Cerpen #118: “SEPASANG MANUSIA BENIH”

Nama lelaki senja berusia enam puluh sembilan tahun itu adalah Hadi Sukarta. Deretan giginya sudah punah. Tetangga di sekitar rumah menjulukinya Mbah Putih. Bukan sekedar karena rambut di kepala Sukarta yang sudah berganti warna, tetapi karena tabiatnya yang cenderung lurus serta gemar mengumbar senyum. Dengan sikapnya yang santun, bersahaja dan bijak. Maka tidak heran jika di beranda rumah Mbah Putih diam-diam selalu didatangi orang. Dari sekedar ingin mendengar Mbah Putih berkelakar, sampai mendengar rincian pengalaman hidupnya yang masih terekam jernih dalam ingatan. Sebuah kutipan dalam bingkai kaca pada kain beludru hitam dari tinta emas bertuliskan: “Biji. Sebutir ia menjadi, bertabur akan tumbuh subur. Tempat segala bentuk kehidupan menyimpan harapan” yang terpampang pada dinding rumahnya selalu menarik perhatian tamu. Gurauan Mbah Putih tentang kehidupan setelah tahun 2041 yang juga menjadi tahun kelahirannya memang selalu terkesan vulgar namun terdengar segar.

“Dengan dalih meningkatkan produksi pangan dan memaksimalkan varietas tanaman, ternyata semuanya justru berantakan. Tahun terbaik bagi planet bumi sudah berakhir sejak kita dilarang menanam segala jenis flora!” kata Mbah Putih dengan suara lantang. Para tamunya terdiam. Entah karena berusaha membayangkan betapa berkecamuknya situasi ketika itu, atau lantaran butuh waktu lebih untuk memahami rangkaian kalimatnya yang kadang melompat seperti katak.

”Orang-orang yang hidup sejaman dengan Mbah, paham betul kalau tanah hanya boleh digunakan sebagai tempat tinggal, jalanan umum, sarana bermain dan sewa makam. Sementara untuk menanam sayur-mayur dan buah, penguasa dan pengusaha sudah mengambil alih semua. Dari mulai aturan, sampai jenis tumbuhannya.” Lanjutnya, kali ini diselingi dengan mengunyah potongan Semangka tanpa biji.

“Sekarang, tidak satupun akar tanaman yang tumbuh di dalam tanah negeri ini kecuali sudah diketahui pasti oleh mereka.” Mbah Putih menutup cerita dengan sorot mata menyala dan senyum sinis. Seakan ia sengaja menantang keberanian para lawan bicaranya untuk mulai berbuat sesuatu demi ibu bumi.

“Bukankah kenyataannya situasi sekarang ini jauh lebih enak, Mbah?”  Lazuardi, lelaki asal Magetan yang sempat kuliah disain pertanian di negara Paman Sam itu mulai mengajukan pertanyaan. Mbah Putih menarik lebar kedua alisnya yang berwarna putih cerah. Kerutan kulit di sekitar bola matanya yang kelabu kian terlihat mengendur.

“Laz, Laz. Darimana kamu bisa bilang enak, hah?!” tanya Mbah Putih, penasaran. Lazuardi tidak segera menanggapi. Kepalanya mulai bergoyang semisal pucuk daun yang pasrah mengikuti tiupan angin, lelaki berusia tiga puluh enam tahun itu jelas sedang menghimpun jawaban.

“Dari kebebasan membeli segala jenis sayuran yang sudah disediakan. Menikmati aneka buah, tanpa harus repot mengunyah biji. Atau minum air kemasan yang begitu kaya mineral. Bukankah itu enak, Mbah?” sahut pria beranak satu yang akrab disapa Laz, masih dengan suara landai namun terkesan pandai. Soal diskusi dan perdebatan, Lazuardi memang jenis pria berwatak keras dan tak mudah menyerah. Sebagian orang ada yang menganggapnya pintar namun kemintar, tapi ada juga yang diam-diam mencibir hingga menjuluki duda muda itu dengan sebutan Koreng, bercak luka yang sedikit mengering! Sebelum mulai kembali bercerita, Mbah Putih menyempatkan diri tersenyum. Hingga gusi mulutnya terlihat jelas memucat, dan wajahnya yang keriput mulai ikut berkerut.

***

Bercak darah masih terlihat di bagian selangka seorang perempuan. Diantara pergeseran roda brankar yang berputar cepat menuju ruang perawatan, sesekali tetesan darah tampak mengotori lantai. Sejumlah tenaga medis segera bertindak. Usaha keras mereka seperti mulai sia-sia. Dokter memerintahkan seorang perawat untuk memanggil suami dari pasiennya.

“Kang Indra,” sapa Nani, sebelum kematian mendatanginya dengan sopan. Suami Nani yang bernama Indra Candra sempat membelai rambut Nani yang tak beraturan. Balasan Indra terdengar pelan. Katanya,

“Ya, Nan. Akang disini. Kamu perlu apa?”

Tong hilap nya. Hadi Sukarta, Kang.” Nani kemudian tersenyum. Tatapan matanya yang kosong kembali memandangi langt-langit ruang perawatan. Indra memandunya untuk berdo’a sambil mencengkram tangan istrinya kuat-kuat. Satu hembusan nafas panjang menandai kepergian Nani menuju alam lain.

“Baik, Nyi.” Ucapan Indra menjadi kalimat terakhir yang ia ucapkan persis di telinga istrinya. Selebihnya, Nani hanya sebatas jasad yang terbujur tanpa nafas. Air mata Indra sempat terjatuh di wajah istrinya. Hari Jumat tanggal 27 Desember 2041. Di kampung Cikeclak yang berarti tetesan air; pengeras suara yang terpasang di puncak menara mushala Miftahul Huda mulai mengabarkan tentang kematian seorang perempuan bernama Nani usai melahirkan seorang bayi laki-laki.

“Kenapa justru biji yang kamu kubur, Ndra?” tanya seorang tetangga rumah sewaktu melihat Indra mengubur beberapa butir biji Rambutan pada liang tanah ari-ari putranya. Namun Indra tidak segera menanggapi keusilan tetangga. Usai menoleh dan memandanginya dengan tatapan ketus, Indra kembali menyibukan sepasang tangannya untuk menata bagian-bagian tanah di sekitar lubang. Tidak puas dengan sikap Indra, tetangga usil itu kembali bertanya.

“Kenapa biji?” Sahut Indra, sinis. Tetangga bernama Deden itu mengangguk menunggu jawaban.

“Karena sebutir ia menjadi, bertabur akan tumbuh subur. Biji adalah tempat segala bentuk kehidupan menyimpan harapan.” Lanjut Indra masih dengan suara terbungkus kesal. Melihat sikap Indra yang masih belum sepenuhnya terlepas dari duka, Deden memutuskan untuk kembali mempersiapkan acara pemakaman Nani.

***

Hari dimana Indra mengubur ari-ari dan jasad istrinya sudah empat belas tahun berselang. Tepat pada sebidang tanah tempat Indra mengubur ari-ari, sejumlah pohon Rambutan dengan buah yang banyak sudah berdiri tegak. Setiap kali memasuki musim panen, rambutan di beranda rumah Indra selalu menjadi pusat berbagi kebahagiaan.

“Kalau memang tetangga di sekitar rumah sudah kebagian semua; selebihnya kamu jual saja, Nak. Semoga lumayan hasilnya. Bisa untuk kamu simpan.” Pesan Indra, diselingi suara batuk dan tarikan nafas yang terlihat berat. Hadi mendekati abahnya yang sudah berbulan-bulan lamanya terbaring lemah di ranjang kamar.

“Iya, Bah. Hadi akan menjualnya hari ini.” Sahut Hadi Sukarta yang sudah menjadi sosok remaja. Indra kembali tersenyum memandangi putranya. Seakan ia sedang bercermin dengan dirinya sewaktu masih belia. Gigih, rajin, setia kepada bumi, dan berani melawan rasa malas!

“Hati-hati, Nak!” pesan Indra saat punggung tangannya yang keriput mendarat di hidung putranya. Hadi sempat mengiyakan sebelum meninggalkan kamar.

Dengan mengayuh sepeda ontel pemberian Indra, Hadi membawa sepasang keranjang bambu berukuran besar yang penuh rambutan menuju jalan utama sejauh tujuh kilometer dari rumah. Pada tepi jalan raya tempat Hadi berjualan, tidak banyak terlihat pedagang lain. Selain karena dianggap kurang ramai, tempat Hadi berjualan juga terbilang tidak strategis. Sebab pada kedua bagian bahu jalan, banyak dijumpai rumah-rumah makan serta penginapan. Dan hanya berjarak puluhan meter, sebuah toko buah modern juga sudah tersedia disana! Tapi Hadi tidak terlalu peduli, sebab ia terlanjur mempercayai ajaran Abahnya. Bahwa Pemilik rejeki tidak akan pernah salah dalam memberi!

“Dik, rambutannya tiga ikat.” Pinta seorang lelaki berpakaian perlente dari balik kaca mobil mewah yang tiba-tiba berhenti. Dengan sigap Hadi melayani. Tiga ikat rambutan segera dipaksa masuk kedalam bungkusan.

“Silakan, Pak.” Ucap Hadi setelah beberapa kali mengetuk kaca mobil dengan sangat perlahan. Saat kaca mulai turun, udara dingin dan aroma wewangian seketika terasa di wajah dan penciuman Hadi. Dibalik kursi kemudi, lelaki perlente itu sedikit bergeser hingga deretan huruf bertuliskan Yudi Baskoro yang tersemat di dada kirinya terlihat jelas.

“Terimakasih, Pak.” Kata Hadi setelah menerima sejumlah uang. Raut wajah Yudi tetap datar ketika kaca kembali tertutup dan mobil berjalan cepat.

***

Mobil mewah yang dikemudikan Yudi berhenti di dalam garasi. Seorang anak perempuan langsung menyambut kedatangannya.

“Hore Papi sudah pulang!” katanya, dengan ekspresi riang.

“Yanti! Cepat bawa Calisa ke kamar!” balas Yudi sambil berteriak memanggil pengasuh putrinya. Dalam gendongan Yanti, wajah bahagia Calisa mendadak berubah menjadi kebencian. Namun Yudi tetap tidak bergeming. Sambil berjalan meninggalkan putrinya, Yudi jelas lebih memilih percakapannya dengan seseorang melalu telepon selular.

“Mbaaak Titi, Calisa mau itu!” rengek Calisa setelah wajahnya menoleh dan matanya melihat buah rambutan yang tergeletak menggoda di jok mobil Papinya. Yanti tidak punya nyali menuruti keinginan itu. Ia bersikeras membujukk putri majikannya ke dalam kamar.

“Mbak Yanti jahat, kaya Papi! Calisa benci!” Yanti hanya bisa mengelus dada, mencoba bersabar setiap kali mendengar teriakan gadis berusia tujuh tahun itu. Pintu kamar kembali tertutup rapat. Yanti melanjutkan pekerjaan di ruang lain. Calisa mulai berteriak lantang dan melempar koleksi bonekanya ke segala arah, tapi tidak seorang-pun yang peduli. Sampai akhirnya, dalam pikiran letih dan sedih ia menemukan jalan keluar dari penjara kamarnya; jendela. Tanpa rasa takut, Calisa kecil nekat keluar dari kamar dan mulai berjalan mengendap mendekati garasi mobil.

“Aku sangat suka rambutan!” ucap Calisa setelah berhasil memetik beberapa butir dari tangkai. Diam-diam, tepat di pojokan ruang tamu. Calisa mulai membuka kulit Rambutan dan menikmatinya seorang diri.

“Manis sekali rasanya.” Puji Calisa, senang. Tidak puas dengan satu butir di dalam mulut, Calisa membuka kembali Rambutan dan langsung mencaploknya.

“Sedang apa kamu?!” suara bariton Yudi yang tiba-tiba terdengar membuat Calisa terkejut. Teguran bernada ketus itu membuat Calisa berusaha menelan semua buah Rambutan yang tersimpan di mulut. Akibatnya, gadis kecil berkulit putih dengan mata minimalis itu justru tersedak. Sambil terus berteriak dan menampakkan sikap panik, Yudi berusaha menolong. Tapi rupanya, Tuhan sudah punya rencana lain untuknya di surga.

***

Kabar meninggalnya Calisa Putri terdengar cepat semisal cahaya kilat yang menyerupai akar pada langit di sebelah barat. Dari dusun hingga ke kota, ratusan orang pejabat dan pengusaha datang untuk menunjukkan rasa berduka.

Hadi dan ratusan warga sekitar desa Cikeclak hanya bersikap pasrah. Amarah Yudi Baskoro yang begitu membuncah disikapi seluruh warga dengan diam seperti patung. Sebab menurut mereka, membuka mulut berarti memancing ribut dan bisa berujung maut.

“Supaya tidak ada lagi kematian seperti putri saya,” ucap Yudi dengan intonasi meledak-ledak. “Mulai hari ini. Semua pedagang buah tidak ada lagi yang diijinkan menjual buah berbiji! Pohon-pohon buah di sekitar rumah juga harus ditebang! Kalau sampai ada satu saja penduduk yang melanggar. Saya pastikan tidak bisa lagi melihat matahari bersinar!” lanjutnya, dengan jari telunjuk mempertegas serta sorot mata penuh keseriusan.

“Kalau kami sudah dilarang berdagang,” Disela-sela suara batuknya yang berat, Indra yang malam itu ikut hadir memberanikan diri bertanya. “Lalu darimana kami memberi nafkah untuk anak atau istri?!” lanjutnya. Ratusan warga mulai saling toleh lalu menganggukkan kepala, mengiyakan. Suasana pertemuan menjadi riuh. Yudi Baskoro mengangkat tangan sebagai isyarat untuk diam.

“Kalian akan bekerja di pertanian milik kami. Dapat gaji!” jawab Yudi, tenang. Suasana kembali riuh. Ada yang tegas menolak, ada juga yang merasa tidak keberatan. Kali ini sejumlah petugas keamanan berseragam yang datang bersama rombongan Yudi mulai mengambil sikap. Satu persatu warga ditunjuk untuk kembali duduk. Kegaduhan seketika berakhir.

“Silakan dilanjut, Pak Yudi Baskoro.” Pinta komandan keamanan yang pada seragamnya terpampang nama Hendri. Yudi tersenyum menganggukkan kepala.

“Kalian semua bodoh kalau sampai menolak masa depan yang kami tawarkan!” Ucap Yudi dengan suara lantang dan mata nyaris keluar, seakan sedang menantang.

“Ketahuilah. kalian semua adalah pelaku sejarah. Suatu hari, semua jenis buah di negeri ini bisa kita nikmati tanpa harus mengunyah biji. Dengan bantuan teknologi, panen buah akan selalu melimpah, beragam jenis makanan yang lezat serta mewah,” lanjut Yudi dengan raut wajah mendadak terlihat sumringah.

“Terimalah tawaran kami, sebelum nasib Anda seperti saya. Kalian tentu tahu, bahwa putri saya meninggal karena sebutir biji buah yang kalian anggap sebagai sumber rejeki!.” Yudi menyudahi perkataan. Warga desa Cikeclak kembali saling tatap.

***

Sejak Yudi Baskoro dan para sahabat-sahabat dekatnya yang sama-sama punya kekuasaan bersatu, Hadi dan ratusan warga Cikeclak memang tidak punya banyak pilihan. Setahap demi setahap, lahan pertanian milik warga desa berhasil mereka kuasai untuk kemudian disulap sebagai ladang industri. Dengan alasan pemerataan pembangunan, lanskap pedesaan bergeser hingga menyerupai komplek perumahan.

“Dari kelas pekerja, sampai pejabat desa. Dari ranah ekologi hingga politik dinasti. Semua potensi perlawanan dan segala kemungkinan akan timbulnya aksi pembelotan, sudah berhasil kita tekan!” ucap Hendri yang semakin sering terlihat bersama Yudi. “hal mendesak berikutnya adalah menjaga aliansi ini tetap solid dan abadi!” lanjutnya, tertawa lebar. Semua pengusaha yang malam itu hadir ikut tertawa. Hendri berdiri sambil memukul gelas dengan cincin di jari. Suara tawa perlahan meredup.

“Benar sekali apa yang baru saja dikatakan Pak Hendri!” Yudi mulai memberikan tanggapan. “Bahwa berbagi itu benar-benar menyenangkan. Untuk itu, mari kita rayakan setahun suksesnya kekuasaan kita dengan bersulang!” lanjut Yudi sambil mengangkat gelas hingga melebihi wajah. Semua melakukan hal yang sama. Toast!

“Hidup oligarki!” celetuk seorang pengusaha yang kemudian disambut gelak tawa.

***

Ditemani Abah Indra, sore itu Hadi masih memandangi plat sertifikat pohon yang baru saja ditanam oleh perusahaan milik Yudi dua hari lalu.

“Sekarang mereka itu sudah benar-benar keterlaluan,” keluh Indra, geram. Hadi masih bersabar menunggu Abah menyudahi kalimat. “Benih biji dari setiap pohon buah sudah mereka kuasai. Sekarang, untuk menanam sebatang pohon saja, kita harus mengemis persetujuan dari mereka. Itupun kalau mereka bersedia. Keterlaluan!” Lanjut abah.

“Ya, Abah benar. Dan kenyataan seperti ini bukan hanya terjadi di desa kita. Tapi nyaris di setiap penjuru wilayah negeri. Semakin hari, kita seperti dipaksa menjadi tidak berguna sebagai manusia. Dari pekerjaan sampai masa depan seseorang, mereka semua yang menentukan. Mungkin harus ada seseorang yang melawan mereka!” sahut Hadi.

“Kamu tidak perlu berpikir sejauh itu, Nak. Urusi saja rencana pernikahanmu dengan Elis yang tinggal hitungan hari. Supaya keluargamu kelak tidak bernasib seperti kita. Sukur-sukur kamu bisa mewarisi benih biji kepada keturunanmu,.” Balas Indra, Hadi mengiyakan sambil menunggu kepastian abah.

“Sebutir ia akan menjadi, bertabur tumbuh subur. Karena biji tempat segala bentuk kehidupan menyimpan harapan?” Indra berganti mengiyakan. Lalu menepuk pundak putra tunggalnya beberapa kali. Kawanan drone pemantau keberadaan flora tampak terbang rendah di atas muka tanah. Secara rutin drone-drone itu berkeliaran untuk sekedar memastikan peraturan yang dibuat Yudi benar-benar berjalan.

***

Diantara ratusan pekerja perkebunan dan pertanian yang menikmati waktu istirahat, siang itu Indra justru tampak diam termangu, kusutnya pikiran terlukis jelas dari wajahnya yang merengut.

“Kang Indra, kenapa akang tidak ikut makan seperti yang lain?” tanya Cecep, seorang laki-laki mantan kepala desa yang kini sudah berstatus pekerja. Indra sempat memandangi wajah Cecep sebelum mulai bersuara.

“Aku bingung, Kang Cepi, Seingatku, Tuhan memberikan kita bumi untuk kebaikan bersama. Bukan hanya untuk segelintir pengusaha yang sangat dekat dengan penguasa. Pertanian, perkebunan, hasil tambang, dan kekayaan bumi sudah mereka kuasai sendiri. Bahkan kita dilarang untuk memiliki benih biji untuk kita tanam sendiri. Ini benar-benar sudah gila!” Cecep bergerak cepat. Ia membungkam Indra. Indra memberi isyarat agar tangan Cecep segera menyingkir dari mulutnya.

“Jangan bicara sembarangan, Kang. Setidaknya, hari ini kita masih bernafas. Bersyukur saja sebab kita tetap bisa menjalani takdir Tuhan. Kita ini orang kecil, maka sudah sepantasnya kita terkucil. Apa Kang Indra lupa soal itu?!” sahut Cecep dengan suara berbisik, cemas.

“Aku tidak akan menyangkal, apa yang sudah Kang Cepi katakan,” Indra kian bersikap keras kepala. “Tapi menguasai sepihak segala karunia Tuhan yang tersebar di bumi untuk memperkaya diri, itu jelas kesalahan! Ini tamak, namanya! Kita harus melawan!” sambung Indra dengan suara terdengar lebih lantang. Menyadari kemungkinan bahaya yang akan terjadi, Cecep memilih pergi dan menjauhi Indra. Para pekerja mulai memperhatikan gelagat Indra yang mulai berteriak. Sementara Hadi, diam-diam justru sibuk meraup butiran benih biji lalu membungkusnya dengan pembungkus pupuk. Kemudian menelannya tanpa ragu.

“Mereka menzalimi kita! Merampas hak sebagai manusia. Apakah kalian akan diam saja melihat tanah terus diracuni pestisida?!” suara teriakan Indra seketika sirna setelah dua orang anak buah Hendri memukul pundaknya dengan tongkat listrik.

“Lawan keserakahan! Sudahi eksploitasi! Jangan biarkan mereka terus merusak lingkungan!” teriak Indra dengan badan tampak kelojotan. Usai badannya dihujani beberapa pukulan dan tendangan, Indra tidak bisa lagi menikmati kesadaran pikiran. Lelaki tua itu pingsan. Puluhan pekerja yang sudah berniat menolong justru menggugurkan niat, sebab tiga unit mobil truk berisi puluhan petugas reaksi cepat perkebunan bergerak semakin mendekat. Hadi terdiam melihat abahnya dibawa paksa.

“Aku tidak akan membiarkan perjuangan abah tidak sia-sia!” gumam Hadi sewaktu melihat tubuh abahnya dilempar kedalam truk.

Dibawah pengawasan puluhan anak buah Hendri yang selalu mencengkram tongkat listrik, para pekerja kembali disibukkan dengan urusan masing-masing. Sewaktu matahari mulai terbenam, sirine tanda pekerjaan selesai terdengar di seluruh area pertanian dan perkebunan. Semua pekerja mulai berjalan menunggu giliran untuk diperiksa. Hadi terlihat cemas. Jika benih biji yang tersimpan aman di dalam lambungnya sampai ketahuan, nasib buruk sudah pasti terjadi. Sebab mencuri benih biji, hukumannya adalah kematian! Setelah berhasil melewati pos penjagaan, raut muka Hadi kembali diselingi kemenangan.

“Dengan mas kawin seratus butir benih biji tanaman, tunai!” balas Hadi dengan suara tegas tanpa ragu terlintas. Pernikahan paling mewah antara Hadi dan Elis Juarsih-pun terdengar hingga ke telinga warga desa-desa tetangga, termasuk telinga Yanti; mantan pengasuh di rumah Yudi yang dipaksa berhenti usai kematian Calisa.

“Rasanya mustahil pemuda seperti kamu bisa sampai memiliki benih biji! Apa kalian sudah mencurinya dari Yudi?!” tanya Yanti setelah berhasil menemui Hadi dan Elis.

“Ya. Mbak benar. Suamiku memang mencurinya dari Yudi. Dan aku sendiri yang memintanya, karena kami ingin mewarisi benih biji untuk anak kami suatu hari nanti.” Sahut Elis, tenang.

“Niat kalian memang tidak salah. Tapi cara kalian benar-benar akan mendatangkan musibah!” sanggah Yanti, serius. Hadi dan Elis saling berpandangan mata.

“Maksud, Mbak Yanti?” tanya Hadi, penasaran.

“Ketahuilah, bahwa sebenarnya Calisa tidak semata-mata meninggal karena tersedak biji rambutan yang dulu kamu jual.” Jelas Yanti, setelah matanya mengawasi situasi. “Tetapi karena Yudi sendiri yang mencekiknya hingga mati. Mungkin karena Calisa bukan putri kandungnya, Yudi kemudian tega mencekiknya. Jadi sepertinya, ia sengaja mencekik Calisa agar sampai lebih cepat pada tujuannya.” Sambung Yanti lagi. Hadi dan Elis terkejut mendengar penjelasan Yanti.

“Memang apa sebenarnya tujuan Yudi Baskoro itu?” tanya Elis, penasaran.

“Aku tidak tahu. Tapi ketahuilah, nyawa kalian saat ini sedang terancam. Sebab kalian memilih benih biji sebagai mahar pernikahan. Saranku, sebaiknya kalian berdua segera tinggalkan desa ini!”

“Kenapa kami harus meninggalkan tempat kelahiran kami sendiri?” bantah Elis, tegas.

“Karena tempat kelahiran, seringkali menjadi tempat kematian. Pergilah!” bujuk Yanti, sedikit memohon. Hadi dan Elis kembali saling pandang. Bimbang.

Belum sempat percakapan rahasia itu selesai. Iring-iringan kendaraan truk berpenumpang ratusan petugas keamanan sudah memasuki wilayah gerbang desa Cikeclak. Tanpa mempedulikan sekeliling jalan, iring-iringan kendaraan itu berjalan cepat semisal seorang salih diperintah untuk shalat.

“Tidak ada pencuri benih yang bisa kalian cari di tempat ini!” bentak Indra yang masih terluka berat akibat penganiayaan dihari sebelumnya. Hendri dan pasukannya terus memaksa.

“Ini acara pernikahan, bukan ladang perkebunan atau pertanian. Jadi kalian tidak pantas berada disini!” tambah Indra dengan suara memaki. Hendri tersenyum. Tongkat dalam genggaman tangannya mengisyaratkan sesuatu. Ratusan petugas mulai bertindak melebihi batas. Warga desa beramai-ramai melawan tanpa rasa ketakutan.

Suasana pernikahan yang tenang, berubah menjadi zona perang. Ratusan warga desa yang berniat mengamankan acara pernikahan justru berhadapan dengan petugas keamanan yang datang ingin menyita benih biji. Puluhan orang lelaki atau perempuan, muda hingga tua mengalami kematian akibat bentrokan itu. Sementara Hadi dan Elis mulai pergi meninggalkan rumah, Indra, Cecep dan tetangga lainnya justru tewas ditangan petugas.

“Kita pergi kemana, Kang?” tanya Elis penasaran.

“Kemana saja, selama ada manusia.” Jawab Hadi, puitis.

Sejak itu, Hadi dan Elis menjalani hari-hari sebagai seorang paling dicari oleh Yudi dan orang-orang suruhan Hendri. Mereka benar-benar tidak bisa menerima jika diluar kekuasaannya masih ada benih biji.

***

Mbah Putih menyudahi cerita panjangnya dengan senyum. Namun guratan senyum pertanda rasa ikhlas di wajah Mbah Putih kini mulai redup. Lazuardi dan sejumlah orang terlihat bingung.

“Apa Mbah, baik-baik saja?” tanya Imam, yang duduk berseberangan dengan Lazuardi. Mbah Putih menganggukkan kepala. Lalu suaranya kembali terdengar, kali ini terkesan samar. Katanya,

“Ini bukan tempat cerita berakhir. Sama sekali bukan. Semua ini justru awal segalanya dimulai.” Semua tamu Mbah Putih semakin merasa keheranan.

“Nyi. Tolong kamu bawa kotak perhiasan kita!” lanjut Mbah Putih dengan ekspresi wajah mengisyaratkan minta bantuan. Aku yang sejak awal hanya duduk-duduk santai, memutuskan berdiri dan masuk kedalam rumah Mbah Putih. Di dalam kamar mandinya yang hanya beratap tikar rajutan rotan, aku melihat sosok Elis Juarsih yang kini akrab disapa Nenek Riang. Perempuan tua itu terlihat membungkuk sambil berusaha membuka peti yang diminta suaminya.

“Biar saya saja, Nek!” ucapku, sedikit berteriak. Sebab pendengarannya memang sudah bermasalah. Sebuah peti ukiran kayu jati berdimensi ukur sepuluh kali dua puluh kali lima senti yang sudah tidak pernah terlihat lagi dimanapun berhasil aku ambil dan kubawa.

“Ini, Mbah.” Ucapku sambil menyerahkan peti kayu jati kepada Mbah Putih. Para tamu memandanginya penuh takjub.

“Bagaimana Mbah bisa memiliki kotak kayu jati seperti ini? Bukankah pohon jati sudah hampir lima puluh tahun lalu dinyatakan punah?” tanya Lazuardi, penasaran. Imam dan seorang perempuan bernama Rinjani Sahara berbuat hal serupa. Terkagum-kagum. Suara sekawanan drone yang terbang di atap-atap rumah terdengar seperti panggilan kematian. Para tamu segera bersembunyi. Sebab dimasa itu, perkumpulan adalah pelanggaran. Saat drone menjauh dan situasi terbilang aman, semua kembali memperlihatkan badan.

“Akan aku perlihatkan bukti kepada kalian semua, kenapa biji disebut sumber harapan!” Ucap Mbah Putih dengan penuh semangat. Ia membuka peti perhiasan berisi sejumlah benih biji yang siap ditanam. Peti itu kembali diserahkan kepadaku. Aku menjaganya seperti menjaga nyawa.

“Ayo. Kalian semua ikuti aku!” Mbah Putih mengajak para tamu pentingnya kedalam rumah. Di dalam kamar tidurnya yang juga beratap tikar rotan, Nenek Riang baru saja selesai menyembunyikan rahasia terbesarnya dari jangkauan drone pemantau yang dikendalikan entah dari mana. Aku membantunya menarik gulungan tali. Atap rumah terbuka lebar, sinar matahari membuat setiap sudut ruangan jadi terang-benerang. Ratusan jenis pohon terlihat sudah tumbuh dengan segar. Semua mata memandanginya nyaris tidak percaya.

“Indah bukan? Inilah tanaman yang berhasil tumbuh dari taburan benih biji!” kata Mbah Putih, sedikit jumawa. Ia segera mencium kening istrinya yang setia menjaga setiap batang tanaman semisal menjaga keturunannya. Pasangan Hadi Sukarta alias Mbah Putih dan Elis Juarsih alias Nenek Riang memang belum dikaruniai keturunan. Mungkin lantaran cairan pestisida yang bertahun-tahun menemani bekerja di pertanian milik Yudi Baskoro, sudah merenggut paksa kesempatan itu. Semua tamu masih terpukau melihat mahluk hijau bernama tanaman yang selama ini hanya bisa mereka kenali dari layar-layar televisi.

“Tapi bukankah semua keindahan yang kita lihat saat ini adalah bentuk pelanggaran, Mbah?” tanya Lazuardi, yang nyalinya sedikit menciut.

“Mereka akan tumbuh dan berkembang. Sebab darinya, kehidupan manusia akan jauh lebih seimbang. Bukan habis ditebang untuk disulap jadi uang!” Sambut Jeny Sahara sambil tersenyum. Aku ikut tersenyum, meski di balik senyumku itu tersimpan dendam melegam. Sebab kematian Yanti ibuku, akibat dipaksa menelan racun oleh Yudi dan Hendri kian menebalkan keberanian.

Dari dalam kamar Mbah Putih, matahari terlihat berada tepat diatas kepala. Aku dan seluruh tamu penting Mbah Putih serta Nenek Riang menutup pertemuan dengan menikmati beberapa potong umbi goreng. Kata mereka yang sebelumnya tidak pernah merasakan, biji umbi itu harus dicari untuk kemudian diam-diam mereka tanam.

“Umbi itu memang tidak berbiji, Laz. Ia gelembung akar. Bukankah kamu ini sarjana pertanian dari luar negeri sana?!” ledekku, tenang. Mbah Putih dan Nenek Riang, sepasang manusia benih itu tertawa. Semua berbuat hal yang senada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *