisa dipastikan ia meninggal dengan penyebab utamanya adalah kanker paru-paru. Kehidupan, sekali lagi, pada tahun-tahun ini, seolah dapat kita petakan cetak birunya: orang kaya raya yang mempunyai pohon di atas gedung akan mati karena tua, orang miskin akan mati karena kanker paru-paru. Tak ada lagi penyakit selain dua itu.

“Asiiik, aku akan tidur dengan nyenyak malam ini. Terima kasih, Bapak,” Aynaya jingkrak-jingkrak selepas menanggalkan maskernya dan menyerahkan oksigen dalam kemasan kepada Mardi.

“Iya, sama-sama. Tapi, jangan dilupakan kalau kamu punya tugas, ya. Apa coba, tugasmu?” Mardi berdiri, membungkuk di depan Aynaya sambil mengacak-acak rambutnya.

“Menyirami pohon setiap pagi, merawatnya dengan sepenuh hati. Iya, kan, Pak?”

“Betul. Rawat pohon itu seperti Bapak merawat kamu. Kelak, kamu akan tahu bagaimana rasanya mempunyai anak. Anakmu adalah pohon itu, Aynaya, hahaha.. ” Kekeh Mardi sembari berlalu ke dapur. Aynaya manyun, lantas menangkupkan tangannya ke depan bibirnya. Ia menahan tawa. Geli.

Sapu angin pada sore hari benar-benar membuat sampah plastik beterbangan, sungguhan menambah citra bumi seperti tempat sampah. Namun, sore itu angin berhembus tidak seperti biasanya. Sedikit lebih kencang. Plastik pembungkus berputar bersama debu, pasir, dan angin. Putaran itu terus mengangkasa hingga beberapa jatuh di atas atap rumah Mardi.

Tak lama kemudian, seketika saja hujan turun deras. Hujan yang tanpa pendahuluan gerimis. Hujan lebat yang seperti jeruji-jeruji tipis dan memenjarakan tiap orang di rumahnya masing-masing. Gelegar petir menyambar dengan dentum yang teramat nyaring. Sesekali dentumannya memanjang seperti drum yang dipukul perlahan namun konstan.

Kali itu ketahanan atap rumah Mardi diuji. Dan rupanya ia tak lolos dari ujian hujan. Mula-mula air hujan merembes dari plafon, lantas muncul lelehan dari tiap tepinya, mengalir ke bawah dari dinding rumah. Mardi maupun Aynaya sibuk menyiapkan baskom dan ember untuk diletakkan tepat di bawah air hujan yang lolos dari atap.

Hujan ini jauh dari perkiraan Mardi. Jauh juga dari perkiraan bibit pohon yang ia sembunyikan di ujung loteng rumahnya. Pot bibit pohon satu-satunya itu tergenang air hujan dan Mardi maupun Aynaya nampaknya lupa bahwa ia akan mati bila kelebihan air. Sejurus kemudian, Mardi baru teringat mengenai apa yang baru saja aku katakan. Ia tergopoh menaiki tangga, hendak menyelamatkan bibit pohon itu.

“Naya, urus di bawah dulu. Bapak mau mengamankan pohon kita!” Teriak Mardi di tubuh tangga. Aynaya mengangguk sambil tetap menggarut lantai yang basah sebab cipratan air yang jatuh ke ember. Rumah adalah tubuh mereka, bibit pohon di loteng adalah harapan mereka. Keduanya sama penting yang meskipun harus nyawa taruhannya.

“Naya, jaga baik-baik dirimu. Panjangkan lagi harapan hidup dan harapan pohon-pohon lain yang akan kamu rawat nanti,” Kalimat Mardi terucap dengan tidak baik. Tersendat-sendat. Barangkali sebab punggungnya yang terhantam lantai ketika hendak meraih pot bibit pohon itu namun ia terpelanting jatuh. Suaranya sengau. Ia terlentang dengan pot bibit pohon yang masih berada di pelukannya. Matanya membelalak tegar meski didera air hujan. Mulutnya menganga tegang dan akar bibit pohon itu menembus tubuhnya, seolah-olah memeluk Mardi di ujung ajalnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *