Cerpen #132; “Mr.M”

Pemanasan global membawa dampak besar terhadap lingkungan. Hal itu membuat salah seorang generasi abad 23 yang merupakan korban dari pemanasan global bertindak. Namanya Tuan M. Ia mencoba membangkitkan elemen dasar dari bumi untuk membantunya melawan dampak pemanasan global. Eksperimennya  berhasil. Ia membuat kelinci dengan elemen api bernama Agon. Kuda laut elemen air namanya Leith. Burung dengan sayap kupu-kupu elemen angin, Tandewi. Tupai bertangan kepiting elemen tanah, Byan. Naga putih elemen cahaya, Askara. Mereka ditugaskan untuk memperlambat pencairan es di kutub selatan, menanggulangi pencemaran tanah, serta mencegah perluasan kebakaran hutan.

“Huh. Kakek nenek moyang manusia yang berulah, tetapi yang kena batunya anak cucunya.” gerutu Agon

“Sudahlah Agon,  jangan banyak menggerutu, kau akan tahu yang sebenarnya setelah kau terjun ke lapangan.” kata Tuan M mencoba menenangkan Agon.

Mereka kemudian menuju tempat masing-masing. Agon dan Tandewi sampai di Australia. Disana darah Agon mendidih melihat luasnya hutan yang terbakar.

“Apa yang akan kau lakukan Gon?”

“Tentu saja membakar habis manusia laknat yang berani merusak alam.”

“Kau gila! Jangan lakukan itu! Kau tahu kan, jika populasi manusia di muka bumi hanya tersisa 1000 jiwa.”

Agon hanya mendengus kesal. Ia berusaha melupakan amarahnya kemudian mengelilingi area hutan untuk memakan kobaran api yang kian membesar, sedangkan Tandewi mengubah arah angin agar area persebaran api tidak meluas.

“Ah aku sudah terlalu kenyang Wi.” keluh Agon.

“Sepertinya kau tak perlu makan api lagi Gon. Lihatlah! Apa yang kita lakukan sudah cukup untuk menjaga hutan yang tersisa. Tinggal satu tugas terakhir, yaitu menyadarkan manusia agar tak kembali berulah.”

“Syukurlah aku tak perlu makan lagi. Jika aku memaksakan diri, bisa-bisa aku hancur dan apa yang kulakukan menjadi sia-sia.”

Agon dan Tandewi kemudian menemui manusia yang berjumlah 50 orang di pedalaman hutan. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat kondisi manusia itu. Badan mereka kering ronta. Kulit mereka hitam legam. Mata mereka begitu sayu. Nafas mereka tersengal-sengal. Mereka tak lagi mempunyai mulut untuk berbicara, sebab manusia sudah berevolusi seiring perkembangan zaman. Tanpa banyak basa-basi Tandewi mengeluarkan hologram dan kacang telepati. Dengan sigap ketua kelompok mendekat dan menghirup kacang yang telah menjadi debu. Pembicaraan mereka tertulis dalam hologram guna diketahui oleh yang lainnya. Kebakaran terjadi sebab keteledoran ketua. Beliau ketika berkemah tidak memperhatikan jika masih ada api yang belum padam saat perkemahan ditinggalkan. Tanpa disadari api itu semakin besar dan menyebabkan kebakaran, bahkan kebakaran itu memakan korban 20 orang, yang artinya populasi manusia tinggal 980 jiwa. Tandewi kemudian memberikan satu dua petuah agar ketua tidak mengulangi kesalahan yang sama. Ketua kelompok berterima kasih atas pertolongan Agon dan Tandewi. Mereka kemudian berpisah.

“Hah, lagi-lagi makhluk rendahan itu berpura-pura akting menjadi lemah. Tuan M, aku membenci diri sendiri mengapa aku belum bisa mengerti apa yang kau maksud, padahal aku sudah terjun ke lapangan.” rutuk Agon dalam hati. Ia dan Tandewi tidak langsung ke markas besar. Mereka berdua berpencar membantu yang lain.

Tujuan Agon selanjutnya adalah kutub Selatan. Ketika sampai di kutub ia tidak menemukan Leith. Ia melihat pemandangan yang mengenaskan dari kejauhan dan disana ia menemukan Leith sedang memindahkan mayat manusia yang sangat banyak. Setelah selesai, ia mencoba memahami situasi yang terjadi.

“Leith, apa yang terjadi? Mengapa manusia ini sudah tak bernyawa?” tanya Agon di sela istirahat setelah membantu Leith.

“Ini buruk Gon. Populasi manusia yang hidup di laut adalah 900 jiwa, namun sekarang tidak tersisa satu pun.” jawab Leith sedih.

“Apa penyebabnya? Bukankah kondisi disini sudah stabil? Kau berhasil menghentikan pencairan es bukan?”

 

“Penyebabnya adalah aku. Pencairan es memang berhasil dihentikan, tapi aku gagal menyelamatkan nyawa mereka. Awalnya kondisi di sini cukup parah. Volume air laut bertambah sebab pencairan es. Ekosistem di kutub punah sebelum aku disini disebab emisi gas yang tadinya terperangkap dalam bongkahan es menjadi keluar. Manusia yang hidup di dalam laut juga terkena dampaknya. PH air laut menjadi sangat asam dan warnanya menjadi merah darah, dan…”. wajah Leith menyiratkan ketakutan dan kesedihan yang mendalam.

“Dan apa?”

“Ada manusia yang berubah wujud menjadi monster sebab memaksa memakan tumbuhan laut dengan kadar asam tinggi. Ia menghancurkan setiap yang dilihatnya bahkan menjadi kanibal. Ia juga menghancurkan atmosfer yang menjadi penghalang air laut masuk ke kota tempat kehidupan berlangsung. Semuanya di bantai tepat di hadapanku. Aku yang geram memutuskan untuk menghentikannya.”

“Kau sudah menghentikannya kan, tapi kenapa tidak ada manusia yang selamat? Kau menghentikan dengan cara apa?” tanya Agon penasaran.

“Jangan katakan kalau kau menggunakan kekuatan terlarang!” lanjut Agon dengan amarah yang membakar. Api mengelilinginya memcairkan bongkahan es secara cepat.

“Cukup Agon.” Suara lembut nan tegas terdengar dari  belakang mereka. Sorot matanya yang tajam membuat Agon bergidik ketakutan. Api Agon padam seketika. Leith masih tertunduk sendu atas apa yang dilakukannya. Keheningan menyelimuti sekitar.

“Leith, apakah yang baru saja kudengar itu benar? Bahwa kau menggunakan kekuatan terlarang. Jika iya, sudah berapa permintaan yang kau buat?.” tanya Feza, kucing dengan lima elemen yang merupakan ketua para elemen. Ia adalah tangan kanan Tuan M.

“Benar Feza. Aku menggunakan kekuatan terlarang. Aku sudah membuat dua permintaan. Tinggal satu permintaan lagi.”

“Kau tahu apa akibat jika kau menggunakan kekuatan itu?”

“Iya. Aku akan hilang dari muka bumi setelah meminta tiga permintaan.”

“Apa?! Feza, yang dikatakan Leith tidak benar kan!” tanya Agon terkejut penuh penekanan.

“Yang dikatakan Leith benar. Setiap elemen yang menggunakan kekuatan terlarang akan dikabulkan tiga permintaannya, namun sebagai gantinya ia harus lenyap dari muka bumi.’

“Bagaiman bisa? Kukira elemen yang memakai kekuatan terlarang hanya akan kehilangan kekuatan elemennya dan tidak leyap. Hal ini sama saja dengan mempertaruhkan nyawa.” kata Agon sedih.

Feza kemudian menampakkan gelembung elemen yang mengelilinginya. Dalam gelembung itu ada kekuatan setiap elemen. Feza memberikan gelembung berisi air kepada Leith. Leith kemudian membuat permintaan terakhirnya, yaitu menghidupkan manusia yang sudah tak bernyawa. Agon yang tak sanggup kehilangan Leith memilih kembali ke markas besar sebelum Leith membuat permintaan terakhir.

“Agon… maaf…” batin Leith.

“Leith selamat jalan. Pengorbananmu akan kami ingat, meskipun sudah tak ada lagi air di muka bumi.”

“Terima kasih Feza. Jujur, aku senang pernah menjadi kebutuhan nomor satu di kehidupan manusia, meskipun pada akhirnya aku tersakiti dan terbuang sebab limbah-limbah yang harus aku terima setiap harinya. Tolong sampaikan salam ku untuk Tandewi dan Askara. Merekalah yang menjadi kebutuhan utama manusia zaman sekarang. Sampaikan pula salamku untuk Agon dan Tuan M agar tidak berlarut dalam kesedihannya.”

“Akan ku sampaikan Leith.”

Perlahan tubuhnya bercahaya dan melebur menjadi percik pelangi di langit. Gelembung air mengapung di langit dan pecah menjadi hujan. Feza kehilangan satu dari lima ekornya sebagai pertanda bahwa telah lenyap satu elemen bumi untuk selama-lamanya.

“Hujan ini akan menjadi air mata pertama dan terakhirmu, Leith.” Gumam Feza sembari membuka portal menuju markas besar. Ia membuka portal yang besar untuk membawa manusia yang telah dihidupkan kembali oleh Leith.

Markas besar menjadi sesak. Tuan M akhirnya mengompres wujud manusia agar laboratorium cukup ditempati 500 jiwa. 400 jiwa tak bisa diselamatkan sebab mereka sudah tak lagi berwujud. Semua elemen dipanggil untuk rapat oleh Tuan M guna memberikan laporan. Agon yang masih diselimuti duka tidak ikut hadir dalam rapat itu. Hasil laporan menunjukkan bahwa dampak pemanasan global yang berhasil diatasi adalah 85%. Tuan M menyatakan bahwa kami telah lulus kategori baik dalam ujiannya. Ia menambahkan jika tugas akhir untuk meminimalisir lebih banyak kerusakan di bumi adalah melawan para petinggi. Para petinggi merupakan suatu perkumpulan yang terdiri dari hewan berelemen layaknya Agon dan lainnya. Hanya saja mereka diselimuti oleh nafsu angkara yang membuat mereka jahat.

“Aku akan mengirim kalian tiga hari lagi. Kuharap kalian mengasah kembali kekuatan masing-masing. Aku telah mencabut kekuatan terlarang yang ada pada kalian, sebab aku tak mau kejadian Leith terulang. Masalah Agon, biar aku yang urus. Berhati-hatilah kalian terhadap para petinggi. Kekuatan mereka jauh di atas kalian, tapi aku yakin dengan banyak berlatih kalian bisa mengalahkan mereka.” kata Tuan M mengakhiri rapat.

3 Hari Kemudian

“Di mana Askara? Bukannya tadi bersama kita.” tanya Byan kepada yang lain, ketika menyadari bahwa Askara telah menghilang.

“Entah, bisa jadi ia berada dalam mode transparan.” jawab Tandewi singkat.

“Ayolah, berapa lama lagi kita menunggu. Aku sudah boossaan.””

“Sabarlah Gon, kita tak bisa bertindak sembrono.” jelas Tandewi.

“Aku bosan, mau jalan-jalan.”

“Tunggu Gon..” pinta Byan. Tiba tiba ruangan menjadi gelap, mereka terseret ke dalam portal. Ketika mereka membuka mata, mereka terkejut, di depan mereka adalah dua orang petinggi yang bernama Nakul dan Sade.

“Ayolah ini cuma gurauan kan.” kekeh Agon yang sebenarnya ketakutan.

“Hehehe kau yang meminta sekarang kukabul. Bukankah harusnya kau bersyukur?” ejek Nakul.

“Terserah kau saja. Akan ku akhiri ini dengan cepat.” gertak Agon.

Pertempuran terjadi begitu saja. Agon yang ketakutan berusaha terlihat tenang dan menyerang secara gegabah. Nakul dan Sade adalah ular kembar. Nakul berwarna hitam, sedangkan Sade berwarna putih. Mereka menguasai semua kekuatan elemen, kecuali cahaya. Nakul identik dengan elemen api dan air. Sade identik dengan elemen angin. Ketika mereka menggabungkan diri mereka bisa menguasai elemen tanah secara sempurna. Masih ada satu petinggi yang bisa menguasai lima elemen sekaligus, bahkan kontrolnya lebih baik daripada Feza, namanya adalah Buana.

“Jangan pernah kau gunakan kekuatan Leight di hadapanku!” bentak Agon. Amarahnya memuncak. Gaya serangnya semakin berantakan, namun dayanya semakin mematika. Kondisi Agon yang tidak stabil membuat Agon mudah dikalahkan oleh Nakul. Nakul kemudian menggabungkan kekuatannya dengan Sade ketika Sade sudah mencapai batasnya.

“Tak kusangka kau begitu lemah Sa.” ejek Nakul kepada Sade dengan nada merendahkan.

“Diamlah! Kau saja kewalahan mengalahkan satu kelinci pemarah itu bukan? Lihatlah dirimu yang penuh luka. Gaya serangannya memang berantakan, tapi serangannya selalu tepat sasaran. Tidak seperti kau yang terlalu banyak berfikir ketika menyerang sehingga kau ragu dan sasaran serangmu kacau.” Sade balas mengejek Nakul. Nakul hanya diam dengan wajah masamnya. Ketika mereka bergabung, aura kekuatan mereka terpancar kuat. 30 menit mereka bertarung, lagi-lagi kemenangan memihak kepada Nakul dan Sade. Mereka kemudian mengurung para elemen di tabung kaca.

Ketika Agon, Tandewi dan Byan membuka mata. Mereka terkejut dengan keberadaan Tuan M dan Feza yang tergelatak tak sadarkan diri di hadapan mereka. Mereka saling lempar pandang mencoba berbicara lewat darah telepati yang merupakan senjata rahasia dari Tuan M. Agon sudah berkali-kali berusaha  menghancurkan tabung  yang menekan kekuatan mereka, namun sia-sia saja. Tak selang lama, Buana datang dengan kaki kayunya. Buana adalah gajah yang telinganya hilang sebelah dan salah satu kakinya cacat yang memaksanya menggunakan kain sambungan.

“Kelinci bodoh! Sia-sia saja kau menghancurkan tabung itu. Apa kalian tahu, kejahatan sebenarnya yang dilakukan oleh makhluk biadab ini!” kata Buana sambil memandang keji kepada Tuan M.

“Dialah penghancur bumi yang sebenarnya! Ketika masa mudanya, ia membuat mesin waktu dan kembali ke masa lalu. Di masa lalu, ia mencuci otak para ilmuwan abad 18 untuk membuat berbagai mesin demi kemudahan hidup manusia dan hasilnya booomm! Terjadilah revolusi industri. Ia tidak mengetahui dampak dari perbuatannya. Ketika kembali ke masa depan, ia melihat bumi sudah di ambang kehancurannya. Polusi, banjir, kebakaran hutan, pencairan es, pemanasan global, tumpukan sampah, semua itu menyerbu kedamaian bumi. Ia akhirnya membuat diriku untuk mengatasi bencana alam yang terjadi dan kembali ke masa lalu untuk membenahi kesalahan. Siapa saja yang berani mengusik keberadaan kala, balasannya ada sesuatu yang sangat mahal dan berharga. Dalam perjalanan kembali ke masa depan, Tuan M disedot umurnya yang membuatnya menua lebih cepat. Untunglah kala masih berbaik hati tak menghabisi umurnya. Bodohnya aku mau saja disuruh berjuang siang malam dan menunggu Tuan M agar cepat kembali. Aku lelah dengan segala kerusakan yang terjadi. Di saat itulah aku memaksakan diri untuk membagi kekuatan, maka terciptalah Nakul dan Sade.

Aku yang sakit hati akhirnya memutuskan untuk tinggal di langit dan bertekad membalaskan dendam pada Tuan M. Lima tahun lamanya kumenunggu, Tuan M akhirnya kembali dengan catatan ia menua dan kehilangan ingatan. Pupus sudah harapanku membalaskan dendam secara keji agar Tuan M menderita. Tak kusangka pula jika ia membuat kloningan diriku, sayangnya kekuatan kalian lebih lemah dari apa yang diperkirakan.” jelas Buana panjang lebar.

Para elemen merasa dikhianati oleh Tuan M. Kepercayaan mereka terhadap beliau menjadi melemah. Semangat mereka pudar sepenuhnya. Feza melihat pemandangan menyedihkan dan akhir riwayat dari bumi di tangan Buana.

“Cukup sandiwaramu Buana. Aku tak peduli dan tak mau peduli terhadap masa lalu Tuan M. Kesalahannya ada di masa lalu, masa depannya sudah ia gunakan untuk kebaikan bumi. Tidak semua manusia itu jahat. Banyak pula yang baik bahkan rela demo panas-panasan mengatas namakan lingkungan. Ada pula yang menggunakan ilmu, tenaga, bahkan nyawanya sekalipun demi lingkungan. Contohnya manusia abad 21 di daerah Wonosobo. Sebutan mereka adalah santri. Mereka mengurangi sampah plastik dengan membawa Totebag atau handbag ketika berbelanja. Contoh lainnya adalah pemuda yang membuat komunitas pecinta lingkungan dengan nama WALHI Jateng. Agon, Tandewi, Byan, Feza, kuharap kalian tak termakan omongan busuk Buana. Kumohon kabulkan permintaan terakhirku di detik-detik terakhirku.” kata Askara yang tiba-tiba muncul dari bayangan Buana. Ia kemudian menuju arah mesin untuk membuka tabung Agon dan lainnya. Feza yang melihat kehadiran Askara menitikkan air mata, sebab ia tahu arah pembicaraan Askara.

“Permintaan terakhir?! Apa maksudmu Kara. Aku tahu jika dunia akan kiamat dilihat dari maraknya kerusakan yang terjadi, tapi apa maksudmu dengan permintaan terakhir? Kau bergurau! Kau berjanji jika kita akan bersama saat kiamat tiba. Kau berkata kita akan saling bergandeng tangan sampai tubuh kita hancur sempurna. Kau…kau..” kata Agon kesal sekaligus sedih dengan janji Askara. Askara hanya tersenyum dan meminta maaf atas ketidakmampuannya menepati janji. Mereka langsung mengelilingi Askara di detik terakhirnya.

“Aku mengorbankan diri untuk menjadi penggantinya cahaya matahari sampai waktu tertentu. Sebab tinggal hitungan menit matahari akan hancur untuk selama-lamanya. Artinya, kegelapan akan menyelimuti bumi. Bumi menjadi beku. Seluruh kehidupan di bumi musnah. Maafkan aku Agon, Tandewi, Byan. Aku, Feza, dan Tuan M sengaja merahasiakan ini dari kalian. Tolong, kalahkan Buana, sebentar lagi ia akan memakan Nakul dan Sade untuk menambah kekuatannya.” pesan terakhir Askara dengan senyum yang pastinya meninggalkan lubang di hati lainnya.

Sekitar lima menit bumi dilanda kegelapan. Suhu menurun drastis. Tangis penduduk bumi pecah dalam selimut cakrawala hitam. Alam dunia tak ada bedanya dengab alam kubur. Di saat itu, Buana dengan buasnya memangsa Nakul dan Sade untuk memaksimalkan kekuatannya. Agon dan lainnya tidak mau pengorbanan Askara menjadi sia-sia, mereka memaksimalkan kekuatan mereka. Kekuatan mereka yang mencapai puncaknya mengakibatkan perubahan wujud. Agon menjadi kelinci dengan corak spiral di bagian dahinya. Tangannya mencairkan setiap benda yang disentuhnya menjadi lava. Tandewi menjadi wujud sempurna kupu-kupu raksasa. Antenanya menjadi katana yang tajam. Byan tidak dapat mempertahankan wujud awalnya dan berubah menjadi seekor hamster. Kukunya yang tajam digunakan untuk menggali tanah bahkan sampai inti bumi hanya dalam sekejap mata. Jiwa Feza berubah menjadi mantel yang melindungi dan memperkuat serangan para elemen, sedang raganya terkapar di pangkuan Tuan M dengan tiga gelembung elemen. Buana menjadi gajah sempurna di mode terkuat.

“Tiga pecundang melawan satu penguasa. Bukankah sudah jelas siap yang akan menang, hah!” kata Buana dengan nada sombong. Pertempuran mereka membawa dampak bagi makhluk bumi. Panas semakin menggila setelah dingin yang amat menyiksa. Guntur dimana-mana menciptakan atmosfer ketakutan yang mencekam. Tanah berpijak berkali-kali bergetar hebat senada dengan kilatan guntur yang terlihat.

“Agon, Tandewi, Byan, Feza. Kalian tak usah khawatir dengan makhluk yang ada di bumi, dampak pertarungan kalian tidak akan membawa dampak serius dan tidak mengancam nyawa mereka, sebab aku sudah membuat pagar antara langit dan bumi.” seru Tuan M yang mengetahui bahwa mereka tidak bertaruh optimal, karena memikirkan nasib makhluk bumi. Pertarungan sengit terjadi begitu cepat. Kesombongan Buana membuka pintu kekalahan baginya. Kekuatan yang dibanggakan membuat nyawanya terpojok di formasi segitiga lawannya. Tanpa belas kasih, lawannya menghabisinya.

“Itu adalah akibat yang harus kau bayar atas semua perbuatanmu, Buana. Maafkan aku pula atas kelalaianku selama ini. Kuharap kita tak memiliki dendam di alam selanjutnya.” gumam Tuan M ketika Buana kalah dan raganya perlahan melebur menjadi percik pelangi. Senyum mengembang di sudut bibir para elemen. Kemenangan berhasil mereka gapai setelah banyak pengorbanan yang mencekik sanubari. Kedamaian di detik kehancuran bumi mereka nikmati dalam ikatan persaudaraan manusia dengan alam. Kesalahan-kesalahan di deklarasikan dan dihapus permanan dari hati yang menyakiti serta tersakiti.

“Syukurlah manusia telah menumpas kerakusan dan idealismenya akan kekuasaan. Mereka kembali ke pada akal sehat dan hati nurani. Mereka juga sadar bahwa kehidupan ada hanya untuk berjodoh dengan kehancuran yang mengakhiri semua cerita. Ya, ini semua adalah kehendak takdirNya yang telah diperuntukan bagi alam semesta dan seisinya.” kata bumi dalam keheningannya yang suara yang tak dapat di dengar oleh siapapun kecuali Tuhan dan Byan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *