Cerpen #131; “Punahnya Tebu Dari Tanah Jawa”

Malam itu, malam yang akan kuingat seumur hidup. Malam yang membuatku merenung kembali apa yang harus kulakukan ke depan. Masa depanku dan masa depan anak cucuku kelak, masihkah ada harapan di sana? Sempat terlintas dalam pikiran agar anak cucuku jangan mengikuti atau meneruskan pekerjaanku di perkebunan tebu dan industri gula. Pekerjaan yang dulu begitu membanggakan, kupamerkan ke orang tua, calon istri, calon mertua, tetangga, teman sekolah maupun teman kuliah. Menjadi karyawan perkebunan yang didambakan oleh banyak orang, sebuah pekerjaan yang dianggap wah di mata masyarakat umum.

Perkebunan tebu dan industri gula sebenarnya adalah salah satu sektor yang bertahan dari goncangan krisis moneter, sekarangpun juga masih mampu bertahan terhadap pandemi covid meskipun dengan nafas kembang kempis. Perlu diketahui, gula adalah produk marketable, termasuk sembako yang dibutuhkan semua orang, harusnya memang tahan krisis apalagi tebu adalah bahan baku yang tersedia mudah dan gampang ditemukan di Indonesia terutama di pulau Jawa. Namun perkebunan tebu dan industri gula sekarang ini dalam kondisi terpuruk, hidup segan mati tak mau, hampir semua pabrik gula kekurangan bahan baku tebu. Hal ini tentunya tidak bisa dibiarkan, satu demi satu pabrik gula tutup, jumlah tebu makin menurun. Mau sampai kapan? Ini warning bagi Industri Gula dan produk turunannya. Saatnya menata asa kembali setelah sekian lama, aku dan semua orang yang berkecimpung cukup lama di industri ini nyaman dan mapan baik secara ekonomi, sosial juga lingkungan kerja yang kondusif. Apa zona nyaman ini yang membuat kami terlena? Sehingga tidak sadar apa yang sedang terjadi. Selama ini kita cukup bahagia karena bisa berkontribusi nyata untuk kemakmuran para petani tebu, sopir truk pengangkut tebu, para tenaga tebang tebu, karyawan pabrik gula, dan ribuan manusia yang menggantungkan hidupnya dari bisnis pertebuan dan pergulaan ini.

Malam itu, seperti kebiasaan pada tahun-tahun sebelumnya, jika pabrik gula telah menyelesaikan musim giling maka karyawan pabrik gula, petani, stakeholder dan sedikit ”pengurus negara” ini melakukan rekreasi, atau biasa dikamuflasekan dengan istilah gathering. Dibumbui sedikit dengan rapat evaluasi giling 1-2 jam, sementara rekreasinya 3 hari. Setelah puas jalan-jalan, acara puncaknya adalah malam keakraban dengan syarat wajib semua yang hadir harus tampil menyanyi di panggung yang sudah disiapkan electone beserta penyanyi dan pengiringnya. Aku yang sangat tidak percaya diri karena tidak begitu bisa menyanyi, biasanya mengakali acara tersebut dengan membaca puisi. Malam hari sebelumnya, aku sudah mempersiapkan sebuah puisi tentang kondisi giling yang baru dilalui, keluh kesah dan keresahan yang selama ini kupendam coba kuungkapkan dalam bentuk puisi. Harapanku dengan puisi itu dapat mengetuk hati semua yang hadir, merenungkan kembali dan bisa mengambil langkah ke depan dengan lebih baik. Tidak ada niat lain, sekadar wacana dari seorang karyawan yang ingin tetap merasakan nyaman bekerja tanpa ada rasa was-was.

Setelah diawali sambutan dari masing-masing perwakilan dan evaluasi terhadap giling yang baru dilalui, tidak lupa yel-yel yang penuh semangat berkumandang, dilanjutkan acara menyanyi. Beberapa orang tampil membawakan lagu andalannya, hampir semuanya berduet dengan sang biduan muda, maka tibalah saatnya namaku dipanggil. Bangkit dari tempat duduk sambil mengucap bismillah segeralah aku dengan agak gemetaran menuju panggung. Sang biduan menanyaiku mau menyanyikan lagu apa, dan apa mau beryanyi duet dengannya. Aku jawab tidak perlu, silakan mbaknya dan semua pengiring musik istrirahat saja dulu, aku akan membawakan sebuah puisi. Sedikit kaget dan sedikit tawa darinya sebelum mempersilakan aku menguasai panggung sendirian.

Dengan sedikit dag dig dug di dada aku memulai prolog, ”Selamat malam Bapak Ibu semua, ijinkan saya membaca puisi karena menyanyi bukan hal yang saya pahami dengan baik, suara saya cempreng dan sumbang. Mohon dimaklumi dan mudah-mudahan puisi ini bisa menghibur, saya akan membacakan sebuah puisi tentang rindu”. Para hadirin bertepuk tangan, beberapa orang mungkin merasa aneh karena acara keakraban seperti ini biasanya menyanyi dan berjoget ria. Mulailah aku mendeklamasikan atau lebih tepatnya membaca puisi dengan datar dengan intonasi apa adanya.

Aku akan selalu merindukan hari ini

Hari di mana kita berseru bersama atas nama kepedulian

Berkomitmen demi indahnya masa depan

Aku akan selalu merindukan hari ini

Hari Ketika kita mengepalkan tangan 

Menyatakan kesanggupan menghadapi semua tantangan

Aku akan selalu merindukan hari ini

Hari ketika kita memutuskan untuk melangkah di jalan yang tak mudah ini

Aku sangat mencintai hari ini

Hingga

Ketakutanku mulai ada

Waktu yang berlalu membuat kita lupa 

Pada sumpah, janji, komitmen dan semangat membahana

Semua hanya sebatas jargon-jargon belaka

Semua hanya kata pemanis bibir, omong kosong semua

Semangat kesanggupan itu hanya ”angin lalu” tak terasa

Peluh yang mengalir membuat kita jenuh berupaya

Seakan kepalan tangan itu hanya pelarian 

Dari mereka yang seringkali tak bersahabat apalagi cinta

Dari laba yang tak kunjung membuat kita lega

Dari tanah yang terus kita kuras isinya

Dari truk-truk yang berbunyi ngik ngik ngik karena capek kita ambil tenaganya

Dari tebu kita yang hidup segan mati tak mau, demi rakusmu 

Demi kecuranganmu yang tiada batasan, makin banyak curang makin tak menyelesaikan hausmu

Hingga 

Komitmen itu pelan-pelan terabaikan

Kemudian kita mulai terdiam

Kita sibuk mengurusi luka kita 

Menutupi kegagalan kita

Membuat wacana demi wacana yang tak ketahuan juntrungannya

Membuat alasan-alasan yang makin lama makin menjadi keahlian kita

Kemudian kita tak lagi tersentuh realita

Sibuk mempercantik wajah yang aslinya dasamuka

Mengelak dari semua kegagalan dan riuh membahas kekurangan mereka

Menggalang konspirasi di antara kita 

Untuk mengamankan kepentingan masing-masing

Dan terpaksa aku bertanya

Untuk apa kita ada? 

Apa yang kau sebut swasembada, mana?

Apa yang kau sebut harga yang merakyat, berapa?

Apa yang kau sebut kemakmuran bersama, kapan?

Apa yang kau bilang demi anak cucu kita sedangkan sekarang kau keruk semua

Apa yang kau bilang petani bukan pelayan penguasa, hanya retorika?

Apa yang kau bilang kita semua adalah mitra

Petani, pabrik gula, dan penguasa? Ah! Isapan jempol belaka

Semoga ini hanya kegalauanku saja

Karena aku dan kalian adalah makhluk Tuhan yang masih punya rasa

Karena masa depan taruhannya, masa depan anak cucu kita 

Semua tergantung pada kesanggupan kita berkarya

Tuhan, beri kami kekuatan untuk berkontribusi nyata

Tuhan, beri kami cinta 

Cinta dalam bekerja, cinta dalam kejujuran, cinta pada tebu dan pabrik gula kami, jangan sampai punah

Beberapa saat aku terdiam, mengambil jeda. Gemuruh di dada semakin kencang, mata mulai panas, dan keringat bercucuran. Semua diam menunggu, mungkin berkecamuk dengan pikirannya masing-masing atau tersinggung, atau merenung, atau tersadarkan, aku juga tidak tahu. Setelah menenangkan kembali hati dan pikiranku, aku melanjutkan puisiku. Kali ini isinya tentang keindahan masa lalu.

Aku akan selalu merindukan hari yang dulu itu

Sepanjang kita memandang, kita lihat lautan tebu

Makan tebu di pinggir sawah bersamamu

Manis, itu komentarmu waktu tebu tergerus gigimu

Rumah-rumah loji yang megah berwibawa dan teduh

Pabrik gula yang menjulang gagah

Cerobong-cerobong dengan asap yang penuh gelora

Loko dan lori pengangkut tebu berjalan di atas rel dengan suara khas

Sebagai tanda pabrik gula masih ada

Aku akan selalu merindukan hari yang dulu itu

Ketika tebu terus tumbuh

Menghidupi keluargaku dan keluargamu

Petani, sopir truk, karyawan pabrik gula, bahkan para tukang sapu 

Yang begitu bersyukur dan ceria menikmati manismu

Aku akan selalu merindukan hari depan itu

Di mana tebu bisa menjadi banyak hal di tangan ahlimu

Gula, Biodiesel, bioetanol, dan penyedap masakan ibu-ibu 

Listrik, hand sanitizer bahkan kompos yang memperbaiki tanahmu

Aku akan selalu memimpikan hal indah itu

Semoga, ada yang tetap menanam tebu

Semoga generasi muda tetap mau belepotan tanah dan kepanasan buat berkebun dan menebang tebu

Semoga teknologi bisa membantu, bukan hanya jadi rongsokan berdebu

Semoga semua sejahtera dan tersenyum semanis gulamu

Selesai kubaca puisi itu, tak ada tepuk tangan dari hadirin yang menyimak. Semua terdiam. Tiba-tiba pak Baino meminta mikrofon, beliau adalah seorang pensiunan yang kalau mendengar ceritanya dan cerita teman-teman punya andil besar di industri gula sehingga diminta menjadi konsultan membantu pabrik gula menyelesaikan masalahnya saat ini. Beliau berkata dengan suara bergetar menahan marah, “Jangan turun panggung dulu, tetap di situ kamu. Siapa kamu berani-beraninya berpuisi seperti itu, jelaskan maksud puisimu! Ini acara kebersamaan, gathering, saling mengisi, dalam upaya membuat kita semakin akrab, dan saling mendukung, acara rutin yang sudah dilakukan bertahun-tahun tanpa ada gesekan di antara kita, lha kok kamu malah menyindir, menohok semua yang ada di sini. Apa kamu pesimis dengan masa depan industri gula? Apa kamu ingin membuat demotivasi petani? Kamu kira tebu itu tumbuhan langka? Ini tumbuhan yang sangat Indonesia, cukup ditancapkan sudah tumbuh, bahkan tidak diapa-apakan saja bisa berkembang sendiri. Pengalaman saya sangat banyak di industri ini, tidak perlu ada rasa khawatir, was-was, semua tenang, semua pasti bisa diatasi. Kita sudah berkali-kali lolos dari krisis”. Beliau segera diminta bosku yang disampingnya untuk duduk kembali setelah bicara dengan berkacak pinggang. Aku segera menimpali, “Bukan begitu pak! Saya hanya menyampaikan sebuah fakta. Kita ini hanya beretorika saja, di lapangan tidak seperti ini nyatanya, baik petaninya, pabrik gulanya, pengurus negaranya juga. Kalau kita ini dianggap berhasil, mengapa kita terus impor gula, bahkan jadi importir terbesar di dunia. Bukankah itu sesuatu yang memalukan. Tebu itu energi yang sangat murah dan mudah namun jika kita salah langkah dan salah kelola tetap saja ada kemungkinan punah. Bayangkan saja jika nanti sudah tidak ada yang menanam tebu, gula untuk konsumsi dan industri makanan minuman 100% semua impor, lucu gak sih Pak?”. Pak Baino memotong penjelasanku, “Apa kamu tidak melihat data, lahan-lahan tebu kita semakin luas, pabrik gula masih beroperasi, petani masih banyak yang menanam tebu, kok kamu malah takut musnah, punah, langka atau apalah sebutanmu agar kelihatan dramatis. Jangan berandai-andai atau berpendapat ngawur seperti itu”.

Aku tak kalah keras menjawab sambil menggenggam erat mikrofon yang sepertinya mau lepas saja, “Iya pak bertambah secara luas, namun mohon dilihat dengan detail. Itu tanah-tanah marginal, bukit dan gunung yang digunduli buat kebun tebu. Tidak takutkah akan terjadi banjir dan tanah longsor? Merusak ekosistem, tanah-tanah yang sulit dijangkau, sulit sarana dan prasarana, tanpa drainase, dan jauh sekali dari pabrik pengolah tebunya. Harusnya kita berbicara produktivitas lahan, berapa ton tebu yang dihasilkan setiap hektar. Tebu-tebu tegak dan tinggi yang sangat enak dipandang, bukan seperti belukar berbatang kecil. Harusnya kita berbicara gula yang dihasilkan dari setiap batang tebu minimal berapa, jangan hanya berpatokan pada bobot tebu tanpa memperhatikan isinya. Memperluas kebun sepertinya hanya sebagai upaya perlindungan akan kegagalan kita meningkatkan produktivitas. Dalam upaya memenuhi target pabrik gula, menambah keuntungan petani dan memenuhi kebutuhan gula nasional maka dilakukan dengan menambah jumlah tebu namun tanpa diiringi produktivitas dan kualitas. Jadi luas lahan bertambah namun jumlah tebu dan gulanya tidak bertambah. Pengembangan lahan ada batasnya, apalagi di pulau Jawa yang makin padat penduduknya. Ini mengerikan bukan?”

Pak Haji Karjo, sang petani tebu yang begitu kami segani ikut-ikutan berdiri, “Hey, kamu menyalahkan petani juga hah! Sudah terlalu banyak keringat kami diperas demi kemakmuran kalian. Sekarang kamu menambah derita kami dengan tuduhanmu itu”. Sekarang dua orang menyerangku, mengajak beradu argumen di panggung, “Itu dulu pak, lihatlah kondisinya sekarang? Saya kasihan dengan petani-petani asli yang masih ingin menanam demi hidup dan diwariskan ke anak cucunya nanti, petani-petani yang tetap menempatkan dirinya sebagai mitra, tumbuh bersama pabrik gula. Coba lihat kelakuan para petani berdasi atau para tengkulak, atau para pengepul tebu, lihat yang mereka lakukan. Mereka memeras semuanya, petani maupun pabrik gulanya. Memperkosa tanah dan petani demi memenuhi dahaga kerakusan”. Pak Haji Karjo sepertinya tidak bisa menerima apa yang aku katakan, segera dia menyahut dengan tawanya yang aneh, “Hag hag hag, tuduhanmu tidak berdasar anak muda, jangan sok-sokan kamu. Sok idealis, sok membantu petani kecil, sok paling benar dan mengerti sendiri.  Ingat, kamu sebagai orang pabrik gula sangat tergantung pada petani yang menguasai 90% bahan baku tebu yang dibutuhkan pabrikmu, jangan macam-macam berkata seperti itu”. Aku menyahut, “Saya sebelumnya minta maaf Pak Haji jika kata-kata saya menyinggung hati, juga tidak ada niat bagi saya melawan atau menyalahkan para petani sebagai penguasa bahan baku tebu, saya cuma berfikir tentang masa depan petani dan pabrik gula ini jika cara berbisnisnya tetap seperti ini. Bagaimana bisnis bisa langgeng jika ada kedholiman seperti ini, harusnya bisnis yang adil, kebarokahan menjalankan fungsi kita masing-masing, sukses pabrik gulanya, sejahtera petaninya, dan “pengurus negara” nyata dalam menjalankan fungsinya”.

Pak lurah desa Mojo tiba-tiba nyeletuk, “Ciee ciee barokah, memangnya kita ini rumah makan”. Pak lurah yang masih cukup muda yang juga berprofesi sebagai petani tebu itu melanjutkan kalimatnya, “Rejeki sudah diatur Tuhan, kamu iri dengan kesuksesan orang lain kan? Gajimu tidak cukup buat hidupmu kan? Malah menyalahkan kami para petani. Harus adil dong, lihat juga efisiensi pabrik gulanya bagaimana?”. Tidak Pak Lurah, saya hanya tidak terima dengan ketimpangan ini, Bapak tahu imbas dari bisnis tidak sehat ini? Ribuan karyawan siap menganggur, lihat saja karyawan pabrik gula yang sudah ditutup. Karyawan dirumahkan. Petaninya diharapkan bisa pindah ke pabrik lain. Buktinya pabrik-pabrik lain tetap kekurangan tebu. Nyatanya tidak seperti itu, pabriknya tutup, petaninya juga menghilang, menanam yang lain atau dibangun perumahan. Oh iya, saya sampaikan salah satu contoh permasalahan petani, pastinya Pak Lurah tahu perilaku bangsat para petani jahat kan? Sekali lagi saya katakan khusus “petani jahat” lho, tidak semua petani seperti itu. Mereka dibina oleh pabrik gula, dikawal oleh pengurus Negara, difasilitasi, diberi kredit mudah dan murah dengan harapan ada imbal balik dengan menghasilkan tebu yang baik dan digilingkan ke pabrik gula yang membinanya. Namun apa yang mereka lakukan, tebu itu tidak dikirim ke pabrik yang membinanya, yang telah memfasilitasi, memberikan kredit. Dengan entengnya mereka bilang, yang penting kan kreditnya kami kembalikan. Tidak semudah itu Ferguso, pabrik pasti kekurangan bahan baku, berapa biaya pembinaan, pendaftaran lahan, ,menggambar kebun, dan biaya lainnya? Apa itu bukan bangsat namanya? Maaf lho Pak Lurah bukan maksud saya menjelekkan. Saya akui pabrik juga punya andil besar dengan ketidakefisiennya, apalagi jika giling tebu di bawah kapasitas terpasangnya, bagaimana bisa efisien? Mesin-mesin tua juga perlu diganti, automatisasi mungkin diperlukan. Karyawan yang jahat? juga banyak. Makanya perlu pembenahan di segala sisi, perlu dilaksanakan bahtsul masail kubro, diskusi dan pembahasan permasalahan-permasalahan berbasis keilmuan dan ilmiah, berwawasan luas dan yang paling penting bisa diterapkan. Semua permasalahan jangan berhenti di webinar, seminar, jargon-jargon, komitmen yang ditandatangani dan dipampang pada spanduk-spanduk besar, dipigora dengan indah. Perlu transformasi bahkan revolusi industri gula. Aku lihat pak lurah dan beberapa petinggi masih bersungut-sungut dengan penjelasanku.

Mbak Liah Sari, temanku yang berprofesi sebagai peneliti muda akhirnya gatal juga untuk berkomentar dan menengahi kami, “Mohon maaf Bapak Ibu, saya mewakili semua pihak yang ada di sini minta ijin berbicara agak panjang dan semoga uraian saya ini bisa menggugah kembali kesadaran kita akan masa depan perkebunan tebu dan industri gula. Agar masalah dan debat ini tidak berlarut-larut, dan saya minta maaf atas puisi teman saya jika menyinggung semua pihak. Ini acara kebersamaan, harusnya membuat enjoy kita semua. Baik, akan saya mulai menjelaskan. Jadi begini, apa mungkin tebu akan punah terutama dari pulau Jawa? Pulau yang dipilih Belanda pada jaman tanam paksa untuk dikembangkan menjadi industri gula. Mengapa pulau Jawa yang dipilih oleh Belanda? Karena Jawa adalah pulau paling cocok untuk menanam tebu, Tebu itu sangat rakus air dan sangat butuh matahari pada waktu-waktu tertentu, pulau Jawa memenuhi syarat keduanya. Maka bertebaranlah pabrik gula di Jawa waktu itu jumlahnya sampai 188 pabrik dari Cirebon sampai Banyuwangi, sekarang tinggal limapuluhan pabrik yang beroperasi. Tahulah mengapa itu terjadi, makin lama makin sedikit pabrik gula yang beroperasi, dari semua masalah yang kompleks pasti ujung-ujungnya duit, pabrik sudah tidak bisa laba. Bagaimana pulau lain? Masih kalah bagus dengan pulau Jawa.

Mbak Liah Sari meneguk air mineral sejenak sebelum melanjutkan penjelasannya. “Sekali lagi saya tegaskan, bahan baku pembuat gula yang tumbuh subur di tanah air kita ini akankah suatu saat bisa punah? Tidak hanya harimau, banteng, pohon Juwet yang mulai langka, kalau melihat data pengurus negara urusan pertanian, produksi kakao di pulau Jawa juga berkurang sampai 20% atau lihatlah buah apel di kota Batu Malang yang mulai tidak menghasilkan. Siapa menyangka apel kebanggaan kita suatu saat tinggal patungnya saja diganti apel impor. Tebu juga mungkin punah kalau salah mengelolanya. Padahal dulu Indonesia satu-satunya negara terkemuka penghasil gula. Kalau membaca buku Bumi Manusia karya Pramudya Ananta Toer yang berlatar belakang pabrik gula Tulangan Sidoarjo yang saat ini sudah tutup, bagaimana Pramudya menggambarkan tentang lautan tebu, sepanjang mata memandang yang terlihat adalah tebu. Ekspor gula waktu itu bisa menutup semua hutang Belanda karena mereka butuh biaya besar untuk mengatasi perang Jawa. Satu hal lagi yang perlu diingat, selain ekspor gula terbesar di dunia adalah prestasi P3GI (Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia) yang didirikan pada 1887, menemukan varietas yang mampu mengatasi penyakit sereh yang dikhawatirkan mematikan bisnis pergulaan waktu itu.  P3GI punya kapabilitas untuk meningkatkan kinerja, menemukan virietas persilangan tebu dan gelagah yang tahan hama dan produktivitasnya tinggi.

Mbak Liah Sari rupanya sangat paham sejarah tebu, cerita masa lalu yang sedikit menenangkan kami semua, beliau melanjutkan, “Kenangan indah masa lalu, sejarah gula lebih lama dari negara Indonesia. Industri pertama di pulau Jawa, baru setelah itu berkembang agroindustri. Pabrik gula dan tanaman tebu di Jawa adalah sebuah budaya, sebuah tatanan sosial yang melegenda. Sangat menarik membahas pergulaan di Jawa perilaku manusianya. Setelah tanam paksa dihentikan dan peran pemerintah mulai dikurangi, saatnya industi gula berdiri sendiri.

Mbak Liah Sari semakin semangat, “Kapan ada kemandirian gula? Sekadar usulan, nanti bisa dibahas lebih lanjut. Penting untuk memberi perhatian pada petani, buat mereka tertarik terus menanam tebu dengan laba yang layak. Kebutuhan hidup terpenuhi, ketika tebu diangkut dari kebun dibawa ke pabrik, mereka minimal sudah mendapatkan kepastian pendapatan, minimal BEP (impas) dengan biaya yang mereka habiskan di kebun. Bagi hasil gula di pabrik adalah laba mereka. Namun sekali lagi harus dengan kejujuran, kalau sudah dijamin BEP dari kebun ya kualitasnya juga harus sesuai dan siap dipunishment jika ternyata kualitas tidak sesuai yang dipersyaratkan ketika tebu digiling. Jika produktivitas melebihi yang dipersyaratkan, maka petani dapat reward. Jadi mudahnya begini, misal dipersyaratkan tebu yang akan digiling minimal mengandung gula 12% pada setiap ton tebu, jika di kebun dianalisa sudah tercapai 12% dan ternyata gula yang dihasilkan kurang dari 12% ketika di pabrik maka itu sudah menjadi resiko pabrik. Namun jika tebu yang dikirim kadar gulanya kurang 12% maka petani harus mau dipunishment, jika lebih 12% dapat reward. Adil kan? Kebun harus punya produktivitas tinggi, jika belum mencapai 12% kadar gulanya ya jangan ditebang dulu, diperbaiki dulu. Penilai dan penentu kebijakan tersebut adalah team independen, biar adil dan transparan. Petani jangan menjual tebunya ke pengepul tebu itu merusak tatanan yang hanya membeli bobot tebu tanpa memperhatikan kualitasnya. Sekali lagi petani tidak akan ke pengepul tebu jika petani sudah dipastikan untung atau tebunya diserahkan kepada pabrik gula yang tidak membinanya, ini memang ruwet. Rebutan bahan baku dan ketidakpercayaan petani kepada pabrik gula membuat mereka melakukan itu.

Semakin seru pembahasan masa depan tebu dan gula ini, akhirnya bosku yang sudah mulai mereda emosinya ikut menanggapi, “Pabriknya harus baik juga, efisien, pabrik gula bukan perusahaan sosial, bukan perusahaan padat karya seperti jaman dulu. Jika pabriknya sehat maka bisa mengembangkan bisnisnya. Petaninya juga harus jujur, semangat memperbaiki tebunya. Ada reward kalau tebunya baik, ada punishment jika tebunya jelek. Ada tanggungjawab pabrik jika efieiensi jelek, ada tanggungjawab petani jika tebunya jelek. Betul itu kata mbak Liah Sari, pakai penilai independen. Kecuali memang niat ingsun beli tebu, gak usah mikir macam-macam lagi, gak usah mikir budidayanya, namun ini tidak sehat. Sistem Pembelian tebu (SPT) sekarang ini yang hanya berbasis bobot sudah layaknya dievaluasi, karena saya melihat sama sekali tidak ada kualitas di sana, bahkan tanah-tanah, daun-daun, anakan-anakan tebu semua diikutkan. Itu semakin memberatkan kinerja pabrik gula.

“Ah teori itu. Buktinya sampai sekarang pabrik gula tetap berdiri” pak lurah nyeletuk lagi. Langsung kupotong kalimatnya, “Lho saya sudah melihatnya di India, pabrik gula yang bisa mengembangkan bisnisnya ke banyak anak perusahaan dan semuanya sehat, jika pabrik gulanya sehat, melakukan langkah apapun mudah, tidak megap-megap kata orang Jawa. Mereka mengembangkan bukan hanya produk turunan tebu tetapi punya kebun bunga, rumah sakit, supermarket, bahkan punya pusat Pendidikan. Makin banyak bisnis yang dikembangkan, makin banyak lapangan kerja, jadi tidak memberatkan pabrik gulanya yang harus menanggung biaya tenaga kerja sampai 40% lebih. Pabrik gula yang tidak efisien, harga pokok produksinya tinggi dan itu dibebankan kepada konsumen, tidak adil kan? Mulai kita dikembangkan gula retail, memangkas biaya produksi, pemasaran dan tenaga kerja. Kalau peerlu dilakukan automatisasi”.

Mbak Liah Sari melanjutkan bicaranya yang sempat terjeda penjelasan bosku, “Setuju ya Bapak Ibu, mulai sekarang kita curahkan sepenuhnya energi untuk perbaikan tebu dan pabriknya, jangan sampai punah. Kita benahi tatanan bisnis gula ini. Semua ada resikonya dan hendaknya bisa diterima petani, pabrik gula maupun pengurus negara. Tidak usah arogan. Mari bergandengan tangan, bersinergi. Masak anak cucu kita nanti tidak tahu tanaman tebu, makin kesulitan mencari energi alternatif, makin tergantung minyak yang juga mulai habis dan mahal. Saya yakin ke depan energi terbarukan makin dibutuhkan seiring makin menipisnya energi fosil. Tingkat pencemaran dari energi terbarukan juga cukup rendah. Oh iya, juga perbaikan tanah ini penting, jangan sampai pembudidayaan tebu malah merusak kondisi tanah Jawa yang subur, jangan pakai sipramin atau amina yang aslinya adalah limbah, itu membuat tanah mengeras dan menghasilkan tebu PHP (pemberi harapan palsu), kelihatan bagus tetapi dalamnya kosong. Pengurus negara juga selayaknya bisa menyediakan pupuk, irigasi, sarana jalan, dan kebutuhan penting lainnya, jangan hanya pembiaran, jangan makan gaji buta”.

Suasana makin kondusif, emosi reda, mbak Liah Sari sepenuhnya menguasai panggung, “Pabrik gula juga harus berbenah, tidak cukup slogan di pabrik gula saat ini yang menurut saya kurang menyemangati. Apa yang buat slogan waktu itu sudah paham kalau pabrik gula tidak bisa membuat kita kaya? Pabrik iki openana. Masio ora nyugihi tapi nguripi. Kalau diartikan ke bahasa Indonesia kira-kira seperti ini, rawatlah pabrik ini, meskipun tidak membuatmu kaya, tetapi menghidupimu. Pabrik-pabrik gula baru juga punya kewajiban menanam tebu, jangan menjadi predator pricing, membeli tebu-tebu binaan pabrik gula lain tanpa ada usaha membina. Mereka membeli dengan harga tinggi yang membuat petani tergiur, karena mereka mengandalkan keuntungan dari impor raw sugar, ampas tebu saja yang dimanfaatkan sebagai bahan bakar murah, gula yang dihasilkan hampir seluruhnya dikembalikan ke petani.

Pak Direktur akhirnya nimbrung juga, “3-5 tahun lagi kita targetkan harus tercapai 20% produksi gula retail dari total kemampuan produksi gula kita yang harganya murah dan bisa dijangkau masyarakat. Mari kita putarbalikkan ironi, tahun 1930 Indonesia bisa mengekspor 2 juta ton gula, sekarang menjadi pengimpor terbesar di dunia dengan 4 juta ton per tahun. Jika kondisi ini terus berlanjut, maka bisa punahlah tebu dari tanah Jawa ini. India, Brasil, dan Thailand adalah negara yang dulu belajar pergulaan dari Indonesia, sekarang mereka jadi 3 besar perngekspor gula dunia dan kita belajar ke mereka sekarang. Tidak hanya gula, produk turunan dari tebu juga cukup menggiurkan. Brasil sudah mengarah ke produksi biodiesel dari tebu. Di Indonesia sudah ada, namun pemasarannya masih sulit, memproduksi listrik sendiri juga bisa pabrik gula kita ini, namun sulit dimanfaatkan. Memang kalau diperlukan, kita harus menggandeng swasta dan luar negeri untuk transfer knowledge, teknologi kita sudah tertinggal 100 tahun dari mereka”.

Pak Direktur melanjutkan sambil memegang lenganku, “Mari kita tumbuhkan terus minat petani untuk menanam tebu, makin tidak minat makin tergantung pada impor. Anak-anak muda millenial kita buat tertarik menanam tebu, sepertinya makin sedikit saja anak muda yang mau bertani. Prediksi pada 2030 Indonesia butuh gula 9,7 juta ton, apa semua harus impor? Kalau memang diperlukan pendirian pabrik gula baru yang efisien, dan diimbangi jumlah tebu yang cukup untuk digiling semua pabrik gula. Jangan lupa mengembangkan juga pabrik-pabrik turunan gula. Sekali lagi semuanya tergantung ketersediaan tebu sebagai bahan baku”.

Aku lega masih ada harapan ke depan, saya menambahkan penjelasan pak direktur, “Eh iya, saya ingat pada tahun 1986 pernah ada perangko menuju swasembada gula, mudahnya retorika ya, sampai saat ini tidak pernah terpenuhi. Waktunya diatur kembali lahan-lahan yang diperuntukkan untuk tebu di masing-masing daerah, jangan ada tebu yang tidak jelas asalnya, tebu dari Jawa Tengah sampai ke Jawa timur, yang dari Jombang dibawa ke Malang, namun tebu daerah Malang malah dibawa ke Jombang, aneh kan. Tebu semakin layu sebelum digiling, gula yang ada dalam batang tebu pasti turun drastis, wong tebu itu harusnya digiling maksimal 24 jam setelah ditebang”.

Pak Direktur akhirnya menutup acara gathering malam itu, “Malam semakin larut, meskipun diskusi semakin hangat tetapi sudah waktunya diakhiri. Besok kita masih ada agenda jalan-jalan lagi. Kita refreshkan pikiran kita, kembali ke tempat kerja masing-masing insyaallah sudah segar kembali. Kita perjuangkan perkebunan tebu dan industri gula demi anak cucu kita nanti. Kita akhiri dengan do’a, mohon pak Haji Karjo mau mendoakan kesuksesan kita Bersama, anak cucu kita masih bisa menikmati indahnya perkebunan tebu dan industri gula ini. Aamiin.

3 thoughts on “Cerpen #131; “Punahnya Tebu Dari Tanah Jawa”

  1. hal yang tidak kita pikirkan, namun kemungkinan besar bisa terjadi. banyak hal yang hilang dari kehidupan kita satu persatu tanpa kita sadari. semua karena ulah kita. bahkan untuk sesuatu yang seringkali kita temukan sehari-hari seperti tebu, apel, bahkan ayam bisa tinggal nama. semua punya peran apapun profesi kita. opini dan pemikiran satire yang bagus dan logis

  2. suatu saat nanti bagaimana setiap kepala manusia ditumbuhi pohon gitu ya, karena sempitnya lahan, kan bisa membantu tambahan oksigen. iklim ke depan memang makin ngeri. bisa-bisa semua tinggal kenangan, gambar-gambar hewan dan tumbuhan yang sudah punah. lucu lagi ini gula hilang dari tanah indonesia yang subur karena salah kelola, miris.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *