Cerpen #133; “Cerita dari Jakarta”

“Pemirsa, pada hari ini tanggal 26 september 2021 telah terjadi sebuah aksi yang dilakukan oleh para kaum milenial yang bertema tolak bala, stop bencana. Aksi ini terjadi di Dukuh Atas, Jakarta. Mereka memprotes ketidakbijakan pemerintah dalam menghadapi krisis alam yang sudah mulai terjadi pada saat ini” ungkap seorang pembawa berita pada siang itu. Siang ini matahari Jakarta sudah sangat panas, mendengarkan suara pembawa berita bisa tambah panas ungkapku dalam hati. Sudah pulang sekolah kepanasan, mendengarkan teriakan kondektur angkot membuat suasana semakin panas . Aku ingin pulang ke kehidupan dulu, kehidupan yang membawa ketenangan jiwa dan pikiran.

Aku dan keluarga merupakan warga pindahan dari kampung, lebih tepatnya di Sukabumi. Kami memutuskan pindah karena keluarga kami terlilit hutang dan tidak mampu untuk membayarnya. Bermodalkan sebuah alamat, kami pun berkelana di kota ini. Bibi awalnya menerima kami dengan baik, akan tetapi setelah satu bulan, ayah belum juga mendapatkan pekerjaan. Kami merasa menjadi beban dan malu kepada keluarga bibi, maka dari itu kami memutuskan untuk mencari kontrakan. Kami memutuskan untuk mencari kontrakan yang sesuai dengan budget yang ada, dan pada akhirnya kami menemukan sebuah kontrakan yang hanya tediri dari 3 ruang. Walaupun tidak besar, akan tetapi cukup untuk kami bertiga. Dan kontrakan ini menjadi saksi hidup pahit manis keluarga ini.

Terhutung sudah 4 tahun kami menetap di Jakarta, kini aku duduk di kelas 11 SMK Swasta di Jakarta dan aku adalah seorang penerima beasiswa. Tanpa beasiswa mungkin aku tidak akan pernah bisa merasakan bangku sekolah. Sebetulnya aku tidak ingin melanjutkan sekolah, akan tetapi ayah memaksaku untuk tetap sekolah. Ayah selalu mengatakan bahwa “Ayah sarjana loh, masa anak ayah di bawah ayah.” Ini adalah situasi yang aku benci, kenapa ayah harus mengalami kebangkrutan disaat aku masih sekolah.

Di bangku SMK aku sangat aktif di organisasi, salah satunya yaitu organisasi pecinta alam atau sispala. Organisasi ini mengajarkan aku untuk lebih dekat dengan alam. Kami memiliki rutinitas yang akan dilakukan satu bulan satu kali, yaitu pergi ke lingkungan yang membutuhkan perhatian lebih dalam memnghadapi krisis iklim, sepeti hutan gundul yang kemudian kami tanamkan pepohonan. Kami juga sering menanam pohon mangrove atau bakau di pesisir Jakarta. Kota ini sudah diisukan menjadi kota tenggelam pada tahun 2050, maka dari itu sebagai kaum milenial dan penerus bangsa kami berusaha untuk mengulur waktu tenggelamnya Jakarta dengan menanam pohon bakau tersebut.

Setelah pulang sekolah biasanya aku akan meluangkan waktu untuk mengajar les privat, walaupun hanya baru ada 3 siswa yang mendaftar. Setidaknya aku tidak membiarkan ayah untuk bekerja terlalu keras untuk menghidupi aku dan ibu. Les privat dilakukan setiap 3 kali dalam satu minggu, dan tarif perjam hanya Rp. 5.000. Jika dulu kami tinggal di kontrakan yang sempit, pada tahun ke-empat ini kami sudah pindah ke perumahan dimana tempat ini lebih layak dan nyaman dari tempat sebelumnya.

Ketika malam hari, ayah, ibu dan aku selalu menyempatkan diri untuk berkumpul dan bercerita mengenai aktivitas yang dilakukan. Walaupun terkadang bosan, tapi momen inilah kita bisa bercanda dan ngobrol ringan.

“Nak, kamu tadi bagaimana sekolahnya lancar?” Tanya ibu yang memulai pembicaraan.

“Alhamdulillah lancar, bu. Ibu sama ayah bagaimana tadi nggak ada kesulitan sama sekali kan?”

“Alhamdulillah ndak, ayah tadi abis liat berita di TV kalau banyak anak muda yang aksi di dukuh atas. Kamu ndak ikut kan?” Tanya ayah yang ingin memastikan kalau anakanya tidak mengikuti aksi tersebut.

“Aku ndak ikut yah, iya kan bu? Wong tadi aku pulang jam 1 siang, langsung pergi ke rumah bu Mirna buat ngajarin anaknya.”

“Iya yah, bener kok yang dikatakan Lila”

“Baik kalau gitu, inget selalu pesan ayah ya nak. Ayah cuma punya kamu, ayah takut nanti kamu bentrok sama polisi terus terjadi apa-apa.”

“Iya ayah aku akan inget pesan ayah.”

Hari ini adalah hari minggu, dimana ayah, ibu dan aku berhenti melakukan aktivitas di luar rumah. Pada minggu ini kami akan menggunakan hari minggunya untuk beberes bersama. Ayah membersihkan halaman depan, aku dan ibu akan membersihkan dalam rumah sekaligus membuat cemilan. Setelah beres, biasanya kami akan duduk bersama di teras sambil istirahat.

Minggu kini sudah berganti menjadi senin, matahari menyambut kami dengan cerah. Karena aku bersekolah di sekolah swasta, aku tidak menjalankan sekolah secara onlline. Jumlah siswa sekolah kami hanya sedikit, menerapkan protokol kesehatan ataupun tidak akan sama saja karena ruang kelas yang besar sangat cukup untuk menampung kami yang hanya berjumlah 15 orang.

Di komplek perumahanku, ada tetangga yang bersekolah disana juga namanya Dina. Jadi pada hari senin ini aku berangkat bersama Dina. Dina adalah adik kelasku, orangnya sangat mudah untuk diajak ngobrol. Pagi ini kami berangkat sekolah dan ditemani obrolan yang tidak membosankan. Kami bercerita tentang kegiatan sekolah, guru tergalak, prestasi hingga most wanted di sekolah. Tak terasa kami sudah tiba di sekolah, aku dan Dina berpencar ke kelas masing-masing. Sesampainya di depan kelas, Dita sudah bertengger di depan pintu

“Lila, siang ini kita rapat di ruang sispala. Ada yang mau didiskusiin sama anak-anak.”

“Dit, baru juga masuk kelas udah ngomong aja. Salam dulu kali. Semangat banget, pengen ketemu siapa sih?” godaku.

“kagak ada tuh, gua cuma mau nyampein amanah dari bang Dio kalau lu suruh kumpul. Lu kan jarang kumpul, kerja aja hobinya. Tipes baru tau rasa lu.”

“Gak apa-apa kali, gua yang kerja ngapa lu yang sewot.” Beginilah aku ketika mengobrol bareng Dita, yang selalu merubah panggilan menjadi gua lu.

“iya, iya maaf. Lagian ngapain lu jarang masuk sih, masalah kerjaan?”

Aku pun mengangguk tanpa memberi jawaban.

“Tapi siang ini harus ada ya, pas jam istirahat kok.”

“Siap, makasih infonya Dita”

“Oke sama-sama”

Tepat pada jam 7 pagi, guru mata pelajaran pagi sudah masuk ke ruang kelas. 3 jam kemudian, bel sekolah sudah berdering begitu keras menandakan pelajaran harus segera diselesaikan. Setelah guru mata pelajaran keluar, kami bergerombol keluar kelas. Ada yang menuju kantin, perpusatakaan, lapangan, masjid ataupun ke ruang UKS. Tapi, aku dan Dita memutuskan untuk pergi ke ruang sispala untuk menghadiri rapat.

“Kemana aja kembaran abang baru datang? Sibuk atau sok sibuk nih?” sapa bang Dio

“Emang aku orang sibuk, abang baru tau ya wkwkkw” Candaku. Aku dengan bang Dio memang cukup dekat, terkadang aku dikira adiknya bang Dio karena kami sedikit memiliki kesamaan muka dan gestur tubuh. Setelah semuanya berkumpul, Bang Dio selaku ketua sispala memulai percakapan pada rapat kali ini.

“Baik langsung saja, kemaren ada yang tahu ada kejadian apa di dukuh besar?” tanya bang Dio pada pembukaan kali ini. Semuanya menggelengkan kepala menandakan bahwa mereka tidak tahu dengan yang terjadi kemarin.

“Kemarin di dukuh besar ada unjuk rasa yang dilakukan oleh pemuda karena memprotes ketidakbijakan pemerintah dalam menangani kasus krisis iklim. Semua orang yang ada disini pasti sudah tahu apa dampak dari krisis iklim tersebut. Krisis iklim ini sangat berpengaruh pada kehidupan masa depan kita. Apabila pemerintahnya saja tidak tegas dalam menangani krisis alam, maka Jakarta bisa saja tenggelam lebih awal dari yang sudah diperkirakan. Maka dari itu, kita harus bisa menyampaikan aspirasi kita di depan pemerintah. Rencananya akan ada aksi susulan yang dilakukan oleh siswa dan mahasiswa. Sebagai penggerak, kita juga harus mamou berbicara. Rencana aksi ini snagat menarik ditelinga saya, maka dari itu saya mengajak teman-teman semua untuk sama-sama bepartisipasi dalam kegiatan itu. Aksi akan dilakukan minggu depan, maka untuk satu minggu ke depan kalian usahakan untuk meminta ijin kepada orang tua. Baik apakah ada yang ingin ditanyakan?”

“Tidak ada bang” Jawab kami serentak.

“Oke, kalau kalian malu untuk bertanya di forum ini, kalian bisa bertanya kepada saya kalau tidak kak Lila ya. Untuk surat ijin orang tua dan dispensasi  menyusul. Terima kasih semuanya sudah meluangkan waktu pada rapat kali ini, semangat belajarnya. Sekarang kalian boleh kembali ke kelas masing-masing dan untuk Lila tetap disini ya!” Semua orang sudah keluar ruangan, tersisa aku dan bang Dio.

“Kenapa bang? Jangan lama-lama ya, aku ada kelas lagi ini”

“Oke kembaran abang. Kita kan bakalan ada aksi, kamu ikut ya. Masa panitia gak ikut?”

“Aku nggak bisa kayaknya bang, abang tau sendiri kan ayah gimana kalau aku ikut. Kalaupun guru yang bilang pun gak akan dibolehin bang.”

“Abang coba dulu buat ngomong ke ayah, nanti abang anter kamu pulang sekalian abang minta ijin. Gimana boleh?”

“Jangan bang, ayah paling nggak suka teman cowok masin ke rumah. Abang gak usah ikut campur ya, nanti aku usahakan buat minta ijin kok”

“Oke deh kalau begitu, abang tunggu kabar baiknya.”

Setelah mengobrol dengan bang Dio, aku langsung pergi ke kelas dan melanjutkan kelas. Hari ini kelas sampai jam 2 sore, setelah selesai kelas aku pulang dan langsung menuju rumah mbak Indah. Mbak Indah yaitu orang tua dari anak yang aku ajar les-privat.

“Assalamu’alaikum, Mbak Indah.”

“Waalaikumsalaam, Oalah Lila. Masuk aja ya!”

“Baik mbak, Rina sama Ran udah pulang mbak?”

“Udah Lila, masuk aja ke kamarnya ya.”

Sesudah dipersilahkan, aku langsung memasuki kamar Rina dan Rani dan melanjutkan materi kemarin. Hari ini aku hanya mengajar 2 siswa saja, satu siswa lagi tidak mengikuti les-privat karena masih sibuk di sekolah. Kali ini aku hanya mengajar selama 2 jam saja. Setelah pamit aku langsung pulang dengan berjalan kaki. Rumah aku dan Mbak Indah hanya tertutup oleh 5 orang.

Sesampainya di rumah aku  dikagetkan dengan keberadaan Bang Dio.

“Bang Dio ngapain kesini?”

“Lila ini pacar kamu?”

“Bukan ayah, ini senior aku. Siapa yang bilang ini pacar aku? Aku gak ada pacar ayah, percaya deh!”

“Iya ayah percaya. Nak Dio ada urusan apa kesini?”

“Saya mau minta ijin, di sekolah kami kan ada aksi mengenai krisis iklim. Tempatnya tidak begitu jauh dari sekolah, dan kebetulan Lila terpilih menjadi panitia di aksi kali ini. Apa Lila boleh ikut aksi om?”

“Maaf banget nak Dio, saya nggak akan ijinin Lila buat aksi.”

“Kenapa Om? Bukannya krisis iklim sangat terasa sekoali dampaknya bagi negara kita, khususnya kita di Jakarta. Om pasti sudah tahu itu.”

“Betul sekali nak Dio, saya mengapresisasi aksi yang akna dilakukan kalian, akan tetapi Lila anak semata wayang kami dan nak Dio pasti mengerti apa saja yang terjadi ketika aksi.”

“Saya berjanji untuk menjaga Lila om.”

“Apa kamu bisa menjamin Lila? Dan mohon maaf saya tidak bisa. Lila kamu silahkan masuk ke kamar dan Nak Dio silahkan pulang, pagar rumah kami sudah terbuka lebar!”

“Baik om, terima kasih. Saya mohon Om bisa mengijinkan Lila buat ikut aksi, mohon dipikirkan lagi ya om.”

Aku yang melihat bang Dio pulang sia-sia miris rasanya.Sejujrunya aku ingin sekali mengikuti aksi tersebut, tapi apa daya keputusan ayah yang tidak bisa diganggu gugat sama sekali. Ayah sangat keras kepala dan sifat keras kepalanya menurun ke aku.

Pagi harinya aku berangkat sekolah dengan membawa baju yang banyak, aku sudah bertekad untuk kabur dari rumah. Rencananya aku akan pergi ke rumah Dita, dan untuk les-privat aku sudha konfirmasi ke mbak Indah untuk diliburkan dulu dengan alasan sibuk tugas. Ketika akan berangkat rumah sangat sepi, ayah pergi bekerja dan ibu pergi ke pasar. Aku menyimpan surat di pintu lemari es sebagai tanda pamit aku.

Setelah menyimpan surat tersebut, aku langsung pergi dari rumah. Tujuanku hanya satu hindari sekolahan dan setelah jam pulang sekolah aku akan menelpon Dita dan meminta ijin untuk menginap di rumahnya. Tempat yang aku tuju kali ini yaitu perpustakaan daerah yang tidak begitu jauh dari rumah Dita. Aku akan menunggu Dita di depan perpustakaan ini.

Pagi ini ibu sudah tiba dari pasar lebih cepat dari biasanya, karena memang perasaannya sudah tidak enak mengenai Lila. Setelah tiba dari pasar, Ibu langsung mengecek kamar Lila. Kemudian beliau beranjak ke dapur untuk menyimpan sayuran yang sudah dibeli tadi pagi. Ketika kulkas akan dibuka, ibu melihat sebuah surat.

 

Untuk Ibu danAyah

 

Ibu dan ayah, maafin Lila ya. Kalian jangan khawatirkan Lila. Lila akan baik-baik aja. Jangan cari Lila, Lila akan balik ke rumah kalau pikiran Lila sudah membaik dan ayah sudah mengijinkan aku buat ikut aksi nanti. Aku sayang ayah sama Ibu…………..

 

Lila

 

Setelah membaca surat ibu langsung menghubungi ayah, akan tetapi ayah tidak juga mengangkat panggilan tersebut. Tidak berpikir lama, ibu langsung menelpon wali kelasnya Lila.

“ Hallo, dengan pak Angga wali kelasnya Lila?”

“Iya ibu saya dengan Angga, ada yang bisa saya bantu?”

“Begini pak, Lila ada di sekolah tidak ya?”

“Sebentar bu, saya cek dulu ya.”

“Mohon maaf ibu, hari ini Lila tidak masuk sekolah ibu. Ada sesuatu yang terjadi dengan Lila bu?”

“Enggak ada pak, terima kasih.”

Setelah menelpon wali kelasnya Lila, ibu mencoba kembali menelpon ayah dan kali ini diangkat,

“Hallo ayah, Lila pergi yah. Lila nggak ada, di sekolah juga nggak ada.”

“Yang benar bu? Kemana anak itu. Ayah akan cari ke sekolah ya bu, semoga aja teman-temannya ada yang tahu keberadaan Lila.”

Perasaan ayah sudah tidak karuan, ayah merasa bersalah karena tidak mengijinkan Lila untuk ikut aksi. Setelah mendapatkan telpon, ayah beranjak menuju sekolah Lila dan mencoba untuk menanyakan keberadaan Lila kepada temannya dan Bang Dio.

“Mohon maaf pak satpam, boleh antarkan saya ke kelasnya Lila?”

“Bapak ayahnya Lila ya, baik saya antarkan. Mari pak” pak satpam mengantarkan ayah ke kelas XI Multimedia 3.

“Bapak ini kelasnya, saya pamit ya pak.”

“Terima kasih pak” ucap ayah yang kemudian masuk ke kelas. Disana terdapat pak indra yang sedang mengajar Matematika. Ayah mengajak pak Indra untuk keluar kelas dan menanyakan Lila. Pak Indra menjelaskan bahwa Lila tidak masuk hari ini tanpa keterangan. Mendapatkan informasi yang tidak puas, ayah menanyakan letak kelas bang Dio. Kemudian ayah pamit dan emncari ruang kelasnya Bang Dio. Kelas Bang Dio sedang tidak ada mata pelajaran, maka sangat mudah untuk mencari Bang Dio.

“Dio kamu tau Lila pergi kemana?”

“Aku nggak tahu om, di kelasnya nggak ada om?”

“Nggak ada, tadi om udah kesana.”

“Nanti aku cari Lila om, om ke kantor aja dulu. Kalau ketemu aku kabarin lagi.”

“Oke, saya tunggu kabarnya”

Setelah menanyakan Lila, ayah beranjak ke kantor karena masih banyak tugas yang belum diselesaikan. Walaupun dipenuhi rasa khawatir, ayah harus tetap bekerja karena ayah memiliki tanggung jawab disana.

Hari ini sekolah Lila pulang lebih cepat dari biasanya dikarenakan para dewan guru akna melaksanakan rapat beserta kepala sekolah. Bang Dio langsung pergi mencari Dita, karena setahunya Lila dekat sekali dengan Dita.

“Dita bukan? Tahu nggak Lila dimana?”

“Iya bang aku Dita, kalau Lila aku nggak tau bang. Dari tadi di telpon nggak diangkat.”

“Kalau dia ada telpon bilang ya!”

“Oke bang”

Tak lama setelah Bang Dio menghilang dari jagkauan mata Dita, Lila akhirnya menelpon Dita.

“Woy lu kemana aja? Ayah sama Bang Dio nanyain lu, buronan ya.”

“Panjang ceritanya, gua nginep di rumah lu nggak apa-apa ya. Jangan bilang kesiapa-siapa. Gua tunggu di depan perpustakaan yang deket rumah lu.”

“Siap Mbak Lila” Dita mengakhiri panggilan Lila dengan cengengesan.

Tidak tega membuat Lila semakin lama menunggu, Dita langsung pergi ke perpustakaan daerah untuk menjemput Lila. Ternyata seorang Lila yang kalem dan baik hati bisa kabur juga dari rumah, gumam Dita dalam hati. Akhirnya aku sampai di depan perpustakaan, aku melihat ada seseorang yang memakai hoodie sambil melambaikan tangan.

“Lila, bener Lila kan?”

“Bener lah bambang, gua Lila. Laila Permata Sari. Yuk pulang ke rumah lu, gua nunggu dari tadi tau.”

“Siap mbak.” Dua sejoli ini akhirnya menghilang dari perpusatakaan tersebut.

“Setelah nunggu dari pagi akhirnya gua nggak sia-sia ada yang mau nampung. Makasih banyak Dita”

“Sama-sama Lila, jangan sungkan kalau sama gua mah. Selagi ampu dan nggak ngeberatin gua, gua mau bantuin lu kok.” Tak lama kami sampai di depan rumah Dita. Rumah Dita lumayan besar daripada rumahku. Setelah sampai aku langsung meminta ijin ke ibu Dita dan memintanya untuk merahasiakan keberadaanku. Kemudian Dita mengajakku untuk ke kamarnya dan langsung mengintrogasiku.

“Lila buaat apa kabur sih, ayah nanyain loh ke gua tadi. Bang Dio juga. Gua bilangin aja aya kalau lu ada di rumah gua.”

“Jangan dong, gua disini cuma 2 hari doang kok. Lo boleh bilang ke ayah besok lusa, gimana?”

“Tapi janji Cuma 2 hari ya.” Aku mengangguk mengiyakan pernyataan Dita.

Dua hari kemudian, Dita menelpon ayah dan meminta maaf karena telah menyembunyikan Lila dari ayah selama ini. Rencananya ayah yang akan menjemput Lila pada hari ini. Setelah sampai di rumah Dita, ayah berlalri mendekati Lila dan memeluknya.

“Maaf nak, ayah seperti ini karena ayah punya trauma tersendiri mengenai aksi. Ayah pernah mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari oknum polisi, makanya ayah takut kamu seperti ayah. Maafin ayah ya nak.” Ayah akhirnya menceritakan alasannya tidak mengijinkan aku untuk mengikuti aksi.

“Ia ayah, maaf juga aku bentak ayah dan nggak mau dengar kata ayah. Berarti aku boleh ikut aksi yah?”

“Boleh nak, asalkan bang Dio sama Dita jagain kamu.

Setelah drama ini selesai, aku dan ayah berpamitan pada keluarga Dita dan langsung bergegas pulang. Sesampainya di rumah, ibu menyuruh kami masuk dan makan bersama. Ibu sudah menyediakan makanan yang banyak karena untuk menyambut aku yang sudah beberapa hari ini tidak pulang ke rumah.

Keesokan harinya, kami mulai menyiapkan peralatan yang akan dibawa aksi. Terdapat 35 siswa yang sudah mendaftar pada hari ini, rencananya kami akan bergabung bersama 10 sekolah dan 20 universitas yang akan berkumpul di dukuh atas. Aksi akan dimulai pada jam 9 pagi sampai dzuhur. Matahari sudah mulai tenggelam, semua orang sudah mulai berkemas dan bersiap untuk pulang.

Pagi ini, kami berkumpul di lapangan sekolah dan bersiap untuk pergi ke dukuh atas. Sebelumnya kami sudah memberikan surat dispensasi ke kelas masing-masing sebagai persyaratan tidak masuk sekolah. Setelah semuanya kumpul dan dipastikan tidak ada yang tertinggal, kami mulai bernagkat ke dukuh atas dengan ditemani seorang guru sebagai pembibimbing kami.

Hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu, hari yang pas untuk mengutarakan seluruh perasaan selama tinggal di kota ini, kota yang panas karena krisis iklim. Sepanjang perjalanan kami menyanyikan lagu nasional yang bis amenambahkan rasa cinta kami kepada NKRI. Pada kali ini perwakilan orator dari sekolah kami adalah aku sendiri dan Bang Dio. Mereka memilih aku dang Bang Dio karena mereka merasa aku pandai berbicara dan bertanggung jawab dalam mengutarakan pendapat.

Setelah semuanya terasa kondusif, aku dan Bang Dio mulai memegang toa dan memimpin jalannya aksi kali ini. Hari ini hari yang sangat berharga, hari dimana perjalanan seorang Lila yang akan dimulai. Lila ini akan menyuarakan semua permasalahn iklim yang terjadi di Indonesia khususnya Jakarta.

Krisis iklim ini memiliki dampak negatif. Adapaun dampak tersebut tidak akan hanya terasa pada hari ini saja, dampak ini akan terasa pada keturunan kita. Sudah seharusnya kita sebagai kaum milenial berani bersuara dan bergerak. Jangan hanya menjadi orang yang berani berkoar tapi takut bergerak, tapi jadlah orang yang berani berkoar dna bergerak. Karena Indonesia butuh aku, kamu, kalian dan kita semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *