Cerpen #128; “Erde”

Setiap kali Erde merasa dunia ini terlalu sumpek, dia akan pergi ke dunia yang dibangunnya. Eskep, sebuah dunia yang asri. Matahari bersinar tidak terlalu menyengat di dunia itu, karena hutan-hutan menjadi pelindung tabir surya sekaligus semacam ventilator penghasil oksigen. Di Eskep, sebuah dunia yang yang berputar slow di angkasa luar,  lebih jauh sedikit bila dibanding jarak bumi dari matahari yang mencapai 149.600.000 kilometer, Erde merasa tenang memandang baris bebukitan, gunung yang menjulang, sungai yang mengalir jernih hingga ke lautan. Dan ah..di bagian lain dunia itu tentu saja ada kutub es abadi sebagai barometer iklim dunia itu terkendali.

Erde sungguh senang berada di Eskep, tapi banyak tuntutan yang membuatnya selalu harus kembali ke bumi, terutama panggilan mamanya. Selama hampir dua tahun kemarin, syukurnya Erde punya cukup waktu untuk lebih menikmati  Eskep. Pandemi di bumi, membuat kegiatan-kegiatannya di luar rumah di bumi itu berkurang.

Siang itu, usai sekolah daring di bumi, Erde segera terbang ke Eskep. Sambil menghirup udara dalam-dalam di hadapan alam yang berhamparan hijau, ia membentangkan kedua tangannya lebar-lebar, bagai elang menjelajahi angkasa. Tapi tiba-tiba suara mikser menyakiti telinganya, dia segera menutup telinga dengan kedua tangan. Ah…kenyataanya Eskep bertetangga dengan bumi yang bising. Erde pun berlari ke arah suara sambil tetap menutupi telinga.

“Ma…telingaku sakit.”

“Oh..iya..mama tahu kamu sensitif suara deru elektronik, tapi kali ini tidak mungkin mengocok adonan yang banyak dengan pengocok saja. Bentar.” Lalu perempuan itu menekan tombol ‘off’ dan mencabut steker.

“Untuk apa mama buat kue sebanyak ini?”

“Tante Ipah sama anaknya Kun mau datang. Kau masih ingat kan Tante Ipah dan Kun? Terakhir kali mereka datang, lima tahun lalu, kau masih SD kelas tiga, Kun juga.”

Seketika gambar wajah Tante Ipah dan Kun hadir dalam pikiran. Erde mengingat lagi sebuah peristwa . Waktu itu mama yang ngobrol dengan Tante Ipah meminta dirinya menemani Kun. Sebenarnya Erde merasa senang ada kawan, ia pun memulai percakapan yang menurutnya sangat masuk akal karena tepat di depan rumahnya ada pohon mangga yang meranggas. Sekonyong-konyong dia bertanya.

“Kau tahu kenapa daun-daun mangga itu menguning berguguran?”

Erde mengarahkan pandangan ke pohon yang daunnya menguning, kecoklatan dan sebagian gugur berserakan di tanah. Sementara mamanya meliriknya was-was, bertambah saat Erde melanjutkan kalimatnya.

“Bisa jadi karena cuaca sangat panas akhir-akhir ini, akar pohon tidak lagi mendistribusikan air melalui batang sampai ke daun sehingga daun kehilangan fungsinya untuk menghirup CO2 yang berguna sebagai sumber fotosintesis. Apalagi pada proses fotosintesis yang menangkap cahaya sebagai sumber energi adalah klorofil, bila klorofilnya rusak maka proses memasak makanan tidak terjadi sempurna, akibatnya pohon bisa perlahan-lahan lapar dan kalau berlangsung dalam waktu lama, pohon bisa mati.”

Erde masih ingin melanjutkan pemaparannya tentang pohon mangga di halaman rumahnya. Tapi Kun sudah berpaling, gelisah, dan merengek sama mamanya minta pulang. Erde tidak mengerti apa yang salah dari ucapannya.

Rekaman peristiwa itu membuat Erde tidak terlalu senang untuk berjumpa dengan Kun.

“Tapi Tante Ipah tidak akan menginap di rumah kita kan, Ma?”

Perempuan yang sedang repot memasukkan adonan ke loyang mengerti perasaan anaknya. Erde tidak terlalu nyaman dengan perubahan sekecil apa pun apalagi menyangkut hubungan sosial baru. Bagi seorang anak Asperger Syndrome tata krama sosial tidak tertulis jauh lebih sulit dipahami ketimbang nenentukan kecepatan, laju dan percepatan pada gerak lurus beraturan atau tidak beraturan dan gerak vertikal pada sebuah benda.

Perempuan itu mengembangkan senyum sambil memandang wajah anaknya yang gelisah.

“Tidak, Er. Mereka menginap di rumah opung Lubis. Kemari hanya mampir.”

“Ma…ada plastik  menempel di siku. Ah..itu karena efek listrik statis. Kulit mama terlalu kering karena tepung. Sebaiknya mama pakai losien untuk melembabkan kulit agar tidak menyebabkan elektrifikasi”

“Oh..hanya potongan plastik wraping.”

Perempuan itu mengambil potongan kecil plastik menempel dan membersihkan sikunya yang diputihi tepung. Ia mengembangkan senyum sambil memandang wajah anaknya yang gelisah.

“Tidak bisakah mama bebas dari plastik? Mama kan bisa memakai serbet kain hanya untuk menutupi adonan yang dibiarkan mengembang.”

“Bukan hanya mama, Er. Tapi kita..kita semua semestinya minim penggunaan plastik.”

“Tidak..tidak. Saya tidak kita. Saya tidak suka pakai plastik kalau tidak perlu.” Erde melambai-lambaikan tangannya bersamaan dengan mengeleng-gelengkan kepalanya. Erde meninggalkan mamanya di dapur. Lalu ia pun masuk ke kamar. Kali ini ia tidak lagi berniat pergi ke dunianya yang lain. Setumpuk buku, majalah dan koran menggairahkannya.

Tapi  setelah membaca sana sini, kemudian ia menghela nafas. Semakin banyak rasanya ia membaca, semakin takut ia membayangkan masa depan. Tentang bumi yang mulai rapuh, mengkerut, meleleh, memanas,  terbakar dan berangsur berubah abu. Dunia di bumi mengalami krisis iklim.

Manusia sangat rakus, mau mengambil sebanyak-banyaknya dari alam, tidak perduli kelak hanya mewarisi kerusakan pada generasi mendatang, pikir Erde.

Erde mangkin gelisah memikirkan, tidak di darat dan di laut bahkan di angkasa pun manusia hanya meninggalkan rongsokan. Ribuan satelit manusia di angkasa yang tidak berfungsi lagi hanya akan menjadi sampah. Bagaimana membersihkannya? Sedangkan di bumi saja tempat manusia tinggal, masalah sampah tidak selesai, begitu pun di laut..penuh sampah dari manusia, konon lagi bisa membersihkan sampah dari  rongsokan satelit di angkasa. Erde merasa muak membayangkannya.

Ditambah lagi eksploitasi hutan besar-besaran. Pohon-pohon digergaji, dibuldoser, ditarik untuk ditumbangkan bahkan dibakar untuk diganti dengan pertanian dan peternakan.

“Hutan..bumi..hutan bumi hancur. Mereka merusak hutan. Bukan saya…bukan saya. Saya bukan mereka.” Setengah berteriak, Erde menggertakkan gigi rahangnya.

Mamanya mendengar suara Erde dan ia datang untuk memeriksa. Ia menyadari  signal stress yang cukup tinggi  pada diri anaknya lewat stress thermometer ketika mengamati kelakuan anaknya. Erde mengulang-ngulang perkataannya tentang hutan dengan kalimat tidak beraturan, bisa dibilang meracau. Mamanya berusaha menenangakan Erde. “Sayang..you should walk slowly, no talk. Mari kita ke Toskana Garden.” Mama menuntun menarik tangan Erde berlahan, menuntunnya berjalan ke  halaman samping rumah yang mereka sebut taman Toskana.

Di taman kecil yang memanjang mengikuti panjang rumah, tumbuh beberapa jenis bunga dan berbagai jenis rimpang. Ada mawar, anggrek, kaktus,kaladium, tumbuhan jahe dan kunnyit juga bunga matahari kesukaan Erde.

“Kau lihat, Er. Bunga matahari ini mengembang, setia mengikuti arah mentari. Bumi kita masih baik-baik saja. Dunia penuh warna.” Mamanya ingin merangkul bahu anaknya, tapi ia tahu Erde tidak suka sentuhan.

Erde bisa bersikap tenang, matanya terpaku kepada sekelopak bunga matahari yang paling besar.

“Van Gogh..,” desisnya.

Setiap kali melihat bunga matahari, Erde teringat  Van Gogh. Ia sendiri memiliki repro serial lukisan bunga matahari karya Van Gogh dari tiga bunga matahari di dalam vas, lima bunga matahari di dalam vas, dua belas bunga matahari di dalam vas dan empat belas bunga mata hari di dalam vas. Repro lukisan-lukisan itu hadiah dari papanya yang yang tinggal di berpindah-pindah dari hutan satu ke hutan yang lain.

Erde tidak benar-benar mengenal sosok papanya. Mama dan papa berpisah sejak Erde masih sangat kecil. Tapi setidaknya kabar papa selalu hadir di akhir pekan. Dari papanya yang seorang biolog, Erde mempelajari pentingnya biodiversitas atau keragaman hayati. Musnahnya salah satu saja ragam hayati dan tidak tergantikan mengakibat efek domino pada kemusnahan ragam hayati lainnya termasuk manusia itu sendiri.

Mama selalu cerita kepada Erde, ia dan papanya  bertemu dalam  suatu habitat penelitian. Mama adalah seorang botanis yang tidak lagi setia menekuni bidangnya karena lebih tertarik berdagang kerajinan di pasar daring.

Lewat ponsel atau video call, Erde dan papanya terhubung. Papanya selalu bercerita tentang petualangannya di hutan-hutan. Sayang hampir semua hutan sudah dirambah. Tidak hanya hutan tropis di Asia bahkan juga rimba Amazon, habitat paling variatif di dunia.

Telepon terakhir dari papa, ia sedang berada di Para, salah satu negara bagian di Brazil. Dari  cerita papanya, Erde mengenal sosok pahlawan lingkungan, Dorothy Stang.Dorothy berjuang dengan doa, seruan dan kelembutan untuk melindungi kelompok pribumi yang bergantung hidup di hutan Amazon dari kerakusan  para spekulan, peternak, pemilik ladang, pembalak dan geng preman bayaran. Sama halnya seperti di negeri Erde, kerakusan, korupsi dan intimidasi berkelindan atas nama hak kepemilikan lahan yang sesungguhnya areal hutan. Dorothy Stang sudah berjuang dengan sebaik-baiknya sampai akhirnya senapan para Surjana menembus tubuh rentanya. Dorothy memang mati, tapi spiritnya menggetarkan seantero negeri.

“Erde…Ayo kita sirami bunga bersama.  Siang terik tadi membuat bunga-bunga layu.”

Erde terkesiap dari lamunan. Matanya masih terpaku kepada bunga matahari yang kelopaknya paling besar.

“Er…”

“Iya, ma..”

Mama mengulangi lagi ucapannya barusan. Erde segera berinisiatif mengambil gembor kaleng hijau kesayangannya. Tapi cuaca berubah mendung, gumpalan besar nimbostratus pembawa hujan membayangi. Erde menengadahkan kepala ke langit.

“Hujan lebat sebentar lagi.”

“Ah..iya..ayo kita masuk saja. Mama akan sajikan kue dan teh untuk kita. Aneh, barusan sangat panas,  kini mendung. Hujan di musim panas apa?”

“Anomali cuaca.”

Erde meletakkan gembor di samping kursi di taman Toskana itu, kemudian melangkah masuk dari pintu samping, mamanya mengikuti.

Tidak lama, sekonyong-konyong hujan deras mengguyur bumi.

Di ruang keluarga, di atas meja bundar, mama meletakkan sepiring kue, teko teh dan dua cangkir.

Erde memandangi lukisan repro bunga matahari di dinding.

“Bunga matahari perlu cahaya..”

“Iya, tidak apa-apa..bunga juga butuh hujan,” mama menyahuti.

Erde sedikit gelisah. Berulang-ulang dia meramas jari-jarinya bergantian dari telapak satu ke tapak yang lain.

“Ayo diminum tehnya.”

Mama hafal betul prilaku Erde. Sejak Erde didiagnosis sebagai anak spesial dengan bawaan Asperger Syndrome, mama mulai belajar banyak tentang dunia Asperger yang melingkupi Erde. Sayangnya di kota mereka sekarang tinggal, tidak ada sekolah umum dengan kelas inklusi, berbeda saat Erde pernah kelas satu hingga kelas dua sekolah dasar saat masih di Jakarta. Meski memiliki prilaku khas yang tidak umum dari anak seusia lainnya, itu juga yang membuatnya punya bakat khusus. Erde hampir selalu juara umum di sekolah waktu sistem pendidikkan di kotanya menempatkan pringkat untuk anak didik. Saat ini sistem pendidikkan berubah, Erde pernah tantrum kenapa namanya tidak diumumkan pada pembagian rapor di sekolah. Secara akademisi, Erde sangat antusias dan menguasai. Tapi yang membuat mamanya  gundah, Erde masih harus berjuang berprilaku sosial bahkan hanya untuk sekedar cara menjawab sapaan kawannya . Dunianya sepi… Ia lebih senang sendiri. Padahal bagi anak-anak seusianya, persahabatan adalah manisnya hidup.

Hujan diluar menderas. Erde mengendus-ngendus kue yang diambilnya sepotong.

“Apa ini kue pandan? Kenapa hijau kusam?”

“Iya, itu kue pandan yang biasa kau makan. Hanya saja tadi cuma pakai sedikit daun suji. Kehabisan.”

Ponsel berdering. Mama mengangkatnya sigap.

“Papa?”

“Bukan dari Tante Ipah. Rumah Opung  Lubis kebanjiran. Dimana-mana katanya banjir. Tante Ipah tidak jadi datang.”

Ibu melongok  tembus ke luar jendela kaca. Hujan masih deras. Buru-buru ia melihat ke luar rumah. Melihat air tergenang di halaman tapi masih terkendali, pikirnya. Masih ada waktu menaikkan barang-barang penting ke loteng jikalau kemungkinan terburuk terjadi.

“Bukankah papa harusnya menelepon.”

“Mungkin sebentar lagi. Kau tolong mama dulu ngangkati barang ke atas.”

“Apa bakal banjir?”

” Mudah-mudahan tidak. Tapi kata Tante Ipah dimana-mana sudah banjir.”

Erde terpikir mengungsi ke Eskep. Di sana ia pasti aman, tidak akan ada banjir. Biosfer di Eskep terjaga alami. Sistem  hidrologi atau tata air di alam dunia itu bekerja semestinya karena para penghuninya sadar pohon-pohon di hutan sebagai sumber peresapan air sekaligus cadangan air. Tidak ada pembalak dan pemilik HPH di Eskep.

Manusia-manusia di Eskep adalah makhluk harmoni yang bisa selaras dengan alamnya, hewan dan tumbuhan. Bukankah semua makhluk punya hak yang sama untuk hidup, tumbuh dan berkembang. Semua generasi penerus di Eskep akan selalu memegang prinsip itu. Hanya Tuhan yang mahakuasa, bukan manusia.

Ponsel berdering lagi. Erde terkesiap dari lamunan.

“Papa?”

“Bukan. Kawan mama. Sungai Deli meluap. Orang-orang banyak mengungsi. Beberapa rumah ikut hanyut. Jagad maya riuh. Mama lihat media online dulu.”

Mama cepat menaiki tangga sambil membawa tumpukan berkas. Erde melihat keadaan di luar. Air sudah tergenang semakin tinggi di halaman. Erde tidak mengerti, kota ini sering sekali banjir. Tapi manusianya tidak belajar juga jika ada keterkaitan antara kerusakan lingkungan dengan bencana. Ah Erde benar-benar ingin pindah ke Eskep. Tapi itu kan hanya dunia imajinya.

Sementara di bumi ini, Erde merasa dunia sudah kacau.Tumpukan sampah, belum lagi pembalakan hutan, pengerukan perut bumi demi energi, ekploitasi alam atas nama keuntungan bersama dan penebangan hutan untuk pembangunan besar-besaran.

Erde merasa geram sekali, kesadarannya bangkit. Tapi dia tidak punya keberanian sebesar Greta Thunberg, remaja seusianya dan juga spesial menyandang Asperger Syndrome yang berani aksi setiap hari Jumat, memegang poster di depan parlemen pemerintahan negerinya guna memperingati pemimpin di negeri itu agar sadar terhadap bahaya krisis iklim. Erde begitu mengaguminya. Tidakkah manusia yang menganggap diri mereka normal bisa melihat, bahaya krisis iklim karena perbuatan generasi sebelumnya menghantui generasi masa depan.

Sekarang saja, banjir kerap terjadi di kota-kota besar seluruh dunia, kebakaran hutan dimana-mana, kering melanda di banyak daerah. Bahkan saat ini saja manusia dihantui dengan pandemi. Erde ngerih membayangkan, bila kutub mencair entah berapa banyak mikroorganisme yang sebelumnya terperangkap dalam  timbunan batu es, muncul ke permukaan. Lagi..lagi akan membahayakan manusia sendiri. Sebagaimana banjir, asap kebakaran hutan, badai. Semua perbuatan manusia akhirnya manusia sendiri yang merasakan. Greta Thunberg benar, generasi muda harus bergerak, demi keberlangsungan hidup manusia sendiri. Semangat Erde meluap membayangkan Greta Thunberg.

Tapi kemudian Erde mendengar suara teriakan di luar. “Banjir-banjir…”

Mama langsung berlari ke arah tangga, Erde mengikuti. Tapi mereka terkesiap melihat kebawah. Air sudah menggenangi lantai rumah.

“Lukisan bunga mataharinya” Erde berlari menuruni tangga. Air sudah selutut di ruang keluarga.

“Ayo lah cepat naik.” Mama berteriak.

“Tapi yang satu ini susah di lepas dari pakunya.” Air merayap naik setinggi paha Erde.

Mama ngerih melihat itu.

“Tinggalkan saja…. .”

“Tapi.., Ma…”

“Naik!”

Sesaat Erde bimbang tapi kemudia dia menuruti. Dengan susah payah dia pelan-pelan berjalan ke arah tangga. Sebelum menapakkan kaki kirinya di tangga, Erde masih sempat menoleh ke sebuh lukisan repro tiga bunga matahari dalam vas yang menempel di dinding. Erde berharap, banjir tidak mencapainya.

“Selama enam tahun di kota ini, banjir tidak pernah separah ini.”

’ Ini lampu merah, ma. Alam menuntut balas.”

” Hah! Kau ini ngomong apa? Papamu terlalu banyak menjejali mu macam-macam tentang idealismenya. Dia tidak tahu bagaimana sulitnya mengurus seorang anak As…” Mama tersadar dan tidak melanjutkan omelannya.

“Maksud mama, Asperger? Maksud mama aku sulit diurus? Apa aku tidak normal?”

“Tidak..tidak..bukan begitu. Sudah lah sayang. Kita harus waspada. Kita tunggu saja tim bantuan datang.”

Erde rasanya ingin pindah ke Eskep. Tapi dia tidak berdaya dengan kondisi seperti ini, tidak mungkin meninggalkan mama sendiri. Dia juga bingung, kenapa papanya belum juga menelepon. Dia bertambah khawatir.

Erde berjalan menjauhi mamanya. Ia duduk menghadap jendela sambil mendekap tiga  lukisan repro matahari.Berulang kali dia mencoba menelepon nomor terakhir yang papanya gunakan, tapi belum juga tersambung. Lewat jendela, matanya nanar memandang lautan air bagai tsunami. Rumah-rumah setengah tenggelam, orang-orang menyelamatkan diri dengan perahu karet, beberapa ekor binatang mengapung butuh pertolongan, bunga-bunga di taman Toskana samping rumahnya juga tenggelam semua, kecuali hanya tinggal sebatang bunga matahari yang paling tinggi dibanding lainnya yang bertahan. Bunga dengan kelopak paling besar. Erde terpaku menatapnya, berharap ia selamat. Sekaligus ia juga mendoakan semoga papanya baik-baik saja.

6 thoughts on “Cerpen #128; “Erde”

  1. Climax berasa kurang nendang padahal build up sudah bagus. mungkin kalau lebih panjang lagi bakal lebih bisa dikembangkan

  2. Wah .. keren bangett ide ceritanya. Jalan ceritanya juga mengalir .. referensinya juga banyak. Yg baca jg benar2 bisa masuk ke dalam ceritanya. Sukses ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *