Cerpen #127; “Senja Kelabu Langit Seribu”

Sejak lahir, ibu telah menitipkan bulatan cahaya kuning terang sebesar piring di dalam perutku. Kata ibu, cahaya itu nanti yang akan menyelamatkanku ke mana pun aku pergi. Cahaya itu pula yang akan menuntun diriku bertemu pujaan hati. Aku kira waktu itu ibu membual. Namun, bertambahnya waktu aku sadar ibu telah berkata benar.

Rumahku tepat di pinggiran hutan bakau. Persis di sebelah pantai yang berbatasan langsung dengan tepi laut. Jika kau sudi berkunjung ke rumahku, mungkin kalian tak akan pernah mau kembali pulang. Kau akan dibuat takjub dengan air laut dan langit berwarna biru cerah dengan dasar pasir putih berkilauan. Jika malam hari telah tiba lalu kau susuri panjangnya pantai kami, kau akan terpana dengan kerlip bulatan cahaya yang memanjakan mata sepanjang kalian melangkah.

Penduduk di tempat ini seolah telah disabda Tuhan untuk lahir dengan membawa bulatan cahaya sebesar piring di dalam perutnya masing-masing, Dengan cahaya itu pula, kami bisa terus hidup dan membuat terang alam sekitar, tanpa lampu tambahan atau lampu petromaks seperti milik para nelayan dari kampung lain yang sering aku lihat jika akhir senja datang dan mereka hendak berlayar.

“Jika waktu yang dijanjikan telah datang dan dunia ini telah memasuki masa-masa akhir, bulatan cahaya yang telah diwariskan leluhur kita perlahan akan meredup dengan sendirinya. Akan tiba saatnya bulatan cahaya di dalam perutmu telah tergantikan pijar cahaya lain yang lebih terang. Hidup kita selalu bertumpu pada ketetapan yang digariskan Tuhan. Semua ada masanya. Mati yang satu, akan tumbuh yang lain. Begitu seterusnya.”

Jujur saja waktu itu aku belum begitu paham dengan yang ibu katakan. Hanya berusaha mengunyah nasihat yang diucapkannya. Tak lama sehari setelah ibu berucap itu, aku melihat bulatan cahaya di perut ibu kian meredup. Ibu bilang tak akan lama lagi tinggal bersamaku. Sebuah tanda yang membuatku terus menangis. Namun, aku tidak sendiri. Meredupnya cahaya di dalam perut juga dialami oleh yang lain. Semua teman-temanku akhirnya banyak yang mati setelahnya.

Seorang tetua di kampungku akhirnya menyadari apa yang membuat ratusan warga mati mendadak. Air sungai yang kami minum telah tercemar. Kemarin, aku mencium aroma aneh ketika hendak minum. Memang, tiga hari yang lalu aku melihat air di pantai kampung kami tiba-tiba berwarna kehitaman dengan kilauan perak yang mengambang, tepat di pertigaan muara bertemunya sungai dan laut. Aku tak jadi meminumnya dan lebih memilih pergi jauh ke arah hulu sungai demi mendapat air bersih. Namun, ibu dan teman-temanku ternyata telah lebih dulu meminum air di pertigaan muara sungai sebelum aku mencari tahu apa yang terjadi dengan air laut kami.

Kini, setelah malapetaka yang tak akan pernah kami lupakan itu, tetua kampung akhirnya menasihati kami untuk selalu berhati-hati dengan lingkungan sekitar. Benar kata ibu, semua ada masanya. Warga di kampung ini hanya tersisa beberapa saja dan bisa dihitung jari. Jika masanya telah tiba, kampung yang unik ini benar-benar akan musnah dan tinggal cerita. Tak ada lagi makhluk bumi yang diistimewakan Tuhan dengan membawa bulatan cahaya kuning terang sebesar piring di dalam perutnya ke mana pun ia pergi.

Sepeninggal ibu dan teman-temanku, aku jadi sering melamun ketika senja mulai berakhir dan remang malam mulai menyapa. Sendirian duduk di tepi pantai lalu membayangkan wajah ibu. Berharap ia bisa kembali ketika aku kesepian.

Seolah ikut menanggung kesedihan, bulatan cahaya di dalam perutku yang berwarna kuning terang tiba-tiba langsung meredup. Mendadak di dalam kepalaku teringat satu nasihat ibu. Beliau pernah bilang kesedihan selalu dekat dengan kematian. Sebagai laki-laki kebanggaan ibu, aku harus kuat, begitu pesan terakhirnya. Hal itu yang tiba-tiba membuatku sadar untuk membuang jauh-jauh semua kepedihan yang ada. Toh, hidup harus terus berjalan dan tetua kampung sangat peduli pada kami semua. Jadi tak perlu ada yang ditakutkan.

Seketika ketika lamunanku buyar dan aku berusaha tersenyum melupakan semua kepedihan, cahaya kuning di dalam perutku tiba-tiba berpendar sempurna. Menyala terang menyilaukan mata. Hal itu membuat seorang wanita tiba-tiba datang mendekat padaku ketika sedang duduk di atas batu di bawah pohon bakau. Aku tak tahu ia datang dari mana. Untuk kedua kalinya aku membuktikan ucapan ibu. Wanita itu terpesona dengan bulatan cahaya terang yang terus aku keluarkan dari dalam perutku.

“Hai, namaku Kai.”

Ia mengajakku berkenalan. Aku kira dengan tampang pas-pasan sepertiku tidak akan ada yang mau menjadikanku teman. Namun, seseorang di depanku ternyata berbeda. Kubalas salam kenalnya dan tak lama kami telah hanyut dalam cerita masing-masing. Ternyata ia datang dari Indonesia timur. Pantas saja logat bicaranya sedikit berbeda dan aku belum pernah melihatnya di kampung ini, tetapi ia memiliki bulatan cahaya kuning sebesar piring di dalam perutnya, sama sepertiku.

Ia bilang dari Kaimana, tempat di mana seperti kampung ini, Kaimana juga wilayah di pinggir pantai dengan tepian pegunungan dengan gradasi warna hijau tua, hijau muda, dan merah. Hanya saja ia kaget ketika menumpang kapal milik nelayan lalu sambung menyambung dari Ambon ke Makassar, lalu menyambung lagi ke Labuan Bajo, berlanjut menumpang kapal lagi hingga tiba di Gilimanuk sebelum bersandar di Tanjung Perak dan akhirnya ia tiba di tempatku ini, ia selalu membandingkan kondisi laut yang ada. Di sebuah teluk yang hanya beberapa kilometer dari tempatku tinggal, ia bercerita ketika ribuan sampah terlihat olehnya mengambang di lautan.

“Apa nama tempat ini Kakak?”

“Pulau Seribu.”

“Lalu untuk apa pembangunan di sana itu?”

Aku ceritakan padanya itu pulau reklamasi. Jika waktunya telah tiba, pulau-pulau kecil di sekitar tempat tinggalku pun akan segera diprivatisasi dan menjadi milik pribadi. Mungkin kampung unik ini juga akan tinggal cerita. Setelah pembuatan pulau buatan itu, ada dua pulau di sekitarku yang hilang. Mereka seolah tak peduli ketika tempat tinggal teman-temanku banyak yang musnah.

Senja itu aku melihat bagaimana mereka merobohkan satu per satu pohon bakau kemudian menguruk tempat itu dengan batu dan tanah. Setelahnya, bangunan megah nan indah dari beton dan semen telah berbaris rapi tak jauh dari kampung kami. Mereka beralasan hanya melakukan tugasnya sesuai anjuran di atas kertas dan mengacu pada asas kebermanfaatan. Kami seolah hanya menunggu waktu pulau yang kami tempati juga akan bernasib sama. Kami hanya rakyat biasa. Sudah tentu di negara ini orang yang banyak uang selalu punya kendali lebih dari rakyat biasa.

Kai mendengarkan dengan saksama semua ceritaku. Wajahku sedikit memerah. Antara malu dan bangga. Aku malah memberanikan diri bertanya, bisa-bisanya ia terdampar di sini tanpa keluarga dan saudara. Aku lihat raut wajahnya selalu ceria. Sedangkan aku, sehari ditinggal ibu saja hatiku serasa diiris sembilu. Dengan santai ia menjawab jika kepedihanlah yang membuat jiwanya kuat. Ia terbiasa bertualang ke mana pun yang ia mau demi melihat lingkungan sekitar dengan sudut pandang berbeda-beda. Dulu, orangtua dan saudaranya juga banyak yang mati. Kejadianya mirip seperti yang aku ceritakan ketika kapal tangki bermuatan minyak tak sengaja tumpah tepat di dekat tempat tinggalnya.

Suaranya bergetar menceritakan semuanya ketika ia juga kehilangan orangtua dan saudara-saudaranya. Aku kira ia setegar raut wajahnya. Ternyata hatinya serapuh jiwaku. Ia selalu kebingungan untuk mencari tempat tinggal sekarang. Ia selalu berkeliling mencari lingkungan yang bersih dan tidak tercemar, seperti pesan ibunya. Pesan yang akan membuatnya tetap bisa melanjutkan kehidupan. Namun, pencarian itu tak semudah dalam angan. Jika tak menemui asap hitam yang kadang menebal di angkasa, ia selalu menemukan ratusan ikan yang mati di sungai ketika airnya telah berwarna aneh. Ia tak akan bisa hidup di lingkungan buruk seperti itu.

Kai tiba-tiba telah bersandar di pundakku ketika malam telah merangkak naik ke puncaknya. Kerlip lampu dari deretan gedung bertingkat di kejauhan sana seolah menyaingi bulatan cahaya lucu milik kami. Namun, cahaya di sana tidaklah alami. Kai tahu aku bernasib sama dengannya, dan dalam tatap sendu dengan mata sayu, kepalanya menoleh padaku, seakan merayu. Sesaat, cahaya di dalam perutku makin terang menyala ketika membalas rayuannya.

***

Seluruh bagian tubuhku telah lenyap di dalam perut Kai bersama calon bayi yang juga telah kutanam di dalam rahimnya. Kami hanyalah kunang-kunang yang berusaha menjaga sabda Tuhan berupa bulatan cahaya kuning sebesar piring di dalam perut. Dan seperti tugas yang juga dibebankan kepada saudaraku si capung, keberadaan kami adalah sebuah indikator apakah lingkungan itu bersih atau tercemar.

Manusia yang dibutakan uang selalu berdalih bahwa mereka telah melakukan tugasnya untuk sebuah manfaat tanpa mengkaji lebih dalam tentang keberadaan ekosistem. Sebuah konversi lahan dari yang satu ke yang lain memang selalu menimbulkan buah simalakama. Aku hanya ingin Kai terus menjaga benih anak-anakku agar ia bisa mencari tempatnya sendiri di muka bumi ini. Demi menjaga bulatan cahaya di dalam perut kami agar tak hilang dan selalu abadi.

Kai akhirnya terbang saat langit senja begitu kelabu dan redup malam telah menyapa. Berusaha pergi dari kampung kecil di pulau ini untuk mencari tempat yang lebih aman setelah pamit dengan tetua. Sebenarnya Kai tak tahu akan ke mana. Ia hanya ingin terus berusaha mencari lingkungan yang bersih tanpa polusi demi keberlangsungan hidup anak-anaknya kelak. Sebuah tugas berat dari Tuhan telah diberikan padanya demi menjaga bulatan cahaya kuning sebesar piring di dalam perutnya agar tetap menyala di tengah-tengah kerakusan manusia.

One thought on “Cerpen #127; “Senja Kelabu Langit Seribu”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *