Cerpen #125: “Melindungi Bumi”

Di hutan itu ya hutan itu terpampang hamparan hijau yang terlihat sejauh mata memandang namun kini yang terlihat hanya hamparan tanah kering kerontang yang dipenuhi tunggul. Masih teringat di benaknnya beberapa minggu yang lalu, ada rombongan yang datang dari negeri nan jauh mereka membawa monster-monster besi untuk menebang pohon-pohon di hutan dan mendirikan pabrik. Semenjak mereka datang hutan gundul, sungai tercemar, banjir pun menanti. Hutan yang dulu asri kini berganti dengan pabrik-pabrik yang mengakibatkan perubahan iklim yang cukup signifikan. Pabrik dan efek rumah kaca membuat hari terasa lebih panas.

Kata kakek sebenarnya pemerintah setempat melarang mereka menebang pohon-pohon di hutan. Tapi, mereka licik sekali dan menghalalkan segala cara demi mendapat izin. Mereka berjanji kepada pemerintah daerah akan membagi uang hasil penjualan kayu-kayu itu dan akan melakukan reboisasi terhadapa hutan tidak hanya itu dengan adanya pabrik  mereka juga berjanji akan membantu perekonomian masyarakat setempat.

Ia mengedarkan pandangan menelusuri setiap jengkal lingkungan rumahnnya. Sudah seminggu pabrik beroperasi tak sedikitpun rasa nyaman hinggap di hatinya. Masih terus terngiang suara mesin pabrik. Satu bulan yang lalu, Zaky masih mendengar nyanyian burung-burung, ikan-ikan pun masih bisa berenang di sungai. Ketika Zaky berpetualang ia masih bisa merasakan suasana yang sejuk dan udara yang segar. Zaky masih bisa mencari serangga, bermain petak umpet, dan berenang di sungai bersama teman-teman. Semua kenangan indah yang dirasakan Zaky kini telah sirna karena si manusia rakus yang membawa monster-monster besi itu menebang pohon-pohon tak berdosa. Kemarahan Zaky semakin memuncak ketika ia tahu bahwa mereka sama sekali tak melakukan reboisasi. Langit hitam membumbung tinggi sepertinya akan turun hujan. Seorang pria paruh baya yang sering di panggil ayah oleh Zaky keluar dari kamar.

“Zaky, kamu tak akan duduk di situ sepanjang hari ini kan? Ayo masuk! sepertinya akan hujan lebat sore ini.”

Awan hitam semakin membumbung. Kilat semakin menggelegar dan cambukan petir semakin terdengar. Tak lama lagi, hujan akan turun. Dari kemarin, cuaca memang tidak bersahabat. Pemuda itu mendengar tetes pertama turun menghunjam bumi dan diikuti oleh jutaan tetes lainnya mengucur dan meramaikan suasana. Air hujan menjatuhi atap rumah bunyi kelontang-kelanting bagai irama merdu. Debu-debu terangkat bau tanah pun segera tercium. Zaky yang sudah terbagun sejak tadi malah asyik mendengarkan lagu bertemankan kelontang titik hujan yang menyejukan hati. Sungguh menyenangkan sekali mendengarkan suara titik hujan yang menimpa atap rumah. Alunan musik hujan, begitulah Zaky menyebutnya. Hujan pun belum menampakkan tanda-tanda akan berhenti malahan semakin deras. Ketakutan dan kekhawatiran mulai menyelinap dalam benak Zaky jika hujan deras seperti ini tidak kujung berhenti bisa saja tanggul di sungai belakang jebol dan terjadi banjir..

***

Tiga puluh menit berlalu, Zaky dan teman-teman berjalan bersamaan menyusuri hutan untuk menuju ke sungai sepanjang perjalanan mereka melihat koban keganasan mesin zalim penebang pohon dengan berbagai bekas berupa kayu kecil yang sudah terpotong-potong tidak hanya itu nyayian burung yang sering  terdengar ketika lewat di hutan sekarang tidak terdengar lagi, serangga yang biasanya loncat kesana-kesini sekarang baunya pun sudah tidak tercium dalam hatinya bertanya kemana semua makhluk ini apa mereka semua pergi karena  tempat ini tak menarik, karenaa sudah ada pabrik yang berdiri atau mungkin karena kedatangan kami kesini.

Sampai di sungai mereka langsung memasang umpan di kail dan melemparkan kail ke sungai. Zaky dan teman-teman merasa aneh dengan air sungai itu karena air yang biasanya jernih sekarang menjadi kotor. Dimas mengurungkan niatnya untuk berenang. Zaky  mencium bau air tersebut ternyata air sungai telah bercampur dengan limbah pabrik.

Akhirnya Zaky mulai bergegas kembali ke kampung untuk memberitahu kepada warga tentang tercemarnya sungai. mereka langsung mengadu pada kepala desa kebetulan waktu itu kepala desa ada di  rumah.

“Ada apa kalian datang kesini?”

“Kami mau melaporkan kalau sungai tercemar oleh limbah pabrik.”

“Itu tidak mungkin kemaren saya ke sana masih jernih sungainya.”

Bukannya mendapat respon yang baik, Zaky dan kawan-kawan malah diusir dari rumah kepala desa. Zaky tidak habis pikir kenapa kepala desa bersikap arogan. Sikap arogan itu membuat Zaky curiga sepertinya ada kongkalinkong antara kepada desa dengan pemilik pabrik.

***

Satu bulan yang lalu Pak Karman Kepala Desa Suka Maju kedatangan tamu yang sangat istimewa. Saat itu beliau sedang duduk di teras depan tiba-tiba sebuah mobil pajero berhenti tepat di depan rumah kepala desa. Klakson mobil berbunyi, Pak Karman keluar dari rumah untuk melihat siapa yang datang. Pria berbadan gendut dengan perut yang buncit masuk ke dalam rumah menemui Pak Karman langsung mengizinkan pria itu masuk ke rumah dengan membawa koper yang ada di tangannya.

“Kenapa anda datang ke sini?”

“Saya ke sini ingin bernegosiasi.”

“Negosiasi apa?”

“Saya berencana membangun pabrik di desa ini tapi sulit untuk meminta izin dari pihak pemerintah setempat jadi saya ingin anda yang mengurusnya.”

“Wah sepertinya itu cukup berat kalau sampai ada yang tau saya bakal dipenjara.”

“Hanya kita berdua yang tau rahasia ini dan saya sudah siapkan uang untuk anda.”

Ia menatap ke foto anaknya yang masih kuliah di Jakarta, jurusan kedokteran membutuhkan banyak biaya apalagi di kota besar seperti Jakarta pikiran.

***

Malam itu hujan turun semakin sunyi. Langit menjatuhkan titik-titik air pada bumi yang berdebu. Sebelum meninggalkan lapangan Zaky melirik awan bewarna hitam pekat sepertinya malam ini hujan lebat luar biasa. Zaky menatap teratai ungunya yang sudah mekar sempurna. Prediksinya benar Malam harinya, hujan kembali turun dengan sangat lebatnya. Dua kali lebih lebat dari kemarin. Halilintar mengelegar, petir menyambar, guntur pun terdengar bersahut-sahutan. Zaky sedang terbaring di kamarnya. Membayangkan apa akan terjadi banjir sebab sejak pukul lima sore tadi, hujan sudah turun.

Ibu Zaky berteriak keras-keras membangunkan Zaky dari mimpinya yang yang panjang. Dengan rasa malas tingkat tinggi Zaky bangun lalu keluar dilihatnya air telah mauk ke rumah, Zaky kaget luar biasa hal yang ditakutkan pun terjadi. Zaky dengan cepat mengangkat semua barang-barang eletroinik ke atas lemari.

“Zaky selamatkan semua barang-barangmu!”

“Iya bu.”

Zaky hanya menyelematkan barang-barang yang penting lalu keluar dari rumah. Saat keluar ia melihat banyak sekali masyarakat yang membawa barang-barang keluar dan mencoba menyelamatkan diri ke tempat yang aman. Pemandangan yang miris ketika seorang ibu mengangkat anaknya ke atas namun wajahnya sudah tertutup dengan air. Rumah, mobil, dan semua barang-barang ikut terendam. Tim sar dengan membawa rakit mulai mengengkat korban banjir.

Sepuluh tahun telah berlalu semenjak banjir maha dahsyat itu menerjang Desa Suka Maju. Banjir paling parah sepanjang sejarah di desa itu. Bahkan pemerintah setempat membuat monumen untuk memperingati tragedi menyeramkan itu. kini hutan telah kembali seperti sedia kala dan sungai pun telah kembali jernih. Hari yang cerah itu Zaky membawa putranya bermain di hutan dengan membawa perbekalan mereka siap untuk memancing dan memanah ikan. Tidak ketingggalan Dimas yang juga membawa putranya juga ikut memancing. Air yang jernih dan udara yang sejuk mengingatkan merek betapa berharganya alam untuk manusia. Kali itu dilempar ke sungai sambil menunggu ikan memakan umpan mereka, Zaky meakan nasi kepal yang dibawa dari rummah. Walau pabrik sudah musnah namun bekas-bekasnya masih bisa telihat kasat mata. Setengah jam memandangi hutan sekitar kail yang dilempar ke sungai terasa tertarik dengan langkah sigap dia menarik kail itu ke atas sebuah nila seukuran tangan manusia berhasil di tangkap.

“Zaky itu ikan yamg cukup besar.” Kata Dimas dari seberang sungai.

“Iya lumayan untuk digoreng malam nanti.”

“Dimas sepertinya umpanmu ditarik.”

Dimas pun menarik pancingan hasilnya sebuah ikan yang tidak kalah besar dari yang di dapat Zaky. Satu jam memancing mereka pun pulang dengan membawa tangkapan masing-masing. Sepanjang perjalanan pulang Zaky bisa merasakan indahnya alam burung yang bernyanyi merdu, serangga yang melompat ke sana-sini dan aroma khas hutan. Di tengah perjalanan Zaky melihat sebuah yang jatuh tercabut dari tanah ia tau ini pasti ulah anak-anak yang bermain di hutan. Diambinya bunga itu lalu diberikan pad putranya Zaky kembali menggali lobang. Lalu meminta  anaknya untuk meletakkan bunga itu ke dalam lobang.

“Nak kamu harus  menjaga hutan karena hutan adalah sahabat kita. Kalau kita menyakiti hutan maka ia akan melakukan yang sama pada manusia.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *