Cerpen #126: “Korban!”

“Bu, sebentar lagi hari raya, kapan kita berziarah ke pusara Bapak?”

“Masih belum ada uang untuk membeli bunga, nak. Pendapatan hari ini sudah habis untuk membeli bahan makanan untuk buka dan sahur.”

Aku terdiam lama.

“Semoga esok ada sedikit rezeki berlebih, nak.”

Esoknya Ibu pulang membawa sekantong plastik kecil berisi bunga.

“Kamu mandi dulu, nak. Setelah itu, ayo kita berziarah ke Bapak. Sehabis dari Bapak, kita mengunjungi kakek dan nenek di tempat itu. Nanti bunganya kita bagi dua.”

Di antara langit yang menguning, sepulang dari pusara Bapak, Aku dan Ibu mengunjungi tempat itu. Bersamaan dengan dua remaja tanggung yang sibuk melakukan selfie. Tempat itu memang istimewa. Ada yang berkunjung untuk berziarah, ada pula yang berkunjung untuk berwisata.

“Kakek dan Nenek di sebelah mana, Bu?”

“Ibu tak tau pastinya, nak. Semuanya sudah rata dengan lumpur. Yang jelas pusara Kakek dan Nenek tertimbun di dalam kolam lumpur ini.”

Dulu, tempat itu adalah hamparan sawah tempat penduduk mencari nafkah. Dulu, tempat itu adalah deretan tambak bandeng tempat penduduk menggantungkan hidup. Dulu, tempat itu adalah barisan rumah tempat penduduk merebah setelah lelah bekerja. Kini, tempat itu menjadi puing-puing kenangan menyakitkan yang ironisnya bagi sebagian orang justru dianggap sebagai tempat wisata yang mengagumkan.

Aku menyeka mata, teringat awal mula tragedi 15 tahun yang lalu.

***

Dua hari setelah semburan lumpur di dekat area pengeboran PT. Lapisan, sang bos besar memberikan klarifikasi di media. Ia berkata, “Semburan tersebut merupakan efek dari gempa dua hari sebelumnya. Saya turut berduka atas terjadinya musibah ini. Alam memang terkadang sulit ditebak maunya apa…….”

Aku tak lagi menghiraukan bualan si bos besar. Kasihan alam yang dijadikan kambing hitam, alam yang dilucuti dan alam pula yang dituduh dengan keji. Kulihat Bapak dan Ibu hanya menatap layar televisi dengan pandangan kosong.

“Jika semburannya tidak berhenti, bagaimana Pak?” tanyaku pada Bapak memecah keheningan.

“Kita harus bertahan di sini dulu, nak. Hanya ini satu-satunya rumah kita. Jika kita pindah, ke mana kita akan tinggal?” jawab Ayah yang disusul dengan isak Ibu.

“Mereka seharusnya sadar, wilayah yang dekat dengan pemukiman warga tidak boleh dijadikan tempat penambangan. Itu sangat berbahaya, risikonya nyawa,” lanjut Bapak.

“Sawah kita sudah terendam lumpur, Pak. Mampukah kita bertahan? Tabungan sudah kita habiskan untuk persiapan panen,” keluh Ibu sembari menyeka ujung mata.

Bapak hanya menjawab dengan diam dan mata yang menerawang, sedangkan lumpur yang terus menyembur membuat genangan semakin meluas.

***

Awalnya kami bertiga memilih bertahan di dalam rumah, meskipun semuanya terasa menyakitkan. Udara yang menyesakkan, sebab aroma gas yang berkelindan. Air sumur yang terkontaminasi, sehingga setiap selesai mandi bukan kesegaran yang didapat, tetapi tekstur minyak yang kian melekat. Beberapa orang dari organisasi pemerhati lingkungan hidup telah mewanti-wanti bahwa air di desa kami dan sekitarnya telah terkontaminasi zat-zat berbahaya. Mirisnya, kami tetap menggunakannya untuk kebutuhan sehari-hari, mulai dari makan; minum; mandi; hingga mencuci. Bagi masyarakat kecil seperti kami, bencana lingkungan sebab keserakahan kapitalis seperti ini selalu menempatkan kami sebagai korban.

Namun karena genangan lumpur yang terus merambat hingga tinggal berjarak beberapa meter dari kami, terpaksa kami berpindah ke tenda-tenda pengungsian darurat untuk para korban terdampak. Sebuah pengungsian kumuh yang sangat tidak layak dihuni oleh makhluk yang disebut manusia, sebab terlalu kecil untuk ribuan jiwa manusia dengan fasilitas MCK yang sangat terbatas. Aku melihat semua orang di sini tidak diperlakukan sebagai korban yang harus diutamakan, tetapi sebagai orang-orang buangan yang menambah beban pemerintahan.

Di pengungsian ini, kami menjalani hari-hari dengan segala hal yang tidak pasti. Janji ganti-rugi yang tak kunjung selesai, bantuan logistik yang jauh dari kata mencukupi, hingga bayangan kematian yang kerap menelanjangi setiap mimpi. Hingga pada suatu malam, nasi kotak dari dinas sosial mendadak menjadi perbincangan serius.

“Min, bagaimana rasa jatah nasi kotak milikmu?” tanya Bapak pada Pak Samin, salah satu korban senasib di pengungsian.

“Rasanya aneh, agak kecut dan sedikit basah. Namun karena sangat lapar, Aku tetap melahapnya sampai habis. Ada apa, Cak?” ungkap Pak Samin yang balik bertanya.

“Nasi yang diberikan kepada kita adalah nasi basi!”

Rupanya urusan nasi basi ini juga dialami oleh semua warga pengungsian. Esoknya, semua orang protes kepada para pembagi jatah nasi yang ditanggapi dengan wajah kebingungan. Mereka hanya bertugas membagi, sedangkan menentukan jenis nasi bukan urusan mereka. Aku memang sudah sejak awal menyadari kebasian nasi, namun Aku tak berani mengutarakannya pada Bapak dan Ibu. Tak hanya perihal nasi basi, kami bahkan pernah menerima beberapa kantong beras yang di dalamnya terdapat beberapa ekor belatung. Ibu-Ibu berteriak histeris ketika melihat ada belatung yang menari-nari saat hendak memasak. Berkali-kali kami protes dan berkali-kali pula suara kami diacuhkan. Memang sejak dulu suara rakyat kecil hanya didengar dalam satu urusan, yakni urusan pemilu.

Masalah masih belum selesai, masih ada dua kabar buruk lagi yang datang malam ini. Pertama, kulihat Bapak sering batuk yang disertai sesak napas. Kedua, tetangga kami yang lain, Pak Sukir ditemukan gantung diri.

***

Hal pertama yang dilakukan oleh istri Pak Sukir saat mengetahui suaminya telah tak bernyawa dengan tubuh tergantung adalah berteriak, lalu pingsan. Warga pengungsian bahkan mengira dua-duanya telah meninggal dunia. Setelah istri Pak Sukir siuman, barulah ia bercerita bahwa almarhum Pak Sukir sedang mengeluhkan tentang ganti rugi yang belum kunjung dilunasi oleh PT. Lapisan. Sedangkan utang suaminya kepada para saudaranya di luar kota semakin bertambah. Mungkin saat itu, sang suami beranggapan bahwa mati menjadi satu-satunya jalan yang paling pasti untuk membuat semua tekanan tersebut berhenti.

Setelah proses pemakaman Pak Sukir selesai, Aku ikut nimbrung bersama Bapak dan Pak Samin yang tampak asyik bercengkerama.

“Yang dirasakan oleh almarhum Pak Sukir sebenarnya sama saja dengan yang kita rasakan,” ujar Bapak memilih topik pembicaraan.

“Benar, Cak. PT. Lapisan hanya mau memberikan ganti rugi secara materi, sementara kerugian non-materi seperti tekanan hidup yang dialami oleh almarhum Pak Sukir tidak diperhitungkan,” timpal Pak Samin.

“Tak hanya tekanan hidup, gangguan kesehatan para korban terdampak juga harus diperhatikan. Beberapa waktu ini aku mulai mudah sesak napas dan batuk yang tak kunjung sembuh, padahal sudah kuminumi obat batuk,” curhat Bapak.

“Sebaiknya segera dibawa ke rumah sakit, Cak. Sebab beberapa teman yang lain sudah divonis mengalami gangguan paru-paru gegara menghirup gas beracun di area semburan lumpur sebelum-sebelumnya,” jelas Pak Samin. Esoknya Aku dan Ibu mengantar Bapak ke rumah sakit terdekat.

***

“Sus, saya hendak mengurus kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat. Kami adalah korban terdampak semburan lumpur PT. Lapisan,” ucap Ibu pada seorang perawat di rumah sakit daerah.

“Baik, Bu. Bisa minta tolong identitas terbarunya, Bu?” pinta perawat yang segera disambut dengan pemberian KTP oleh Ibu.

Setelah mengecek identitas beberapa menit, perawat itu berkata, “Mohon maaf, Bu. Pengajuan Jaminan Kesehatan Masyarakat tidak bisa ditindaklanjuti karena identitas ini sudah tidak berlaku, sebab alamat di sini tak lagi terdaftar sebagai tempat tinggal Ibu.”

Menanggapi situasi seperti ini Ibu tampak kebingungan. Memang benar, ganti-rugi PT. Lapisan akan dilunasi secara bertahap dengan konsekuensi jual-beli atas rumah sekaligus tanah yang telah terendam lumpur. Tapi Ibu tak pernah menyangka bahwa urusan ganti-rugi bisa menjadi serumit ini. Bapak hanya bisa pasrah, tak berkomentar apa-apa. Sepulang dari rumah sakit, kami mendapatkan kabar bahwa sebagian dari uang ganti-rugi telah cair. Bapak dan Ibu menerimanya dengan hati yang lega sekaligus gundah. Lega sebab ada uang yang dipegang dan gundah sebab kesulitan mendapatkan Jaminan Kesehatan Masyarakat. Akhirnya, Bapak dan Ibu telah bersepakat untuk melakukan pemeriksaan sebagai pasien umum dengan menggunakan uang ganti-rugi tersebut.

Esoknya kami kembali ke rumah sakit sebagai pasien umum. Memang benar, jalur berbayar akan segera dilayani dengan cepat dan tanggap. Berbeda dengan jalur gratis. Pagi itu, kabar buruk kembali datang. Bapak divonis mengidap kanker paru-paru stadium empat dan harus segera melakukan kemoterapi. Diagnosis dokter menyebutkan bahwa kanker paru-paru Bapak disebabkan oleh sentuhan dengan air yang mengandung zat-zat berbahaya, menghirup udara yang mengandung gas beracun, dan mengonsumsi makanan yang telah terkontaminasi oleh semburan lumpur.

Semenjak saat itu, uang ganti-rugi perlahan habis untuk biaya kemoterapi. Kami bertiga pindah dari pengungsian ke rumah kontrakan. Kondisi Bapak semakin memburuk, sehingga lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar dan di atas kursi roda. Ibu berusaha menyambung hidup dengan berjualan lontong kupang, makanan khas di daerah kami. Bapak hanya mampu bertahan selama dua tahun. Kepergian Bapak disambut dengan tangis Ibu di setiap waktu, sedangkan Aku sudah kehabisan air mata menghadapi ulah-ulah manusia yang terlalu serakah.

***

Kini 12 tahun telah berlalu sejak kepergian Bapak. Ibu telah membuktikan bahwa ia adalah perempuan yang tangguh. Rumah kami dulu telah menjelma kolam lumpur raksasa yang dijadikan wahana wisata. Ada lara dan air mata setiap memandangi tempat itu. Di saat yang bersamaan, ada yang mengurai suka dan tawa. Itu bukan masalah.

Pada suatu malam, Ibu bercerita tentang pekerjaannya hari ini sebagai tukang ojek antar-jaringan.

“Nak, tadi Ibu mendapatkan penumpang yang minta diantarkan ke tempat itu untuk berwisata,” kisah Ibu.

“Lalu, ada apa Bu?” tanyaku penasaran.

“Ia bercerita tentang keindahan kolam lumpur ketika senja telah tiba. Asap, kolam, dan sebagian jingga yang hampir tenggelam katanya menjadi perpaduan yang sempurna.” Ibu berhenti sejenak untuk mengambil napas sedikit sesenggukan.

“Ia melukis senja, sedang Ibu dihujam luka.”

Surabaya, 31 Oktober 2021

One thought on “Cerpen #126: “Korban!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *