Cerpen #120: ” Lihatlah Dan Renungkan Kami…”

Pada suatu ketika, ada sebuah desa yang sangat asri dan bersih, kehidupannya sangatlah tenteram dan damai, desa tersebut bernama Desa Gadang. Ya, nama desanya cukup unik, namun menyimpan segudang cerita dan makna yang dalam. Nama “Gadang” memiliki makna hijau, karena Desa Gadang merupakan desa dengan hamparan hutan yang sangat luas, sehingga bila dilihat dari kejauhan akan nampak sangat hijau dan menyejukkan. Dibalik indahnya hutan Desa Gadang, ada seorang anak yang berasal dari keluarga sederhana, anak itu bernama Vian. Vian adalah seorang gadis remaja, yang sangat mencintai desanya dan lingkungannya. Ia adalah siswa yang sangat cerdas di sekolahnya, ia memiliki mimpi untuk bisa menjaga keutuhan hutan di desanya lewat pemberian edukasi kepada masyarakat, betapa pentingnya hutan dan kelangsungannya terhadap generasi muda di masa depan.

Hingga suatu hari, datanglah segerombolan orang-orang yang terlihat memakai jas berwarna hitam layaknya seorang pengusaha kaya raya ke Desa Gadang. Diantara orang-orang tersebut, terlihat salah seorang pria berkacamata hitam yang sedang menunjuk-nunjuk ke arah hutan, tiba-tiba datanglah Pak Emil yang merupakan Kepala Desa Gadang menghampiri mereka. “Selamat pagi tuan-tuan, ada perlu apa ya kalian datang kemari?” tanya Pak Emil. Lalu, pria berkacamata itu pun menatap Pak Emil, sembari berkata “Selamat pagi pak, kami datang kemari tentunya punya tujuan yang penting (sambil tertawa kecil).”, Pak Emil yang merasa penasaran pun menjawab “Hmmmm, saya ini selaku Kepala Desa Gadang memiliki kewajiban untuk mempertanyakan maksud orang yang datang ke desa kami, terlebih lagi orang yang bukan berasal dari desa kami.”. Pria berkacamata hitam itu pun tertawa lagi sambil berkata “Tenang saja pak, maksud dan tujuan kami datang kemari adalah untuk sebuah proyek besar. Oya saya lupa memperkenalkan diri saya, nama saya adalah Tuan Mores. Saya adalah seorang kontraktor dari Perusahaan Home Soul. Jadi, tujuan saya datang kemari adalah untuk membangun sebuah perumahan besar dan mewah di desa ini pak.”. Pak Emil pun sontak merasa kaget, lalu berkata “Maaf Tuan Mores, jika anda akan membangun sebuah perumahan besar disini, dimana anda akan membangunnya, kan ini desa bukan kota.”, Tuan Mores pun menjawab “Pak, Desa Gadang ini kan terkenal dengan hutannya yang sangat luas, niat saya adalah ingin mengubah hutan yang luas tersebut secara keseluruhan untuk saya buat menjadi sebuah perumahan yang besar dan mewah, pak. Untuk urusan ganti rugi, kami akan menggantinya 100 kali lipat dari total pendapatan yang didapat dari desa ini.”. Mendengar tawaran dari Tuan Mores, Pak Emil pun berpikir, lalu berkata “Baiklah, saya akan coba memikirkannya”. “Pikirkan secara matang dulu pak tawaran dari saya, tawaran dari saya ini sangatlah langka, keuntungan yang di dapat bisa membuat desa ini menjadi makmur. Dan ini kartu nama saya (sambil menyerahkan kartunya), jika Pak Emil merasa tawaran ini sangat menguntungkan, anda bisa menghubungi nomor telepon yang ada di dalam kartu nama ini.” sahut Tuan Mores.

Sesampainya di rumah, Pak Emil pun mempertimbangkan tawaran dari Tuan Mores. Ia pun berbicara pada dirinya sendiri “Jika aku tidak menerima tawaran itu, pasti saja aku tidak akan mendapatkan apapun dari adanya hutan itu, tapi jika aku terima tawaran itu…pasti saja desa ini bisa mendapat keuntungan yang sangat besar, bahkan aku pun pasti sejahtera juga.”. Akhirnya, Pak Emil pun menghubungi nomor telepon Tuan Mores dan memberi tahu Tuan Mores, bahwa ia bersedia menerima tawaran dari Tuan Mores. Keesokan harinya, suara-suara kendaraan besar mulai terdengar di sekitar hutan Desa Gadang, para pekerja pun mulai berdatangan dan mengerjakan proyek perumahan tersebut. Ada banyak warga desa yang terlihat kebingungan dengan datangnya para pekerja itu, tiba-tiba saja datang Pak Emil yang mendatangi kerumunan warga desa itu, sembari mengumumkan sesuatu. “Bapak-bapak, ibu-ibu, saya disini selaku Kepala Desa Gadang ingin membuat keputusan penting mengenai nasib hutan desa ini. Saya memutuskan untuk menjadikan lahan hutan Desa Gadang ini sebagai perumahan besar dan mewah yang akan dikelola oleh Tuan Mores. Tuan Mores sudah berjanji akan membayar 100 kali lipat dari total pendapatan desa ini. Hal ini tentunya akan sangat menguntungkan bagi kita semua, karena uang sebanyak itu akan menjamin kemakmuran desa kita ini, selain itu desa kita bisa menjadi desa yang memiliki pendapatan tertinggi. Saya harap, kalian semua memahami maksud saya ini.” kata Pak Emil. Mendengar besarnya keuntungan yang di dapat, warga desa pun merasa tergiur dengan apa yang dikatakan oleh Pak Emil, sehingga mereka semua menyetujui apa keputusan Pak Emil.

Kabar alih fungsi lahan hutan Desa Gadang pun semakin luas tersebar, hingga Vian pun mendengar kabar itu. Ia pun merasa kaget, karena hutan yang sangat ia cintai harus ditebang untuk kepentingan sebuah proyek besar. Hal ini tentunya membuat dirinya dilema akan situasi yang sedang dihadapi oleh desa tercintanya itu, namun apa daya ia hanyalah seorang gadis biasa yang hanya bisa membisu dan melihat kenyataan. Setelah mendengar kabar itu, Vian pun kembali ke rumahnya dengan raut wajah yang sedih, hingga ibunya yang sedang menjemur pakaian pun melihat wajah sedih putrinya itu sembari bertanya “Nak, kamu kenapa? Kenapa wajahmu sedih sekali? Apa ada masalah?”. Vian pun menjawab “Tidak bu, tidak ada apa-apa. Vian hanya sedikit lelah saja, jadi Vian mau istirahat dulu bu.” sambil berjalan menuju ke arah kamarnya. Mendengar jawaban dari putrinya, ibunya Vian pun merasa ada yang aneh dengan putri semata wayangnya itu, namun ia pun akhirnya melanjutkan pekerjaannya. Saat di kamar, Vian merenungkan apa yang akan terjadi pada lingkungan Desa Gadang jika hutan yang menjadi penyeimbang lingkungan Desa Gadang dialih fungsikan menjadi perumahan. Ia berharap agar hutan itu menjadi penyelamat kehidupan generasi yang akan datang. Setelah merenungkan hal tersebut, Vian pun mencoba untuk menenangkan dirinya dengan cara tertidur. Saat tertidur, Vian pun bermimpi buruk tentang desanya, ia memimpikan masa depan desanya sangat buruk, ia melihat bencana besar menimpa desanya, seperti banjir dan tanah longsor. Ia pun juga melihat anak cucunya mengalami kelaparan hebat, selain itu ia melihat desanya mengalami kekurangan air yang akan menghambat kelangsungan hidup warga Desa Gadang di masa depan. Setelah melihat semua kejadian itu, terdengar suara “Wahai anak muda…lihatlah yang apa yang terjadi pada anak cucumu nanti jika hutan yang telah dijaga leluhur kita selama bertahun-tahun harus ditebang untuk keperluan pribadi tanpa perlu mempertimbangkan nasib orang-orang di masa depan. Jika kau adalah seorang yang punya pendirian sejati, maka pikirkanlah apa yang akan anak cucumu dapatkan di masa depan nantinya jika hutan ini harus ditebang. Dengar, kau harus memiliki keberanian untuk menyelamatkan masa depan desa ini, selamatkanlah sebelum terlambat!”. Tiba-tiba saja Vian terbangun dari tidurnya, ia sadar bahwa ia telah bermimpi buruk tentang masa depan desa Gadang. Setelah itu, ia pun langsung bergegas mencuci wajahnya, ia pun bergumam “Aku harus bisa menghentikan proyek, ini semua menyangkut masa depan desa ini, apapun yang terjadi aku akan tetap menyelamatkan desaku ini”. Tiba-tiba Vian pergi keluar tanpa berpamitan kepada ibunya, lalu ibunya Vian pun merasa khawatir, karena putrinya pergi tanpa berpamitan. Keringat mulai deras bercucuran, langkah kaki semakin kencang berlari, semuanya ia lakukan untuk menyelamatkan masa depan desanya. Saat ia akan menuju ke rumah Pak Emil, tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat melihat balai desa yang sangat ramai di penuhi oleh para warga. Vian yang merasa penasaran pun akhirnya bertanya pada salah satu warga di sana “Maaf pak, ini ada apa ya? Kok balai desanya ramai sekali?” tanya Vian. Lalu warga desa itu pun menjawab “Ini dik, besok Pak Emil dan Tuan Mores, selaku pemilik proyek ini akan meresmikan proyeknya besok. Dan mulai besok juga proyeknya akan resmi berjalan.”. Mendengar pernyataan salah satu warga desa, Vian pun merasa bahwa ia harus segera menemui Pak Emil untuk menghentikan proyek ini. Ia pun segera melanjutkan perjalanannya, dan tibalah ia di rumah Pak Emil. Vian pun mengetuk pintu rumah Pak Emil, dan dibukalah pintu rumah itu oleh Pak Emil sendiri. Pak Emil pun merasa terkejut saat melihat orang yang datang ke rumahnya adalah Vian. “Ada apa Vian, apa Vian perlu sesuatu?” tanya Pak Emil. “Hentikan proyek itu Pak Emil!” sahut Vian dengan nada sedikit marah. “Maksudmu apa nak, ini proyek kan untuk kesejahteraan desa kita. Lagi pula jika kita hanya memanfaatkan hutan yang luas saja tidak akan cukup untuk mencukupi kehidupan desa kita saat ini.” kata Pak Emil, lalu Vian pun menjawab “Pak Emil, jika kita hanya berpikir untuk hari ini saja, bagaimana kita di masa depan pak? Mungkin iya, kita bisa menikmati banyak uang dari para kontraktor itu untuk hari ini, tapi nanti uang itu pasti akan habis pak. Ketika uang itu habis, apa yang akan kita lakukan? Apakah mereka akan memberikan kita uang lagi? Apakah hutan kita akan kembali? Itu adalah hutan yang telah dijaga oleh para leluhur kita pak, maafkan saya jika saya lancang pak, mungkin hutan itu tidak terlihat membantu kita selama ini. Namun Pak Emil tahu, hutan itu sudah berperan besar untuk kehidupan kita pak, hutan itulah yang telah menjaga kehidupan kita saat ini, jika kita rusak hanya demi keuntungan kita, maka generasi kita dimasa depan pasti akan terancam pak. Saya berbicara seperti ini, bukan berarti pemikiran saya sempit dan tidak mau terbuka, tetapi ini adalah fakta pak, cobalah untuk mengerti apa yang saya sampaikan ini pak.”. “Kamu ini masih kecil, belum mengerti apa-apa tentang semua ini, jangan banyak bicara deh, toh warga desa ini sudah setuju kan. Jadi sebaiknya kamu pulang ke rumahmu dan belajar.” sahut Pak Emil sambil langsung menutup pintu rumahnya. Mendengar perkataan dari Pak Emil, Vian pun tidak menyerah, ia pun segera menemui teman-temannya. Ia meminta bantuan teman-temannya untuk membantunya menghentikan proyek ini.

Keesokan harinya para warga desa berkumpul di balai desa untuk mengikuti kegiatan peresmian proyek besar Tuan Mores. Tuan Mores dan Pak Emil terlihat memakai pakaian yang sangat rapi dan bersih. Serangkaian acara pun telah terlaksana, dan tibalah acara puncaknya, yakni peresmian proyeknya. Saat Tuan Mores akan berpidato untuk meresmikan proyeknya, tiba-tiba saja segerombolan remaja datang dan menghentikan acara itu, dimana di antara remaja-remaja itu ada Vian. Saat Vian memunculkan dirinya, ibu dan ayahnya Vian pun merasa kaget bukan main, karena putri mereka terlibat dalam hal ini. Di sisi lain, Vian pun berbicara dengan nada berani “Wahai tuan, sebelum anda berpidato izinkan saya untuk menyampaikan aspirasi saya sebagai generasi muda di desa ini. Karena, jika saya berbicara secara pribadi saja tidaklah cukup sepertinya (sambil menatap Pak Emil).”. Tuan Mores pun terlihat sangat heran dengan keberanian Vian, lalu ia pun menjawab “Untuk apa kamu datang kemari nak, ini adalah acaraku dan proyekku, jika aku berpidato maka itu adalah hakku.”. “Jika anda merasa bahwa ini adalah acara dan proyek anda, maka wilayah yang menjadi tempat anda berdiri saat ini adalah milik kami!” sahut Vian, Tuan Mores pun merasa semakin kesal dengan Vian. Tiba-tiba saja Pak Emil berdiri dari kursinya dan menghampiri Vian untuk memintanya segera pergi dari balai desa. Namun sepertinya usahanya sia-sia, karena Vian tetap bersikeras untuk menyadarkan warga desanya. Vian pun berkata “Tunggu dulu sebentar Pak Emil, kemarin saya ingin berbicara pada anda mengenai hal ini, tapi anda tidak menghiraukan saya. Sekarang adalah waktunya bagi saya untuk menyadarkan kalian semua.”. Pak Emil yang semakin merasa kesal pun menjawab dengan nada marah “Apa-apaan ini, jangan membuat saya malu! Kalian ini belum dewasa sudah membuat masalah, apa dedikasi kalian untuk desa ini? Apa manfaat yang kita dapat dari kelakuan kalian ini?”, karena merasa tertantang, Vian pun menjawab “Dengarlah kami pak kepala desa! Kami adalah pemuda pemudi yang akan meneruskan desa ini! Kami semua tumbuh semakin dewasa setiap harinya, kami semua berhak untuk menyampaikan aspirasi kami sebagai warga desa, terlebih lagi untuk lingkungan desa kami tercinta. Perihal anda bertanya apa dedikasi kami, inilah dedikasi kami! Kami adalah para pemuda pemudi yang akan siap menjadi garda terdepan bisa kelestarian alam desa kami yang terancam oleh oknum yang hanya memikirkan keuntungan untuk hari ini saja!”. Mendengar pernyataan Vian, Tuan Mores pun meminta Vian untuk menjelaskan maksud dari kedatangannya itu “Baiklah, kalian datang kemari dengan penuh keberanian, sekarang aku ingin tahu apa tujuan kalian melakukan semua ini?” tanya Tuan Mores. “Anda sungguh bertanya tentang tujuan kami datang kemari? Baiklah, aku akan menjelaskannya di hadapan kalian semua. Tujuan kami datang kemari adalah untuk meminta kepada seluruh warga desa agar segera menghentikan proyek ini. Hal ini tentunya akan sangat berat bagi kalian semua, namun percayalah ini demi kebaikan kita semua dan generasi kita di masa depan. Jika kalian semua menebang seluruh pohon yang ada di hutan untuk sebuah proyek besar, apakah kalian akan sejahtera? Mungkin iya, tapi itu hanya untuk sepihak saja dan itu semua hanya untuk sesaat saja. Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi di masa depan nantinya. Sebelum mengambil keputusan besar, pikirkan apa dampaknya untuk kehidupan kita di masa depan. Kalian semua tahu, hutan desa ini sudah menjadi jiwa dan raga bagi desa kita ini. Mungkin hutan ini tidaklah terlihat berpengaruh, namun sejatinya hutan inilah yang telah menyelamatkan kehidupan desa ini. Jika kalian menebangnya, desa ini bisa saja mengalami krisis iklim yang sangat hebat bahkan berkepanjangan, jika kasusnya seperti itu, siapa yang di rugikan? Anak cucu kitalah yang akan dirugikan. Satu pohon yang ada di hutan, dapat menyelamatkan puluhan nyawa, bayangkan jika di hutan kita ini terdapat ratusan pohon atau bahkan ribuan pohon, akan ada banyak makhluk hidup yang terselamatkan nantinya. Dengan adanya hutan, kita dapat hidup dan bernapas melalui oksigen yang dihasilkan dari pohon-pohon yang ada di hutan. Dengan adanya hutan, kita tidak akan mengalami kekeringan berkepanjangan, karena air tanah di hutan akan selalu tersedia untuk memenuhi kebutuhan hidup kita. Dengan adanya hutan juga, kita bisa mengatasi bencana-bencana alam seperti banjir dan tanah longsor, karena akar pohon di hutan sangatlah membantu dalam mengatasi bencana alam. Bayangkan saja jika hutan kita ditebang, pasti desa ini akan mengalami kekeringan yang hebat, bencana alam datang silih berganti, bahkan yang paling parah lagi kita tidak akan melihat anak cucu kita tersenyum bahagia, karena harus menanggung kesalahan yang kita perbuat di masa lalu. Untuk itu, cobalah kalian renungkan apa dampak dari perbuatan kita ini untuk masa depan anak cucu kita. Terutama untuk Pak Emil dan Tuan Mores, kalian tentu saja memiliki keturunan yang kelak akan meneruskan kehidupan kalian nantinya, coba kalian pikirkan bagaimana jika keturunan kalian merasakan dampak besar dari perbuatan kalian ini. Saya hanya meminta coba kalian semua renungkan dan lihatlah apa yang akan dirasakan anak cucu kita nantinya.” sahut Vian. Tiba-tiba suasana menjadi hening seketika, Pak Emil dan Tuan Mores pun tidak mampu berbicara satu patah kata pun ketika mendengar curahan hati gadis remaja itu. Salah satu warga pun melontarkan kalimat persetujuan terhadap pernyataan dari Vian “Aku setuju dengan apa yang kau katakan anak muda! Jika kekayaan alam berupa hutan yang sudah kita jaga selama bertahun-tahun harus kita tebang untuk kepentingan kita saja, maka kita harus menerima konsukuensi hukum alam nantinya. Ingatlah, hukum alam itu pasti!”, sontak semua warga melontarkan kalimat setuju.

Akhirnya, karena merasa dirinya telah melakukan kesalahan, Pak Emil pun meminta maaf kepada seluruh warga desa, karena tidak memikirkan dampak dari perbuatannya itu. Selain itu ia juga meminta maaf kepada Vian, karena tidak memberinya kesempatan untuk berbicara. Akhirnya, terbukalah pintu hati Pak Emil, ia pun berjanji akan mempertimbangkan setiap keputusannya terlebih dahulu sebelum bertindak, terutama dalam mengelola hutan di Desa Gadang. Begitu juga dengan Tuan Mores yang merasa dirinya telah membuat kesalahan, karena telah memanfaatkan segala cara untuk kepentingan bisnisnya tanpa memperhatikan dampaknya. Akhirnya, Pak Emil dan Tuan Mores memutuskan untuk tidak meresmikan proyek perumahan ini, dan menjadikan lahan hutan Desa Gadang sebagai lahan hijau seperti dahulu.

Setelah semua yang terjadi, akhirnya warga Desa Gadang kembali menjalani kehidupan mereka masing-masing. Bahkan, Vian pun dinobatkan sebagai duta lingkungan oleh pemerintah setempat, karena mampu memberikan suaranya sebagai generasi muda mengenai kepeduliannya terhadap lingkungan. Merasa upayanya berhasil, Vian pun berjalan menyusuri hutan Desa Gadang sembari melihat anak cucunya tersenyum bahagia menikmati indahnya kekayaan alam yang telah ia dan leluhurnya jaga selama ini.

Jadilah generasi muda yang cerdas dan bijaksana dalam menjaga kelestarian hutan. Hutan memberikan kita banyak sekali manfaat besar dalam hidup kita, hutan adalah kekayaan alam yang sangat perlu kita jaga keberadaannya. Hutan yang kita lihat saat ini, adalah hutan yang telah dijaga oleh leluhur kita dimasa lalu. Begitu pun saat ini, hutan yang kita jaga saat ini, akan bermanfaat untuk anak cucu kita dimasa depan….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *