Cerpen #124: “BERGERAK SEPERTI AKAR”

“Anak laut yang bertransformasi menjadi anak hutan dan kini mengembara menjadi bagian dari anak kota.”

Setidaknya begitulah penggambaran diriku. Terlahir sebagai orang Bugis, dibesarkan di tanah Kalimantan dan didewasakan di Pulau Jawa. Kedua orang tuaku mengaruniakan nama padaku Ilham Makkawaru, yang harapannya dapat mengilhami sekaligus menggagas ide-ide untuk kemanfaatan yang besar. Sederhananya menjadi sumber inspirasi bagi sekitar, dan Makkawaru sendiri dari Bahasa Bugis yang artinya pemberi harapan. Nama yang singkat dengan arti yang dalam.

Udara dingin laut menampar-nampar pori-pori kulit ketika kami tiba di pelabuhan Makassar pada sore hari. Menjelang usiaku yang genap 10 tahun, tak pernah kusangka itu adalah momen terakhir kalinya melihat tanah lahirku, Pulau Samalona yang tenggelam di masa depan. Dengan berat hati, ibu, ayah dan aku harus meninggalkan Makassar selama-lamanya karena tak ada lagi tempat yang layak bagi orang kecil seperti kami untuk mencari nafkah. Pulau di sekitar itu pernah indah pada jamannya. Keindahan terumbu karang dipadu dengan kekayaan biota laut di dalamnya tak pernah mengecewakan mata, terlebih panorama alam dan kehangatan para penduduknya.

Sayang, semuanya sirna begitu saja ketika para elite menguasai pulau-pulau kecil dan cengkramannya tak hanya menghilangkan pekerjaan para nelayan, namun juga menghancurkan ekosistem di dalamnya. Limbah dari pertambangan seakan membuat kami sekarat. Laut berwarna pekat dan ikan-ikan terkapar di bibir pantai akibat keracunan setiap harinya. Mengadu nasib di tanah Kalimantan untuk menjadi buruh di perkebunan kelapa sawit dan tinggal bersama keluarga ibu merupakan pilihan akhir setelah tak ada harapan lagi yang tersisa. Kecemasan dan ketakutan yang menyelimuti hati mulai reda tatkala melepas penat di tepi Mahakam. Tanpa terasa sudah belasan tahun aku menetap di kota bersuhu panas ini, yang sungainya disesaki perahu-perahu kayu dan kapal-kapal pengangkut batu bara. Disini, harapan menyala setiap saat meski ada kalanya rasa jenuh menghampiri ketika melakukan aktivitas yang sama berulang-ulang. Bersekolah hingga kuliah tapi masih saja menjadi pegawai kelas bawah.

“Ibu sudah tak kuat lagi, Ile’.” Tangan ibu bergetar mengucapkan nama ile’, nama anak kecilnya yang kini sudah tumbuh terlampau dewasa. Aku menyelam ke dalam matanya yang lebih rahasia dari malam. “Kau harus mampu menjaga diri di masa depan ketika tak ada lagi penopang sebagai tempat bersandar. Berjanjilah pada Ibu.” Aku mengulum senyum, mengangguk pelan seraya mencium punggung tangannya yang lunglai.

Aku tak tega melihat temaram mata ibu yang saat itu semakin meredup. Aku harus mencari penghidupan lebih baik, MERANTAU. Sungguh, minggu pertama perpisahan begitu menyiksa, menggeretakkan tulang-tulang ketabahan. Tapi harapan selalu tumbuh untuk mencapai cita-cita. Dan dari sinilah pengembaraanku dimulai.

September 2042

Ketika matahari bertengger di atas kepala tepat, di saat itu pula aku dirasuki rasa haus yang amat sangat. Banyak peluh yang berjatuhan membasahi tubuh hingga pakaian yang kukenakan kuyup. Kulihat jam tangan sudah menunjukkan angka di jam 1 dan saat itu pula terpampang jelas suhu di Surabaya mencapai 46 celcius. “Ah gerah nian”, sautku dalam hati. Belum lagi penggunaan masker yang menyiksa ini telah menambah rasa kegerahan di dalam diri. Pemerintah mewajibkan masyarakat memakai masker dalam setiap aktivitas karena bahayanya polusi yang ditimbulkan dari kendaraan hingga industri. Asap itu ajaib. Tak terlihat namun mematikan, sehingga sering dijuluki sebagai silent killer yang menjadi pemicu penyakit ispa dan kanker yang berujung kematian. Seperti bapak yang telah meninggal di usianya menjelang ½ abad. Tak ada manusia yang benar-benar mencapai umur 50 tahun di era ini, kecuali mati atau keajaiban.

Dari kejauhan tampak beragam transportasi lalu lalang seolah sedang tawaf di Makkah tanpa henti. Aku mengernyitkan dahi menyaksikan semua yang sudah menjadi santapan sehari-hari selama 2 bulan belakangan ini. “Surabaya wes gak tentrem koyo mbiyen, le.” Tiba-tiba seorang wanita paruh baya datang duduk disebelahku, menunggu bus kota lewat. Dibalik keriput kulitnya, terpancar aura ketangguhan. Aku merasakan ketegangan terselubung yang mencekam.

Aku hanya tersenyum tipis dan mengangguk  tak berarti, wanita tersebut tanpa komando langsung melanjutkan lagi percakapannya yang mungkin lebih layak dikatakan sebagai keluh kesah. “Mbiyen ndek kene sek ono wit-witan, dadi udara iso sejuk. Tapi mek dilut dan akhire digusur kabeh mbek pembangunan gedung-gedung dukur macam ngene iki. Opo maneh asep kendaraan seng garai sesek.” Sejujurnya aku tak mengerti sepenuhnya apa yang disampaikan wanita ini dengan gigi ompong namun masih tegak untuk seukuran umurnya. Sekali lagi aku timpali dengan senyuman, dan seolah merasa tidak ditanggapi kesekian kalinya, “sek-sek, kamu ini orang mana toh?” seketika ia mengubah tata kalimatnya.

“Saya orang Makassar yang tinggal di Kalimantan bu, tapi saat ini bekerja di Surabaya.” Jawabku sekenanya. “Oh, pantas saja kowe tidak merespon daritadi. Duh, anak muda kenapa kamu harus jauh-jauh pergi kesini hanya untuk cari kerja? lahan di tanah kelahiran sudah habis dibabat semua? Edan tenan.” Sungguh, wanita yang usianya mungkin seperantara dengan nenekku ini tak ada habis-habisnya mencecar aku dengan banyak kalimat dalam hitungan menit. Memang benar orang Surabaya terkenal mudah mengakrabkan diri atau disebut ceplas ceplos.

Sepanjang perjalanan ingatanku terbuang pada kampung halaman, tempat dibesarkan dengan segala kehangatan yang terbalut di dalamnya. Ada Bapak yang selalu bisa memberikan nasihat penuh kebijaksanaan dan teringat pula lagu yang dibawakannya Bulu’ Alau’na Tempe. Sebuah lagu Bugis tentang kehidupan manusia agar tak lalai terhadap pemberian Tuhan-Nya. Aku merawat kenangan itu dengan baik, bahkan tak lupa pula ibu yang senantiasa mendengungkan firman Tuhan tentang baiknya menyeimbangkan ilmu alam, sosial dan selalu mengingat Tuhan.

“Ya bu, Kalimantan tak lagi aman. Pontianak pun telah tenggelam karena banjir menggenangi sepanjang tahun meski hujan telah reda. Gambut telah dibabat habis. Tak ada penopang lagi, apalagi hutan telah beralih menjadi pohon monokultur. Hanya ada 1 jenis tumbuhan. Semua bernama sawit.” Ucapku berat sambil menjenguk kenangan semasa ibu hidup.

“Kekeringan dan kebanjiran yang makin menggila ini akan terus terjadi nak, selama tak ada yang mau melakukan perubahan. Saya beruntung sempat menikmati sisa keindahan dulu walau hanya sejenak. Itulah ulah pendahulu kita, yang akhirnya menyengsarakan kehidupan kita saat ini.”

“Menurut nenek, jika sudah tau keadaan bumi saat ini semakin kritis, tapi mengapa pemerintah dan jajarannya masih mengeksploitasi alam?” Aku menimpali dan menunggu reaksi jawabannya. Sungguh aku kagum dengan nenek ini, terlihat dari kedua bola matanya yang memancarkan kecerdasan sekaligus kesedihan.

“NAFSU,” ketusnya. “Keserakahan manusia. Mereka tak pernah puas dalam mencari sesuatu. Selalu menginginkan lebih dan lebih. Ini juga karena minimnya kesadaran dari masyarakat dan tak ada keseriusan dari pemerintah untuk menuntaskan problematika yang berantai ini. Tingginya angka kelahiran memang telak tak dapat dihindarkan. Penambahan jumlah penduduk dengan lahan yang semakin sempit sudah lumrah terjadi. Lalu alam akan menyeleksi dengan cepat siapa yang akan mati di hari-hari berikutnya.” Helaan nafasnya semakin berat.

“Seharusnya saat ini kita semua memikirkan bagaimana memulihkan bumi yang sudah terlanjur rusak. Tak ada lagi tempat tinggal yang menawarkan ketentraman. Semuanya penuh huru-hara. Desa saya beberapa hari lalu terkena imbas dari kebakaran hutan. Banyak orang tua seusia saya meninggal. Beruntung saya masih sehat, meski sekarang saya terpaksa harus menghirup polusi kota.”

“Lantas, untuk apa nenek kemari?”

“Aku menjenguk cucuku yang sekarat. Ia telah kehilangan orang tuanya beberapa bulan lalu akibat ISPA dan komorbid. Hidup di kota hanya akan mempersingkat umurmu sekaligus memudahkan dirimu menemui ajal.” Pungkasnnya. “Mereka terlambat menyadari bahwa krisis iklim sedang mengintai kita sejak lama, dan semua telah menunggu antrian untuk mati. Dan kini aku harus bersiap kehilangan lagi, kemudian melanjutkan hidup mencari tempat aman.” Tatapannya tiba-tiba layu. Ia mendongak dan mencoba meneruskan kalimat sembari menyeka air matanya.

“Mereka akan sadar ketika satu persatu orang yang dicintai meninggal. Mereka akan baru faham ketika bencana besar ini menimpa keluarganya dan tak lagi membuatnya jadi utuh.” Bus hampir saja tiba menurunkan penumpang sesuai tujuan masing-masing.

Hendak kujawab, nenek itu kembali menyela. “Pesanku, buatlah sesuatu yang berharga untuk masa depan. Sebagai pengingat sebelum bom waktu itu meledak. Jangan terlambat.” Glek! Aku menelan ludah. Apa yang dimaksud bom waktu itu? Apakah memang kiamat tinggal menghitung hari?

——————–

Aku termenung cukup lama, terhanyut dalam kebingungan yang tiada bermuara. “Bagaimana nasib anak cucuku kelak?” Ku biarkan tarikan nafasku yang berat itu menggantung di udara bersama dengungan nyamuk di kamar kecil yang pengap dan ditemani kipas angin kecil. Aku terkekeh sendiri atas pernyataan yang telah ku luapkan. Ah, yang benar saja aku memikirkan anak cucu sedangkan di usia matang ini aku belum ada hasrat untuk menikah. Pasangan masih jauh dari pelupuk mata. Barangkali benar selama ini aku tidak memikirkan menikah karena takut mewarisi kesengsaraan di masa depan ketika alam tak lagi bersahabat.

Ruangan kamar 3×4 meter ini benar-benar sepi, namun kecamuk di kepala tidak pernah berhenti. Rumah Susun (rusun) yang aku huni adalah 1 dari puluhan ribu rumah yang tersebar. Kurangnya lahan tidak dapat menampung penduduk Surabaya yang berjumlah enam jutaan. Beruntung aku dapat menempati ruangan ini sendiri, karena banyak di antaranya dalam 1 ruang dihuni 3-5 orang yang telah berkeluarga.

Untuk mengalihkannya, aku melihat peta Indonesia di dinding kamar yang baru saja beberapa hari lalu aku beli dari bapak tua. Sosok yang seharusnya di usia senja harus beristirahat tapi justru membanting tulang dengan kuat untuk menyambung hidup. Hal itu tampak dari kilatan matanya yang sayu, perawakannya ringkih dengan pipi yang kisut, kulitnya pun bersisik kering sekaligus hitam legam akibat paparan sinar matahari. Kehidupan saat ini benar-benar keras.

Katanya, “Beruntung sekali nak jika ada yang membeli dagangan saya, karena itu untuk kebutuhan saya bisa makan sehari dan syukur luar biasa jika di hari itu masih bisa hidup.” Entah, kata-katanya seperti merembes di hati dan menjadikan air mata hangat mengalir turun ke pipi. Aku merogoh saku dan memberikannya uang lebih. Begitu luar biasa girangnya si bapak tua dan begitu mirisnya aku menyaksikan agenda ini yang benar-benar memilin hati.

Ya, peta Indonesia yang warnanya serba hijau itu segera aku tandai dengan spidolku. Kebiasaan yang sudah aku lakukan sejak SMA telah terbawa hingga saat ini, untuk menandai daerah-daerah yang mengalami perubahan iklim drastis hingga tenggelamnya pulau-pulau kecil di Indonesia. Tentu, yang aku tandai pertama kali adalah Kalimantan Selatan karena beritanya yang spektakuler di berbagai media akhir-akhir ini, menunjukkan bahwa wilayah Kalsel hanya memiliki sisa hutan seluas 12% dari jumlah daratannya. Fantastis!

Bisa dibayangkan betapa panasnya Kalsel saat kemarau tiba hingga memicu kebakaran hutan dan derasnya hujan yang turun hingga mampu menenggelamkan rumah-rumah. Debit sungai Barito yang biasanya menampung 230 juta meter kubik, kini masuk 4,2 miliar kubik air. Hilangnya wilayah resapan air di Kalimantan akibat alih fungsi lahan tidak hanya merusak lingkungan namun juga merugikan kehidupan masyarakat. Mataku terbelalak membaca berita itu. Kerugian bencana mencapai 2 triliun. Anak-anak kehilangan kesempatan untuk belajar dengan nyaman di sekolah, masyarakat harus rela kehilangan rumahnya yang entah kapan banjir tersebut bisa surut. Belum lagi para lansia yang harus mengungsi di tempat seadanya, yang berpotensi menimbulkan penyakit menular karena air kotor.

Tiba-tiba kepalaku berat saat menyaksikan angka yang menggila itu karena baru satu wilayah saja yang aku tuliskan, sedangkan masih banyak yang harus ditulis bahkan seharusnya ditangani langsung oleh para pemangku kebijakan.

“Ah, Riau.” Lenguhku panjang ketika mengucapkan satu nama ini. Amat kasihan melihat penderitaan penduduk yang tinggal disana puluhan tahun bahkan sejak jaman nenek moyang mereka. Kenyataannya hari ini mereka harus terlupakan. Dihilangkan secara paksa identitas mereka, dirampas hutan adatnya hingga digusur rumah yang mereka huni. Bapak pasti menangis melihat kengerian negeri ini jika masih hidup. Mungkin, ada untungnya beliau saat ini di alam kubur, bisa berbaring tenang karena kehidupan disana jauh lebih tentram dibandingkan hingar bingar dunia.

Ku tandai dengan spidol merah, sembari mendetailkan kejadian di dalam buku catatanku. Konflik yang terjadi di wilayah ini tidak hanya persoalan perebutan ruang, namun juga perampasan hak atas hidup manusia (HAM). Konsesi hutan yang telah dilepaskan mencapai 510.556 hektar termasuk hutan adat yang kini hanya tinggal nama. Tentu semua itu terjadi atas legalitas yang diberikan oleh pemerintah, yang memperbolehkan hutan diubah menjadi kebun kayu (tanaman industri). Secara pelan dan pasti, kebijakan ini juga telah menyingkirkan kehidupan para satwa di dalamnya. Sebagian besar telah punah.

Saat di tengah kesibukan menuliskan beragam hal yang carut marut dikepala, Hp ku berdering menyala dan tertera disana nama Bram sahabat karib yang seperti keluarga bagiku. “Halo Bram, ada apa telepon malam begini?”

“Apakah belum sampai berita padamu tentang pesawatku tadi saat menuju Jakarta mengalami turbulensi akibat awan badai Cumulonimbus? Kondisi gawat terjadi tiba-tiba. Beberapa penumpang terpental karena belum sempat  memakai sabuk pengaman. Cuaca memang benar-benar tidak dapat diprediksi, semua orang menjerit dan merapalkan doa yang keras agar bisa selamat.” Jawabnya begitu panjang seperti ada rasa ketertekanan disana.

“Semua sibuk menyelamatkan diri masing-masing, hingga ternyata ada salah satu penumpang terkena serangan jantung dan meninggal di dalam pesawat. Orang-orang histeris, ada yang menangis dan semua mendadak memanggil TuhanNya masing-masing agar diberi keselamatan.” Sambungnya lagi.

Mendengar pernyataan itu aku menahan rasa keterkejutanku “Bram, maafkan aku yang terlambat mengetahui berita ini. Seharian aku sibuk dengan pekerjaanku. Lalu, apakah kau baik-baik saja? Dan dimana posisimu saat ini?”

“Itulah yang hendak aku sampaikan padamu, aku sudah di hotel namun badanku tak cukup baik karena traumatis yang cukup mendalam ini. Tak hanya berhenti sampai disitu Ham, saat mendarat pun pesawat yang kunaiki sempat tergelincir akibat jarak pandang yang pendek, tapi beruntung Tuhan masih memberikan keselamatan.” Suara Bram terdengar tertahan, tentu ia tegang dengan kejadian yang baru saja dialaminya. “Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu di Jakarta? Apakah besok kau mulai bekerja?” tanyaku polos.

“Hmm, sepertinya aku mengubah haluan untuk bekerja di Jakarta Ham. Kenaikan permukaan air laut dan turunnya permukaan tanah tak bisa dihentikan. Penanaman beragam jenis pohon sebagai resapan air tak bisa dilakukan lagi karena banjir rob, badai yang terus terjadi nyaris setiap hari telah membuat banyak wilayah terendam. Jalanan pun macet total akibat kendaraan mogok dan tol tak bisa dilewati sama sekali karena tergenang air. Bahkan, listrik sengaja dipadamkan oleh PLN untuk mencegah sengatan listrik akibat banjir yang tak berkesudahan.” Ia menghembuskan nafas beratnya di akhir pembicaraan.

“Kau tau Bram, sebagai pegiat lingkungan dan pengamat sejarah aku khawatir juga bencana banjir itu akan memunculkan banyak penyakit akibat air-air kotor yang menggenangi sebagian besar wilayah Jakarta. Sejak jaman kolonial, Jakarta memang sudah langganan banjir. Karenanya, orang londo memanfaatkan kanal-kanal atau Kali di Jakarta yang tentunya berbeda dengan pemerintahan sekarang yang sudah menyulap kali-kali menjadi jalanan berplester. Btw, maaf menjadi melebar pembicaraan ini kemana-mana. Hehe” sautku ringan tanpa dosa.

“Hahaha, berbincang denganmu selalu menyenangkan meskipun ditengah kecemasanku yang belum mereda. Tak apalah, sebagai tambal rindu bisa menyimak kuliah Bapak Ilham yang sudah lama tak bertemu.” Suara terkekeh terdengar di ujung telepon. “Oh ya, sedikit menimpali dari informasimu. aku juga tau tentang keperkasaan kolonial yang telah membawa manfaat pada negeri kita. Di Jakarta baru-baru ini ditemukan saluran air bawah tanah dan itu terletak di 6 titik yang strategis. Dalam saluran itu ada filter air yang ternyata berfungsi menyaring limbah baik dari rumah tangga  maupun industri, yang kemudian akan bermuara di sungai. Keren! Pemerintah Belanda pada masa itu sudah memikirkan bagaimana air yang masuk ke sungai harus bersih. Lebih menakjubkan lagi semua pembangunan harus melalui pertimbangan yang matang agar dikemudian hari tidak terjadi banjir. Pencegahan banjir dikendalikan dengan baik karena mereka membangun saluran air dan kolam filter lebih dulu sebelum mendirikan fasilitas publik di atasnya. Ah bicara itu, aku jadi ingin berwisata ke masa lalu.” Tandasnya dengan semangat meledak-ledak. Aku merasakan ia sudah mulai pulih kembali dari penjelasan yang ia lontarkan.

“Kamu tau, dirimu yang selalu keren bagiku Bram. Setelah nyawamu hampir terambil, kamu masih bisa membicarakan hal yang berbobot nan serius. Hahaha. Baiklah, segeralah kembali ke Surabaya jika memang Jakarta bukan pilihanmu lagi. Ada aku di Surabaya sebagai tempat kau berpulang dan melepas penat. Jaga kesehatan, jangan sampai kau terkena kudis akibat banjir disana yang tak kunjung surut. Hehe.” Seruku renyah mencoba menggodanya lagi.

—————————–

Sebenarnya Surabaya juga tak berbeda jauh nasibnya dengan Jakarta. Sebagai wilayah yang telah menjadi episentrum perekonomian, Surabaya menjadi primadona karena lokasinya yang strategis. Sayangnya, dari kemajuan itu harus ada resiko berat yang menanti untuk ditanggung. Persoalan Surabaya terkait bencana lingkungan tak hanya mengenai banjir saja, namun lumpur Lapindo dari kota tetangga yang sudah terendus sejak tahun 2006 hingga saat ini belum selesai. Peristiwa yang dikarenakan kelalaian oknum itu telah memunculkan semburan lumpur panas dan menggenangi wilayah seluas 3.790 hektar. Hal itulah yang membuat keluarga Bram meninggalkan desanya di Sidoarjo yang kini hilang tanpa jejak.

“Tak ada gunanya bendungan yang dibuat pemerintah Ham. Setiap tahun itu harus ditinggikan dan sekarang sudah mencapai 18 meter. Harus sampai ketinggian berapa? Membuang uang saja! Ibarat gunung Merapi, suatu saat tanggul itu akan jebol dan memuntahkan lahar kemarahannya. Surabaya sebagai benteng pertahanan selama ini tinggal menunggu waktu juga untuk tenggelam.” Ucapnya berat sambil berdengus kesal. Ada kemarahan yang selalu menetap dihatinya.

“Bram, mulai saat ini tak ada manusia yang benar-benar bisa tinggal menetap. Semuanya harus berpindah-pindah mencari kawasan yang bisa dijadikan hunian sementara karena tak ada lagi daerah yang aman. Saat ini saja, perairan laut selat madura sebagian besar telah tercemar akibat kiriman lumpur dari Sidoarjo yang dibawa oleh sungai. Tak hanya kau yang mengalami trauma akibat kehilangan tempat tinggal.” Nadaku menurun dan air muka ku berubah muram setiap kali membahas ini. Tak mudah kehilangan orang yang kita cintai.

“Ini bukan bencana alam, ini bencana buatan manusia.”

“Kau benar. Perubahan iklim tak bisa dihindarkan karena peningkatan gas efek rumah kaca terjadi terus menerus. Pandemi membuat industri dan perusahaan sempat berhenti, dan kemudian bangkit lagi dan bahkan lebih digdaya. Eksploitasi akan terus terjadi, dari darat hingga laut. Yang kita lakukan hanya bisa menekan lajunya. Memperlambat ini agar tak kian memburuk.” Jawabku serius.

“Ham, aku tak ingin kehilangan keluargaku lagi. Bantu aku tegar menghadapi ini.” Tiba-tiba Bram memeluk erat, dan guncangan di dadanya amat terasa dalam menyentuhku. Di masa ini, laki-laki yang kekar pun akan menangis jika setiap hari dilanda bencana tanpa henti dan harus kehilangan orang-orang yang ia cintai.

Ketika Kota Sidoarjo berubah hanya sebatas nama di peta, sejak itu pula Bram harus berpisah dengan saudara-saudaranya yang hendak mengadu nasib di pulau lain. Selang beberapa bulan ia harus menerima kabar duka yang datang secara tiba-tiba. Peristiwa kematian kakak dan adik Bram adalah 2 di antara ribuan masyarakat Sumatra yang meninggal karena penyakit zoonosis. Hutan dirambah, hewan-hewan kehilangan rumah dan mencari perlindungan hingga memasuki kawasan rumah penduduk. Potensi penularan penyakit yang disebabkan hewan ini semakin tinggi, terlebih di anomali cuaca yang semakin ekstrim.

Aku membalas pelukannya agar gemuruh perasaannya mereda. Sembari membuka pintu ingatan, pikiranku terus berkelana menjenguk masa lalu. Inilah yang menggerakkan aku ke Surabaya. Selain memperbaiki nasib, semuanya aku dedikasikan untuk menyelamatkan kota ini sebelum tenggelam seperti Jakarta. Terdengar klise, bagaimana sosok kecil sepertiku dapat memberikan pengaruh sebesar itu? Tak ada yang tak mungkin bagiku. Jika menginginkan perubahan besar, maka melangkahlah dari hal terkecil yaitu dirimu sendiri. Lalu bergeraklah dari bawah seperti akar rumput.

—————————————-

Seperti biasa, aku telah beradaptasi cukup baik disini dan mulai menjalani profesi tambahan sebagai guru SMA di sekolah. Cita-citaku yang dari dulu ingin menjadi pendidik dan menyuarakan kebenaran baik lewat lisan dan tulisan. Selain mengajar sejarah, aku juga gemar menulis opini terkait isu kekinian apalagi lingkungan. Markicob! Perpaduan yang menggiurkan. ternyata belajar sejarah tidak ada yang sia-sia, karena aku bisa melihat suatu kejadian masa lalu secara utuh lewat ilmu ini dan menjadikannya pelajaran di masa kini.

“Baik anak-anak, mari kita berdiskusi dari hasil PR yang sudah kalian kerjakan. Apa yang menyebabkan Indonesia akhir-akhir ini terjadi bencana ekologis? Seperti yang kita tau, setiap hari kita harus pasang telinga dan mata untuk siap menerima kabar-kabar buruk di berbagai titik Indonesia.”

“Kali ini saya tidak akan menunjuk, silahkan berbicara atas dorongan murani masing-masing. Jelaskan dari proses awalnya hingga saat ini.” Lanjutku sembari berjalan mengitari para siswa yang duduk melingkar, memastikan mereka agar bisa menyimak dengan baik.

Danu dengan gagah dan bersemangat mengangkat tangannya. “Saya Pak Ilham.” Katanya penuh keyakinan. “Baik, silahkan utarakan pendapatmu.”

“Terima kasih atas kesempatan yang diberikan.” Jawabnya tersenyum bersahaja seolah hendak menyampaikan maklumat penting di depan para rakyat. “Teman-teman, bencana ekologis yang terjadi hari ini tak lepas dari apa yang sudah dilakukan ratusan tahun lalu, tepatnya pada awal abad ke-20 yang ditandai dengan kebangkitan revolusi industri di Eropa yang kemudian menyebar ke Indonesia. Aktivitas itu telah meningkatkan gas rumah kaca di lapisan atmosfer. Sebut saja El Nino, gejala alam yang terjadi karena perubahan suhu muka laut yang sebelumnya dingin berubah menjadi hangat. Negara yang mengalami kekeringan tidak hanya Indonesia, bahkan di luar negeri seperti Afrika Timur dan Baghdad mengalami peningkatan suhu hingga mencapai 57 derajat celcius. Banyak hewan ternak mati dan gagal panen terjadi besar-besaran. Manusia dilanda bencana kelaparan. Kasihan!” Dengusnya kesal setelah mencapai di akhir pembicaraan.

“Apakah saya boleh menambahkan Pak?” Cheva gadis yang teramat pintar mulai membuka dirinya untuk mengutarakan isi otaknya. “Tentu Chev, silahkan.” Jawabku tersenyum simpul. Diskusi itu berjalan dengan hangat, namun seolah bumi tau sedang kami perbincangkan, semua terjadi begitu saja dan secara tiba-tiba.

“Gempa…gempa! Ayo segera lari, Cepat!” Pekik seseorang dari luar kelas. Seketika alarm sirine menyala di dalam sekolah tanda peringatan. “Ayo segera berlindung.” Jiwa kebapakan ku muncul dan segera mengarahkan anak-anak keluar dari ruangan. Kami mencari area terbuka untuk menghindari terjepit, karena beberapa bangunan sekolah telah rubuh begitu saja.

Sebagian atap hancur, banyak pecahan kaca yang ditemui dan sebagian tembok di area sekolah retak. Sebentar tapi menghancurkan. Begitulah bencana, ia kadang kala tak dapat diprediksi. Beruntung tak ada korban jiwa, namun banyak bangunan publik maupun rumah rusak parah.

“Bagaimana itu bisa terjadi? Surabaya tak berdekatan dengan pegunungan dan tak ada aktivitas erupsi. Ini pertama dan sedahsyat ini.” Ujar Cheva sambil sesenggukan menahan hantaman jiwanya atas peristiwa yang baru saja ia lewati. Jaringan belum sepenuhnya pulih, hanya saja berita telah mencatat gempa di Surabaya mencapai 5,8 skala ritcher. Tentu hal ini meninggalkan trauma bagi anak-anak kota yang sebelumnya tak pernah akrab dengan bencana.

Dia menangis, matanya berair. Deras sekali. “Nak, mulai saat ini kalian harus membiasakan diri untuk berdamai pada peristiwa bencana yang mungkin akan terjadi lebih sering. Bumi sudah tua dan tak berdaya akibat keserakahan manusia. Kita beruntung masih selamat. Saudara-saudara kita di Malang banyak yang meninggal. Tsunami melanda, dan kekuatan gempa yang mematikan itu berimbas di Surabaya dan kota sekitarnya.” Sebagian menundukkan kepala, dan yang lainnya menekuk, mencium lutut sambil tergugu.

“Memang gempa ini bukan karena aktivitas vulkanik. Gempa di Malang Selatan terjadi karena pergerakan lempeng aktif Indo Australia yang menyusup ke Pulau Jawa dan menimbulkan deformasi atau yang disebut dengan patahan batuan. Benturan antar lempeng menyebabkan gempa di daratan dan memicu gelombang tsunami yang tinggi.” Jawabku menjelaskan secara ilmiah. “Baik, semoga tak ada gempa susulan. Tetapi kita bersama harus tetap waspada. Tsunami di Malang Selatan tingginya mencapai 25 meter dengan kekuatan gempa bermagnitudo 8,4. Banyak warga yang meninggal dan kehilangan rumah. Semoga setelah kejadian ini manusia juga tidak kehilangan akalnya untuk menjaga alamnya supaya terhindar dari bencana langsung maupun tak langsung.”

Desember 2042

Pasca kejadian gempa itu, aku semakin rajin untuk menulis dan menyuarakan aspirasi rakyat di berbagai media mengenai kehidupan masyarakat khususnya mereka yang rentan terdampak bencana. Aku ingin menjadi telinga bagi mereka yang suaranya tak terdengar. Bagiku, menulis merupakan jembatan efektif untuk menghubungkan masyarakat bawah dengan para pemangku kebijakan. Tapi layaknya manusia lainnya, pagi itu aku harus bersaing dengan matahari agar tiba lebih pagi di Pasar Pabean. Mengisi perut untuk mengusir rasa lapar, sebelum otakku harus bekerja lagi.

Aku harus mengumpulkan fakta dan menganalisisnya. Meski dalam keadaan kenyang, dilanda rasa lapar lebih sering menyerangku. Mungkin tekanan di kepalaku terhubung langsung dengan usus-usus di dalam perut. Aku memejamkan mata beberapa jenak. Kemudian setelah melakukan relaksasi sebentar, aku mengetik kembali hingga jam 2 siang. “Sesuatu yang sederhana bisa bernyawa di tanganmu.” Begitulah ungkapan almarhum ayah yang selalu aku camkan dengan baik di dalam kepala dan yang menghidupiku selama ini.

“Ham, sudah selesaikah pekerjaanmu?” Suara khas Bram terdengar mantap, tiba-tiba muncul dari arah belakang.

“Hei, sejak kapan kau tiba disini? Untung saja pekerjaanku baru selesai.” Seraya mengambil kursi, aku mempersilahkannya untuk duduk.

“Berita terbaru hari ini. Pengambilan (eksploitasi) air sumur berdampak signifikan pada penurunan tanah sehingga air laut merangsek masuk ke wilayah daratan.” Ia membuka layar ponselnya. “Lihatlah, permukaan daratan Surabaya menyusul seperti Jakarta, mengalami penurunan hingga 5 cm setiap 6 bulan sekali. Tak ada penyerapan air lagi karena semua tergantikan dengan gedung-gedung. Oh ya, wilayah Pantura (Pantai Utara) juga genting. Desa Bedono, Sriwulan dan 10 desa di Demak Jawa Tengah telah hilang. 8 dusun dinyatakan tenggelam di Bekasi dan Karawang Jawa Barat juga telah tersiar di berbagai media. Abrasi telah menghilangkan 1 kampung di wilayah Pekalongan dan Gresik. Semua berita itu mencuat setiap saat. Pilu.”

Sungguh, rasanya kepalaku seperti dijatuhi berton-ton bom Nagasaki. Nyut-nyutan. Aku kehabisan kata untuk menanggapi pernyataan Bram yang sebetulnya sudah kuketahui lebih dulu. Berusaha mengatur kata, “Betul Bram. Itu sudah lama. Hilangnya daratan diakibatkan pengikisan tanah yang terus terjadi. Mangrove sebagai benteng alami permukiman warga sudah tak ada lagi. Tanaman bakau digunduli, dijadikan tambak dan reklamasi pembukaan lahan baru.” Sambungku. “Jadi apa solusimu?” Pertanyaanku terkesan menohok.

“Baik, mari kita perbincangkan ini dengan serius. Kali ini aku tidak hanya ingin berdiskusi saja denganmu. Aku ingin membantumu untuk menyelamatkan masa depan. Aduh sakit. Apa-apaan ini kau Ham.” Aku sengaja menimpuknya karena tak biasanya kawan karibku berlagak seperti ini.

“Bisakah kau pasang wajahmu lebih santai agar kita tak sama-sama tegang? Aku tak ingin wajahku sepertimu. Menjadi lebih tua dari umur aslinya.” Jawabku sambil memasang wajah tanpa dosa.

Mata elangnya tepat menghujam padaku. Bram meneruskan kalimatnya, “Seperti katamu, bergerak dari bawah layaknya akar rumput. Merambat dan melebar. Kita buat gerakan bersama, satukan kekuatan lewat murid-muridmu. Kita tanami pohon bakau di pinggir pantai sebagai pemecah ombak, menanam pohon trembesi sebagai penyerap polutan dan tanaman rumahan seperti lidah buaya, bunga sepatu.” Jawabnya sungguh-sungguh.

“Hm, menanam trembesi bagaimana? Kita tak punya lahan.”

“Bangunlah itu semua dari depan halaman rumah, kampung dan sekolah. Kau bisa memanfaatkan dengan baik tanaman rumahan itu. Untuk lahan yang lebih besar serahkan padaku. Aku telah me-lobby pihak pemerintah dan swasta. Sekarang bukan giliranmu untuk bicara politik itu selalu kotor.” Katanya terkekeh-kekeh.

“Baik Bapak DPR in the future. Hahaha, semoga semesta mengamini. Jadi kita mulai eksekusi ini kapan?”

“Besok. Mari menggalakkan kesadaran itu pada masyarakat dengan memberikan solusi nyata. Imbangkan aksimu lewat lisan dengan gerakan nyatamu. Serukan pada murid-muridmu. Apa yang kita tanam saat ini, itulah yang akan dituai untuk masa depan nanti. Semoga cucuku kelak dapat mengucapkan terima kasih pada bebuyutnya yang telah menanam benih kebaikan di masa ini.” Aku melihat bara semangatnya begitu kentara. Berapi-api.

“Dan satu lagi Ham yang tak boleh kau lupakan. kau perlu berdamai dengan dirimu sendiri bahwa kau tak bisa menolong semua orang. Mari kita lakukan apa yang kita bisa.”

Aku tersenyum pada kalimat yang baru saja dilontarkan oleh sahabat karibku. “Setuju! Mari sebar luaskan hal ini bersama-sama.”

Seketika langit begitu indah memayungi wajah kami yang sedang ingin berteduh. “Bumi, lekaslah pulih. Apa yang diperjuangkan ini kelak menjadi saksi bahwa masih ada segelintir manusia di masa kini yang berempati pada nasib masa depan.” Bisikku pada angin yang membawa kedamaian di senja 2042. Semoga adanya begitu.

————————–

Di waktu yang bersamaan, belasan ribu mil dari Surabaya ada tantangan lagi yang harus ditaklukkan. Di balik ketebalan es yang tersimpan rapat di dalam bumi, ada yang sedang bersiap-siap memberikan kejutan dengan kedatangannya. Jauh disana, kehidupan manusia tak lagi berhadapan dengan bangsa sesamanya, karena musuh mereka kini sejatinya tak kasat mata. VIRUS. Berbagai virus dan bakteri telah bangkit dari bangkai hewan yang terpendam jutaan tahun lalu akibat mencairnya lapisan es di Greenland. Manusia berkejaran dengan waktu. Keterbatasan umur mereka yang semakin pendek hanya menyisakan 2 pilihan. Hidup dengan kesengsaraan atau mati dengan kedamaian. Maka Ilham telah mengambil satu keputusan besar dalam hidupnya. Berkorban sampai mati demi kelangsungan hidup generasi masa depannya.

74 thoughts on “Cerpen #124: “BERGERAK SEPERTI AKAR”

  1. sebuah cerpen, yang merepresentasikan kehidupan saat ini. ada kalanya relasi manusia terhadap lingkungan .sangat tidak mengungtungkan Alam. Tapi dibalik itu semua,ada kalanya alam membuat kita tidak beruntung. ini menjadi pelajaran bagi kita.

    aku tidak sabar menunggu cerpen lingkungan diseri selanjutnya.

  2. Karya yang luar biasa diambil dari realita saat ini, ini adalah upaya supaya masyarakat sadar bumi sedang tidak baik2 saja

  3. Luar biasa cerpennyaa baguss bangett. Kalimatnya mudah dipahami, alur kisahnyaa jugaa sangat menarik. Sukses selalu mbaknyaa yaa, semangat berkarya.

  4. Assalamu’alaikum
    Sebelumnya tulisan ini, membuat saya takjub. Selain penyampaiannya mudah dipahami, isinya sangatlah berbobot dan bermanfaat buat kita semua. Semua tokoh-tokohnya juga keren. Berusaha dan berjuang untuk menyehatkan bumi kembali.
    Gambaran cerpen ni, juga mengingatkan oknum2 tertentu dan juga pemerintah. Tentu ini, adalah hal positif. Karna cerpen ni selain menggambarkan keinginan kuat penulisnya. Secara gak langsung juga menggambarkan isi hati rakyat.
    Kekwatiran sekaligus ajakan terhadap hal-hal yang terjadi sekarang. Agar tidak ada krisis iklim seperti sekarang. Maka seperti disampaikan penulis. Bahwa oknum-oknum tertentu tidak mengeksploitasi alam secara besar-besaran, penebangan liar , pemerintah mengambil tindakan tegas yang benar-benar peduli serta diri kita yang juga ikut action. Jadi sama-sama saling membantu menyehatkan bumi kembali. Jika tidak banyak alam rusak, polusi, hewan-hewan mati karna susu yang sangat panas, bahkan ada korban berjatuhan. Sesak rasanya, mengingat bila terus terjadi ditahun-tahun kedepan belum lagi memikirkan nasib cucu kita. (Penulis cerpen ni secara gak langsung membawa kita juga merasakan dan menggerakkan semangat untuk bisa saling membantu menyehatkan alam kembali)

    The best deh cerpen niiii🥰

    1. Ceritanya bagus sekali, semoga indonesia bisa terus berkembang serta perusakan alam dan eksploitasi besar-besaran berkurang.

  5. Tulisan yg sangat mendalam sesuai realitas kehidupan saat ini, manusia memang dalam dirinya memiliki rasa ingin memiliki jangan sampai rasa itu merugikan kehidupan orang lain. Semoga tulisan ini selalu menginspirasi.

  6. Cerpen ini sangat penting dan menarik untuk dibaca. Penulis berhasil mengajak pembaca untuk sadar akan lingkungan tanpa merasa digurui. Cerpen ini sangat layak diapresiasi

  7. Penulisanx sangat rapi, ceritax jg bagus, mudah dipahami dan bahasax jg tdk terlalu rumit 👍👍 sangat bagus 😘👍👍

  8. Cerpen ini memuat bnyk pesan positif yang membuat pembaca termotivasi untuk saling menjaga bumi agar tidak rusak, dan memperbaiki bumi, terimakasih kepada penulis…

  9. Hidup dengan kesengsaraan atau mati dengan kedamaian.
    Semoga jadi inspirasi buat generasi pemalas ini.

    Sukses buat penulisnya.

  10. Bagus bnget cerpen nya, bahasanya mudah dipahami & tdk bertele-tele, memberi motivasi yg sangat baik untuk kedepannya, semangatt berkarya kak💪 semoga selalu menjadi motivator terbaik bagi generasi muda lainnya❤.

  11. Luar biasa!
    Sebuah tulisan yang mengingatkan kita tentang Bumi kita, lebih tepatnya Indonesia yang kita tempati saat ini sedang tidak baik-baik saja. Semakin kurangnya daerah resapan air, semakin meninggi nya permukaan laut, polusi yang semakin hari semakin parah ditambah hutan yang seharusnya menjadi penyaring udara sekarang semakin habis akibat keserakahan diri kita sendiri. Sepertinya ini bukan bencana alam, memang seperti bencana buatan.
    Ditunggu tulisan selanjutnya ya!

  12. KEREN ASLI!! Baca ini realistis, bukan surealis seperti dongeng. Terasa nyata dan amat dekat dengan kehidupan kita saat ini. Mari bergerak seperti akar dari bawah dan berikan kemanfaatan untuk menyelamatkan bumi dr krisis iklim💫

  13. Cerpen ini ibarat karya Tere Liye yang membawa kita ke masa depan, dimana ada berbagai ancaman bencana lingkungan yg disebabkan oleh manusia. Tokoh Ilham Manukwaru yg ‘terpaksa’ hidup nomaden karena masalah kerusakan lingkungan, seakan memberi pesan bahwa saat ini, kita perlu memikirkan kehidupan anak cucu kita di masa depan. Untuk itu, kita perlu terus dan terus menjaga lingkungan kita, agar kedepan anak cucu kita tidak sampai mengalami kesengsaraan (yg kita perbuat) seperti penggambaran cerpen ini, Amiin.

  14. Cerita ini betul betul menggugah
    Membuat semua orang akan terpana, bagaimana krisis iklim akan mengubah seluruh tatanan hidup masyarakat

  15. Cerita ini betul betul menggugah !!
    Membuat semua orang akan terpana, bagaimana krisis iklim akan menghancurkan kehidupan kita pelan pelan. Lanjtkan

  16. Cerpennya keren! dari tata bahasa di paragraf awal-awal sudah sangat menarik, apalagi value yang didapat setelah membacanya. Sekali lagi keren!

  17. maasyaallah bagus banget kesannya, memberikan pesan positif agar manusia selalu menjaga lingkungan.. keren bgtt trus berkarya!!

  18. Kerusakan hutan, gempa, lumpur lapindo dan semuanya mungkin di masa depan memang bukan bencana alam tapi bencana manusia. Mari hentikan bersama sebelum terjadi yg lebih parah. ini cerpen yang sangat bagus. Terus dilanjutkan ya kak!

  19. Bergerak seperti akar!!
    Keren kalimat judulnya! Tetap beri kemanfaatan bagi sekitar dan bergerak dari bawah. Kebaikan itu harus diperjuangkan.
    Pliss ini cerpen terbaik yg pernah aku baca. Semoga ada serial lanjutannya

  20. Tulisan ini adalah cermin bagaimana nasib di masa depan. Ayo lolos! Semua ceritanya berbobot. Yakin banyak pendukungnya. Dan jangan berhenti BERBUAT BAIK

  21. sebuah kisah hidup inspiratif, banyak pelajaran yang bisa dipetik sebagai cermin bagi kehidupan di dunia ini. terus maju bagi penulis dan selalu tuangkan ide – ide kreatif di setiap tulisanmu ya.

  22. Wajib banget ini masuk nominasi mah! Apa yang digambarkan sesuai dengan realita sekarang. Mari hentikan krisis iklim dan menjadi seperti ilham

  23. Yang ditulis dari cerpen ini, semoga bisa menyadarkan para pemangku kebijakan. Agar melanjutkan pembangunan tanpa harus mengorbankan lingkungan

  24. Kisah disini diambil dari kisah nyata. PENULISNYA keren, bisa membawakan dengan bahasa ringan, sederhana dan mudah dipahami.

  25. Ceritanya pelik, penuh kejutan dan tak bisa ditebak. Pada akhirnya memang manusia harus bisa bertahan hidup di tengah kehidupan yg tak pasti dan harus nomaden. Semoga tak terjadi hal buruk di masa depan

  26. Kamu sudah lakukan yang terbaik! Cerpen ini betul² bisa membuka mata para pembaca untuk sadar dan bergerak memperbaiki lingkungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *