Cerpen #130; “Salah Siapa ini Dosa Siapa”

Sebagai seorang petani sepertiku memang sangat banyak cobaannya Teman. Salah satunya adalah virus covid  ini. Ditambah lagi perubahan cuaca yang memasuki musim penghujan, lahan kami habis dilahap banjir kalau hujan terus menerus datang. Entah salah siapa, entah juga dosa siapa. Tiba-tiba saja banajir seenaknya mendatangi lahan kami. Pagi itu kulihat kawanku Latip dari kejauhan, terlihat tangannya terus menerus menepuk jidat. Kuhampiri dia dengan maksud mau menghibur sekaligus menanyakan mengapa banjir ini datang, tidak biasanya lahan kami direndam banjir.

“Hancur. Hancur rencanaku, Man” ujar Latip, menggelengkan kepalanya.

“Tenang dulu, Tip. Jelaskan, kenapa kau bingung begitu?” tanyaku, seraya mengambil bungkus kretek di saku celana dan memberikannya kepada Latip.

“Bagaimana bisa tenang, Man. Lihat lahanku, dua hektare tergenang air. Semua ini gara-gara Pengusaha tanah sialan itu. Kalau begini jadinya, tidak mau aku tanda tangan” jawab Latip, wajahnya memelas.

Menurut keterangan Latip, sebulan yang lalu ia didatangi oleh seorang pengusaha yang menawar tanahnya dengan harga lumayan mahal. Katanya tanah itu akan dibuat untuk membangun sebuah properti. Tanpa pikir panjang Latip pun menyetujui iming-iming si pengusaha tersebut. Padahal tanah Latip yang dijual itu adalah hutan rimbun. Naasnya hutan rimbun milik Latip itu kemudian digunduli dan katanya akan digantikan oleh bangunan-bangunan megah. Itulah yang akhirnya mengakibatkan banjir melanda sawah kami.

“Kau ini memang bodoh, Tip. Cukuplah saja sampah plastik Bekasi yang menggunung. Jangan malah kau buat permasalahan bumi ini jadi semakin menggunung juga. Apa kau tidak pernah berfikir pemanasan global bisa terjadi akibat ulahmu itu? Bumi jadi makin panas tanpa adanya hutan dan pepohonan” ujarku, geram.

“Mau bagaimana lagi, Maman. Coba kalau saat itu kau berada di posisiku. Saat itu aku sedang butuh uang untuk bekal anakku kuliah di Jawa Tengah. Kau juga tahu kalau aku ini biasanya dapat uang dari berdagang. Bagaimana mau berdagang kalau Pemerintah menyuruhku untuk diam di rumah?” jawab Latip, tatapan matanya mengarah ke riak air sawahnya yang banjir.

Latip menitikan air mata. Merasa sangat menyesal sudah dipengaruhi oleh orang kaya. Memang, baik Pemerintah maupun orang kaya, mereka sama saja. Mereka terlalu sibuk memikirkan pembangunan, mengganti hutan dengan bangunan-bangunan megah tanpa memikirkan dampaknya akan seperti apa. Baru kemarin rasanya aku melihat berita Jakarta dan Bogor dilanda banjir akibat sampah yang menumpuk. Kini banjir pun sampai menuju desaku karena tidak ada dataran tinggi yang menjadi penghalang. Hutan-hutan sudah dijual ke pelelangan, kini hanya ada tangis dan ratapan petani yang menunggu datangnya pertolongan Tuhan.

“Kalau lihat banjir begini, sesekali terlintas dalam ingatanku kenangan tentang masa kecil kita dulu Tip. Dulu, di hutan peninggalan ayahmu yang sudah gundul dan tergenang banjir ini, biasanya kita sering berlomba untuk mengejar monyet. Sekarang jangankan mengejar monyet, menemukannya saja sudah susah” ujarku, mengelus pundak Latip.

“Ah, kau ini. Melihat wajahmu di cermin saja sudah mirip monyet, Man. Untuk apa susah-susah cari monyet” jawab Latip, kini kulihat bibirnya mulai tersenyum.

“Bukan itu maksudku, Tip. Aku hanya memikirkan akan seperti apa kita 10 tahun mendatang? Amerika sudah memprediksi bahwa Jakarta akan tenggelam pada tahun 2030. Bagaimana cara kita mencegahnya? Apakah masih bisa kita bertindak? Coba kau pikirkan kalau-kalau nanti benar bahwa Jakarta akan tenggelam, bagaimana nasib petani seperti kita ini?” tanyaku.

“Alah kau ini. Kiamat sudah dekat, Man. Tinggal menunggu waktunya saja. Tak payahlah susah-susah memikirkan nasib dunia, nanti juga pada waktunya semuanya akan hancur” jawab Latip, menyeka air matanya.

Entah mengapa aku sangat mengkhawatirkan sekali nasib alam yang semakin hari semakin banyak bencananya ini. Pemanasan global bisa saja melanda Indonesia dalam waktu dekat kalau-kalau kita semua tidak sigap mencegahnya. Banyak orang yang mampu membuat bangunan-bangunan megah, tapi mereka tidak akan bisa membuat sebuah pohon. Orang boleh pandai setinggi langit, akan tetapi belum pernah aku menemukan ada orang yang mampu mengatasi bencana alam. Orang pintar bisa saja menciptakan alat pendeteksi gempa, jika ia tidak bisa mengatasinya sama saja bohong menurutku. Kuelus pundak Latif, mencoba menenangkannya. Baik aku maupun Latif, kami berdua merasa menyesal karena telah gagal menjadi khalifah yang baik di muka bumi ini.

Sementara di pasar, harga beras melonjak tinggi. Kami yang biasanya tidak membeli beras, kini terpaksa harus beli karena tanaman padi kami telah rata diterjang banjir. Ini baru karena banjir, coba kalau sudah tidak ada sawah? Bagaimana kita makan nanti? Entah akan seperti apa jadinya manusia 10 tahun mendatang kalau tidak memikirkan hal besar ini. Mereka terlalu sibuk cari nasi, sampai lupa akan keseimbangan alam. Sampai-sampai mereka rela korbankan alam demi uang. Perlahan-lahan dunia mulai semakin panas, flora dan fauna mulai punah karena tidak punya tempat tinggal. Ekosistem mulai terancam, air di laut mulai naik ke permukaan.

Otakku menjadi pusing karena dilanda banyak sekali persoalan. Bagaimana bisa tenang Teman. Anak merengek minta jajan, gagal panen pula, ditambah lagi memikirkan masalah bumi yang semakin ke sini semakin banyak dilanda bencana. Kunyalakan televisi bermaksud untuk mencari ketenangan melalui film-film. Akan tetapi, lagi-lagi aku dibuat khawatir, sebuah channel di televisi menayangkan berita tentang banjir rob yang melanda Kabupaten Semarang. Ah, cobaan apa lagi ini. Seketika itu pula kumatikan televisi dan membaca dua kalimat syahadat. Ternyata benar apa yang dikatakan Latip tempo hari bahwa kiamat sudah dekat, tinggal menunggu waktunya saja.

48 thoughts on “Cerpen #130; “Salah Siapa ini Dosa Siapa”

  1. menggambarkan kehidupan zaman akhir, dimana orang cari untung tanpa mikir sekitarnya
    cukup menarik tulisannya😊

  2. Saya suka cara penulis menyampaikan amanatnya. Tidak seperti kebanyakan cerpen lain yang terlihat persis seperti artikel.

  3. Anak muda seperti ini yang harus semangat. Memang karyanya sedikit kurang seru, akan tetapi cara penulis menyampaikan amanat sudah tepat. Hanya kurang anekdot saja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *