Cerpen #122: (Tanpa Judul)

Langit berwarna biru, dihiasi awan yang membentang. Terik matahari menyengat setiap unsur yang ada di permukaan bumi. Suara burung bangau sesekali menyelinap dibalik deru mesin produksi pabrik pakan ternak yang berdiri gagah di samping pemukiman. Diselingi pula, sayup – sayup klakson kendaraan besar yang melaju di jalur panas Pantura.

Iman beridiri di tepi tambak ikan milik mertuanya. Ia bersiap – siap untuk memanen ikan bandeng yang ia budidaya di tambak tersebut. Ingatannya tiba – tiba melayang ke masa di mana ia pertama kali menjadi penduduk desa Sriwulan.

1990, Iman menikah dengan Umi, perempuan asli kelahiran desa Sriwulan. Sebuah desa yang terletak di perbatasan Kabupaten Demak dan Kota Semarang, di jalur Pantura. Sawah dan kebun terhampar di mana – mana. Pohon pisang, mangga, pepaya, jambu, kelapa, lamtoro, mengkudu, belimbing, dan banyak jenis pohon yang lain, tumbuh subur di tanah Sriwulan. Bunga – bungaan juga tumbuh subur di sepanjang jalan yang ia lewati. Ada bunga bugenvil, nusa indah, melati, sepatu dan lain – lain. Ia masih ingat, sehari setelah menikah, ia disuruh mertuanya untuk memetik kelapa dari pohon di belakang rumah mertuanya.

“Pak, mbok jangan ngalamun,” suara Umi, istrinya yang tiba – tiba mengeluarkannya dari lamunan.

“Oh ndak Buk. Cuma tiba – tiba ingat dulu pas awal aku di sini.”

“Wah, kangen dimarahi Bapak ya.”

“Ya ndak Buk. Wong itu kan tidak sengaja. Aku tidak lihat kalau ada Bapak di bawah. Ya aku asal lempar kelapanya. Eh, kebtulan kok ternyata Bapak di bawah. Untung Bapak sakti. Bisa menghindar secepat kilat.”

“Cuman ya kamu didiemin sampai seminggu. Padahal menantu baru,” ledek Umi sambil tertawa. “Sudah, sana. Arif diajak nyebur. Biar bisa tahu cara memanen ikan dengan jaring. Kalau mau diajarin bertani ya tidak mungkin. Lha sawahnya saja sekarang jadi air semua.”

“Rif, sini Rif. Ditunggu Bapakmu ini,” teriak Umi memanggil anaknya.

“Iya Buk, sebentar. Lagi nyari topi,” sahut Arif dari dalam rumah.

Arif menuju belakang rumah. Di sana, Bapak dan Ibunya sudah menunggu.

Angin berhembus diiringi udara panas khas pesisir. Permukaan air tambak bergelombang kecil karena disapu angin. Arif menceburkan dirinya perlahan ke tambak. Dimulai dari kakinya, hingga perutnya masuk ke dalam tambak. Ketinggian air tambak setinggi perut Arif. Ia langsung menghampiri Bapaknya yang sudah di sisi lain tambak, memasang jaring untuk menangkap bandeng.

Jaring sudah terpasang menyilang di dua sisi tambak dan mulai bergejolak tanda bahwa sudah ada ikan yang terperangkap. Biasanya selain bandeng, ada juga ikan mujair yang tertangkap. Padahal Iman tidak pernah menanam bibit mujair di tambak tersebut. Kata mertua Iman, hal tersebut merupakan wujud karunia Tuhan.

Sembari melepas ikan yang terperangkap di jaring, Iman mengajari anaknya perlahan. “Begini nak, diperhatikan ujungnya. Entah kepala atau ekornya. Kemudian benang jaringnya kamu tarik perlahan berlawanan dengan kamu menarik tubuh ikannya.”

“Oke Pak. Mudah sekali itu. Tapi kok sulit ya.” Arif berusaha mempraktikkan apa yang diajarkan Bapaknya. “Yak, berhasil. Ini dapat satu bandeng.”

“Langsung masukin ke karungmu itu.”

“Yah, lepas Pak,” kata Arif kaget.

“Sudah Bapak bilangin masukin ke karungmu itu. Malah kamu mainin. Lari itu bandeng,” sahut Iman sambal tersenyum. “Ya sudah, lanjut lagi. Masih banyak yang lain.”

Mereka melanjutkan melepas ikan – ikan yang terperangkap di jaring yang mereka pasang. Sambil melepas ikan dari jaring dan memasukkannya ke dalam karung, Iman berkata kepada anaknya, “Dahulu di sini itu kebun Rif. Kamu percaya tidak?”

“Beneran Pak? Kok, ini air semua, tambak semua?”

“Setiap masa pasti mengalami perubahan. Tidak terkecuali desa ini,” Iman mulai bercerita kepada anaknya. “Jadi dahulu pas awal Bapak nikah sama Ibumu, tambak yang kamu lihat ini adalah kebun.”

“Kalau tambak ini kebun, berarti tambak – tambak yang lain juga kebun Pak?” tanya Arif sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling, melihat tambak yang terhampar luas di depan matanya.

“Ada yang kebun, ada yang sawah. Di bawah menara SUTET itu, dahulu sawah nak,” tunjuk Iman meyakinkan. “Pekerjaan sebagian besar penduduk Sriwulan dahulu adalah bertani. Mereka hidup dari hasil bumi. Beberapa memang ada yang melaut, tapi itu bagi mereka yang tinggal di tepi pantai, yang dahulu jaraknya masih sekitar 5 km dari sini. Masih jauh dari rumahmu ini.”

“Padahal sekarang pantai itu dekat Pak. Biasanya Arif sepedaan sama teman – teman ke sana kalau pulang sekolah.”

“Iya, sawahnya sudah berubah jadi laut sekarang. Padinya berubah jadi ikan.”

“Kenapa bisa begitu Pak? Apa karena banjir zaman Nabi Nuh, Pak?” tanya Arif polos.

“Hahaha. Bukan begitu nak.”

“Lalu bagaimana Pak?” tanya Arif antusias.

Iman mulai menceritakan awal mula ia berhubungan dengan desa Sriwulan. Saat Jalan Raya Pantura masih belum lebar, dengan jalur kereta api di sisi selatan jalan yang masih terlihat. Setiap sore, ia selalu menjemput adiknya yang bekerja di sebuah pabrik garmen di dekat Sriwulan. Saat itu, ia mulai terpesona dengan salah satu teman bekerja adiknya, perempuan Sriwulan.

Mentari yang mewarnai langit menjadi jingga, susunan pepohonan di sepanjang jalan, warna – warni bunga yang menghiasi jalanan setapak desa dan juga hatinya, membuat Iman berpikir kelak akan berumah tangga di desa tersebut, Sriwulan. Kondisi lingkungan yang tak jauh dari kehidupannya di desa Guntur. Dengan sawah, ladang dan kebun, tentu ia akan cepat beradaptasi dengan kehidupan di Sriwulan.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tak ada yang tahu takdir itu seperti apa. Namun yang pasti, jodoh adalah salah satu takdir yang telah ditetapkan, menyertai manusia menjalani hidup. Iman menjadi suami teman kerja adiknya, Umi. Orang tua Umi adalah petani. Sesuai prediksi Iman, ia akan mudah menjalani hari – harinya di Sriwulan.

Setiap akhir pekan, Iman membantu mertuanya di sawah maupun kebun. Dikarenakan setiap harinya Iman bekerja sebagai buruh angkut beras di Pelabuhan Tanjung Mas, Semarang. Mertua Iman memiliki beberapa petak sawah dan kebun. Ditanami padi untuk sawahnya, dan umbi – umbian untuk di kebun. Hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari dan dijual di pasar.

Beberapa tahun setelah pernikahannya, Iman melihat banyak kendaraan besar memenuhi Pelabuhan. Lebih tepatnya kendaraan proyek. Dari kabar yang berhembus, Pelabuhan akan ditinggikan, karena beberapa area di komplek Pelabuhan telah terendam air laut. Iman tak berpikir macam – macam akan proyek tersebut. Ia hanya tak sabar melihat wajah baru Tanjung Mas setalah pembangunan.

Tak perlu waktu lama, Iman melihat wajah baru Tanjung Mas. Namun, kekagumannya terhadap Tanjung Mas menjadi sirna. Efek dari proyek tersebut ternyata menyebabkan banjir di Sriwulan. Banjir yang hampir menenggelamkan seluruh desa. Banjir tanpa hujan!

Banjir rob atau rob atau air pasang mulai menyapa penduduk Sriwulan. Semula mereka yang bermukim di Sriwulan menganggap banjir tersebut adalah banjir biasa. Setelah surut, lalu selesai. Tetapi alam berkata lain, banjir rob yang besar tersebut menjadi salam pembuka untuk desa Sriwulan dan seluruh penduduknya. Walaupun tidak sering atau tidak setiap hari, rob tersebut mulai berkenan singgah di Sriwulan. Akibatnya rob tersebut selalu membawa oleh – oleh kepada laut, yaitu tanah Sriwulan.

Bibir pantai yang semula berjarak sekitar 6 km dari jalur pantura, semakin hari semakin berkurang. Bulir – bulir padi yang terhampar indah, pepohonan yang rindang, bunga – bunga yang menyegarkan pandangan, bertranformasi menjadi tanah kering berselimut garam di kala rob tidak berkunjung dan menjadi genangan air asin tatkala rob bertamu.

Perlahan tapi pasti, semuanya berubah. Penduduk yang memiliki sawah dan kebun mulai memutar otak agar tanah milik mereka tetap mampu menghasilkan Rupiah untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Jikalau harus bekerja di pabrik, mereka tak punya cukup keterampilan karena setiap hari yang mereka gunakan adalah cangkul, bukan mesin.

Beberapa di antara mereka akhirnya memutuskan membuat tambak dengan memanfaatkan bekas petak sawah yang ada. Dengan batas tiap petak memanfaatkan tanah pematang sawah yang masih ada. Mereka tetap bertani, tapi bertani ikan. Mereka membudidayakan ikan bandeng ataupun udang.

Mertua Iman juga melakukan hal yang sama. Merubah sawah dan kebunnya menjadi tambak ikan. Iman masih rutin membantu mertuanya tiap akhir pekan. Namun berubah, yang semula bertani di sawah menjadi menangkap ikan di tambak. Dari mencangkul tanah menjadi memasang jaring. Dari memanen padi menjadi memanen bandeng. Iman perlu belajar lagi. Belajar hal baru. Penyesuaian kehidupannya karena perubahan lingkungan yang mau tidak mau diterima oleh desa Sriwulan.

Yang sebelumnya belajar memahami karakteristik tanah, kini harus mempelajari karakteristik air. Dari memilih bibit padi yang unggul, kini memilih bibit bandeng yang bagus. Cangkul, alat bajak dan perangkat bertani lainnya, kini tergantikan oleh jarring dengan berbagai jenisnya. Biasanya cukup ke kebun dan mencabut singkong, kini setidaknya harus menunggu waktu panen bandeng agar bisa makan bandeng hasil tambak mertuanya.

Kondisi alam berubah, kondisi lingkungan berubah, memacu kehidupan dan manusianya untuk cepat beradaptasi dengan sesuatu yang baru. Sriwulan yang baru!

“Pak, ini apa ya yang aku Arif injak?” tanya Arif di tengah cerita Bapaknya.

“Oh itu, dasar pohon Kelapa nak.” Jawab Iman.

“Lho, di sini dulu ada pohon Kelapa Pak?”

“Iya. Dulu kalau butuh kelapa buat masak, atau dijual sama Eyang putrimu ya ngambilnya di sini, salah satunya pohon yang dasarnya kamu injak itu.”

“Akibat rob bisa sampai seperti ini ya Pak? Pohon Kelapa yang tinggi dan berbuah banyak, bisa hilang ditelan rob.”

“Begitulah nak, memang awalnya orang – orang sini tidak ada yang mengira atau memprediksi bahwa rob akan berdampak parah sampai seperti ini. Pohon Kelapa yang bisa menghidupi kita, kini hilang dilahap air rob. Begitu pula tanaman lain yang bisa menghasilkan. Mendapat nasib yang sama. Rob tidak hanya mematikan tanaman, tetapi juga mematikan kehidupan. Berapa banyak pohon, berapa banyak padi, berapa banyak umbi – umbian yang kala itu bisa menghasilkan Rupiah, kini hilang begitu saja tergantikan oleh tambak.”

“Pikiran Arif mentok Pak,” sahut Arif sambil menyeringai.

“Wajar, kamu masih kelas 5 SD. Nanti kamu akan tahu sendiri kenyataannya seperti apa saat kamu beranjak dewasa.”

“Kenyataan apa maksudnya Pak? Arif tidak paham.”

“Kenyataan tentang desa kita ini yang terdampak rob.”

Semak – semak yang dahulu mengitari pepohonan di sepanjang jalan, pinggiran sawah, kini berubah menjadi bakau yang menjulang. Tumbuhan bakau ditanam oleh penduduk Sriwulan untuk mencegah abrasi, menahan gelombang air laut terhadap pengikisan tanah, yaitu tanah pematang tambak maupun tanah pemukiman.

Ikan – ikan air tawar di kali daerah Sriwulan mulai punah. Disebabkan karena air rob yang asin menguasai tiap lekuk sungai. Serta limbah dari pabrik yang mulai merayapi saluran air menuju ke laut.

Sumur – sumur yang dahulu susah payah digali dengan keringat gotong royong saudara maupun tetangga, kini airnya mulai asin, efek dari rob yang melanda. Sudah tidak dapat digunakan lagi sebagaimana dahulu, untuk keperluan sehari – hari seperti mandi, mencuci, minum dan sebagainya. Kini untuk menyiraam tanaman saja tidak bisa. Kandungan garam yang terlalu banyak menyebabkan tanaman tidak bisa tumbuh subur. Untuk kendaraaan dengan bahan alumunium maupun besi, air rob menimbulkan korosi. Sehingga usia material berbahan besi dan sejenisnya tidak bisa bertahan lama.

Tahun 2000, saat Arif masih TK, ia sedang bermain bersama teman – temannya di halaman rumahnya. Sore itu, tiba – tiba permukaan air sungai di depan rumahnya naik hingga memenuhi jalan. Dan selanjutnya mengalir ke halaman rumah di seberang sungai. Arif dan teman – temannya saat itu senang melihat fenomena yang baru pertama kali mereka lihat. Fenomena rob. Saat itu rob tidak terlalu tinggi, tidak seperti bebeberapa tahun sebelumnya yang hampir menenggelamkan seluruh Sriwulan.

Perlahan dan semakin pasti. Air rob terus menggerogoti setiap sendi kehidupan Sriwulan. Kecepatan menggerogotinya lebih cepat dari banjir besar rob sebelumnya. Rob mulai semakin rutin terlihat yang sebelumnya jarang – jarang.

“Banyak yang berubah ya Buk.”

“Iya Rif. Banyak yang berubah dengan cepat. Semenjak kamu kuliah mengerjakan Tugas Akhir, yang tiap sore jalan Raya Pantura maupun jalan dari selatan ke arah Genuk yang selalu macet parah dikarenakan daerah Genuk terendam rob, kampung kita ini juga tiap hari terendam rob. Tak terkecuali rumah kita.”

“Arif ingat betul Buk. Hal yang paling tidak mengenakkan, sudah capek habis kuliah, malah macetnya parah. Dari Genuk sampai Pedurungan. Luar biasa macet yang disebabkan oleh rob.”

“Iya Rif. Hari – hari yang penuh kemacetan.”

“Tapi jalan depan rumah yang terakhir dibangun sekitar tahun 2009, sekarang sudah dibangun Buk, dibeton juga.”

“Ya kamu tahu sendiri. Sejak 2006, rob semakin hobi bertamu di desa kita. Rumah kita juga tak luput dari kunjungannya. Akibatnya tiap tahun, antara rumah dan jalan selalu balapan untuk ditinggikan.”

“Oh iya Buk, Arif jadi ingat. Dulu pas gelaran Piala Dunia 2006, rumah kita baru selesai ditinggikan, dengan ketinggian sekitar 1,5 meter dari jalan ditambah ada  tempat duduk dari adonan semen yang tingginya sekitar setengah meter. Saat ini semuanya sudah rata dengan tanah. Sejajar dengan ketinggian jalan.”

“Begitulah Rif, tidak ada yang menduga secepat ini. Tanah yang dahulu hijau, kini berubah jadi air asin. Semenjak kamu merantau juga setiap hari rumah kemasukan rob. Minimal sampai teras.”

“Pematang tambak juga hilang semua ya Buk?”

“Iya. Sekarang diganti jaring untuk pembatas tiap petak tambak.”

“Lalu untuk bakau yang rimbun di sana kok sudah tidak ada Buk?” tunjuk Arif ke arah tempat yang ia ingat terdapat bakau yang paling rimbun di Sriwulan.

“Jadi korban rob Rif. Memang air rob itu ganas. Sampai tanah tempat berpijak bakau saja .bisa dilahap. Hingga bakau yang paling rimbun di desa kita itu perlahan layu lalu mati.”

“Kalau begitu, bakau yang semula diharapkan bisa mencegah terjadinya pengikisan tanah akibat abrasi, percuma dong Buk. Tanah tempat bakau tumbuh pun bisa lenyap juga.”

“Iya Rif. Serba bingung jadinya mau bagaimana lagi. Jika jalan ditinggikan, rumah yang kemasukan rob. Jika rumah yang ditinggikan, jalanan yang terendam rob, kendaraan tidak bisa lewat, jikalau tetap dipaksa menerjang rob, efeknya korosi. Usia kendaraan tidak bisa bertahan lama.”

“Bener juga Buk. Jika pilihannya pindah rumah, setidaknya harus beli tanah di daerah lain, itupun perlu menabung dulu. Minimal ada tanah warisan. Tapi bagi yang tidak bisa memilih untuk pindah, pilihannya meninggikan rumah yang dilakukan hampir tiap tahun, yang dengan terpaksa mereka bekerja siang – malam di pabrik, selain memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan, mereka juga harus menyisihkan uang untuk membeli material guna meninggikan rumah.”

“Efek berkepanjangan dari pembangunan, pembangunan dan pembangunan Rif. 2020 ini juga katannya bakal ada pembangunan jalan tol yang dijadikan tanggul laut yang mengitari desa kita. Cuma ya tidak tahu juga, apakah hal tesebut akan berdampak berkurangnya intensitas rob di desa kita, atau malah semakin memperparah. Kita sebagai rakyat cuma bisa pasrah dengan keputusan para pemangku keputusan. Semoga mereka tak lupa untuk memayu hayuning buwana, menjadi rahmat bagi semesta alam. Termasuk kita rakyatnya.”

Nggih Buk, Aamiin.”

Arif memijiat kaki Ibunya dan melanjutkan obrolan temu kangen mereka. Sembari menikmati pemandangan hamparan sawah desa Sriwulan yang kini telah menjadi tambak.

Keluarga Arif beserta penduduk desa Sriwulan tak akan tahu apa yang akan terjadi beberapa tahun ke depan. Sriwulan yang dahulu penuh dengan sawah, kini penuh dengan tambak dan nanti semoga Sriwulan tetap ada, bukan hanya sebuah nama atau pun sebuah cerita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *