Cerpen #129; “Babel, Surga Buatan”

Babel adalah potongan mosaik dari masa lalu. Menjadi topik yang keberadaannya diperdebatkan hingga pengujung masehi. Mengabaikan pokok dari keaslian, babel sendiri telah merebut hati terdalamku. Kemegahan dan keagungannya membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Mendorong anak miskin sepertiku menggapai dunia penuh kemewahan. Hingga kini namaku menjadi tersohor, memenuhi majalah di berbagai negara. Tulisan-tulisanku dibaca mereka yang akan menjadi pengagum babel selanjutnya. Menepati deretan penguasa ekonomi dunia, sudah semestinya pengaruhku begitu luasnya.

Aku berambisi mencipkatan realitas di mana babel ada teksturnya. Dapat dilihat, dapat disentuh dan dikagumi oleh mereka. Titik awal telah terlewati. Kota yang akan mencakar cakrawala dan menembus angkasa sudah dalam fase pembangunannya. Aku akan merangkul mereka yang tidak punya dan menciptakan surga. Kelak babel akan menjadi bentuk keagungan ras manusia.

Tiga tahun yang berwarna di mana segala aset dan koneksiku harus dikerahkan untuk menghancurkan oposisi. Lahan hutan yang kubumihanguskan pastinya akan kutanam kembali dalam babel dan mengapa mereka tidak mau mengerti. Pada akhirnya mereka pun bungkam karena harta dan surga yang kutawarkan. Berkatnya oposisi berhasil dibungkam dan memecah dari dalam. Mereka menjadi kelompok kecil tanpa kekuatan.

Proyek 20 tahun ini telah menunjukkan hasilnya setelah beroperasi 3 tahun lalu. Sebuah kota seluas 20 kilometer persegi penuh gedung setinggi 200 meter. Gedung tersebut nantinya menjadi pondasi untuk gedung di atasnya dan terus ditumpuk. Hingga akhirnya kota megahku ini mencapai tinggi 2500 meter. Untuk uji coba, besok gedung tersebut akan diresmikan dan akan mendapat penghuni dalam waktu sebulan.

Pembangunan fase kedua telah dimulai. Gedung-gedung selanjutkan akan diprioritaskan menjadi tempat pelestarian segala jenis flora dan fauna. Bermodalkan insinyur ternama dan ilmuwan-ilmuwan hebat dari penjuru dunia, tempat itu akan menjadi surganya satwa. Babelku akan merangkul segala ras dan melestarikannya. Aku tidak sabar menunggu 17 belas tahun ke depan.

***

Semua dimulai dari kota ini. Tahun 2077 menjadi tahun dengan bencana terbanyak sepanjang masehi. Mulai dari banjir besar yang melanda seluruh dunia yang disebut “air bah” tahap kedua. Letusan puluhan gunung berapi sepanjang tahun dengan Krakatau menjadi yang terparah. Kutub utara yang kini kehilangan 80% esnya. Hingga sejumlah daratan yang terendam perairan. Kemanusiaan mulai mengalami pengunduran.

Mega kota yang dapat terlihat berpuluh kilo meter menjadi harapan para warga. Kota tersebut disebut babel. Babel menjadi tonggak untuk keberlangsungan hidup manusia. Kehidupan manusia di luar kota ini sangat mengenaskan. Puluhan virus mulai bermunculan setelah lapisan es meleleh. Dalam sepuluh tahun 2 miliyar manusia pun harus meninggal karena sulitnya penanganan berbagai virus dan variannya yang terus berdatangan. Para pelaku medis harus menanggung beban berat dan akhirnya mereka menyerah. Setelah 90% tenaga medis dunia meninggal dalam perjuangan melawan para virus, mereka pun memprioritaskan keselamatan orang-orang penting dan mengabaikan sisanya. Orang-orang penting tersebut adalah penghuni babel ini termasuk diriku.

Banyak satwa di luar sana mengalami kepunahan. Seperti gajah contohnya, mereka sudah tidak dapat ditemukan di luar sana. Bahkan dengan teknologi kami pun tidak bisa menghentikan kepunahannya. Gajah terakhir dari babel telah meninggal 4 tahun lalu. Banyak mamalia berukuran besar telah mengalami kepunahan. Sekarang masih tersisa satu harimau sumatera dalam perawatanku. Dia tidak dapat berkembang biak tanpa lawan jenis dan umurnya pun sudah kemakin tua. Sudah dapat dipastikan harimau sumatera akan mengalami kepunahannya.

“Masu, anak baik. Ini makananmu untuk hari ini.”

Aku memberinya makanan dan dia tidak kunjung makan. Mata matinya mulai sedikit bercahaya dan perlahan menjilati daging yang kuberikan.

“Anak pintar, makan secara perlahan. Kamu harus hidup ya Masu. Tanpamu mungkin tidak ada lagi harimau sumatera. Tanpamu juga mungkin aku…”

Mungkin aku tidak bisa bertahan lagi. Tempat ini memang surga, tempat yang akan memastikan hidupmu sejahtera. Tetapi jika kau berpikir lagi, miliyaran orang di luar kota ini menderita karena kota ini. Peningkatan karbon yang luar biasa banyak. Pemanasan global. Semua bencana yang ada mulai dari 20 tahun lalu hingga sekarang adalah salahnya. Semua itu diperburuk dengan pembangunan babel versi negara besar lainnya. Pada akhirnya manusia hanya memenuhi hasratnya. Aku tidak kuat bila harus bahagia di atas miliyaran penderitaan. Selama Masu masih hidup aku mungkin bisa berpaling dari semuanya dan merasa melakukan hal yang benar. Akan tetapi dia sudah melemah. Dia bahkan mulai tidur setelah makan sedikit. Cepat atau lambat Masu pun akan tiada.

“Masu, aku tinggalkan makananmu di sini. Besok aku akan kembali lagi, tolong sambut aku besok, oke.”

Esok hari pun tiba dan harimau sumatera dicoret dari daftar satwa.

***

Kakek bilang dulunya cahaya matahari adalah hal yang wajar. Kehangatanya akan menyengat kulit dan merubah perlahan warnanya. Awan-awan hitam itu tidak seharusnya ada di angkasa. Dia menutupi cahaya yang seharusnya menyinari dunia. Cahaya matahari mencapai manusia adalah hal yang langka. Bahkan bila fenomena awan hitam itu hilang cahaya matahari tidak akan menyentuh kulitku.

Tahun 2123, manusia jaman sekarang harus menggunakan setelan khusus untuk bertahan hidup di luar rumah. Selain penuh dengan penyebaran virus, asap-asap yang menyebar di seluruh penjuru kota tidak baik untuk kulit manusia. Udara di luar pun sangat beracun, perlu masker khusus untuk pergi berjalan keluar. Kematian adalah hal yang biasa terjadi setiap hari.

Hari ini seperti biasa hujan asam turun. Hujan tersebut membuat komposisi tanah dan air. Menjadikan lingkungan sekitar tidak layak untuk dihuni hewan maupun ditumbuhi tanaman. Terkadang hujan akan turun berhari-hari dan menenggelamkan rumah tanpa tingkat. Di kota ini setidaknya sudah ada 2 tingkat rumah terendam. Bila menyelam ke dalam air maka akan ditemukan banyak rumah terendam.

Kakek juga penah bilang dulunya ada hewan bernama kucing. Selain itu masyarakat juga banyak yang memelihara anjing. Hewan tersebut dapat ditemui di mana saja di penjuru kota. Aku sempat tidak percaya, karena kucing dan anjing adalah peliharaan orang kaya dan takkan mungkin ditemukan di pemukiman. Aku pun pulang ke rumah.

“Oh, Helen, cucuku tercinta kau sudah pulang.”

“Selamat malam kakek. Ini jatah makan kita hari ini.”

Aku mengeluarkan toples dengan puluhan bola hitam di dalamnya. Bola tersebut adalah nutrisi yang dapat menunjang kehidupan manusia. Orang bilang itu terbuat dari campuran beberapa serangga. Meski begitu ini adalah makanan lazim dan hanya ini yang dapat dirasakan oleh orang miskin untuk menunjang kehidupannya.

Aku kehilangan orang tuaku sejak kecil. Kakekku mengasuhku hingga aku tumbuh dewasa. Sampai saat ini aku tinggal bersama kakekku. Pengalaman paling bekesan seumur hidupku adalah rasa daging yang pernah  kumakan 12 tahun lalu. Kakekku membelinya ketika aku berumur 7 tahun dan rasanya sangat nikmat. Sampai sekarang pun aku masih mengingat rasanya. Mungkin 10 tahun lalu makan daging setahun sekali masih bisa dilakukan. Selama kau bisa menabung banyak uang atau punya beberapa kilogram emas, kau bisa makan daging. Sekarang harga daging menjadi sangat mahal dan bahkan orang kaya pun tak dapat membelinya setiap hari. Begitu pula dengan sayuran. Dulu bisa dikonsumsi setiap minggu. Kini sayuran hanya menjadi makanan orang kaya saja. Untuk menutupi kekurangan nutrisi, kami orang miskin memakan bola nustrisi.

“Len, ini perasaan kakek saja atau cahaya dari babel-”

“Cahaya dari babel? Oh itu. Sepertinya beberapa lampu sudah dimatikan lagi.”

“Berapa lama pun benda itu ada di sana. Pasti akan tamat juga. Manusia terlalu serakah hahaha…”

Kakekku pun mulai tertawa dan terus meneriakkan “Hukuman dari Tuhan” berkali-kali. Beliau pun berhenti karena tersedak.

Kakek sungguh membenci babel. Meski tempat itu seperti surga di mana orang biasanya ingin hidup di sana, tetapi tidak dengan kakek. Beliau pernah hidup di surga seperti itu dan kabur. Tanpa mau menceritakan detailnya, beliau akan diam setelah ditanyai pengalamannya di sana. Kakek bilang orang di sana setiap hari makan sayuran dan daging. Selain itu tidak perlu menggunakan setelan khusus atau masker khusus untuk berjalan-jalan ke kota. Banyak hiburan di sana dan hanya ada kebahagiaan. Walau tergoda dengan semua yang ditawarkan babel, aku hanya akan mengikuti kata-kata kakek.

Kalau tidak salah ketika malam hari babel akan sangat bergemilau oleh cahaya. Seingatku dulu cahayanya sangat terang dan membuat semua orang terkagum karenanya. Dibanding sekarang cuma ada sedikit gemerlap di sana. Meski begitu anak-anak yang menyasikannya sekarang pasti akan terkagum karenanya. Mungkin seperti kata kakek, perlahan surga tersebut tidak akan menjadi surga lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *