Cerpen #121: “Keluar dari Kegelapan”

“Berapa semuanya Bu?, es teh satu ditambah gorengan tiga.”

“Jadi lima ribu.”

Aku beranjak dari kursi kayu tempat ku duduk dan berteduh menghindari

panasnya matahari hingga kini langit akan berubah jingga. Aku keluar dari balik terpal biru tempat ibu penunggu angkringan itu. Langkahku menuntun menuju vespa biru peninggalan ayahku. Kutancapkan gas dan mempercepat laju motor tua ini. Lampu yang tadinya hijau sudah berubah merah, mau tak mau aku harus berhenti jika tetap ingin selamat bagaikan permainan squid game.

Tibalah aku didepan rumah berpagar bambu yang mulai lapuk terkena cuaca dan habis termakan waktu. Belum sampai kaki ini memasuki pintu, aku telah dihadang dengan mbak Meira yang telah berseragam putih dan dihiasi helm dikepalanya.

“Masuk dan bersihkan dirimu, Mbak beragkat ke rumah sakit sekarang karena menggantikan teman Mbak yang sedang ada halangan. Aku akan pulang pukul enam pagi besuk, jaga ibu dengan baik!.”

Kujawab perintah mbak Meira dengan anggukan kepala yang mantab. Semenjak ibu jatuh dari kamar mandi 2 hari yang lalu, kini aku dan mbak Meira harus bergantian menjaga ibu, walau sudah terlihat membaik tetapi kaki ibu masih sakit untuk berjalan. Aku melangkah melewati lorong rumah menuju kamar untuk mengambil handuk dan baju ganti. Dalam ruangan yang diterangi lampu aku melihat wanita yang melahirkanku duduk menikmati sinetron dan kaki yang masih terbalut kain.

“Sudah pulang Li?”.

“ Sudah Buk, aku mau mandi dulu.”

Kujawab pertanyaan ibu bersamaan dengan kujabat tangan dan menciumnya, ibu menjawab apa yang kukatakan dengan senyum yang terbentuk di wajahnya. Aku kembali meluruskan niat ku untuk pergi dan mandi. Segarnya air yang kusiram dari atas kepalau meluruhkan semua penat yang ada dan menghilangkan keringat yang menempel pada tubuhku. Tak lama kemudian adzan magrib berkumandang memberikan panggilan untukku menunaikan ibadah. Jejak kaki di lantai terbentuk dari kamar mandi sampai kamarku yang tak berjarak jauh memberikan bekas yang berderet rapi.

Sarung masih mengikat perutku, aku berjalan melewati pintu kamar yang terbuka menuju dapur yang berada tepat disebelah kamarku. Cacing-cacing dalam perutku ini meronta ronta untuk diberikan makanan, mungkin jika mereka bias keluar mereka akan mencari makanan sendiri. Telur, sayur, dan nasi telah berada memenuhi piring bewarna putih yang kubawa. Tangan kananku membawa piring dengan makanan yang akan kusantap dan tangan kiriku memegang secangkir air putih. Kuletakkan gelas dan piring itu di atas meja kayu depan televisi dan duduk di sofa hijau bermotif bunga. Tanganku meraih remote TV yang ada dimeja dan menekan tombol power. Televisi itu sedang menyiarkan berita yang terjadi akhir-akhir ini.

“ Cuaca ekstrim sedang terjadi di beberapa wilayah Indonesia, musim kemarau yang berkepanjangan tak kunjung usai menyebabkan peninggakatn suhu dan berkurangnya sumber air membuat para petani risau akan terjadi gagal panen seperti tahun lalu.”

Wanita berbaju biru dalam layar kotak kecil itu mengucapkan kejadian yang sedang terjadi di daerahku. Musim kemarau panjang yang tak bosan untuk berakhir menyebabkan kekeringan, sumber air berkurang, sungai surut, ladang dan sawah pecah pecah seperti bibir yang tak lama diberi minum. Bahkan beberapa minggu yang lalu hutan disebelah selatan desaku terbakar, banyak dedaunan dan ranting kering saling bergesekan terkena angin dan terbakar oleh panasnya matahari. Mungkin saja jika kaktus laku dijual para warga akan menanamnya untuk bertahan hidup.

Kefokusanku dengan berita itu teralihkan saat ibu keluar dari balik gorden penutup kamarnya. Ia duduk di sofa hijau bermotif bunga yang sama dengan ku. Tatapannya mengarah pada televisi tetapi dalam pengamatanku ibu melamun menatap televisi itu. Aku berhenti mengunyah makanan, kuambil gelas berisi air dan meminumnya. Sekarang apa yang ada ditanganku telah kuletakkan pada meja kayu didepanku. Kutatap ibu dan melontarkan pertanyaan yang singgah di benakku.

“ Ada apa bu?.”Suara ku mengalahkan suara televisi yang tak begitu keras, ingin rasanya mengetahui apa yang sedang menjadi pikiran ibu saat ini.

“ Ibu takut akan terjadi aggal panen lagi seperti kemarin, jika kemarau panajng dan tak ada sumber air apa yang kita tanam akan mati dan tidak ada yang dijual.”

“ Ibu tenang saja, InsyaAllah kita tidak mengalami gagal panen lagi karena cuaca ini.”

Aku berusaha menenangkan ibu meskipun aku juga tidak tahu apakah harapan tidak gagal panen itu terwujud.

Piring dan gelas kotor sisa makanku telah kubersihkan dan kutidurkan pada rak bewarna hijau. Aku berjalan memasuki kamar setelah adzan isyak berkumandang. Dalam solat, kuangkat kedua tangan dan memanjatkan doa memohon harapan-harapan yang kucurahkan dikabulkan Allah. Kulipat sajadah tempat kubersujud dan merebahkan diri ini diatas kasur  yang berisi kapuk, kuluruskan tulang-tulang yang menompang tubuhku setelah lelah mengarungi dunia luar. Kuraih ponselku untuk mencari hiburan, game dalam ponsel itu berhasil menghiburku dan mengistirahatkan pikiran yang lelah ini. Tak berselang lama baterai ponsel yang semula orange kini berubah menjadi merah, ada peringatan muncul dalam notifikasi bahwa baterai ponselku tersisa 9%. Kutancapkan ponselku pada cargernya, kini ponselkulah yang beristirahat setelah menemani kegiatanku hari ini.

Bosan melanda dengan cepat, segera kuraih gitar yang terletak di sebelah lemari kayu yang tingginya melebihi tinggiku. Kugengam gitar hitam yang berdebu dan memainkan beberapa nada untuk mengusir kebosanan karena kantuk yang tak kunjung datang. Sampai waktu menunjukan pukul 21.10 kantukku belum juga datang dan kebosanan kembali melandaku. Aku berjalan keluar kamar menuju dapur, mengambil secangkir air untuk menghilangakn rasa haus di kerongkonganku setelah lama menyanyikan beberapa lagu. Langkahku berbelok dan duduk di depan televisi, menemani ibu yang kembali menonton televisi setelah solat isyak tadi. Tak banyak lagi siaran televisi yang memberikan berita berita yang terjadi di dunia ini, hanya meinggalkan sinetron dan beberapa film saja yang kini menjadi hiburan.

“ Ibu masuk dulu ya, udah ngantuk.” Kujawab perintah itu dengan anggukan, wanita bernama Imas itu pergi meninggalkanku sendiri dalam terangnya sinar lampu dan kegelapan dunia luar yang terlihat dari balik ventilasi udara.

Cukup lama aku menemani televisi yang masih menyala, beberapa kali pula aku mengganti siaran televisi itu, jeda komersial adalah sebabnya. Jarum jam telah menunjukan pukul 22.05. Aku mematikan televise, ia menayangkan film horror yang membuat bulu kudukku berdiri, ditambah dengan suasana yang sepi, sunyi ditelan gelapnya malam dan dinginnya udara. Aku berjalan masuk kedalam kamar dan menutup pintu kayu yang terbuka. Kubaringkan badan menghadap tembok hijau yang sedikit memudar warnanya. Aku mencoba untuk tidur, mata ini kupejamkan tetapi otakku masih memikirkan beberapa hal dan belum ingin diajak beristirahat. Sampai tibanya aku terlelap karena kantuk yang melanda dan dininabobokkan dengan suara hewan-hewan malam yang mulai keluar untuk menjalani kehidupannya sebagai hewan nocturnal.

“Assolatu khoirum minannaum”
Adzan subuh dari masjid yang tak berjarak jauh terdengar merdu, alarem panggilan untuk bangun menunaikan sholat mengalahkan kenyamanan empuknya kasur untuk terus melanjutkan mimpi. Aku bangun dalam mimpi ini untuk mewujudkan mimpi yang kuharapkan. Berjalan menuju samping dapur untuk mengambil air wudhu. Dinginnya air menusuk hingga dalam, meluruhkan lem di mata yang masih sulit dibuka dengan lebar.

Aku berjalan melewati lorong dan berbelok ke kiri menuju halaman depan rumah. Tangan kananku membawa kain bewarna putih dengan corak kotak-kotak bewarna hitam. Kuletakan kain itu diatas jok vespa biru, kugandeng vespa itu untuk berjalan keluar menghirup udara pagi yang masih segar. Kuraih kain yang berada di atas jok itu, debu-debu dari vespa ini kusapu bersih, kain yang semula bewarna putih bersih kini telah berubah buruk rupa. Tak berselang lama dari kejauhan aku melihat mbak Meira yang sudah pulang dari rumah sakit tempatnya bekerja. Kupastikan tak ada lagi debu yang menempel pada vespaku ini, kukembalikannya ketempat semula ia berdiri. Aku kembali menuju kedalam rumah mengambil beberapa barang dan segera pergi. Cangkul kugenggam erat ditangan kiriku dan tangan yang lain kugunakan untuk menjinjing tangki, caping menghiasi kepalaku untuk berjaga-jaga sewaktu panas matahari datang menyerang.

“ Buk, Mbak, Ali berangkat ya, assalamualaikum.”

Aku melangkahkan kaki, menyusuri jalan yang lama kelamaan berbatu dan semakin sempit. Melewati kandang sapi warga yang harumnya sangat nikamt dan menusuk hidung. Matahari belum menyunggingkan senyum lebar, kabut masih terlihat menyebakan kesejukan. Dedaunan dan rumput-rumput yang kupijak dipenuhi dengan embun yang belum hilang. 10 menit berlalu, aku telah sampai ditujuanku, hamparan sawah terlihat luas didepanku. Tak sendiri aku ditempat seluas ini, terhitung tujuh orang kulihat mereka semua sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

4 tahun setelah aku lulus dari sekolah menengah atas, aku membantu ibu untuk mengurus sawahnya walau sementara ini ibu tidak menemaniku karena kakinya yang belum bisa diajak kompromi. Semenjak ayah meninggal, ibu dan mbak Meiralah yang berjuang memenuhi kehidupan. Beberapa kali aku melamar pekerjaan, dan berberapa kali pula aku merubah profesiku, karyawan SPBU, waiter, pedagang cilok semua pernah kulalui. Kuliah? Mungkin suatu saat nanti bila kesempatan itu datang akan kulalui jalan itu, untuk meluaskan wawasanku seperti perkataan Nelson Mandela

“Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang dapat kamu gunakan untuk mengubah dunia.”

Kuawali aktivitasku dihamparan sawah ini dengan menyemprotkan cairan pembunuh hama. Sejuknya udara mulai memudar digantikan dengan matahari yang muncul dan semakin lama semakin tinggi bersinar diatas sana. Sejenak aku duduk dibawah pohon, berteduh dan menghindar dari panasnya sinar matahari bersama warga lain yang mulai pergi meninggalkan pekerjaannya untuk berteduh.

“Bagaimana ini, kemarau terus menerus tanpa jeda. Tidak ada setetes air pun yang turun dari langit untuk menyegarkan tanaman ini. Air dalam sumur itu lama kelamaan akan kering jika hujan tak kunjung membasahi tanah ini.”

Pak Rohmat, pemilik sawah yang terletak bertetangga dengan sawah Ibu megutarakan keluh kesah yang ada dalam benaknya.

“ Iya pak, walaupun air dalam sumur itu masih menggenang, tetapi jika tak ada hujan yang turun air itu akan surut, tanah sawah ini akan kering, tanaman akan mati jika tak ada air, kita semua disini pasti tak mau mengalami yang namanya gagal panen lagi kan ?.”

“ Benar sekali, benar. Lama-lama dibuat pusing aku karena semua ini, tetap berdoa saja pada tuhan semoga gagal panen ini tidak terjadi lagi.”

Amin, kata itu langsung keluar dalam batinku. Duduk termangu aku mendengarkan semua ucapan yang dilontarkan para warga ini. Pikiranku berkecamuk, rasa cemas melanda, kata gagal panen  itu mendengung ditelingaku. Tetapi tetap kucoba memikirkan hal itu tidak terjadi, pasti Allah akan membantu umatnya yang tertimpa masalah jika ia ingin berusaha dan Allah tak akan memberi cobaan diluar batas kemampuan umatnya.

“ Ada apa Li, kok ngelamun, bu Imas sudah membaik kan?.”

“ Hehehe tidak ada apa-apa Pak, alhamdulilah ibu sudah membaik.”

Seketika kulupakan semua kegelisahan dalam pikiranku ini. Aku bangkit dari duduk dan kembali menyelesaikan pekerjaanku agar segera pulang dan melepas rasa letih ini.

Matahari mulai condong kearah barat setelah adzan zuhur berkumandang. Selesailah pekerjaanku hari ini dibawah panasnya matahari yang memacarkan sinarnya dengan semangat, dengan segerera aku berjalan pulang. Sampailah tujuanku di rumah bercat hijau, kubasuh kedua kaki yang kotor dengan air mengalir yang menyejukkan. Aku melangkah masuk meninggalakan cangkul, tangki,dan caping di depan rumah. Pakaian yang bewarna merah yang kotor terkena tanah dan keringat telah berubah warnanya seperti warna cat tembok rumahku.

Matahari yang tadinya condong kebarat, kini telah benar benar berada di arah barat. Langit yang semula biru kini perlahan lahan berubah gelap bersamaan dengan hilangnya semburat warna orange yang menghiasi langit ini. Kurebahkan tubuhku dalam kenyamanan kasur, melepaskan semua lelah yang singgah dalam diriku dalam gelap malam dan suara binatang malam yang mulai bernyanyi. Kutatap langit-langit yang tersusun dari genteng, pikiranku melayang jauh membayangkan hal yang dikatakan pak Rohmat dan warga lainnya t akan kegagalan panen. Gagal panen, kata itu menghantuiku, keadaan ini tak pertama kali terjadi tetapi tahun yang lalu ibuku mengalami kegagalan panen karena hal yang sama semua karena kekeringan. Untung tidak didapat, yang didapat hanyalah utang yang ada.

“ Jika tanah ini kembali subur, tidak ada kata gundul, polusi udara berkurang mungkin akan memperbaiki sedikit demi sedikit keadaan yang ada. Apakah kucoba saja menanam kembali lahan-lahan gundul itu dan sukur- sukur dapat mengurangi kerusakannya. Jika bisa, kotoran sapi di kandang kelompok itu juga bisa dijadikan biogas yang dapat mengurangi pemanasan global ini. Tapi bagaimana dengan biayanya?.”

Kalimat itu muncul dengan lirih dari bibirku, hanya aku saja yang dapat mendengarnya, sebuah harapan dan ide baru muncul untuk mengakhiri kesulitan ini meski ada tantangan yang tetap akan menghadang didepan sana. Aku berjalan keluar dari tempatku istirahat  dan melihat mbak Meira dan ibuku sedang menikmati sinetron televisi. Aku mendekati dua wanita itu dan mengatakan secarik ide dengan kekurangannya berharapkan solusi untuk itu.

“ Bagaimana Mbak, Buk apakah kalian setuju degan ideku, kita tidak akan mengalami gagal panen seperti kemarin lagi jika besok keadaan dapat kita ubah.”

“Mbak sih setuju, tetapi ada masalah dengan dana itu ya ?. Emmm….. Bagaimana kalau diadakan penggalangan dana?. Tidak hanya kita tapi seluruh warga dan masyarakat yang ingin menyalurkan dananya untuk hal ini, kita dapat memanfaatkan media sosial yang ada. Kita juga bisa membuat proposal meminta bantuan kepada pemerintah. Selagi kita jujur maka apa yang kita lakukan akan membuahkan hasil yang baik.”

Solusi dari mbak Meira membuat semangatku berkobar, memberikan celah agar harapan hidup lebih baik keluar dalam kegelapan.

Mentarai mulai menampakkan sinarnya tanpa malu-malu, suara kokokkan ayam terdengar bersahutan, burung burung beterbangan dengan riangnya menyanyikan lagu yang membuat suasana di desa ini semakin hidup. Jarum pendek pada jam dinding itu menunjuk ke angka 8,baju bewarna hitan dengan celana jeans pendek terpasang di badanku dan rambut rapi yang masih basah. Dengan semangat kunaiki vespa antikku melewati jalan bebatuan dan sedikit berrumput. Senyum memancar di wajahku tatkala aku melihat apa yang kucari telah kutemukan. pak Adi, kepala desa itu sedang mencangkul ladangnya yang ditumbuhi sayuran. Kumatikan suara motor ini dan melangkah melewati jembatan kecil yang menghubungkan aku dengan tempat pak Adi berdiri.

“ Assalamualaikum”

“ Wa’alaikumussalam, ada perlu dengan bapak atau memang mau kesawah Li ?.”

“ Sebenarnya Ali ada perlu dengan bapak, tadi Ali udah kerumah tapi kata Bu Ati bapak sudah kesawah, jadi saya kesisni pak. Apakah saya mengganggu pekerjaan bapak ?.”

“ Oooo tentu tidak, kita duduk di gubuk itu dulu!.”

Aku berjalan mengikuti Pak Adi yang memimpin barisan, melewati jalan kecil

diantara sawah yang ditumbuhi rerumputan.

“ Sebelumnya Ali mau bertanya, sebagian tanaman Bapak kering karena air yang kurang memadahi tidak?.”

“ Iya Li para warga yang lain juga mengalami itu. Hujan tak kunjung turun, sumur bor yang disebelah sana itu sudah mulai surut airnya.” Kata pak Adi smabil menunjukan arah ke sebuah sumur kecil.

“ Jadi saya kesini untuk menyampaikan ide saya agar keadaan ini segera berakhir dan tidak terjadi gagal panen seperti tahun lalu pak.”

“ Bagaimana itu?.”

Pak Adi yang mungkin sedikit penasaran dengan apa yang ku katakana menaikan satu alisnya.

“ Kekeringan yang panjang ini selain takdir juka dapat karena ulah kita Pak, hutan gundul dan pemakaian gas-gas yang merusak ozon semakin banyak dan terjadi peningkatan suhu. Jadi saya memiliki niat untuk memperbaiki hutan gundul dan setelah terbakar kemarin. Untuk pengurangan gas perusak ozon saya berniat untuk kotoran sapi dikandang ternak itu dijadikan biogas Pak. Soal biaya yang dihitung sangat banyak saya memiliki ide untuk penggalangan dana dan pembuatan proposal yang diberikan kepada pemerintah setempat agar kita mendapat tambahan dana. Bagaimana menurut bapak?.”

“ Wau, sebuah ide yang sangat besar dan saya sangat setuju dengan itu, hutan yang ada disini juga sumber pangan kita jadi harus kita jaga. Dengan merubah keadaan yang disebabkan kita juga, maka anak cucu kita akan menikmati manisnya dunia yang jauh dari kata polusi yang seperti Bapak rasakan saat kecil dulu. Nanti sore bapak ada pertemuan dengan warga, bapak akan menyertakan idemu ini dan meminta pendapat dari mereka.”

“ Terimakasih banyak pak, saya permisi dulu.”

Rasa lega menghiasi perasaanku, satu langkah telah kulalui untuk membalikan keadaan seperti beberapa tahun yang lalu, rimbun, sejuk, hijau yang tak semudah membalikan telapak tangan.

Satu hari yang telah berakhir lagi ditandai dengan matahari yang kembali keperaduannya digantingan sinar rembulan yang yang tak seterang sinar mentari. Malam  itu dengan diterangi sinar rembulan, aku duduk dengan secangkir teh yang menghangatkan badanku. Dalam benakku terbesit tanda tanya yang hanya bisa dijawab oleh waktu, apakah ide yang kuajukan dapat diminati semua orang. Udara dingin mulai datang menusuk sampai ke tulang, kuputuskan untuk masuk dan istrahat, berdoa agar hal-hal baik datang.

Langit yang hitam kebiruan lama kelamaan memudar menjadi cerah seiring berjalannya waktu. Matahari sudah sidikit menaik pertanda aku terbangun kesiangan, karena insomnia melandaku semalam. Aku segera bersiap dan menyusul ibu yang kakinya sudah sembuh dan kuduga ia berada disawah. Tanpa membersihkan diri kecuali mencuci muka segera beranjak aku dari istanaku. Kubuka lebar pintu depan yang tertutup rapat dan kudapati seorang lelaki datang disaat yang tepat tanpa mengetuk pintu.

“ Asslamaualaikum”

“ Waalikumussalam, Pak Adi, ada perlu apa Pak? Silahkan masuk!.”

Kuajukkan tangan kananku menunjuk keadaan dalam rumah. Seperti orang tua yang pikun, pagi itu aku lupa dan bingung kenapa pria berumur lebih dari setengah abad itu datang.

“ Saya ingin menyampaikan kabar baik, Bapak telah menyampaiakn ide mu dalam pertemuan kemarin sore. Sebagian besar warga setuju denganmu. Segeralah menyiapkan proposal dan segalanya untuk mendukung progam ini, ajak seluruh warga untuk berpartisipasi.”

“ Baik pak akan saya siapkan dengan baik, saya buatkan teh dulu pak”

Sunyum lebar dengan gigi putih berbaris kunampakkan, tangan keriput penuh otot itu mencegahku untuk masuk membawakan secangkir teh untuknya.

“ Tidak usah nak, Bapak langsung pergi saja kamu juga akan ke sawah kan?”

Pria itu melihat caping yang sendaritadi lupa kulepas, ia mengetahui aku akan pergi tanpa kuberitahu.

Kuurungkan niatku untuk segera ke sawah, kuraih ponsel yang tidur diatas kasur. Mulai tanganku membuat poster untuk penggalanagn dana. Kukunci pintu rumah dan mulai mengendarai motor antikku menuju tempat kebakaran hutan, hutan gundul, dan peternakan sapi. Kuambil gambar dari tempat itu sebagain pendukung pelaksanaan progam ini.

Satu minggu berjalan, proposal telah selesai dibuat mbak Meira bersama pemuda deasa lainnya. Empat hari yang lalu semua warga yang memiliki sosial media meluncurkan serangan berupa poster yang telah kubuat. Turun dijalanan untuk meminta bantuan sosial pun semua kami jalani. Sedikit demi sedikit bantuan datang, tak hanya dari dalam desa, orang lain ikut berpartisipasi dalam progam ini. Hari demi hari berlalu menjadi minggu, minggu berlalalu menjadi bulan. Dua bulan lamanya setelah proposal itu disetujui apa yang diimpikan akan terlaksana.

200 bibit tanaman yang siap panen telah kami terima, dana pembuatan biogas bagaikan turun dari langit walaupun tak begitu banyak biogas yang disalurkan. Tanah gundul dan habis terbakar itu kini telah ditumbuhi tanaman dengan berbagai macam jenisnya. 8 saluran biogas diberikan kepada warga desa yang kurang mampu, 2 dari sisanya digunakan untuk usaha makanan produk desa kami. Beberapa tahun yang akan datang dengan izin Allah kegelapan yang pernah kami alami akan keluar dari celah yang dibentuk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *